cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 31 Documents
Pengaruh Bahasa Melayu terhadap Kesusastraan Aceh Ditinjau dari Naskah Akhbār al-Karīm Istiqamatunnisak, Istiqamatunnisak
Manuskripta Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v2i1.380

Abstract

Artikel ini menegaskan besarnya pengaruh bahasa Melayu dalam tradisi kesusastraan Aceh sejak berabad-abad lalu. Hal itu tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa Bahasa Melayu saat itu merupakan lingua franca yang digunakan oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perantara untuk berkomunikasi antar berbagai suku dan bangsa-bangsa asing lainnya.Setelah Islam masuk ke Aceh, kebudayan Aceh mulai dari bidang ekonomi, sosial, dan seni budaya selalu mencerminkan nilai-nilai Islami. Masyarakat Aceh yang sangat religius dan mempunyai adat istiadat yang tinggi, dalam setiap kehidupannya mengacu kepada sistem budaya, dalam kesatuan sosial dalam masyarakat Aceh bersumber pada adat dan agama.Di antara bukti kuatnya pengaruh bahasa Melayu dalam kesusastraan Aceh adalah naskah Akhbar al-Karim, sebuah karya sastra berupa syair, yang di dalamnya terdapat juga sisipan-sisipan bahasa Aceh.
Menafsirkan Ulang Riwayat Ken Angrok dan Ken Děděs dalam Kitab Pararaton Munandar, Agus Aris
MANUSKRIPTA Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : MANUSKRIPTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kitab Pararaton merupakan karya anonim yang ditulis dalam bahasa Jawa tengahan. Kitab tersebut menguraikan kehidupan Ken Angrok serta raja-raja Singhasari dan Majapahit. Tulisan ini berusaha menjelaskan latar belakang mengapa cerita mengenai Ken Angrok itu mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan dengan cerita mengenai kehidupan raja-raja yang lain. Melalui telaah tekstual terhadap Kitab Pararaton dan telaah terhadap bukti-bukti arkeologis  terkait, terlihat bahwa cerita Ken Angrok dalam kitab tersebut merupakan simbol penyatuan dua agama besar yang dianut oleh masyarakat Jawa Kuno: Hindu Saiwa dan Budha Mahayana. Simbolisasi Agama Hindu-Saiwa itu terlihat dari uraian mengenai sosok Ken Angrok sebagai penjelmaan dari tiga dewa: Brahma, Siwa, dan Wisnu, sementara simbolisasi agama Budha Mahayana itu terlihat dari uraian mengenai sosok isteri Ken Angrok, yaitu Ken Děděs, sebagai putri tunggal Mpu Purwa, seorang pendeta Budha Mahayana. Sebagai implikasi dari penyatuan dua agama besar, beberapa candi yang mengandung semangat penyatuan tersebut, yang dikenal dengan candi Syiwa-Budha, dibangun pada masa Kerajaan Singhasari. Bentuk candi tersebut jelas tidak pernah terbayangkan ada sebelum masa Singhasari.
Menafsirkan Ulang Riwayat Ken Angrok dan Ken Děděs dalam Kitab Pararaton Munandar, Agus Aris
Manuskripta Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v1i1.384

Abstract

Kitab Pararaton merupakan karya anonim yang ditulis dalam bahasa Jawa tengahan. Kitab tersebut menguraikan kehidupan Ken Angrok serta raja-raja Singhasari dan Majapahit. Tulisan ini berusaha menjelaskan latar belakang mengapa cerita mengenai Ken Angrok itu mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan dengan cerita mengenai kehidupan raja-raja yang lain. Melalui telaah tekstual terhadap Kitab Pararaton dan telaah terhadap bukti-bukti arkeologis  terkait, terlihat bahwa cerita Ken Angrok dalam kitab tersebut merupakan simbol penyatuan dua agama besar yang dianut oleh masyarakat Jawa Kuno: Hindu Saiwa dan Budha Mahayana. Simbolisasi Agama Hindu-Saiwa itu terlihat dari uraian mengenai sosok Ken Angrok sebagai penjelmaan dari tiga dewa: Brahma, Siwa, dan Wisnu, sementara simbolisasi agama Budha Mahayana itu terlihat dari uraian mengenai sosok isteri Ken Angrok, yaitu Ken Děděs, sebagai putri tunggal Mpu Purwa, seorang pendeta Budha Mahayana. Sebagai implikasi dari penyatuan dua agama besar, beberapa candi yang mengandung semangat penyatuan tersebut, yang dikenal dengan candi Syiwa-Budha, dibangun pada masa Kerajaan Singhasari. Bentuk candi tersebut jelas tidak pernah terbayangkan ada sebelum masa Singhasari.
Ajaran Martabat Tujuh dalam Naskah Asrār al-Khafī Karya Shaykh ‘Abd Al-Muṭālib Pinem, Masmedia
Manuskripta Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v2i1.400

Abstract

Naskah Asrār al-Khafī merupakan karya penting dari tradisi intelektual-spiritual Minangkabau. Naskah tersebut mengandung ajaran Martabat Tujuh. Sebagai ajaran sufstik-flosofis, ajaran Martabat Tujuh yang terkandung dalam naskah Asrār al-Khafī memperlihatkan keterkaitannya dengan tradisi intelektual dan tradisi tasawuf Aceh melalui jaringan tarekat Shaṭṭārīyah. Oleh karena itu, secara garis besar ajaran Martabat Tujuh dalam naskah Asrār al-Khafī dengan sendirinya juga memperlihatkan kesamaannya dengan ajaran Martabat Tujuh yang pernah berkembang di Aceh. Meskipun demikian, kehadiran ajaran Martabat Tujuh yang terkandung dalam naskah Asrār al-Khafī di ranah Minangkabau itu telah mengundang reaksi keras dari kaum mudo dan dari jamaah tarekat Naqshabandīyah. Sebagai konsekuensi logis dari munculnya penentangan dari dua kelompok tersebut, ajaran Martabat Tujuh yang terkandung dalam naskah Asrār al-Khafī itu dilucuti dari paham waḥdatul wujūd.
Naskah [Asal Khilaf Bilangan Taqwim]: Relasi Ulama-Umara di Minangkabau Abad ke-17 dalam Penetapan Awal Ramadan Akhimuddin, Yusri
Manuskripta Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v2i1.401

Abstract

Perbedaan masyarakat muslim Indonesia dalam menentukan awal dan  akhir Ramadan terjadi berulang kali, tidak terkecuali  di Sumatera Barat. Perbedaan ini disebabkan karena beragamnya cara dan metode yang digunakan untuk menentukan awal bulan qamariah. Metode yang digunakan muslim Indonesia dalam penetapan awal dan akhir  Ramadan  antara  lain  metode  hisab,  rukyat  hilal,  hisab  dan rukyat, imkan al-rukyat, istikmal, dan metode lainnya. Dalam artikel ini  akan  dibahas  tentang relasi  ulama-umara  dalam menyelesaikan perdebatan awal Ramadan di Minangkabau yang terjadi pada abad ke-17 dengan berbasis pada manuskrip Asal Khilaf Bilangan Taqwim (AKBT)
Babad Darmayu: Catatan Perlawanan Masyarakat Indramayu terhadap Kolonialisme pada Awal Abad ke-19 Hata, Nur
Manuskripta Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v2i1.403

Abstract

Artikel ini membahas sebuah teks yang terkandung dalam naskah kuno dari daerah Indramayu, Jawa Barat, yang berjudul  Babad Darmayu (BD). Pembahasan bertitik tolak dari naskah-naskah BD yang tersebar di masyarakat menjadi koleksi perseorangan. Naskah BD dideskripsikan  ísik  dan  isinya,  diikuti  dengan memberikan  uraian ringkas mengenai isi teksnya. Pembahasan isi teks difokuskan pada isi teks BD sebagai catatan perlawanan masyarakat Indramayu terhadap kolonialisme pada awal abad ke-19.
Kerajaan dan Perkembangan Peradaban Islam: Telaah terhadap Peran Istana dalam Tradisi Pernaskahan di Lombok Jamaluddin, Jamaluddin
Manuskripta Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v2i1.406

Abstract

Lombok dikenal dengan sebutan  Gumi Selaparang, karena di Lombok pernah berkuasa kerajaan Selaparang. Selaparang merupakan kerajaan  yang  besar  dan  menjadi  simbol  bagi  kejayaan  Islam  di Lombok  dua  abad  yang  lalu.  Sebagai  sebuah  kerajaan  Selaparang memiliki  peran  yang  sangat  besar  dalam  membangun  peradaban Islam di  Lombok. Hal ini terlihat  dari  banyaknya  manuskrip atau naskah-naskah yang tersebar di masyarakat. Naskah-naskah tersebut bukan  hanya  menggunakan  bahasa  Sasak  yang  merupakan bahasa suku  Sasak  di  Lombok,  melainkan  ada  yang  menggunakan  Jawa, Arab, Melayu, Bali, Bugis, dan sedikit berbahasa Sansekerta. Dengan memperhatikan banyak naskah dan beragam bahasa yang digunakan dalam naskah-naskah yang ada di Lombok, mengindikasikan bahwa kerajaan di Islam di Lombok telah memainkan peranan penting dalam membangun  peradaban  dan  tradisi  intelektual  dalam masyarakat Sasak. Artikel ini akan mengungkap, bagaimana sejarah penggunaan beragam  bahasa  dalam  naskah-naskah  Sasak  yang  ada  di  Lombok, dalam hal ini akan melihat lebih jauh hubungan kerajaan yang ada di  Lombok  dengan  daerah-daerah  lain  yang  bahasanya  digunakan dalam penulisan naskah-naskah Sasak; dan bagaimana faktor-faktor  yang mempengaruhi sehingga banyaknya naskah-naskah yang tersebar dalam masyarakat.
Peran Kerajaan Banjar dalam Penulisan Naskah di Tanah Banjar Hidayatullah, Dede
Manuskripta Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v2i1.405

Abstract

Di masa lalu karya-karya naskah lama yang dihasilkan dari Tanah Banjar relatif cukup banyak. Karya-karya itu terutama ditulis oleh ulama-ulama Islam yang cukup terkemuka, seperti Syeikh Ahmad Syamsuddin al-Banjari yang menulis Asal Kejadian Nur Muhammad dan Tuhfah ar-Ragibin fî Bayan Haqiqah Iman al-Mu’minin wa Ma Yufsiduhu min Riddah al-Murtaddin, serta Syekh Muhammad Naís (Datu Naís) yang menulis  Al Durr an Nafis fi Bayan Wahdat al-Af’al wa al-Asma’ wa as-Sifat wa al Zat, Zat al Taqdis. Namun, bagaimana sebenarnya peran Kerajaan Banjar dalam upaya mendukung penulisan naskah-naskah di Kalimantan Selatan? Artikel ini fokus pada upaya untuk  menguraikan  hal  tersebut,  yang  secara  umum  bisa  dibagi menjadi dua kategori. Pertama, peranan secara tidak langsung, dan kedua, peranan secara langsung.
Penelusuran Naskah dan Penulis Naskah Istana Asserayah al-Hasyimiyah Kerajaan Siak di Propinsi Riau Roza, Ellya
Manuskripta Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v2i1.407

Abstract

Riau  yang  notabenenya  Melayu  diprediksi  memiliki banyak  naskah,  namun  jumlah  yang  pasti  belum  diketahui  secara tepat karena pelacakan naskah  terus  berlangsung  sehingga koleksi naskah terus bertambah. Selain itu penelitian yang dilakukan belum sampai  kepada  tempat  yang  diprediksi  memiliki  naskah  misalnya istana  Asserayah  Al-Hasyimiyah  Kerajaan  Siak  di  Riau  belum pernah disentuh tangan ahli sampai sekarang. Berdasarkan Daftar Pertelahan Arsib Kerajaan Siak terdapat 290 file naskah. Setiap íle berisi banyak naskah. Beberapa naskah berbentuk lembaran dipajang di dalam lemari kaca meskipun lembaran naskahnya sebagian besar rusak dan lapuk bahkan sebagiannya telah dilapisi dengan kertas lain dan  disambung-sambung  sehingga  menjadi  naskah  yang utuh  lagi. File  naskah  tersebut  jauh  dari  pemeliharan  sehingga  kemungkinan naskah akan hancur. Naskah yang banyak itu belum diketahui siapa yang menulisnya. Sehubungan dengan itu, maka dicoba melakukan penelusuran terhadap naskah dan penulisnya dan hasilnya menjadi bahan penulisan artikel ini.
Penulisan Cerita Budug Basu di Kalangan Keraton Cirebon Ridwan, Sinta; Abdul Gani, Fuad
Manuskripta Vol 2, No 1 (2012)
Publisher : Manuskripta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ms.v2i1.408

Abstract

Bagi masyarakat pesisir Cirebon, khususnya para nelayan, ritual Nadran adalah bagian dari siklus hidup mereka yang hidupnya bergantung pada lautan. Ritual ini merupakan kesatuan dari suatu rangkaian kegiatan: melarung sesajen ke tengah laut, pementasan wayang purwa disertai ruwatan, dan makan-makan bersama. Selain ritual, kegiatan lainnya berupa pertunjukan berbagai kesenian siang dan malam. Namun, dalam konteks ritual komuniti nelayan tersebut, perhatian kami tertuju pada pementasan wayang purwa dengan lakon Budug Basu. Lakon Budug Basu menuturkan kisah Dewi Sri, sang dewi padi, dengan jodohnya yang bernama Budug Basu, sang raja ikan. Ditinjau dari perspektif folklor, cerita ini adalah cerita rakyat yang dikelompokkan sebagai mitos. Transmisi cerita ini terdapat dalam dua cara, pertama, secara lisan: dituturkan oleh dalang dalam sarana pertunjukan wayang purwa di upacara Nadran. Kedua, secara tertulis dalam lembaran naskah-naskah kuno yang ditulis sendiri oleh anggota dari masyarakatnya. Sebagai teks yang ditulis pada sebuah media, cerita Budug Basu sebagai folklor artinya, secara tidak langsung, telah didokumentasikan dalam naskah-naskah oleh anggota masyarakat pemiliki folklor tersebut. Seperti kita ketahui, masyarakat Cirebon dengan pemerintahan negara yang berpusat di keraton adalah masyarakat dengan tradisi menulis. Pada umumnya para penulis tersebut berasal dari kalangan keraton atau bangsawan. Sejauh ini kami telah memiliki enam buah naskah yang memuat teks cerita Budug Basu. Dari enam naskah tersebut ditemui dua nama penulis. Satu nama tertera jelas disertai dengan jabatan sebagai Wakil Sultan Sepuh II yakni Pangeran Adipati Mohamad Alaida dalam naskah Lampahan Ringgit Budug Basu. Naskah lain dengan judul Serat Satriya Budug Basu memuat nama Ratu Mas Ugnyana Resminingrat beserta keterangan bahwa naskah ini diperoleh dari orangtuanya bernama Pangeran Sujatmaningrat. Berkenaan dengan naskah cerita Budug Basu, tulisan ini akan berupaya untuk mengetahui informasi tentang penulis naskah dari kalangan keraton yang, secara tidak langsung, mengambil peran dalam dokumentasi khazanah folklor masyarakatnya.

Page 1 of 4 | Total Record : 31