cover
Contact Name
STT Jaffray
Contact Email
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
sttjaffraymakassar@yahoo.co.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Penerbitan Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Jalan Gunung Merapi No. 103 Makassar, 90114
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Jaffray
ISSN : 18299474     EISSN : 24074047     DOI : -
Jurnal Jaffray adalah jurnal peer-review dan membuka akses yang berfokus pada mempromosikan teologi dan praktik pelayanan yang dihasilkan dari teologi dasar, pendidikan Kristen dan penelitian pastoral untuk mengintegrasikan penelitian dalam semua aspek sumber daya Alkitab. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, review, dan juga laporan kasus yang menarik. Review singkat yang berisi perkembangan teologi, tafsiran biblika dan pendidikan teologi yang terbaru dan mutakhir dapat dipublikasi dalam jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 420 Documents
Ulasan Buku: Sistem Berteologi Seluk Beluk Pengajaran Kristen Kanna, Armin Sukri
Jurnal Jaffray Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 2 Oktober 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari sistem-sistem berteologi ini, penulis merumuskan tiga tujuan pembelajaran yaitu: Pertama, untuk melihat logika yang dibangun atas pengajaran keselamatan yang diajarkan dari firman Tuhan. Kedua, mampu melihat keragaman dan memberikan evaluasi atas perbedaan-perbedaan teologi itu. Ketiga, menerima perbedaan itu sebagai anugerah sepanjang tidak menyangkali prinsip dasar kekristenan, yaitu Kristus adalah Tuhan.Dari segi isi buku Sistem Berteologi memuat beragam pemikiran teologi mainstream yang berkembang dan dianut oleh berbagai aliran dan tradisi gereja yang ada dewasa ini termasuk di Indonesia. Pemikiran teologi yang dikemukakan dapat dilihat dalam sistematika berikut: Calvinisme (Teologi Reformed). Teologi Reformed muncul sebagai reaksi terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di dalam Gereja Katolik Roma pada abad ke-16. Penekanan Teologi Reformed dapat dilihat dari arti kata Reformed sendiri, yaitu “teologi Alkitab yang ditemukan kembali.” Dengan demikian, teologi Reformed mengembalikan pemahaman pada otoritas Alkitab sebagai firman Tuhan, kedaulatan Allah, dan keselamatan sebagai anugerah melalui Yesus Kristus. Gerakan reformasi oleh Martin Luther dan para reformator lainnya seperti Zwingli dan Calvin berpegang pada prinsip untuk mengembalikan gereja pada ajaran semula berdasarkan Alkitab dan menolak berbagai tradisi yang berakar dalam Gereja Roma Katolik yang dianggap menyimpang, yaitu menempatkan Paus sebagai kekuasaan tertinggi dalam gereja, penjualan karcis (surat) penebusan dosa, ajaran tentang Maria sebagai ratu surga dan ibu Tuhan, serta lain-lain. Martin Luther (1483-1546) merespon ajaran dan tradisi Gereja Katolik Roma dengan 95 dalil atau pernyataan iman, khususnya menyangkut keselamatan berdasarkan asas Sola Fide (hanya karena iman), manusia diselamatkan hanya karena iman yang diberikan berdasarkan anugerah-Nya (Sola Gratia). Ulrich Zwingli (1484-1531) melalui tulisan-tulisan dan khotbah-khotbah yang menekankan pengajaran Alkitab. Namun reaksi yang keras dilancarkan oleh petinggi Gereja Katolik Roma terhadap Zwingli dan pengikutnya yang menyebabkan pertempuran Kappel, di mana ia terbunuh bersama 500 orang Zurich lainnya.
Kajian Biblika Kecemburuan Allah Terhadap Penyembahan Berhala Berdasarkan Keluaran 20:4-6 Wauran, Queency Christie
Jurnal Jaffray Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 2 Oktober 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam Perjanjian Lama kecemburuan Allah selalu berada dalam konteks penyembahan berhala. Hukum Taurat yang kedua dengan jelas melarang penyembahan kepada patung oleh karena alasan ini yaitu Allah yang cemburu. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui arti kecemburuan Allah terhadap penyembahan berhala berdasarkan kitab Keluaran 20:4-6 dan implikasinya bagi kehidupan orang percaya. Adapun kesimpulan artikel ini adalah pertama, kecemburuan Allah terhadap penyembahan berhala menyatakan bahwa Allah tidak dapat direpresentasikan dalam bentuk apapun karena kecemburuan Allah ini menyatakan bahwa Ia adalah Allah yang kudus. Dengan demikian, hanya Allah satu-satunya yang harus disembah oleh orang percaya. Kedua, kecemburuan Allah terhadap penyembahan berhala menyatakan bahwa tidak boleh ada objek penyembahan yang lain selain kepada Allah karena penyembahan kepada berhala menandakan perzinaan rohani yang mengakibatkan kecemburuan Allah. Oleh karena itu, orang percaya harus menolak segala bentuk penyembahan berhala. Ketiga, penyembahan kepada berhala mendatangkan kecemburuan Allah karena kecemburuan Allah ini menyatakan kesetiaan-Nya atas perjanjian dengan umat-Nya. Dengan demikian, kecemburuan Allah seharusnya menjadi dasar dari penyembahan kepada Allah. Keempat, kecemburuan Allah atas penyembahan berhala mendatangkan hukuman karena kecemburuan Allah menyatakan keadilan-Nya dalam hal pemberian hukuman sebagai konsekuensi bagi penyembah berhala. Kelima, kecemburuan Allah atas penyembahan berhala menyatakan bahwa Allah mengasihi umat-Nya dan sekaligus menyatakan keadilan Allah dalam hal pemberian berkat bagi yang mengasihi-Nya. Kasih Allah mendasari hubungan-Nya dengan umat-Nya, dengan demikian kasih juga menjadi dasar hubungan orang percaya dengan Allah.In the Old Testament, the jealousy of God is always in the context of worshipping idols. The second commandment clearly prohibits the worshipping of statues for this reason, that God is jealous. This article is based on Exodus 20:4-6, and its purpose is to understand the meaning of God’s jealousy with respect to the worship of idols and its implications in the lives of believers. Now, the summary of this article is firstly: the jealousy of God in respect to idolatry says that God cannot be represented in any shape or form whatsoever because the jealousy of God says that He is a God who is Holy. As such, only God Himself should be worshipped by believers. Secondly, the jealousy of God in respect to idolatry says that there is to be no other object of worship other than God because the worship of idols signifies spiritual adultery that results in the jealousy of God.  Because of this, believers must reject all forms of idolatry. Thirdly, idolatry brings about the jealousy of God because of God’s faithful covenant with His people. Thus, the jealousy of God should become the foundation of worship to God. Fourthly, the jealousy of God in relation to idolatry brings about judgment because the jealousy of God says that He is just when giving judgment as a consequence for worshipping idols. Fifthly, the jealousy of God in relation to idolatry says that God loves His people and at the same time says that God is just in giving blessings to those who love Him. The love of God underlies the relationship God has with His people. As such, love also becomes the foundation of the relationship believers have with God.
Mengapa Allah Memakai Dwight Lyman Moody? Kisah Hidup Seorang Pelayan Sekolah Minggu Wijaya, Hengki
Jurnal Jaffray Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 2 Oktober 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v10i2.52

Abstract

Dalam pemeliharaan Allah yang kekal dan berdaulat, Allah telahmemilih untuk memakai orang-orang biasa, yang diberi kuasa RohKudus yang luar biasa, sebagai sarana utama yang melaluinya Diamenyebarkan kebenaran firman-Nya. Melalui perjalanan hidup DwightLyman Moody, penulis mengajak pembaca untuk mempelajari kuncikeberhasilan pelayanan dan kehidupan rumah tangga bersama anakanaknyayang dapat berjalan seimbang ditengah-tengah kesibukanmelayani Tuhan.Seorang pelayan Sekolah Minggu yang terus mengundang orangberdosa untuk datang kepada Kristus sampai akhir hidupnya adalahsesuatu yang menarik untuk diketahui bagaimana falsafah pelayanannyayang menyebabkan Allah memakai D.L. Moody dengan sangat luar biasa.Untuk hal tersebut maka penulis menuliskan suatu riwayat hidup D.L.Moody, seorang pelayan Sekolah Minggu.
Optimalisasi Hubungan Antargereja Di Doyo Sentani Sebagai Upaya Menunjang Keesaan Gereja Kaway, Otinel; Ronda, Daniel
Jurnal Jaffray Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v11i2.77

Abstract

Tujuan penulisan adalah untuk mengetahui pengaruh kerjasama dalampersekutuan bersama antargereja dapat mengoptimalkan sesuatu yang berguna untukmambawa perubahan dalam gereja-gereja lokal di Doyo SentaniMetode penelitian yang digunakan adalah: Pertama, studi kepustakaan yangmendukung pembahasan tulisan ilmiah ini. Kedua, melalui angket yang disebarkan keseratus responden, guna mendapat masukan dan sekaligus menjadi dasar yangmenguatkan penelitian serta memiliki bobot ilmiah. Ketiga, wawancara, yaitumelakukan percakapan langsung atau wawancara melalui beberapa pertanyaan lisankepada responden atau anggota jemaat juga kepada pemimpin dalam jemaat (pendeta,penatua, syamas, majelis) yang dituakan dan sebagai panutan dalam jemaat di tujuhdenominasi gereja yang ada di Doyo Sentani.Kesimpulan penelitian ini adalah: Pertama, Kesatuan dalam hubungankerjasama pelayanan antargereja di Doyo Sentani dapat tercipta apabila semuaorang percaya sungguh-sungguh memahami arti persekutuan yang dimaksudkan olehTuhan Yesus Kristus. Kedua, Hubungan antargereja sebagai upaya dan sarana untukmengkomunikasikan Injil Yesus Kristus bagi anggota jemaat yang tidak aktif, sertameningkatkan mutu rohani jemaat secara menyeluruh. Ketiga, Optimalisasihubungan kerjasama pelayanan melalui persekutuan bersama antargereja lokal diDoyo Sentani dapat dicapai karena hal itu merupakan kebutuhan. Pemimpin gerejadan anggota jemaat yang memahami kepentingan dari persekutuan bersama dapatmewujudkannya melalui pengoptimalisasian hubungan kerjasama antargereja lokaldi Doyo.
Eksegesis Yeremia 33:7-8 Maiaweng, Peniel C.D.
Jurnal Jaffray Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan Yeremia 33:7 -Smenunjukkan bahwa TUHAN bertanggungjawab terhadap kehidupan orang-orang yang percaya yang kepada-Nya dan Iabersikap adil dalam menghadapi cara hidup umat-Nya. Pada satu sisi, ada saat dimana Ia menghukum mereka karena dosa yang mereka lakukan, tetapi pada sisilain, ada saat di mana Ia menyadarkan mereka melalui janji di dalam firman-Nyaagar mereka datang kepada-Nya dan mengaku dosa mereka untuk mengalamipengampunan dan pemulihan dari-Nya.Penekanan penting di sini adalah jika kita disadarkan oleh Tuhan tentangdosa yang kita miliki, maka kita harus meninggalkannya, agar kita dapat menikmatianugerah, pengampunan dan keselamatan dari Tuhan
Doctrine of Trinity: A Theological Approach of Evidence of The Trinity in The New Testament Astika, Made
Jurnal Jaffray Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 2 Oktober 2012
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v10i2.50

Abstract

The doctrine of the Trinity has been a divisive issue throughoutthe entire history of the Christian church. While the core aspects of theTrinity are clearly presented in God’s Word, some of the side issues arenot as explicitly clear. The Father is God, the Son is God, and the HolySpirit is God—but there is only one God. That is the biblical doctrine ofthe Trinity. Beyond that, the issues are, to a certain extent, debatable andnon-essential. Rather than attempting to fully define the Trinity withour finite human minds, we would be better served by focusing on thefact of Gods greatness and His infinitely higher nature.From the Second Century to our present age many people havefound the biblical doctrine of the Trinity hard to understand. Someonehas said of this doctrine: “Try to explain it, and you’ll lose your mind; buttry to deny it, you’ll lose your soul.
Makna Kebangkitan Kristus Berdasarkan I Korintus 15:12-28 Dan Implikasinya Bagi Orang Percaya Rande, Nicolas; Ronda, Daniel
Jurnal Jaffray Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v11i2.79

Abstract

Sesuai dengan pokok masalah yang ada, maka yang menjadi tujuan dalampenulisan karya ilmiah ini adalah: Pertama, untuk menjelaskan makna kebangkitanKristus berdasarkan I Korintus 15:12-28. Kedua, untuk menjelaskan implikasi darimakna kebangkitan Kristus bagi orang percaya.Adapun metode penulisan yang digunakan adalah: menggunakan hermeneutikametode eksegesis Alkitab, yang sumbernya berkaitan langsung dari literatur (LibraryResearch) dengan menggunakan buku-buku pendukung yang relevan dengan judulyang dibahas oleh penulis dan disertai bantuan media elektronik.Adapun kesimpulan karya ilmiah “Makna Kebangkitan Kristus Berdasarkan IKorintus 15:12-28 Dan Implikasinya Bagi Orang Percaya” adalah Pertama, Kristusadalah Allah yang menjadi manusia sejati. Sebagai manusia Kristus mengalamikematian tubuh. Tetapi di dalam Dia, Allah hadir dan bertindak membangkitkan-Nya dari kematian itu. Kedua, kebangkitan Kristus adalah bagian dari Injil yangutuh yang diberitakan sekaligus meneguhkan pemberitaan Injil. Sebab, pemberitaanInjil yang lengkap tidak terpisahkan dari peristiwa dan pemberitaan kebangkitanKristus. Ketiga, kebangkitan Kristus menjadi penentu dari seluruh ajaran Kristensehingga tegak atau runtuhnya iman Kristen didasarkan kepada realitas kebangkitanKristus. Keempat, kebangkitan Kristus adalah salah satu penentu tentang jaminankarya penebusan Allah yang sempurna melalui Anak-Nya yaitu Yesus Kristus.Kelima, kebangkitan Kristus adalah dasar kebangkitan orang-orang percaya padasaat kedatangan Kristus yang kedua kalinya (parousia)
Peranan Kaum Awam dalam Pertumbuhan Gereja KIBAID Jemaat Latimojong
Jurnal Jaffray Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam menindaklanjuti amanat Agung Yesus Kristus yang yang rerdapatdalam Matius 28 :1, 20 Yaitu menjadikan sekalian bangsa murid-Nya maka kaumawam harus diberi pelatihan dan peran agar terlibat dalam berbagai bentukkehidupannya menjadi saksi Kristus sehingga Gereja dapat bertumbuh. GerejaKIBAID Latimojong berkembang dengan berdirinya beberapaJemaat di Makassar,karena kaum Awam diberi pelatihan dan peran dalam bersaksi. Dalam tulisan iniakan dipaparkan tentang dasar Alkitab mengenai peran atau keterlibatan kaumAwam dan strategi Pertumbuhan Gereja.Bagian ini merupakan rinjauan pustaka yang dianggap sangat penting sebagailandasan untuk melangkah pada pembahasan inti yairu peranan kaum awam sebagaistrategi pertumbuhan gereja KIBAIDJemaat Latimojong. Landasan tersebut adalahpemahaman dasar tentang peranan kaum awam dalam pertumbuhan gereja.
Manfaat Kebenaran Perbuatan: Suatu Analisis Terhadap Ajaran Filsafat Pragmatisme Maiaweng, Peniel C.D.
Jurnal Jaffray Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v11i1.69

Abstract

Pragmatisme adalah pandangan filsafat yang menekankan bahwa kebenaranadalah manfaat dari sebuah tindakan atau perbuatan. Tokoh-tokoh yangberpengaruh dan yang mengembangkan filsafat pragmatisme adalah Charles SandersPeirce (1839-19I4), Willian James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), dan RichardRorty (1931-2007). Inti pengaran filsafat pragmatisme adalah, Pertama, Etikabukanlah apa yang benar, tetapi prilaku dan tujuan diri. Kedua, Keyakinan manusiaterdapat pada manusia itu sendiri karena menjadi dasar baginya untuk melakukanyang benar, dan keyakinan dimulai dari proposisi yang dinilai benar. Ketiga,Kebenaran adalah relatif karena setiap fakta baru akan memunculkan kebenaranbaru yang pengujiannya melalui pembahasan diskusi. Keempat, Kebenaran yangmenjadi tuntutan agama dapat ditemukan secara ilmiah. Kelima, Manusiamemercayai bahwa kehendaknya yang membebaskannya dari kekasaran, ketakutan,dan kematian, dan manusia harus diperbudak oleh kebebasannya. Keenam, Wahyuadalah mistik, tidak dapat diklaim sebagai kebenaran jika tanpa pengalaman pribadi.Ketujuh, Pengalaman manusia menjadi unsur penting untuk menentukan kebenarandan metode digunakan untuk mencapai kebenaran yang terdapat dalam pengalaman.Kedelapan, Pengalaman spiritualis dan kesusilaan bukan hasil pembentukan secarakeagamaan, tetapi pemberdayaan seluruh potensinya yang direalisasikan dalammasyarakat. Kesembilan, Penyataan bukanlah dari Tuhan, tetapi penemuan yangdilakukan manusia dan kebenaran supernatural tidak diakui karena masalahadikodrati. Kesepuluh, Kesalahan bukanlah dosa, tetapi ketidaksesuaian antarametode dengan akal. Kesebelas, Kebenaran keagamaan bukanlah sesuatu yangdiwahyukan, tetapi muncul dari keinginan, dorongan, perasaan dan kebiasaanmanusia.
Penyebab Krisis Identitas Waria Weismann, Ivan Th. J; Depilori, Depilori
Jurnal Jaffray Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyebab adanya perilaku waria ini tidak dapat dijelaskan dengan sederhanadikarenakan ada banyak faktor penyebab seperti faktor lingkungan dan pola asuhorang tua yang cenderung mendidik dengan kasih sayang yang berlebihan. Sesuaidengan pokok masalah yang ada, maka tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah:untuk mengetahui krisis identitas yang dihadapi oleh waria dan mengetahui faktorpenyebab krisis identitas waria.Adapun metode penelitian yang penulis pakai atau gunakan untuk menyusunkarya ilmiah ini adalah: Pertama, metode studi kepustakaan adalah metode di manapenulis mengambil atau mengumpulkan data atau informasi dari buku-bukukepustakaan dan dari bahan-bahan penulisan yang lainnya yang ada kaitannyadengan pokok-pokok bahasan dalam penelitian ini untuk memperoleh data yang lebihakurat. Kedua, wawancara adalah tanya jawab dalam suatu pertemuan pribadidengan maksud untuk mengumpulkan data yang aktual, yang diperlukan dalampenulisan penelitian ini. Ketiga, Observasi adalah pengamatan yang penulis lakukansaat wawancara berlangsung dan pengumpulan data dari informan.Adapun kesimpulan karya ilmiah ini adalah: Pertama, krisis identitas padawaria disebabkan karena pola asuh orang tua yang salah, yang mendidik anak tidaksesuai gender, anak laki-laki dididik seperti anak perempuan dan sebaliknya.Pemberiaan kasih sayang yang berlebihan, memanjakan anak dengan berdalih anakkesayangan, penolakan-penolakan orang tua yang mengakibatkan anak lari darirumah dan bergaul dengan teman yang salah, orang tua kurang menyadari pentingnyakerohanian anak, yang dapat dimulai dari rumah. Kedua, seseorang menjadi wariadisebabkan karena lingkungan, terlalu banyak bergaul dengan lawan jenis (anak lakilakiteman bergaulnya kebanyakan wanita), berada dalam lingkungan waria danbergaul dengan waria ikut terlibat dalam kegiatan waria.

Page 1 of 42 | Total Record : 420


Filter by Year

2003 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 1 (2020): Jurnal Jaffray 18, no. 1 April 2020 Vol 17, No 2 (2019): Jurnal Jaffray Volume 17, no. 2 Oktober 2019 Vol 17, No 1 (2019): Jurnal Jaffray Volume 17, no. 1 April 2019 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 16, No 2 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 2 Oktober 2018 Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018 Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No. 2 Oktober 2017 Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Jaffray Volume 15, No.1 April 2017 Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016) Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 1, April 2016 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13, No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 2 Oktober 2015 Vol 13, No 1 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 1 April 2015 Vol 12, No 2 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 2 Oktober 2014 Vol 12, No 1 (2014): Jurnal Jaffray Volume 12 No. 1 April 2014 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 11, No 2 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 2 Oktober 2013 Vol 11, No 1 (2013): Jurnal Jaffray Volume 11 No. 1 April 2013 Vol 10, No 1 (2012): Vol 10, No 2 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 2 Oktober 2012 Vol 10, No 2 (2012): Vol 10, No 1 (2012): Jurnal Jaffray Volume 10 No. 1 April 2012 Vol 10, No 1 (2012): Vol 9, No 2 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 2 Oktober 2011 Vol 9, No 2 (2011): Vol 9, No 1 (2011): Jurnal Jaffray Volume 9 No. 1 April 2011 Vol 9, No 1 (2011): Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 2 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 2 Oktober 2010 Vol 8, No 1 (2010): Jurnal Jaffray Volume 8 No. 1 April 2010 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 2 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 2 Oktober 2009 Vol 7, No 1 (2009): Jurnal Jaffray Volume 7 No. 1 April 2009 Vol 6, No 2 (2008): Jurnal Jaffray Volume 6, No. 2, Oktober 2008 Vol 5, No 1 (2007): Jurnal Jaffray Volume 5, No. 1 Desember 2007 Vol 4, No 1 (2006): Jurnal Jaffray Volume 4, No. 1, Juni 2006 Vol 3, No 1 (2005): Jurnal Jaffray Volume 3, No. 1, Juni 2005 Vol 2, No 2 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 2 Desember 2004 Vol 2, No 1 (2004): Jurnal Jaffray Volume 2, No. 1 Juni 2004 Vol 1, No 1 (2003): Jurnal Jaffray Volume 1, No. 1, Juni 2003 More Issue