cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Al-Ulum
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Al-Ulum (AU) adalah Jurnal Studi-Studi Islam diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo. AU terbit sejak tahun 2000 setiap Juni dan Desember, telah diakreditasi B oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 58/DIKTI/Kep/2013.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue " Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum" : 14 Documents clear
NILAI –NILAI KEARIFAN LOKAL ‘PULANGA’ UNTUK PENGEMBANGAN KARAKTER Haluty, Djailani
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki karakter kuat, bersumber dari nilai-nilai yang digali dari budaya masyarakatnya. Nilai-nilai kearifan lokal bukanlah penghambat kemajuan di era global, namun menjadi kekuatan transformasional yang luar biasa dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai modal keunggulan kompetetif dan komparatif suatu bangsa. Oleh karena itu, penggalian nilai-nilai kearifan lokal merupakan langkah strategis dalam upaya membangun karakter bangsa. Prosesi penobatan kepemimpinan Gorontalo ‘Pulanga’ merupakan filosofi yang mengandung dimensi karakter secara komprehensif. ‘Pulanga’ bermakna selalu mengupayakan peningkatan peran kepemimpinan lokal untuk kesejahteraan rakyat dan mendorong terciptanya sikap serta perilaku hidup individu yang menekankan keselarasan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Allah dalam melaksanakan aktivitas hidup dan kehidupan.-------------------------- A great nation is a nation that has a strong character derived from the values emerged from the culture of its peoples. The values of local wisdoms are not barrier to progress in the global era; they will lead to a tremendous transformational force in improving the quality of human resources as a competitive advantage and comparative capital of a nation. Therefore, acknowledgment of the values of local wisdom is a strategic step in building the national character. ‘Pulanga’ is a philosophy that contains a comprehensive dimensional character. It is always meant an effort to increase the welfare of the people and encouraging attitudes and behavior of individuals who emphasize the harmony among human beings, between human and nature, and between human and God in making life and living.
SPRITUALISASI DAN KONFIGURASI PENDIDIKAN KARAKTER BERPARADIGMA KEBANGSAAN DALAM KURIKULUM 2013 Mukhibat, Mukhibat
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Orientasi pendidikan yang menekankan IQ menjadikan manusia dilanda krisis kemanusiaan. Keadaan demikian manusia semakin membutuhkan spiritualitas sebagai solusi terhadap krisis kehidupan tersebut. Kajian ini dengan analitis kritis ingin mengungkap bagaimana kedudukan moral spiritual yang mendasari semua Kompetensi Inti (KI) Kurikulum 2013 untuk semua Mapel di semua jenjang pendidikan. Spiritualisasi sebagai upaya membangun karakter bangsa dalam Kurikulum 2013 dapat dilihat dalam KI yang saling terkait yaitu spiritual (KI 1), sosial (KI 2), pengetahuan (KI 3), dan keterampilan (KI 4). Adapun sumber nilai moral spiritual dalam pendidikan karakter adalah dari semua agama yang ada di Indonesia, yakni nilai-nilai universal yang secara eksplisit merujuk pada konsep kesatuan penciptaan. -------------------The orientation of education that over-relies on IQ makes human encountered by humanitarian crises. Such circumstance requires human to have adequate spirituality as a solution to overcome the crisis. With a critical analysis, this study aims to uncovering how the spiritual moral underlay all “Core Competencies” (Kompetensi Inti) in the 2013 Curriculum for all subjects at all levels of education. Spirituality as an effort to build the national character in the 2013 Curriculum can be seen at KI which interrelated each other including: spiritual (KI 1), social (KI 2), knowledge (KI 3), and skills (KI 4). Ultimately, the source of spiritual and moral values in education is the character from all of religions in Indonesia, which is the universal value that explicitly refers to the concept of the unity of human creation.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA AJARAN CINTA DALAM TASAWUF Damis, Rahmi
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.54 KB)

Abstract

Ajaran cinta dalam tasawuf menurut mahasiswa, terdapat nilai-nilai pendidikan karaktek.  Wujud cinta  menjadikan seseorang berakhlakul karimah yang senantiasa menginginkan kedamaian, sehingga dalam setiap ucapan dan tingkah laku selalu menyenangkan orang, ikhlas, adil dan jujur.  Terhadap cara yang ditempuh dalam mencapai cinta menunjukkan nilai-nilai pendidikan karakter secara keseluruhan, karena diawali dengan pembersihan diri dari segala bentuk dosa dan sifat-sifat buruk, kemudian pengisian diri dengan perbuatan dan sifat-sifat baik, seperti, kasih sayang, sabar dan toleransi.  Manfaat yang diperoleh dari konsep cinta menunjukkan nilai-nilai pendidikan karakter karena dapat melahirkan sikap empati, tolong menolong terhadap sesama, keharmonisan dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.  ----------------------Students consider that teaching of love in tasawuf consists of great values of educational character.  The teaching of love itself stimulates good character as manifested in the willingness to live in peace which in turn enable to guide one to exercise good speech and deeds that could make other people feel happy,sincere, fair, and honest.On the basis of this reliance, one should realize that love could only be reached by implementing systematic character education because started from purifying self from any sinful deeds and then followed by fulfilling self with good deeds, such as love, patience, and tolerance.  The benefit that can be acquired from the concept of love are empathy as well as mutual help among people, harmonious and peaceful life as member of community as well as nation.
“LEARNING TO LIVE TOGETHER”: PENANAMAN KARAKTER PADA ANAK USIA DINI DI LEMBAGA PAUD ISLAM SM, Ismail; Hidayatulloh, M. Agung
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengungkap (1) pentingnya aplikasi pilar “Learning to live together” sebagai upaya penanaman karakter pada anak usia dini di lembaga PAUD Islam; (2) kegiatan pembelajaran yang mencerminkan aplikasi pilar tersebut di lembaga PAUD Islam; dan (3) ragam karakter yang terbangun sebagai efek dari aplikasi pilar tersebut pada anak usia dini di lembaga PAUD Islam. Data penelitian kualitatif ini diperoleh dari para guru PAUD (RA) melalui penyebaran kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilar “Learning to live together” penting diaplikasikan pada anak sejak usia dini, terlebih di lembaga PAUD Islam. Selain karena usia tersebut adalah usia emas bagi anak untuk menyerap segala hal yang masuk, rasionalisasi lain bersumber dari al-Quran. Di antara kegiatan yang merefleksikan aplikasi pilar tersebut adalah bermain balok, karyawisata, bermain peran, dan cerita keteladanan. Sementara karakter-karakter yang sebaiknya ditanamkan kepada anak sejak dini secara keseluruhan dapat terbangun melalui aplikasi pilar “Learning to live together”. -----------------------------------This paper explores about 1) the importance of application pillar of “Learning to live together” as an effort to implement character on children under five years at PAUD Islam schools; (2) learning activities which reflect the application pillar at PAUD Islam institution; and (3) kind of characters which are built as the effect of the application pillar on children under five at PAUD Islam schools. In this paper, the qualitative research data was obtained from the teachers of PAUD (RA) through questionnaire distribution. The research result showed that pillar “Learning to live together” remains importance to be implemented on children under five years old, particularly at PAUD Islam schools. It is because of early years period is a golden age for children to reserve all aspects which they learned and saw. Also it is based on Qur’anic teachings. Among the activities which reflected the application pillar are beam playing, sightseeing, role playing, and heroic stories.Therefore, the character values should be wholly implemented on the children under five years old which can be built through the application pillar on “Learning to live together”.
PENDIDIKAN KARAKTER BERWAWASAN LINGKUNGAN DI GORONTALO Tohopi, Ridwan
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1261.366 KB)

Abstract

Tulisan ini membahas pendidikan karakter berwawasan lingkungan di taman laut Nasional Olele Gorontalo. Realitas sosial di taman laut tersebut menunjukkan adanya pencemaran limbah tinja. Penanganan secara intelektual sudah diupayakan, namun secara moral-spiritual belum diperhatikan dan dikembangkan. Oleh sebab itu, penanggulangannya  perlu dilakukan  melalui pendidikan karakter, dengan cara menghimpun dan merangkai sejumlah  prinsip, nilai, norma, ketentuan hukum dan ajaran agama. Kondisi ini mendorong penulis menggunakan metode survei snowbowling sample, yaitu mempelajari fenomena tentang  upaya penanggulangan pencemaran limbah tinja di kawasan itu  melalui pendidikan karakter berwawasan lingkungan. Terdapat tiga pilar utama pendidikan karakter yaitu; amar ma’ruf, nahi munkar dan tu’minuna bilah. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi landasan rasionalitas moral untuk membangun kesadaran masyarakat. Manusia sebagai makhluk  yang paling tinggi derajatnya, memiliki akal pikiran seharusnya menjaga laut dan tetap melestarikannya, bukan merusak atau hanya mengambil keuntungan tanpa memikirkan akibatnya di masa datang.      ----------------This paper discusses about environementally-base on educational character in the National Olele Gorontalo, a national sea-park. Social reality in the seapark environment indicate that there is  excrement pollution. Actually, the problem has been handling intelectually, but it was failure because not resemble with moral-spiritual care.  Therefore, solution of the problem should be done through educational character by gathering and combining some principles, values, norms, law regulations and  religeous  teachings. This condition encourages the writer to use the method of snowbowling sample survey. That is to study the phenomena on the effort to overcome the excrement pollution in the sea park, through educational character based on environmental perspective. There are three main pillar of educational character; namely, amar ma’ruf, nahi munkar and tu’minuna bil-Allah. These three main values should become fundamental moral rationality to build society’s awareness to their environment. Human, as a the highest quality creature; who have logic and thought, should keep and preserve the sea, not to destroy it or just take advantages from it without taking potential risks into account in the future.
PENDIDIKAN KARAKTER DAN BAHASA Pantu, Ayuba; Luneto, Buhari
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.293 KB)

Abstract

Tulisan ini menggambarkan bagaimana kaitan antara pendidikan karakter dan pendidikan bahasa. Pendidikan karakter merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kemerosotan moral khususnya di kalangan remaja (siswa). Pendidikan karakter berkaitan erat dengan pendidikan bahasa, sebab sebagian nilai-nilai karakter terdapat dalam pendidikan bahasa. Sekolah berperan penting sebagai wahana memperteguh karakter dan nilai budaya bangsa. Pendidikan bahasa termasuk sastra merupakan salah satu wahana untuk membentuk karakter siswa, dengan kata lain, memiliki peran dalam pembentukan karakter. Dalam pembelajaran bahasa dan sastra perlu dioptimalkan baik strategi, metode, media, serta bahan ajar yang bermuatan nilai pendidikan dan kebajikan sehingga membentuk karakter peserta didik. Pendidikan bahasa bukan hanya tugas dan tanggung jawab guru bahasa, melainkan tanggung jawab semua guru bidang studi karena semua guru pasti menggunakan bahasa. Satu hal yang paling penting adalah meningkatkan kegemaran  membaca bagi siswa yang merupakan kunci keberhasilan pendidikan. ------------------------This paper describes the link between educational character and language education. Educational character is an important solution to overcome the moral decline, among young people (especially students). Educational character is closely related to language education, because some of the values of the character contained in the language education. Schools play an important role as a vehicle for character building and reinforce the cultural values of the nation. Language education, including literary, is one vehicle for shaping the character of students. In other words, it has a role in the formation of character. In learning the language and literature,  strategies, methods, media, and teaching materials need to be optimized to form the character of students. Yet, language education is not only the duty and responsibility of the language teacher, but the responsibility of all teachers because all the teachers definitely use language. Thus, the most important thing to do is to increase students reading ability which is a key to success.
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS AL-QUR’AN; Upaya Menciptakan Bangsa yang Berkarakter Rahman, Amri; Kasim, Dulsukmi
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.485 KB)

Abstract

Tulisan ini menyorot persoalan pendidikan karakter. Persoalan ini dikumandangkan di dunia pendidikan sebagai respon atas terjadinya berbagai bentuk kemerosotan akhlak bangsa Indonesia. Al-Qur’an memiliki tuntunan yang mendidik manusia menjadi bangsa yang berakhlak. Tolok ukurnya adalah diri Nabi dan para sahabatnya. Pendidikan karakter berbasis al-Qur’an pada dasarnya dibangun melalui tiga dimensi; akhlak pada Sang Pencipta, akhlak pada diri sendiri, dan akhlak pada sesama manusia dan lingkungan. Identitas bangsa yang berkarakter diisyaratkan al-Qur’an dengan kriteria: bersatu; punya nilai luhur yang disepakati; bekerja keras, disiplin, dan menghargai waktu; peduli; moderat dan terbuka; siap berkorban; serta tegar dan teguh menghadapi berbagai tantangan. Untuk terwujudnya pendidikan karakter berbasis al-Qur’an dalam tatanan berbangsa dan bertanah air tergantung pada peran: 1) Masyarakat lewat pendalaman akidah dan akhlak Nabi, 2) Dunia pendidikan lewat sarana sekolah dan masjid, 3) Pemerintah. -------------------------This paper discusses about the issue of educational character. This issue is sounding in educational sector as a response to any forms of moral decrease of Indonesia as a nation.  Al-Qur’an contains teachings to educate human in order to be a good nation. Its main example is the Prophet Muhammad Saw and his exemplary followers. The educational character which is based on the Quran basically is built through three dimensions: attitude to the Supreme Creator (Allah SWT), attitude to ourselves, and attitude to the others and our environment. Indonesians national identity which has been good character is indicated in the Qur’an with some criteria, namely: unity; that is, to have agreed noble values; work hard, means discipline and good time management, caring; moderate and open minded; ready for struggle and be brave and patient in facing some challenges. Therefore, to define address the educational character based on the Qur’an in the establishing nationhood mostly depends on the roles of: 1) society through strong faith and examples from the Prophet Muhammad Saw; 2) Educational sector through schools and mosques; and 3) the government.
BAHASA POSITF SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN MORAL ANAK Saudah, Siti
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.108 KB)

Abstract

Degradasi moral semakin marak di Indonesia. Perilaku yang sopan santun dan religius tergeser adanya gaya hidup modern. Sehingga pengembangan nilai-nilai moral sangat penting untuk dikenalkan sejak dini. Metode yang digunakan yaitu; (1) observasi (2) pendampingan dan (3)  kuesioner. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan hasil pengamatan selama pendampingan, juga dilakukan penghitungan kuesioner dengan spss 15.0. Pendampingan dilakukan dengan pembiasaan bahasa positif di kelas, melalui empat keterampilan yaitu; menyimak, membaca, mendengar dan berbicara. Perkembangan  pendidikan moral pada anak  dapat dilihat dari hasil kuesioner yang dilakukan yaitu: pre-test dilakukan sebelum dilakukan pendampingan dan post-test dilakukan setelah anak diberikan pendampingan. Hasil Pre-test 46% dan post-test 54%, artinya  ada kenaikan  8%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa: bahasa Positif yang sering digunakan maupun di dengar oleh siswa akan berdampak pada pola pikir yang pada akhirnya membentuk karakter siswa. ----------------------Moral degradation is getting widerspread in Indonesia. Polite, friendly, and religious manners have been displaced as the effects of  modern lifestyle. Hence, moral values is very important to be developed from the early ages. This paper is an outlook to address moral education on children based on research. The research methods used are observation, mentoring and questionnaire. Data analysis is conducted  by describing the results of observation during the mentoring and  calculating the results of questionnaire with spss 15.0.  Mentoring is conducted by building  the habit of using  positive language  in class through 4 skills: listening, speaking, reading and writing. The development of moral education of the students can be seen from the results of the questionnaire: pre-test conducted before mentoring and post test conducted after mentoring. The researh result shows that pre-test featured 46 % and post-test was 54%. It means that there is an increase of 8 % on mentoring. Therefore, it can be concluded that positive language that often used or  listened by the students will influence  their ways of thinking that finally will build the students’ character.
PENGEMBANGAN KARAKTER TOLERAN DALAM PROBLEMATIKA IKHTILAF MAZHAB FIKIH Bakry, Muammar
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.969 KB)

Abstract

Wacana ikhtilaf merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dipungkiri. Karenanya, menyamakan pendapat adalah suatu hal yang bertentangan dengan kodrat manusia yang Tuhan telah tetapkan. Perbedaan mazhab di kalangan ulama sebuah fenomena khazanah kekayaan Islam yang memberi hidup secara variatif. Fikih yang mengarah pada sikap intoleran dan diskriminatif terhadap kelompok lain sudah saatnya dibaca secara kritis sebagai sebuah produk sejarah yang sangat mungkin untuk dirubah. Tulisan ini menawarkan tentang pengembangan karakter toleran dalam menyikapi perbedaan mazhab fikih dengan melewati empat ruang lingkup pendidikan karakter, yaitu olah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual develompmet), olah raga (physical and kinesthetic develop-ment) serta olah rasa dan karsa (affective and creativity development). Empat karakter di atas, akan memberikan persepsi kepada subjek dalam menyikapi perbedaan (ikhtilaf) yang pada akhirnya berujung pada sikap toleran ataukah intoleran. ------------------------The discourse of ikhtilaf is an undeniable reality. Consequently, to put forward opinion in the same agreement will likely to contradict with human nature which has been determined by Allah SWT. The different thoughts among the ulamas are actually good phenomena in Islamic teaching, which lead to Isla to be more variativ. Fiqh minded which are triggering into in-tolerancy dan discriminative character toward the other groups should be critically understood as an historical product which is very possible to be changed. This paper proposes tolerant character development in facing the difference among Islamic thought schools (mazhab fiqh) through four scopes of character education: that are, spiritual and emotional development, intellectual develompmet, physical and kinesthetic development, and affective and creativity development. These four characters will give per-ception to address the differences (ikhtilaf) among Muslims and eventually come to either tolerant or in-tolerant character.
PENDIDIKAN UNTUK PENGEMBANGAN KARAKTER (Telaah terhadap Gagasan Thomas Lickona dalam Educating for Character) Dalmeri, Dalmeri
Al-Ulum Vol 14, No 1 (2014): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.555 KB)

Abstract

Tulisan ini akan membahas konsep pendidikan karakter dalam pemikiran Thomas Lickona sebagai upaya untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang berupa tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Tujuan pendidikan karakter adalah menanamkan kebiasaan yang baik, sehingga peserta didik paham, mampu merasakan, dan mau melakukan yang baik. Pendidikan karakter membawa misi yang sama dengan pendidikan akhlak atau pendidikan moral. Thomas Lickona mengatakan bahwa dasar hukum moralitas yang harus diterapkan dalam dunia pendidikan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran agama dalam kitab suci, dan implikasi dari dasar hukum moralitas ini berlaku secara universal. ----------------------This paper discusses about Thomas Lickona’s idea on education character. It is mainly an attempt to shape ones personality through education which it results can be seen in action in the form of ones good behavior, honest, responsible, respect the rights of others, hard work, and so on. The main goal of educational character is to encourage good habits; so that, learners understand, able to feel, and want to do goods. Educational character has the same mission with behavior education or moral education. Thomas Lickona assert that the basic laws of morality should be applied in the educational sectors in accordance with the principles of religious teachings in the holy scriptures. Therefore, the implications of the basic laws of morality will be universally valid.

Page 1 of 2 | Total Record : 14