cover
Contact Name
Dedi Mulyadi
Contact Email
d3dimulya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
riset.geotek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan
ISSN : 01259849     EISSN : 23546638     DOI : -
Core Subject : Science,
RISET (Indonesian Journal of Geology and Mining) welcomes article submissions dealing with Geology; Applied Geophysics; Mining.
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
Karakteristik Interaksi Air - CO2 - CaCO3 dan Analisis Sistem Aliran Air Tanah Karst Musim Kemarau di Kab. Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Setiawan, Taat; Isnaini, Soeharti; Asghaf, Novi M. A.; Effendi, Idham
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 29, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/risetgeotam2019.v29.1022

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan pengukuran sifat fisika dan kimia air di lapangan berupa suhu, daya hantar listrik, pH, dan ion HCO3-, serta analisis hidrokimia di laboratorium terhadap contoh air dari sumur bor, mata air, dan sungai bawah tanah. Interpretasi aliran air tanah karst sebagai bentuk interaksi antara air (H2O), CO2, dan CaCO3 dilakukan dengan menghitung indeks kejenuhan CaCO3 dan tekanan parsial CO2. Hasil analisis menunjukkan air tanah pada mata air dan sungai bawah tanah memiliki tingkat interaksi air- CaCO3 lebih singkat dan interaksi air-CO2 lebih lama dibanding air tanah pada sumur bor. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sistem akuifer karst pada satuan plato Wonosari memiliki karakter aliran difusi yang bersifat tertutup, sedangkan pada satuan perbukitan karst Gunungsewu menunjukkan adanya perubahan karakter aliran secara difusi pada zona epikarst menjadi aliran konduit.This study was conducted by measuring the physical and chemical properties of water in the field: temperature, electrical conductivity, pH, and HCO3-, as well as hydrochemical analysis of major ions in the laboratory against water samples from boreholes, springs, and underground rivers. Groundwater flow system as a result of water-CO2-CaCO3 interaction is interpreted by calculating the saturation index of CaCO3 and the partial pressure of CO2. The results of the analysis show that groundwater in springs and underground rivers have shorter water-rock interaction and longer water-CO2 interactions than groundwater in boreholes. This condition indicates that the karst aquifer system in the Wonosari plateau unit has a character of diffusion flow (closed system), whereas in the Gunungsewu karst hills shows a change in the character of the flow diffusion in the epikarst zone into a conduit flow. 
Fasies dan Lingkungan Pengendapan Formasi Jonggrangan pada Jalur Lintasan Sentul-Gunung Jonggol, Pegunungan Kulon Progo Bagian Timur Kusuma, Herning Dyah; Ramadhani, Hanindya; Novian, Mochamad Indra; Furqon, Muhammad Amirul; Arimawan, Yoga; Citra, Irra Aprilia
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 29, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/risetgeotam2019.v29.1002

Abstract

Formasi Jonggrangan tersingkap dengan baik di daerah Sentul- Gunung Jonggol, bagian timur dari Pegunungan Kulon Progo. Terbatasnya informasi stratigrafi rinci mengenai Formasi Jonggrangan menyebabkan sejarah pengendapan formasi ini masih menjadi topik menarik untuk diteliti. Pengukuran stratigrafi serta analisa petrografi dan paleontologi telah dilakukan di area ini untuk mengetahui fasies dan memprediksi lingkungan pembentukannya. Berdasarkan karakter fisik dan biotanya Formasi Jonggrangan di daerah penelitian dapat dibagi menjadi 6 fasies batuan, yakni fasies tuff, fasies batupasir karbonatan, fasies batugamping pasiran, fasies batugamping koral/rudstone, fasies algal bindstone-coraline framestone dan fasies konglomerat polimik. Lingkungan pengendapan Formasi Jonggrangan diinterpretasikan berada pada daerah interior normal marine, reef crest/margin and reef slope. Hasil analisis fosil foraminifera mengindikasikan pengendapan formasi ini dimulai pada Miosen Awal (N4) dan diakhiri di Miosen Tengah (N9).The Jonggrangan Formation are well exposed in the Sentul - Gunung Jonggol area, at the eastern part of Kulon Progo Mountain. Limited detailed stratigraphic information causes the evolution of the depositional of the formation is an interesting topic to study. Stratigraphic measurement along with petrographic and paleontology analyses of this formation have been carried out to identify their facies and predict the development of depositional environment. Based on the physical character and content of the biota, the Jonggrangan Formation can be grouped into 6 facies tuff facies, allochemic sandstone facies, sandy limestone facies, rudstone facies, algal bindstone-coraline framestone facies and polymict conglomerate facies. The depositional environment of Jonggrangan Formation are in the platform of interior normal marine, reef crest/margin and reef slope. Result of the foramminifera fossil anaysis indicates that the deposition of this formation started in the Early Miocene (N4) and terminated in the Middle Miocene (N9). 
Lumpur Hitam Tanah Rawa Hutan Mangrove Karangsong (Kabupaten Indramayu): Komposisi Kimia dan Transformasi Fasa Mineral yang Dihasilkan melalui Penanganan secara Termal Suhendar, Dede; Sundari, Esti; Supriadin, Asep
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 29, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/risetgeotam2019.v29.625

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki kandungan unsur dan transformasi mineral-mineral utama lumpur hitam dari tanah rawa hutan mangrove Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sampel lumpur hitam kering diberi perlakuan secara termal dan bertahap pada kisaran suhu 120 - 1000 °C. Kandungan mineral dan transformasinya kemudian dianalisis dengan metode difraksi serbuk sinar-X. Kandungan unsur-unsur berat sebelum dan sesudah perlakuan ditentukan dengan menggunakan metode fluoresensi sinar-X, sedangkan unsur-unsur yang lebih ringannya ditentukan berdasarkan interpretasi pola pergeseran spektrum FTIR. Berdasarkan tiga analisis dan karakterisasi, sampel lumpur mengandung unsur utama O, Si, Al, Fe, Cl, Na, S, dan Mg, dan sisanya masing-masing kurang dari 1% adalah K, Ca, Ti, P , Mn, V, Zn, Cr, Br, Rb, Cu, Ni, Ga, Y, dan Sc. Kehadiran unsur C dan N dideteksi secara kualitatif melalui pola spektrum inframerah. Fase yang terdeteksi pada sampel awal terutama meliputi kuarsa, hastingsit, halloisit, dan albit. Dua fase lainnya yang terdeteksi adalah pirit dan sfalerit. Dengan memperhatikan kandungan kimia dan transformasi mineral-mineralnya, lingkungan abiotik hutan mangrove menyimpan banyak informasi kimia yang berharga dalam memahami kemungkinan reaksi-reaksi katalisis di dalamnya sepanjang waktu geologi. This research was to investigate the content of elements and transformation of the minerals of black mud samples from mangrove forest masrshland, Karangsong, Indramayu Regency, West Java. The dried black mud sample was treated gradually in the temperature ranges of 120 - 1000 °C. The mineral contents and their transformations were then examined by the X-ray powder diffraction method. The content of heavy elements before and after the treatment was determined using the X-ray fluorescence method, while the light elements was determined based on the interpretation of the FTIR spectrum shift patterns. The three analyses and characterizations indicate that the mud samples contained the main elements of O, Si, Al, Fe, Cl, Na, S, and Mg. The remaining of less than 1% contained K, Ca, Ti, P , Mn, V, Zn, Cr, Br, Rb, Cu, Ni, Ga, Y, and Sc. The presence of C and N elements were detected qualitatively through the infrared spectrum patterns. The phases detected in the initial sample mainly include quartz, hastingsite, halloysite, and albite. The other two phases detected were pyrite and sphalerite. Given the elements and transformation of such minerals, the abiotic environment of mangrove forests holds much valuable chemical information in understanding the possibility of catalysis reactions in them over geologic time. 
Pendugaan Akifer Airtanah dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger di Lereng Utara Gunungapi Tangkubanparahu Yuniardi, Yuyun; Hendarmawan, Hendarmawan; Abdurrokhim, Abdurrokhim; Isnaniawardhani, Vijaya; Mohammad, Febriwan; Alfadli, Muhammad Kurniawan; Ridwan, Panji
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 29, No 2 (2019)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/risetgeotam2019.v29.1051

Abstract

Airtanah sangat diperlukan dan meningkatnya jumlah penduduk akan menyebabkan pengurangan cadangan airtanah yang tersedia. Gunung Tangkubanparahu merupakan daerah endapan vulkanik yang memiliki potensi sistem akuifer airtanah yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi airtanah dari sistem akuifer vulkanik berdasarkan pengamatan geologi dan pengukuran geolistrik 1D sebanyak 100 titik. Hasil penelitian menunjukkan empat kelompok nilai resistivitas yang merepresentasikan kondisi geologi bawah permukaan. Kelompok pertama mempunyai nilai 0-100 ohm.m, berupa kelompok batuan piroklastik yang tercampur tanah. Kelompok kedua mempunyai nilai resitivitas 101-250 ohm.m, berupa kelompok batuan perselingan antara pasir tufan dan tuf kasar. Kelompok ketiga mempunyai nilai 251-600 ohm.m, berupa kelompok batuan breksi. Kelompok keempat  mempunyai nilai resistivitas >600 ohm.m, berupa kelompok batuan aliran lava. Sistem airtanah yang dapat diasumsikan sebagai akifer tersebar merata pada kedalaman 50 m, 75 m, dan 100 m berupa kelompok batuan tuf.Groundwater is the primary source of water and the increase in population will cause an decrease in groundwater reserves. Mt.Tangkubanparahu is a volcanic deposition area that has high potential groundwater aquifer systems. The purpose of this study was to determine the groundwater potential of the volcanic aquifer system based on geology mapping and 1D geoelectric measurements at 100 stations. The results indicated four groups of resistivity values, which represent subsurface geological conditions. The first group has a resistivity value of 0-100 ohms.m in the form of pyroclastic rocks. The second group has a resistivity value of 101-250 ohms.m in the form sand tuff and coarse tuff. The third group has a value of 251-600 ohm.m in the form of breccia rocks. And the fourth group has resistivity values> 600 ohms in the form of lava flow rock groups. In the groundwater system, the layer that can be assumed as aquifer is evenly distributed at depths of 50 m, 75 m, and 100 m in the form of tuff groups.  
PEMANFAATAN BAND TERMAL CITRA LANDSAT UNTUK IDENTIFIKASI KELUARAN AIRTANAH LEPAS PANTAI (KALP) DI PANTAI UTARA LOMBOK Lestiana, Hilda; Sukristiyanti, Sukristiyanti; Bakti, Hendra; Lubis, Rachmat Fajar
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 27, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.485 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2017.v27.422

Abstract

This paper examines the use of Landsat 7 and 8 thermal band as an indirect method of identifying submarine groundwater discharge (SGD) in the northern coast of Lombok Island. Image processing steps include atmospheric correction, the acquisition value of the effective temperature, effective temperature anomalies and effective standardised temperature anomalies, as well as image enhancement. Effective standardised temperature anomaly map has more varied pattern than the effective temperature map. But both of them have not been able to demonstrate the extreme temperatures that indicate the location of SGD. Parameter of effective standardised temperature anomaly could not be used as a single variable. SGD identification in tropical area needs more detailed spatial resolution. The acquisition time has also to be considered i.e. when low tidal and for low temperature SGD, when the water temperature is warmer. AbstrakMakalah ini mengkaji penggunaan band termal citra Landsat 7 dan 8 sebagai metode tidak langsung dalam mengidentifikasi kehadiran keluaran airtanah lepas pantai (KALP) di perairanutara Pulau Lombok. Langkah pengolahan citra meliputi koreksi atmosferik, pemerolehan nilai suhu efektif, anomali suhu efektif, dan anomali suhu efektif standar serta penajaman citra. Petaanomali suhu efektif standar memiliki pola yang lebih bervariatif dibandingkan peta suhu efektif. Namun keduanya belum dapat menunjukkan suhu ekstrim yang mengindikasikan lokasi KALP. Parameter anomali suhu efektif standar tidak dapat dipergunakan sebagai variabel tunggal. Identifikasi lokasi KALP di daerah tropis membutuhkan data citra dengan resolusi spasial yang lebih detail. Pemanfaatan data citra juga perlu memperhatikan waktu perekaman citra yaitu pada saat kondisi perairan hangat untuk kasus KALP bersuhu rendah dan pada saat air surut.
DINAMIKA ELEVASI MUKA AIR PADA LAHAN DAN SALURAN DI LAHAN GAMBUT Runtunuwu, Eleonora; Kartiwa, Budi; Kharmilasari, Kharmilasari; Sudarman, Kurmen; Nugroho, Wahyu Tri; Firmansyah, Anang
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 21, No 2 (2011)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1353.56 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2011.v21.47

Abstract

ABSTRAK Reklamasi gambut untuk pertanian memerlukan jaringan drainase makro yang dapat mengendalikan tata air dalam satu wilayah dan drainase mikro untuk mengendalikan tata air di tingkat lahan. Elevasi muka air harus dipertahankan secara optimal. Tidak terlalu dalam agar tanaman tidak mengalami kekeringan dan tidak terlalu dangkal agar tanaman tidak tergenang. Untuk itu diperlukan bangunan pengendali berupa pintu air di setiap saluran. Pintu air berfungsi untuk mengatur muka air tanah supaya tidak terlalu dangkal dan tidak terlalu dalam, sehingga kelestarian gambut dapat terjaga. Pemasangan pintu air baik letak maupun jumlahnya perlu diawali dengan mengetahui fluktuasi air di saluran dan lahan. Tulisan ini bertujuan untuk mempelajari dinamika elevasi muka air pada lahan dan saluran dan keterkaitannya dengan curah hujan di lahan gambut. Untuk mencapai tujuan tersebut telah dilakukan penelitian di Desa Jabiren, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian dilaksanakan sejak April sampai dengan Oktober 2011. Analisis difokuskan untuk memahami karakteristik hujan, karakteristik hidrologi, elevasi muka air lahan dan saluran, hidrotopografi, serta hubungan curah hujan dan elevasi muka air. Data dasar ini sangat dibutuhkan sebagai informasi peringatan dini agar kejadian air berlebihan atau terbatas di lahan gambut dapat diantisipasi dengan baik.
Geotechnical Investigation of Land Movement on Roadway at KM 23, Citatah Area, West Java Province Djakamihardja, Achmad Subardja
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 18, No 2 (2008)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.093 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2008.v18.15

Abstract

Gerakan tanah di daerah Citatah terjadi di km 23 jalan raya dari Bandung ke Jakarta, Jawa Barat, Indonesia. Dimensi lereng yang longsor diperkirakan sepanjang 200 meter yang terletak di daerah dengan morfologi sedang sampai tinggi. Aktifitas gerakan tanah diatas memberikan dampak terhadap jalan tersebut yang melintasi badan lereng yang longsor. Penelitian geologi teknik dan geofisik dilakukan untuk mempelajari mekanisme dan karakter dari tanah dan batuan pada longsoran/rayapan diatas. Analisis tahanan jenis  menunjukkan bahwa lapisan tanah yang tidak stabil mempunyai nilai antara 23-25 Ωm, lapisan antara batulempung berupa silt dan batupasir,  mempunyai nilai tahanan jenis antara 7-17 Ωm, tahanan jenis batulempung antara 2-7 Ωm, and batuan andesit sebagai sill antara 40-85 Ωm. Analisis conto inti batuan yang diambil dari pemboran dangkal  memperlihatkan hubungan antara nilai tahanan jenis dan jenis batuan.  Lapisan batulempung pada lubang bor 1 dengan kedalaman 9 m, memberikan indikasi nilai tahanan jenis antara 3-7 Ωm.  Sedangkan pada lubang bor 2, batulempung pada kedalaman 14 m. Kedua lapisan batulempung diatas diperkirakan merupakan bidang lincir dari gerakan tanah.  Hasil dari penyelidikan yang telah dilakukan dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan teknik mitigasi longsoran didaerah  ini. Untuk itu lintasan jalan yang diusulkan disarankan untuk melintasi diatas batuan andesit yang terletak diantara batulempung diatas, yang merupakan formasi Batuasih.
GEOCHEMICAL EVIDENCE OF ISLAND-ARC ORIGIN IN VOLCANIC ROCKS OF CENTRAL SUMATERA Zulkarnain, Iskandar
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 24, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2020.492 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2014.v24.79

Abstract

Abstract. Geochemical study on volcanic in Lampung and Bengkulu regions proposed a preposition that the western part of Sumatera is formed by a separated fragment with island-arc character and does not belong to continental margin of Eurasia. Geochemical signatures of western and eastern volcanic in Central Sumatera have confirmed the preposition indicated by evidences of existing island-arc tectonic environment on the western volcanic and both island-arc and continental tectonic environments on the eastern volcanic. Besides that, the geochemical data in this region have revealed the third tectonic environment reflecting development of back-arc tectonic setting in the geological history of the island. The island-arc tectonic setting is marked by higher ratio of (Ti/Ce)N, varying from 0.15 to 0.3, but in narrow ratio of (Ta/Nb)N, between 1.0 to 1.5, while the Active Continental Margin tectonic environment is characterized by wide range of (Ta/Nb)N ratio, ranging from 1.2 to 2.8 but with ratio of (Ti/Ce)N less than 0.1. The back-arc basin tectonic setting is marked by high ratio of (Ti/Ce)N, up to more than 0.8. The results are made based on rock chemistry analysis including major, trace and rare earth elements.
Limbah Batubara Sebagai Pembenah Tanah dan Sumber Nutrisi: Studi Kasus Tanaman Bunga Matahari (Helianthus Annuus) Noviardi, Rhazista
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 23, No 1 (2013)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.705 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2013.v23.70

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pemanfaatan limbah batubara sebagai pembenah tanah dan sumber nutrisi bagi tanaman bunga matahari (Helianthus Annuus). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah rasio limbah batubara (% berat) yang terdiri dari 6 (enam) perlakuan yaitu 0, 10, 20, 30, 40 dan 50%. Faktor kedua adalah dosis kompos yang terdiri dari 3 (tiga) perlakuan yaitu 0, 400 dan 800 gram/pot. Kedua faktor tersebut dikombinasikan sehingga diperoleh 18 perlakuan dengan dua kali ulangan sehingga terdapat 36 pot percobaan. Pengaruh perbedaan perlakuan pada percobaan diuji dengan uji ANOVA pada taraf 5%. Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan pada masing-masing faktor, dilakukan uji jarak berganda Duncan, pada taraf ketelitian 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan limbah batubara atau kompos pada tanah meningkatkan biomassa tanaman bunga matahari, namun bila keduanya dikombinasikan tidak berpengaruh terhadap biomassa tanaman. Penambahan limbah batubara 50% (% berat) atau kompos 800 g/pot menghasilkan biomassa tanaman bunga matahari  tertinggi yaitu masing-masing sebesar 0,16 kg dan 0,14 kg bk (berat kering).
SUHU MUKA LAUT DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN LINIER KORAL KEPULAUAN SERIBU Purnamasari, Ida Ayu; Cahyarini, Sri Yudawati
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 20, No 2 (2010)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.936 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2010.v20.38

Abstract

ABSTRAK Koral menyimpan informasi perubahan lingkungan. Analisis pertumbuhan tahunan koral telah dipakai sebagai salah satu data untuk mengetahui perubahan lingkungan. Dalam studi ini dilakukan penghitungan pertumbuhan linier koral dari wilayah Kepulauan Seribu. Penghitungan pertumbuhan linier digunakan dengan menganalisis densitometry  yaitu luminance dengan software koral XDS. Hasilnya diperoleh data kecepatan pertumbuhan linier dalam urut-urutan waktu yang kemudian dibandingkan dengan data suhu permukaan laut. Hasil dari studi ini menunjukkan koral di wilayah lepas pantai (offshore) pertumbuhan linier tahunannya dipengaruhi oleh suhu lebih besar dibandingkan dengan koral di wilayah laut dekat dataran Jakarta (inshore).

Page 1 of 21 | Total Record : 210