cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Al-Ulum
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Al-Ulum (AU) adalah Jurnal Studi-Studi Islam diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo. AU terbit sejak tahun 2000 setiap Juni dan Desember, telah diakreditasi B oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 58/DIKTI/Kep/2013.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue " Vol 14, No 2 (2014): December" : 14 Documents clear
MULTICULTURAL EDUCATION AND INTERRELIGIOUS LEADERS KNOWLEDGE Marjuni, A.
Al-Ulum Vol 14, No 2 (2014): December
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.569 KB)

Abstract

Multicultural-education is meant to portray about the efforts that must be carried out by teachers and lecturers in the midst of a growing cultural diversity in todays society. Teachers and lecturers are expected to contribute in revising the learning material as well as to reform the learning system with wider insight in the globalization process. The birth of various teachings or understandings which are not relevant with religious values, such as secularism and materialism, tends to make religion education to be helpless and even to make religion to be ruled out in various fields. This may also hit people when religion does no longer function effectively in multidimensional and multicultural life. ----------Pendidikan berbasis multikultural dimaksudkan untuk menggambarkan tentang upaya-upaya yang harus dilakukan oleh guru dan dosen di tengah-tengah keanekaragaman budaya yang berkembang dalam masyarakat saat ini. Guru dan dosen diharapkan dapat berkonstribusi dalam merevisi materi pembelajaran serta melakukan reformasi dalam sistem pembelajaran dengan wawasan yang lebih luas dalam arus globalisasi. Lahirnya berbagai ajaran atau pemahaman yang tidak relevan dengan nilai-nilai agama, seperti aliran materialis dan sekuler, maka ada kecenderungan membuat pendidikan keagamaan menjadi tidak berdaya dan lebih lagi jika agama telah dikesampingkan dalam berbagai bidang. Hal ini mungkin juga menerpa umat bila agama tidak lagi berfungsi secara efektif dalam kehidupan multidimensi dan multikultural.
FREEDOM OF RELIGION IN JANNAH AL-AT FAL (HEAVEN OF CHILDREN) WORKS OF NAJIB MAHFUZ Munthe, Bermawy
Al-Ulum Vol 14, No 2 (2014): December
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study based on the theory of structuralism Robert Stanton, which focuses on the elements of theme in short story Jannah al -At {fa@l (Children of Heaven) by Najib Mahfuz. The result of study was found that the etching of religious freedom to children as a religious education it’s aims to instill competency mastery of basic religious knowledge, attitude differences religious and religious tolerance, interfaith friendship, think and act freely, child relationship and God the Creator, child and the particulars of life and death as well as children and happenings in heaven and hell. This seventh aspect becomes interconnectivity and integrative unity to allow freedom of religion. -----------Penelitian ini menggunakan teori strukturalisme Robert Stanton yang menfokuskan pada unsur tema cerita pendek Jannah al-At{fa@l (Surga Anak-Anak) karya Najib Mahfuz. Penelitian ini menemukan bahwa penanaman kebebasan beragama sebagai pendidikan agama di dalam diri anak-anak kecil bertujuan untuk menanamkan kompetensi penguasaan pengetahuan dasar agama, sikap perbedaan agama dan toleransi beragama, persahabatan lintas agama, berpikir dan bersikap bebas, hubungan anak dan Tuhan Maha Pencipta, anak dan ihwal hidup dan mati serta anak dan ihwal surga neraka. Ketujuh aspek ini menjadi kesatuan yang interkonektif dan integratif untuk memungkinkan kebebasan beragama.
RELATION BETWEEN PANCASILA AND ISLAMIC VALUES ON RELIGIOUS FREEDOM Sulasman, Sulasman; Dewi, Eki Kania
Al-Ulum Vol 14, No 2 (2014): December
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.572 KB)

Abstract

The discourse of religious harmony and freedom is still a current study and much studied through various approaches, including in the perspective of history, sociology, and culture. In Indonesia, normatively, the practices of religious harmony and freedom are referred to both Islamic religion and Pancasila values. The two normative references are positioned in line. Thus, even for the people, Pancasila has a spirit of Islam, because the framers of Pancasila (and Konstitution UUD 1945) are Moslem like Muhammad Yamin and Sukarno. Consciously or not, the Islamic teaching viewed by those framers of Pancasila absorbed into the values of Pancasila. Therefore, it is fair enough that Pancasila and Islam have harmony and conformity, including the concepts of religious harmony and freedom. Wacana kerukunan dan kebebasan beragama masih menjadi kajian aktual  dan banyak dikaji melalui berbagai pendekatan, diantaranya dalam perspektif sejarah, sosiologi, dan budaya. Di Indonesia, secara normatif,  praktik kerukunan dan kebebasan beragama mengacu pada nilai agama Islam dan Pancasila sekaligus. Kedua acuan normative tersebut diposisikan sejalan. Bahkan bagi sebagian kalangan Pancasila memiliki ruh ajaran Islam, karena para perumus Pancasila (dan UUD 1945) adalah umat Islam, seperti Muhammad Yamin dan Soekarno. Disadari atau tidak, ajaran Islam yang dipersepsi para perumus Pancasila tersebut meresap kedalam Pancasila. Oleh karena itu, wajar apabila antara Pancasila dan Islam memiliki keselarasan dan kesesuaian, termasuk dalam hal konsep kerukunan dan kebebasan beragama.
MUHAMMAD IQBAL’S PHILOSOPHY OF RELIGION AND POLITICS: The Basic Concept of Religious Freedom Tajuddin, Muhammad Saleh
Al-Ulum Vol 14, No 2 (2014): December
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.843 KB)

Abstract

The objective of this writing is to explore Iqbal’s thought about religion and politics as the basic concepts of religious freedom. This writing is done by doing research in library and running qualitative research based on philosophical approach. The study is analyzed through descriptive analysis to get accurate results from the objective of the study. The results of the research are: 1) Iqbal’s thought of religion is based on creed (belief), which reflects on rational thought. Iqbal’s effort on reconstruction of religion gives harmony between religion and politics which leads to the society too. 2) The religious freedom from Iqbal’s thought is based on the political ethics concept. His idea is started with the integration between Western thoughts and the Qur’an. Iqbal’s perspective of ego promotes self freedom, so every person can avoid his self from getting perfect spiritual (insane kamil). 3) Individual that lives in “reality as self conscious” concerns on the powers, which will create a harmony to society.  ----------Tujuan penulisan ini adalah untuk mengeksplorasi pemikiran agama dan politik Muhammad Iqbal sebagai landasan pemikirannya tentang kebebasan beragama. Tulisan ini menggunakan metode library research dengan jenis penelitian kualitatif melalui pendekatan filsafat. Hasil temuan tulisan inin adalah: 1)Pemikiran keagamaan Iqbal didasarkan pada iman kemudian direfleksikan dalam bentuk pemikiran rasional. Upaya Iqbal dalam merekonstruksi pemikiran agama adalah memberikan keharmonisan pada agama dan politik dalam mencapai kehidupan sosial yang harmoni. 2) Pemikiran Iqbal tentang politik sebagai dasar kebebasan beragama adalah didasarkan pada konsep etika politik. Dasar pemikirannya diawalidengan konsep diri dengan memadukan pemikiran Barat dengan Alquran. Ego bagi Iqbal adalah kausalitas pribadi yang bebas, sehingga setiap individu mesti mampu mengendalikan dirinya untuk mencapai kesempurnaan spiritual (InsanKamil). 3) Individu sebagai reality as self conscious adalah suatu kesadaran akan kekuatannya, dan kesadaran akan tujuan hidupnya yang besar bergabung dalam masyarakat untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang harmonis.
THE RECONSTRUCTION OF THE ROLE OF ISLAM IN INDONESIA AS A PROPETHIC RELIGION Naupal, Naupal
Al-Ulum Vol 14, No 2 (2014): December
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.803 KB)

Abstract

After the end of Soeharto’s regime, in 52  districts produced 78 regulations (perda) influenced  by sharia to purify Islam from secular institutions. Because of that, Islam in Indonesia now is criticized as having a tendency to be close to status quo, and resulting so many problems, such as being injustice and dehumanize. Islam as a prophetic religion, as a religion not only for faith to Allah, is  also a religion that liberating people from violence and injustice, as Prophet Muhammad  brought it. This academic writing , using the hermeneuticmethod  fromPaul Ricoeur, analizes the situation, by proposing three ways outthrough the theory of critical ideology,  and  the deconstruction, and  offering to accept plurality, to overcome the problems of complicated situation. Propethic religion might be the proper solution for the problems of Islam in Indonesia than priestly/institutional religion, in order to acheive the better Indonesian society, by practising tolerance, openess in mind, egaliter and democatic. ----------Setelah berakhirnya Rezim Suharto 52 wilayah di Indonesia membuat 78 Perda yang menginginkan pelaksanaan Islam secara kaffah. Oleh karena itu Islam di Indonesia  dikritik sebagai agama yang cenderung berada dalam status quo dan menyebabkan banyak masalah, seperti ketidakadilan dan tidak berperikemanusian. Islam sebagai sebuah agama kenabian tidak hanya berbicara tentang ketaatan kepada Allah, tetapi juga membahas tentang pembebasan manusia dari kekerasan dan ketidakadilan. Tulisan ini menggunakan metode Hermeunetik dari Paul Ricoeur  yang menganalisis dengan mengajukan tiga teori yaitu kritik ideologi, dekonstruksi dan pluralism. Tulisan ini berusaha mengkaji peran Islam sebagai agama kenabian di Indonesia yang menci-citakan terwujudnya masyarakat Indonesia yang ideal, masyarakat toleran terbuka dan demokratis.
INCLUSIVE PARADIGM –RELIGION PLURALISM ON AL-QURAN PERSPECTIVE (QS. al-Baqarah/2: 136-137 & QS. Ali Imran/3: 64 Analysis) Maulasa, Aisma; Rahman, M. Gazali
Al-Ulum Vol 14, No 2 (2014): December
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.673 KB)

Abstract

This writing is discussing Alquran perspective about the attitude which should be owned by every Moslem in facing religion pluralism as something is possible and factual. By doing deep analysis on QS AlBaqarah /2: 136-137 and QS Ali Imran /3: 64, it is clear that pluralism is factual and be sunnatulah which should be exclaimed its truth. The three verses are also claim five ideal forms which should be had and implemented by all Moslem in regulating their interaction with other religion followers. As the biggest inspiration of a Moslem, then the finding meaning on Alquran verses will minimalize even erupt all exclusive paradigm on religion which for long time constraint the harmony of religion relationship. Exclusive religion bears, because there is misunderstanding and less of understanding about Alquran verses. ----------Tulisan ini menyorot pandangan Alquran tentang sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim dalam menyikapi pluralitas agama sebagai sesuatu yang niscaya dan faktual. Melalui analisis mendalam terhadap QS. al-Baqarah/2: 136-137 dan QS. Ali Imran/3: 64, tampak jelas fakta pluralitas sebagai sunnatullah yang harus diakui keberadaannya. Ketiga ayat tersebut juga menegaskan lima bentuk sikap ideal yang harus dimiliki dan diimplementasikan oleh setiap muslim dalam menata interaksinya dengan penganut agama lain. Sebagai sumber inspirasi terbesar seorang muslim, maka penyingkapan makna di balik ayat-ayat Alquran tersebut akan meminimalisir bahkan mengikis habis sikap ekslusivis beragama yang selama ini telah memasung keharmonisan hubungan antaumat beragama, sebab lahirnya sikap ekslusivis beragama tidak terlepas dari adanya miss understanding dan kedangkalan pemahaman terhadap ayat-ayat Alquran.
HUMANIST THEOLOGY: ESTABLISH UMMAH TOWARD A TOLERANCE Huzain, Muhammad
Al-Ulum Vol 14, No 2 (2014): December
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.861 KB)

Abstract

The nature of religion has been endlessly discussed by philosophers, theologians, psychologists, and sociologists. They look at different aspects of religion as their interests and their purposes differ. Therefore, they formulate variety of definition of religion. Religion is seen to be difficult to define. But it is necessary to have a clear definition of religion as a starting point for religious studies. But in the globalization era, Muslim need theology basis which is strong. Theology term is to help enrich the muslim knowleadge of Islam. In the thought of Islam theology, means knowleadge which is content in relation beetwen God and the universe. Later, The draft formulation of this, are; How is the book theology in relation of book and religion pluralims? To focus to this formulation, it will be presented many questions, namely: First, How is the theology of consept in the book perspective? The Second, as a book guideline, how is theology implication toward the pluralism religion? Then this writing shows that theology (tauhid) is human awareness on thier believer toward the one god which cover it’s one of essence, action, atribute (characteristic).  The unity of god essence is a furitification towards God. Yet, The fluralism is to be still unitied  with strong bound, namely bound of essence of God.  ----------Tulisan ini mengkaji konsep ketuhanan dan konsep pluralitas dalam agama Islam. Hal ini penting, karena agama tidak boleh dipahami sebagian-sebagian, tetapi harus secara menyeluruh. Oleh karena itu, masalah agama ini tidak pernah berhenti diperbincangkan oleh para ilmuwan. Dalam rangka memberikan rumusan tentang konsep agama secara benar khususnya kepada para penganutnya dan kepada masyarakat secara umum, maka dalam tulisan ini dikemukakan dua pertanyaan, yaitu: 1. Bagaimana konsep ketuhanan dalam perspektif kitab suci alquran? 2. Sebagai kitab pedoman beragama, bagaimana implikasi ketuhanan terhadap konsep pluralitas? Tulisan ini menunjukkan bahwa tauhid adalah kesadaran manusia akan keberadaan Tuhan yang satu, Tetapi, pluralism akan tetap menjadi kesatuan pijakan yang kuat, yaitu; pijakan kepada Tuhan
THE INDONESIAN CLERICS COUNCIL (MUI) AND THE ISSUE OF THE FREEDOM OF RELIGION IN THE CASE OF AHMADIYAH Rochmat, Saefur
Al-Ulum Vol 14, No 2 (2014): December
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.403 KB)

Abstract

The Republic of Indonesia does not follow the pure concept of nation state as the national ideology of Pancasila recognizes the role of religion in the national political system. Based on this conception, the government has facilitated the establishment of the ministry of religious affairs which often breaks the principle of religion freedom. In the case of Islamic sect of Ahmadiyah, MUI, established under the auspice of the ministry of religions, has accused the Islamic sect of Ahmadiyah of having done the act of blasphemy. Actually, this will not become a problem if the state consistently applies the separations of power between public and private affairs. In this regard, religious communities take in a role of civil society which would provide checks and balances to the government in the pursuance of democracy. In line with this, the ministry of religious affairs, by means of MUI, should not judge people based on their beliefs. Al-Qur’an also recognizes the existence of different religions as well as some sects within a certain religion. Moreover, it is useful to implement Richard Niebuhr’s theory of denomination. Last but not least, MUI should act following the concept of nation state in order to moderate power which tends to corrupt.    ----------  Republik Indonesia didirikan berdasarkan dasar negara Pancasila. Sejalan dengan itu, negara memfasilitasi pendirian kementerian agama, yaitu sebuah institusi yang sering melanggar pinsip kebebasan beragama. Sebagai contoh, MUI, yang didirikan di bawah naungan kementerian agama, menuduh Ahmadiyah, salah satu aliran dalam Islam, telah melakukan penistaan agama. Sebenarnya, model negara Pancasila tidak bermasalah bila negara secara konsisten menerapkan pemisahan kekuasaan antara urusan  publik  dan urusan  privat. Dalam hal ini organisasi-organisai keagamaan, seperti Ahmadiyah dan MUI, memainkan peran sebagai unsur  civil society, dalam arti menjadi penyeimbang bagi negara, demi terciptanya masyarakat yang demokratis. Oleh karena itu, MUI, tidak menilai orang berdasarkan keyakinannya, karena. al-Qur’an mengakui keberadaan beberapa agama dan aliran-alirannya.  MUI perlu menilainya berdasarkan teori denominasi karya  Richard Niebuhr. MUI juga perlu memposisikan diri sebagai bagian dari civil society, mengkritisi penguasa yang cenderung menyalahgunakan kekuasaan.
CALCULATING THE PHILOSOPHICAL SIGNIFICANCE OF THE CONCEPT OF RELIGIOUS FREEDOM IN ISLAM Roswantoro, Alim
Al-Ulum Vol 14, No 2 (2014): December
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.958 KB)

Abstract

The writing attemps to explore the philosophical meaning of the theological messages of Islam on religious freedom. The article do not study the empirical facts of religious freedom practiced by muslims today, but it scrutinizes the theological messages as written in the Qur’an and as showed by the real examples of the God’s Messenger. Through understanding some Qur’anic verses, we will find that Islam strongly encourages the life of different religious people based on the value of freedom. Freedom intended to be a base of religious life is not freedom to do whatever someone wants, but freedom to respect and to protect one another among religious people who are different in religion and faith. This value of message of religious freedom was wonderfully performed in historical practices of the Prophet Muhammad puh. From the Islamic principles of religious freedom that can be underlined, the writing finally tries to elucidate its philosophical meaning. The messages of religious freedom in Islam contain the strong and deep philosophical meaning, because the establishment of religious freedom is based on the fundamental value of human freedom and on the freedom as the nature of life itself.--------- Tulisan ini mencoba menggali makna filosofis dari ajaran teologis Islam mengenai kebebasan beragama. Artikel ini tidak membahas fakta-fakta empiris kebebasan beragama yang diperlihatkan oleh orang-orang Islam dewasa ini, melainkan membahas ajaran-ajaran teologis seperti tertulis dalam al-Qur’an dan contoh nyata dan Rasulullah. Memahami beberapa ayat al-Qur’an, Islam tampak kuat mendorong kehidupan antar umat beda agama yang didasarkan pada nilai kebebasan. Kebebasan yang dijadikan basis hidup beragama, bukanlah kebebasan untuk melakukan apapun, melainkan kebebasan untuk saling menghargai dan saling melindungi. Nilai ajaran kebebasan beragama seperti ini dipraktekkan dalam kehidupan nyata Nabi Muhammad saw. Dari prinsip Islam mengenai kebebasan beragama yang bisa disimpulkan, tulisan ini pada akhirnya mencoba memaknainya secara filosofis. Ajaran kebebasan beragama dalam Islam sangat kuat kandungan filosofisnya, karena kebebasan beragama ditegakkan di atas prinsip nilai kebebasan manusia dan kebabasan sebagai hakikat dari kehidupan itu sendiri.
INTERRELIGIOUS RELATION AND VIOLENCE ON RELIGION IN INDONESIA RELIGION PHILOSOPHY PERSPECTIVE HPW, Nazar Husain
Al-Ulum Vol 14, No 2 (2014): December
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.246 KB)

Abstract

 This writing gives description about relation among religion followers in Indonesia. The condition of tolerance and the harmony of religion followers in Indonesia is on critical condition. The effort to support multicultural understanding have been done by many sides. The conflict in Indonesia is social religion phenomenon, in whole the violence is happened either on individual level, collective, institution,  or the system itself. The mapping model of religious in Indonesia become one alternative for early anticipation. The effort of transformation multicultural understanding is taken by all educators. They are graduated from university should have an ability to transfer the scientific, especially religion tolerance.  ----------Tulisan ini memberikan gambaran tentang relasi antara pemeluk agama di Indonesia. Kondisi toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia mengalami situasi kritis. Upaya mendorong pemahaman multikultural  telah dilaksanakan banyak pihak. Konflik di Indonesia merupakan fenomena sososial keagamaan, secara keseluruhan kekerasan terjadi pada level individual, kolektif, institusi, maupun sistem. Pemetaan model keberagamaan di Indonesia menjadi satu alternatif  antisipasi sejak dini. Upaya transformasi pemahaman multikultural diemban oleh Para pendidik. Mereka  yang lulus dari perguruan tinggi sebaiknya mempunyai kemampuan multidimensi dalam mentransformasi keilmuan khususnya toleransi agama.

Page 1 of 2 | Total Record : 14