cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 3 (2012)" : 11 Documents clear
Penatalaksanaan Trauma Tembus Leher Akibat Luka Sayat Rahman, Sukri; ., Novialdi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan :Trauma tembus leher merupakan keadaan gawat darurat yang bersifat mengancam nyawa karena dapat menyebabkan cedera terhadap struktur-struktur vital di leher seperti jalan nafas, pembuluh darah besar, esofagus dan saraf.Sebagian besar penyebab luka tembus leher adalah luka tembak diikuti luka tusuk/ sayat. Trauma ini memerlukan penanganan yang segera. Keberhasilan penatalaksanaan trauma tembus leher bergantung pada waktu mulai mendapat pertolongan, ketepatan diagnosis dan ketepatan penanganan. Tujuan : Laporan kasus ini diajukan untuk memberikan gambaran penatalaksanaan pada kasus trauma tembus leher akibat luka sayat. Kasus :Dilaporkan satu kasus luka tembus leher pada seorang laki-laki umur 15 tahun akibat luka sayat (digorok). Penatalaksanaan : Pada pasien ini dilakukan penatalaksanaan keadaan gawat darurat dan eksplorasi segera terhadap luka.Kesimpulan:Keberhasilan penatalaksanaan trauma tembus leher bergantung pada waktu mulai mendapat pertolongan, ketepatan diagnosis dan ketepatan penatalaksanaan. Kata kunci: trauma tembus leher, penatalaksanaan, luka sayat leher (gorok) Abstract Introduction: Penetrating neck trauma is life threatening emergency because of the potential injury to vital structures of the neck such as the air passages, major vascular vessels, esophagus and neurological structures. The majority of penetrating neck trauma is presenting as result from gunshot followed by stab wound.Penetrating neck traumas require emergency treatment. Successful management of penetrating neck trauma depends on prompt recognition of injury, appropriate diagnosis and proper treatment.Purpose :This case reportpresentedto give an overviewon themanagement ofpenetratingnecktraumadue tocuts. Case :A case of 15 years old man with penetratingneck trauma due to cut throat is presented. Case Management :This case was managed with emergency resuscitation and immediate neck exploration. Conclusion :Successful management of penetrating neck trauma depends on prompt recognition of injury, appropriate diagnosis and proper management. Keywords:penetrating neck trauma, management ,cut throat
Sindrom Hepatorenal pada Anak Dianne Jurnalis, Yusri; Sayoeti, Yorva; Julinar, Julinar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latar belakang:Sindrom hepatorenal (SHR) merupakan suatu keadaan dimana terjadinya gangguan fungsi ginjal pada pasien sirosis hepatis tahap lanjut. Sindrom ini mempunyai karakteristik terjadinya penurunan GFR tanpa adanya kelainan yang lain pada ginjal. Hal yang mendasar penyebab SHR ini adalah terjadinya vasokonstriksii ginjal dan vasodilatasi perifer, tidak disertai protein uria dan kelainan histologi ginjal. Diagnosis SHR ditegakkan pada pasien sirosis hepatis dengan gangguan fungsi ginjal dengan menyingkirkan penyebab lain kelainan ginjal. Tatalaksana dengan menggunakan vasokonstriktor perifer yang dikombinasi dan albumin intravena dapat memperbaiki fungsi ginjal, akan tetapi transplantasi hati tetap merupakan terapi definitif untuk memperpanjang harapan hidup. Prognosis pasien dengan SHR ini buruk, harapan hidup pada bulan pertama hanya 50% dan 6 bulan kemudian hanya 20%. Kata kunci: Sindrom hepatorenal, sirosis hepatis, gangguan fungsi ginjal. Abstract Background: Hepatorenal syndrome (HRS) is functional renal impairment that occurs in patient with advanced liver cirrhosis. It is characteristized by marked reduction in GFR (glomerulous filtration rate) in the absence of other cause of renal failure. The hallmark of HRS is intense renal vasoconstriction with predominant peripheral arterial vasodilation, absence of proteinuria or histological change in kidney. HRS is diagnosis by exclusion and all other cause of acute renal injury in patient advanced liver disease. Management requires combined use of splanchnic and peripheral vasoconstrictor in combination with intravenous albumin may improve renal function in HRS. How ever liver transplantation is the only definitive way of improving long term outcome. The prognosis for patient with cirrhosis and renal failure is poor. The overall survival is approximately 50% at 1 month and 20% at 6 month. Keywords:Hepatorenal syndrome, liver cirrhosis, renal impairment.
Kualitas Air Minum Yang Diproduksi Depot Air Minum Isi Ulang Di Kecamatan Bungus Padang Berdasarkan Persyaratan Mikrobiologi Wandrivel, Rido; Suharti, Netty; Lestari, Yuniar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latar belakang: Pendahuluan: Setiap depot air minum wajib melakukan pemeriksaan mutu produk sesuai dengan peraturan yang berlaku, namun tidak satupun dari sembilan depot air minum di Kecamatan Bungus melakukan hal tersebut. Diare adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh air minum yang tidak berkualitas. Morbiditas rate diare di Kecamatan Bungus tertinggi ke-2 di Kota Padang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air minum yang dihasilkan depot air minum di Kecamatan Bungus berdasarkan persyaratan mikrobiologi. Metode Penelitian: Populasi pada penelitian ini adalah air minum yang berasal dari depot air minum isi ulang di Kecamatan Bungus Padang dan sampel pada penelitian ini adalah seluruh populasi yang ada, yaitu sembilan sampel. Penelitian dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu pengambilan sampel air dengan galon air sekaligus observasi faktor yang mempengaruhi kualitas air dan pemeriksaan mikrobiologis dengan Most Probable Number Test (MPN) terhadap sampel yang terdiri dari tiga tes, yaitu presumptive test, confirmative test, dan complete test. Hasil Penelitian: Lima dari sembilan sampel mengandung bakteri Coliform dan tiga dari lima sampel tersebut juga mengandung E. coli. Kesimpulan: Hal ini menunjukkan bahwa 55,6% depot air minum di Kecamatan Bungus menghasilkan air minum yang kualitasnya tidak memenuhi persyaratan mikrobiologi yang telah ditetapkan pemerintah. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi adalah air baku, kondisi depot, kebersihan operator, dan penanganan terhadap wadah pembeli. Kata kunci: Depot air minum isi ulang, pemeriksaan mikrobiologis Abstract Background: Every depot is obliged to do inspection of product quality prescribed by the regulations, but not one even also from nine drinking water depot in District of Bungus do the mentioned. Diarrhea is one of the disease that cause by bad quality water product. Diarrhea morbidity rate in the Bungus District is second highest in Padang City. This Research aim to to know the drinking water quality produced by drinking water refill depot in the Bungus District based on microbiological requirements. Methods: Population of this research is drinking water refill depots in the Bungus District of Padang city and sample of this research is all of existing population, that is nine drinking water depot. Research executed in 2 phase that is intake of water sample with gallon at the same time do observation of the factor that influencing the quality of water and mikrobiological test with Most Probable Number Test ( MPN) to the sampel which consist of three test, that is presumtive test, konfirmative test, and complete test. Result: Five from nine sample contain coliform bacteria and three from five the sampel also contain E. coli. Conclusion: This matter indicate that 55,6% drinking water refill depot in District of Bungus produce drinking water which its quality don’t fulfill microbiological requirements which have been specified by government. Some factor able to influence is standard water, condition of depot, hygiene of operator, and handling to place of buyer. Keywords: Drinking water refill depots, mikrobiological test
Pengaruh Cairan Cultur Filtrate Fibroblast (CFF) Terhadap Penyembuhan Luka; Penelitian eksperimental pada Rattus Norvegicus Galur Wistar Masir, Oky; Manjas, Menkher; Eka Putra, Andani; Agus, Salmiah
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang:Metode penyembuhan luka telah mengalami perkembangan, baik berupa suatu produk atau stimulan terhadap proses biologis tubuh dalam menkompensasi luka. Fibroblas merupakan salah satu komponen penyembuhan yang berperan penting dalam proses fibroplasia. Culture Filtrate Fibroblast (CFF) merupakan hasil kultur fibroblas yang akan dibuktikan efeknya terhadap proses percepatan penyembuhan luka pada penelitian ini. Metode. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan metode post test only control group design dan rancangan acak kelompok (RAK) dengan menggunakan tikus putih wistar. Hewan coba dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu 2 kelompok perlakuan yang diberikan CFF ke area eksisi luka dan kelompok kontrol yang diberikan larutan NaCl 0,9% ke area eksisi luka. Data diolah dengan SPSS 16.0. Data Kategori dianalisa dengan Chi-squared dan data numerik dengan Independent T-test. Hasil. Dari tingkat penyembuhan tidak ditemukan perbedaan pada kedua kelompok, namun perubahan restriksi jaringan lebih besar pada kelompok perlakuan. Pada skor pembentukan kolagen, derajat epitelisasi serta jumlah pembentukan pembuluh darah baru pada hari ke-3 tidak ditemukan perbedaan antara kedua kelompok. Namun pada pengamatan hari ke-7 memperlihatkan pembentukan kolagen, derajat epitelisasi serta jumlah pembentukan pembuluh darah baru lebih banyak pada kelompok perlakuan. Pada fibrosis hari ke-3 dan hari ke-7 memperlihatkan terjadinya fibrosis lebih banyak pada kelompok perlakuan dibanding kontrol. Pada pengamatan terjadinya infeksi hari ke-3 memperlihatkan infeksi lebih sedikit pada kelompok perlakuan dan terjadinya infeksi sama pada hari ke-7. Kesimpulan. CFF memberikan tingkat penyembuhan luka yang lebih baik dibanding NaCl.Kata kunci: CFF, NaCl 0,9 %, tingkat penyembuhan luka.Abstract Background: Wound healing methods have been developed, either a product or a stimulant to the bodys biological processes in wound compensation. Fibroblasts is one component that plays an important role in the healing process of fibroplasia. Culture filtrat Fibroblast (CFF) is a result of fibroblast culture to be proven effect on the acceleration of wound healing in this study.Methods. This study used an experimental design method post test only control group design and randomized block design (RBD) by using wistar mice. Experimental animals were divided into 4 groups, the two groups of treatment given to the area of excision wound CFF and the control group were given 0.9% NaCl solution to the excision wound area. Data processed with SPSS 16.0. Data were analyzed with categories Chi squared and numerical data by the Independent T-test.Result. From degree of wound healing is not found differences in both groups, but the changes in the network restriction greater in the treatment group. The score formation of collagen, the degree of epithelialization and the amount of neovascularisation formation at 3rd day there was no difference between the two groups. However, the observation of 7th day shows the formation of collagen, the degree of epithelialization and the amount of neovascularisation formation more in the treatment group. On the 3rd day fibrosis and 7th day showed more fibrosis in the treatment group compared to controls. In observation of the 3rd day infection showed fewer infections in the treatment group and the same infection between the two group at 7th day.Conclusion. CFF give wound healing better than NaCl.Keywords:CFF, NaCl 0,9 %, degree of wound healing.
Faktor Risiko Asma Pada Murid Sekolah Dasar Usia 6-7 Tahun di Kota Padang Afdal, Afdal; Fitry Yani, Finny; Basir, Darfioes; Machmoed, Rizanda
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latar belakang : Asma merupakan penyakit kronik yang sering dijumpai pada anak. Dilaporkan bahwa prevalens asma meningkat pada anak maupun dewasa. Usia 6-7 tahun merupakan periode dimana prevalens asma dan angka kunjungan ke rumah sakit karena asma lebih tinggi. Terjadinya asma dianggap sebagai interaksi yang kompleks antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik sudah dibuktikan dari penelitian-penelitian sebelumnya, tetapi karakteristik faktor risiko lingkungan pada asma belum jelas. Apabila melihat derajat peningkatan kejadian asma, tidak mungkin hanya faktor genetik yang berperan, tetapi peran faktor lingkungan justru yang lebih besar. Tujuan : Untuk mengetahui prevalens dan faktor risiko asma pada anak SD usia 6-7 tahun di Kota Padang.Metoda : Suatu penelitian cross sectional di 20 SD di Kota Padang pada bulan Juni – November 2009 dengan jumlah sampel 879 orang. Terhadap setiap subjek dilakukan penelitian yaitu pembagian kuisioner ISAAC (international study of asthma and allergies in childhood) untuk orang tua. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square untuk variabel katagorik dan analisis multivariat dengan regresi logistik. Data dianalisis menggunakan peranti lunak komputer.Hasil : Prevalens asma pada murid SD usia 6-7 tahun di Kota Padang berdasarkan kuisioner ISAAC sebesar 8%. Faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap kejadian asma adalah atopi ayah atau ibu, diikuti faktor berat badan lahir dan kebiasaan merokok pada ibu serta pemberian obat parasetamol. Sedangkan pemberian ASI dan kontak dengan unggas merupakan faktor protektif terhadap kejadian asma. Kata kunci: faktor risiko, asma, sekolah dasar Abstract Background: Background Asthma is a common chronic disease in children. It had been reported that the prevalence of asthma in children and adults was increasing. The age of 6-7 years is the period where the prevalence and the number of visits to the hospital because of asthma are higher. The occurrence of asthma is considered as a complex interaction between genetic factors and environmental factors. Genetic factors have been proved to be the risk factor for asthma, but not for the characteristic of environmental that factors that were still unclear. If seeing the increased incidence of asthma, genetic factors might not play a role solely, but the environmental factors might play moreObjective The aim of this study was to determine the prevalence and the risk factors of asthma in elementary school children aged 6-7 years in Padang.Methods This research is cross sectional study in 20 elementary schools in Padang during June until November 2009, total sample of 879 students. To each respondent the ISAAC (international study of asthma and allergies in childhood) questionnaire was given to be fulfilled. Data were analyzed using computer software. Results The prevalence of asthma in elementary school students aged 6-7 years in Padang based on ISAAC questionnaire was 8%. The most dominant factor influencing the incidence of asthma is atopic in father or mother, followed by factors of birth weight and maternal smoking habits and drug administration of paracetamol, while breastfeeding and poultry contact were protective factors. Keywords:risk factors, asthma, elementary school
Pengaruh Cairan Cultur Filtrate Fibroblast (CFF) Terhadap Penyembuhan Luka; Penelitian eksperimental pada Rattus Norvegicus Galur Wistar Masir, Oky; Manjas, Menkher; Eka Putra, Andani; Agus, Salmiah
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang:Metode penyembuhan luka telah mengalami perkembangan, baik berupa suatu produk atau stimulan terhadap proses biologis tubuh dalam menkompensasi luka. Fibroblas merupakan salah satu komponen penyembuhan yang berperan penting dalam proses fibroplasia. Culture Filtrate Fibroblast (CFF) merupakan hasil kultur fibroblas yang akan dibuktikan efeknya terhadap proses percepatan penyembuhan luka pada penelitian ini. Metode. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan metode post test only control group design dan rancangan acak kelompok (RAK) dengan menggunakan tikus putih wistar. Hewan coba dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu 2 kelompok perlakuan yang diberikan CFF ke area eksisi luka dan kelompok kontrol yang diberikan larutan NaCl 0,9% ke area eksisi luka. Data diolah dengan SPSS 16.0. Data Kategori dianalisa dengan Chi-squared dan data numerik dengan Independent T-test. Hasil. Dari tingkat penyembuhan tidak ditemukan perbedaan pada kedua kelompok, namun perubahan restriksi jaringan lebih besar pada kelompok perlakuan. Pada skor pembentukan kolagen, derajat epitelisasi serta jumlah pembentukan pembuluh darah baru pada hari ke-3 tidak ditemukan perbedaan antara kedua kelompok. Namun pada pengamatan hari ke-7 memperlihatkan pembentukan kolagen, derajat epitelisasi serta jumlah pembentukan pembuluh darah baru lebih banyak pada kelompok perlakuan. Pada fibrosis hari ke-3 dan hari ke-7 memperlihatkan terjadinya fibrosis lebih banyak pada kelompok perlakuan dibanding kontrol. Pada pengamatan terjadinya infeksi hari ke-3 memperlihatkan infeksi lebih sedikit pada kelompok perlakuan dan terjadinya infeksi sama pada hari ke-7. Kesimpulan. CFF memberikan tingkat penyembuhan luka yang lebih baik dibanding NaCl.Kata kunci: CFF, NaCl 0,9 %, tingkat penyembuhan luka.Abstract Background: Wound healing methods have been developed, either a product or a stimulant to the bodys biological processes in wound compensation. Fibroblasts is one component that plays an important role in the healing process of fibroplasia. Culture filtrat Fibroblast (CFF) is a result of fibroblast culture to be proven effect on the acceleration of wound healing in this study.Methods. This study used an experimental design method post test only control group design and randomized block design (RBD) by using wistar mice. Experimental animals were divided into 4 groups, the two groups of treatment given to the area of excision wound CFF and the control group were given 0.9% NaCl solution to the excision wound area. Data processed with SPSS 16.0. Data were analyzed with categories Chi squared and numerical data by the Independent T-test.Result. From degree of wound healing is not found differences in both groups, but the changes in the network restriction greater in the treatment group. The score formation of collagen, the degree of epithelialization and the amount of neovascularisation formation at 3rd day there was no difference between the two groups. However, the observation of 7th day shows the formation of collagen, the degree of epithelialization and the amount of neovascularisation formation more in the treatment group. On the 3rd day fibrosis and 7th day showed more fibrosis in the treatment group compared to controls. In observation of the 3rd day infection showed fewer infections in the treatment group and the same infection between the two group at 7th day.Conclusion. CFF give wound healing better than NaCl.Keywords:CFF, NaCl 0,9 %, degree of wound healing.
Ekstirpasi Hemangioma di Dinding Lateral Hidung dengan Pendekatan Endoskopi J Budiman, Bestari; Hafiz, Al
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan: Hemangioma di dinding lateral hidung merupakan kasus tumor jinak pembuluh darah yang jarang angka kejadiannya. Metode: Pendekatan endoskopi memberikan hasil yang lebih baik pada penatalaksanaan kasus tumor jinak di daerah hidung dan sinus paranasal. Pada kasus-kasus tertentu, pendekatan endoskopi memberikan beberapa keuntungan lebih, seperti dapat mengangkat massa tumor dengan morbiditas yang rendah dan menghindari kerusakan yang tidak perlu pada mukosa dan struktur anatomi yang sehat. Diskusi: Telah dilakukan pengangkatan hemangioma di dinding lateral hidung dengan pendekatan endoskopi pada seorang pasien wanita berusia 33 tahun. Kata kunci: hemangioma, dinding lateral hidung, pendekatan endoskopi Abstract Introduction: The hemangioma in the lateral wall of the nose is an uncommon benign vascular neoplasm. Methods: The endoscopic approach can be succesfully employed for the treatment of benign tumor of the nose and paranasal sinuses. In selected cases, this surgical technique allows the complete removal of the tumor with less morbidity, and avoidance of unnecessary resection of healthy mucosa and anatomy structures. Discussion: A case of endoscopic management of a hemangioma in the lateral wall of the nose in a 33 years old girl is reported. Keywords:hemangioma, lateral wall of the nose, endoscopic approach
Diagnosis dan Penatalaksanaan Abses Retrofaring pada Anak Novialdi, Novialdi; Irfandy, Dolly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan: Abses retrofaring adalah terkumpulnya nanah di ruang retrofaring yang merupakan salah satu daerah potensial di leher dalam. Abses retrofaring merupakan kasus yang jarang tetapi dapat menyebabkan kematian terutama pada umur di bawah 5 tahun. Sejak ditemukannya antibiotika, angka kesakitan dan kematian akibat abses menurun drastis. Metode: Dilaporkan satu kasus abses retrofaring dengan riwayat ketulangan pada anak gizi kurang umur 9 tahun. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan radiologi. Pada pemeriksaan foto polos jaringan lunak leher, terlihat gambaran pelebaran ruang retrofaring dan air fluid level. Diskusi: Penatalaksanaan meliputi pemberian antibiotika, drainase dan eksplorasi abses serta perbaikan keadaan umum. Kata kunci: abses retrofaring, benda asing, drainase Abstract Introduction: Retropharyngeal abscess is defined as accumulation pus in retropharyngeal space which is a potential area in deep neck space. Retropharyngeal abscess is a rare case but it can cause death especially in children under five years old. Since antibiotics were found, morbidity and mortality of this case was drastically decreased. Methods: A retropharyngeal abscess of child 9 years old with history of swallowed foreign body (fishbone) and lack of nutrition has been reported. Diagnosis was based on anamnesis, physical examination and radiographic finding. In soft tissue cervical radiograph we found, widening of retropharyngeal space with air fluid level. Discussion: Management for abscess is intravenous antibiotics, drainage and exploration abscess and improve general condition has been performed Keywords:Retropharyngeal abscess, foreign body, drainage
Pengaruh Diet Tinggi Minyak Sawit Terhadap Sel Hepatosit Tikus Sastri, Susila; Kadri, Husnil
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan: Minyak sawit yang dikonsumsi berlebihan tetapi tidak diimbangi pembakaran energi (oksidasi asam lemak) dapat menyebabkan penimbunan lemak di hepar. Oksidasi asam lemak diatur oleh faktor transkripsi peroxisome proliferator-activated receptor-α (PPAR-α) di mitokondria dan peroksisom sel hepar. Gangguan sensitifitas PPAR-α menyebabkan penurunan oksidasi asam lemak sehingga berakibat pada terbentuknya vakuol lemak yang dapat berujung terjadinya perlemakan hepar. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bagaimana pengaruh diet tinggi minyak sawit terhadap jumlah vakuol lemak yang terbentuk pada sel hepatosit tikus. Metode: Desain penelitian ini adalah post-test experimental yang dilaksanakan di laboratorium. Tikus putih galur Wistar jantan sebanyak 15 ekor dengan berat badan antara 200-250 gram dibagi 3 kelompok yang terdiri dari; Kelompok kontrol negatif diberi diet standar 6-7gr/hari, Kelompok kontrol positif diberi diet standar ad libitum, Kelompok diet tinggi minyak sawit (diet standar + MS 50%) diberikan ad libitum. Setelah 4 minggu, semua tikus dibantai untuk diambil heparnya. Hepar tersebut diawetkan dalam larutan formalin, kemudian diwarnai dengan Hematoksilin Eosin (HE) pada kaca objek. Sediaan ini selanjutnya dilihat dengan mikroskop pada pembesaran 400X. Perlemakan hepar ditentukan berdasarkan jumlah vakuol lemak intrasel yang dihitung per 100 sel. Hasil: Pada Kelompok kontrol negatif hanya ada satu vakuol lemak per100 sel, tetapi pada kelompok lain terdapat perbedaan yang bermakna (p
Pengaruh Cairan Cultur Filtrate Fibroblast (CFF) Terhadap Penyembuhan Luka; Penelitian eksperimental pada Rattus Norvegicus Galur Wistar Masir, Oky; Manjas, Menkher; Eka Putra, Andani; Agus, Salmiah
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang:Metode penyembuhan luka telah mengalami perkembangan, baik berupa suatu produk atau stimulan terhadap proses biologis tubuh dalam menkompensasi luka. Fibroblas merupakan salah satu komponen penyembuhan yang berperan penting dalam proses fibroplasia. Culture Filtrate Fibroblast (CFF) merupakan hasil kultur fibroblas yang akan dibuktikan efeknya terhadap proses percepatan penyembuhan luka pada penelitian ini. Metode. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan metode post test only control group design dan rancangan acak kelompok (RAK) dengan menggunakan tikus putih wistar. Hewan coba dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu 2 kelompok perlakuan yang diberikan CFF ke area eksisi luka dan kelompok kontrol yang diberikan larutan NaCl 0,9% ke area eksisi luka. Data diolah dengan SPSS 16.0. Data Kategori dianalisa dengan Chi-squared dan data numerik dengan Independent T-test. Hasil. Dari tingkat penyembuhan tidak ditemukan perbedaan pada kedua kelompok, namun perubahan restriksi jaringan lebih besar pada kelompok perlakuan. Pada skor pembentukan kolagen, derajat epitelisasi serta jumlah pembentukan pembuluh darah baru pada hari ke-3 tidak ditemukan perbedaan antara kedua kelompok. Namun pada pengamatan hari ke-7 memperlihatkan pembentukan kolagen, derajat epitelisasi serta jumlah pembentukan pembuluh darah baru lebih banyak pada kelompok perlakuan. Pada fibrosis hari ke-3 dan hari ke-7 memperlihatkan terjadinya fibrosis lebih banyak pada kelompok perlakuan dibanding kontrol. Pada pengamatan terjadinya infeksi hari ke-3 memperlihatkan infeksi lebih sedikit pada kelompok perlakuan dan terjadinya infeksi sama pada hari ke-7. Kesimpulan. CFF memberikan tingkat penyembuhan luka yang lebih baik dibanding NaCl.Kata kunci: CFF, NaCl 0,9 %, tingkat penyembuhan luka.Abstract Background: Wound healing methods have been developed, either a product or a stimulant to the bodys biological processes in wound compensation. Fibroblasts is one component that plays an important role in the healing process of fibroplasia. Culture filtrat Fibroblast (CFF) is a result of fibroblast culture to be proven effect on the acceleration of wound healing in this study.Methods. This study used an experimental design method post test only control group design and randomized block design (RBD) by using wistar mice. Experimental animals were divided into 4 groups, the two groups of treatment given to the area of excision wound CFF and the control group were given 0.9% NaCl solution to the excision wound area. Data processed with SPSS 16.0. Data were analyzed with categories Chi squared and numerical data by the Independent T-test.Result. From degree of wound healing is not found differences in both groups, but the changes in the network restriction greater in the treatment group. The score formation of collagen, the degree of epithelialization and the amount of neovascularisation formation at 3rd day there was no difference between the two groups. However, the observation of 7th day shows the formation of collagen, the degree of epithelialization and the amount of neovascularisation formation more in the treatment group. On the 3rd day fibrosis and 7th day showed more fibrosis in the treatment group compared to controls. In observation of the 3rd day infection showed fewer infections in the treatment group and the same infection between the two group at 7th day.Conclusion. CFF give wound healing better than NaCl.Keywords:CFF, NaCl 0,9 %, degree of wound healing.

Page 1 of 2 | Total Record : 11