cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
BAHASA DAN SASTRA
ISSN : 14120712     EISSN : 25278312     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA (Journal of Language and Literature Education) is published by Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia. It publishes research-based articles in the field of language, literature, and its teaching and learning. It is published twice a year, namely in April and October. The scopes of the topics include: 1) Foreign language learning, Indonesian language, vernacular language and Malay language learning; (2) Linguistics; (3) Applied Linguistics, and; (4) Literature.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, Nomor 2, Oktober 2015" : 12 Documents clear
SASTRA “BACAAN LIAR” HARAPAN MENUJU KEMERDEKAAN Sulton, Agus
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, Nomor 2, Oktober 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i2.1242

Abstract

AbstrakPenelitian ini berupaya untuk merangkai sumber informasi terkait sastra yang dianggap sebagai « bacaan liar ». Pada waktu pemerintahan kolonial, media karya sastra sangat efektif sebagai wadah perjuangan bentuk agitator dan protes kepada pemerintah sekaligus suplemen untuk memahami diri dan nasibnya sehingga harapan untuk keluar dari kolonialisme pemerintahan Belanda lekas terwujud. Pandangan ideologi komunis digunakan pijakan mentransmisikan stabilitas nilai-nilai politik, sosial, dan ekonomi dengan cara vergadering dari gerakan-gerakan radikal revolusioner Bumiputera.Kata kunci: Bacaan liar, ideologi komunis, sastra perjuangan,revolusioner Bumiputera. AbstractThis study seeks to assemble relevant literature resources that are considered ‘wild readings’. At the time of colonial rule, the literary media was very effective as a vehicle for struggle and protest to the government in addition to serving as a supplement to understand themselves in hopes that Dutch colonialism would soon be over. The communist ideology was used as a framework to transmit stability of political, social, and economic values by way vergadering of radical revolutionary movements of Bumiputera.Keywords: Communist ideology, literary struggle, revolution of Bumiputera, wild reading
CLASSROOM SHARING EXPERIENCES: BUILDING STUDENTS’ AWARENESS FOR PROBLEM SOLVING IN TRANSLATING POETRY Handayani, Sri; Harto, Sri
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, Nomor 2, Oktober 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i2.1238

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan menggambarkan pengalaman mahasiswa untuk membangun kepedulian dalam mengatasi masalah khususnya pada penerjemahan puisi.  Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara dan observasi kelas yang melibatkan 85 orang mahasiswa semester enam dari dua kelas yang berbeda dan dua orang dosen pengampu mata kuliah Translating Literary Works di  Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris pada salah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung. Kuesioner dilengkapi oleh 55 mahasiswa dari 85 yang terlibat dalam penelitian.  Wawancara dilakukan untuk melengkapi dan mengecek kebenaran informasi yang diperoleh melalui kuesioner.  Selain itu, observasi kelas dilakukan di dua kelas paralel untuk melihat aktivitas belajar mengajar yang dilakukan oleh dua orang dosen dan mahasiswa dari dua kelas tersebut. Observasi difokuskan pada materi perkuliahan, metode dan teknik pengajaran yang diterapkan oleh dosen, masalah yang dihadapi dan teknik yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam penerjemahan puisi.  Data dianalisis berdasarkan beberapa teori penerjemahan yang relevan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman mahasiswa yang disampaikan di dalam kelas memberikan beberapa keuntungan bagi mereka karena berbagi pengalaman di dalam kelas mampu: (1) memotivasi mahasiswa untuk menyelesaikan pekerjaan penerjemahan secara lebih serius karena mereka dituntut untuk menyajikan hasil karya terjemahan di dalam kelas; (2) membangun rasa percaya diri mahasiswa dalam menerjemahkan karena hasil terjemahannya akan diberikan umpan balik; (3) melatih kemampuan mahasiswa menganalisis masalah untuk mencari jalan keluar yang sesuai; (4) memperkenalkan mahasiswa terhadap pengetahuan kritis bahasa sumber dan bahasa sasaran; dan (5) membangun kepedulian mahasiswa agar masalah yang muncul dalam proses penerjemahan yang sangat kompleks dapat diselesaikan.Kata kunci: berbagi pengalaman, kepedulian, penyelesaian masalah AbstractThis research was aimed at describing the classroom sharing experiences to build students’ awareness dealing with the problem solving in translating poetry. The data were collected through questionnaire, interview and classroom observation involving 85 sixth semester students in two different classes and two lecturers of Translating Literary Works course at the English Language and Literature Studies in one state university in Bandung city.  The questionnaire was completed by 55 (out of 85) students invited to fill in the questionnaire. Interview was done to complete and cross check the information derived from the questionnaire.  Meanwhile, the observation was administered in the two parallel classes to observe the activities done by the two lecturers and students in the two classes.  The observation was focused on the course materials, teaching methods and techniques applied by the lecturers, problems faced and techniques used to solve the problems by the students in translating poetry. The data were then analyzed based on some relevant theories of translation.  The result of the research showed that the classroom sharing experiences gave some advantages to the students with several reasons: (1) motivating students to do their translation works more seriously since they had to present their translation works to the class; (2) developing the students’ self-confidence in translating the tasks since their translation works were given some feedbacks; (3) training the students to analyze the problems to find out the most appropriate techniques to solve the problems; (4) introducing the students to have more critical knowledge of both source and target languages; and (5) building the students’ awareness of how the problems appeared in a very complex translation process were solved. Keywords: awareness, problem solving, sharing experience
TRIANGLING BELLOW’S SEIZE THE DAY Novianti, Nita
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, Nomor 2, Oktober 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i2.1243

Abstract

AbstractOver the years, new theories of literary criticism have invariably emerged as a response, critique to, and development of the earlier criticisms. This paper introduces a relatively new literary theory that can enrich the repertoire of literary criticism in Indonesian context, namely family systems therapy or FST, through a critical analysis of Seize the Day by Saul Bellow, an American author whose works mainly deal with the theme of family and the issues revolving it. Partly a critique to Freud’s psychoanalysis and its variants, family systems therapy holds that one’s identity is a part of a matrix of identity, thereby requiring the analysis of one’s interrelatedness with the others involved in the matrix in order to understand one’s self. The analysis shows that the protagonist of the novel, Wilhelm, is involved in a triangle in his effort to cope with his anxiety. Triangling is also found to be merely one of the many outlets for the protagonist’s anxiety. The paper concludes that family systems theory is appropriate to critically analyze literary works dealing with family matters, such as Seize the Day. This theory offers new insights not only into the practice of literary criticism but also into seeing problems in life. Keywords: Family systems therapy, triangle, anxiety  AbstrakTeori-teori kritik sastra terus bermunculan, baik sebagai tanggapan, kritik, atau perkembangan dari teori-teori sebelumnya. Makalah ini memperkenalkan sebuah teori yang cukup baru yang bisa memperkaya khasanah kritik sastra di Indonesia, yaitu terapi sistem keluarga, melalui sebuah analisis terhadap novel berjudul Seize the Day karangan Saul Bellow, seorang penulis Amerika yang karya-karyanya terutama mengangkat tema keluarga dan permasalahan yang melingkupinya. Sebagai kritik terhadap teori Psikoanalisis oleh Freud dan variasi-variasinya, terapi sistem keluarga percaya bahwa identitas seseorang adalah bagian dari matriks identitas, sehingga analisis terhadap keterhubungan seseorang dengan orang lain yang terlibat dalam matriks tersebut diperlukan jika ingin memahami diri seseorang. Analisis menunjukkan bahwa protagonis novel tersebut, Wilhelm, terlibat dalam sebuah hubungan segitiga atau triangling dalam usahanya untuk menghadapi kegelisahan hidupnya; selain itu, hubungan segitiga hanyalah satu dari sekian jalan keluar untuk kegelisahan yang dihadapi protagonis. Makalah ini menyimpulkan bahwa teori psikoterapi keluarga cocok untuk menganalisis secara kritis karya-karya sastra yang berkenaan dengan masalah keluarga, seperti Seize the Day. Teori ini menawarkan sudut pandang baru, tidak hanya terhadap praktik dalam kritik sastra, tapi juga terhadap cara melihat permasalahan dalam hidup. Kata kunci: Terapi sistem keluarga, segitiga, kegelisahan.
LESS COMMON PATTERNS WITH INTENSIFIERS ‘TOO’ AND ‘VERY IN THE CORPUS OF INUGURAL ADDRESSES OF US PRESIDENTS Prihantoro, Prihantoro
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, Nomor 2, Oktober 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i2.1239

Abstract

 AbstractThis paper studies “very” and “too”, two intensifiers used in the corpus of inaugural address of all US presidents, from Washington to Obama. My aims here is to identify uncommon pattern with “too” and “very”, and the semantic prosodies as well. I downloaded the data and processed it as a corpus by using a corpus tookit called AntConc (Anthony, 2006). I used the query “very” and “too” to obtain concordances. A shared feature of these intensifiers is they mostly modify adjectives as shown by frequency. Although less significant in terms of frequency, some common patterns are discovered, such as “very + N” and “very + AdjSuperlative + N” construction, which are attested in COCA. One that is against prescriptive grammar is <a + too + Adj + N”, where the suggested construction is usually “too + Adj + a + N”. As for the semantic prosody, I found some data attested in COCA, where “too” can be used to intensify positive evaluation, which is contrary to Azar (2002) and some other grammar books. As for very, it is more flexible that the prosodies might either be positive or negative. The result of COCA and BNC has shown that these structures are uncommon. I argue that these structures are used under the markedness frame, to make listeners focus on issues that the speakers wanted to empahasize.Keywords: very, too, intensifiers, semantic prosody, inaugural address, corpus AbstrakArtikel ini menyelidiki "very" dan "too", dua pengintensif yang ditemukan dalam korpus pidato pelantikan semua presiden AS, dari Washington sampai Obama. Tujuan artikel ini adalah untuk mengidentifikasi pola tidak biasa dengan kata "very" dan "too", dan prosodi semantiknya. Saya mengunduh data pidato dan diproses sebagai korpus dengan menggunakan perangkat korpus yang disebut AntConc (Anthony, 2006). Saya menggunakan query "very" dan "too" untuk mendapatkan konkordansi. Fitur yang ditemukan dari kedua pengintensif ini adalah keduanya kebanyakan memodifikasi kata sifat seperti yang ditunjukkan oleh frekuensi. Meskipun kurang signifikan dalam hal frekuensi, beberapa pola umum ditemukan, seperti konstruksi "very+ N" dan "too+ AdjSuperlatif + N", yang dibuktikan dalam COCA. Salah satu fitur yang bersebrangan dengan tata bahasa preskriptif adalah pola “a + too+ Adj + N ", sementara konstruksi yang biasa dipakai adalah " too+ Adj + a + N ". Adapun secara prosodi semantik, saya menemukan beberapa data yang dibuktikan di COCA, di mana "too" dapat juga digunakan untuk mengintensifkan penilaian positif, yang bertentangan dengan Azar (2002) dan beberapa buku tata bahasa lainnya. Sementara itu, kata “very” lebih fleksibel di mana prosodinya bisa positif atau negatif. Hasil COCA dan BNC menunjukkan bahwa struktur ini jarang ditemukan. Saya berpendapat bahwa struktur ini digunakan di bawah bingkai markedness, untuk membuat pendengar berfokus pada isu-isu yang ingin ditekankan penutur.Kata kunci: very, too, pengintensif, prosodi semantik, pidato pelantikan, korpus
INVESTIGATING CULTURAL CONTENTS OF READING PASSAGES IN THE TESTS DEVELOPED BY ENGLISH TEACHERS IN A SENIOR HIGH SCHOOL Faris, Ihsan Nur Iman
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, Nomor 2, Oktober 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i2.1244

Abstract

AbstractCultural contents contained in reading passages need to be treated carefully due to their influence to shapethe readers’ points of view. Since a test can include reading passages, careful selection of reading passages should also be conducted in a test development. This research is aimed at investigating what cultures are contained in the reading passages of the tests developed by the English teachers in a senior high school and the reasons why the reading passages were included. The methods employed in this research were textual analysis and case study. The data for textual analysis were collected from 24 reading passages from the tests developed by the English teachers of a senior high school in Cianjur, West Java, Indonesia. The information related to the problems of inclusion of cultural contents in the tests was collected from an interview. Among 24 reading passages in the tests, 10 reading passages were culture-neutral, while 14 reading passages contained cultural items.The findings show that in 14 reading passages, the culture contained are the target culture (40%) in the forms of naming, place, and season, the international culture (40%) in the forms of naming, place, and season,and the source culture (20%) in the forms of naming and place. Theunbalance proportion of the source culture can influence the readers’ mindset and the result of the test due to familiarity issue of the materials. Regarding why this proportion is found in the tests, the teachers were not aware of the cultural content issue. Therefore, the proportion was not intentionally made. The unawareness of teacher can lead to the inclusion of inappropriate cultural contents in the tests. Hence, based on the findings, it is recommended that teachers be more aware of cultural contents in reading passages and develop a test with a more balance proportion of cultural contents in reading passages.Keywords: Cultural contents, the source culture, the target culture, the international culture, reading passages. AbstrakIsi budaya yang terkandung dalam wacana harus diperlakukan dengan hati-hati karena bisa mempengaruhi sudut pandang pembaca. Dikarenakan tes mencakup wacana, pemilihan wacana secara hati-hati juga harus dilakukan dalam pengembangan tes. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki budaya apa yang terkandung dalam wacana-wacana di dalam tes yang dikembangkan oleh guru bahasa Inggris di SMA dan alasan mengapa wacana tersebut dimasukkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis tekstual dan studi kasus. Data untuk analisis tekstual dikumpulkan dari 24 wacana dari tes yang dikembangkan oleh guru bahasa Inggris dari SMA di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Informasi yang berhubungan dengan masalah masuknya isi budaya dalam tes dikumpulkan dari wawancara. Di antara 24 wacana tes, 10 wacana netral dari budaya, sementara 14 mengandung temuan budaya. Hasil menunjukkan bahwa dari 14 wacana, budaya yang terkandung adalah budaya target (40%) dalam bentuk penamaan, tempat, dan musim, budaya internasional (40%) dalam bentuk penamaan, tempat, dan musim, dan budaya sumber (20%) dalam bentuk penamaan dan tempat. Proporsi budaya yang tidak imbang dapat mempengaruhi pola pikir pembaca dan hasil tes karena berkaitan dengan tingkat pengetahuan terhadap materi. Mengenai mengapa proporsi ini ditemukan dalam tes, guru tidak menyadari masalah konten budaya. Oleh karena itu, proporsi tidak sengaja dibuat. Ketidaksadaran guru dapat menyebabkan masuknya isi budaya yang tidak pantas ke dalam tes. Oleh karena itu, berdasarkan temuan, disarankan bahwa guru menjadi lebih sadar akan isi budaya dalam wacana dan mengembangkan tes dengan menjaga keseimbangan proporsi isi budaya dalam wacana.Kata kunci: Isi budaya, budaya sumber, budaya target, budaya internasional, wacana.
ENGLISH LANGUAGE COMPETENCY AND OUTSOURCED CALL CENTERS IN BANGLADESH Rahman, Mizanur; Darus, Saadiyah; Hussain, Nazia
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, Nomor 2, Oktober 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i2.1235

Abstract

AbstractThis paper attempts to investigate whether or not the English competency of Customer Service Representatives (CSRs) is hindering the growth and development of outsourced call centers in Bangladesh. It also looks into the problems being faced by call centers in hiring English competent CSRs.  A limited appraisal of the English communication training of the CSRs offered by Call Centre Training Institutes is also within the purview of the paper. With this purpose 33 supervisors of different call centers, who are in charge of monitoring the CSRs, have been interviewed with a questionnaire comprised of both close and open ended questions.  The result shows there is scarcity of skilled English communicators which is one of the major barriers in the growth and development of the call centers. However, factors like product knowledge, intercultural communication skills, service personality are also crucial as they are integral for successful transaction and addressing them will pave the way for the progress of the industry. The result also implicitly indicates that mainstream education system in Bangladesh is still unable to produce competent English communicators.   The findings of the study reveal that the current shortage of skilled manpower can further become more acute when call center industry grows in line with the expectation of the government. It is also revealed that the call center training institutes are incapable of delivering the kind of training required for the aspirant CSRs. This study pinpoints the necessity of future research in several directions to ensure a balance between the demand and supply of native like fluent English communicators for call center Industry in Bangladesh. Keywords: English language competency, outsourced call centers, CRRs Abstrak Tulisan ini mencoba untuk menyelidiki apakah kompetensi bahasa Inggris Perwakilan Layanan Pelanggan (Customer Service Representatives/CSR) menghambat pertumbuhan dan perkembangan pusat-pusat panggilan pengalihluaran di Bangladesh. Tulisan ini juga menyelidiki masalah yang dihadapi oleh pusat panggilan dalam mempekerjakan CSR yang berkompeten dalam bahasa Inggris. Sebuah penilaian terbatas dari pelatihan komunikasi bahasa Inggris bagi CSR yang ditawarkan oleh Lembaga Pelatihan Pusat Panggilan akan menjadi pembahasan dalam artikel ini. Untuk mencapai tujuan ini, 33 pengawas dari pusat-pusat panggilan yang berbeda, yang bertugas memantau CSR, telah diwawancarai dengan kuesioner terdiri dari pertanyaan tertutup dan terbuka. Hasilnya menunjukkan ada kelangkaan staf yang terampil dalam bahasa Inggris yang menjadi salah satu hambatan utama dalam pertumbuhan dan perkembangan pusat panggilan. Namun, faktor-faktor seperti pengetahuan produk, kemampuan komunikasi antarbudaya, kepribadian layanan juga berperan penting karena semuanya merupakan bagian integral transaksi yang berhasil dan upaya peningkatan semua faktor tersebut akan membuka jalan bagi kemajuan industri. Hasilnya juga secara implisit menunjukkan bahwa sistem pendidikan utama di Bangladesh masih mampu menghasilkan individu yang berkompeten dalam bahasa Inggris. Temuan penelitian ini juga mengungkapkan bahwa kekurangan tenaga kerja yang terampil dapat menjadi lebih parah ketika industri pusat panggilan tumbuh sejalan dengan harapan pemerintah. Terungkap juga bahwa lembaga pelatihan pusat panggilan tidak mampu menyediakan jenis pelatihan yang dibutuhkan oleh para calon CSR. Penelitian ini menunjukkan perlunya penelitian masa depan di beberapa aspek untuk memastikan keseimbangan antara permintaan dan pasokan individu yang fasih berbahasa Inggris seperti penutur jati untuk Industri pusat panggilan di Bangladesh. Kata kunci: Kompetensi bahasa Inggris, pusat panggilan pengalihluaran, CSR
TRANSFORMASI NOVEL DONGENG “NINI ANTEH” KARYA A.S. KESUMA KE TAYANGAN OPERA VAN JAVA EPISODE “NYAI ANTEH PENJAGA BULAN” Harini, Yortiani Noor Asmi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, Nomor 2, Oktober 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i2.1240

Abstract

AbstrakCerita Nini Anteh merupakan folklor lisan masyarakat Sunda. Folklor lisan ini mengalami transformasi dalam transgenre dan translingual. Novel Dongeng Nini Anteh karya A. S. Kesuma dan tayangan Opera Van Java (OVJ) episode Nyai Anteh Penjaga Bulan menjadi data dalam penelitian ini. Teori yang digunakan dalam penelitian yaitu teori tentang transformasi yang dikemukakan oleh Riffaterre. Berdasarkan hasil penelusuran kedua karya ditemukan adanya ekspansi, konversi, modifikasi, dan irisan. Ekspansi dalam tayangan OVJ tidak tampak melalui alur dan pengaluran, tokoh, dan latar karena kisahnya lebih sederhana daripada kisah dalam novel. Oleh sebab itu, ekspansi tampak melalui adanya perbedaan media yang digunakan untuk membangun suasana yang dimanfaatkan untuk mengundang tawa penonton. Konversi yang terdapat dalam tayangan OVJ tampak melalui penyederhanaan alur dan pengaluran, tokoh, dan latar. Selain itu, konsep kecantikan Nyai Anteh yang terdapat dalam novel justru diputarbalikkan untuk memancing tawa penonton. Latar dalam novel yang bias gender berubah menjadi latar yang netral dalam tayangan OVJ. Meskipun kedua karya mengusung cerita yang berasal dari Sunda, kedua karya ini sama-sama menunjukkan ke-Indonesiaannya dengan cara memodifikasi kisah melalui keberadaan tokoh maupun peralatan modern sesuai dengan zaman ini. Jika dalam novel usaha membangun masa lampau yang kemudian dikaitkan dengan kehidupan masa kini dapat dipandang sebagai upaya ajakan melakukan refleksi, dalam tayangan modifikasi justru dilakukan untuk mengundang tawa penonton. Irisan kedua karya adalah adanya deskripsi mengenai perempuan yang karena cinta kemudian menetap di bulan. Aktivitas perempuan tersebut ketika di bulan adalah menenun. Irisan ini menunjukkan bahwa ada hal-hal yang ingin diwariskan bagi generasi setelahnya terutama mengenai kemandirian perempuan dengan memproduksi tekstil.Kata kunci: Novel Dongeng Nini Anteh, tayangan OVJ episode Nyai Anteh Penjaga Bulan, transformasi AbstractThe story of Nini Anteh is an oral folklore of Sundanese, which has undergone a transformation into transgenre and translingual forms. Kesuma’s novel of “Nini Anteh” and an Opera Van Java (OVJ) episode of “Nyai Anteh Penjaga Bulan” were the data of this study. The theory used in this research is the theory of transformation proposed by Riffaterre. Analysis of the data reveals expansion, conversion, modification, and similarities. Expansion in the OVJ did not appear in the slot, characters, and background for the story was made simpler than that in the novel. Expansion appeared in the variety of media used to invite laughter. Conversion in the OVJ was evident in simplified plot, character, and setting. In addition, the concept of beauty of Nyai Anteh in the novel was entirely changed for entertainment purposes. A gender bias background in the novel was turned into a neutral background in the OVJ. Although both works carried a Sundanese story, they show the notion of Indonesian by modifying the story through the use of characters and equipment in accordance with the modern age. In the novel efforts to build past linked to the life of the present can be seen as an attempt to prompt reflection, while modifications in the OVJ were to invite laughter. Both works share the same description of a woman who then decided to reside on the Moon because of love. What she did on the moon was weaving. These similarities indicate that there are things that would be passed on to subsequent generations, especially regarding the independence of women in producing textiles. Keywords: Novel of Dongeng Nini Anteh, OVJ episode of Nyai Anteh Penjaga Bulan, transformation
POTENSI BAHASA SUNDA DALAM MEMPERKAYA BAHASA INDONESIA Kulsum, Umi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, Nomor 2, Oktober 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i2.1245

Abstract

AbstrakBahasa Indonesia akan senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan penuturnya. Bahasa Indonesia juga banyak menggunakan kosakata dari luar yang dianggap lebih mewakili konsep, gagasan, atau ide tertentu. Bahasa yang  menjadi sumber serapan bagi bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu, bahasa daerah lain di Indonesia, atau bahasa asing. Sebagai bahasa daerah dengan penutur yang cukup banyak, bahasa Sunda mempunyai kemantapan, baik dalam korpus (tata bahasa, kamus) maupun dalam pemakaiannya. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kosakata bahasa Sunda yang berpeluang masuk ke dalam bahasa Indonesia, dan (2) karakteristik kosakata tersebut dilihat dari segi makna, kategori, dan bentuk. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif. Hasil temuan menunjukkan bahwa kosakata bahasa Sunda banyak yang berpeluang menjadi kosakata bahasa Indonesia, terutama kosakata yang memiliki konsep, gagasan, atau ide yang tidak ada dalam bahasa Indonesia, baik menyangkut istilah kekerabatan, berkaitan dengan fisik manusia, nama tumbuhan dan bagiannya, aktivitas badan dan aktivitas sehari-hari, aktivitas terkait benda, rasa sakit, sifat manusia, alam dan keadaan, nama penyakit maupun konsep lainnya yang tidak ada dalam bahas Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya kosakata Sunda yang masuk ke dalam wacana dan menjadi interferensi leksikal (atau harus dimiringkan) dalam media massa berbahasa Indonesia. Selain itu, kosakata yang berkaitan dengan budaya Sunda, seperti nama kesenian, alat musik, tradisi, dan sastra Sunda berpeluang juga menjadi kosakata bahasa Indonesia atau setidaknya menyumbang Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan selanjutnya.  Kata kunci: Bahasa Indonesia, KBBI, kosakata, bahasa Sunda AbstractIndonesian will continue to evolve as its speakers grow. Indonesian uses plenty of vocabulary from the outside which is considered to better represent particular concepts or ideas. The languages that have been the sources for borrowing are Malay, regional languages in Indonesia, or foreign languages. As a local language with a significant number of speakers, Sundanese is established, both in the corpus (grammar, dictionaries) as well as in its use. This paper aims to describe (1) Sundanese vocabulary is likely to enter into Indonesian, and (2) the characteristics of such Sundanese vocabulary is likely to enter into Indonesian in its meaning, category and form. The method used in this research is descriptive. A large number of Sundanese words are likely to be the vocabulary of Indonesian, especially those concerning a concept, or an idea that does not exist in Indonesian, e.g. kin terms, human physical nature, names of plants and parts, the activity of the body and everyday activities, activities related to objects, pain, human nature, the nature and circumstances, and names of diseases. This is evidenced in the number of Sundanese vocabulary in Indonesian passages and lexical interferences in Indonesian mass media. Moreover, the vocabulary related to Sundanese culture, such as names of arts, musical instruments, traditions and literary are likely to also be the Indonesian vocabulary and contribute to the next edition of the Great Dictionary of the Indonesian Language.Keywords: vocabulary, Sundanese, Indonesian, Indonesian dictionary
AN ANALYSIS OF MODALITY IN STUDENTS’ HORTATORY EXPOSITION TEXTS (SYSTEMIC FUNCTIONAL GRAMMAR PERSPECTIVE) Ardiansah, Dian
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, Nomor 2, Oktober 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i2.1236

Abstract

AbstractThis study deals with the interpersonal meaning revealed the use of modality system in students’ hortatory exposition text at one of universities in Ciamis. Five texts of students’ hortatory exposition were analyzed to find out what types of modality are used and what interpersonal meaning which is contained through modality system. This study employed Systemic Functional Grammar (SFG) based on Halliday and Matthiessen’s (2004) framework since it can seek and identify the level of language structured which makes kinds of meaning.The findings showed that all of clauses which contained modality system indicated author’s interpersonal meaning with different value of language in the texts. The different types of language value and polarity also indicated the author’s interpersonal meaning in the texts. In addition, this analysis concluded that five texts comparised several modalization and modulation types which appeared with different ranks. Keywords: Hortatory exposition text, interpersonal meaning, SFG, modality AbstrakPenelitian ini berkenaan dengan makna interpersonal yang terungkap dari penggunaan sistem modalitas dalam teks eksposisi hortatory mahasiswa di salah satu universitas di Ciamis. Lima teks eksposisi hortatory mahasiswa dianalisis untuk mengetahui apa jenis modalitas yang digunakan dan apa makna interpersonal yang terkandung melalui sistem modalitas. Penelitian ini menggunakan Grammar Fungsional Sistemik (SFG) berdasarkan kerangka Halliday dan Matthiessen (2004) karena kerangka tersebut dapat mengidentifikasi tingkat bahasa terstruktur yang membuat berbagai jenis makna. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa semua klausa yang berisi sistem modalitas mengandung makna interpersonal penulis dengan nilai bahasa dalam teks yang berbeda. Berbagai jenis nilai bahasa dan polaritas juga menunjukkan makna interpersonal penulis dalam teks. Selain itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa kelima teks memiliki beberapa tipe modalization dan modulasi yang muncul dengan peringkat yang berlainan.Kata kunci: Hortatory exposition text, makna interpersonal, modalitas, SFG,
EVALUASI PENYUSUNAN MATERI PENGAJARAN FONETIK PADA BAHAN AJAR BAHASA MANDARIN DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Meli, Meli
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, Nomor 2, Oktober 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i2.1241

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi penyusunan materi pengajaran fonetik pada bahan ajar bahasa Mandarin tingkat sekolah menengah atas. Penelitian ini melibatkan 8 paket bahan ajar bahasa Mandarin di sekolah menengah atas. Dari penelitian 8 paket bahan ajar tersebut ternyata penyusunan pengajaran fonetik pada sebagian besar bahan ajar tersebut masih menggunakan format umum, serta tidak mempertimbangkan kesulitan pelajar yang bahasa ibunya adalah bahasa Indonesia. Selain itu, pada sebagian besar bahan ajar, alokasi jumlah unit pelajaran tentang fonetik cenderung masih sedikit dan terkesan disederhanakan. Berdasarkan hal ini, dengan bersumber kepada beberapa penelitian fonetik yang telah dilakukan oleh beberapa pemerhati pendidikan bahasa Mandarin baik di Indonesia dan Tiongkok, peneliti menyarankan format penyusunan pengajaran fonetik pada bahan ajar bahasa Mandarin tingkat sekolah menengah atas yang lebih baik. Hal ini dilakukan agar peserta didik khususnya pelajar pemula bahasa Mandarin di sekolah  menengah atas dapat lebih mudah mempelajarinya.    Kata-kata kunci :          Bahasa Mandarin, bahan ajar, fonetik, sekolah menengah atas AbstractThe main objective of this study is to evaluate the arrangement of phonetic teaching in Mandarin teaching material at senior high school level. The study involved eight packages of Mandarin teaching materials in senior high school. Based on the study of this 8 packages teaching materials, apparently the arrangement of phonetic teaching in most of the materials still utilizes a common format, and does not take into consideration the difficulties of students whose native language is Indonesian. In addition, the majority of the teaching materials allocates only a few units of phonetic lessons, and is oversimplified. As regards, I suggested a better format on the arrangement of phonetic teaching in Mandarin teaching material at senior high school level, referring to some phonetic research that has been done by some Mandarin education observers, both in Indonesia and China. Hopefully learners, especially beginner students in senior high school may learn Mandarin much easier.Keywords: Mandarin, teaching material, phonetic, senior high school

Page 1 of 2 | Total Record : 12