cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 2 (2012)" : 12 Documents clear
Kelainan Hemostasis pada Leukemia J Budiman, Bestari; Hafiz, Al
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang: Leukemia adalah penyakit keganasan pada jaringan hematopoietik yang ditandai denganpenggantian elemen sumsum tulang normal oleh sel darah abnormal atau sel leukemik. Salah satu manifestasi klinisdari leukemia adalah perdarahan yang disebabkan oleh berbagai kelainan hemostasis.Kelainan hemostasis yang dapat terjadi pada leukemia berupa trombositopenia, disfungsi trombosit,koagulasi intravaskuler diseminata, defek protein koagulasi, fibrinolisis primer dan trombosis. Patogenesis danpatofosiologi kelainan hemostasis pada leukemia tersebut terjadi dengan berbagai mekanisme.Kata kunci: leukemia, kelainan hemostasisAbstractBackground: AbstractLeukemia is a malignancy of hematopoietic tissue which is characterized bysubstituted of bone marrow element with abnormal blood cell or leukemic cell. One of clinical manifestation ofleukemia is bleeding that is caused by several hemostasis disorders.Hemostasis disorders in leukemia such asthrombocytopenia, platelet dysfunction, disseminated intravascular coagulation, coagulation protein defect, primaryfibrinolysis and thrombosis. Pathogenesis and pathophysiology of thus hemostasis disorders in leukemia occur withdifferent mechanism.Keywords: leukemia, hemostasis disorder
Pengaruh Valsartan Terhadap Fibrosis Ginjal pada Obstruksi Ureter Alvarino, Alvarino
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPendahuluan : Obstruksi ureter merupakan kondisi yang dapat terjadi pada setiap usia dengan levelbervariasi dengan efek terburuk berupa gagal ginjal permanen. Terdapat berbagai mekanisme yang berperandalam terjadinya kerusakan ginjal pada obstruksi ureter. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruhvalsartan untuk memperbaiki kerusakan ginjal pada kondisi tersebut. Metode : Dilakukan penelitian eksperimentalmenggunakan 30 ekor tikus wistar dengan obstruksi ureter unilateral melalui pengikatan ureter kiri yang dibagimenjadi dua kelompok, tanpa pemberian valsartan dan dengan pemberian valsartan. Pada hari ke-14 dinilai dandibandingkan fibrosis interstisial, degenerasi hidrofik, dan atrofi tubulus pada kedua kelompok dengan pulasanhematoksilin-eosin. Hanya tikus yang tetap hidup hingga melewati hari ketujuh yang dimasukkan dalam penelitian.Hasil : Dari tiga belas tikus wistar pada kelompok obstruksi ureter unilateral tanpa pemberian valsartan, didapatkan11 tikus mengalami fibrosis interstisial pada ringan dan 2 tikus mengalami fibrosis interstisial sedang, sementaraseluruh tikus wistar pada kelompok dengan valsartan mengalami fibrosis interstisial ringan (p > 0.05). Tidakterdapat perbedaan bermakna untuk degenerasi hidrofik epitel tubulus antara kelompok tanpa valsartan dandengan valsartan (31.46 vs 33.67, p > 0.05). Tidak terdapat pula perbedaan bermakna untuk atrofi tubuli antarakedua kelompok (61.78 vs 62.07, p > 0.05). Kesimpulan : Pemberian valsartan dengan dosis antihipertensi tidakmengurangi tingkat fibrosis interstisial, degenerasi hidrofik, maupun atrofi tubulus pada obstruksi ureter unilateralpada tikus wistarKata kunci: obstruksi ureter unilateral, valsartan, fibrosis interstisialAbstractIntroduction: Ureteral obstruction is a condition that might happen at any age in any level with the worstcomplication is permanent renal damage. There are several mechanisms that play role in renal damage in ureteralobstruction. This experimental research is aimed to observe the effect of valsartan to attenuate renal damage inunilateral ureteral obstruction. MethodsExperimental research was performed using 30 wistar rats with unilateralureteral obstruction achieved by ligation of the left ureter. Rats then divided into two groups, no treatment groupand valsartan group. At the 14th day, evaluation was performed to compare interstitial fibrosis, hydrophilicdegeneration, and tubular atrophy between the two groups using haematoxylin-eosin staining. Only rats surviveuntil at least 7th day are included in the study. ResultFrom thirteen wistar rats in no treatment group, two of themhaving moderate interstitial fibrosis and eleven with mild interstitial fibrosis while all rats in valsartan group had mildinterstitial fibrosis (p > 0.05). There is no significant difference on hydrophilic degeneration between no treatmentand valsartan group (31.46 vs 33.67, p > 0.05). There is also no significant difference in tubular atrophy betweenthe two groups (61.78 vs 62.07, p > 0.05). ConclusionValsartan therapy in antihypertensive dosage has nosignificant effect in to attenuate interstitial fibrosis, hydrophilic degeneration, and tubular atrophy in unilateralureteral obstruction in wistar rats.Keywords: unilateral ureteral obstruction, valsartan, interstitial fibrosis
Neglected-Noncompliant Type 1 Diabetes Mellitus with Complications Afdal, Afdal; Rini, Eka Agustia
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDiabetes mellitus (DM) tipe 1 merupakan kelainan sistemik akibat terjadinya gangguan metabolisme glukosayang ditandai oleh hiperglikemia kronis. Keadaan ini disebabkan oleh proses autoimun yang merusak sel βpankreas sehingga produksi insulin berkurang bahkan terhenti, penderitanya akan memerlukan asupan insulineksogen. Penyakit ini menimbulkan komplikasi kronik sehingga memerlukan manajemen pengobatan yangberkelanjutan dan edukasi pada pasien serta keluarganya. Penyakit yang tidak terkontrol akan menimbulkanberbagai komplikasi metabolisme, gangguan makrovaskular dan mikrovaskular yang menyebabkan penurunankualitas dan harapan hidup penderita.Kata Kunci : Diabetes melitus tipe 1, makrovaskular, mikrovaskularAbstractDiabetes mellitus (DM) type 1 is a result of the systemic disorder of glucose metabolism disorder characterized bychronic hyperglycemia. This situation is caused by the autoimmune processes that destroy pancreatic β cellsresulting in the production of insulin is reduced even halted, the sufferer will require exogenous insulin intake. Thisraises the complications of chronic disease that requires ongoing medication management and education forpatients and their families. Uncontrolled disease will cause various metabolic complications, macrovascular andmicrovascular disorders that cause loss of quality and life expectancy of the patient.Keywords: Type 1 diabetes mellitus, macrovascular, microvascular
Fisiologi dan Gangguan Keseimbangan Natrium, Kalium dan Klorida serta Pemeriksaan Laboratorium Yaswir, Rismawati; Ferawati, Ira
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakElektrolit adalah senyawa di dalam larutan yang berdisosiasi menjadi partikel yang bermuatan (ion) positifatau negatif. Sebagian besar proses metabolisme memerlukan dan dipengaruhi oleh elektrolit. Konsentrasielektrolit yang tidak normal dapat menyebabkan banyak gangguan. Pemeliharaan tekanan osmotik dan distribusibeberapa kompartemen cairan tubuh manusia adalah fungsi utama empat elektrolit mayor, yaitu natrium (Na+),kalium (K+), klorida (Cl-), dan bikarbonat (HCO3-). Pemeriksaan keempat elektrolit mayor tersebut dalam klinisdikenal sebagai ”profil elektrolit. Natrium adalah kation terbanyak dalam cairan ekstrasel, kalium kation terbanyakdalam cairan intrasel dan klorida merupakan anion terbanyak dalam cairan ekstrasel. Jumlah natrium, kalium danklorida dalam tubuh merupakan cermin keseimbangan antara yang masuk terutama dari saluran cerna dan yangkeluar terutama melalui ginjal. Gangguan keseimbangan natrium, kalium dan klorida berupa hipo- dan hiper-. Hipoterjadibila konsentrasi elektrolit tersebut dalam tubuh turun lebih dari beberapa miliekuivalen dibawah nilai normaldan hiper- bila konsentrasinya meningkat diatas normal.Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan kadarnatrium, kalium dan klorida adalah dengan metode elektroda ion selektif, spektrofotometer emisi nyala,spektrofotometer atom serapan, spektrofotometri berdasarkan aktivasi enzim, pemeriksaan kadar klorida denganmetode titrasi merkurimeter, dan pemeriksaan kadar klorida dengan metode titrasi kolorimetrik-amperometrik.Kata kunci: elektrolit, keseimbangan, gangguan keseimbanganAbstractElectrolyte is compound in condensation which is disociation become particle which is charged (ion)negative or positive. Most metabolism processes need and influenced by electrolyte. Electrolyte concentrationwhich abnormal can cause many troubles. Conservancy of osmotic pressure and distribution some human beingbody fluid compartment are especial function four major electrolyte, that is natrium (Na+), potassium (K+), chloride(Cl-), and bicarbonate (HCO3-). Fourth Inspection of the major electrolyte in clinic known as "electrolyteprofile”.Sodium is cation many in extracell fluid, potassium is cation many in intrasel fluid, and chloride is anionmany in extracell fluid. Amount of natrium, chloride and potassium in body are balance which enter especially fromdigest and excretion especially through kidney.Balance disorders of natrium, chloride and potassium in the form ofhipo- and hyper-. Hipo- happened when the electrolyte concentration in body go down more than somemiliekuivalen under normal values and hyper- when the concentration of mounting above normal.Laboratoryfindings to determine concentration of natrium, chloride and potassium are with ion selective electrode (ISE)method, flame emission spectrophotometry (FES), atomic absorption spectrophotometry, spektrofotometrypursuant to enzyme activation, determine concentration of chloride with titration method of merkurimeter, and withtitration method of colorimetry-amperometry.Keywords: Electrolyte, balance, balance disorders
Malrotasi Usus Dianne Jurnalis, Yusri; Sayoeti, Yorva; ., Aslinar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMalrotasi biasanya didiagnosis pada bayi baru lahir dan bayi muda. Kelainan ini terjadi pada kehamilan 10minggu dan terdapat sekitar 1 dari 500 kelahiran hidup. Pada 75% kasus gejala timbul pada bayi baru lahir dan90% terjadi dalam 1 tahun kehidupan. Pada bayi, gejala utama malrotasi usus yaitu muntah kehijauan dan padaanak-anak yang lebih tua yaitu sakit perut, diare, konstipasi, tinja berdarah atau gagal tumbuh. Tindakanpembedahan segera akan memberikan prognosis yang baik bagi malrotasi usus.Kata kunci: Malrotasi, usus, Ladd’s ProcedureAbstractMalrotation is usually diagnosed in newborns and young infants. This disorder occurs in pregnancy 10weeks and there are about 1 in 500 live births. In 75% of cases the onset of symptoms is in newborns and 90%occurred in the first year of life. In infants, the main symptom is greenish vomiting and older children will presentwith bowel Malrotation, abdominal pain, diarrhea, constipation, bloody stools or failure to thrive. Immediate surgerywill give a good prognosis for bowel Malrotation.Keywords: intestinal malrotation, Ladd’s Procedure
Hiperurisemia pada Pra Diabetes Nasrul, Ellyza; ., Sofitri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAsam urat (AU) merupakan produk akhir dari katabolisme adenin dan guanin yang berasal dari pemecahannukleotida purin. Urat dihasilkan oleh sel yang mengandung xanthine oxidase, terutama hepar dan usus kecil.Hiperurisemia adalah keadaan kadar asam urat dalam darah lebih dari 7,0 mg/dL.Pra diabetes adalah subjek yangmempunyai kadar glukosa plasma meningkat akan tetapi peningkatannya masih belum mencapai nilai minimaluntuk kriteria diagnosis diabetes melitus (DM). Glukosa darah puasa terganggu merupakan keadaan dimanapeningkatan kadar FPG≥100 mg/dL dan <126 mg/dL. Toleransi glukosa terganggu merupakan peningkatanglukosa plasma 2 jam setelah pembebanan 75 gram glukosa oral (≥140 mg/dL dan <200mg/dL) dengan FPG<126 mg/dL.Insulin juga berperan dalam meningkatkan reabsorpsi asam urat di tubuli proksimal ginjal. Sehinggapada keadaan hiperinsulinemia pada pra diabetes terjadi peningkatan reabsorpsi yang akan menyebabkanhiperurisemia. Transporter urat yang berada di membran apikal tubuli renal dikenal sebagai URAT-1 berperandalam reabsorpsi urat.Kata kunci: Hiperurisemia, Pra DiabetesAbstractUric acid (AU) is the end product of the catabolism of adenine and guanine nucleotides derived from thebreakdown of purines. Veins produced by cells containing xanthine oxidase, especially the liver and small intestine.Hyperuricemia is a state in the blood uric acid levels over 7.0 mg / dL.Pre-diabetes is a subject which has a plasmaglucose level will rise but the increase is still not reached the minimum value for the diagnostic criteria for diabetesmellitus (DM). Impaired fasting blood glucose is a condition in which increased levels of FPG ≥ 100 mg / dL and<126 mg / dL. Impaired glucose tolerance is an increase in plasma glucose 2 hours after 75 gram oral glucose load(≥ 140 mg / dL and <200mg/dl) with FPG <126 mg / dL.Insulin also plays a role in increasing the reabsorption ofuric acid in renal proximal tubule. So that the hyperinsulinemia in the pre-diabetic condition increases thereabsorption of which will lead to hyperuricemia. Urate transporter in the apical membrane of renal tubule known asURAT-1 plays a role in urate reabsorption.Keywords: Hyperuricemia, Pre-diabetes
Perbandingan Efek Antibakteri Madu Asli Sikabu dengan Madu Lubuk Minturun terhadap Escherichia Coli dan Staphylococcus Aureus secara In Vitro Rio, Yugo Berri Putra; Djamal, Aziz; ., Asterina
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPendahuluan: Madu digunakan sebagai agen makanan dan obat tradisional, mengandung nektar atau gulaeksudat dari tanaman yang dikumpulkan oleh lebah madu serta merupakan salah satu obat tradisional yangdigunakan oleh masyarakat. Madu diketahui memiliki kemampuan sebagai efek antibakteri, seperti Escherichia colidan Stahpylococcus aureus. Kedua bakteri ini memiliki sifat yang berbeda tetapi memilki kesamaan dari penyakityang disebabkannya. Kualitas dan jenis madu juga sesuai dengan tempat dan lokasi lebah berkembang biak.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbandingan efek antibakteri madu asli Sikabu dan Lubuk Minturunterhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus secara in vitro. Metode Penelitian: Madu yang diuji untukpenelitian ini adalah madu yang berasal dari Sikabu dan Lubuk Minturun. Penelitian ini dilaksanakan pada bulanDesember 2011 sampai Mei 2012 di laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Jenispenelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan menggunakan metode difusi (metode cakram) dananalitik dengan menghubungkan perbedaan yang dimiliki kedua madu sebagai efek antibakteri. Hasil Penelitian:ini menunjukkan bahwa madu asli Sikabu dan Lubuk Minturun tidak memiliki kemampuan efek antibakteri terhadapEscherichia coli, dan terdapat perbedaan efek antibakteri dari kedua madu terhadap Staphylococcus aureus.Kesimpulan: dari kedua jenis madu yang diteliti tidak ditemukan efek antibakteri terhadap Escherichia coli , namunmadu asli Sikabu memiliki efek antibakteri yang lebih baik dari pada madu Lubuk Minturun terhadapStaphylococcus aureusKata Kunci : Perbandingan Efek Antibakteri, Madu Asli Sikabu, Madu Lubuk Minturun. Escherichia coli,Staphylococcus aureusAbstractIntroduction: Honeyis used as an agent for food and traditional medicine, containing nectar or sugar exudates ofthe plant collected by honey bees, is one of the traditional medicines used by community. Honey is known to havethe ability as an antibacterial effect, such as Escherichia coli and Stahpylococcus aureus. Both of these bacteriahave different properties but have the common of the diseases it causes. The quality and type of honey is also inaccordance with the breeding places and their location. The purpose of this study was to see a comparison of theantibacterial effect of honey Sikabu and Lubuk Minturun against Escherichia coli and Staphylococcus aureus by invitro. Methods: Honey to be tested for this study were derived from Sikabu and Lubuk Minturun. This study wasconducted in December 2011 to May 2012 in the laboratory of Microbiology, Faculty of Medicine, AndalasUniversity. Type of research is experimental diffusion method (disc method) and analytical distinction owned bylinking the two of honey as an antibacterial effect. Results: These results indicate that the honey Sikabu and LubukMinturun have no antibacterial effect against Escherichia coli, both of honey have differences antibacterial effectagainst Staphylococcus aureus. Conclusion: Both types of honey from this study did not find an antibacterial effectagainst Escherichia coli, but honey Sikabu has better antibacterial against Staphylococcus aureus than honeyLubuk Minturun.Keywords: Comparisons Antibacterial Effects, Original Sikabu Honey, Honey Lubuk Minturun. Escherichia coli,Staphylococcus aureus
Kelainan Hemostasis pada Leukemia Dia Rofinda, Zelly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang: Leukemia adalah penyakit keganasan pada jaringan hematopoietik yang ditandai denganpenggantian elemen sumsum tulang normal oleh sel darah abnormal atau sel leukemik. Salah satu manifestasi klinisdari leukemia adalah perdarahan yang disebabkan oleh berbagai kelainan hemostasis.Kelainan hemostasis yang dapat terjadi pada leukemia berupa trombositopenia, disfungsi trombosit,koagulasi intravaskuler diseminata, defek protein koagulasi, fibrinolisis primer dan trombosis. Patogenesis danpatofosiologi kelainan hemostasis pada leukemia tersebut terjadi dengan berbagai mekanisme.Kata kunci: leukemia, kelainan hemostasisAbstractBackground: AbstractLeukemia is a malignancy of hematopoietic tissue which is characterized bysubstituted of bone marrow element with abnormal blood cell or leukemic cell. One of clinical manifestation ofleukemia is bleeding that is caused by several hemostasis disorders.Hemostasis disorders in leukemia such asthrombocytopenia, platelet dysfunction, disseminated intravascular coagulation, coagulation protein defect, primaryfibrinolysis and thrombosis. Pathogenesis and pathophysiology of thus hemostasis disorders in leukemia occur withdifferent mechanism.Keywords: leukemia, hemostasis disorder
Otomycosis Edward, Yan; Irfandy, Dolly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakOtomikosis adalah salah satu kondisi yang umum ditemukan di klinik THT. Penyakit ini merupakantantangan dan menimbulkan rasa frustrasi bagi pasien dan dokter ahli THT. Hal ini disebabkan pengobatan yangmemerlukan waktu lama dan rerata kekambuhan yang tinggi.Dilaporkan satu kasus otomikosis pada seorang wanita umur 41 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkananamnesis, pemeriksaan fisik dan tes KOH. Dari pemeriksaaan laboratorium ditemukan Aspergillus niger sebagaipenyebab. Dengan terapi pembersihan liang telinga dan obat oles telinga kombinasi gentian violet terdapatperbaikan.Kata kunci: Otomikosis, Aspergillus sp, TerapiAbstractOtomycosis is one of the common conditions encountered in a general otolaryngology clinic. The diseaseprocess a challenging and frustrating entity for both patients and otolaryngologists for it requires long termtreatment and recurrence rate remains. One case of otomycosis in a 41 years old woman is reported. Thediagnosis was based on anamnesis, physical examination and KOH test. From laboratory examination, Aspergillusniger was isolated as etiologic agent. With the treatment of ear toilet and combination of Gentian violet animprovement was observed.Keywords: Otomycosis, Aspergillus sp,Therapy
Kelainan Hemostasis pada Leukemia Dia Rofinda, Zelly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang: Leukemia adalah penyakit keganasan pada jaringan hematopoietik yang ditandai denganpenggantian elemen sumsum tulang normal oleh sel darah abnormal atau sel leukemik. Salah satu manifestasi klinisdari leukemia adalah perdarahan yang disebabkan oleh berbagai kelainan hemostasis.Kelainan hemostasis yang dapat terjadi pada leukemia berupa trombositopenia, disfungsi trombosit,koagulasi intravaskuler diseminata, defek protein koagulasi, fibrinolisis primer dan trombosis. Patogenesis danpatofosiologi kelainan hemostasis pada leukemia tersebut terjadi dengan berbagai mekanisme.Kata kunci: leukemia, kelainan hemostasisAbstractBackground: AbstractLeukemia is a malignancy of hematopoietic tissue which is characterized bysubstituted of bone marrow element with abnormal blood cell or leukemic cell. One of clinical manifestation ofleukemia is bleeding that is caused by several hemostasis disorders.Hemostasis disorders in leukemia such asthrombocytopenia, platelet dysfunction, disseminated intravascular coagulation, coagulation protein defect, primaryfibrinolysis and thrombosis. Pathogenesis and pathophysiology of thus hemostasis disorders in leukemia occur withdifferent mechanism.Keywords: leukemia, hemostasis disorder

Page 1 of 2 | Total Record : 12