cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Al-Ulum
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Al-Ulum (AU) adalah Jurnal Studi-Studi Islam diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo. AU terbit sejak tahun 2000 setiap Juni dan Desember, telah diakreditasi B oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 58/DIKTI/Kep/2013.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum" : 11 Documents clear
TERAPI ZIKIR JAMA’ATI DI DESA LUWOO DAN TENGGELA KABUPATEN GORONTALO Saefulloh, Aris
Al-Ulum Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.569 KB)

Abstract

Kelompok zikir “Jama’ati” desa Luwoo dan desa Tenggela Kabupaten Gorontalo adalah salah satu kelompok zikir yang secara rutin melakukan aktivitas zikir dalam lingkungannya. Dengan menggunakan psikologis, tulisan ini akan berusaha mengupas eksistensi pelaksanaan zikir “jama’ati” yang dilakukan secara rutin, di mana mampu membantu jama’ah dalam menekan gejala kecemasan kejiwaan, sehingga zikir yang ada telah menjadi sarana terapeutik depresif bagi jama’ah yang mengikutinya. Zikir yang dilakukan secara rutin tersebut akan sangat membantu dalam proses pembentukan karakter jiwa mereka. Zikir sebagai cara untuk mencapai konsentrasi spiritual. Bagi mereka zikir juga bersifat implementatif dalam berbagai variasi yang aktif dan kreatif.------------------Jama’ati Muslim group of Luwoo and Tenggela villages in Gorontalo regency is one of the groups that routinely remembrance activities in their environment. By using psychological, this paper will attempt to explore the existence and the implementation of remembrance "Jamaati" performed occasionally in which the congregation can help in reducing symptoms of anxiety psychosis, so the remembrance that there has been a therapeutic means for the congregation whom face depressive problem . Recitation (zikir) is done routinely will greatly assist in the process of forming the character of their souls. Recitation is one way to obtain spiritual concentration. For those who follow this zikir routinely can implement it in a variety of methods.
UNSUR ESTETIKA ISLAM PADA SENI HIAS ISTANA RAJA BUGIS Yunus, Pangeran Paita; Soedarsono, Soedarsono; Gustami, SP
Al-Ulum Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.504 KB)

Abstract

Kesinambungan dalam perkembangan seni, khususnya seni rupa Indonesia-Hindu mencapai tradisi baru pada zaman kekuasaan para raja yang memeluk agama Islam, di mana perkembangan seni rupa Islam di Indonesia berpusat di istana para raja. Di pusat seni budaya inilah kesenian dibina dan dikembangkan berdasarkan tradisi kesenian lama dengan nilai-nilai baru yang bernafaskan Islam. Unsur simbolik dan estetika dalam bangunan Islam di Indonesia, merupakan pencerminan dari nafas kebudayaan di suatu daerah. Besar atau kecilnya peranan budaya lokal, berbobot atau tidaknya karya seni rupa pra-Islam, itulah yang mewarnai bentuk kesenian Islam termasuk perwujudan arsitekturnya. Dalam konsepsi Islam, segala ciptaan seni yang memi­liki nilai-nilai keindahan harus dihubungkan dengan kekayaan dan kebesaran Allah Swt. Dengan demikian, seni dalam Islam mempunyai kedudukan hukum (syar’i) tertentu yang diatur oleh ajaran-ajaran agama Islam, baik yang terdapat dalam Al Qur’an, Hadist, maupun pendapat-pendapat para ulama dari berbagai mazhab dalam Islam.   ----------------Continuity in the development of art, especially Hindu art Indonesia reached a new tradition at the time of the power of the king who converted to Islam, in which the development of Islamic art in Indonesia based on the palace of the king. In this cultural arts center arts fostered and developed based on a long artistic tradition with new values that Islam breath. Symbolic and aesthetic elements in the building of Islam in Indonesia, is a reflection of culture in a region of breath. Big or small the role of local culture, weighing whether or not the work of pre-Islamic art, thats what color the Islamic art forms including architecture realization. The concept of Islam, i.e. every creature possessed of art values have to be connected with a wealth of beauty and greatness of Allah Swt. Thus, in Islamic art has a legal status (syari) are governed by certain religious teachings of Islam, both contained in the Quran, Hadith, and the opinions of the ulama.
ISLAM DAN KEBUDAYAAN Fitriyani, Fitriyani
Al-Ulum Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.081 KB)

Abstract

Artikel ini mendiskusikan tentang Islam dan kebudayaa. Islam mempunyai dua aspek, yakni segi agama dan segi kebudayaan. Dengan demikian, ada agama Islam dan ada kebudayaan Islam. Dalam pandangan ilmiah, antara keduanya dapat dibedakan, tetapi dalam pandangan Islam sendiri tak mungkin dipisahkan. Antara yang kedua dan yang pertama membentuk integrasi. Demikian eratnya jalinan integrasinya, sehingga sering sukar mendudukkan suatu perkara, apakah agama atau kebudayaan. Misalnya nikah, talak, rujuk, dan waris. Dipandang dari kacamata kebudayaan, perkara-perkara itu masuk kebudayaan. Tetapi ketentuan-ketentuannya berasal dari Tuhan.  --------------------------This paper discusses about Islam and culture. Islam basically has two terms i.e. religious and cultural. There is no distinguishing gap between “religion of Islam” and “Islamic culture”. In the scientific perspective, the two can be differentiated, but in view of Islam itself it cannot be separated. Both form integration. The integration is so tight. Therefore, it is often difficult to distinguish whether the religion or culture; for example, marriage, divorce, reconciliation and inheritance. In the perspective of culture, it makes matters of culture; yet, their provision comes from God.
RELASI ISLAM DAN HINDU PERSPEKTIF MASYARAKAT BALI Suwindia, I Gede; Machasin, Machasin; Parimartha, I Gede
Al-Ulum Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.2 KB)

Abstract

Tulisan ini mengangkat masalah relasi antara komunitas Islam dan Hindu yang secara umum ada di Bali. Hanya saja dalam rangka kepentingan metodologis dibatasi pada komunitas Islam dan Hindu di tiga daerah yaitu: Denpasar, Karangasem dan Singaraja. Relasi Islam dan Hindu di Bali pada dasarnya diperkuat pada tatanan budaya Bali yang berkembang dan terus lestari hingga saat ini. Peranan geneologis yang terjadi akibat perkawinan antar keluarga di masa lalu menjadi tali penguat relasi dimaksud. Peranan raja-raja di masa lalu dan generasinya hingga saat ini juga memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap kehidupan harmonis Islam dan Hindu yang ada di Bali. Pemerintah daerah lewat Forum Kerukunan Antar Umat Beragama dan Kementerian Agama memberikan media yang lebih besar setelah masa reformasi, sehingga relasi semakin baik dan menempatkan kearifan local sebagai salah satu fondasinya.----------------------- This article explores the problem of relations between Mulsim and Hindu community in Bali. Methodologically, it consisted of three regions: Denpasar, Karangasem and Singaraja. Basically, the relation between Islam and Hindu in Bali has been strengthened by the Bali’s local culture which still continues to develop and exist until today. Genealogical relations due to marriage among families in the past and their generation’s nowadays also contribute significantly to the living harmony among Hindus and Muslims in Bali. Too, local governments trough Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (Religion Followers Forum) and the Ministry of Religious Affairs facilitate wider medium of dialogues after the Reformasi era; therefore, relation among them remains constructive and puts forward local wisdom as the basis.
TAFSIR AL-QUR’AN AL-KARIM KARYA MUI SUL-SEL Mursalim, Mursalim
Al-Ulum Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.02 KB)

Abstract

Tafsir Bugis yang disusun oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan hadir di tengah masyarakat Bugis untuk mengisi kekosongan terhadap literatur yang berbahasa daerah Bugis agar supaya al-Qur’an bisa dipahami oleh masyarakat awam yang kurang paham atau mengerti bahasa latin (Melayu) apalagi  tafsir yang berbahasa Arab. Tafsir ini termasuk tafsir al-Qur’an Bugis yang lengkap 30 juz yang kedua setelah tafsir Bugis yang ditulis oleh AG. Daud Ismail. Metodologi tafsir Bugis MUI ini yaitu analisis menggunakan bentuk tahlily yang bercorak tekstualis dan warna (lawn) pemikirannya tidak terlalu nampak afiliasinya kepada aliran-aliran kalam, demikian pula warna mazhabnya. -------------------------Tafsir Bugis, which compiled by the Indonesian Ulema Council (MUI), existed within South Sulawesi among Bugis people to fill the lack of literature in Bugis area; therefore, the Quran can be understood by ordinary people who do not understand or know Latin language (i.e. Malay) or Arabic interpretation. This includes commentary Tafsir al-Quran Bugis completed a 30 chapters written by Bugis interpretation AG. Daud Ismail. The methodology of the tafsir is using the tahlily method through textual forms and the way its construction is not very merely affiliated schools of philosophy and its schools of fiqh.
BAHASA BUGIS DAN PENULISAN TAFSIR DI SULAWESI SELATAN Yusuf, Muhammad
Al-Ulum Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.416 KB)

Abstract

Bahasa Bugis merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan. Bahasa Bugis mempunyai aksara tersendiri yang disebut Lontarak. Lontarak adalah naskah klasik yang mengilustrasikan kehidupan manusia di masa lalu. Terdapat tiga lontarak yang dijumpai di Sulawesi Selatan, yaitu Lontarak Pasang, Attoriolong, dan Pau-Pau Rikadong. Ketiganya memuat isi yang berbeda-beda. Di tengah-tengah ancaman kepunahan akibat pengaruh arus global-isasi, maka umat Islam di Sulawesi Selatan khususnya ulama Bugis berupaya me-mpertahankan tradisi bahasa Bugis dengan menulis tafsir Alquran dalam bahasa Bugis dengan menggunakan aksara Lontarak. Hal ini juga merupakan upaya ulama Bugis di Sulawesi Selatan untuk mengkolaborasikan antara Islam dan khazanah kearifan lokal.  --------------------------Bugis language is one of the local languages in Indonesia, particularly in South Sulawesi. Bugis language has its own script called Lontarak. Lontarak is a classic text that illustrates the lives of people in the past. There are three Lontarak are found in South Sulawesi, which classic Lontarak, Attoriolong, and Pau-Pau Rikadong. All three contain different content. In the midst of the threat of extinction due to the influence of globalization, then Muslims in South Sulawesi, especially Bugis language seeks to maintain the tradition by writing the Quran in the Bugis language interpretation using Lontarak script. It is also an attempt by Bugis scholars of South Sulawesi to collaborate between Islam and the treasures of wisdom.
POHUTU MOMULANGA: GELAR ADAT DI GORONTALO Husnan, Moh. Ihsan
Al-Ulum Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.962 KB)

Abstract

Artikel ini menfokuskan pada suatu kegiatan upacara adat di Gorontalo. Upacara adat tersebut adalah Upacara Adat Pohutu Momulanga, yaitu suatu upacara yang dilaksanakan dalam rangka penobatkan dan penganugerahan gelar adat kepada pejabat Bupati atau Walikota di Gorontalo. Studi ini menunjukkan bahwa ada banyak makna-makna yang terkandung dalam pelaksanaan upacara adat Pohutu Momulanga tersebut. Makna-makna tersebut terdapat pada benda-benda yang merupakan simbol sebagai perlengkapan upacara dan kata-kata tuja’i (verbal) yang diucapkan pada saat penobatan dan penganugerahan gelar adat. Makna-makna yang terdapat pada simbol-simbol dan kata-kata tuja’i tersebut bermakna keteladanan seorang pemimpin dalam memimpin masyarakat. Upacara adat tersebut sangat dipengaruhi oleh unsur nilai-nilai dari agama Islam.-----------------------------------This article focuses on a traditional ceremony in Gorontalo. The so-called Pohutu Momulanga ceremony, i.e. a traditional ritual which is performed in the event of local coronation and conferral for a regent or major in Gorontalo. The study shows that there has a number of meanings and values in the Pohutu Momulanga ceremony. Among those values and meanings consist on regalia and sacred words as the symbol of tuja’i. Those symbols and the tuja’i meant as leadership examples to community. It is important to note that the Pohutu Momulanga ritual is very much influenced by Islamic values.
MERETAS HUBUNGAN MAYORITAS-MINORITAS DALAM PERSPEKTIF NILAI BUGIS Latif, Syarifuddin
Al-Ulum Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.368 KB)

Abstract

Kenaikan konflik karena kesenjangan antara mayoritas dan minoritas dalam strata sosial semakin berkembang baru-baru ini. Konflik, tentu saja, adalah masalah yang serius tham harus diatasi karena dapat merusak kerukunan hidup. Untuk meminimalkan konflik, baik mayoritas dan minoritas harus diselaraskan dengan menggunakan beberapa upaya. Salah satu upaya yang dapat ditawarkan adalah kearifan lokal dari buginesss yang disebut paseng dan pangadereng. Paseng terdiri dari ADA tongeng, sipakatau Sipakalebbi, Dan mappesona ri dewata seuwwae. Sementara itu pangadereng terdiri dari adek, rapang, Bicara, warik, Dan sarak, kearifan lokal buginesss ini diharapkan dapat memberikan kontribusi effectifely dalam upaya memba-ngun hubungan harmonis antara mayoritas dan minoritas. -------------------The raise of conflicts due to the gap between the majority and the minority in the social stratum is getting more and more progressing recently. The conflicts, of course, are a serious problem tham must overcome because they can corrupt the harmony of life. To minimize the conflicts, both the majority and the minority must be harmonized by using some efforts. One effort that can be offered is local wisdom of the buginesss that is called paseng and pangadereng. Paseng consists of ada tongeng, sipakatau sipakalebbi, dan mappesona ri dewata seuwwae. Meanwhile pangadereng consists of adek, rapang, bicara, warik, dan sarak, local wisdom of the buginesss is expected to contribute effectifely in the effort to build a harmony relationship between the majority and the minority.
REALITAS ADATI HULA-HULAA TO SYARA’I, SYARA’I HULA-HULAA TO QUR’ANI Mashadi, Mashadi
Al-Ulum Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.276 KB)

Abstract

Sejak awal keberadaan Islam sebagai agama dan keyakinan resmi dikalangan masyarakat Gorontalo, sejak itu pulalah Islam menjadi sandaran dan rujukan bagi keseluruhan aktifitas hidup masyarakat Gorontalo, baik itu yang berkaitan dengan ritual atau syariat, maupun aktifitas tersebut yang berkaitan dengan adat dan kebiasaan sehari-hari. Hal demikian dapat dipahami, bahwa Gorontalo dikenal dengan falsafahnya yakni “Adati hula-hulaa to saraa, saraa hula-hulaa to Kur’ani” yang diartikan sebagai “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”. Nilai kearifan tersebut merupakan falsafah hidup masyarakat Gorontalo yang telah dirumuskan sejak raja Amai yang konsepnya mengalami penyempurnaan sebanyak tiga kali, hingga raja Eyato dengan konsep seperti yang kita kenal sekarang. Kearifan lokal Gorontalo seperti yang tersimpulkan dalam falsafah Adat bersendi Syara, Syara bersendi Kitabullah-menjadi warna dan corak tersendiri bagi pelaksanaan dan pengimplementasian nilai-nilai agama di bumi Gorontalo.-------------------------Islam has become the support and reference among Gorontalo people from the early period the religion. It is including in their way of life and daily activity such as daily lives and traditions. Therefore, it can be understood that Gorontalo is known with the philosophical "Adati hula-hulaa to saraa, saraa hula-hulaa to Kurani" which meant as "custom is based on the shari’ah, and so, the shari’ah is based on the Qur’an". This local value is a philosophy of life that had been formulated from the Gorontalo first Muslim king, Sultan Amai. This concept was modified three times until the King Eyato with the concept as we know it today. Gorontalonese local wisdom as inferred in indigenous of "custom is based on the shari’ah, and so, the shari’ah is based on the Qur’an" uniquetly influence their way of lives and in the forms and implementation of religious values in Gorontalo.
SIPUISILAM DALAM SELIMUT ARAT SABULUNGAN PENGANUT ISLAM MENTAWAI DI SIBERUT Delfi, Maskota
Al-Ulum Vol 12, No 1 (2012): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.632 KB)

Abstract

Kelompok  etnik di Kepulauan Mentawai dapat berkembang secara mandiri dari berbagai aktifitas di tanah daratan Mentawai. Hal ini terjadi karena keterasingan dari tanah daratan. Dengan demikian, secara organic sebahagian masyarakat mengembangkan budaya dan dinamika lingkungan yang termasuk didalamnya ketersediaan sagu sebagai bahan pokok makanan dan kelimpahan alam seperti babi hutan. Sumber makanan menjadi unsur utama dalam keyakinan masyarakat, Arat Sabulungan, sebagai suatu media ritual; penyimpanan hewan bersama sesama anggota keluarga; pembayaran syarat mahar; dan tradisi denda. Pada tahun 1945, sebuah kewajiban yang diberlakukan negara yang memberi sanksi agama-agama lokal diperakarsai. Sebagaimana orang-orang Mentawai memiliki kebijakan yang maju dan kekayaan orang asing (sasareu), akibatnya, banyak program bantuan yang sukses dijalankan. Namun demikian, suatu model adaptasi yang menonjol, dimana beberapa lapisan identitas mentawai tidak hilang akibat konversi tersebut. Dalam adaptasi ini, misalnya, keyakinan Islam dimasukkan kedalam persepsi agama lokal.---------------- The Mentawai island group, due to relative remoteness, has been able to develop independently from activities on the mainland. Therefore, a large part of the population was raised on the organically developed culture and dynamic capacity of the community. This was possible due to the richly endowed environment, which includes the staple food provision in sago trees and an abundance of wildlife, including boars. The food source became an important element in the traditional believe of Arat Sabulungan, as it served as a binding agent in ritual feasts, bonding of sharing animal protein with clan members, payments to fulfil bride price requirements and traditional fines. In 1954, a compulsory introduction of state sanctioned religions was arranged. As the Mentawains acknowledge certain advanced wisdom and wealth of the sasareu or foreigners, many incentive programs made successful converts. Nevertheless, a remarkable adaptation was included; in which some layers of Mentawai identity was not lost in the conversion. In this adaptation the Islamic faith was infused with local perception.

Page 1 of 2 | Total Record : 11