cover
Contact Name
Dedi Mulyadi
Contact Email
d3dimulya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
riset.geotek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan
ISSN : 01259849     EISSN : 23546638     DOI : -
Core Subject : Science,
RISET (Indonesian Journal of Geology and Mining) welcomes article submissions dealing with Geology; Applied Geophysics; Mining.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 24, No 1 (2014)" : 6 Documents clear
GEOCHEMICAL EVIDENCE OF ISLAND-ARC ORIGIN IN VOLCANIC ROCKS OF CENTRAL SUMATERA Zulkarnain, Iskandar
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 24, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2020.492 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2014.v24.79

Abstract

Abstract. Geochemical study on volcanic in Lampung and Bengkulu regions proposed a preposition that the western part of Sumatera is formed by a separated fragment with island-arc character and does not belong to continental margin of Eurasia. Geochemical signatures of western and eastern volcanic in Central Sumatera have confirmed the preposition indicated by evidences of existing island-arc tectonic environment on the western volcanic and both island-arc and continental tectonic environments on the eastern volcanic. Besides that, the geochemical data in this region have revealed the third tectonic environment reflecting development of back-arc tectonic setting in the geological history of the island. The island-arc tectonic setting is marked by higher ratio of (Ti/Ce)N, varying from 0.15 to 0.3, but in narrow ratio of (Ta/Nb)N, between 1.0 to 1.5, while the Active Continental Margin tectonic environment is characterized by wide range of (Ta/Nb)N ratio, ranging from 1.2 to 2.8 but with ratio of (Ti/Ce)N less than 0.1. The back-arc basin tectonic setting is marked by high ratio of (Ti/Ce)N, up to more than 0.8. The results are made based on rock chemistry analysis including major, trace and rare earth elements.
PENJEJAK KELUARAN AIRTANAH DI LEPAS PANTAI (KALP) DI PANTAI UTARA SEMARANG DAN SEKITARNYA DENGAN 222RADON Bakti, Hendra; Naily, Wilda; Lubis, Rachmat Fajar; Delinom, Robert M.; Sudaryanto, Sudaryanto
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 24, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.708 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2014.v24.80

Abstract

ABSTRAK Pengambilan airtanah di kota Semarang di tahun 2009 mencapai 17,4 juta m3 setiap tahunnya dan terkonsentrasi di daerah Semarang Utara. Dampak yang timbul adalah  terjadinya krisis airtanah yang ditandai dengan penurunan muka airtanah sedalam hampir 20 meter pada daerah seluas 30 m2. Penurunan  muka airtanah tersebut mengakibatkan terkontaminasinya airtanah dalam (deep aquifer) termasuk intrusi air laut, penurunan permukaan tanah (land subsidence), dan banjir genangan (rob). Untuk mendeteksi kehadiran KALP yangberasosiasi dengan tidak adanya intrusi air laut, dilakukan penelitian dengan menggunakan isotop radon. Hasil penelitian menunjukkan tingginya level radon pada air laut di sebagian lokasi di lepas pantai, yang berasosiasi dengan aluvial pasir yang terendapkan di sekitar pantai. Kondisi ini mencerminkan adanya airtanah tawar secara lokal dalam jumlah terbatas ke laut
STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN KOTA SEMARANG BERDASARKAN DATA GAYABERAT Wardhana, Dadan Dani; Harjono, Hery; Sudaryanto, Sudaryanto
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 24, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1653.987 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2014.v24.81

Abstract

ABSTRAK Kota Semarang merupakan kota yang berkembang dari pemukiman tua yang dibangun pada endapan alluvial yang berumur sangat muda. Beberapa fenomena alam yang muncul seiring dengan perkembangan kota Semarang, diantaranya penurunan muka tanah, terjadi banjir rob, dan di beberapa kawasan terjadi longsor. Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk mengetahui penyebab dari fenomaena tersebut. Pada penelitian ini telah dilakukan studi gayaberat untuk mengidentifikasi kaitan antara struktur bawah permukaan dengan fenomena penurunan muka tanah. Analisis struktur bawah permukaan dilakukan melalui interpretasi kualitatif terhadap peta anomali gayaberat Bouguer dan anomali residual. Sedangkan interpretasi kuantitatif dibuat model 2-dimensi gayaberat dan model inversi 2-dimensi tahananjenis. Hasil penelitian mempelihatkan rentang anomali Bouguer antara -15 sampai 10 mGal, berada pada zona anomali rendah. Pola struktur yang tergambar didominasi oleh arah baratlaut-tenggara. Anomali di timur relatif lebih tinggi daripada yang di barat yang menunjukkan bahwa basement di bagian timur lebih dangkal dibandingkan dengan yang di sebelah barat. Tiga penampang model gayaberat dibuat dalam 7 lapisan dengan densitas berturut-turut 1.85gr/cc, 2.00gr/cc, 2.20 gr/cc, 2.30 gr/cc, 2.45 gr/cc, 2.6 gr/cc dan 2.85 gr/cc. Hasilnya menggambarkan bahwa dominasi sesar naik dan geser yang terus aktif mengontrol batuan penyusun kota Semarang.
KONDISI PAELOSALINITAS PADA MIOSEN AKHIR–PLEISTOSEN DI CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA, INDONESIA, BERDASARKAN PERUBAHAN POPULASI NANOPLANKTON Santoso, Wahyu Dwijo; Insani, Halmi; Kapid, Rubiyanto
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 24, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1987.875 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2014.v24.77

Abstract

Abstract Quantitative biostratigraphy analysis by observing Sphenolithus abies and Helicosphaera carteri could predict paleosalinity changes at a sedimentary basin diachronically. Hyposaline conditions can be investigated from the abundance changes of Helicosphaera carteri and Calcidiscus leptoporus counts. Along this line, the increasing number of Sphenolithus abies demonstrates particular states of normal saline. Paleosalinity changes in the North East Java Basin, from Late Miocene to Pleistocene were identified from the top of Wonocolo Formation to bottom of Ledok Formation. Paleosalinity along this episode was interpreted as hyposaline condition. While at the top of Ledok Formation to Mundu Formation; paleosalinity had changed to normal saline. Furthermore, environmental conditions return to hyposaline when Selorejo Formation sediment was deposited. And during the deposition of Lidah Formation, deposition environment had returned to the normal saline.
IMPLEMENTASI MATERIAL PRESERVASI MIKROORGANISME (MPMO) DALAM PEMROSESAN LIMBAH CAIR ORGANIK PADA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH Agustinus, Eko Tri Sumarnadi; Sembiring, Happy; Effendi, Effendi
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 24, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.678 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2014.v24.82

Abstract

ABSTRAK Pemrosesan limbah cair organik dalam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Pabrik Gula Sindanglaut periode giling tebu tahun 2011 belum berlangsung dengan baik ditunjukkan oleh nilai SV-30 di unit Aerasi yang rendah (0-3 ml/L). Kondisi ini mengindikasikan tidak adanya aktivitas mikroorganisme. Oleh karena itu, periode giling tebu bulan Juli 2012 diterapkan Material Preservasi Mikroorganisme (MPMO) bertujuan untuk mengetahui kinerja material tersebut sebagai stater dalam pemrosesan limbah cair organik. Dalam penelitian ini, dilakukan kombinasi kimia dan biologi dengan pengembangbiakkan bakteri dan pemantauan dalam IPAL. Sebagai indikator pemrosesan adalah parameter fisika dan kimia mengacu Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 1995. Hasil pengukuran kondisi awal IPAL menunjukkan bahwa nilai COD (2.957 mg/L), BOD (2.356 mg/L), TSS (173 mg/L), kandungan sulfide (0,26 mg/L) dan minyak (18,9 mg/L) belum memenuhi syarat baku mutu lingkungan. Sedangkan hasil pengukuran pada kondisi akhir IPAL setelah pemrosesan, menunjukkan nilai COD (56-68 mg/L), BOD (33,63-42,41 mg/L), TSS (32-52 mg/L), kandungan sulfide (0,08 mg/L) dan minyak (1 mg/L) telah memenuhi syarat baku mutu lingkungan. Peningkatan kualitas limbah cair secara signifikan tersebut membuktikan bahwa MPMO dapat berperan sebagai stater dalam pemrosesan limbah cair organik. Sebagai dampaknya adalah peningkatan indikator sertifikasi lingkungan IPAL Pabrik Gula Sindanglaut dari proper merah menjadi proper biru.
PERBANDINGAN EFISIENSI KOAGULAN POLY ALUMUNIUM CHLORIDE (PAC) DAN ALUMUNIM SULFAT DALAM MENURUNKAN TURBIDITAS AIR GAMBUT DARI KABUPATEN KATINGAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Sutapa, Ignasius D.A.
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 24, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.807 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2014.v24.78

Abstract

Abstrak Air gambut memiliki potensi untuk diolah sebagai air baku karena ketersediaannya yang cukup banyak, terutama di Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah.  Masalah utama dalam mengolah air gambut berhubungan dengan karakteristik spesifik yang dimilikinya yakni kualitas dari air gambut tersebut belum memenuhi standar kualitas air untuk konsumsi. Salah satu proses pengolahan air gambut yakni koagulasi yang membutuhkan koagulan. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan efektifitas penggunaan poly alumunium chloride (PAC) dan alumunium sulfat dalam penurunan tingkat kekeruhan air gambut sehingga diperoleh dosis optimumnya. Metode yang digunakan dalam proses koagulasi menggunakan jar test dengan kecepatan pengadukan 100 RPM selama 2 menit untuk homogenisasi larutan dan pengadukan lambat selama 10 menit. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh dosis optimum dari kedua koagulan tersebut sebesar 160 mg/l. Nilai efisiensi tertinggi terlihat pada koagulan aluminium sulfat dengan presentase 96,17%, sedangkan PAC senilai 95%. Jika diukur dari segi ekonomis koagulan aluminium memiliki nilai lebih ekonomis yakni sebesar Rp 640/hari untuk 1 m3 atau Rp 19200/bulan untuk 30 m3 volume air gambut, sedangkan PAC Rp 1600/hari untuk 1 m3 atau Rp 48000/bulan untuk 30 m3 volume air gambut. Oleh karenanya dalam proses koagulasi air gambut asal Kalimantan Tengah ini direkomendasikan menggunakan koagulan aluminium sulfat.

Page 1 of 1 | Total Record : 6