cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Farabi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Adalah jurnal ilmiah dalam bidang filsafat , dakwah , komunikasi, dan pemikiran Islam yang diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo
Arjuna Subject : -
Articles 110 Documents
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN SUFISME DALAM PENDIDIKAN ISLAM Munirah, Munirah
Farabi Vol 16 No 2 (2019): Farabi
Publisher : Faculty of Ushuluddin & Dakwah, IAIN Sultan Amai Gorontalo, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengungkap implementasi pendidikan sufisme dalam pendidikan Islam. Metode yang digunakan adalah kualitatif bersifat studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa tasauf mempunyai potensi besar karena dapat menawarkan pembebasan krisis spiritual, mengajak manusia mengenal dirinya sendiri, untuk lebih mengenal Tuhannya untuk memperoleh bimbingan-Nya. Hal ini menjadi pedoman dalam kehidupan  manusia yang sangat ampuh, sehingga tidak terombang ambing oleh badai kehidupan. Dengan pendekatan tasauf di era ini, lebih menekankan pada rekonstruksi sosial moral masyarakat sehingga penekanannya lebih intens pada penguatan iman sesuai dengan prinsip-prinsip akidah Islam, dan penilaian kehidupan duniawi sama pentingnya dengan kehidupan ukhrawi dalam upaya mengantisipasi era globalisasi.
PERAN BARISAN ANSOR SERBAGUNA (BANSER) DALAM MENANGKAL RADIKALISME Dwijayanto, Arik
Farabi Vol 16 No 2 (2019): Farabi
Publisher : Faculty of Ushuluddin & Dakwah, IAIN Sultan Amai Gorontalo, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The article investigates the phenomenon of intolerance and religious radicalism in Indonesia. Religious radicalism in several regions has shown a critical condition and tends to present takfirism to the other group's religious beliefs. This encourages the Youth Movement of Nahdlatul Ulama (Ansor-Banser) to play an important role in mainstreaming moderate Islam and religious tolerance. Among the research questions asked are how the role of Ansor-Banser in countering religious radicalism?; and how the concept and strategy of Ansor-Banser in mainstreaming moderate Islam in Indonesia.?By using sosiological theory and historical approach, the findings of this research show that Ansor-Banser has three important roles in countering religious radicalism. Firstly, the role in maintaining security and public order with the government apparatus in particular at religious ceremony both organized by muslim community and non muslim. Secondly, the role in reviewing and monitoring the activities of individuals or groups of radical religious dissemination. Thirdly, the role in educating moderate religious values ??on the younger generation through training activities. Therefore, this research also aims to be a reference in formulating strategic steps for stakeholders especially muslim youth organization to maintain moderate religious understanding and forming religious behavior by relying on Islamic values ??of tasamuh, tawasuth and tawazun.
SAINS MODERN DAN URGENSI SENTRALITAS NILAI TRANSENDEN DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN Akhwanudin, Afith
Farabi Vol 16 No 2 (2019): Farabi
Publisher : Faculty of Ushuluddin & Dakwah, IAIN Sultan Amai Gorontalo, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Originally the Western sciences and civilization rooted in Oriental traditions. Nevertheless, Western renaissance, the Scientific Revolution has indicated a contrary paradigm in the sciences of nature. A new and alien paradigm which is totally different in its perspective and Weltanschauung from the sciences of the great Oriental traditions. The West arose with the materialistic paradigm resulted in the secularization of the cosmos. It was regarded as the beginning of the Enlightenment dissolved Dark Age scientific stagnation. Modern people have been hollowed, isolated from others by individualism then self-separated from God by egocentrism. Western objectivity negated transcendental aspects; thus, non-observable means no exist. Metaphysics, Cosmology, Epistemology, Psychology, and Ethics are not elaborated anymore to convince the Real. Such a paradigm would put worldly benefits before humanity for the sake of growth and progress. These profane sciences result in radical separation of philosophy and theology, knowledge and faith, religion and science, as well as theology and all aspects of human life. Desecration of contemporary sciences is the product of modern worldview which negated transcendent values ??in scientific activity. This desecration became the turning point of traditionalist thinkers? criticism with a theistic worldview to restore spiritual values ??in sciences. Thus, worldview could produce tawhid based scientific epistemology creates unity between religion and science, knowledge and values ??as well as the material and metaphysical then makes the humanity before the science
ISLAM PROGRESIF: TELAAH ATAS PEMIKIRAN OMID SAFI Aminudin, Aminudin
Farabi Vol 16 No 2 (2019): Farabi
Publisher : Faculty of Ushuluddin & Dakwah, IAIN Sultan Amai Gorontalo, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan library research dengan mengumpulkan data-data baik primer maupun sekunder. Penelitian ini akan mengungkap gagasan pemikiran Islam kontemporer tentang Islam Progresif yang di gagas oleh Omid Safi dan kontribusinya terhadap khazanah pemikiran Islam Kontemporer.  Gagasan yang diusung oleh Islam Progresif, salah satu trend pemikiran Islam, untuk mewujudkan keadilan sosial, keadilan gender, dan pluralisme menjadi gagasan yang harus menggugah kemanusiaan kita sebagai bagian dari umat manusia di seluruh dunia yang berasal dari Nabi Adam As. Tanpa membedakan latar belakang, suku, agama, jenis kelamin dan ras, muslim progresif harus melawan semua ketidakadilan yang ada disekitar kita. Tidak hanya melakukan kritik terhadap ketidakadilan yang dilakukan umat Islam sendiri tapi juga berani mengkritik ketidakadilan yang dilakukan Barat. Disini pentingnya Multiple-kritik yang digagas oleh Islam progresif.   Keyword: Islam Progresif, Omid Safi
PENDIDIKAN KEJIWAAN DAN KESEHATAN MENTAL (PERSPEKTIF FAKHRUDDIN AR-RAZI) Arif, Muhammad
Farabi Vol 16 No 2 (2019): Farabi
Publisher : Faculty of Ushuluddin & Dakwah, IAIN Sultan Amai Gorontalo, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengelaborasi tentang pemikiran Fakhruddin ar-Razi tentang kejiwaan dan kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil temuan menunjukkan bahwa Jiwa menurut Fakhruddin ar-Razi, terbagi tiga: jiwa yang bersifat rasional, jiwa yang bersifat emosional dan kehewanan. Selanjutnya pemikiran al-Razi tentang kesehatan mental Islami adalah: cinta dan asmara, wujub, iri, kemarahan dan dusta, kikir dan tamak. Kesemuanya ini memerlukan terapi Islami untuk penyembuhannya.
STUDI DAKWAH DAN MEDIA DALAM PERSPEKTIF USES AND GRATIFICATION THEORY Thaib, Erwin Jusuf
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dakwah Islamiyah adalah salah satu aspek yang tidak terpisahkan dengan kehidupan umat Islam. Dalam kenyataannya, di mana ada eksistensi umat Islam ada, maka ada pula eksistensi dakwah Islamiyah di tempat itu. Kenyataan ini mutlak harus ada, karena dakwah adalah Islam dan Islam adalah dakwah. Karena pentingnya dakwah Islamiyah bagi kehidupan umat Islam, maka semua potensi yang dimiliki sedapat mungkin untuk dapat menunjang eksistensi dakwah Islamiyah. Dalam kehidupan masyarakat modern, media memainkan peranan penting bagi kehidupan sosial. Media, baik media cetak maupun media elektronik, telah menjadi salah satu kebutuhan dasar bagi masyarakat modern. Itulah sebabnya, media massa -- khususnya media televisi—telah menjadi saluran primer bagi penyebaran dakwah Islamiyah dewasa ini. Begitu tingginya penetrasi media televisi dalam kehidupan modern, maka fenomena ini telah menjadi kajian penting dalam studi ilmu komunikasi khususnya yang berkaitan dengan dengan media komunikasi. Di antara banyak teori komunikasi yang dikembangkan para pakar komunikasi, maka teori uses and gratification yang dicetuskan oleh Elihu Katz, Jay G. Blumlerm dan Michael Gurevitch, banyak dipakai untuk menganalisis relasi antara media massa dan pemirsanya. Dari perspektif teori ini, pemirsa mempunyai kewenangan mutlak untuk menentukan program dakwah di televisi mana yang akan diikutinya sesuai dengan tingkat kepuasan yang ingin dicapainya dari program yang diikutinya. Fakta ini merupakan kontra teori yang menyatakan bahwa media massa yang mendominasi pemirsanya. 
FENOMENA KOMUNITAS BERJILBAB; ANTARA KETAATAN DAN FASHION Pakuna, Hatim Badu
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini adalah respon terhadap fenomena yang akhir-akhir ini hadir di hadapan publik. Adalah dua komunitas berjilbab yang dianggap saling bertentangan. Satu komunitas dengan gerakan membudayakan jilbab fashionable namun tetap tertutup, sementara komunitas kedua melalui media sosial menampilkan cara berjilbab yang juga fashionable namun masih menonjolkan bagian-bagian tubuh tertentu. Tujuan penulisan ini adalah mendeskripsikan kedua fenomena komunitas berjilbab tersebut. Metode penulisan menggunakan pendekatan  fenomenologi dengan landasan Q.S. al-Ahzab: 59 dan Q.S. An-Nur: 31. Merujuk pada sikap Buya Hamka yang bijaksana dan sabar menghadapi wanita yang telah berniat baik untuk menutup aurat, penulis berkesimpulan bahwa fenomena jilboobs community adalah evolusi berjilbab secara syar’i.
SUMBANGSIH ISLAM DALAM MENANGGULANGI KEHAMPAAN SPIRITUAL MASYARAKAT MODERN; TELAAH ATAS PEMIKIRAN TASAWUF SAYED HUSEIN NASR Rusli, Muh.; Rakhmawati, Rakhmawati
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dunia tasawuf terkadang dipandang sebelah mata karena dianggap menjauhi bahkan memusuhi dunia. Namun bagi Sayed Husein Nasr tasawuf merupakan alternatif solusi untuk menjawab tantangan di era modern, orang-orang Barat dan orang-orang Islam yang sudah keracunan modernisme Barat. Mereka secara materi telah mapan namun mengalami kehampaan spiritual akibat pendewaan terhadap materi dan ilmu pengetahuan. Untuk itu, seseorang harus mempunyai keseimbangan antara ilmu dan amal, antara kontemplasi dan aksi. Selanjutnya, problem antar agama dapat diselesaikan lewat pendekatan sufistik, di mana Islam tidak hanya berarti agama yang diwahyukan melalui al-Qur’an kepada Nabi Muhammad, tetapi juga seluruh agama yang autentik.  World of Sufism has sometimes been underestimated because of it away from world and even hostile.Sayed Hussein Nasr stated that Sufism is the one of alternative solution to meet the challenges of the modern era. Western and Moslems havebeen affectedby Western modernism, theyare materially established, but they sufferspiritual emptiness due to the apotheosis of material and science. Therefore, one must have the equilibrium between science and charity, and between contemplation and action. Furthermore, the problem of interfaith can be resolved through sufistic approach in which Islam is not only about religion revealed through the Quran to the Prophet Muhammad, but also Islam is for all of authentic religions.
HUBUNGAN MUSLIM-NON MUSLIM (Membendung Radikalisme, Membangun Inklusivisme) Podungge, Rulyjanto
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika masyarakat berkembang semakin luas dan kebutuhan manusia meningkat, maka hubungan dengan orang lain dengan beragam identitas primordialnya menjadi tidak bisa dihindarkan. Sebagai konsekuensi dari fakta ini adalah kemungkinan munculnya gesekan-gesekan antara berbagai kelompok masyarakat yang berbeda. Ketika menyangkut hubungan dengan penganut agama lain, Islam memberikan rambu-rambu dan batasan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Maka kontroversi seringkali tidak bisa dihindarkan. Isu hubungan dengan orang yang berbeda agama dari kita, atau yang secara mudah sering diistilahkan dengan non-Muslim menjadikan perbedaan pendapat antara berbagai kecenderungan pemikiran dalam Islam. Sebutlah kelompok moderat, kelompok radikal, kelompok liberal, juga kelompok tradisionalis dan kelompok modernis. Tulisan ini menguraikan pola hubungan Muslim-Non-Muslim melalui pendekatan yang lebih moderat dan kontekstual.  
WAJAH REVOLUSI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT SEJARAH Adnan, Adnan
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Atikel ini ingin menelusuri dan mencari jawaban tentang pertanyaan seberapa jauh revolusi  merealisasikan transformasi structural dan cultural. Selain itu dipertanyakan sebarapa besar peranan sentral tokoh-tokoh revolusioner dalam menyusun strategi perjuangannya guna tercapainya kebebasan (freedom) dan kebersamaan? Artikel ini juga ingin menemukan bagaimana pula peran rakyat kecil (wong cilik) atau rakyat kebanyakan (grassroot) dalam revolusi itu, baik yang berdomisili di kota maupun di pedesaan?. Dari beberapa pertanyaan itu dapat ditelusuri bahwa tokoh-tokoh revolusioner sebagai “motor penggerak” revolusi, setidaknya dapat dipetakan ke dalam dua kategori, yaitu pertama, revolusi yang bersifat non-kooperatif radikal, dengan tokohnya Tan Malaka; dan kedua, revolusi yang bersifat kooperatif-moderat, yang tokohnya adalah Soekarno, Hatta dan Syahrir. Pendekatan yang dilancarkan oleh golongan yang pertama lebih memilih perombakan masyarakat secara total dalam segala dimensi kehidupannya yang meliputi politik, ekonomi, social, budaya, sementara golongan yang kedua lebih suka memakai jalur diplomatik dengan tetap mempertahankan hal-hal “warisan lama” yang dipandang masih perlu dilestarikan. Revolusi sebagai sebuah wacana actual di tengah kemelut kebangsaan pasca kemerdekaan pada mulanya hanya terasa di kota-kota pusat pendudukan sekutu. Tidak demikian di pedesaan, Namun karena demikian dahsyatnya “getaran” wacana revolusi tersebut, pada gilirannya desa-desa di pedalaman pun ikut andil di dalam pergolakan-pergolakan local.

Page 1 of 11 | Total Record : 110