cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Al-Ulum
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Al-Ulum (AU) adalah Jurnal Studi-Studi Islam diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo. AU terbit sejak tahun 2000 setiap Juni dan Desember, telah diakreditasi B oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 58/DIKTI/Kep/2013.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum" : 12 Documents clear
KONSEP AL-ISLAM DALAM AL-QUR’AN Jamal, Misbahuddin
Al-Ulum Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai agama wahyu, Islam memiliki seperangkat ajaran yang terkandung didalamnya berupa ajaran tauhid atau keesaan Tuhan, sistem keyakinan lainnya dan ketentuan-ketentuan yang mengatur semua kehidupan manusia. Allah SWT menyatakan bahwa Islam merupakan agama yang diridhai-Nya, orang-orang yang meyakininya akan mendapatkan keselamatan di akhirat kelak dan sebaliknya yang mengingkarinya akan tergolong orang yang merugi. Secara bahasa makna-makna Islam antara lain: Al istislam (berserah diri), As salamah (suci bersih), As Salam (selamat dan sejahtera), As Silmu (perdamaian), dan Sullam (tangga, bertahap, atau taddaruj). Al-Quran menyatakan semua agama yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul sebelum Muhammad pun pada hakikatnya adalah agama Islam. Manifestasinya yang beraneka ragam, namun inti dari semua itu adalah pengabdian kepada Wujud Yang Satu, yaitu Tuhan.----------------------As a religion of revelation, Islam has a set of teachings contained the teachings of monotheism or the oneness of God. It also has systems and provisions that govern all human life. Allah states that Islam is a blessed religion. People who believe it will get salvation in the hereafter. And anyone denies it would be classified as the losers. Literally, Islam has several meanings, among others:“Al istislam” (surrender), “As Salamah” (safety), “As Salam” (safe and prosperous), “As Silmu” (peace), and “Sullam” (saved). The Koran firmly stated that all religions revealed to the Prophets and Messengers before Muhammad was essentially Islam. Diverse manifestations, but the core of all the previous religions was the devotion to the One Being, namely God.
TAREKAT Fata, Ahmad Khoirul
Al-Ulum Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.332 KB)

Abstract

Tarekat sebagai organized sufism hadir sebagai institusi penyedia layanan praktis dan terstruktur untuk memandu tahapan-tahapan perjalanan mistik yang berpusat pada relasi guru murid; otoritas sang guru yang telah mendaki tahapan-tahapan mistik harus harus diterima secara keseluruhan oleh sang murid. Ini diperlukan agar langkah murid untuk bertemu dengan Tuhan dapat terlaksana dengan sukses. Tarekat telah dikenal di dunia Islam terutama di abad ke 12/13 M (6/7 H) dengan hadirnya tarekat Qadiriyah yang didasarkan pada sang pendiri Abd Qadir al-Jailani (1077-1166 M). Setelah melewati tahapan-tahapan dalam tarekat, seorang anggota akan mendapat ijazah dari guru untuk dapat mengajarkan ajaran tarekat kepada orang lain. Adapun aspek silsilah, kebanyakan tarekat mengaitkan silsilah mereka kepada Rasulullah SAW melalui sahabat Ali bin Abi Thalib, kecuali Naqsyabandi  yang melalui Abu Bakar Siddiq. ---------------------Sufism as an organized institution service provider presents a practical and structured to guide the stages of mystical journey that centers on student-teacher relationships; authority of the teacher who had climbed the stages of mystical must be completely accepted by a student. This is necessary in order to move students to meet with God can be completely successful. Congregations have been known in the Islamic world, especially in the second century AD 12/13 (6/7 H) with the presence of the congregation Qadiriyah under the founder Abd al-Qadir al-Jailani (1077-1166 AD). After passing through the stages in the congregation, a member will receive a diploma of teaching; one can conduct a congregation and teach others. Genealogically, most congregations linking their lineages to the Prophet Muhammad through Ali ibn Abi Talib, except of the Naqshbandi who through Abu Bakr Siddiq.
ISLAMIC FUNDAMENTALISM AS A SIGNIFIER OF THE SIXTH PHASE OF GLOBALIZATION Basri, Mohammad Hasan
Al-Ulum Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengkaji fundamentalisme Islam melalui perspektif historis pada globalisasi yang ditawarkan oleh Roland Robertson, teori tentang fundamentalisme Islam dan hubungannya dengan keterlibatan pemuda di Indonesia. Secara teori fundamentalisme Islam dibagi menajdi dua: Pertama adalah “kesinambungan dan perubahan”, perkembangan fundamentalisme dalam Islam adalah baik kontinuitas dan juga perubahan dalam sejarah Islam. Teori kedua adalah “tantangan dan kesempatan”. Asumsi dasar dari teori ini adalah bahwa krisis di negara muslim modern sosial, politik, dan budaya memperkuat gerakan fundamentalisme Islam. Maju teknologi dalam komunikasi, informasi, dan jaringan transportasi negara di seluruh dunia; berbagai acara, kejadian, dan fenomena akan menyebar dengan cepat dari satu negara ke negara lain. ---------------------This article examines Islamic fundamentalism through a historical perspective on globalization offered by Roland Robertson, the theory of Islamic fundamentalism and its relation to the involvement of youth in Indonesia. In theory, Islamic fundamentalism is divided into two classifications. First is the "continuity and change", the development of fundamentalism in Islam is both continuity and change in Islamic history. The second theory is the "challenges and opportunities". The basic assumption of this theory is that the crisis in the modern Muslim world, accumulation social, political, and cultural are consider the main factors influence Islamic fundamentalism. Advanced technology in communications, information, and the countrys transportation networks around the world; variety of shows, events, and the phenomenon will spread rapidly from one country to another. 
PENULISAN KITAB AL-JAMI’ AL-AZHAR FI HADITS AN-NABI AL-ANWAR KARYA AL-MANAWI Daud, Ilyas
Al-Ulum Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.554 KB)

Abstract

Sejarah penulisan hadis dan ilmu hadis telah melewati serangkaian fase historis yang sangat panjang. Tulisan ini mengkaji secara khusus alah satu kitab Hadis yaitu kitab hadis al-Jamî’ al-Azhâr fî Hadîts an-Nabi al-Anwâr Karya Imam al-Manawi. Tulisan ini menunjukkan bahwa Imam al-Manawi sebagai seorang ulama terkemuka mengumpulkan hadis-hadis nabi dalam hadis al-Jamî’ al-Azhâr fî Hadîts an-Nabi al-Anwâr dan menulisnya dengan menggunakan metode dan sistematika susunan hadis berdasarkan susunan abjad hijaiyah. Hal ini bisa dilihat pada fuhras/indeks kitab setiap juz dari kitab hadis al-Jamî’ al-Azhâr fî Hadîts an-Nabi al-Anwâr. Temanya pun beragam, seperti tauhid, ibadah, akhlak dan hukum. Dalam kitab ini pula al-Imam al-Manawi memuat semua jenis kualitas hadis, baik hadis shahih, hadis hasan, maupun hadis dhaif.  -----------------The history of writing and science of hadith have passed a series of very long phase. This paper examines one of the hadith books, i.e. Hadith al-Jami al-Azhar Hadith an-Nabi by the Imam Anwar al-Manawi. This paper shows that al-Manawi is an eminent scholar who collected the prophet Muhammad’s tradition in his book al-Jami fi al-Azhar al-Hadith al-Nabi al-Anwar and wrote by using various methods and systematical arrangement of traditions based on alphabetical arrangement. This can be seen in indexes (fuhras) book chapters from each book al-Jami fi al-al-hadits al-Anwar of the Prophet. The theme also varied, such as monotheism, worship, morals and law. In this book al Manawi also mentioned about quality of the Prophet’s traditions, both valid hadith, good (hasan) hadith, or false traditions (dhaif).
PLURALISME AGAMA-BUDAYA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Fitriyani, Fitriyani
Al-Ulum Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1211.245 KB)

Abstract

Isu pluralism agama merupaka hal penting untuk diketahui bersama umat beragama. Bahkan menjadi factor utama dalam menyebabkan ketegangan dan konflik agama yang sering menimbulkan kebrutalan, kekejaman, perang, dan pembunuhan bahkan pembersihan etnik. Seiring dengan waktu, pluralism agama (yang awalnya muncul pada abad ke-18) menjadi wacana dan meluas hingga di Eropa. Bahkan pada abad ke-20 telah meluas dengan cepat memasuki wilayah dunia Islam dan menjadi tema dalam begitu banyak diskusi yang memancing perdebatan sengit. Dalam artikel ini, penulis menekankan bahwa pluralism agama harus dipahami dengan jernih karena akan menciptakan pro-kontra di kalangan pemikir dan ahli agama, termasuk tokoh-tokoh Islam. Hal ini penting untuk dipertimbangkan karena dengan pemahaman tentang pluralisme agama akan bersinggungan dengan dotrin agama. ------------------------ The issue of religious pluralism is important to share. Even it becomes primary factor in creating climate of stress or conflict of religion which not rarely come up with cruel colour, ossify, war and murder, even the race sweeping. Along with the time, religious pluralism which initially rose in the 18th century represents a discourse and expands in Europe; yet, in the 20th century it is expanding at full speed enter into Islamic world Mulsim and it became a theme in so many provocating discussion activities. In this article, the writer emphasizes that religious pluralism has to be clearly understood because it generates pros and contra among good thinker and religion figures, including Muslim figures. This matter is important to consider because the understanding of religious pluralism shall be reckoned because it deals with religious doctrine. 
AFTER GOD, AFTER ISLAM Saputro, Muhammad Endy
Al-Ulum Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.89 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendiskusikan agama di era postmodern, dengan fokus pertanyaan bagaimana menjadi muslim dan memahami Qur’an di era post-modern. Memakai pemikiran Don Cupitt, dalam beberapa karyanya, tulisan ini berargumen bahwa mengandaikan Tuhan telah mati merupakan jalan alternatif memahami Qur’an agar lebih kontekstual diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat muslim di era postmodern. Signifikansi utama tulisan ini adalah memberikan kontribusi alternatif dalam dimensi filosofis kerangka berpikir kontekstualisasi Qur’an.  ---------------This article aimed to examine the Cupitt’s conception in the light of Islamic paradigm. It is done by identifying negative impacts of postmodernism toward the existence of religion. Religion, in Don Cuppit view is alive in the term of “value”, “private realm”, “personal faith” and “counterculture”. Although Islam came from hundreds centuries ago, it does not mean that authentic Islam is Islam in the past. Islam in the past, Islam in the present and Islam in the future are different. Islam is not timeless doctrine, but changeable expression. Time is running; and Islam demanded to contextualize itself dynamically.
KARAKTERISTIK TAFSÎR Al-QUR’ÂN AL-KARÎM KARYA MAHMUD YUNUS Ibrahim, Sulaiman
Al-Ulum Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.006 KB)

Abstract

Kitab ‘Tafsîr al-Qurân al-Karîm’ merupakan hasil studi selama setidaknya lima puluh tahun, yakni sejak penulisnya berusia 20 hingga 73 tahun. Penafsiran ini adalah di antara karya terbaik Mahmud Yunus yang memiliki orientasi untuk menjelaskan dan mengklarifikasi intruksi yang terdapat dalam al Qur’an untuk dipratekkan oleh umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya, sebagai pedoman universal. Penafsiran dari juz al-Qur’an ini dianggap paling lengkap pada mazanya. Kelengkapan itu disebabkan dua hal: pertama, terjemahan dilakukan tidak lagi menjadi bagian terpisah dari ayat-ayat atau surah-surah sebagai nuansa penafsiran al Qur’an pada generasi pertama. Dan kedua, pernyataa dan informasi dalam bentuk catatan kaki sebagai pelengkap untuk memberikan pemahaman tentang makna aya-ayat tertentu. ------------------------The ‘Tafsîr al-Qurân al-Karîm’ is the result of investigation for at least fifty-three years, ie since the author was 20 years old to 73 years. This interpretation is among of masterpiece work of Mahmud Yunus who has orientation to explain and clarify the instructions contained in the Koran for practiced by Muslims in particular and mankind in general, as a universal guide. The exegesis of 30 juz of the Koran is a work of translation is the most comprehensive one in his time. The comprhensionsiveness is due to two things: first translation is done no longer a separate part of the verses or surah-specific chapters, as shades of interpretation in the first generation; and second is the statement-information in the form of footnotes as a complement to provide pemaharnan on the meaning of certain verses
KARL MARX’S CRITICISM ON RELIGION Latief, Juhansar Andi
Al-Ulum Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1306.58 KB)

Abstract

Artikel ini membahas tentang keunikan agama di antara disiplin akademis lainnya. Agama hampir secara eksklusif didekati sebagai objek studi. Studi agama menjadi studi tentang agama. Makalah ini menyajikan secara deskriptif kritik Islam di kritik Marx tentang agama. Penelitian ini kemudian menemukan bahwa Islam dan Marxisme pada dasarnya memiliki kontradiksi mencolok terutama dalam pandangan ke-tauhid-an. Marx berdasar pada filosofi Marxisme; manusia membuat agama, dan agama tidak membuat manusia. Namun, Islam meyakini konsep spiritual yang tak terbatas di mana Islam menggambarkan manusia sebagai tanah; lahan; tanah, atau dapat dikatakan bahwa agama, dalam hal ini, Allah menciptakan manusia, bukan sebaliknya. ------------------------This article discusses about the uniqueness of religion among other academic disciplines. Religion is almost exclusively approached as an object of study. This paper presents a descriptive criticism of Islam in Marxs critique of religion. The study then found that Islam and Marxism is essentially a contradiction particularly striking in view of the unity-an. Marx, based on the philosophy of Marxism; man- made religion and religion does not make the man. However, Muslims believe in the spiritual concept of the infinite in which Islam describes the man as the ground; land; ground, or it can be said that religion, in this case, God created man, not vice versa.
THE SHADOW OF ISLAMIC ORTODOXY AND SYNCRETISM IN CONTEMPORARY INDONESIAN POLITICS Umam, Ahmad Khoirul; Junaidi, Akhmad Arif
Al-Ulum Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1495.734 KB)

Abstract

Pemetaan a filiasi politik masyarakat adalah penting untuk memahami arah dan karakter kekuasaan di masa mendatang. Orientasi politik massa di Indonesia secara general tidak jauh berbeda dengan apa yang digariskan oleh Clifford Geertz dalam karya master piece-nya bertajuk The Religion of Java. Konsep trikotomi yang terdiri atas Santri, Abangan dan Priyayi itu, selama lima dekade terakhir ini telah menjadi karena pembantaian tesis Geertz. Beragam titik lemah dan kekeliruan konseptual karya ini menjadi pintu masuk untuk kembali merekonstruksikan konsep orientasi politik masyarakat Indonesia. Kendati demikian, karya Geertz ini patut diapresiasi sebagai pendekatan awal yang brilian dalam memahami perilaku politik bangsa Indonesia. Dengan pendekatan kritis, napak tilas inteletual Geertz ini akan kembalidimanfaatkan untuk memetakan arah afiliasi politik masyarakat Indonesia kontemporer.---------------------The mapping of political affiliation is important to capture the power direction and its characteristics in the future. Generally, the mass political orientation in Indonesia is not much different than what was outlined by Clifford Geertz in his master piece entitled The Religion of Java. The concept of trikotomi consisting of the Santri, Abangan, and Priyayi, which over the past five decades has been the fundamentally critiqued by various parties. Numerous weak points and fallacy of conceptual framwork then become the entrance to reconceptualize the Indonesian people political orientation. However, the work of Geertzs initial approach should be appreciated as a brilliant in understanding the Indonesian political behavior. With the critical approaches, the Geertzs approaches will again be utilized to map the direction of community in the contemporary Indonesian political orientation.
KONSTRUKSI KEILMUAN MUHAMMADIYAH DAN NU Widodo, Sembodo Ardi
Al-Ulum Vol 11, No 2 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.215 KB)

Abstract

Untuk memahami pengetahuan Islam di Indonesia tidak terlepas dari dua organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Kedua organisasi ini memiliki struktur keilmuan yang unik, yang masing-masing berbeda dalam keunikannya. Di satu sisi, ada kesamaan dalam sumber, referensi, dan guru dari pendiri kedua organisasi. Namun, karena faktor ideologis dalam memahami Islam dan juga faktor sosial-budaya membuat tubuh pengetahuan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama begitu berbeda. Di sisi lain, ada aspek dibedakan, jika keduanya dianalisa secara kritis maka didapatkan bahwa perbedaan kedua struktur keilmuan dua organisasi ini terletak pada metodologi, bukan pada sumber primer.---------------------To understand Islamic body of knowledge in Indonesia is inseparable from the two biggest Islamic organizations, Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama. Both organizations have their unique scientific structure; thus, in any case are different. On the one hand, there are similarities in resources, references, and teachers of the founder of both organizations. Yet, because of ideological factors in understanding Islam and also socio-cultural factors make the body of knowledge of Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama so different. On the other hand, there have been distinguished aspects, if they are critically analyzed, that is, the difference on methodology, not on the primer resources.

Page 1 of 2 | Total Record : 12