cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 181 Documents
Evaluasi Kemampuan Merestorasi Sifat Mandul Jantan pada Beberapa Aksesi Kapas Sulistyowati, Emy; Sumartini, Siwi; Mahfud, Moch.; Abdurrakhman, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan teknologi hibrida menawarkan perbaikan tingkat produktivitas, ketahanan terhadap hamadan kekeringan, serta mutu serat melalui pemanfaatan gen-gen dari kedua tetua potensial. Dalammemproduksi benih varietas kapas hibrida dapat ditempuh dengan dua cara, yaitu secara konvensionaldan dengan me-manfaatkan sifat jantan mandul. Penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi sumberdaya genetik kapas untuk karakter restorer atau kemampuan merestorasi fertilitas pada F1 dilaksanakan diMalang (untuk kegiatan persilangan), dan Bojonegoro (untuk pengujian F1 hasil persilangan) pada tahun2010 dan 2011. Persilangan dilakukan antara galur mandul jantan 06050 BC3/15 X K7 (BC4) sebagai tetuabetina, dengan masing-masing 60 aksesi kapas sebagai tetua jantan pada tahun 2010 dan 2011. F1 hasilpersilangan untuk mendapatkan restorer ditanam di Bojonegoro dalam rancangan acak kelompok diulang2 kali dengan luas masing-masing plot adalah 2 m x 5 m. Pengamatan meliputi persentase fertilitas dari F1,komponen hasil, dan hasil kapas berbiji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama dua tahun pengujiandiperoleh sebelas aksesi kapas yang mampu merestorasi karakter mandul jantan, yaitu 9442, SHR, KPX22, CTX 5, CTX 7, CTX 4, CTX 2, CTX 6, 9445, 9446, dan NFBL 3, namun hanya dua aksesi yang stabilmenunjukkan potensi merestorasi karakter mandul jantan, yaitu SHR dan KPX 22. Produktivitas tertinggidicapai oleh hasil persilangan dengan aksesi SHR, yaitu tetua jantan dengan potensi restorasi 100% yanggalurnya mampu menghasilkan 1.457,5 kg kapas berbiji/ha. Dengan demikian SHR merupakan aksesi yangcukup prospektif untuk digunakan sebagai salah satu tetua jantan dalam perakitan kapas hibrida nasional.
Pemanfaatan Ekstrak Tanaman untuk Atraktan Predator dan Parasitoid Wereng Kapas Nurindah, .; Sunarto, Dwi Adi; Sujak, .; Asbani, Nur; Amir, A.M.
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kendala dalam peningkatan produksi kapas dalam negeri adalah serangan serangga hama. Hama utama tanaman kapas adalah wereng kapas, Amrasca biguttulla. Pengendalian wereng kapas dengan pe-nyemprotan insektisida berakibat pada meningkatnya populasi penggerek buah. Pemanfaatan predator dan parasitoid wereng kapas merupakan solusi pengendalian yang tepat. Penggunaan atraktan untuk mening-katkan populasi predator dan parasitoid pada pertanaman kapas akan meningkatkan peran musuh alami sebagai faktor mortalitas biotik yang efektif. Ekstrak tanaman, terutama yang berupa minyak atsiri, telah banyak digunakan sebagai atraktan musuh alami, tetapi belum banyak yang menggunakannya sebagai atrak-tan musuh alami wereng kapas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ekstrak beberapa tanaman yang diduga dapat berfungsi sebagai atraktan bagi parasitoid telur dan predator wereng kapas di laboratorium dengan pengujian secara olfaktometri dan mengujinya di lapangan dengan menggunakan metode perangkap yang dilengkapi dispenser untuk atraktan. Pengujian di lapangan dilakukan pada pertanaman kapas. Ekstrak tanaman yang diuji adalah daun kapas yang telah terinfestasi oleh A. biguttulla, batang dan daun jagung, dan daun teh hitam (Melalaeuca brachteata) dengan menggunakan pelarut organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri dari ekstrak daun kapas yang terserang A. biguttulla dan daun teh hitam dapat dimanfaatkan sebagai atraktan parasitoid telur wereng kapas. Parasitoid telur menunjukkan respon positif terhadap minyak atsiri dari ekstrak daun kapas yang terserang A. biguttulla dan daun teh hitam dalam uji olfaktometri di laboratorium. Pada uji lapangan, peningkatan populasi parasitoid dengan penam-bahan kedua atraktan tersebut dapat mencapai 176% dibandingkan kontrol. Minyak atsiri dari ekstrak tanaman yang diuji tidak mempunyai pengaruh terhadap predator jenis kumbang kubah, kumbang kembara, kepik mirid, dan sayap jala. ABSTRACTThe Use of Plant Extract for Attractant of Predators and Parasitoids of Cotton LeafhopperCotton production is restricted by pest attack. The key pest of cotton is cotton leafhopper, Amrasca biguttula. Aerial spray to control of this pest caused the increase of bollworm population. Therefore, the use of parasitoids and predators could be a proper method to control the leafhoppers. The use of attractant to in-crease predator and parasitoid population on cotton field would also increase the role of those natural enemies as an effective biotic mortality factor. Plant extracts, especially in the form of essential oils, have been used as attractants for the natural enemies; however attractant for natural enemies of cotton leafhopper has not been intensively developed. Therefore, this research aims were to evaluate some plant extracts that may function as an attractant for egg parasitoid and predators of cotton leafhopper in laboratory tests using olfactometry method, and also to test the effectiveness of the attractant in increasing population of parasi-toids and predators in cotton fields. The plant extracts were of leafhopper-infested-cotton leaves, maize stalks and leaves, and Melalaeuca brachteata leaves, using organic solvents. Results showed that the essential oils of leafhopper-infested-cotton leaves and black-tea tree leaves could be used as an attractant for the hopper egg parasitoids. The parasitoids showed positive response to the essential oils of leafhopper-infested-cotton leaves and black-tea tree leaves in olfactometry tests. The use of those attractants in cotton fields increased parasitoid population by 179% compared to the control. Essential oils of the tested pants did not have any effect on predators, such as ladybird beetles, staphylinid beetles, mirid bugs, as well as lacewings.Keywords: Essential oils, attractant, parasitoid, predator, cotton leafhopper.
Keragaman Pertumbuhan dan Hasil Populasi Tanaman Jarak Pagar IP-3A Nurnasari, Elda; Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Potensi produksi jarak pagar (Jatropha curcas L.) provenan Improved Population (IP) merupakan hasil pre-diksi dari produksi individu tanaman terbaik pada umur satu tahun dari suatu populasi tanaman. Sampai saat ini produksi jarak pagar secara aktual masih jauh lebih rendah dari potensinya. Keragaman tanaman diduga menjadi salah satu penyebab kesenjangan tersebut. Penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi kera-gaman pertanaman IP-3A dilakukan pada Agustus–Desember 2010 di Kebun Percobaan Asembagus, Situ-bondo. Pertanaman IP-3A berumur 2 tahun, baik yang berasal dari benih maupun setek diambil 75 contoh ta-naman untuk diamati pertumbuhan dan produksinya. Data yang diperoleh dianalisis keragamannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman dan produksi biji per tanaman jarak pagar IP-3A, baik yang berasal dari benih maupun setek, sangat beragam. Koefisien keragaman pertumbuhan tanaman yang meliputi tinggi tanaman, diameter kanopi, diameter batang, dan panjang per ruas batang lebih kecil dari 20%, sedangkan jumlah daun, diameter batang utama, panjang batang, volume batang, jumlah ruas ba-tang, dan volume per ruas batang berkisar 20–50%. Koefisien keragaman komponen produksi yaitu jumlah tandan berbuah, jumlah buah per tandan, dan jumlah buah per tanaman berkisar 50−160%. Koefisien kera-gaman produksi biji berkisar 98−160% dengan produksi maksimum sebesar 4,30−8,55 kali produksi rerata-nya. Keragaman produksi biji yang tinggi menyebabkan adanya kesenjangan antara potensi produksi dengan aktualnya.   Growth And Yield Variability of Jatropha IP-3A Plant Population ABSTRACT Potential yield of Improved Population (IP) provenances were predicted from the best yield of individual plants in one year old population. In the field, actual yield of jatropha is lower than its potency. The high va-riability in plant population may cause the divergence of the yields. A research to find out production varia-bility of IP-3A was conducted from August to December 2010 at Asembagus Experimental Station, Situbon-do. Seventy five sample plants were taken from IP-3A plantation aged 2 years from seedling and stem cutting. The sample plants were observed for their growth and yield. Variability analysis was used in this research. The result showed that plant growth and yield of jatropha IP-3A plantation, both from seedling and stem cutting were varied. Coefficient variability of plant growth including plant height, canopy diameter, stem diameter, and stem length per internode was less than 20%, whereas those of number of leaves, main stem diameter, stem length, stem volume, number of stem internodes, and volume of stem internodes ranged from 20−50%. The coefficient variability of yield components, including number of fruit bunches, the number of fruits per bunch, and number of fruit per plant ranged from 50−160%. The coefficient variability of yield ranged from 98–160%, which is 4.30 to 8.55 times of the average yields. The high variability of yield may explain the jatropha yield gap between its potency and actual.    
Tanggapan Fisiologi Tanaman Tembakau Temanggung terhadap Dosis Pupuk Nitrogen serta Kaitannya dengan Hasil dan Mutu Rajangan Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tembakau temanggung merupakan tembakau lokal yang berkadar nikotin tinggi. Ketersediaan hara N dalam tanah dapat mempengaruhi hasil dan kandungan nikotin rajangan kering. Percobaan dilakukan di rumah ka-ca Balittas Malang selama Maret–Agustus 2009. Perlakuan terdiri atas 6 dosis pupuk N (0; 1,62; 3,64; 4,86; 6,48; dan 8,10 g N/tanaman) disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Setiap perlakuan dalam satu ulangan terdiri atas 4 pot dan setiap pot diberi pupuk dasar 2,70 g P2O5 + 1,35 kg pupuk kandang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peubah fisiologi tanaman (kandungan N-daun, klorofil, bobot spesifik daun, laju fotosintesis, respirasi, efisiensi cahaya mereduksi CO2 (EF0), dan koefisien respirasi pemeliharaan daun (KRPD)), hasil rajangan kering, dan kandungan nikotin tembakau temanggung dipengaruhi oleh dosis pu-puk N dengan membentuk kurva kuadratik tertutup, dosis maksimum masing-masing sebesar 7,89; 7,89; 54,75; 9,50; 26,25; 21,50; 10,00; 6,08; dan 6,86 g N/tanaman. Peubah fisiologi tanaman yang paling menen-tukan hasil rajangan kering berturut-turut adalah klorofil, N-daun, laju respirasi, dan bobot spesifik daun. Adapun peubah fisiologi tanaman yang paling menentukan kandungan nikotin berturut-turut adalah fotosin-tesis, KRPD, respirasi, dan kandungan klorofil.   Physiological Responses of Temanggung Tobacco to Dose of Nitrogen Fertilizer and Its Relationship with Dry Slice Yield and Nicotine Content ABSTRACT   Temanggung tobacco is a local tobacco, with high nicotine content. Nitrogen available in soil affects dry sliced yield and nicotine content. The experiment was conducted in glasshouse of IToFCRI Malang from March–August 2009. The treatment consist of six levels of N fertilizer (0, 1.62, 3.64, 4.86, 6.48, and 8.10 g N/plant), were arranged in randomized block design with three replications. Every threatment in one repli-cation received 2.70 g P2O5 + 1.35 kg manure. The results showed that physiological plant parameters (N-leaf, chlorophyll content, specific leaf weight, photosynthesis rate, respiration rate, light efficiency to CO2 re-duction (EF0), and coefficient of leaf maintenance respiration (CLMR)), dry slice yield, and nicotine content were affected by N rates. The response of these parameters on N fertilizer were expressed by closed qua-dratic curves, which maximum rate of N fertilizer were 7.89, 7.89, 54.75, 9.50, 26.25, 21.50, 10.00, 6.08, and 6.86 g N/plant respectively.  Dry sliced yield were affected by chlorophyll content, respiration rate, and specific leaf weight. Nicotine content were affected by photosynthesis rate, CLMR, respiration rate, and chlo-rophyll content.    
Potensi Tembakau Virginia Flue Cured Varietas NC 100 di Lombok Suwarso, .; Herwati, Anik; Murdiyati, A.S; S., Deciyanto; Santoso, Imam; Haryanto, Dian; Yasin, M.; Pambudi, Djadmiko
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 1, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tembakau virginia fc varietas NC 100 diimpor dari ProfiGen do Brasil Ltda. dan diuji potensi hasil dan mutunyadi Pringga Jurang, Kopang Rembiga, dan Semaya, Lombok pada musim tembakau tahun 2006. Sebagaipembanding digunakan PVH 09. Pengujian dilakukan pada dua waktu tanam, yaitu akhir bulan Juli dan akhirbulan Agustus 2006. Untuk membandingkan kedua varietas, pada setiap unit pengujian digunakan uji t.Hasil pengujian menunjukkan NC 100 dapat menghasilkan 1,932 ton/ha kerosok, indeks mutu 48,08, danindeks tanaman 94,01. Produktivitas PVH 09 1,861 ton/ha kerosok dengan indeks mutu dan indeks tanaman45,08 dan 83,97. Ketahanan lapangan NC 100 terhadap penyakit lanas dan layu bakteri lebih rendah dibandingPVH 09, tetapi NC 100 lebih tahan terhadap TMV dan TEV dibanding PVH 09.
Tanggapan Partisi Karbohidrat Tembakau Temanggung Terhadap Dosis Pupuk Nitrogen dan Kaitannya dengan Hasil dan Kadar Nikotin Rajangan Kering Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tanaman tembakau menentukan hasil dan kadar nikotin rajangan ke-ring. Kuantitas partisi karbohidrat ke masing-masing organ tanaman dipengaruhi oleh genetik tanaman dan kondisi lingkungan tumbuh, termasuk dosis pupuk N yang diberikan. Penelitian yang bertujuan untuk me-ngetahui tanggapan partisi karbohidrat tembakau temanggung terhadap dosis pupuk N dan kaitannya dengan produksi dan kadar nikotin dilakukan di rumah kaca Balittas, Malang dari Maret–Agustus 2009. Perlakuan 6 dosis pupuk N (0; 1,62; 3,64; 4,86; 6,48; dan 8,10 g N/tanaman atau setara dengan 0, 30, 60, 90, 120, dan 150 kg N/ha) disusun dalam rancangan acak kelompok tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk tanaman selama 0–60 hari setelah tanam (hst) mengalami penurunan dan selama 60 hst–panen akhir mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan dosis pupuk N, demikian pula sebaliknya untuk organ akar. Dalam tajuk tanaman, partisi karbohidrat untuk batang selama 0–30 hst mengalami peningkatan dan selama 45 hst–panen akhir mengalami penurunan seiring dengan peningkatan dosis pupuk N. Hal sebaliknya terjadi pada organ daun. Adapun partisi karbohidrat untuk pertumbuhan bunga dan tunas samping mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan dosis pupuk N. Dalam akar, partisi karbohidrat untuk pembentukan jaringan akar mengalami penurunan selama tanam–panen akhir seiring dengan peningkatan dosis pupuk N dan hal sebaliknya terjadi pada pembentukan senyawa nikotin. Partisi karbohidrat untuk pertumbuhan organ tanaman yang mempengaruhi hasil rajangan kering adalah partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk selama 0–30 hst dan 60 hst–panen akhir, batang selama 0–30 hst, daun selama 45 hst–panen akhir, dan pembentukan nikotin selama 45–60 hst. Adapun partisi karbohidrat yang mempengaruhi kadar nikotin adalah partisi karbohidrat untuk pembentukan nikotin selama 0–30 hst. Carbohydrate partitioning for plant growth determines dry slice yield and nicotine content of temanggung tobacco. Quantity of carbohydrate partitioning of each plant organs is influenced by genetic and environ-ment, including the N fertilizer. The research aims to determine the carbohydrate partitioning responses of temanggung tobacco to N fertilizer and their correlation with dry slice yield and nicotine content was conducted in the greenhouse of IToFCRI, Malang from March to August 2009. Treatment of 6 doses of fertilizer N (0, 1.62, 3.64, 4.86, 6.48, and 8.10 g N/plant, equivalent to 0, 30, 60, 90, 120, and 150 kg N/ha) arranged in a randomized block design and three replications. The results showed that carbohydrate partitioning of shoot growth during 0–60 days after planting (dap) decreased and during 60 dap–the end harvesting increased with increasing doses of fertilizer N, and vice versa for the root organs. In the shoot, carbohydrate partitioning of the stem during 0–30 dap increased and during 45 dap–the end harvesting decreased with increasing doses of fertilizer N. The opposite occurs in leaf organs. The carbohydrate partitioning of flower and sucker increased with increasing doses of fertilizer N. In root organs, carbohydrate partitioning to the formation of root tissue decreased during planting–the end harvesting with increasing doses of fertilizer N and the opposite occured in the formation of nicotine compounds. Carbohydrate partitioning to plant growth occured that influence dry slice yield were carbohydrate partitioning to shoot during 0–30 dap and 60 dap–the end harvesting, the stem during 0–30 dap, the leaf during 45 dap–the end harvesting, and the formation of nicotine during 45–60 dap. Carbohydrate partitioning to plant growth that affect nicotine levels was carbohydrate partitioning to the formation of nicotine during 0–30 dap.
Pengujian Efektivitas Penggunaan Pupuk ZK terhadap Hasil dan Mutu Tembakau Madura Murdiyati, A.S; Herwati, Anik; Suwarso, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 1, No 1 (2009): April 2009
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tembakau madura merupakan bahan baku rokok keretek. Tembakau ini berkembang utamanya di KabupatenPamekasan dan Sumenep, kemudian meluas sampai ke Kabupaten Sampang. Salah satu permasalahanyang dihadapi adalah status kalium (K) tanah di Madura umumnya rendah sampai sedang, dan gejala kekahatan(kekurangan) akan kalium ini sudah terdeteksi sejak tahun 1989. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahuiefektivitas pemberian pupuk ZK terhadap produksi dan mutu tembakau madura di lahan petani. Pengujiandilakukan pada 22 unit lahan petani di Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep. Perlakuanadalah pemupukan dengan 100 kg ZK per hektar. Sebagai kontrol adalah 22 unit lahan petani yang tidakmenggunakan pupuk ZK. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa pemberian 100 kg ZK per hektar padatembakau madura dapat meningkatkan indeks mutu 19,3%, harga tembakau Rp4.019,00/kg (19,4%), indekstanaman 27,3% dan penerimaan petani Rp2.267.818,00/ha (18,4%). Ratio tambahan keuntungan terhadaptambahan biaya dengan penggunaan pupuk ZK 100 kg per hektar adalah 1,57.
Pengaruh Inkubasi Bahan Organik yang Diperkaya dengan Mimba Terhadap Keparahan Penyakit Rebah Kecambah Yulianti, Titiek; Suhara, Cece; Hidayah, Nurul
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit rebah kecambah yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani Kühn merupakan salah satu penyakit me-rugikan pada tanaman kapas. Jamur ini dapat bertahan sebagai saprofit di tanah dengan bahan organik se-bagai sumber energinya, sehingga keberadaan bahan organik terkadang dapat meningkatkan populasi R. solani meskipun aktivitas mikroba di sekitarnya juga meningkat. Namun penambahan bahan organik yang mengan-dung senyawa fungisidal seperti mimba diharapkan mampu menekan populasi R. solani. Penelitian ini ber-tujuan mengevaluasi pengaruh inkubasi bahan organik yang berasal dari pupuk kandang atau serbuk rajungan yang diperkaya dengan mimba terhadap keparahan penyakit rebah kecambah akibat R. solani. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat yang disusun berdasarkan rancangan faktorial dalam kelompok dengan tiga ulangan yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah sumber bahan organik yang berasal dari (1) pupuk kandang ayam (PKA) atau (2) sapi (PKS) atau (3) serbuk kulit rajungan (SKR) diperkaya dengan serbuk biji mimba (SBM) dengan perbandingan 3:1. Bahan organik kemudian dicampur dengan tanah berpasir dengan perbandingan 9:1 (b/b), sebagai kontrol adalah tanah ber-pasir tanpa bahan organik. Faktor kedua adalah masa inkubasi bahan organik yang terdiri atas 1, 2, dan 3 bulan. Satu unit perlakuan adalah satu bak plastik berisi 5 kg tanah yang ditanami 25 biji kapas. Inokulasi 5 biji kapas yang terinfestasi R. solani ke dalam tanah dilakukan bersamaan dengan aplikasi bahan organik. Keparahan penyakit rebah kecambah dihitung pada hari ketujuh dan ke-14 setelah tanam dan populasi mikroba di tanah (bakteri, aktinomisetes, dan jamur) dihitung pada 1, 2, dan 3 bulan setelah aplikasi bahan organik. Hasil penelitian menunjukkan inkubasi PKA+SBM atau PKS+SBM selama 2–3 bulan dapat mengu-rangi infeksi R. solani dan kejadian penyakit rebah kecambah pada tanaman kapas yang disebabkan oleh R. solani karena meningkatnya populasi mikroorganisme (jamur, bakteri, dan aktinomisetes). Namun, penam-bahan SKR+SBM baik diinkubasi 1, 2, maupun 3 bulan belum meningkatkan populasi mikroba secara nyata dan tidak dapat mengurangi keparahan penyakit. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin lama masa inkubasi, dekomposisi bahan organik yang berasal dari PKA atau PKS+SBM menjadi lebih sempurna. Kondisi tersebut dapat menekan kejadian penyakit rebah kecambah melalui penekanan populasi R. solani akibat peningkatan populasi mikroba tanah. Dengan demikian, penambahan PKA+SBM atau PKS+SBM dapat digunakan untuk mengendalikan R. solani asalkan sudah diinkubasi 2–3 bulan sebelum ditanami kapas. Damping off caused by Rhizoctonia solani Kühn is an important disease on cotton. The fungus survives as a saprophyte in soil with organic matter as its source of energy. Hence, the presence of organic matter could increase population of R. solani instead of the soil microbial activities in the vicinity. And yet, addition of organic matter with fungicidal activity such as neem was expected decrease population of R. solani. This study aimed to determine the effect of incubation period of some organic matters (farmyard manure or crab shell enriched with neem seed powder) on severity of damping off of cotton caused by R. solani. The organic matter was mixed with sandy soil at 9:1 (w/w). The test was arranged in factorial blocked design with three replicates. The first factor was source of organic matters i.e: (1) chicken manure: neem seed powder (nsp) 3:1; (2) cow manure: (nsp) 3:1; (3) crab shell powder: (nsp) 3:1; and (4) sandy soil without organic matter. The second factor was incubation period of the organic matter before cotton sowing (1, 2, and 3 months). Inoculation of five R. solani infested cotton seeds was done along with incorporation of organic matter. Damping off severity was counted at 7 and 14 days after sowing; population of soil microorganisms (bacteria, actino-mycetes, and fungi) was estimated 0, 1, 2, and 3 months. Incubation chicken manure+nsp or cow manure+ nsp for 2–3 months reduced damping off severity due to R. solani infection since population of microor-ganisms (fungi, bacteria, and actinomycetes) increased. However, addition of crab shell+nsp incubated for 1, 2, or 3 months did not increase population of soil mikrobes significantly and did not reduce disease severity. This result of this study indicated that the more duration period of incubation, the more farmyard manure decomposed hence, damping off severity declined through reduction of population of R. solani due to increasing population of soil microbes. So, addition of farmyard manure could control R. solani as long as it has been incubated for at least 2–3 months before sowing.
Potensi Pemanfaatan Limbah Tebu sebagai Pakan Fermentasi Probiotik Khuluq, Ahmad Dhiaul
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program swasembada gula 2014 memberikan dampak perluasan area pertanaman tebu. Pada tahun 2010 luas areal tebu telah mencapai 418.259 ha dengan produksi tebu nasional 34.218.549 ton, sehingga diha-silkan limbah daun tebu dan bagas sebanyak 16,7 juta ton yang sangat potensial untuk pakan ternak. Ino-vasi teknologi dibutuhkan dalam peningkatan kandungan nutrisi limbah tebu yang masih rendah. Pembuatan pakan fermentasi probiotik dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan nutrisi dan daya cerna pakan. De-gradasi senyawa organik dapat dilakukan dengan bantuan bakteri selulolitik, lignolitik, dan hemiselulolitik. Mikroba yang dapat dimanfaatkan dalam pakan fermentasi probiotik meliputi jamur (Aspergillus niger, Pha-nerochaete chrysosporium), khamir (Saccharomyces cerevisieae), dan bakteri (Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Streptococcus).Sugar self-sufficiency programs in 2014 impact the extension of sugarcane planting area. In 2010, sugarcane area have reached 418,259 ha with a nation production of 34,218,549 tons of sugarcane, so that the result-ing waste sugarcane leaves and bagasse as many as 16.7 million tons with huge potential for livestock feed. Technological innovation is needed in improving the nutrition content of low sugarcane waste. Preparation of feed probiotics fermentation may be an alternative to improve the nutrients and digestibility of feed. Degra-dation of organic compounds can be done by cellulolytic, lignolitic, and hemicelulolitic bacteria. Microbes that can be utilized in feed probiotics fermentation include fungi (Aspergillus niger, Phanerochaete chrysospo-rium), yeast (Saccharomyces cerevisiae), and bacteria (Lactobacillus, Bifidobacterium, and Streptococcus).
Keefektifan Kalsium Polisulfida terhadap Rhizoctonia solani dan Rhizoctonia bataticola secara In Vitro Hidayah, Nurul; Wijayanti, Kristiana Sri; Asbani, Nur
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rhizoctonia solani dan R. bataticola merupakan jamur patogen pada tanaman kapas yang sulit dikendalikan, karena dapat menghasilkan sklerosia sebagai struktur istirahatnya di dalam tanah meskipun tidak ada inang. Perlindungan tanaman sejak awal perlu dilakukan untuk melindungi dari serangan patogen tersebut. Pengguna-an kalsium polisulfida yang merupakan pestisida ramah lingkungan dapat menjadi alternatif untuk mengenda-likan penyakit yang diakibatkan kedua jamur tersebut. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi kemampuan kalsium polisulfida dalam menghambat pertumbuhan jamur R. solani dan R. bataticola secara in vitro. Tu-juh level konsentrasi kalsium polisulfida yakni 0% (kontrol); 0,5%; 1%; 1,5%; 2%; 2,5%; dan 3% masing-masing dituang ke dalam cawan petri kemudian ditambahkan dengan 10 ml media PDA (Potato Dextrose Agar). Inokulum R. solani dan R. bataticola masing-masing secara terpisah diinokulasikan setelah media pa-dat dan diinkubasi pada suhu kamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara in vitro, kalsium polisulfida hanya mampu menghambat pertumbuhan miselia jamur R. solani dan R. bataticola sampai dengan hari kedua setelah perlakuan. Setelah itu persentase penghambatannya berangsur-angsur menurun. Both of Rhizoctonia solani and R. bataticola are the difficult fungal pathogens to control since they can pro-duce sclerotia as the resting spore in the soil even though there is no host. An early plant protection is im-portant to defend from the pathogen infection. The use of calcium polysulfide, an environmentally friendly pesticide, could be an alternative method to control diseases caused by both of them. The objective of this research was to identify the potency of calcium polysulfide in inhibiting of R. solani and R. bataticola growth in vitro. There were seven level of concentration of calcium polysulphide, ie. 0% (control), 0.5%, 1%, 1.5%, 2%, 2.5%, and 3%, were poured onto petridish and added by PDA medium. R. solani and R. bataticola inocula were inoculated onto agar plate separately and incubated in room temperature. The result indicated that calcium polysulfide could inhibit the growth of R. solani and R. bataticola in vitro until two days after inoculation (dai), after that its capability was decreased slowly.

Page 1 of 19 | Total Record : 181