cover
Contact Name
M. Marizal
Contact Email
m.marizal@uin-suska.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
m.marizal@uin-suska.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Al Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
ISSN : 1693508x     EISSN : 25027263     DOI : -
Al-Fikra (p-ISSN: 1693-508X; e-ISSN: -; http://alfikra.pasca-uinsuska.info/index.php/alfikra/index) adalah peer-reviewed journal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah keislaman. Artikel-artikel yang dipublikasikan di jurnal Al-Fikra meliputi hasil-hasil penelitian ilmiah asli (prioritas utama), artikel ulasan ilmiah yang bersifat baru (tidak prioritas), atau komentar atau kritik terhadap tulisan yang ada di jurnal Al-Fikra. Jurnal Al-Fikra diterbitkan oleh Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Jurnal Al-Fikra menerima manuskrip atau artikel dalam bidang ilmiah keislaman dari berbagai kalangan akademisi dan peneliti baik nasional maupun internasional.
Articles 213 Documents
WALI MUJBIR MENURUT IMAM SYAFI’I (TINJAUAN MAQÂSHID AL-SYARÎ’AH) Khoiruddin, Muhammad
AL-FIKRA Vol 18, No 2 (2019): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v18i2.8760

Abstract

Wali merupakan bagian penting dalam melaksanakan pernikahan. Para fuqaha telah bersepakat syarat bagi sahnya pernikahan adalah dilaksanakan oleh wali yang memegang hak memeliharanya, baik dilakukan sendiri maupun dilakukan oleh orang lain. Jika terdapat perwalian yang seperti ini, maka sah dan terlaksana ?aqad pernikahan. Jika tidak ada, ?aqadnya batal menurut pendapat jumhur, dan menurut pendapat mazhab Hanafi adalah maukuf (tergantung). Jika ?aqad berlangsung dari seorang laki-laki dengan pelaksanaan dari dirinya sendiri, maka sah ?aqadnya menurut. 
SETANDAR PA'BAJI' DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT BUGIS DI KELURAHAN PULAU KIJANG (TINJAUAN MAQASHID AL-SYARI'AH) Andi Murniati, Sudirman,
AL-FIKRA Vol 18, No 1 (2019): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v18i1.7165

Abstract

Berdasarkan hasil penelitian ternyata mayarakat Bugis khususnya di Kelurahan Pulau Kijang. Mereka menganggap bahwa uang pa?baji atau uang panai adalah tradisi pemberian uang yang wajib yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang fungsinya digunakan sebagai biaya untuk melaksanakan pesta perkawinan. Tujuannya untuk memberikan rasa hormat bagi keluarga pihak perempuan. Pa?baji dalam perkawinan adat bugis adalah salah satu pra syarat, karena jika tidak ada uang pa?baji maka tidak ada perkawinan. Islam tidak mengatur mengenai ketentuan uang pa?baji yang di kenal uang panai akan tetapi hukumnya mubah selama itu tidak dipaksa. Islam tidak melarang pemberian uang pa?baji dalam perkawinan adat bugis karena tidak ada dalil yang menerangkan hal tersebut. Yang penting pemberian pa?baji tidak bertentangan dengan syariat. Pa?baji tidak ada unsur keterpaksaan, sesuai kemampuan dan kesanggupan pihak laki­-laki.Keyword : Pa?baji?, Perkawinan,Masyarakat Bugis, Pulau Kijang, Maqâsyid al-Syarî?ah.
QALBU DALAM KAJIAN PSIKOLOGI ISLAM Vivik Shofiah, Anri Saputra, Mela Rospita,
AL-FIKRA Vol 18, No 1 (2019): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v18i1.7154

Abstract

Dalam khazanah psikologi islam, qalbu adalah salah satu term sentral yang dibahas secara mendalam. Karena menurut kajian psikologi islam, qalbu merupakan salah satu struktur kepribadian manusia. Bahkan qalbu menjadi penentu baik atau buruknya perilaku seseorang. Qalbu selalu menjadi subtansi yang paling penting dalam diri manusia, perbincangan yang dijadikan untuk menilai seseorang selalu berkaitan dengan qalbu, bukan hanya tingkah laku namun dari keimanan individupun cenderung fokus dengan qalbu. Apabila qalbu seseorang tersebut baik maka baik pula lah imannya. Namun jika qalbunya buruk maka imannya pun akan menjadi buruk. Kajian ini merupakan penelitian studi pustaka. Kajian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan khasanah ilmu pengetahuan mengenai Qalbu yang menjadi salah satu kajian Psikologi Islam. 
KEPALA NEGARA NON MUSLIM MENURUT IBNU TAIMIYYAH (661-728H) Azhar, Isnen
AL-FIKRA Vol 18, No 2 (2019): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v18i2.8759

Abstract

Masalah kepemimpinan bukan hanya persoalan duniawi, akan tetapi juga persoalan ukhrawi yang mana manusia itu akan dimintai pertanggung-jawabannya dihadapan Allah Subhânahu Wa-Ta?âlâ pada hari kiamat kelak,oleh karena ituurgensi seorang pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara telah dijelaskan oleh Allah dan RasulNya, bahkan dalam sebuah komunitaskecil masyarakat seperti dalam sebuah perjalanan, maka Nabi kita Muhammad SAW telah mengintruksikan agar diangkat seorang pemimpin.Jenis penelitian adalah bersifat kepustakaan (library research). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah normatif. Penelitian ini bersifat deskriftif, analitif, kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi kepustakaan atau observasi literatur yang ada hubungannya dengan pokok permasalahan yang dibahas.Sumber data primer dalam penelitian ini adalah al-Siyâsah al-Syar?iyyah fi Islâhi al-Râ?î wa al-Ra?iyyahkarya Ibnu Taimiyyah, Al-Hisbahkarya Ibnu Taimiyyah, Iqtidhô Shirôthô al-Mustaqîm Li-Mukhôlafati Ashâbi al-Jahîm karya Ibnu Taimiyyah. Sebagai hasil penelitian dalam masalah urgensi kepemimpinan dalam masyarakat Islam, maka pandangan Ibnu Taimiyyah rahimahullahtelah membuat persyaratan yang ketat bagi seorang calon pemimpin dengan karaktersebagai berikut : (1). al-Muslim (2). al-Qowiy (3). al-Amin  (4). al-Adl (5). al-Khasyyah, Ibnu Taimiyyah rahimahullahtelah menjadikansyarat yang paling mendasar padadiri seorang calonpemimpin itu adalah dia wajib seorang ?muslim yang hanif?,
HUKUM MENIKAH KETIKA SAKIT YANG MENGHALANGI KEHARMONISAN RUMAH TANGGA ANALISIS PENDAPAT IMAM MALIK BIN ANAS Tribuana, Robi Rendra
AL-FIKRA Vol 18, No 1 (2019): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v18i1.7098

Abstract

Hukum pernikahan ketika salah satu pasangan suami istri menderita sakit yang mengahalangi keharmonisan rumah tangga menjadi salah satu masalah yang sangat penting yang terjadi di rumah tangga.  Menurut Imam Malik bin Anas, bahwasanya dibolehkan melakukan perceraian/pembatalan akad nikah jika salah satu pasangan menderita sakit yang menyebabkan hubungan suami istri tidak nyaman, gundah dan tidak tenang, lebih banyak mudharat dari pada maslahatnya, tidak dapat menikmati indahnya kehidupan bersuami istri, dan tidak tercapainya tujuan pernikahan sakinah mawaddah warohmah. Adapun tujuan penelitian ini untuk menganalisa dan mengungkapkan pandangan Imam Malik bin Anas tentang hukum menikah ketika sakit yang menghalangi keharmonisan rumah tangga, menganalisa alasan Imam Malik bin Anas melarang menikah ketika sakit yang mengahalangi keharmonisan rumah tangga, dan melihat relevansinya dengan keadaan saat ini. Dalam metode penelitian, jenis penelitian menggunakan penelitian pustaka (library research). Teknik analisis data menggunakan content analysis (analisa isi) dengan metode kualitatif menggunakan analisa deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama: Sakit yang menghilangkan keharmonisan di dalam rumah tangga di-qiyas-kan atau disamakan aib yang menyebabkan fasakh nikah. Yaitu adanya kekurangan pada salah satu pihak suami istri yang dapat menghambat bahkan menghalangi tujuan utama pernikahan serta mengancam kelanggengan kehidupan suami istri. Di antaranya adalah: impotensi, jabb/pengebirian, ratq, ?afl, gila, sopak, kusta. Kedua, pendapat Imam Malik bin Anas tentang menikah ketika sakit yang menghalangi keharmonisan rumah tangga boleh dibatalkan/cerai karena tidak tercapainya tujuan pernikahan. Ketiga, adapun untuk kondisi di zaman sekarang, bahwasanya penyakit/cacat apapun itu, apabila bisa dipulihkan atau diobati tanpa meninggalkan bekas yang serius, maka penyakit tersebut dianggap tidak ada dan tidak berpengaruh apapun terhadap akad. 
KEWENANGAN WALI DALAM MENENTUKAN PERNIKAHAN JANDA YANG BELUM DEWASA MENURUT IMAM AL-SYAFI'I aripin, rahmat ari
AL-FIKRA Vol 18, No 1 (2019): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v18i1.7062

Abstract

A woman who has never been married. The mariage must be approved by her legal guardian, namely her father or grandfather. A woman who wants to get married must have a legal guardian. The guardian in the school of Imam Al-Shafi?i is one of the requirements that must be fulfilled. A father may arrange a marriage for a virgin woman with a man who is at the same level without her permission whether she is still immature or mature by having a comparable dowry. In other words, she may be forced by her legal guardian, father or grandfather, to get married without her permission. However, for a widow who is immature, Imam Al-Shafi?i stated that her father should not force her to get married before she is mature. Imam Al-Shafi?i prohibits the guardian in this case is a father to arrange a marriage for an immature widow because Imam Al-Shafi?i adheres to the virginity. A mature woman may be forced while an immature widow may not be forced because the widow is considered to be no longer a virgin. 
IMPOTENSI SEBAGAI ALASAN FASAKH MENURUT IBNU HAZM DAN AL-SYIRAZIY MAWARDI, MAWARDI
AL-FIKRA Vol 18, No 2 (2019): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v18i2.7077

Abstract

Impotensi adalah salah satu nama penyakit pada laki-laki yang juga menjadi perhatian para ulama fiqh, karena sangat berpengaruh dalam keharmonisan rumah tangga. Maka didalam jurnal ini, penulis akan menjabarkan pendapat dua ulama besar fiqh tentang Impotensi Seabagai Alasan Fasakh Nikah.
RELASI WAHYU DALAM TIGA AGAMA SAMAWI (KAJIAN TERHADAP PEMIKIRAN MOHAMMED ARKOUN) Nurmajah, Siti
AL-FIKRA Vol 18, No 1 (2019): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v18i1.7444

Abstract

The revelation so far is reading by partially and exclusively way. Partial and exclusive here means only discussing only the religious groups. Each religion has its own truth claims. In this point, Arkoun?s idea about revelation found its signification. From his prespective which contemplate the revelation not only by Islamic view but also consider its relation to the two religion before Islam. This article aims to discuss the Arkoun?s idea about revelation and how the implication of his idea to the multi-religion discourse. The Abrahamic religion is Yahudi, Kristen, and Islam. Arkoun said that basically Yahudi, Kristen, and Islam are a social group which produce by the revelation. the dialogue between the divine religions can be opened and the exclusivity of reading the revelations can be eliminated through Arkoun's idea of revelation.
URGENSI NILAI KAFAAH DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM PADA PASAL 15 AYAT 1 Andri, Andri
AL-FIKRA Vol 18, No 1 (2019): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v18i1.6979

Abstract

Dalam Kompilasi Hukum Islam tepatnya pada pasal 15 ayat 1 terdapat nilai kafaah, yakni kematangan usia. Bagi siapa saja yang hendak melangsungkan pernikahan, maka ia harus memperhatikan pasal 15 ayat 1 ini, karena berdasarkan penelitian-penelitian yang ada, bagi siapa saja yang menikah tanpa memledulikan kematangan usia akan berdampak buruk bagi wanita dan bahkan anaknya kelak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan yang dilakukan sebelum mencapai usia 16 tahun bagi perempuan memiliki banyak mudharat, baik dampak fisik-biologis, psikologis, ekonomi, maupun dampak lainnya. Secara fisik-biologis, alat-alat repsoduksi anak di bawah umur masih dalam proses menuju kematangan, sehingga ia belum siap untuk melakukan hubungan seksual, lebih-lebih jika sampai hamil dan melahirkan. Dari hasil penelitian disebutkan bahwa kehamilan di usia muda dapat beresiko menderita kanker di masa yang akan datang, bahkan berdampak pada kematian ibu. Selain itu, ruang panggul perempuan yang masih muda belum cukup besar sehingga mempersulit ruang gerak bayi saat berputar untuk keluar. Hal ini akan mengakibatkan cacat bagi bayi, seperti bibir sumbing, fungsi tangan atau kaki kurang normal, atau bahkan resiko kematian pada bayi.Keyword :  Urgensi, Nilai Kafa?ah,Kompilasi Hukum Islam (KHI).
KEBIJAKAN PENDIDIKAN DAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN Kamars, M Dachnel
AL-FIKRA Vol 4, No 1 (2005): Al-Fikra
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This reading regarding the two essential issues nowadays namely: educational policy dan the improving of educational quality. without good and suitable policy ineducation, the quality will be lower and lower and the consequencies are unemployment, property and bribing on the sertificates of each level of education. Because education is so important to increase the property of every one over the world, that is why every country made policies to make education more and more better. Indonesia should fight to increase its position in the human development index among asian and pacific countries, so willd be number less than 112 among 167 countries.

Page 1 of 22 | Total Record : 213