cover
Contact Name
Kasmad Ariansyah
Contact Email
kasmad.ariansyah@kominfo.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
kasmad.ariansyah@kominfo.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Bulletin of Post and Telecommunications
ISSN : 16930991     EISSN : 24431524     DOI : -
Buletin Pos dan Telekomunikasi a.k.a Bulletin of Posts and Telecommunications is scientific communication media that is currently managed and published by the R&D Center for Post & ICT Resources and Equipments, Ministry of Communications and Information Technology. The Bulletin was first published on 2003 by the R & D Center for Post and Telecommunications, Department of Transportation. Since 2006, After re-organization of the Indonesian Ministries by new elected government, the journal management was moved under the R & D Center for Post and Telecommunications, Ministry of Communications and Information and then since 2010 it has been managed and published by R&D Center for Post & ICT Resources and Equipments, MCIT, Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 13, No 1 (2015): June 2015" : 6 Documents clear
Kajian Strategi Pengamanan Infrastruktur Sumber Daya Informasi Kritis [Study of Critical Information Resources Infrastructure Security Strategy] Setiawan, Ahmad Budi
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 13, No 1 (2015): June 2015
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.656 KB) | DOI: 10.17933/bpostel.2015.130104

Abstract

Infrastruktur informasi kritis merupakan salah satu infrastruktur kritis yang menggabungkan antara infrastruktur telekomunikasi serta jaringan internet yang digunakan dalam pelayanan publik. Dengan demikian, infrastruktur informasi kritis  harus beroperasi dengan aman dan memenuhi aspek keamanan informasi. Kajian ini adalah studi kasus pada infrastruktur informasi kritis sebagai salah satu infrastruktur kritis Nasional yang digunakan dalam pelayanan publik. Adapun infrastruktur informasi kritis yang dijadikan studi kasus adalah pada bidang energi ketenagalistrikan. Tujuan kajian ini adalah memberikan masukan pada kebijakan pengamanan infrastruktur kritis berdasarkan studi kasus yang dilakukan. Kajian ini dilakukan dengan metode gabungan kuantitatif dan kualitatif yang mengkombinasikan hasil penilaian risiko pada obyek riset dengan pendapat pengambil kebijakan, akademisi, pakar dan praktisi. Hasil kajian ini adalah masukan untuk kebijakan dan kerangka kerja pengamanan infrastruktur kritis khususnya sector TIK. *****Critical information infrastructure is one of the critical infrastructure that combines telecommunications infrastructure and Internet networks used in the public service. Thus, the critical information infrastructure must operate safely and meet the aspects of information security. This study is a case study on critical information infrastructure as one of the critical national infrastructure used in public service. The critical information infrastructure which is used as a case study is in the field of electricity energy. The purpose of this sudy is to provide input on critical infrastructure security policy based on case studies conducted. This study was conducted with the combined quantitative and qualitative method that combines the results of the risk assessment on the research object with the opinion of policy makers, academics, experts and practitioners. These results are input to the policy framework and securing critical infrastructure, especially the ICT sector.
Pengaruh Literasi dalam Mendukung Kesuksesan PLIK di Bambanglipuro [Effect of Literacy in Influencing PLIK Success in Bambanglipuro] Indriani, Mita
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 13, No 1 (2015): June 2015
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.602 KB) | DOI: 10.17933/bpostel.2015.130103

Abstract

Adopsi penggunaan telecenter dalam program Kewajiban Pelayanan Universal/Universal Service Obligation (KPU/USO) yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika cq Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI)  adalah Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK). Kesuksesan PLIK dalam masyarakat tidak hanya bergantung dari penyediaan infrastruktur saja,  namun dipengaruhi juga oleh tingkat literasi masyarakat disekitarnya. Sehingga penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh literasi dalam mempengaruhi kesuksesan PLIK, khususnya pada PLIK Bambanglipuro. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada para pengguna PLIK Bambanglipuro dengan metode accidental sampling. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tingkat literasi pengguna PLIK terbukti secara signifikan mampu mempengaruhi kesuksesan PLIK *****Adoption of telecenter as implementation of the Universal Service Obligation (USO) programs by Ministry of Communication dan Information Technology was District Internet Service Center known as PLIK. PLIK succes was not relied only on infastructure availability but also influenced by community literacy level. Therefore, this research aimed to determind the effect of literacy in influencing the PLIK success, particularly at PLIK Bambanglipuro. The research was conducted by distributing questionnaires to PLIK Bambanglipuro users using accidental sampling method. This research indicated that the community literacy level was significanty affecting PLIK success.
Strategi Persaingan Operator Telekomunikasi Seluler [The Competition Strategy Of Mobile Telecommunication Operators] Aziz, Azwar
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 13, No 1 (2015): June 2015
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.439 KB) | DOI: 10.17933/bpostel.2015.130102

Abstract

Jumlah pelanggan ketiga operator telekomunikasi seluler pada akhir tahun 2013, yaitu PT. Telkomsel Tbk, PT. XL Axiata Tbk, dan PT. Indosat Tbk, sebanyak 251,285 juta. Jumlah pelanggan telekomunikasi seluler ini telah melebihi jumlah penduduk Indonesia  sebesar 242,013 juta pada akhir tahun 2013. Ketiga operator telekomunikasi seluler tersebut mendominasi pangsa pasar seluler di Indonesia dan sangat menentukan tingkat harga, kualitas layanan dan strategi persaingan lainnya. Persaingan di telekomunikasi seluler saat ini sudah masuk ke masa jenuh untuk suara dan SMS, tetapi sudah beralih ke layanan data atau menggunaan internet. Para operator telekomunikasi seluler berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas layanan internet kepada pelanggan yang menggunakan prabayar dan pascabayar untuk suara dan SMS.Kajian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif, dengan melakukan observasi atau pengamatan langsung ke lapangan kepada Telkomsel, XL Axiata dan Indosat.Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskritif. Berdasarkan hasil analisis  diperoleh bahwa strategi persaingan ketiga operator tersebut dari aspekcore competence, time based competition, disiplin nilai sama-sama mengimplementasikannya. Dari aspek expeditionary marketing sangat tergantung pada luas jaringan yang dimiliki, aspek standar produk, memiliki sertifikat ISO yang lebih baik dan kompetensi manajemen fokus pada sumber daya manusia dengan belajar ke luar negeri. *****The number of subscribers of three mobile telecommunication operators by the end of 2013, namely PT. Telkomsel Tbk,  PT. XL Axiata Tbk,  and PT. Indosat Tbk is 251.285 million. The number of mobile telecommunication subscribers has exceeded the population of Indonesia amounted to 242.013 million at the end of 2013. Those  operators dominate the market in Indonesia  and determine the level of price, quality of service and other competitive strategies. Competition in the mobile telecommunications currently logged into saturated period for voice and SMS service, and has switched to  data service. The operators are competing to improve the quality of internet services. This study use qualitative research methodology by observing those operators. Data analysis is using descriptive analysis techniques. The results of this study showed that the operators’s have implemented competitive strategy such as core aspects of competence, time-based competition and value discipline. Meanwhile aspect of expeditionary marketing is very dependent on the vast of network owned, aspect of product standard, own ISO certificate of competency management and focus on human resources to study abroad.
Kebutuhan Frekuensi untuk Public Protection and Disaster Relief (PPDR) Pita Lebar di Indonesia [Frequency Requirement for Broadband Public Protection and Disaster Relief (PPDR)in Indonesia] Yuniarti, Diah
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 13, No 1 (2015): June 2015
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.411 KB) | DOI: 10.17933/bpostel.2015.130101

Abstract

Permintaan akan pengembangan aplikasi Public Protection and Disaster Relief (PPDR) pita lebar terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan kebutuhan untuk tanggap bencana yang lebih efisien dan efektif.  Penelitian ini mengidentifikasi kebutuhan frekuensi PPDR pita lebar di Indonesia yang meliputi kejadian harian (PP1) dan kejadian  darurat besar (PP2) pada pita frekuensi 400 MHz dan 800 MHz. Teknik pemodelan dan simulasi digunakan untuk menghitung kebutuhan frekuensi berdasarkan data skenario dan jumlah kejadian yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan frekuensi untuk mengakomodasi kejadian PP1 diperkirakan sebesar 2x10 MHz. Sedangkan, kebutuhan frekuensi untuk kejadian PP2 diperkirakan sebesar 2x20 MHz untuk LTE FDD atau 30 MHz untuk LTE TDD. *****Demands regarding on application development of broadband Public Protection and Disaster Relief (PPDR) are increasing in recent years as more requirements on more efficient and effective disaster responses. This research identified broadband PPDR frequency requirements in Indonesia, comprising of daily incidents (PP1) and large emergency incidents (PP2) at 400 MHz and 800 MHz frequency bands. Modelling and simulation techniques are used to calculate frequency requirement based on scenario and number of incidents data obtained. Research result shows frequency requirements to accommodate PP1 incidents is estimated at 2x10 MHz. Meanwhile, frequency requirement to accommodate PP2 incidents is estimated at 2x20 MHz for LTE FDD or 30 MHz for LTE TDD.
Analisis Kelayakan Implementasi Teknologi LTE 1.8 GHz Bagi Operator Seluler di Indonesia [Feasibility Analysis of LTE 1.8 GHz for Mobile Operators in Indonesia] Ariyanti, Sri; Perdana, Doan
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 13, No 1 (2015): June 2015
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.081 KB) | DOI: 10.17933/bpostel.2015.130105

Abstract

Peningkatan kebutuhan layanan data mendorong operator telekomunikasi berusaha mengimplementasikan jaringan akses broadband yang lebih handal.  Teknologi LTE merupakan salah satu teknologi dengan kecepatan mencapai tiga kali dibanding teknologi HSDPA, sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan data mobile. Refarming frekuensi 1.8 GHz  untuk penerapan teknologi LTE memberikan efisiensi karena tidak perlu membayar BHP lagi untuk menyewa frekuensi baru. Teknologi 2G GSM selama ini juga semakin ditinggalkan, masyarakat di daerah perkotaan cenderung lebih banyak menggunakan layanan data.  Sebelum diterapkannya teknologi LTE pada frekuensi 1.8 GHz perlu adanya kajian untuk mengetahui kelayakan teknologi LTE pada frekuensi 1.8 GHz. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan cost-benefit analysis implementasi LTE pada frekuensi 1.8 GHz.  Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitataif yang didukung dengan data kuantitatif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa minimal bandiwdth yang diperlukan agar implementasi LTE layak digunakan adalah 15 MHz.  Meskipun tanpa Global Frequency Returning, penggunaan bandwidth 10 MHz tidak layak digunakan untuk implementasi LTE.      *****The incresing of data demand drives mobile operators to implement more reliable broadband access network. LTE technology has downlink peak rate up to three times than HSDPA,  hence it may fulfill the mobile data user requirement. Frequency 1.8 GHz refarming can be implemented to provide efficiency because They do not need to pay licence fee for leasing new frequency. GSM technology will be abandoned since it is not growing anymore. Besides that, dense urban users tend to use data mobile.  Before implementing LTE technology  on 1.8 GHz frequency, It is necessary to analysis the feasibility such technology. This research used qualitative method supported by quantitative  approach.  The result of this research showed that minimum bandwidth to implement 1.8 GHz LTE is 15 MHz.  Even without Global Frequency Returning, using bandwidth 10 MHz is not feasible.
Analisis Unjuk Kerja Aplikasi VoIP Call Android di Jaringan MANET [Performance Analysis of VoIP Call Application Android in MANET (Mobile Ad Hoc Network)] Setyawan, Ryan Ari
Buletin Pos dan Telekomunikasi Vol 13, No 1 (2015): June 2015
Publisher : R&D Center of Post dan Informatics Resources and Equipments (Puslitbang SDPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.144 KB) | DOI: 10.17933/bpostel.2015.130106

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja aplikasi  VoIP call android di jaringan MANET (mobile ad hoc network).  Hasil pengujian menunjukan bahwa aplikasi VoIP call android dapat digunakan di jaringan MANET. Delay yang dihasilkan paling besar di pengujian indoor dengan jarak 11-15 meter yakni sebesar 0,014624811 seconds. Packet loss yang dihasilkan pada range 1%-2% sedangkan standar packet loss yang ditetapkan oleh CISCO untuk layanan aplikasi VoIP adalah < 5%. Jitter yang dihasilkan yakni antara 0,01-0,06 seconds sedangkan standar yang ditetapkan oleh CISCO adalah ≤ 30 ms atau 0,03 seconds. Throughput yang dihasilkan pada proses pengujian yakni antar 161 kbps-481 kbps. *****This study aims to analyze the performance of VOIP call android application in the MANET (mobile ad hoc network). The results showed that VoIP applications could be implemented in MANET network. The highest  delay is produced in indoor testing  with distance of 11-15 meters,  which is equal to 0.014624811 seconds. Packet loss is generated in the range of 1% -2%, while packet loss standards set by Cisco for VoIP application services are <5%. The jitter is between 0.01 to 0.06 seconds, while the standard set by CISCO is ≤ 30 ms or 0.03 seconds. Throughput generated in the testing process is between 161 kbps-481 kbps.

Page 1 of 1 | Total Record : 6