cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Arjuna Subject : -
Articles 188 Documents
The potency of Plant Growth-Promoting Rhizobacteria as Biological Controller Agent of Estate Crops Diseases in The Environmentally Friendly TOMBE, MESAK
Perspektif Vol 12, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v12n2.2013.%p

Abstract

Estate crops is one of the foreign exchange producers that can be relied on in the globalization era. Therefore the production of estate crops process requires means of production that is efficient and environmentally friendly to raise the competitiveness in the global market. Plant disease control by using biological  controlle agent such as PGPR is necessary to be utilized in the estate crops enterprise that is environmentally friendly and sustainable. Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR ) is a bacterium that lives in the root and can produce antibiotic, as competitor, induce plant resistance to control pathogenic disease and pest and can secrete useful compounds  for plant growth. PGPR  user can reduce the utization of synthetic pesticide and inorganic fertilizer. The application of PGPR to control diseases in the estate crops such as pepper, tea, tobacco, and vanilla  effective to control the main pathogens such as Phytophthora capsici, Phytophthora nicotianae,Fusarium oxysporum, Pseudomonas solanacerum, Rigidoporus lignosis, Exobasidium vexans,Tobacco Mosaic Virus and nematodes. PGPR has the potency to reduce the pesticide utilization upto 50% and in the organic cultivation. PGPR has been published could complety replace the pesticide utilization especially if it is used continuously. Indonesia is the second biggest country in the biological resources including PGPR. This potency is necessary to be developed and utilized to build the estate crops that is environmentally friendly and suatainable. Key words : PGPR, biological control, environmentally friendly, induce resistance.
PROSPECT OF ESSENTIAL OILS DEVELOPED AS BOTANICAL PESTICIDES HARTATI, SRI YUNI
Perspektif Vol 11, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v11n1.2012.%p

Abstract

Some essential oils exhibit biological activities against microbes, insect pests, as well as vectors pathogens of human, animals, and plants. The properties of essential oils have been exploited and their products have been commercialized and widely used especially in food industries, such as additives and preservatives. Essential oils have a great potential for botanical pesticides, since their biological activities, effectivity, compatibility, target organisms, and environmentally-friendly. Some essential oil-base pesticides have been produced and widely used to control microbial pathogens, insect pests, and vector pathogens in the environment of houses, glass houses, and veteriner. The Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of most essential oil-based pesticides are generally low. In the other hand, they are also compatible with other control measures and produce free residues of agricultural products. However, essential oil-base pesticides have some barriers, as well as other botanical pesticides, especially in their stability and effectivity. In addition commercializing essential oil-based pesticides is limited, such as, in the scarcity of the row materials, there is a need for chemical standardization and quality control, and  difficulties in registration. If those barriers and constrains could be solved, essential oils would have a great potential to be developed in commercial scale. The development of essential oil-base pesticides in industrial and commercial scale hopefully would increase farmers income and devisa as well to reduce the use of synthetical pesticides, therefore environmental disasters  would be reduced. Key words: Essential oil, biological activity, microbes, insects, botanical pesticide
PERBAIKAN BIOPROSES UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI BIOETANOL DARI MOLASE TEBU / Bioprocess Improvement for Enhanching Bioethanol Production of Sugarcane Molase Nugraheni, Suminar Diyah; Mastur, Mastur
Perspektif Vol 16, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n2.2017.69-79

Abstract

ABSTRAK Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang strategis untuk dikembangkan. Salah satu substrat yang menjanjikan untuk digunakan adalah molase.  Molase merupakan hasil samping industri gula kristal tebu yang masih  mengandung gula yaitu sekitar 45-54,6%.  Bioetanol dari molase tebu  berpotensi untuk dikembangkan karena sangat menguntungkan, pasokan cukup besar, tersedianya teknologi proses, serta tidak bersaing dengan pangan. Tulisan ini mengulas hasil-hasil penelitian dan implikasinya tentang bahan baku, proses, lingkungan yang berpengaruh serta strategi untuk meningkatkan produktivitas bioetanol dari molase tebu melalui rekayasa proses fermentasi. Pada pembuatan etanol, fermentasi merupakan proses yang memegang peranan penting.  Pengaturan lingkungan fermentasi seperti suhu, pH, dan tekanan berpengaruh terhadap bioproses dalam fermentasi.  Begitu pula penambahan bahan suplemen seperti gula, garam, dan ion logam menurut jenis dan konsentrasi yang tepat juga dapat mengoptimalkan proses fermentasi.  Selain pengelolaan lingkungan dan penambahan bahan suplemen, strategi untuk peningkatan produktivitas bioetanol dari molase dapat dilakukan dengan: 1) penggunaan mikrobia selain Saccharomyces cerevisiae; 2) pretreatment; dan 3) metode fermentasi kontinyu. Penggunaan mikrobia selain Saccharomyces cerevisiae, seperti Zymomonas mobilis dapat meningkatkan produktivitas etanol hingga 55,8 g/L atau 27,9% dari total gula reduksi.  Perlakuan pretreatment dapat meningkatkan produktivitas mikrobia dalam mengkonversi gula menjadi etanol, sedangkan penggunaan metode fermentasi secara kontinyu dapat meningkatkan produktivitas sebesar + 4.75 g/L/jam.  ABSTRACT Bioethanol is one of strategic alternative fuel to develop.  One of substrate that promises to be used is molasses. Molasses is by-product of sugar industry which contain of sugar about 45-54,6%. Bioethanol from sugarcane molase is necessary to develope because it is very profitable, large supply, availability technology, and no-competion to  food.  This paper was aimed to reviews some research results and their implications on raw materials, processes, advanced environments and strategies to increas bioethanol productivity of molasses through the fermentation process engineering. In the manufacture of ethanol, fermentation is an important holding process.  In ethanol production, fermentation plays an important role.  Fermentation environments arragement such as temperature, pH, and pressure can effect on bioprocess of fermentation. Similarly, the addition of supplemental ingredients such as sugar, salt, and metal ions by appropriate type and concentration can also optimize the fermentation process. In addition to environmental arrangement and supplemental adding, strategies to improve bioethanol productivity of molasses can be accomplished by 1) the use of microbes other than Saccharomyces cerevisiae; 2) pretreatment; and 3) continuous fermentation method. The use of microbes other than Saccharomyces cerevisiae, such as Zymomonas mobilis can increase ethanol productivity up to 55.8 g / L or 27.9% of total sugar reduction.  Pretreatment can increase microbial productivity in converting sugar to ethanol, while continuous use of fermentation method can increase productivity by + 4.75 g / L / hr. 
Pengembangan Kapas Genjah Tahan Hama di Wilayah Kering MARDJONO, RUSIM
Perspektif Vol 1, No 1 (2002): Juni 2002
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v1n1.2002.33-40

Abstract

Areal pengembangan kapas di Indonesia seperi Jawa Timur, Jawa Tengah, NTB, NTT, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara sering mengalami hambatan, karena rendahnya produkivitas. Hal ini karena kapas daerah tersebut ditanam di tadah hujan yang memerlukan adanya toleransi yang inggi terhadap keterbatasan air, dan sering terjadi serangan hama, terutama hama Sundapteryx, Helicoverpa dan Pectinophora. Untuk itu diperlukan adanya varietas kapas yang berumur genjah dan tahan hama. Dai hasil persilangan tahun 1991 dan 1992, diperoleh 10 galur harapan dengan potensi produksi antara 2.2 - 3.38 ton/ha kapas berbiji, umur 115 -120 hari, toleran terhadap Sundapteryx, mutu serat tinggi sesuai standar. Pada pengujian di dua lokasi diperoleh 4 galur harapan idak berbeda dengan Kanesia 7. Peluang pengembangan kapas genjah di wilayah kering seperi daerah NTB, NTT, Sulsel, Sultra, dan Jawa Timur dengan bulan basah (>100 mm) antara 2.5 - 3 bulan cukup luas. Pengembangan kapas genjah dapat dilakukan dengan pola tanam monokultur populasi antara 60 000 -80 0 00 tanaman/ha. Apabila ditanam oleh petani diharapkan paling sedikit akan memperoleh 60 -70% (panen I), sehingga petani akan menghasilkan 1 440 - 1 640 kg/ ha atau memperoleh pendapatan sekitar Rp 3 024 000 - Rp 3 444 000/ ha.Kata kunci : Gossypium hirsutum, galur harapan, kapas genjah, tahan hama, wilayah kering
Perakitan Kelapa Hibrida Intervarietas dan Pengembangannya di Indonesia TENDA, ELSJE T.
Perspektif Vol 3, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v3n2.2004.35-45

Abstract

Perakitan kelapa hibrida intervarietas oleh para pemulia kelapa di Indonesia ditujukan untuk mendapatkan berbagai jenis kelapa yang cepat berbuah, produksi tinggi, medium input, tahan hama dan penyakit tertentu, spesifik lokasi, dan sesuai kebutuhan konsumen. Beberapa jenis kelapa hibrida potensial yang telah dihasilkan oleh Balitka adalah Kelapa Hibrida Dalam x Dalam yaitu: KB-1, 2, 3, dan 4 serta Kelapa Hibrida Genjah x Dalam yaitu: KHINA-1, 2, dan 3 yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian tahun 1984. Di samping itu beberapa jenis Kelapa Hibrida Genjah x Dalam yang telah diuji yaitu: kelapa hibrida yang sesuai lahan kering iklim basah GRA x DMT, GKB x DMT, GKN x DTE, dan GKB x DTE, produksi sekitar 3 ton kopra/ha/tahun dengan medium input, kelapa hibrida toleran pasang surut yaitu GSK x DRU, GTT x DRU, dan GKN x DRU. Kelapa hibrida resisten terhadap penyakit busuk pucuk dan gugur buah sebanyak 25 jenis. Penyebaran Kelapa Hibrida PB-121 dan NIWA telah mencapai kurang lebih 244.000 ha, tapi produksinya tidak optimal. Permasalahan ditemui dalam pengembangan kelapa hibrida tersebut antara lain: membutuhkan input tinggi, peka terhadap penyakit busuk pucuk dan gugur buah, ukuran buah kecil sehingga tidak disukai konsumen terutama pabrikan. Ke depan pengembangan Kelapa Hibrida Genjah x Dalam masih diperlukan untuk mempercepat peningkatan produktivitas kelapa. Konsep yang ditawarkan adalah menggunakan kelapa hibrida lokal yang cepat berbuah dan produksi tinggi, medium input, ukuran buah sedang sampai besar, resisten terhadap penyakit busuk pucuk dan gugur buah, serta spesifik lokasi.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucifera L., kelapa hibrida, pengembangan. ABSTRACT The Coconut Hybrid from Intervarieties Hybridization and its Development in IndonesiaThe objective of coconut intervarities hybridization in Indonesia is to find out some coconut accessions which are early bearing, high production, medium input, resistant to pest and diseases, spesific location , and suitable with consumer needs. Some of potential coconut hybrids produced by ICOPRI, such as Tall x Tall hybrids namely KB-1,2,3,4 and coconut hybrid Dwarf x Tall namely KHINA 1, 2, and 3 were released by the Minister of Agriculture in 1984. Moreover, some of Dwarf x Tall hybrids which were suitable for dry area and wet climate had been tested, there were GRA x DMT, GKB X DMT, GKN x DTE, and GKB X DTE. The production of those hybrids were approximately 3 tonnes copra/hectar/year with medium input. Coconut hybrids wich were tolerant to swampy area were GSK x DRU, GTT x DRU, and GKN X DRU, and there were also 25 coconut hybrids which were resistant to bud rot and nut fall diseases. PB-121 and NIWA hybrids were planted around 244,000 hectars, but the productions were not optimal. The problems faced in the field were that these hybrids need high input, sensitive to bud rot and nut fall diseases, and nut size was small so that it was not accepted by the consumers especially coconut factories. In the future, the development of coconut hybrid Dwarf x Tall is still needed to accelerate increasing of coconut productivity. The consept proposed for the development is using local coconut hybrids wich have characteristics early bearing, high production, medium input, medium to big size of nuts, resistant to bud rot and nut fall diseases and spesific location.Key words : Coconut, Cocos nucifera L., coconut hybrid, development
STRATEGI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN MENGHADAPI DINAMIKA PERKEMBANGAN LADA DUNIA / Research and Development Strategy to Face World Dynamics of Development of Pepper Rosman, Rosihan
Perspektif Vol 15, No 1 (2016): Juni, 2016
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v15n1.2016.11-17

Abstract

Indonesia is one of the world’s main - pepper producers. Now days, Indonesian pepper experienced a fairly strong competition from other countries. Problem arising to day is low productivity and quality. Productivity of Indonesia pepper below 1000 kg/ha, whereas other countries have more than 2000 kg/ha. Low quality due to processing methods are still tradisional. Low productivity because many older plants, damaged, pests, and diseases, and lack of maintenance. To face the dynamic development of the world pepper, needed efforts to increase production, productivity and quality, so that Indonesia can improve the competitiveness in the international market. Increasing of production and quality can do the improvement of cultivation technology and post harvest. As for the necessary policy are (1) establish of research and development programs of a more site-specific and based on agro-ecological conditions, especially physical, chemical and biological characterization of soil and climate of development region, and (2) socialization result of the research and inform pepper dynamic development in the field.
Potensi Buah Kelapa Muda Untuk Kesehatan dan Pengolahannya BARLINA, RINDENGAN
Perspektif Vol 3, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v3n2.2004.46-60

Abstract

Buah kelapa muda merupakan salah satu produk pertanian yang bernilai ekonomi tinggi. Air kelapa mengandung bermacam-macam vitamin dan mineral dan gula sehingga dapat dikategorikan sebagai minuman ringan yang bergizi. Pemanfaatan buah kelapa muda harus diikuti dengan penanganan setelah panen, seperti pengawetan, pengemasan dan penyimpanan karena buah mudah rusak. Beberapa hasil penelitian untuk mempertahankan mutu buah kelapa muda, baik dalam bentuk buah utuh atau sebagian sabut dikupas, serta pengolahan daging dan air buah kelapa menjadi berbagai produk, telah dilaporkan. Disamping untuk mempertahankan mutu, diharapkan dengan diolah menjadi produk baru, dapat diperoleh nilai tambah untuk menunjang peningkatan pendapatan petani. Hasil-hasil penelitian yang sudah diperoleh diharapkan mudah diaplikasikan kepada petani ataupun industri rumah tangga yang memanfaatkan bahan baku kelapa. Peluang dalam pengembangannya, tentu saja dipengaruhi oleh ketersediaan sumber bahan baku yang bermutu, modal, pemasaran, dan SDM. Faktor-faktor tersebut sangat menentukan dalam upaya mencapai dampak yang diharapkan seperti terciptanya lapangan kerja, peningkatan pendapatan petani, peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat.Kata kunci : Kelapa, Cocos nucivera L., kelapa muda, nilai gizi, kesehatan, pengolahan ABSTRACT Potency of tender coconut for health and its processingTender coconut fruit is an agricultural product which has high value. Coconut water contains various kinds of vitamins, minerals, and sugar, so that it can be classified as nutritious soft drink. Since the fruit is easily decayed, picking up the young fruits should be followed by post harvest management, such as preservation, packing and storage. Some research activities have been conducted to maintain tender coconut quality either in the whole fruit or in the fruit with some parts of the husk peeled; and processing tender coconut meat and coconut water into various kinds of products. Beside that, processing tender coconut to new product will improve the farmers’ income. The techniques are expected to be easily applied by the farmers or home industry using coconut as raw material. The opportunity for developing them was affected by the availability of qualified raw materials, capital, market and skill. These factors strongly influenced the expected impacts like creating job opportunity, improving farmers’ income, improving nutrition and public health.Key words : Coconut, Cocos nucifera L., tender coconut, potency, nutrition, health, processing
TANTANGAN DAN KESIAPAN TEKNOLOGI PENYEDIAAN BAHAN TANAM MENDUKUNG PENINGKATAN PRODUKTIVITAS NASIONAL TANAMAN LADA (Piper nigrum L.) SAEFUDIN, SAEFUDIN
Perspektif Vol 13, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v13n2.2014.%p

Abstract

ABSTRAKSalah satu penyebab utama rendahnya produktivitas tanaman  lada  di  Indonesia  karena  sebagian  besar petani lada masih  menggunakan benih lada asalan yang  kurang  terjamin  mutunya.  Penggunaan  benih unggul  bermutu  menjadi  salah  satu  kunci  dalam meningkatkan produktivitas tanaman dan pendapatan petani. Varietas unggul lada telah dihasilkan, tetapi distribusi   dan   adopsinya   masih   sangat   terbatas. Teknologi perbenihan untuk menghasilkan benih lada unggul  dan  bermutu  dengan  menggunakan  bahan setek satu ruas telah cukup tersedia. Kebun induk konvensional menghasilkan bahan setek dalam jumlah yang  terbatas,  sehingga  tidak  mampu  memenuhi besarnya  kebutuhan  benih  lada. Bahan  tanam  lada unggul  dan  bermutu  dalam  jumlah  banyak  dapat disediakan melalui pendirian  kebun induk mini, yaitu kebun  induk  lada  dengan  jarak  tanam  yang  telah disesuaikan dari 2.5  x 2.5 m  menjadi 0.5  x  1.0  m (populasi tanaman 1600 pohon per hektar menjadi 20 000 pohon), dengan potensi hasil dalam satu hektar setiap tahun sebesar 432 000 setek satu ruas, yang mampu    memenuhi    kebutuhan    benih    untuk pengembangan  seluas 198.8  ha.  Dukungan  plasma nutfah dan teknik penanda molekuler akan membantu perbaikan sifat tanaman lada ke depan. Untuk memacu penyediaan   benih   lada unggul   bermutu   perlu dilakukan pembinaan penangkar benih, desentralisasi pendirian   kebun   induk   mini   tanaman   lada   dan peningkatan dukungan pemerintah daerah.Kata kunci :  Piper nigrum  L., teknologi benih, kebun induk mini,  benih unggul. Challenges And Planting Material Provision of Technology Readiness Support Increasing National Productivity of Black Pepper (Piper nigrum  L.) ABSTRACTLow  productivity  of  Indonesian  black  pepper is coused  most farmers  use low quality of black pepper seed. The use of improved seed quality is a key in improving  crop  productivity  and  farmers'  income. Yielding of black pepper varieties have been produced, but the distribution and adoption is still very limited. Seed  technology  to  generate  superior-quality  black pepper seeds using a cutting materials segment has sufficient available. Conventional seed garden produce stem cuttings material in limited quantities, so it is not able  to  supply  the  tremendous  demand  for  black pepper seeds. Planting materials of black pepper sedd superior   quality   and   in   large   quantities   can   be provided through the establishment of holding a mini orchard, the orchard with pepper stem spacing has been adjusted from 2.5 x 2.5  m to be come 0.5 x 1.0 m  (population 1600 tree per hectare  to be come 20 000 tree), with potential results in one hectare each year by 432 000 cuttings of the segment, which is able to meet the needs of the seed for the development of an area of 198.8 ha. Germplasm supporting and molecular marker techniques  will  help  to  repair  properties  of  black pepper in the future. To encourage the provision of superior  quality  black  pepper  seeds   need  to   be developed, decentralization establishment holding a mini   garden   black   pepper and   increase   local government support.Keywords : Piper nigrum  L.,  seed technology, mini    seed garden, superior seed.
Konservasi Musuh Alami Serangga Hama sebagai Kunci Keberhasilan PHT Kapas NURINDAH, NURINDAH; SUNARTO, DWI ADI
Perspektif Vol 7, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n1.2008.%p

Abstract

RINGKASANSejak   awal   pengembangan   kapas   di   Indonesia, serangga hama merupakan salah satu aspek penting dalam  budidaya  kapas,  sehingga  ditetapkan  sistem pengendalian dengan penyemprotan insektisida kimia sintetik  secara  berjadwal  sebanyak 7  kali  selama semusim dengan jumlah insektisida hingga 12 l/ha. Pengembangan  PHT  kapas  ditekankan  pada  sistem pengendalian   non-kimiawi   dengan   memanfaatkan secara optimal faktor-faktor mortalitas biotik serangga hama utama, yaitu wereng kapas Amrasca biguttulla (Ishida)   dan   penggerek   buah   Helicoverpa   armigera (Hubner).  Optimalisasi musuh alami serangga hama kapas dilakukan melalui tindakan konservasi, yaitu memberikan lingkungan yang mendukung terhadap musuh  alami  untuk  dapat  berperan  sebagai  faktor mortalitas biotik, sehingga populasi serangga hama dapat dijaga untuk selalu berada pada tingkat yang rendah.  Tindakan konservasi musuh alami dilakukan dengan   memperbaiki   bahan   tanaman   dan   teknik budidaya   yang   dapat   mendukung   perkembangan musuh alami, yaitu penggunaan varietas kapas yang tahan   terhadap   wereng   kapas,   sistem   tanam tumpangsari  dengan  palawija,  penggunaan  mulsa, penerapan    konsep    ambang    kendali    dengan mempertimbangkan  keberadaan  musuh  alami  dan aplikasi insektisida botani, jika diperlukan.  Penerapan PHT kapas dengan mengutamakan konservasi musuh alami, berhasil mengendalikan populasi hama tanpa melakukan    penyemprotan    insektisida    dengan produksi   kapas   berbiji   yang   tidak   berbeda   dari produksi budidaya kapas dengan sistem pengendalian hama    menggunakan    penyemprotan    insektisida, sehingga menghemat biaya input dan meningkatkan pendapatan petani.  Konservasi musuh alami melalui penerapan    komponen    PHT    sebenarnya    dapat dilakukan petani dengan mudah, karena komponen PHT  tersebut  pada  umumnya  merupakan  praktek budidaya kapas yang sudah biasa dilakukan petani.Kata  kunci:  Kapas,  Gossypium  hirsutum,  Helicoverpa armigera,   Amrasca   biguttulla,   ambang kendali, musuh alami, PHT.  ABSTRACKConservation of natural enemies is the key for successful IPM on cottonSince early development of cotton in Indonesia, insect pests  were  the  most  important  aspect  of  the  crop cultivation, so that the scheduled sprays of insecticides were applied.  The frequency of sprays were 7 times using 12 l/ha of insecticides per season. The development of IPM on cotton is emphasized on non-chemical control methods by optimizing the role of natural enemies of the key pests, i.e., cotton jassid Amrasca   biguttulla  (Ishida)   and   cotton   bollworm Helicoverpa  armigera  (Hubner).  Conservation  of  the natural enemies provides the suitable environment for them to be an effective mortality factor so that the pests could   be   maintained   always   in   low   population. Conservation  of  the  natural  enemies  was  done  by improving the plant material and cultural techniques. These include the use of resistant cotton variety to jassid,  intercropping  with  secondary  food  crops, applying mulch, and adopting the action threshold concept which considers the natural enemies presence, and   using   botanical   insecticide   if   necessary. Conservation of natural enemies on IPM successfully controlled  the  cotton  pests  without  any  pesticide sprays  and  the  production  of  cotton  seed  did  not significantly different with that use insecticide sprays. This leads to reduction of cost production and increase the farmers’ income. Conservation of natural enemies  by applying IPM components should be no difficulty to be applied, as the components are mostly those that usually practice by the farmers.Key words: Cotton, Gossypium hirsutum,Helicoverpa armigera, Amrasca  biguttulla,  action threshold, natural enemies, IPM.
Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Terpadu Pada Komoditas Perkebunan Rakyat AGUSTIAN, ADANG; RACHMAN, BENNY
Perspektif Vol 8, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v8n1.2009.%p

Abstract

ABSTRAKKajian  ini  dimaksudkan  untuk  mensintesis  tingkat implementasi dari introduksi teknologi pengendalian hama  terpadu (PHT)  pada  usahatani  perkebunan rakyat (kopi,  lada  dan  teh),  efektivitas  penerapan teknologi    PHT,    dan    menganalisis    perspektif keberlanjutan  teknologi  PHT.  Data  dan  informasi diperoleh dari berbagai hasil kajian terkait penerapan teknologi  PHT  perkebunan  rakyat.    Hasil  kajian menunjukkan  bahwa: (1)  Secara  umum  introduksi teknologi PHT relatif baik diterapkan oleh para petani perkebunan  rakyat,  meskipun  penerapannya  belum secara penuh karena terdapatnya kendala internal dan eksternal   yang   dihadapi   petani; (2)   Penerapan teknologi  PHT  pada  komoditas  perkebunan  rakyat masih  dapat  meningkatkan  keuntungan  usahatani yang relatif lebih tinggi dibanding dengan peningkatan biaya usahataninya, dan (3) Penerapan teknologi PHT dapat   berkelanjutan   apabila   didukung   dengan penyuluhan yang intensif menyangkut aspek teknis, manajemen dan pemasaran hasil.Kata kunci: Teknologi PHT, perkebunan rakyat, tingkat adopsi ABSTRACTThe Implementation of IPM Technology on Small Estate Farm CommoditiesThe   purpose   of   this   study   is   to   analyze   the implementation  level    of  introduced  technology  of Integrated  Pest Management  (IPM)  on  small estate farms (coffee, tea and pepper), effectiveness of the implementation of IPM technology, and analyze the perspective of the sustainability of IPM technology. Data and information obtained from  the results of various  studies  related  to  the  application  of  the technology  of  IPM  on  small  estate  farm.  Results showed  that: (1)  In  general  introduction  of  IPM technology is well applied by the farmers, although its application has not been fully adopted due to the internal and external constraints faced by farmers, (2) The application of  IPM technology on small estate commodities is profitable, and (3) The application of IPM technology can be sustained if it is supported with intensive counseling on technical and management, as well as product marketing. Key words: IPM technology, small estate farm, adoption

Page 1 of 19 | Total Record : 188


Filter by Year

2002 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 19, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 18, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 18, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 17, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 17, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 16, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 16, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 16, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 15, No 2 (2016): Desember, 2016 Vol 15, No 1 (2016): Juni, 2016 Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 14, No 1 (2015): Juni, 2015 Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 13, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 13, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 13, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 12, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 12, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 11, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 11, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 10, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 10, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 9, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 8, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 8, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 8, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 7, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 6, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 5, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 5, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 4, No 2 (2005): Desember 2005 Vol 4, No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4, No 2 (2005): Desember 2005 Vol 4, No 1 (2005): Juni 2005 Vol 3, No 2 (2004): Desember 2004 Vol 3, No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3, No 1 (2004): Juni 2004 Vol 2, No 2 (2003): Desember 2003 Vol 2, No 1 (2003): Juni 2003 Vol 1, No 2 (2002): Desember 2002 Vol 1, No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1, No 2 (2002): Desember 2002 Vol 1, No 1 (2002): Juni 2002 More Issue