cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGRO EKONOMI (JAE) adalah media ilmiah primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian serta informasi bagi pengambil kebijakan, pelaku, dan pemerhati pembangunan pertanian dan perdesaan. JAE diterbitkan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dua nomor dalam setahun, terbit perdana pada Oktober 1981
Arjuna Subject : -
Articles 359 Documents
DAMPAK KEBIJAKAN CUKAI ROKOK TERHADAP DISTRIBUSI SURPLUS EKONOMI INDUSTRI ROKOK DI INDONESIA Suprihanti, Antik; Harianto, nFN; Sinaga, Bonar Marulitua; Kustiari, Reni
Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v37n1.2019.1-23

Abstract

EnglishIndonesian government has applied cigarette excise tax policy on clove cigarette. This policy not only impacted on output (cigarette) market but also on input market (tobacco and clove) and the farmer?s welfare. Clove cigarette include Hand-Rolled Clove Cigarettes (SKT) and Machine-Rolled Clove Cigarettes (SKM) and Klobot Cigarettes (SKB) that have each character. The aim of this research was to analyze the impact of the rise of the cigarette tax on input market and the welfare of tobacco and clove farmer?s in Indonesia. This research used the data series of 1990-2016 with simultaneous equation system, consisted of 36 structural equations and 25 identity equations that estimated used 2SLS (Two-Staged Least Squares) method. The result showed that the rise of cigarette tax caused the decrease of demand and supply of input (tobaco and clove). The rise of cigarette tax in 2017 still gave positive surplus on producer/farmer of tobacco and clove, meanwhile if the tax rising again, it would decrease its surplus. To keep surplus on producer/farmer tobacco and clove, the rising of cigarette tax especially for SKT has to be stopped, meanwhile the rise of SKM can be continued. To anticipated the decrease of input demand of tobacco and clove in the future, the government has to develop alternative crops besides tobacco and develop diversification of clove products such as clove for essential oil, preservatives and others.IndonesianPemerintah Indonesia telah menerapkan kenaikan tarif cukai pada rokok/sigaret kretek. Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada pasar output (rokok) tetapi juga pasar input utama rokok kretek (tembakau dan cengkeh) dan kesejahteraan petani kedua komoditas tersebut. Industri sigaret kretek meliputi Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan rokok Klobot (SKB)yang memiliki kekhasan masing-masing. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dampak kenaikan tarif cukai rokok terhadap kesejahteraan petani tembakau dan cengkeh. Penelitian ini menggunakan data time series tahun 1990-2016 dengan sistem persamaan simultan yang terdiri dari 36 persamaan struktural dan 25 persamaan identitas yang diestimasi menggunakan metode 2SLS (Two-Staged Least Squares). Hasil penelitian menunjukkan kenaikan tarif cukai rokok mengakibatkan penurunan permintaan dan penawaran input (tembakau dan cengkeh). Kenaikan tarif cukai rokok tahun 2017 masih memberikan surplus pada produsen/petani tembakau maupun cengkeh. Namun, jika tarif cukai naik lagi, maka akan menurunkan surplus tersebut. Agar surplus produsen/petani tembakau dan cengkeh tetap positif, maka kebijakan kenaikan tarif cukai untuk SKT tidak perlu dinaikkan lagi sedangkan kenaikan tarif SKM masih dapat dilakukan. Untuk mengantisipasi penurunan permintaan tembakau dan cengkeh di masa yang akan datang, pemerintah harus mengembangkan tanaman alternatif selain tembakau and mengembangkan industri berbahan baku cengkeh seperti industri minyak essential, pengawet dan lainnya.
EFISIENSI TEKNIS USAHA TANI BAWANG PUTIH POLA TUMPANG SARI DI KABUPATEN KARANGANYAR, PROVINSI JAWA TENGAH Rahmawati, Fattiyah; Jamhari, nFN
Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v36n2.2018.%p

Abstract

EnglishConsumption of garlic in Indonesia continues to increase. An effort for increasing production to meet the increasing need is by increasing efficiency. This study was aimed to determine the factors that influence production, the level of technical efficiency, and the factors that affect technical inefficiency in the intercropping garlic farming in Karanganyar Regency. The study was conducted in April 2018. Regional sampling was done using multistage cluster sampling method. Sampling of farmers was done by simple random sampling method, with a total of 60 farmers. Analysis of factors that influence production using the OLS method, technical efficiency using Stochastic Frontier analysis with the MLE method. Results showed that the production of garlic with intercropping pattern in Karanganyar Regency was influenced by the land, the quantity of seeds and liquid pesticides. Garlic farming with intercropping pattern in Karanganyar Regency was not technically efficient. Factors that reduce technical inefficiency were age, farmer experience, and training. Production of garlic in Karanganyar Regency can be increased by increasing land area, increasing the quantity of seeds, and reduce the quantity of liquid pesticides. Technical efficiency can be improved through providing training for farmers.IndonesianKonsumsi bawang putih di Indonesia terus mengalami peningkatan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi guna memenuhi peningkatan kebutuhan tersebut adalah dengan cara meningkatkan efisiensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi produksi, tingkat efisiensi teknis, dan faktor-faktor yang memengaruhi inefisiensi teknis pada usaha tani bawang putih pola tumpang sari di Kabupaten Karanganyar. Penelitian dilakukan pada bulan April 2018. Pengambilan sampel daerah dilakukan dengan metode multistage cluster sampling. Pengambilan sampel petani dilakukan dengan metode simple random sampling, dengan jumlah 60 petani. Analisis faktor yang memengaruhi produksi menggunakan metode OLS, efisiensi teknis menggunakan analisis stochastic frontier dengan metode MLE. Hasil analisis menunjukkan bahwa produksi bawang putih pola tumpang sari di Kabupaten Karanganyar dipengaruhi oleh luas lahan, jumlah benih, dan pestisida cair. Usaha tani bawang putih pola tumpang sari di Kabupaten Karanganyar belum efisien secara teknis. Faktor yang menurunkan inefisiensi teknis adalah umur, pengalaman petani, dan pelatihan. Peningkatan produksi bawang putih di Kabupaten Karanganyar dapat dilakukan dengan penambahan luas lahan, peningkatan penggunaan jumlah benih, dan mengurangi penggunaan pestisida cair. Efisiensi teknis dapat ditingkatkan melalui pemberian pelatihan bagi petani.
IMPACT OF AGRICULTURAL EXTENSION AND RISK PREFERENCE ON FERTILIZER OVERUSE IN RICE Zikria, Roydatul; Damayanti, Arie; Damayanti, Arie
Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v37n1.2019.79-94

Abstract

Fertilizer overuse is expected to increase rice production, yet it may decrease soil fertility in the long term. This study aims to analyse the impact of agricultural extension and risk preference on fertilizer overuse using Patanas Survei in 2010 and 2016. Those effects are estimated with tobit model using 250 kg/ha as left censoring. Risk preference of farm households are estimated with non-parametric model using Just-Pope production function. Marginal effect of fertilizer use on output is estimated with mean production function, while marginal effect of fertilizer use on production risk is estimated with output risk function. The empirical results show that the average of farm household?s risk preference is risk averse. Degree of risk aversion correlates negatively and significantly on fertilizer overuse. If degree of risk aversion increases by one unit then overuse of fertilizer decreases by 0.63 kg/ha. Futhermore this study finds that agricultural extension reduces significantly fertilizer overuse in rice.
DAMPAK ALOKASI BANTUAN MODAL DAN TENAGA KERJA KELUARGA TERHADAP KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI DI NUSA TENGGARA TIMUR Fallo, Ferdy Adif I.; Sinaga, Bonar Marulitua; Hartoyo, Sri; Simatupang, Pantjar
Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v36n2.2018.113-134

Abstract

EnglishEast Nusa Tenggara is the province with the highest poverty prevalence in Indonesia. One of the government's efforts to overcome poverty in the area is the capital assistance program for farm households. This research aimed to analyze the impacts of capital support and household labor allocation on the welfare of farm households in East Nusa Tenggara. The survey for data collection was conducted from in South Central Timor and Kupang Regencies of East Nusa Tenggara Province February to July 2017 with samples of 118 farmer households. Data analysis was conducted by developing an econometric simulation model based on farm-household economic theory. The results showed that increasing capital aid allocation for livestock business decreased the welfare, but increasing investment for livestock business, allocation of capital support for nonfarm business, and allocation of family labor for nonfarm business in single case had an impact on improving the welfare of farmer's household. The best combination consisted of increasing investment for livestock business, allocation of capital support for nonfarm business, and family labor allocation for nonfarm business. Increasing the allocation of family labor for nonfarm business is an important policy because it singly or in combination had an impact on improving the welfare of farm households.IndonesianNusa Tenggara Timur merupakan provinsi dengan prevalensi kemiskinan tertinggi di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan di daerah tersebut adalah program bantuan modal kepada rumah tangga petani. Penelitian bertujuan untuk menganalisis dampak alokasi bantuan modal dan tenaga kerja rumah tangga terhadap kesejahteraan rumah tangga petani. Survei pengumpulan data dilaksanakan di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur pada bulan Februari hingga Juli 2017 dengan sampel sebanyak 118 rumah tangga petani. Analisis dilakukan dengan membangun model simulasi ekonometrik berbasis teori ekonomi rumah tangga petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan alokasi bantuan modal untuk usaha ternak menurunkan kesejahteraan, namun peningkatan investasi untuk usaha ternak, alokasi bantuan modal untuk usaha non pertanian, dan alokasi tenaga kerja keluarga untuk usaha non pertanian secara tunggal berdampak meningkatkan kesejahteraan rumah tangga petani. Kombinasi terbaik ialah kombinasi peningkatan investasi untuk usaha ternak, alokasi bantuan modal untuk usaha nonpertanian, dan alokasi tenaga kerja keluarga untuk usaha nonpertanian. Peningkatan alokasi tenaga kerja keluarga untuk usaha nonpertanian merupakan kebijakan yang cukup penting karena secara tunggal maupun kombinasi berdampak meningkatkan kesejahteraan rumah tangga petani.
PERMINTAAN DAGING SAPI DI PROVINSI JAWA TIMUR Maula, Lia Rohmatul; Ratya Anindita, Ratya Anindita; Syafrial, Syafrial Syafrial
Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v37n1.2019.47-60

Abstract

The agricultural sector as a provider of staple food needs for the community such as animal protein needs found in beef still has many obstacles. One of the obstacles that is often faced is the lack of beef supply. The average growth of beef consumption per year in the period 1996 - 2015 was 4.85 percent. This increase in consumption growth has an impact on the higher price of beef. This study aims to analyze the demand for beef in East Java Province, Indonesia. This study uses Susenas data from the 2016 Central Bureau of Statistics, assuming that the beef demand function uses the Linear Expenditure System (LES) through the Seemingly Unrelated Regression (SUR) method. The results show that if there is an increase in the price of fresh shrimp, kampong chicken and processed meat will reduce the demand for beef. In aggregate, it is explained that beef, fresh shrimp, kampong chicken, and processed meat are elastic to price. Cross elasticity shows that fresh shrimp, kampong chicken and processed meat are substitute commodities of beef. Income elasticity shows that all commodities are normal goods. The government should implement a beef price stabilization policy to safeguard the animal protein needs of the society.
Poverty Mapping And Poverty Analysis In Indonesia Sari, Deffi Ayu Puspito; Kawashima, Shigekazu
Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v28n1.2010.95-111

Abstract

IndonesianTulisan ini menganalisis data-data kemiskinan di Indonesia di tingkat kabupaten dan kota. Pertama, peta kemiskinan dibuat dalam pembagian kabupaten atau kota untuk memberikan gambaran visual tentang kemiskinan. Kedua, menguji hubungan antara kemiskinan berdasarkan konsumsi dan kemiskinan berdasarkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar hidup dengan analisis regresi menggunakan prinsip analisis komponen. Pendekatan ini memperjelas pengaruh tersedianya kebutuhan dasar hidup dan karakteristik kemiskinan lainnya terhadap kemiskinan berdasarkan konsumsi. Persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan, dan Indeks Keparahan Kemiskinan tersebar di seluruh kabupaten dan kota, menunjukkan kecenderungan indeks kemiskinan yang lebih tinggi dan lebih parah di pulau-pulau timur Indonesia dibandingkan daerah lainnya. Tidak hanya pengeluaran untuk makanan, tapi kebutuhan dasar hidup dan sektor kerja juga sangat berhubungan dengan kemiskinan berdasarkan konsumsi. Ketersediaan kamar kecil, akses ke air bersih dan pelayanan kesehatan umum dan pendidikan, yang sering diukur sebagai dimensi kemiskinan berdasarkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar hidup, sangat mempengaruhi kemiskinan berdasarkan konsumsi. Untuk mengurangi tingkat keparahan kemiskinan, akses terhadap air bersih paling penting diantara faktor-faktor dalam kesehatan umum. Faktor pendidikan juga berkaitan dengan Indeks Keparahan Kemiskinan; kelulusan dari sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat atas berbanding terbalik dengan keparahan kemiskinan dan lebih berpengaruh daripada pengeluaran untuk makanan.EnglishThis paper analyzes poverty-related data in Indonesia at regency and city level. First, poverty mapping is carried out at disaggregated levels by regency or city to visually identify the prevalence of poverty. Second, the relationship between consumption-based poverty and capability-based poverty is examined using principal component regression. This approach clarifies the influence of basic needs availability and other poverty characteristics on consumption-based poverty. Poverty rate, poverty gap and severity poverty are scattered in all regencies and cities, showing the tendency that poverty indices are higher and more severe in eastern islands of the country compared to other regions. In addition to food expenditure, the basic needs and working sector are closely related to consumption-based poverty. The toilet availability, access to safe water and public health services and education, often measured as the dimensions of capability based poverty, are very important to have bearing on consumption-based poverty. To reduce severity of poverty, safe water access is especially the most important factor among other public health variables. Severity poverty also turns out to be correlated with education variables. Completion of elementary and higher education is negatively correlated with severity poverty and more important than food expenditures.
Pendugaan Fungsi Penawaran Normatif untuk Komoditas Palawija Berdasarkan Pemanfaatan Pola Tanam Optimal pada Lahan Kering di Lombok Rozi, Fachrur
Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v12n1.1993.1-8

Abstract

The aim of the research is to reveal the opportunity of increasing regional production in Lombok Island by optimal utilization of dry land, as commodities supply alternative of palawija. The survey was done in dryland area in Lombok, during May-August 1992. The analysis was conducted using linier programming. The results showed that design of optimal cropping patterns were able to increase regions production and income. Moreover, by knowing normative supply of the product,  supply of the commodities can be manipulated by using the optimal cropping patterns.
Peran Industri Berbasis Perkebunan dalam Pertumbuhan Ekonomi dan Pemerataan: Pendekatan Sistem Neraca Sosial Ekonomi Susila, Wayan R.; Setiawan, IDM Darma
Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v25n2.2007.125-147

Abstract

EnglishThe economic crisis in Indonesia since 1997 has caused three fundamental problems, namely, economic depression, increasing number of unemployment, and worsening income distribution. To overcome these problems, the development of estate crop-based industries can be one of the realistic alternatives. This study is aimed at analyzing the potential roles of estate crop-based industries in promoting economic growth, employment, income and improvement of income distribution. For simultaneous analysis of these aspects, Social Accounting Matrix with disaggregation of primary and downstream industries of estate crops (Estate-Crop SAM) was applied. The results of this study map the potential roles of estate crop-based industry as a leading sector or an adjusting sector through their effectiveness in promoting economic growth, employment, income, and income distribution based on factorial and household income group. The Estate-Crop SAM can also be used to assess the impact of various policies related to estate crop-based industries on various aspects of Indonesian economy.IndonesianKrisis ekonomi yang terjadi di Indonesia sejak tahun 1997 telah menyebabkan tiga masalah utama, yaitu depresi ekonomi, meningkatnya jumlah pengangguran, dan memburuknya distribusi pendapatan. Untuk mengatasi masalah tersebut, pengembangan industri berbasis perkebunan menjadi salah satu pilihan yang realistis. Sejalan dengan hal ini, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi peran industri berbasis perkebunan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan pendapatan, serta perbaikan distribusi pendapatan.  Agar semua aspek tersebut  dapat dianalisis secara simultan, Sistem Neraca Sosial Ekonomi yang mendisagregasikan industri hulu dan hilir perkebunan (SNSE Perkebunan) akan digunakan dalam studi ini. Hasil studi ini berhasil memetakan potensi peranan industri berbasis perkebunan, baik sebagai leading sector, atau adjusting sector berdasarkan efektivitasnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan, pendapatan, dan perbaikan distribusi pendapatan, berdasarkan pendapatan faktor produksi dan kelompok pendapatan rumah tangga. SNSE tersebut juga dapat digunakan untuk menganalisis dampak dari berbagai kebijakan yang berkaitan dengan industri berbasis perkebunan pada berbagai aspek ekonomi Indonesia.
Identifikasi Ciri Rumah Tangga Defisit Energi Rachmat, Muchjidin; Suryana, Achmad
Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v9n1.1990.12-25

Abstract

EnglishImprovement of energy consumption is one of poverty alleviation efforts and is one of development programs on equity. Even though in aggregate term per capita energy consumption has been achieved, but because of imbalance in regional distribution, households with energy deficit are still exist in each province, ranging from 5.5 percent to 21.1 percent. In term of energy consumption which can be traced through average per capita consumption, ratio of riil per capita consumption to its requirements, and percentage of deficit energy household; households in rural areas are better off than those in urban region. Variables which can be used to identify the deficit energy households are household expenditures, household income, and level of educational attainment of housewife. In rural villages households with energy deficit are characterized by low level of expenditures, agriculture as main income source, and education level of housewife below primary school. In urban area, household deficit energy are those who have low income and work at service sectors. Those households with low level of energy consumption are the right target group of poverty alleviation programs.IndonesianPerbaikan konsumsi energi merupakan upaya penanggulangan kemiskinan sebagai perwujudan pemerataan  pembangunan.  Walaupun  secara  agregat  konsumsi  energi  per  kapita  telah  terpenuhi. Adanya masalah dalam distribusi konsumsi menyebabkan pada tiap propinsi masih terdapat rumah tangga defisit energi yang besarnya antara 5,5 persen sampai 21,1 persen. Dalam konsumsi energi tersebut di pedesaan relatif lebih baik dibanding perkotaan yang terlihat dari besarnya tingkat konsumsi, persentase pemenuhan terhadap kebutuhan dan lebih kecilnya persentase rumah tangga defisit energi. Peubah yang dapat dipakai dalam mengidentifikasi rumah tangga defisit energi adalah tingkat pengeluaran, pendapatan rumah tangga dan pendidikan istri. Di pedesaan rumah tangga defisit energi dicirikan berada pada tingkat pengeluaran rendah, sumber pendapatan sebagian besar di pertanian dan dengan tingkat pendidikan istri dibawah SD. Di perkotaan rumah tangga defisit energi berada pada kelompok pendapatan rendah dan sebagian besar bergerak di sektor jasa. Dalam rangka mengurangi tingkat rumah tangga defisit energi maka perhatian lebih haruslah diarahkan kepada kelompok rumah tangga tersebut sebagai target grup. Pendekatan melalui peningkatan pengetahuan dan kesadaran gizi dari ibu rumah tangga (istri) merupakan langkah yang paling strategis.
Market Performance of the Corn Seed Industry in East Java Sayaka, Bambang
Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v21n1.2003.26-49

Abstract

IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja pasar industri benih jagung di Provinsi Jawa Timur. Dalam hal efisiensi produktif, produsen lokal lebih unggul dari perusahaan multinasional. Walaupun demikian, volume benih jagung yang terjual oleh perusahaan multinasional jauh lebih banyak dibanding produsen lokal. Perusahaan multinasional mampu menghasilkan berbagai varietas benih jagung hibrida, tidak demikian halnya dengan produsen lokal. Produsen lokal maupun perusahaan multinasional mengalami penurunan volume penjualan selama empat tahun terakhir. Pedagang besar-pengecer mempunyai harga beli dan harga jual ang lebih murah dari pedagang pengecer, tetapi memperoleh keuntungan lebih tinggi. Hanya sedikit pedagang besar-pengecer, yang juga sebagai distributor, secara progresif menjual benih jagung. Secara umum, kinerja pasar benih jagung tidak terintegrasi pada tingkat perusahaan ke pedagang besar maupun dari pedagang besar ke pengecer. Hal ini menunjukkan bahwa produsen memberi kebebasan bagi para pedagang untuk menentukan marjin pemasaran. EnglishThis study is aimed at assessing market performance of the corn seed industry in East Java Province. In terms of productive efficiency, the local producers were better off than those of multinationals. Nevertheless, volumes of sales of the multinationals were higher than those of local producers. The multinationals were able to invent hybrid corn varieties, but not the local producers. Both multinationals and local producers experienced declining trend in volumes of sales. The wholesaler-retailers incurred lower buying price and selling price than those of the retailers but got higher profits. Only a few wholesaler-retailers, who were also as distributors, progressively distributed corn seed products. In general, the corn seed market performance was not integrated at both firm-to-wholesaler and wholesaler-to-retailer levels. It indicated that the firms deliberated the traders to determine their marketing margins.

Page 1 of 36 | Total Record : 359


Filter by Year

1981 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi: In Press Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue