cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkm@ui.ac.id
Editorial Address
"G301 Building G 3th Floor Faculty of Public Health Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok 16424"
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : 10.21109
Core Subject : Health,
Kesmas: National Public Health Journal is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance health of the public through scientific approach applying variety of technique. This focus includes area and scope such as biostatistics, epidemiology, health education and promotion, health policy and administration, environmental health, public health nutrition, sexual and reproductive health, and occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 September 2012" : 15 Documents clear
Kota Sehat sebagai Bentuk Sustainable Communities Best Practice Soedirham, Oedojo
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 2 September 2012
Publisher : Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.277 KB)

Abstract

Kota Sehat merupakan proyek World Health Organization (WHO) yang diluncurkan pada pertengahan tahun 1980-an dengan mengambil tempat untuk yang pertama kali adalah kota-kota di Eropa. Konsep Kota Sehat adalah konsep lama sekaligus baru. “Lama” berarti telah lama manusia berusaha untuk membuat kota lebih sehat sejak awal peradaban perkotaan (urban civilization). “Baru” dalam manifestasinya sebagai satu sarana uta-ma promosi kesehatan –kesehatan masyarakat baru (new public health)– dalam pencarian Sehat untuk Semua (Health for All ). Hal tersebut dipandang sebagai “a means of legitimizing, nurturing, and supporting the process of community empowerment ”. Artikel ini mengulas Kota Sehat dalam konteks sustainable communities.Kata kunci: Kota sehat, kesehatan masyarakat baru, pemberdayaan, sustainable communitiesAbstractHealthy City is a World Health Organization (WHO) project that launched in mid 1980s with cities at Europe as first attempts. The Healthy City concept is old and new. “Old” means that since the early urban civilization, human-being striving for better and healthier places to live. “New” means that it’s one primary manifestation for health promotion –new public health- in seeking “Health for All”. This is seen as “a means of legitimizing, nurturing, and supporting the process of community empowerment”. The paper re-viewed Healthy City in sustainable communities context.Key words: Healthy city, new public health, empowerment, sustainable communities
Mengukur Tingkat Pemberdayaan Masyarakat dalam Sektor Kesehatan Darmawan, Ede Surya; Junadi, Purnawan; Bachtiar, Adang; Najib, Mardiati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 2 September 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.049 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i2.68

Abstract

Pemberdayaan masyarakat adalah salah satu strategi dalam pembangunan kesehatan yang digunakan oleh pemerintah Indonesia. Pemberdayaan masyarakat ini menjadi salah satu fungsi puskemas yang wajib dijalankan oleh seluruh puskesmas di tanah air. Walaupun strategi pemberdayaanmasyarakat sudah lama digunakan, sampai sekarang belum ada instrumen spesifik untuk mengukur tingkat pemberdayaan masyarakat pada sektor pembangunan kesehatan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat pemberdayaan masyarakat pada level komunitas sebagai wilayah kerja puskesmas di Depok dan Jakarta Selatan. Pemberdayaan masyarakat diukur menggunakan tujuh potensi masyarakat meliputi kepemimpinan, organisasi, dana, sumber daya, teknologi, pengetahuan, dan pengambilan keputusan. Metode pengukuran dilakukan dengan membandingkanketujuh potensi masyarakat di wilayah kerja puskesmas diDepok (32 puskesmas) dan wilayah kerja puskesmas terpilih Jakarta Selatan (28 puskesmas) dengan potensi standar yang dikembangkan peneliti. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pemberdayaan masyarakat di wilayah kerja puskesmas di Depok umumnya banyak yang memenuhi kategori baik, sebaliknya di Jakarta Selatan banyak kategori kurang. Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta berupaya pemberdayaan masyarakat dan promotif preventif lebih mudah dilakukan oleh kantor kelurahan daripada puskesmas.Kata kunci: Pemberdayaan masyarakat, pembangunan kesehatan, puskesmasAbstractCommunity empowerment is one of strategies in health development that is used by government of Indonesia. It is also one of puskesmas (primary health center) function that must be run by every primary health center in Indonesia. Though community empowerment has been used for a very long time, there is not any specific instrument to measure level of community empowerment in health sector development in Indonesia. This research aimed at measuring community empowerment at community level using neighbourhood association as work area in two cities in Indonesia, Depok and South Jakarta. Community empowerment is measured using seven community potentials including leadership, organizations, fund, resource, technology, knowledge, and decision making. The measurement method is comparing those community existed potentials with potential standard developedby researcher in 32 primary health center in Depok and 28 selected primary health center in South Jakarta. The result shows that level of community empowerment in primary health center work area in Depok is generally in good categories, but South Jakarta is generally in less category.In Jakarta, the effort of community empowerment and promotive preventive is conducted easier by village administration office than primary health center.Key words: Community empowerment, health development, primary health center
Kekuatan Psikologis Ibu untuk Menyusui Wattimena, Inge; Susanti, Natalia L.; Marsuyanto, Yusep
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 2 September 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.381 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i2.63

Abstract

Anjuran World Health Organization (WHO) agar ibu menyusui minimal selama 6 bulan masih belum tercapai. Studi ini bertujuan untuk meneliti kekuatan psikologis ibu yang berhasil menyusui lebih dari 6 bulan. Metode penelitian kualitatif deskriptif dilakukan pada enam ibu yang diambil secara purposif dengan kriteria menyusui lebih dari 6 bulan. Hasil wawancara mendalam dianalisis dan hasilnya menunjukkan bahwa kesadaran ibu tentang keunggulan dan kekuatan spiritual dalam air susu ibu (ASI) serta dukungan,afeksi positif, sikap tangguh, tujuan terarah, dan kesejahteraan menjadi kekuatan psikologis mereka. Hasil ini dapat digunaka sebagai masukan bagi promosi kesehatan untuk ibu menyusui. Kata kunci: Menyusui, kekuatan psikologis, keberhasilanAbstractThe World Health Organization recommendation for six months breastfeeding is not yet achieved. This study examined the psychological strengths of six women who had successfully breastfed for more than six months. A descriptive qualitative method was used. Semistructured interviews were used and the records were analyzed. It was shown that understanding of benefits and spiritual power of breastmilk, full support, positive affection, strong attitude, directed goals, and well-being become their psychological strengths. These results could be used as inputs for health promotion for breastfeeding mother. Key words: Breastfeeding, psychological strengths, success
Kota Sehat sebagai Bentuk Sustainable Communities Best Practice Soedirham, Oedojo
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 2 September 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.837 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i2.9

Abstract

Kota Sehat merupakan proyek World Health Organization (WHO) yang diluncurkan pada pertengahan tahun 1980-an dengan mengambil tempat untuk yang pertama kali adalah kota-kota di Eropa. Konsep Kota Sehat adalah konsep lama sekaligus baru. “Lama” berarti telah lama manusia berusaha untuk membuat kota lebih sehat sejak awal peradaban perkotaan (urban civilization). “Baru” dalam manifestasinya sebagai satu sarana utama promosi kesehatan – kesehatan masyarakat baru (new public health) – dalam pencarian Sehat untuk Semua (Health for All). Hal tersebut dipandang sebagai “a means of legitimizing, nurturing, and supporting the process of community empowerment”. Artikel ini mengulas Kota Sehat dalam konteks sustainable communities.Kata kunci: Kota sehat, kesehatan masyarakat baru, pemberdayaan, sustainable communitiesAbstractHealthy City is a World Health Organization (WHO) project that launched in mid 1980s with cities at Europe as first attempts. The Healthy City concept is old and new. “Old” means that since the early urban civilization, humanbeing striving for better and healthier places to live. “New” means that it’s one primary manifestation for health promotion – new public health – in seeking “Health for All”. This is seen as “a means of legitimizing, nurturing, and supporting the process of community empowerment”. The paper reviewed Healthy City in sustainable communities context.Key words: Healthy city, new public health, empowerment, sustainable communities
Perubahan Status Kelembagaan dan Kualitas Pelayanan Pasien Rumah Sakit Kusnadi, Dadang
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 2 September 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.39 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i2.64

Abstract

Kenyamanan, keamanan, dan kepuasan pelayanan pasien merupakan fenomena pelayanan yang mencerminkan kualitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh implementasi kebijakan perubahan statuskelembagaan rumah sakit terhadap kualitas pelayanan pasien. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dan metode explanatory survey. Metode analisis meliputi regresi linier multipel dengan uji validitas product moment pearson, uji reliabilitas teknik alpha cronbach, uji hipotesis path analysis dan uji statistik (t), serta transformasi data skala likert dengan alat ukur method of succesive interval. Populasi adalah pegawai rumah sakit sebanyak 1.072 orang dan sampel sebanyak 92 orang yang ditentukan dengan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan denganwawancara terstruktur menggunakan kuesioner dan wawancara pasien sebagai counter informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan perubahan status kelembagaan rumah sakit secara signifikan terbukti berpengaruh terhadap kualitas pelayanan pasien sekitar 66,31% dan faktor lain berpengaruh sebesar (e) 33,69%. Berbagai faktor yang berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas pelayanan meliputi faktor komunikasi (0,49%), sumber daya (0,25%), sikap pelaksana (0,32%), dan struktur birokrasi (0,33%). Faktor lain yang memengaruhi kualitaspelayanan adalah faktor budaya kerja sebagai norma implementasi kebijakan perubahan status kelembagaan rumah sakit.Kata kunci: Implementasi kebijakan, status kelembagaan rumah sakit, kualitas pelayananAbstractComfort, safety, and satisfacton of patient care is a phenomenon that represents service quality. This research intends to uncover effects on implementation of the changing of institutional status towards quality of patient care. Ths research used quantitative research design with explanatory survey method. Analysis method including multiple linear regression with pearson product moment test validity, reliability test techniques and test hypotheses alpha cronbach path analysis, and testing statistic (t), and also data transform likert scale which uses method of successive interval tool. The research population is 1.072 employees and 92 person sample taken by stratified random sampling. Data collected by structured interview using questionnaire and patient interviews as counter informan. Results showed that the implementation of policy change on institutional status of hospital proven the of significant influence on the quality of patient cares at 66,31% and other factors influenced (e) 33,69%. Various factors that affect significantly positive on quality service including communication factor 12,49%; resources 0,25%; attitude of the implementers 0,32%; and bureaucratic structure 0,33%. Another concept that influenced of quality care is job behavior factor as implementation of policy change on institutional status of hospital norm.Key words: Implementation policy, hospital institution status, quality service
Determinan Kepatuhan Bidan di Desa terhadap Standar Antenatal Care Guspianto, Guspianto
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 2 September 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.06 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i2.65

Abstract

Upaya menurunkan kematian ibu menjadi prioritas utama program pembangunan kesehatan nasional. Pelayanan antenatal care (ANC) menjadi bagian dari “Empat Pilar Safe Motherhood” sebagai kebijakan Kementerian Kesehatan untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI).Kualitas layanan ANC dari aspek kinerja bidan di desa diukur antara lain dengan parameter tingkat kepatuhan terhadap standar ANC dalam memberikan kepuasan kepada ibu hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan kepatuhan bidan di desa terhadap standar ANC. Desain penelitian cross sectional ini menggunakan data sekunder Dinas Kesehatan Kabupaten Muaro Jambi dengan sampel 165 bidan di desa. Penelitian ini menemukan tingkat kepatuhan bidan di desa terhadap standar ANC masih di bawah standar minimal sekitar 74,28%.Berbagai faktor yang memengaruhi tingkat kepatuhan bidan di desa terhadap standar ANC adalah supervisi, pengetahuan, dan komitmen organisasi. Supervisi merupakan faktor yang paling dominan dan faktor pengetahuan merupakan perancu hubungan faktor supervisi dan komitmen organisasi dengan tingkat kepatuhan terhadap standar ANC. Disarankan untukmelaksanakan upaya supervisi secara kontinu dan komprehensif diawali dari pengukuran tingkat kepatuhan, mengidentifikasi permasalahan, melakukan upaya perbaikan, dan memberikan umpan balik sehingga mutu pelayanan kesehatan khususnya ANC dapat terus ditingkatkan.Kata kunci: Bidan desa, standar antenatal care, tingkat kepatuhanAbstractEfforts to reduce maternal mortality is national health development program priority. Antenatal care (ANC) became part of the “Four Pillars of Safe Motherhood” as a policy of the Ministry of Health to accelerate the reducing of maternal mortality rate (MMR). The quality of ANC in terms of performance of services are measured by village midwives compliance towards the ANC standards in giving satisfaction to pregnant women. This study aimed at identifyng factors that influenced compliance rate of village midwifes towards ANC standards. This is a cross sectional study using secondary data from District Health Office Muaro Jambi, using 165 village midwifes as sample. This study found that compliance rate of village midwifes is still below the minimum ANC standard, 74,28%. This study proved that factors that influence compliance of village midwifes to ANC standards are supervision, knowledge, and organizational commitment. Supervision is the most dominant factor and knowledge is the confounder factor in the relationship between supervision and organizational commitment to compliance towards ANC standards. It is recommended to carry out continuously and comprehensive supervision by measuring compliance, identify problems, make improvements, and provide feedback so that quality of health care especially ANC could continously improved.Keywords: Village midwife, standard of antenatal care, compliance rate
Penerapan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Gizi terhadap Perilaku Sarapan Siswa Sekolah Dasar Sartika, Ratu Ayu Dewi
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 2 September 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.703 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i2.66

Abstract

Sarapan pagi merupakan kegiatan makan yang paling penting dalam memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi dalam sehari. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE)gizi terhadap perilaku sarapan pagi siswa sekolah dasar di Kabupaten Bogor. Desain studi penelitian ini adalah kuasi-eksperimental, pre-post intervention. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan kegiatan KIE gizi diperoleh peningkatan skor rata-rata pengetahuan dan perilaku siswa terhadap kebiasaan sarapan pagi (nilai p < 0,05). Media yang digunakan adalah kartu bergambar, kartu kuartet, ular tangga, tebak gambar, teka teki silang (TTS), leaflet, poster, dan lomba cerdas cermat. Peran ibu sebagai penyedia sarapan pagi bagi siswa sangat penting terutama dalam menghindari kebosanan siswa terhadap menu yang disediakan. Sebaiknya pihak sekolah bekerja sama dengan Persatuan Orang Tua Murid dan puskesmas untuk menggiatkan kembali Usaha Kesehatan Sekolah denganmelakukan kegiatan promosi kesehatan bagi ibu/pengasuh siswa, khususnya tentang bagaimana merencanakan menu sarapan pagi yang enak, praktis, dan sehat bagi siswa.Kata kunci: Sarapan, siswa, komunikasi informasi dan edukasi gizi AbstractBreakfast as the most important meal of the day, contributing substantially to daily nutrient intake and energy needs. This study was conducted to determine the effect of communication, information, and education toward thebreakfast behavior of primary school students in Bogor. The study design was quasi-experimental design with pre and post intervention. The study results showed that there were increased knowledge and attitudes towards the habit of breakfast (p value < 0,05). The media used were picture card,quartet card, the ladder snake, guess the picture, crossword puzzle, leaflet, poster, and quizes. Mother’s role as a breakfast provider for students is important in avoiding students who are bored with menu provided. Collaboration needed between school unit, parents, and staff of publichealth center to revitalize the School Health Program with health promotion activities for mothers/caregivers of students, especially about how to plan and serve a delicious breakfast menu, easy making, and healthy for students.Keywords: Breakfast, students, communication information and educationof nutrition
Validitas Lingkar Lengan Atas Mendeteksi Risiko Kekurangan Energi Kronis pada Wanita Indonesia Ariyani, Diny Eva; Achadi, Endang Laksmining; Irawati, Anies
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 2 September 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.755 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i2.67

Abstract

Lingkar lengan atas (LiLA) telah digunakan sebagai indikator proksi terhadap risiko kekurangan energi kronis (KEK) untuk ibu hamil di Indonesia karena tidak terdapat data berat badan prahamil pada sebagian besar ibu hamil. Selama ini, ambang batas LiLA yang digunakan adalah 23,5 cm. Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas LiLA terhadap indeks massa tubuh (IMT) yang merupakan indikator yang lebih baik untuk mengetahui status gizi wanita dewasa. Penelitian ini menggunakan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 pada perempuan dewasa usia 20 – 45 tahun di seluruh Indonesia. Hasil penelitian ini ialah ambang batas LiLA yang paling optimal untuk mendeteksi risiko KEK di Indonesia berada pada titik 24,95 cm (Se = 85%; Sp = 75%). Terdapat perbedaan ambang batas antarprovinsi tetapi tidak lebih dari 2 cm, terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (23,95 cm) dan tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo (25,95 cm). LiLA mempunyai korelasi yang kuat (r = 0,67; nilai p < 0,000) dengan IMT. Direkomendasikan untuk menggunakan ambang batas LiLA 24,95 cm untuk mendeteksi risiko KEK wanita usia 20 – 45 tahun, sementara23,5 cm untuk outcome kehamilan, yaitu morbiditas dan mortalitas bayi.Kata kunci: Lingkar lengan atas, indeks massa tubuh, kekurangan energi kronisAbstractMid-upper arm circumference has been used in Indonesia as an proxy indicator of chronic energy malnutrition risk for pregnant women because there isn’t any data of prepregnancy weight in most of pregnant women. The boundary used was 23,5 cm. The objective of the study is to validate the currentboundary related to body mass index (BMI) indicator, which is believed as a better indicator in identifying women nutritional status. The study is using Riset Kesehatan Dasar 2007 data on Indonesian adult women aged 20 – 45 years old. The study found the boundary is 24,95 cm for detecting chronic energy malnutrition risk among adult women (Se = 85%; Sp = 75%). There are differences among provinces but not more than 2 cm, the lowest is in Nusa Tenggara Timur (23,95 cm) and the highest is in North Sulawesi and Gorontalo (25,95 cm). Mid upper arm circumference has a strong relationto BMI (r = 0,67; p value < 0,000). It is recommended to use mid-upper arm circumference boundary 24,95 cm to detect chronic energy malnutrition on 20 – 45 years old women and 23,5 cm to pregnancy outcome, baby morbidity, and mortality.Key words: Mid-upper arm circumference, body mass index, chronic energy deficiency
Validitas Lingkar Lengan Atas Mendeteksi Risiko Kekurangan Energi Kronis pada Wanita Indonesia Ariyani, Diny Eva; Achadi, Endang Laksmining; Irawati, Anies
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 2 September 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.755 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i2.67

Abstract

Lingkar lengan atas (LiLA) telah digunakan sebagai indikator proksi terhadap risiko kekurangan energi kronis (KEK) untuk ibu hamil di Indonesia karena tidak terdapat data berat badan prahamil pada sebagian besar ibu hamil. Selama ini, ambang batas LiLA yang digunakan adalah 23,5 cm. Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas LiLA terhadap indeks massa tubuh (IMT) yang merupakan indikator yang lebih baik untuk mengetahui status gizi wanita dewasa. Penelitian ini menggunakan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 pada perempuan dewasa usia 20 – 45 tahun di seluruh Indonesia. Hasil penelitian ini ialah ambang batas LiLA yang paling optimal untuk mendeteksi risiko KEK di Indonesia berada pada titik 24,95 cm (Se = 85%; Sp = 75%). Terdapat perbedaan ambang batas antarprovinsi tetapi tidak lebih dari 2 cm, terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (23,95 cm) dan tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo (25,95 cm). LiLA mempunyai korelasi yang kuat (r = 0,67; nilai p < 0,000) dengan IMT. Direkomendasikan untuk menggunakan ambang batas LiLA 24,95 cm untuk mendeteksi risiko KEK wanita usia 20 – 45 tahun, sementara23,5 cm untuk outcome kehamilan, yaitu morbiditas dan mortalitas bayi.Kata kunci: Lingkar lengan atas, indeks massa tubuh, kekurangan energi kronisAbstractMid-upper arm circumference has been used in Indonesia as an proxy indicator of chronic energy malnutrition risk for pregnant women because there isn’t any data of prepregnancy weight in most of pregnant women. The boundary used was 23,5 cm. The objective of the study is to validate the currentboundary related to body mass index (BMI) indicator, which is believed as a better indicator in identifying women nutritional status. The study is using Riset Kesehatan Dasar 2007 data on Indonesian adult women aged 20 – 45 years old. The study found the boundary is 24,95 cm for detecting chronic energy malnutrition risk among adult women (Se = 85%; Sp = 75%). There are differences among provinces but not more than 2 cm, the lowest is in Nusa Tenggara Timur (23,95 cm) and the highest is in North Sulawesi and Gorontalo (25,95 cm). Mid upper arm circumference has a strong relationto BMI (r = 0,67; p value < 0,000). It is recommended to use mid-upper arm circumference boundary 24,95 cm to detect chronic energy malnutrition on 20 – 45 years old women and 23,5 cm to pregnancy outcome, baby morbidity, and mortality.Key words: Mid-upper arm circumference, body mass index, chronic energy deficiency
Kekuatan Psikologis Ibu untuk Menyusui Wattimena, Inge; Susanti, Natalia L.; Marsuyanto, Yusep
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 2 September 2012
Publisher : Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.381 KB) | DOI: 10.21109/kesmas.v7i2.63

Abstract

Anjuran World Health Organization (WHO) agar ibu menyusui minimal selama 6 bulan masih belum tercapai. Studi ini bertujuan untuk meneliti kekuatan psikologis ibu yang berhasil menyusui lebih dari 6 bulan. Metode penelitian kualitatif deskriptif dilakukan pada enam ibu yang diambil secara purposif dengan kriteria menyusui lebih dari 6 bulan. Hasil wawancara mendalam dianalisis dan hasilnya menunjukkan bahwa kesadaran ibu tentang keunggulan dan kekuatan spiritual dalam air susu ibu (ASI) serta dukungan,afeksi positif, sikap tangguh, tujuan terarah, dan kesejahteraan menjadi kekuatan psikologis mereka. Hasil ini dapat digunaka sebagai masukan bagi promosi kesehatan untuk ibu menyusui. Kata kunci: Menyusui, kekuatan psikologis, keberhasilanAbstractThe World Health Organization recommendation for six months breastfeeding is not yet achieved. This study examined the psychological strengths of six women who had successfully breastfed for more than six months. A descriptive qualitative method was used. Semistructured interviews were used and the records were analyzed. It was shown that understanding of benefits and spiritual power of breastmilk, full support, positive affection, strong attitude, directed goals, and well-being become their psychological strengths. These results could be used as inputs for health promotion for breastfeeding mother. Key words: Breastfeeding, psychological strengths, success

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 3 (2020): Volume 15, Issue 3, August 2020 Vol 15, No 2 (2020): Volume 15, Issue 2, May 2020 Vol 15, No 2 (2020): Volume 15, Issue 2, 2020 - SPECIAL ISSUE Vol 15, No 1 (2020): Volume 15, Issue 1, February 2020 Volume 13, Issue 4, May 2019 Volume 13, Issue 3, February 2019 Vol 14, No 2 (2019): Volume 14, Issue 2, November 2019 Vol 14, No 1 (2019): Volume 14, Issue 1, August 2019 Volume 13, Issue 2, November 2018 Volume 13, Issue 1, August 2018 Volume 12, Issue 4, May 2018 Volume 12, Issue 3, February 2018 Volume 12, Issue 2, November 2017 Volume 12, Issue 1, August 2017 Volume 11, Issue 4, May 2017 Volume 11, Issue 3, February 2017 Volume 11, Issue 2, November 2016 Volume 11, Issue 1, August 2016 Vol. 10 No. 4 May 2016 Vol. 10 No. 3 February 2016 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 2 November 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 4 Mei 2015 Vol. 9 No. 3 Februari 2015 Vol. 10 No. 1 Agustus 2015 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 9 No. 1 Agustus 2014 Vol. 8 No. 8 Mei 2014 Vol. 8 No. 7 Februari 2014 Vol. 8 No. 6 Januari 2014 Vol 9 No. 2 November 2014 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 8 No. 5 Desember 2013 Vol. 8 No. 4 November 2013 Vol. 7 No. 9 April 2013 Vol. 7 No. 8 Maret 2013 Vol. 7 No. 7 Februari 2013 Vol. 7 No. 6 Januari 2013 Vol. 7 No. 11 Juni 2013 Vol. 7 No. 10 Mei 2013 Vol 8. No. 3 Oktober 2013 Vol 8. No. 2 September 2013 Vol 8. No. 1 Agustus 2013 Vol 7. No. 12 Juli 2013 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 7 No. 5 Desember 2012 Vol. 7 No. 4 November 2012 Vol. 7 No. 3 Oktober 2012 Vol. 7 No. 2 September 2012 Vol. 7 No. 1 Agustus 2012 Vol. 6 No. 6 Juni 2012 Vol. 6 No. 5 April 2012 Vol. 6 No. 4 Februari 2012 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 6 No. 3 Desember 2011 Vol. 6 No. 2 Oktober 2011 Vol. 6 No. 1 Agustus 2011 Vol. 5 No. 6 Juni 2011 Vol. 5 No. 5 April 2011 Vol. 5 No. 4 Februari 2011 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 5 No. 3 Desember 2010 Vol. 5 No. 2 Oktober 2010 Vol. 5 No. 1 Agustus 2010 Vol. 4 No. 6 Juni 2010 Vol. 4 No. 5 April 2010 Vol. 4 No. 4 Februari 2010 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 4 No. 3 Desember 2009 Vol. 4 No. 2 Oktober 2009 Vol. 4 No. 1 Agustus 2009 Vol. 3 No. 6 Juni 2009 Vol. 3 No. 5 April 2009 Vol. 3 No. 4 Februari 2009 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 3 No. 3 Desember 2008 Vol. 3 No. 2 Oktober 2008 Vol. 3 No. 1 Agustus 2008 Vol. 2 No. 6 Juni 2008 Vol. 2 No. 5 April 2008 Vol. 2 No. 4 Februari 2008 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 2 No. 3 Desember 2007 Vol. 2 No. 2 Oktober 2007 Vol. 2 No. 1 Agustus 2007 Vol. 1 No. 6 Juni 2007 Vol. 1 No. 5 April 2007 Vol. 1 No. 4 Februari 2007 Vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 vol. 1 No. 3 Desember 2006 Vol. 1 No. 2 Oktober 2006 Vol. 1 No. 1 Agustus 2006 More Issue