cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
BAHASA DAN SASTRA
ISSN : 14120712     EISSN : 25278312     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA (Journal of Language and Literature Education) is published by Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia. It publishes research-based articles in the field of language, literature, and its teaching and learning. It is published twice a year, namely in April and October. The scopes of the topics include: 1) Foreign language learning, Indonesian language, vernacular language and Malay language learning; (2) Linguistics; (3) Applied Linguistics, and; (4) Literature.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 17, No 2 (2017): OKTOBER 2017" : 11 Documents clear
TRANSFORMASI SEMATAN KLAUSA RELATIF PADA TEKS TERJEMAHAN ALQURAN YANG MENGANDUNG ETIKA BERBAHASA Shofiyuddin, Shofiyuddin
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v17i2.9660

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi transformasi sematan klausa relatif, (2) menjelaskan proses terjadinya transformasi sematan, dan (3) menjelaskan kaidah transformasi yang terdapat pada teks terjemahan Alquran yang mengandung etika berbahasa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, simak, dan catat. Data dalam penelitian ini berupa kalimat-kalimat yang terdapat pada terjemahan ayat-ayat Alquran yang mengandung transformasi sematan. Sumber datanya adalah teks terjemahan Alquran yang mengandung etika berbahasa. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode padan ekstralingual dan padan intralingual. Pengujian keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber data. Hasil penelitian menunjukkan (1) terdapat  41  kalimat transformasi sematan klausa relatif yang terdapat pada teks terjemahan Alquran yang mengandung etika berbahasa, (2) proses transformasi sematan pada teks terjemahan Alquran yang mengandung etika berbahasa, (3) kaidah transformasi berdasarkan jenis kalimat terbagi menjadi dua, yaitu kalimat kompleks dan kalimat sederhana. Kalimat sederhana hanya terdiri atas satu proses transformasi saja dan dalam penelitian ini terdapat sepuluh. This research aims to (1) identify kinds of relative embedded clauses transformation; (2) describe the transformation process, and (3) describe the transformation principles of the Holy Quran translation that contains language ethics. The data collection techniques for the study involved documents mining, observation and recording. The data were in the form of translated sentences of the Quran that contained embedded transformation. The data source was translated text of the Quran that reflected language ethics. Data analysis of this study involved intralingual and extralingual methods. Data triangulation was also employed to cross-check the reliability of the data. The results of the analysis indicate that (1) there are forty-one sentences of relative embedded clauses transformation in the translated text of the Holy Quran that contains language ethics, (2) embedded transformation process in the translation of the Quran contains language ethics, and (3) the transformation principles based on sentence types are of two types: complex and compound sentences. A compound sentence only involved one transformation process, and there are ten such sentences revealed in the present study. 
MATERI IMBUHAN BAHASA INDONESIA DALAM BPPB PADA TINGKAT KETERAMPILAN BERBAHASA MAHASISWA ASING Defina, Defina
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v17i2.9656

Abstract

Salah satu materi pengetahuan bahasa yang diberikan pada BIPA adalah imbuhan. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB), Kemdikbud sudah merumuskan imbuhan untuk setiap peringkat  berdasarkan CEFR. Tujuan penulisan ini adalah mengkaji materi imbuhan yang dirumuskan BPPB. Metode yang digunakan deskriptif analitis. Objeknya silabus dan materi ajar yang dirumuskan BPPB. Temuannya adalah 1) pada level A1 diajarkan imbuhan ber-, namun kosakata berimbuhan meN-, meN-kan, meN-i, di-, di-kan, di-i, peN-, -an, ke-an, per-an, peN-an, ter-, banyak digunakan;2) pada level A2  tidak ada imbuhan  yang diajarkan; 3) pada level B1 kembali diajarkan imbuhan ber- yangdisejalankan dengan imbuhan meN-, pembentuk kata kerja pasif ter-, dan imbuhan ke-an; 4) pada level B2 diajarkan imbuhan meN-,ber- (terkait dengan kalimat aktif-pasif), ter- (pembentuk kata kerja pasif), dan  ke-an; 5)pada level C1  tidak ada imbuhan  yang diajarkan; 6) pada level C2 diajarkan imbuhan meN- dan –i;7) imbuhan meNper, meNper-an, meNper-i, berpeN-kan, berke-an, ber-an, kepeN-an tidak diajarkan pada semua level,tetapi kosakata turunan dari imbuhan ini banyak digunakan. Kesimpulannya adalah adanya imbuhan yang tidak diberikan  dan ada level yang tidak ada materi imbuhan.Kata kunci:  keterampilan berbahasa; imbuhan; BIPAOne of the content materials in BIPA (Teaching Indonesian for Non-natives) is affixes. Ministry of Education and Culture’s Language Development and Fostering Agency (BPPB) formulates affixes for each level based on CEFR. This paper aims at exploring affixes formulated by BPPB. Analytical descriptive method was adopted in the study, in which the syllabus and content materials formulated by BPPB were the data sources. The findings show that 1) Affix ber- was discussed in level A1; however, words using affix meN-, meN-kan, meN-i, di-, di-kan, di-i, peN-, -an, ke-an, per-an, peN-an, ter- were often used; 2) No affixes was taught in level A2; 3) in level B1, affix ber- was re-learned in line with affix meN-,passive verb maker ter-, and affix ke-an; 4) affixes meN-,ber- (passive-active voice), ter- (passive verb maker), andke-an were taught in level B2; 5) in level C1,there was no affixes taught; 6) affixes meN- and –i were learned in level C2;7) affixes meNper, meNper-an, meNper-i, berpeN-kan, berke-an, ber-an, kepeN-an were not discussed in any levels; nonetheless, derived words from these affixes were frequently used. In conclusion, not all affixes were discussed, and not all levels provided affixes as content materials.Keywords: language skill; affixes; teaching indonesian for non-natives
KEARIFAN LOKAL DALAM TOPONIMI DI KABUPATEN PANDEGLANG PROVINSI BANTEN: SEBUAH PENELITIAN ANTROPOLINGUISTIK Muhyidin, Asep
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v17i2.9661

Abstract

Bahasa dan budaya merupakan dua sisi mata uang yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan, karena bahasa merupakan cermin budaya dan identitas diri penuturnya. Toponim dapat digunakan untuk mempelajari aspek budaya setempat sehingga sangat diperlukan untuk melestarikan warisan budaya bangsa. Bahasa yang digunakan dalam penamaan geografis menunjukkan kekayaan budaya suatu bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan toponimi di Kabupaten Pandeglang yang menggunakan mofem Ci- (Bahasa Sunda), lema kadu (Bahasa Sunda), dan lema pasir (Bahasa Sunda). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis. Data yang digunakan dalam tulisan ini berasal dari sumber data tertulis dan sumber data lisan. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan toponim  di Kabupaten Pandeglang yaitu: 1) menggunakan morfem ci- (BI: air); menggunakan lema kadu (BI: buah durian); dan  menggunakan lema pasir (BI: bukit); dan 2) faktor penamaan tersebut berkaitan dengan kondisi geografis dan sosial budaya masyarakat setempat. Language and culture are two sides of a coin; they are inseparable because language is a reflection of the culture and identity of its speaker. Toponyms can be used to study various aspects of the local culture and can help to preserve the nations cultural heritage. The language used in geographical naming shows the cultural richness of a nation. This study aims to describe the toponymy existing in Pandeglang District, focusing on the morpheme Ci- (Sundanese), kadu entry (Sundanese), and hill entry (Sundanese). This research uses analytical descriptive method. The data used in this paper comes from written as well as oral data sources. The findings revealed that the dominant toponyms in Pandeglang District are as follows: 1) using the morpheme ci- (BI: air); using the entry kadu (BI: durian); and using the entry hill (BI: bukit); 2) the naming factor is related to the geographical and sociocultural conditions of the local community. 
CLASSROOM INTERVENTION: READING TONI MORRISON’S A MERCY WITHIN INDONESIAN CONTEXT Manggong, Lestari
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v17i2.9657

Abstract

Since knowledge often suits a situation, knowledge can work as a strategy. Spivak (1993) emphasizes that classroom can be staged as intervention. In the classroom, a case, a theory, or a concept is proposed, and students are encouraged to intervene. In Spivak’s “teaching machine”, it is strategic to always move outside and not be like the mainstream. To do this, one must inhabit, invest, and criticize the knowledge put in hand. With this in mind, this essay attempts to explore how reading literature can help Indonesians negotiate their identities across languages, generations, and cultures, and in the end, would look critically at the politics of identity and culture. This article argues that reading Toni Morrison’s A Mercy provides perspectives on the relevance of teaching American literature within Indonesian context. Tzvetan Todorov’s (1982) theory on the conquest of other helps the analysis on the novel’s colonial issue, while the conquest of America by female characters in the novel is discussed within the frame of feminist studies. Intervention in this case is conducted to question what can be reflected upon such issues for students in Indonesia whose country experienced (post)colonialism and is continuously tackling with the issue of gender equality.Keywords: American literature; feminist studies; Indonesian context; intervention; (post)colonialismKarena pengetahuan sering sesuai dengan situasi, pengetahuan dapat digunakan sebagai strategi. Spivak (1993) menekankan bahwa ruang kelas dapat dikondisikan sebagai medium intervensi. Di ruang kelas, sebuah kasus, teori, atau konsep diajukan, dan siswa didorong untuk melakukan intervensi. Dalam konteks mesin pengajaran yang dikonsepkan oleh Spivak, selalu bergerak keluar (tidak mainstream) merupakan hal yang sangat strategis untuk dilakukan. Untuk dapat melakukan ini, seseorang harus benar-benar memahami, menginvestasikan, dan mengkritik pengetahuan yang ada. Atas dasar pemikiran ini, artikel ini mencoba untuk mengeksplorasi bagaimana membaca karya sastra dapat membantu orang Indonesia menegosiasikan identitas mereka melalui bahasa, generasi, dan budaya. Hingga pada akhirnya, akan terlihat kritik terhadap politik identitas dan budaya. Artikel ini berargumentasi bahwa membaca novel A Mercy karya Toni Morrison dapat memberikan perspektif tentang relevansi pengajaran sastra Amerika dalam konteks Indonesia. Teori Tzvetan Todorov (1982) tentang penaklukan yang lain membantu analisis isu kolonial novel tersebut, sementara penaklukan Amerika oleh tokoh perempuan dalam novel tersebut akan dibahas dalam kerangka studi feminis. Intervensi dalam kasus ini dilakukan untuk mempertanyakan apa yang dapat tercermin pada isu-isu tersebut bagi siswa di Indonesia yang negaranya mengalami kolonialisme dan terus-menerus menangani masalah kesetaraan jender.Kata kunci: kesusastraan Amerika; kajian feminis; konteks Indonesia;intervensi; (pos)kolonialisme  
PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK PEMBELAJARAN MENULIS TEKS ANEKDOT Putri, Hilda
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v17i2.9662

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan proses pengembangan modul berbasis pendekatan kontekstual untuk pembelajaran menulis teks anekdot yang valid, praktis, dan efektif untuk siswa kelas X. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (R&D). Model pengembangan yang digunakan adalah 4-D (pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran). Penelitian ini dilaksanakan di kelas X SMA Negeri 1 Painan dengan jumlah siswa 32 orang. Proses pengembangan ini menghasilkan produk berupa modul berbasis pendekatan kontekstual untuk pembelajaran menulis teks anekdot yang valid, praktis dan efektif. Nilai validitas modul secara keseluruhan adalah 86,46% dengan kategori sangat valid. Nilai praktikalitas diperoleh melalui tiga cara, penilaian dari guru sebesar 87,72% dengan kategori sangat praktis, penilaian dari siswa sebesar 94,27% dengan kategori sangat praktis, dan penilaian aktivitas siswa sebesar 89,69% dengan kategori sangat praktis. Penilaian keefektifan modul diperoleh melalui dua cara, penilaian tes kognitif adalah 87,81 dengan predikat A, penilaian tes psikomotor adalah 86,32 dengan predikat A, dan penilaian sikap adalah 91,67 dengan kategori A. Berdasarkan hasil pengolahan tersebut dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran berbasis pendekatan kontekstual dapat membantu siswa pada pembelajaran menulis teks anekdot.  This research aims to describe the process of developing a module based on contextual approach for writing a valid, practical, and effective anecdotal text for grade X students. This is a research development inquiry, which adopted a 4-D model (define, design, develop, and disseminate). The study involved 32 grade X students of SMAN 1 Painan. The development process produced a contextual approach-based module for learning how to write a valid, practical, and effective anecdotal text. The overall validity of the module is 86, 46%. Meanwhile, the score for practicality was obtained in three ways: teachers’ assessment (87, 72%), students’ assessment (94, 27%) and an evaluation based on students’ activities (89, 69%). The effectiveness of the module was assessed based on a number of tests, with a score of 87, 81 for cognitive test (A), a score of 86, 32 for psychomotor test (A), and 91, 67 for students’ attitudes (A). Based on these results, it can be concluded that contextual approach-based module can assist students in learning how to write anecdotal texts.  
SYNTAX STUDIES IN HISTORICAL LINGUISTICS: WORD ORDER IN ENGLISH AND GERMAN AS INDO-GERMANIC LANGUAGES Purwitasari, Ana
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v17i2.9653

Abstract

This research aims to describe the development of syntax in English and German diachronically and involves a broader inquiry into English and German as sister languages rooted from Germanic language. In this research, the author gathered data from manuscripts written in both the English and German languages produced at particular times. This research used descriptive-qualitative method. The results showed that: 1) Diachronically, English and German have gone through four periods in their syntax patterns development; 2) Old English and Old High German sentence patterns are apparently the same, adopting SVO-structure; 3) The existence of conjunction separates the verb and object in German, but it does not change anything in the English word-order, from Middle English to Modern English; 3) Early Modern English verbs should be put in the second position. However, Early New High German verb is placed in agreement with the conjunction since conjunction influences the position of the verb and object.Keywords: Syntax; Germanic languages; historical linguistics; Indo-Germanic languagesPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan sintaksis dalam bahasa Inggris dan bahasa Jerman secara diakronik dan merupakan penelitian yang diperluas terkait bahasa Inggris dan bahasa Jerman sebagai rumpunbahasa yang berasal dari bahasa Jermanik. Dalam penelitian ini, penulis mengumpulkan data dari manuskrip yang ditulis dalam keduabahasa tersebut, bahasa Inggris danJerman,pada waktu tertentu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Secara diakronik, bahasaInggris dan Jerman telah melalui empat periode dalam pengembangan pola sintaksisnya; 2) Pola kalimat bahasaInggris lama dan Jerman lama tampaknya sama, yaitu memilikistruktur SVO; 3) Adanya konjungsi yang memisahkan kata kerja dan benda dalam bahasa Jerman, tidak mengubah apapun dalam ketentuankata perintah padabahasa InggrisdaribahasaInggrisAbad Pertengahan ke bahasa Inggris Modern; 3) Kata kerja bahasa Inggris di awalmasabahasaInggrisModern harus diletakkan di posisi kedua. Namundemikian, kata kerja bahasaJermanditempatkan bersama konjungsi sejakkonjungsimempengaruhi posisi kata kerja dan objek.Kata kunci: Sintaksis; bahasa Jerman; linguistik historis; bahasa Indo-JermanKata kunci: Sintaksis; bahasa Jerman; linguistik historis; bahasa Indo-Jerman
METODE TOTAL PHYSICAL RESPONSE (TPR) PADA PENGAJARAN BAHASA INGGRIS SISWA TAMAN KANAK-KANAK Astutik, Yuli; Aulina, Choirun Nisak
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v17i2.9658

Abstract

Metode TPR adalah salah satu metode untuk pengajaran bahasa pada anak usia dini karena penerapannya berhubungan antara koordinasi perintah, ucapan dan gerak sehingga seorang anak lebih mudah untuk menguasai suatu bahasa dalam pembelajarannya. Tujuan  penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana guru TK Aisyiyah 5 Tanggulangin mengajarkan bahasa Inggris dengan metode TPR pada siswanya. Metode penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif. Non partisipan observasi dan wawancara dilakukan sebagai teknik pengumpulan data.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari tiga belas aspek metode TPR ditemukan bahwa guru lebih sering mengimplementasikan TPR pada natural conditions baik di dalam maupun di luar jam pelajaran. Pada penerapan metode TPR diketahui juga ternyata siswa tidak hanya merespon dengan gerakan fisik atau non verbal saja tapi juga dengan respon ucapan atau verbal. Data wawancara menunjukkan bahwa guru lebih kreatif menggunakan metode TPR dengan tidak terpaku pada satu materi yang diberikan pada jam pelajaran bahasa Inggris namun juga dalam berinteraksi dan berkomunikasi di luar kelas. Dengan metode TPR yang diaplikasikan pada kegiatan sehari-hari oleh guru di lingkungan sekolah dapat membuat siswa lebih mudah memahami bahasa Inggris.Total physical response (TPR) method is one of the methods for language teaching in early childhood because its application is related to coordination of command, speech and action. So, children are easier to master a language in their learning. The purpose of this research is to analyze how teachers at TK Aisyiyah 5 Tanggulangin teaches English by using TPR method to their students. This research method use qualitative descriptive design. Non-participant observation and interviews are conducted as the data collection techniques. The results of this research indicate that from the thirteen aspects of the TPR method the teachers are more likely to implement TPR in natural conditions both inside and outside of the classroom. In the application of TPR method is also known that students not only respond with physical movement or non verbal language but also with utterance or verbal response. Interview data shows that teachers are more creative using the TPR method by not fixating on one material given during English language lesson but also in interacting and communicating outside the classroom. By using TPR method which applied in daily activities by teachers in the school environment can make students more easily understand the English. 
MODEL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS PEMBELAJARAN APRESIASI CERITA RAKYAT DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA WAYANG KANCIL Suryanto, Edy
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v17i2.9663

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis kebutuhan pendidikan karakter; (2) mengkaji nilai-nilai cerita rakyat sebagai materi ajar; dan (3) membuat prototipe model pendidikan karakter. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan pendekatan R & D, yang dilaksanakan di 15 SD mulai Mei-Oktober 2014. Subjek penelitian adalah siswa kelas V, guru kelas, dan pengambil kebijakan. Penentuan sampel secara stratified random sampling. Tempat dan peristiwa, informan, cerita rakyat, dan dokumen dijadikan sebagai sumber data.  Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Analisis data menggunakan teknik analisis interaktif. Hasil penelitian: (1) Analisis kebutuhan diidentifikasi atas: visi misi sekolah belum menjadi panduan budaya kerja; permasalahan siswa di kelas dipengaruhi kegiatan pembelajaran guru; pendidikan karakter dipengaruhi faktor pembinaan, keteladanan, model, dan pembiasaan; (2) Materi ajar disusun berdasarkan tingkat keterbacaan dan daya pikir siswa; dan (3) Model didesain melalui tahap pengorganisasian nilai-nilai, pengondisian pembelajaran, internalisasi nilai-nilai, dan pengembangan nilai-nilai. Pembelajaran apresiasi cerita rakyat menggunakan media wayang kancil merupakan model pendidikan karakter yang dapat dikembangkan di SD.  This study aims to: (1) analyze the importance of character education; (2) assess the values of folklores as teaching materials; and (3) create a prototype model of character education. This qualitative descriptive study employed a R & D approach, which was implemented in 15 elementary schools from May to October 2014. The subjects were students of class V, class teachers, and policy makers. The samples were stratified random sampling. The data sources included a number of places and events, informants, folklores, and documents. The data were collected through observation, interviews and document analysis. Specifically, the analysis employed interactive analysis techniques. The results of the study pointed to the following: (1) needs analysis identified: the school vision and mission have not yet been adopted as guiding principles for creating institutional culture; teachers’ instruction has contributed to creating issues encountered by students in the classroom; character education has been influenced by a number of factors such as coaching, modeling, and habituation; (2) Teaching materials have been prepared based on students’ level of legibility and thinking ability; and (3) The model has been designed by organizing values, conditioning learning atmosphere, internalizing as well as developing values. Appreciation of folklores through the use of puppets (wayang kancil) can thus be adopted as a model to teach character education in primary schools.
SUBJEK PERANAKAN TIONGHOA YANG AMBIGU DALAM DRAMA KARINA-ADINDA (1913) KARYA LAUW GIOK LAN Susanto, Dwi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v17i2.9654

Abstract

Karina-Adinda (1913) karya Lauw Giok Lan menampilkan pembelaan pada wacana kolonial dan sekaligus membela pribumi atau tradisi lokal. Hal ini menunjukkan bahwa ada sikap yang ambigu peranakan Tionghoa dalam merespon wacana kolonial, lokalitas dan meneguhkan identitas ketionghoannya. Dari hal itu, masalah utama adalah respon subjek dalam menghadapi wacana kolonial melalui strategi ambiguitas.  Konsep atau teori dan metode penelitian yang digunakan adalah pascakolonial. Hasil yang diperoleh adalah gagasan ambiguitas digunakan sebagai strategi perlawanan pada wacana kolonial dan sekaligus meneguhkan identitas ketionghoaan yang kembali pada tradisi. Selain itu, strategi itu juga mengembangkan gagasan nasionalisme kebangsaan yang didasarkan atas gagasan nasionalisme budaya, yakni bangsa dan kebudayaan Timur.Kata kunci: peranakan Tionghoa; ambiguitas; identitasKarina-Adinda (1913) by Lauw Giok Lan presents discourses in favour of colonialism but at the same time also indicates support of local people and traditions. This illustrates the Chinese descent’s ambiguity in responding to discourses surrounding colonialism, locality and their Chinese identity. The main issue appears to lie in the subject’s response towards colonial discourses by displaying ambiguity strategy. In revealing this ambiguity, postcolonial theory and method have been employed in this research. The analysis revealed that ambiguity strategy was in fact used as a way of resisting towards colonial hegemony and empowering Chinese identity that is based on tradition. Additionally, the strategy developed culture-based nationalism that centres on the ideas of nationhood and the Eastern cultures.Keywords: Chinese-Indonesian; ambiguity; identity
KAJIAN ARKEPTIPAL DAN NILAI KEARIFAN LOKAL LEGENDA DI KOTA PURWOREJO SERTA RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR MATA KULIAH KAJIAN PROSA Setyorini, Nurul; Riskiana, Suci
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17, No 2 (2017): OKTOBER 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v17i2.9659

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) kajian arkeptipal legenda di Purworejo; (2) nilai kearifan lokal legenda di Kota Purworejo ,dan (3) relevansi kajian arkeptipal dan nilai kearifan lokal di Kota Purworejo sebagai bahan ajar dalam mata kuliah Kajian Prosa Fiksi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukakan di beberapa desa wilayah Kabupaten Purworejo yang memiliki cerita legenda. Objek kajian penelitian ini terdiri dari dua, yaitu objek formal dan objek material. Adapun objek formalnya adalah kajian arkeptipal, nilai kearifan lokal, dan relevansinya sebagai bahan ajar, sedangkan objek materialnya adalah legenda di Kota Purworejo. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara., sedangkan teknik analisis data yang peneliti gunakan adalah analisis isi. Hasil penelitian ini di antaranya pertama perihal kajian arkeptipal, kajian arkeptipal dalam legenda di Purworejo yang membahas legenda Dewi, Candi Ngasinan, Banyuurip, dan Brengkelan; kedua perihal kerifan lokal, kearifan lokal yang ada dalam legenda berupa upacara adat, bahasa, dan mata pencaharian; ketiga perihal relevansi sebagai bahan ajar, penelitian ini relevan sebagai bahan ajar dalam mata kuliah pengkajian sastra baik materi psikologi sastra maupun antropologi sastra. Bahan ajar tersebut bisa berwujud contoh pengkajian maupun bahan pengkajian This research is aimed to describe: (1) archeptypal review of legends in Purworejo; (2) values of local wisdoms contained in legends in Purworejo, and (3) the relevance of archetypal review and values of the local wisdoms as instructional materials of the course Fiction Prose Review. The research methods used were qualitative descriptive methods. This research was conducted in some villages in Purworejo Regency which had legends. The research objects were of two types: formal and material objects. The formal object was comprised of archetypal review, values of local wisdoms and their relevance as instructional materials. Meanwhile, the material object was comprised of the legends existing in Purworejo. The data collection technique used was interview, whereas the data analysis technique used was content analysis. The analysis pointed to several aspects: first, the archetypal review of the legends in Purworejo, which covered four legends, namely the legends of Dewi, Candi Ngasinan (Ngasinan Temple), Banyuurip and Brengkelan. The second aspect dealt with the local wisdoms, which were in the forms of traditional ceremonies, language and livelihood. The third was the relevance of these local wisdoms as instructional materials, which can be used in the course of literary review, either literary psychology or literary anthropology. The instructional materials can be in the forms of review examples or review materials.

Page 1 of 2 | Total Record : 11