cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (2013)" : 12 Documents clear
Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Berobat Pasien Yang Diterapi Dengan Tamoxifen Setelah Operasi Kanker Payudara Budiman, Arif; Khambri, Daan; Bachtiar, Hafni
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Banyak faktor yang mempengaruhi kepatuhan berobat pasien yang diterapi dengan tamoxifen setelah operasi kanker payudara. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kepatuhan berobat pasien di RS. Dr. M Djamil, Padang. Sehingga dapat menjadi masukan dan perbaikan untuk meningkatkan kepatuhan berobat pasien. Metode yang digunakan adalah wawancara langsung, penderita mengisi daftar pertanyaan (kuesioner) dan skala likert pelayanan tenaga medis. Periode penelitian dilakukan selama 3 bulan. Analisis univariat, bivariat dan multivariat dilakukan dengan memakai SPSS versi 18.00. Dari 61 pasien didapatkan 9 pasien tidak patuh terapi tamoxifen, hasil penelitian bivariat didapatkan hubungan yang bermakna antara kepatuhan dengan umur, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, ketersediaan asuransi kesehatan dan pelayanan tenaga medis (p<0,05) sedangkan efek samping tidak berhubungan dengan kepatuhan (p>0,05). Analisis multivariat didapatkan faktor yang paling berpengaruh adalah pelayanan tenaga medis dengan p= 0,06. Dapat disimpulkan bahwa pelayanan medis merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan berobat pasien yang diterapi tamoxifen setelah operasi kanker payudara, faktor lain yang berpengaruh adalah umur, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga dan ketersediaan asuransi kesehatan. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan pada tenaga medis sehingga dapat meningkatkan kepatuhan berobat pasien. Kata kunci: Kepatuhan, tamoxifen, kanker payudara.AbstractMany factors affect compliance of treatment in patients treated with tamoxifenAfter breast cancer surgery. This study aims to determine the factors that may affect treatment compliance of patients in the hospital. Dr.M.Djamil, Padang. So it can be sugestion and improvement to enhance patients treatment compliance.Methods. The method is a direct interview, patients filled out a questionnaire (questionnaire) and Likert scale medical services. Period of research carried out for 3 months. Analysis univariat, bivariat and multivariat performed by using SPSS version 18.00.Results. Of the 61 patients we found 9 patients not adherent tamoxifen therapy, the results bivariant a significant association between adherence to the age, level of education, familyIncome, availability of health insurance and medical care (p<0.05). Multivariate analysis found that the most influential factor is the care of medical personnel with p=0.06. Discussion. It can be concluded that the medical services are the most influential factor on treatment compliance of patients receiving tamoxifen after breast cancer surgery, other factors are age, education level, family income and the availability of health insurance. The results of this study can be suggestion on the medical staff so as to improve treatment compliance of patients.Keywords:Compliance, tamoxifen, breast cancer.
Hubungan Penurunan Kadar Natrium Terhadap Gangguan Pola Tidur Pasca TURP (Transurethral Resection of The Prostate) Khomeini, Khomeini; Dody E, Dody E; Erkadius, Erkadius
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar Belakang. TURP merupakan tindakan operasi endoskopi standar baku untuk penatalaksanaan BPH yang memerlukan tindakan bedah. Dalam pengamatan sehari hari pasien pasca TURP mengeluhkan gangguan pola tidur pasca tindakan. Belum dilaporkan angka kejadian gangguan pola tidur pasca TURP. Salah satu masalah yang mungkin sebab yaitu terjadinya penurunan kadar natrium akibat imbibisi air irigant ke intra vaskuler. Penurunan kadar natrium dapat menyebabkan gangguan neurologis yang mengganggu pola tidur. Penurunan natrium berlanjut dapat menjadi sindroma TURP. Metodologi. Penelitian ini penelitian cross sectional, semua pasien BPH dilakukan pemeriksaan natrium dan diberikan kuesioner gangggan pola tidur. Setelah TURP dilakukan pemeriksaan natrium pasca TURP dan kuesioner kembali. Jumlah distribusi gangguan pola tidur dan kadar natrium disajikan dalam bentuk tabel. Tiap variabel dilakukan analisa dan uji statistik dengan menggunakan T-test, chisquare dan Fisher. Hasil. Didapatkan pasien dengan gangguan pola tidur 41%.. Didapatkan perbedaan bermakna hubungan antara umur pasien dengan gangguan pola tidur pada tabel 3 ( chisquare 1.999027 ). Tidak didapatkan perbedaan bermakna hubungan antara pekerjaan pasien dengan gangguan pola tidur pada tabel 5 (Chi square: 1.242). Tidak didapatkan perbedaan bermakna hubungan antara pendidikan pasien dengan gangguan pola tidur pada tabel 6 (chisquare 1,242). Tidak didapatkan perbedaan bermakna hubungan antara lama operasi dengan gangguan pola tidur tabel 7 (chisquare 3,306). Didapatkan lama operasi <1jam terjadi penurunan kadar natrium 3,783 + 2,235mmol/L sedangkan operasi > 1 jam terjadi penurunan natrium 6,692 + 6,047dengan perbedaan bermakna secara statistic.( t=2,087 ; P 0,044). Tidak didapatkan perbedaan bermakna hubungan antara jumlah cairan irigasi dengan gangguan pola tidur pada tabel 8 ( chi square 2,520). Tidak didapatkan perbedaan bermakna antara jumlah cairan irigasi dengan penurunan natrium pada gambar 2 (F1,35 = 3,004). Didapatkan Mean natrium sebelum TURP 139,3 + 3,7 dan natrium sesudah TURP 134,Kata kunci: Gangguan pola tidur, Penurunan kadar natrium, TURPAbstractBackground. TURP is the gold standard endoscopic surgery for the treatment of benign enlargement of the prostate gland that requires surgery. In daily observations after TURP patients often complain of sleep patterns disturbances . Incidence has not been reported sleep pattern disturbance after TURP. One problem that may cause sodium levels are decreasing as a result of water imbibition irigant to intra vascular. Declining levels of sodium cause neurological disorders that can disrupt sleep patterns. The decline continues of Sodium level could be a TURP syndrome.Methodology. This study is a cross sectional study, all patients with diagnose Benign Prostate Hypertrophi should be check sodium level and get questionnaire sleep patterns disturbances. After TURP check sodium level and questionnaires again . The number of distribution of sleep pattern disturbances and the sodium content is presented in tabular form. Each variabel was analize and statistic test with T-test, Fischer and chisquare.Results. Obtained patients with sleep patterns dsiturbances 41% . Achieved significant differences between relationship age of the patient with sleep patterns disturbances in Table 3 (chisquare 1.999027). No significant differences in the relationship between the work of patients with sleep patterns disturbances in table 5 (Chi square: 1,242). No significant differences in the relationship between the education of patients with sleep patterns dsiturbances in table 6 (chisquare 1.242). No significant differences in the relationship between long operation with sleep pattern disturbance in table 7 (chisquare 3.306). In this research, the operating time <1 hr make a decrease sodium levels 3.783 + 2.235 mmol / L, while operating > 1 hour decrease sodium 6.692 + 6.047 mmol/L with a statistically significant difference. (T = 2.087, P 0.044). No significant differences in the relationship between irrigation fluid with sleep patterns indisturbances table 8 (chi square 2.520). No significant differences between the amount of irrigation fluid with decreased of sodium level in figure 2 (F1, 35 = 3.004). Obtained Mean of sodium before TURP 139.3 + 3.7 and sodium after TURP 134.4 + 5.3 mmol / L. No significant differences between the relationship of sodium before TURP in table 9 (chi square 1.286) and post-TURP with decreased of sodium levels in table 10 (chi square 1.286) with sleep patterns disturbances after TURP. In getting significant differences between sleep patterns disturbances with decreases sodium levels in table 11 (Fischer: 0.0000118)Conclusion. The incidence of sleep patterns disturbances after TURP 41%. Sleep patterns disturbancesb after TURP is associated with decreased levels of sodium and operating time. No significant difference was found between age, occupation, education, with sleep patterns disturbances after TURP.Keywords:sleep patterns disturbances , decrease sodium levels, TURP.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Abses Septum Nasi Budiman, Bestari J; Prijadi, Jon
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAbses septum nasi adalah terkumpulnya pus di antara tulang rawan dengan mukoperikondrium atau tulang septum dengan mukoperiosteum yang melapisinya. Abses septum dapat menyebabkan hidung pelana bahkan komplikasi intrakranial, sehingga diperlukan diagnosis dan tindakan yang tepat dan cepat. Telah dilaporkan satu kasus abses septum pada wanita umur 34 tahun dan telah dilakukan insisi dan eksplorasi abses dalam narkose umum.Kata kunci: Arial 9 Kata Kunci: Abses septum nasi, hematoma septum, hidung pelana.AbstractNasal septal abscess is defined as pus accumulation between cartilage and mucopericondrium or septal bone and mucoperiosteum which is layer it. Septal abscess can cause saddle nose even intracranial complications, requiring additional diagnosis and appropriately and quickly management. Reported one case of septal abscess in woman 34 years old and has been done the abscess incision and exploration in general anaesthesia.Keywords:Nasal septal abscess, haematoma septum, saddle nose.
Perbedaan Efektivitas Parasetamol Oral Dengan Tramadol Oral Sebagai Tatalaksana Nyeri Pasca Operasi Transurethral Resection of The Prostate Muhammad, Ismail; Alvarino, Alvarino; Puar, Nasman; Bachtiar, Hafni
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPendahuluan. Transurethral Resection of The Prostate (TURP) merupakan tindakan operasi endoskopi yang sudah menjadi standar baku untuk penatalaksanaan pembesaran kelenjar prostat jinak yang memerlukan tindakan bedah. Nyeri pasca operasi TURP disebabkan karena trauma (reseksi jaringan prostat), iritasi foley kateter dan traksi kateter pasca TURP pada luka operasi. Metode. Merupakan jenis penelitian eksperimental yang membandingkan efektivitas pemakaian parasetamol oral 500 mg dengan tramadol oral 50 mg sebagai tatalaksana nyeri pasca TURP. Penelitian ini melibatkan 30 orang pasien yang dibagi 2 kelompok yaitu 15 orang kelompok parasetamol dan 15 orang kelompok tramadol. Intensitas nyeri dengan skala VAS dan efek samping obat dinilai pada 3jam, 5jam, 7jam pasca spinal anesthesia. Hasil penelitian kemudian diuji dengan independen T.test dan Chi-square. Hasil. Rata-rata nilai VAS 3 jam pasca spinal anastesia kelompok parasetamol adalah 0,6267 cm dan tramadol 0,6400 cm. Pada 5 jam pasca spinal anastesi rata-rata nilai VAS kelompok parasetamol 1,5800 cm, kelompok tramadol 1,4933 cm. Pada 7 jam pasca spinal anesthesia rata-rata nilai VAS kelompok parasetamol 3,5800 cm dan kelompok tramadol 3,1667 cm. Setelah uji statistik baik pada 3jam, 5jam, 7jam pasca spinal anesthesia tidak terdapat perbedaan yang bermakna intensitas nyeri pada ke 2 kelompok dengan p > 0,05. Sedangkan kejadian mual dan alergi juga tidak ada perbedaan yang bermakna pada kedua kelompok. p > 0,05. Kesimpulan. Parasetamol 500 mg oral versus tramadol 50 mg oral memiliki efektifitas yang sama dalam mengatasi nyeri pasca operasi TURP. Sedangkan kejadian mual dan alergi tidak ada perbedaan yang bermakna pada ke 2 kelompok.Kata kunci: TURP, parasetamol, tramadol, VASAbstractArial 9 italic Introduction. Transurethral Resection of the Prostate (TURP) is an endoscopic surgery that become the gold standard for the treatment of benign enlargement of the prostate gland that requires surgery. Postoperative pain due to trauma TURP (resection of prostate tissue), irritation foley catheters and catheter traction after TURP surgery on the wound. Methods. This study was an experimental research that compares the effectiveness of the use of oral paracetamol 500 mg with 50 mg oral tramadol as a pain management of post-TURP. This study involved 30 patients divided into 2 groups: 15 people group of paracetamol and 15 people group of tramadol. Pain intensity with the VAS scale and drug side effects rated at 3 hours, 5 hours, 7 hours after spinal anesthesia. Results were then tested with independent T.test and Chi-square Results were then tested with independent T.test and Chi-square. Results. Mean VAS values after 3 hours spinal anesthesia group of paracetamol and tramadol were 0.6267 cm 0.6400 cm. At 5 hours after spinal anesthesia the mean VAS value of paracetamol group was 1.5800 cm, group of tramadol was 1.4933 cm. At 7 hours after spinal anesthesia mean VAS value group of paracetamol was 3.5 800 cm and group of tramadol was 3.1667 cm. After a statistical test at 3 hours, 5 hours, 7 hours after spinal anesthesia, we conclude that there was no significant difference in pain intensity on the 2 groups with P> 0.05. While the incidence of nausea and allergies also had no significant difference in both groups. P> 0.05. Conclusion. Paracetamol 500 mg orally versus tramadol 50 mg orally had the same effectiveness in addressing postoperative pain TURP. While there was no significant difference in the 2 groups in the incidence of nausea and allergies
Polimorfisme Gen Apolipoprotein E Pada Penderita Sindrom Down Trisomi 21 Meinapuri, Malinda
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Sindrom Down merupakan suatu kelainan kromosom yang ditandai dengan adanya baik seluruhnya (trisomi 21) maupun sebagian (translokasi) suatu salinan tambahan kromosom ke 21. Apolipoprotein E (APOE) merupakan suatu bentuk protein polimorfik yang disandikan oleh suatu gen yang berlokasi pada lengan panjang kromosom 19 pada posisi 13.2 (19q13.2). Polimorfism gen APOE berkaitan dengan meningkatnya frekuensi alel ε4 yang berakibat terjadinya hambatan dalam percabangan dan pertumbuhan neuron. Dimungkinkan, penderita Sindrom Down Trisomi 21 memiliki gen APOE yang berbeda dengan kontrol sebagai faktor yang dapat mengakibatkan penuaan dini otak. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol untuk mengamati perbedaan distribusi dan frekuensi alel dan genotip gen APOE pada penderita Sindrom Down trisomi 21 dibandingkan dengan kontrol. Kasus Sindrom Down dan kontrol diambil dari data sekunder yang tersimpan di Center for Biomedical Research (CEBIOR) Semarang Indonesia. Ekstraksi DNA dilakukan dengan menggunakan metode yang terdapat di (CEBIOR) Semarang Indonesia. Kegiatan selanjutnya adalah pemeriksaan polimorfisme gen Apolipoprotein E dengan mengunakan teknik PCR dan RFLP. Hasil : Sebanyak 33 sampel dari penderita Sindrom Down, 18 laki-laki dan 15 perempuan dan 33 sampel kontrol, 18 laki-laki dan 15 perempuan. Baik sampel Sindrom Down maupun kontrol memiliki frekuensi alel ε3 paling tinggi dibandingkan dengan alel ε2 dan ε4. Pada Sindrom Down didapatkan alel ε4 4 sampel (6,1%) dan alel ε2 8 sampel (12,1%). Baik sampel Sindrom Down maupun kontrol memiliki genotip ε3/ε3 paling tinggi dibandingkan dengan genotip gen APOE lainnya. Pada Sindrom Down didapatkan genotip ε2/ε4 4 sampel (12,1%) dan genotip ε2/ε2 2 sampel (6,1%). Simpulan : Terdapat perbedaan distribusi alel dan genotip gen APOE pada penderita Sindrom Down trisomi 21 dibandingkan dengan kelompok kontrol. Diperlukan analisis sampel yang lebih banyak untuk mengkonfirmasi hasil penelitian ini.Kata kunci: Sindrom Down, Polimorfisme, Apolipoprotein E.AbstractBackgrounds :Down syndrome is an abnormal chromosomal condition, characterized by the presence of all (trisomy 21) or part (such as due to translocations) of a third copy of chromosome 21. Apolipoprotein E (APOE) is a polymorphic protein coded by a gene located on the long arm (q) of chromosome 19, positioning at 13.2 (19q13.2). Polymorphism of APOE gene is related with the increasing of allele ε4’s frequency thus cause obstruction in neuron ramification and development. In previous study, Down Syndrome groups are having different type of APOE gene compared with control. That why it can be considered as one of the caused premature aging of brain. Methods : This is a case control study to observe the difference of distribution and frequency of APOE gene allele and genotype in Down Syndrome Trysomi 21 compared to control. Down Syndrome and control samples was taken as secondary data from Center for Biomedical Research (CEBIOR) Semarang Indonesia. DNA extraction was done by using the commonly used salting out method in CEBIOR Semarang Indonesia. Subsequently polimorphism of APOE gene analysis has been done by using PCR and RFLP.Result : Thirty three samples were Down Syndrom patients, consist of 18 male and 15 female. Thirty three samples are control, consist of 18 male and 15 female. Both groups were having the highest frequency of allele ε3 compared to allele ε2 and ε4. In Down Syndrome, frequency of ε4 allele was found in 4 samples (6,1%) while allele ε2 was found in 8 samples (12,1%). Genotype ε3/ε3 were the highest frequency on both group compared to the other. In Down Syndrome group identified ε2/ε4 genotype in 4 samples (12,1%) and ε2/ε2 genotype in 2 samples (6,1%).Conclusion : There is slight difference distribution of APOE gene allele and genotype in Down Syndrome Trysomi 21 compared to control. More samples should be analyzed to confirm this finding.Keywords:Down Syndrome, Polymorpism, Apolipoprotein E.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Terhadap Rokok Dengan Kebiasaan Merokok Siswa SMP di Kota Padang Rahmadi, Afdol; Lestari, Yuniar; Yenita, Yenita
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latar belakang: Kota Padang, lebih dari 50% anak berumur di bawah 18 tahun memulai kebiasaan merokok sebelum usia 13 tahun. Faktor yang dapat mempengaruhi perilaku adalah pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, tradisi, dan nilai. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap rokok dengan kebiasaan merokok pada siswa SMP di Kota Padang. Metode: jenis penelitian ini adalah analitik observasional dalam bentuk rancangan cross-sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP di Kota Padang Tahun Ajaran 2011/2012. Jumlah sampel sebanyak 96 siswa yang diambil secara Cluster Sampling dan Simple Random Sampling. Data dikumpulkan dengan angket. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dan analisis dengan uji Chi-Square pada α=0,05. Hasil: didapatkan 32,30% siswa adalah perokok, 10,4% dengan pengetahuan rendah, dan 7,3% dengan sikap negatif. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan (p=1,000) dan sikap (1,000) dengan kebiasaan merokok pada siswa SMP di Kota Padang. Kesimpulan: tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan (p=0,155) dengan sikap terhadap rokok pada siswa SMP di Kota Padang. Sebaiknya perlu dilakukan penyuluhan kepada siswa SMP di Kota Padang mengenai zat-zat kimia dalam rokok dan asap rokok serta dampaknya terhadap kesehatan.Kata kunci: pengetahuan, sikap, kebiasaan merokokAbstractBackground: In Padang, more than 50% of children aged below 18 years started smoking before the age of 13. Factors which can influence behavior are knowledge, attitude, belief, conviction, tradition, and value. The purpose of this study was to determine the relationship of knowledge and attitude towards smoking with smoking habit in junior high school students in Padang. Methods: Type of this study was observational analytic, in the form of a cross-sectional study. The population in this study is all junior high school students in Padang School Year 2011/2012. The number of samples is as many as 96 students, which was taken by sampling technique namely Cluster Sampling and Simple Random Sampling. Data were collected by questionnaire. Computerized data processing and analysis performed by Chi-Square test at α = 0.05. Result: obtained 32.30% of students were smokers, 10.4% with low knowledge, and 7.3% with negative attitude. There was no significant relationship between knowledge (p=1,000) and attitude (p=1,000) with smoking habit in junior high school students in Padang. Concultion: there was also no significant relationship between knowledge (p=0,155) and attitude towards smoking in junior high school students in the city of Padang. It is necessary to give counseling to junior high school students in Padang about the chemicals contained in cigarettes, its smoke, and its impact to health.Keywords : knowledge, attitude, smoking habit
Pengaruh Pemberian Valsartan Dan Kurkumin Terhadap Pembentukan Fibrosis Di Tubulus Proksimal Ginjal Akibat Obstruksi Ureter Unilateral pada Tikus Wistar. M, Lubis; Alvarino, Alvarino; Tofrizal, Tofrizal; Erkadius, Erkadius
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPendahuluan: Obstruksi ureter adalah kondisi terhalangnya aliran urin dari ginjal ke buli-buli, adanya obstruksi pada ureter memperlambat laju filtrasi glomerulus dan dapat menyebabkan kerusakan parenkim ginjal. Fibrosis pada ginjal yang obstruksi timbul melalui dua mediator yaitu tumor nekrotik factor (TNF-α) dan angiotensin II. Penghambatan kedua mediator ini akan menurunkan tingkat fibrosis di tubulus proksimal ginjal akibat obstruksi. Zat yang bisa menghambat TNF-α salah satunya adalah kurkumin sedangkan Angitensin II dapat dihambat dengan valsatran. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, tikus wistar dibagi dalam dua kelompok dengan jumlah tiap kelompok adalah 15 ekor. Proksimal ureter kanan diikat dan kelompok perlakuan 1 sebagai kontrol diberi valsatran, kelompok perlakuan2 diberi valsartan dan kurkumin. Pemberian oral, dimana obat dilakukan pengenceran. Hari ke lima belas dilakukan pengambilan ginjal tikus wistar, diperiksa histologi. Pembentukan fibrosis di tubulus proksimal dianalisa dengan uji statistik chisquare dengan koreksi Yates dan t test, sedang terbentuknya degenerasi hidrofik dan terbentuknya atrofi pada tubulus proksimal dianalisa dengan uji statistik t test. Hasil: Adanya perbedaan bermakna perubahan pembentukan fibrosis di tubulus proksimal ginjal antara kelompok perlakuan dan kontrol ( Chi Squqre didapat nilai p ≤ 0,001 dan dengan t test didapat nilai p ≤ 0,000). Terbentuknya degenerasi hidrofilik di tubulus proksimal ginjal terdapat perbedaan bermakna terbentuknya degenerasi hidrofilik kelompok perlakuan dan kelompok kontrol ( t test didapatkan nilai p ≤ 0,000). Terbentuknya atrofi di tubulus proksimal terdapatt perbedaan bermakna terbentuknya atrofi di tubulus proksimal ginjal kelompok perlakuan dan kelompok kontrol ( t test didapat nilai p ≤ 0,000). Kesimpulan: Ada perbedaan pengaruh pemberian valsartan dan valsartan + kurkumin terhadap pembentukan fibrosis di tubulus proksimal ginjal. Perbedaan bermakna terbentuKata kunci: Obstruksi ureter, Valsartan, Kurkumin, Fibrosis, Degenerasi hidrofilik, AtrofiAbstractIntroduction: ureter obstruction is a condition where is an obstacle for urine flow from renal to blast (vesica urinaria). The obstruction in ureter will decrease glomerulus filtration flow and it destroys renal parenchym. Fibroses in obstructed renal present through two mediators, there are necrotizing tumor factors-α (TNF-α) and angiotension-II. Obstruction of this two mediators will decrease fibroses grading in proximal tubules of renal caused by obtruction. One of TNF-α inhibitors is curcumene and angiotension-II will be obstructed by valsartan. Methods: this experiment is kind of experimental type using animal experiment (Wistar Mice). Wistar Mice are divided into two groups, each group consist of 15 mice, so the total are 30 mice. This animals tighted with at proximal ureter The first group is control one, given valsartan. The second group is given valsartan and curcumene. Oral route and dilution before given. Medicine is given use 1 cc spuit. Giving action in 14 days. The fifteenth day, we take renal of Wistar and do histology examination. Significant difference between fibroses forming in proximal tubulus analyzed by Chi Square Statistic Test with correction of Yates and T-Test, beside that, hydofic degeneration and atrophy in proximal tubulus analyzed by T-Test Statistic Test. Result: there is significant difference in forming of fibroses in proximal tubules of renal between action group and controlled group (Chi Square with p ≤ 0.0001 and T-Test with p ≤ 0.000). In hydrophilic degeneration forming in proximal tubules gotten significant difference between two groups ( T-Test with p ≤ 0.000). In atrophy forming in proximal tubules, there is important difference between two groups (T-Test with p ≤ 0.000).Concultion. There is an effect in giving valsartan and curcumene to fibroses forming in proximal tubules of renal. There is significant difference in hydrophilic degeneration in proximal tubules of renal. And also there is important difference in atrophy forming in proximal tubules between two groups.Keywords:ureter obstruction, valsartan, curcumene, fibroses, hydrophilic degeneration, atrophy.
Penatalaksanaan Sinus Preaurikuler Tipe Varian Dengan Pit pada Heliks Desenden Postero-Inferior Munilson, Jacky; Huryati, Effy; Pulungan, M. Rusli
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSinus preaurikuler merupakan kelainan kongenital berupa adanya lubang kecil pada telinga luar yangbiasanya terdapat di anterior dari heliks asendens. Disamping lokasi tersebut, sinus preaurikuler juga dapatditemukan posterior dari liang telinga luar yang dikenal sebagai sinus preaurikuler tipe varian. Sinus preaurikulertipe varian merupakan kasus yang jarang dilaporkan. Kebanyakan kasus tidak menunjukkan gejala, sebagianlainnya mengalami masalah infeksi berupa keluarnya cairan, atau terbentuknya abses. Penatalaksanaan sinuspreaurikuler adalah dengan pengangkatan sinus secara lengkap. Kekambuhan merupakan masalah yang dapattimbul jika tidak diangkat secara lengkap.Dilaporkan satu kasus sinus preaurikuler tipe varian dengan pitberada pada heliksdesendens postero-inferior dekatlobulus pada seorang anak laki-laki umur 3 tahun 6 bulan dan ditatalaksana dengan sinektomi.Kata kunci: Sinus preaurikuler, sinus preaurikuler tipe varian, sinektomi.AbstractPreauricular sinusis a congenital malformation that manifests as pit in the extenal ear, usually located in theanterior limb of ascending helix. In additional to these location, preauricular sinus can also be found in the posterior ofthe external ear canal, known as the preauricular sinus with variant type. Preauricular sinus variant type is a rarelyreported. Almost cases are asymptomatic, but others are infectious with discharge or abscess formation. Themanagement of preauricular sinus is excision sinus completely. Recurrence is the problem that happen if the excisionwas not complete.One case of preauricular sinus variant type with pit on the postero-inferior decending helixnearlobulus in a boy 3 years and 6 months old and managed bysinectomy.Keywords: Preauricular sinus, Preauricular sinus variant type, sinectom
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kontraktur Sendi Lutut pada Penanganan Fraktur Femur Secara Operatif dan Non Operatif di RS. M. Djamil Padang Yandri E, Yandri E; Manjas M, Manjas M; Rahmadian R, Rahmadian R; Erkadius, Erkadius
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKontraktur sendi lutut merupakan salah satu komplikasi yang sering muncul pada penderita fraktur femur. Selama bulan Oktober dan November 2011 didapatkan 81 kasus fraktur femur dan hanya 38 kasus yang memenuhi kriteria inklusi penelitian yaitu 20 kasus ditatalaksana dengan operatif dan 18 kasus lagi ditatalaksana dengan non operatif. Pada hasil penelitian ini, kejadian kontraktur sendi lutut berdasarkan usia tidak berbeda jauh, dimana kejadian kontraktur pada usia 13-20 tahun ditemukan 9 kasus ( 23,7 %) dan pada usia &gt;21 tahun ditemukan 11 kasus (28,9 %). Kekakuan/ kontraktur sendi lutut banyak ditemukan pada laki-laki sebanyak 13 kasus (34,2%) dan pada perempuan ditemukan kekakuan sendi lututnya sebanyak 7 kasus (18,4 %) . Dari hasil penelitian ini kami menemukan kekakuan sendi lutut pada terapi operatif sebanyak 5 kasus (13,2 %) dan non operatif ditemukan sebanyak 15 kasus.( 39,5 %).Kata kunci: Fraktur femur, kontraktur, terapi operatif dan non operatifAbstractContracture of the knee joint is one of the complications that often arise in patients with femur fractures. During October to November 2011 found 81 cases of femoral fracture and only 38 cases that met the study inclusion criteria, with 20 cases treated by operative and another 18 cases treated by non-operative. In this study, the incidence of knee joint contracture does not vary much by age, where the incidence of contractures at the age of 13-20 years found 9 cases (23.7%) and age&gt; 21 years was found 11 cases (28.9%). Stiffness / knee joint contractures are common in men were 13 cases (34.2%) and in women were found 7 cases (18.4%). From this research we found the stiffness of the knee joint in operative therapy by 5 cases (13.2%) and non-operative therapy found 15 cases. (39.5%).Keywords:Femur Fracture, contractures, operative and non-operative therapy
Uji Daya Hambat Air Perasan Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia s.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus Secara In Vitro Razak, Abdul; Djamal, Aziz; Revilla, Gusti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakJeruk Nipis (Citrus aurantifolia S.) merupakan salah satu tanaman obat keluarga yang banyak terdapat ditengah masyarkat dan banyak digunakan sebagai ramuan tradisional. Bagian yang sering digunakan adalah air perasannya, dengan salah satu manfaat dapat digunakan untuk menghilangkan jerawat serta penyembuhan luka agar tidak terjadi abses. Jerawat dan abses pada luka merupakan salah satu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus.Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui daya hambat air perasan buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara invitro. Penelitian dilakukan dengan metoda eksperimental laboratorium dengan desain postest only control group design yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.Hasil penelitian menunjukan bahwa air perasan buah jeruk nipis memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan berbagai konsentrasi yaitu 25%, 50%, 75%, dan 100% dan terdapat pengaruh lama kontak terhadap pertumbuhan bakteri dimana bakteri tidak tumbuh seteleh kontak 5 menit pertama dan diikuti menit-menit berikutnya dengan air perasan buah jeruk nipis konsentrasi 100%. Jadi, semakin tinggi konsentrasi air perasan buah jeruk nipis dan semakin lama kontak dengan bakteri Staphylococcus aureus maka daya hambatnya semakin baik.Kata kunci: Uji Daya Hambat, Air Perasan Buah Jeruk Nipis, Staphylococcus aureus.Abstract Lime (Citrus aurantifolia S.) is kind of family’s herbal medicine, most using in the community is widely used as a traditional herb. The most common used part is the lime fruit squeeze with one of the function is used for removing acne and wound healing to prevent the form of abscess. Pimples and abscesses of the wound is one of the infections caused by the bacterium Staphylococcus aureus.The purpose of this study was to determine the inhibition of lime fruit (Citrus aurantifolia S.) squeeze towards the growth of the bacteria Staphylococcus aureus in vitro condition. The study was conducted with laboratory experimental methods to the design of control group design postest only performed at the Laboratory of Microbiology Faculty of Medicine, University of Andalas.The results showed that the lime fruit (Citrus aurantifolia S.) squeeze has the ability to inhibite the bacterial growth of Staphylococcus aureus with various concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100% and there is the effect of contact time on the growth of bacteria which the bacteria do not grow after contact the first 5 minutes and the next minute followed by lime fruit squeeze with 100% concentration lime fruit squeeze. Thus, the higher the concentration of lime fruit squeeze and the longer the contact with the bacteria Staphylococcus aureus is the better towards.Keywords:Inhibition test, The Lime Fruit Squeeze, Staphylococcus Aureus.

Page 1 of 2 | Total Record : 12