cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Al-Ulum
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Al-Ulum (AU) adalah Jurnal Studi-Studi Islam diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo. AU terbit sejak tahun 2000 setiap Juni dan Desember, telah diakreditasi B oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 58/DIKTI/Kep/2013.
Arjuna Subject : -
Articles 308 Documents
ARUNG, TOPANRITA DAN ANREGURUTTA DALAM MASYARAKAT BUGIS ABAD XX Halim, Wahyuddin
Al-Ulum Vol 12, No 2 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.763 KB)

Abstract

Artikel ini berupaya mengulas pengertian beberapa konsep kunci berkaitan dengan otoritas politik dan agama dalam masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, khususnya sejak abad ke-20, seperti arung (bangsawan), topanrita (cendekiawan) dan anregurutta (kiyai). Setelah menganalisis pergeseran makna dari konsep-konsep tersebut, artikel ini berupaya merunut relasi antara otoritas tradisional (arung) dengan sosok topanrita yang, dalam makna tradisionalnya, identik dengan konsep cendekiawan dalam masyarakat modern. Setelah menunjukkan peralihan makna dari konsep topanrita sehingga lebih merepresentasikan sosok ulama tradisional dalam masyarakat Bugis, artikel ini menyimpukan, salah satu faktor penencapaian masa keemasan kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar di masa lalu adalah karena adanya relasi yang bersifat kritis dan simbiotik antara otoritas politik (arung) dan sosial-agama (topanrita atau anregurutta) dalam kerajaan-kerajaan tersebut.-----------------------------------This article attempts to review some understanding of key concepts related to political and religious authority in the Bugis people of South Sulawesi, particularly since the 20th century, such as arung (nobility), topanrita (scholar) and anregurutta (Islamic scholar). After analyzing the shift in the meaning of these concepts, this article seeks to trace the relationship between traditional authorities (white) with topanrita figure that, in the traditional sense, synonymous with the concept of intellectuals in modern society. After pointing out the meaning of the concept of transition topanrita so much represents the traditional ulama in Bugis society, the article concluded, among other factors of golden era of kingdoms Bugis-Makassar in the past is because of the critical relationship between political authority and symbiotic (arung) and socio-religious (anregurutta or topanrita) in these kingdoms.
NILAI –NILAI KEARIFAN LOKAL ‘PULANGA’ UNTUK PENGEMBANGAN KARAKTER Haluty, Djailani
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki karakter kuat, bersumber dari nilai-nilai yang digali dari budaya masyarakatnya. Nilai-nilai kearifan lokal bukanlah penghambat kemajuan di era global, namun menjadi kekuatan transformasional yang luar biasa dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai modal keunggulan kompetetif dan komparatif suatu bangsa. Oleh karena itu, penggalian nilai-nilai kearifan lokal merupakan langkah strategis dalam upaya membangun karakter bangsa. Prosesi penobatan kepemimpinan Gorontalo ‘Pulanga’ merupakan filosofi yang mengandung dimensi karakter secara komprehensif. ‘Pulanga’ bermakna selalu mengupayakan peningkatan peran kepemimpinan lokal untuk kesejahteraan rakyat dan mendorong terciptanya sikap serta perilaku hidup individu yang menekankan keselarasan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Allah dalam melaksanakan aktivitas hidup dan kehidupan.-------------------------- A great nation is a nation that has a strong character derived from the values emerged from the culture of its peoples. The values of local wisdoms are not barrier to progress in the global era; they will lead to a tremendous transformational force in improving the quality of human resources as a competitive advantage and comparative capital of a nation. Therefore, acknowledgment of the values of local wisdom is a strategic step in building the national character. ‘Pulanga’ is a philosophy that contains a comprehensive dimensional character. It is always meant an effort to increase the welfare of the people and encouraging attitudes and behavior of individuals who emphasize the harmony among human beings, between human and nature, and between human and God in making life and living.
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai, Gorontalo Saefulloh, Aris
Al-Ulum Vol 11, No 1 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.559 KB)

Abstract

Agama (Islam) diturunkan ke dunia memiliki misi universal yaitu sebagai pembebas manusia dari belenggu ketidaktahuan dan ketidak berdayaan untuk ditempatkan pada media membangun proses kebahagiaan. Untuk mengatasi tantangan agar agama tetap bangkit ditengah peradaban global, ada lima program interpretasi yaitu: pertama, perlunya dikembangkan penafsiran sosial struktural lebih daripada penafsiran individual ketika memahami ketentuan-ketentuan tertentu dalam Al-Qur’an. Program yang kedua adalah mengubah cara berfikir subjektif ke cara berfikir objektif. Ketiga adalah mengubah Islam yang normatif menjadi teoritis. Keempat, menjadikan pemikiran yang berkembang secara historis. Kelima, menja-dikan formulasi yang spesifik dan empiris dari formulasi wahyu yang bersifat umum. ----------------- Islam revealed to the world has a universal mission as the liberator of mankind from ignorance and powerlessness to build the happiness. To face the challenge of globalization, religion should be interpreted into five programs: first, the need to develop more than a social structural interpretation of individual interpretation as to understand the specific provisions in the Quran. Second is to change the way from subjective into objective way of thinking. Third is to shift the normative Islam to theoretical. Fourth, make the ideas evolved historically. Fifth, make specific formulations and empirical formulation of general revelation.
KONSTRUKSI MEDIA TERHADAP PEMBERITAAN KASUS PEREMPUAN KORUPTOR E, Hadiati; Abdullah, Irwan; Udasmoro, Wening
Al-Ulum Vol 13, No 2 (2013): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.931 KB)

Abstract

Media bukanlah saluran yang bebas, karena tidak memberitakan apa adanya seperti yang sering digambarkan. Media justru mengkonstruksi realitas sedemikian rupa sehingga tidak jarang keluar dari konteksnya. Tidak mengherankan jika setiap hari secara terus-menerus dapat disaksikan bagaimana peristiwa yang sama diperlakukan secara berbeda oleh media. Salah satu pemberitaan media yang sangat sering muncul adalah persoalan korupsi yang melibatkan perempuan. Pemberitaan perempuan pelaku korupsi sangat sarat dengan kepentingan di luar substansi korupsi itu sendiri. Pemberitaan mengenai kasus korupsi yang melibatkan Gayus Tambunan dan Anggelina Sondakh misalnya, sangat berbeda penyajiannya. Gayus Tambunan selalu diposisikan sebagai orang yang cerdas, bisa menghadapi kasusnya, tegar, dan tidak disangkut-pautkan dengan persoalan domestiknya. Sementara pemberitaan Anggelina Sondakh selalu saja dikaitkan dengan kehidupan pribadinya. ------------------------Mass media are not free channels because they sometimes portrait and interprete news unlike its reality. Moreover, mass media are frequently construct a reality which are that out of context. It is not surprising; therefore, that every day an ongoing case-basis can be seen how the same event are treated differently by the mass media. This paper  assesses the issues of corruption which invoves women. Coverage of women perpetrators of corruption are heavily empasised bigger with interests outside substance of corroption itself. For example, reporting oncorruption cases invloving Gayus Tambunan and Angelina Sondakh have different presentation. Gayus Tambunan was always positioned as an intelligent person, could face case, tough, and not delt with domestic isssues; while the news over Anggelina Sondakh always associated with her personal life.
SPRITUALISASI DAN KONFIGURASI PENDIDIKAN KARAKTER BERPARADIGMA KEBANGSAAN DALAM KURIKULUM 2013 Mukhibat, Mukhibat
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Orientasi pendidikan yang menekankan IQ menjadikan manusia dilanda krisis kemanusiaan. Keadaan demikian manusia semakin membutuhkan spiritualitas sebagai solusi terhadap krisis kehidupan tersebut. Kajian ini dengan analitis kritis ingin mengungkap bagaimana kedudukan moral spiritual yang mendasari semua Kompetensi Inti (KI) Kurikulum 2013 untuk semua Mapel di semua jenjang pendidikan. Spiritualisasi sebagai upaya membangun karakter bangsa dalam Kurikulum 2013 dapat dilihat dalam KI yang saling terkait yaitu spiritual (KI 1), sosial (KI 2), pengetahuan (KI 3), dan keterampilan (KI 4). Adapun sumber nilai moral spiritual dalam pendidikan karakter adalah dari semua agama yang ada di Indonesia, yakni nilai-nilai universal yang secara eksplisit merujuk pada konsep kesatuan penciptaan. -------------------The orientation of education that over-relies on IQ makes human encountered by humanitarian crises. Such circumstance requires human to have adequate spirituality as a solution to overcome the crisis. With a critical analysis, this study aims to uncovering how the spiritual moral underlay all “Core Competencies” (Kompetensi Inti) in the 2013 Curriculum for all subjects at all levels of education. Spirituality as an effort to build the national character in the 2013 Curriculum can be seen at KI which interrelated each other including: spiritual (KI 1), social (KI 2), knowledge (KI 3), and skills (KI 4). Ultimately, the source of spiritual and moral values in education is the character from all of religions in Indonesia, which is the universal value that explicitly refers to the concept of the unity of human creation.
TERAPI ZIKIR JAMA’ATI DI DESA LUWOO DAN TENGGELA KABUPATEN GORONTALO Saefulloh, Aris
Al-Ulum Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.569 KB)

Abstract

Kelompok zikir “Jama’ati” desa Luwoo dan desa Tenggela Kabupaten Gorontalo adalah salah satu kelompok zikir yang secara rutin melakukan aktivitas zikir dalam lingkungannya. Dengan menggunakan psikologis, tulisan ini akan berusaha mengupas eksistensi pelaksanaan zikir “jama’ati” yang dilakukan secara rutin, di mana mampu membantu jama’ah dalam menekan gejala kecemasan kejiwaan, sehingga zikir yang ada telah menjadi sarana terapeutik depresif bagi jama’ah yang mengikutinya. Zikir yang dilakukan secara rutin tersebut akan sangat membantu dalam proses pembentukan karakter jiwa mereka. Zikir sebagai cara untuk mencapai konsentrasi spiritual. Bagi mereka zikir juga bersifat implementatif dalam berbagai variasi yang aktif dan kreatif.------------------Jama’ati Muslim group of Luwoo and Tenggela villages in Gorontalo regency is one of the groups that routinely remembrance activities in their environment. By using psychological, this paper will attempt to explore the existence and the implementation of remembrance "Jamaati" performed occasionally in which the congregation can help in reducing symptoms of anxiety psychosis, so the remembrance that there has been a therapeutic means for the congregation whom face depressive problem . Recitation (zikir) is done routinely will greatly assist in the process of forming the character of their souls. Recitation is one way to obtain spiritual concentration. For those who follow this zikir routinely can implement it in a variety of methods.
KONSEP AL-ISLAM DALAM AL-QUR’AN Jamal, Misbahuddin
Al-Ulum Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai agama wahyu, Islam memiliki seperangkat ajaran yang terkandung didalamnya berupa ajaran tauhid atau keesaan Tuhan, sistem keyakinan lainnya dan ketentuan-ketentuan yang mengatur semua kehidupan manusia. Allah SWT menyatakan bahwa Islam merupakan agama yang diridhai-Nya, orang-orang yang meyakininya akan mendapatkan keselamatan di akhirat kelak dan sebaliknya yang mengingkarinya akan tergolong orang yang merugi. Secara bahasa makna-makna Islam antara lain: Al istislam (berserah diri), As salamah (suci bersih), As Salam (selamat dan sejahtera), As Silmu (perdamaian), dan Sullam (tangga, bertahap, atau taddaruj). Al-Quran menyatakan semua agama yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul sebelum Muhammad pun pada hakikatnya adalah agama Islam. Manifestasinya yang beraneka ragam, namun inti dari semua itu adalah pengabdian kepada Wujud Yang Satu, yaitu Tuhan.----------------------As a religion of revelation, Islam has a set of teachings contained the teachings of monotheism or the oneness of God. It also has systems and provisions that govern all human life. Allah states that Islam is a blessed religion. People who believe it will get salvation in the hereafter. And anyone denies it would be classified as the losers. Literally, Islam has several meanings, among others:“Al istislam” (surrender), “As Salamah” (safety), “As Salam” (safe and prosperous), “As Silmu” (peace), and “Sullam” (saved). The Koran firmly stated that all religions revealed to the Prophets and Messengers before Muhammad was essentially Islam. Diverse manifestations, but the core of all the previous religions was the devotion to the One Being, namely God.
PENDIDIKAN KARAKTER PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Rakhmawati, Rakhmawati
Al-Ulum Vol 13, No 1 (2013): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.542 KB)

Abstract

Tulisan ini membahas tentang pendidikan karakter perspektif pendidikan Islam. Pendidikan karakter menekankan pentingnya keutuhan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku tiap individu untuk dapat hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Terwujudnya pendidikan karakter perspektif Pendidikan Islam menghendaki keseriusan orang tua, guru, dan masyarakat dalam membentuk karakter anak sejak dini yang meliputi aspek kognitif (pengetahuan) afektif (sikap) dan psikomotornya. Sebagai upaya untuk melahirkan generasi muda Islam yang bertakwa kepada Allah dan berakhlakul karimah maka pendidikan Islam harus direkonstruksi termasuk kurikulumnya. Kurikulum pendidikan Islam seyogyanya mengutamakan nilai-nilai luhur dari agama dan budaya dalam impelementasinya demi terwujudnya pendidikan karakter di Indonesia. -----------------------------This article discusses about educational character on Islamic education perspective. Character education stresses the importance of unity between knowledge, attitude, and behaviour of each person to be able to life and collaborate, on family, and surrounding social communities. The realization of character educationon Islam perspective need special attention from parents, teachers, and the societies in forming children character early, included cognitive aspect, affective aspect, and physic motoric aspect. A trial to bear Islam young generation who have good faith to Allah and good character, then Islamic education as a lesson in school should be reconstruct included its curriculum. Islam lesson curriculum should put in priority the plenary values of Islam in its implementing; therefore, the character education in Indonesia will exist.
KONSEPSI DAKWAH ISLAMIYAH DALAM KONTEKS KONSERVASI ALAM DAN LINGKUNGAN Thaib, Erwin Jusuf
Al-Ulum Vol 11, No 1 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1491.724 KB)

Abstract

Masalah dakwah Islamiyah dewasa ini dalam kenyataannya lebih banyak bersentuhan dengan berbagai persoalan umat yang berkaitan dengan masalah ubudiyah atau ritual semata-mata. Padahal kalau ditelusuri lebih jauh, permasalahan hidup yang dihadapioleh umat Islam dewasa ini begitu kompleks. Karena itu dirasa perlu adanya pendekatan dakwah alternativ untuk memberi solusi atas berbagai masalah kontemporer di antaranya adalah masalah degradasi kualitas lingkungan. Atas dasar inilah, maka dakwah Islamiyah bisa menjadi wahana alternatif untuk memberi pencerahan kepada masyarakat tentang perlunya upaya konservasi alam dan lingkungan hidup. Hal ini sebagai perwujudan kekhalifahan manusia di bumi ini dan untuk menjamin keberlangsungan hidup manusia di atas dunia ini. --------------Currently, Islamic preaching seems mostly dealing with the problems of Muslims’ prays and rituals. Whereas, the problem faced by most Muslims today are more complicated if this fact is explored farther. Therefore, the need for an alternative preaching (dakwah) to tackle the environmental degaradation is crutial. Based on this fact, Islamic reaching is expected to be able to be an alternative medium to alert Muslim about how important the natural conservation and environmental preservation are. It becomes a manifestation of the human leadership (khalifah) and a quarantee of human’s life in this world.
TRADISI MOLONTHALO DI GORONTALO Rahman, M. Gazali
Al-Ulum Vol 12, No 2 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.971 KB)

Abstract

Tulisan ini memaparkan realitas budaya pada masyarakat Gorontalo yang mengekspresikan rasa syukur atas kehamilan yang sementara berjalan kurang lebih tujuh atau delapan bulan dan dikenal dengan istilah molonthalo. Disamping sebagai ungkapan rasa syukur, ritual ini juga merupakan wujud pencarian “keberkahan” oleh individu ataupun kelompok di dalam masyarakat yang meyakini dan menyadari kehadiran kekuatan “Mahadahsyat” dalam setiap dimensi kehidupan mereka. Kajian ethnografi yang menggunakan sinergi pendekatan sosio kultural, fenomenologi, dan yuridis normatif ini mengklasifikasikannya tradisi molonthalo ini dalam kategori ‘urf shahih dan ‘urf fasid. Dengan klasifikasi ini maka teridentifikasi pula adanya beberapa ritual yang sejalan dengan syariat Islam dan ada pula yang bertentangan. Upaya selanjutnya adalah bagaimana mengeliminir ‘urf fasid tersebut ke dalam suatu format ritual yang perubahannya tidak menghilangkan hakekat atau makna-makna penting yang lahir dari medan budaya masyarakat. Sehingga rekonstruksi terhadap tradisi molonthalo ini tetap diarahkan kepada rasionalisasi dan konversi tradisi yang berorientasi kepada Allah-sentris, serta melepaskan paradigma masyarakat dari jebakan belenggu-belenggu tradisi yang bersifat magis, mitologis, animistis, dan budaya yang irasional.---------------------------------------This paper explores the ritual of molonthalo, a Gorontalonese traditional ceremony.  The molonthalo is performed regarding with the seventh or eighth of pregnancy. This ritual is aimed of express thankful and an expression ‘endowment’ searching by a person or group within the community who believe that there is a Supremy Being in their lives. This study uses an ethnography which is combined with socio-cultural, fenomenology, and normative. It has been found that the molonthalo ritual classied into ‘urf shahih dan ‘urf fasid. It is indicated that there is a relation between this ritual and Islamic tradition. Also there are a number of elements within the ritual are not compatible with the Islamic values. Therefore, a contructive reconstruct-totion to this tradition should be evaluated---that is aimed to Allah centris. Too, this tradition is initiated to prevent community from irrational magic, myths and animism.

Page 1 of 31 | Total Record : 308