cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkm@ui.ac.id
Editorial Address
"G301 Building G 3th Floor Faculty of Public Health Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok 16424"
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : 10.21109
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol. 4 No. 5 April 2010" : 6 Documents clear
Kesehatan Jiwa di Indonesia dari Deinstitusionalisasi sampai Desentralisasi Idaiani, Sri
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 4 No. 5 April 2010
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.506 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v4i5.170

Abstract

Deinstitusionalisasi adalah kebijakan di bidang kesehatan jiwa yang dimulai di negara-negara maju sekitar tahun 1950. Kebijakan tersebut telah dilakukan di Indonesia, meskipun informasi tentang keberhasilan dan kegagalan masih terbatas pada pendapat profesional di kalangan psikiatri. Disaat program ini belum sepenuhnya berhasil, Indonesia mengalami perubahan politik yang mengantarkan pada kebijakan desentralisasi. Pada saat yang bersamaan, munculmasalah kekurangan tenaga dokter spesialis psikiater. Tujuan analisis ini adalah untuk melakukan kajian terhadap berbagai masalah yang berkaitan dengan psikiater dan deinstitusionalisasi pada era desentralisasi. Dalam artikel ini disajikan beberapa kondisi yang terjadi di negara lain serta kajian terhadap kebijakan yang ada di Indonesia. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dapat disimpulkan bahwa di Indonesia terjadi kekurangan tenaga psikiater, masalah deinstitusionalisasi terkait erat dengan pembiayaan bidang kesehatan. Perlu kajian lebih mendalam tentang dampak dan model yang sesuai untuk Indonesia melalui penelitian terapan, riset operasional khususnya di bidang kesehatan jiwa masyarakat. Desentralisasi akan berhasil meningkatkan pembangunan kesehatan jiwa apabila ada perkuatan dukungan lintas sektor khususnya legislatif.Kata kunci : Deinstitusionalisasi, desentralisasi, psikiaterAbstractDeinstitutionalization is an international mental health policy started in 1950 by developed countries. This policy has implemented in Indonesia, even though there were no evaluation related to the policy. The opinion is still limited by professional judgment. While the program has not finished, Indonesia had political reformation. Decentralization was a part of reformation program. Besides, there was lack of psychiatrist in Indonesia. The aim of this study is to assessproblems related to psychiatrist, deinstitutionalization and decentralization. Several policies and conditions in other country were informed. The conclusion of this study mentioned that there was lack of psychiatrist in Indonesia at present; the deinstitutionalization was influenced by national health financial. It needs further studies of effectiveness of community mental health programs through applied or operational research. Decentralization will succeed to improve mental health development if there is support from all sectors including the legislative. Key words : Deinstitutionalization, decentralization, psychiatrist
Perbandingan Dua Metode Estimasi Pajanan Pestisida di Tempat Kerja Prihartono, Nurhayati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 4 No. 5 April 2010
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.06 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v4i5.171

Abstract

Informasi yang valid tentang pajanan masa lalu mungkin sulit didapat dari wawancara individu. Peran ahli seperti higiene industri atau pertanian dalam mengestimasi pajanan pestisida dengan menggunakan jenis pekerjaan dapat meningkatkan validitas data pajanan. Penelitian ini bertujuan membandingkan pajanan pestisida ditempat kerja yang ditentukan berdasarkan laporan individu dan ahli, serta mempelajari pola perbedaan tingkat pajanan dari keduametode tersebut. Laporan individu berasal dari studi kasus kontrol tentang anemia aplastik di Thailand. Estimasi ahli digunakan untuk menentukan tingkat pajanan terhadap 4 jenis pestisida pada setiap 476 jenis pekerjaan. Instrumen standar dibuat berdasarkan probabilitas pajanan, frekuensi, intensitas dan keyakinan diri dalam menentukan pajanan. Penelitian ini menemukan kesesuaian yang buruk tentang pajanan yang ditentukan oleh kedua metode. Petani padi merupakan kelompok pekerja terbesar yang dinyatakan terpajan ke empat pestisida oleh ahli, tetapi hampir semua petani padi tidak melaporkan keterpajanan tersebut. Ada perbedaan dalam melaporkan pajanan: kelompok kasus, pria, usia muda, dan pekerja yang mempunyai penghasilan tinggi cenderung melaporkan pajanan. Dengan ketidakyakinan estimasi pajanan dari kedua metode ini, maka gabungan pajanan yang berasal dari ahli dan laporan individu akan meningkatkan kegunaan kedua metode dan meningkatkan validitas pajanan.Kata kunci : Pestisida, pajanan, estimasiAbstractObtaining valid information on past exposures from personal interview may be difficult. The role of experts such as industrial hygienists or agronomists in estimating pesticide exposures could improve the validity of data. The aims of this study are to compare occupational pesticides exposures determined by self-reports and experts, and to examine the discrepancies patterns of exposure ratings obtained by two methods. Self-report exposure information was derived from a case-control study of aplastic anemia in Thailand. Expert judgments were used to assign levels of exposure toward 4 different pesticides among 476 job titles. A standardized instrument was developed based on exposure probability, frequency, intensity and confidence rating. There was a poorappropriateness on pesticide exposure ratings obtained by two methods. Expert cited that grain farmers were the most exposed group among job titles from four pesticides; however, almost grain farmers denied the exposures. There was a discrepancy in reporting the exposure; case groups, youth, male and higher incomes were more likely to report the exposures. Due to the uncertainty of exposure estimation from the two methods, combining estimation both of expert and self-report may enhance the utility of both methods and improve the validity of exposure estimation.Key words : Pesticides, exposure, estimation
Keracunan Pestisida dan Hipotiroidisme pada Wanita Usia Subur di Daerah Pertanian Suhartono, Suhartono; Dharminto, Dharminto
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 4 No. 5 April 2010
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.109 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v4i5.172

Abstract

Wanita bermukim di daerah pertanian berisiko terpajan pestisida yang dapat berakibat hipotiroidisme yang pada kehamilan dapat menyebabkan gangguan tumbuh-kembang janin. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui angka kejadian keracunan pestisida dan hipotiroidisme pada wanita usia subur di daerah pertanian. Penelitian ini menggunakan disain penelitian cross-sectional dan 26 WUS terpilih sebagai subjek secara acak. Semua subjek dilakukan pengukurankadar TSH, fT4 dan enzim kolinesterase, sementara kadar T3, UEI, dan Pb darah diukur pada sub-sampel. Penderita dinyatakan keracunan pestisida apabila ditemukan kadar enzim kolinesterase <3,9 μg/L dan dinyatakan hipotiroidisme apabila kadar TSH >4,5 μIU/L. Penelitian ini menemukan rerata kadar kolinesterase adalah 7,26 (±1,28) dengan kisaran nilai 5,33-9,39 μg/L; rerata kadar TSH adalah 5,09 (±6,14), dengan kisaran nilai 0,47-31,73μIU/L; rerata kadar fT4 adalah 15,18 (±2,09), dengan kisaran nilai 8,73-18,87 pmol/L; rerata kadar T3 adalah 1,75 (±0,51), dengan kisaran nilai 1,24-2,95 pmol/L. Prevalensi keracunan pestisida pada WUS 0,0% dan prevalensi hipotiroidisme 46,2%.Kata kunci : Pestisida, hipotiroidisme, wanita usia subur, daerah pertanianAbstractWomen lived in agricultural areas are risk to suffer various disorders due to pesticides exposure such as hypothyroidism. Hypothyroidism causes growth and development disorders of fetus. The aim of the study is to find out the prevalence of pesticide poisoning and hypothyroidism in women of childbearing age in agricultural areas. Cross-sectional study was conducted and 26 women of childbearing age were selected randomly. TSH, fT4 and cholinesterase enzymelevels were measured in all subjects, while levels of T3, UEI and blood Pb were measured in the sub-sample. Pesticide poisoning is determined if the levels of enzymes cholinesterase <3.9 μg/L and determined as hypothyroidism if the TSH >4.5 μIU/L. This study showed that mean of cholinesterase levels was 7.26 (± 1.28), range of values 5.33-9.39 μg/L; mean of TSH levels was 5.09 (± 6.14), range of values 0.47-31.73 μIU/L; mean of fT4 level was 15.18 (±2.09), range of values 8.73-18.87 pmol/L; mean of T3 levels was 1.75 (±0.51), range of values 1.24-2.95 pmol/L. The prevalence of pesticide poisoning in childbearing women was 0.0% and prevalence of hypothyroidism was 46.2%.Key words : Pesticide, hypothyroidism, women of childbearing age, agricultural area
Determinan Abortus di Indonesia Kuntari, Titik; Wilopo, Siswanto Agus; Emilia, Ova
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 4 No. 5 April 2010
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.87 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v4i5.173

Abstract

Abortus menjadi masalah yang penting dalam kesehatan masyarakat karena berpengaruh terhadap morbiditas dan mortalitas maternal. Di Indonesia, belum ada data yang komprehensif tentang kejadian abortus, berbagai data yang ada sebelumnya berdasarkan survei dengan cakupan yang relatif terbatas. Abortus yang tidak aman bertanggung jawab terhadap 11% kematian ibu di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian abortus di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode observasional menggunakan disain studi cross sectional. Data penelitian diperoleh dari data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003. Analisis data dilakukan secara bertahap yaitu: analisis univariat, analisis bivariat dan analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa risiko abortus meningkat seiring dengan peningkatan usia ibu. Wanita dengan paritas 0-2 berisiko lebih tinggi untuk mengalami abortus dibandingkan wanita dengan paritas 3 atau lebih (OR=5,2, IK 95%=3,49-7,89). Wanita yang bekerja berisiko 2,7 kali lebih tinggi untuk mengalami aborsi daripada wanita yang tidak bekerja (OR= 2,7 , IK 95%= 2,10-3,58). Selain itu, risiko abortus meningkat pada wanita yang menikah pada usia 30 tahun atau lebih (OR=1,8, IK95%= 1,30-2,48). Risiko abortus tidak berhubungan bermakna dengan riwayat abortus sebelumnya, tingkat pendidikan dan tingkat sosial ekonomi.Kata kunci : Abortus, tren abortus, determinan abortus, IndonesiaAbstractAbortion has become a main problem in public health because of its impact on maternal morbidity and mortality. There is no comprehensive data on abortion in Indonesia. So far, data were based on survey with limited coverage. Unsafe abortion is responsible to 11 percent of maternal mortality in Indonesia. This research objective is to determine factors related to abortion in Indonesia. The study was an observational method with cross sectional design. Thesedata are gathered from Indonesian Demography and Health Survey 2002–2003. Data analysis used univariate, bivariate and multivariate analysis with logistic regression. The risk of an abortion increased in line with the increasing of maternal age. Women with 0-2 parity have higher risk than multiparity (OR=5.2, IK95%=3.49-7.89). Employed women have higher risk than unemployed (OR=2.7, IK95%=2.10-3.58). The risk of abortion increased among women married at 30 years old or over (OR=1.8, IK95%=1.30-2.48). There is no significant association between history of abortion, education, socioeconomic and risk of abortion.Key words : Abortion, trend of abortion, abortion’s determinant, Indonesia
District Health Information System on Maternal, Newborn and Child Health How Good Is It? A Case of Deli Serdang and Sumedang Districts Achadi, Anhari
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 4 No. 5 April 2010
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.008 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v4i5.174

Abstract

Valid data and information are critical for any health programs, in particular for planning, monitoring and evaluation purposes. District Health Information System is designed to produce routine data on process and output type of indicators at district level. This study, taking place at Deli Serdang and Sumedang districts, has its objectives as to learn about the current practice of DHIS, specifically looking at its process and the availability, quality and utilization of thedata. Methods of data collection include in-depth interview with stakeholders at village, health facility and district levels, examination of existing forms at all levels as well as other documents and reports. Findings suggest that weaknesses of DHIS prevail at each level of the system. Complexity of the system has produced inaccurate and suboptimal the use of generated data and information.Key words : District health information system, inaccurate data and informationAbstrakData dan informasi yang valid sangat penting untuk program kesehatan, terutama untuk perencanaan, pemantauan, dan evaluasi. Sistem Informasi Kesehatan Kabupaten dibuat untuk menghasilkan data rutin tentang indikator proses dan output program kesehatan di tingkat kabupaten. Studi ini, yang dilakukan di kabupaten Deli Serdang dan Sumedang, bertujuan untuk mengetahui proses bekerjanya SIK Kabupaten, serta ketersediaan, kualitas dan penggunaan data yang dihasilkan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan beberapa cara, yaitu wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan di desa, fasilitas kesehatan, dan kabupaten, pemeriksaan formulir-formulir yang digunakan disemua tingkatan, dokumen lainnya, serta laporan. Temuan studi menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan SIK dalam semua tingkatan. Karena kompleknya, sistem menghasilkan data dan informasi yang tidak akurat, dengan tingkat penggunaan yang rendah.Kata kunci : Sistem informasi kesehatan kabupaten, data dan informasi yang tidak akurat
Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga di Kelurahan Tanah 600, Medan Karo-Karo, Ulina
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 4 No. 5 April 2010
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.233 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v4i5.169

Abstract

Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) tidak hanya sebagai bumbu masakan dan obat, tetapi jika ditekuni dengan sepenuh hati akan memberi nilai kepuasan, bahkan sebagai penopang kehidupan. Penelitian kualitatif dengan metode ‘Individual’s life history’ pada satu keluarga yang telah memanfaatkan tanaman obat sejak lama di Tanah 600 Kecamatan Medan Marelan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengalaman satu keluarga yang berhasil memanfaatkan tanaman obat keluarga sebagai sumber pendapatan keluarga. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan dan wawancara mendalam. Penelitian dilakukan pada periode Februari-April 2009. Informan adalah Mak Intan, dilengkapi dengan keterangan suami, anak, menantu dan orang lain yang mengenal Mak Intan. Analisis data dilakukan dengan teknik ‘on going analysis’. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan TOGA memerlukan pengetahuan, perjuangan untuk mengembangkan TOGA dan keinginan-keinginan. Pengetahuan diperoleh tidak hanya dari warisan keluarga dan membaca tetapi dapat ditingkatkan dengan adanya pujian dan jalinan kerja, baik dengan Dinas Kesehatan atau teman seprofesi. Perjuangan pengembangan TOGA dimulai dengan tahap jamu gendong, mengikuti pameran, dan pembuatan jamu instan. Pemanfaatan TOGA akan memberikan nilai ekonomis, nilai keindahan, dan nilai kepuasan.Kata kunci: Tanaman obat keluarga, pemanfaatan, pengobatan, pengembangan usahaAbstractFamily Crops Medicine (TOGA) is used as culinary spices and medicine, at present it also can be utilized as earnings. If learned seriously, it also gives a satisfactory value. This study is a qualitative research using ‘individual’s life history’ method. Family utilized TOGA for long time in tanah 600 District Marelan Medan was selected. The aim of this study is to know the experience of a family that successfully utilized TOGA as a health treatment and family earnings. Data was collected by observation and in-depth interviews. Research was conducted during February to April 2009. Informant is an old woman called mak Intan. Information from her husband, son in law and anyone knowing mak Intan were also obtained. Data was analyzed by “ongoing analysis” technique. The result indicates that TOGA utilization requires knowledge and strong willingness to develop TOGA. The knowledge is not only obtained from family legacy and readings, but also cooperated with health district office or colleagues. The struggle to develop TOGA is started from backpacking herbal medicine, attending exhibition and making instant herbal medicine. Utilization of TOGA will provide economic, esthetic and satisfactory values.Key words : Family corps medicine, utilization, treatment, development

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 3 (2020): Volume 15, Issue 3, August 2020 Vol 15, No 2 (2020): Volume 15, Issue 2, May 2020 Vol 15, No 2 (2020): Volume 15, Issue 2, 2020 - SPECIAL ISSUE Vol 15, No 1 (2020): Volume 15, Issue 1, February 2020 Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Vol 14, No 2 (2019): Volume 14, Issue 2, November 2019 Vol 14, No 1 (2019): Volume 14, Issue 1, August 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue