cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 3 (2013)" : 17 Documents clear
Hubungan Diare dengan Status Gizi Balita di Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah Kota Padang Rosari, Alania; Rini, Eka Agustia; Masrul, Masrul
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMalnutrisi pada anak masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia. Data dari WHO pada tahun 2010 menunjukkan sebanyak 18% anak usia di bawah lima tahun di negara berkembang mengalami underweight. Keadaan kurang gizi dapat meningkatkan risiko terkena penyakit infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun. Sebaliknya, penyakit infeksi juga dapat memengaruhi status gizi karena asupan makanan menurun, malabsorpsi, dan katabolisme tubuh meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah terdapat hubungan antara diare dengan status gizi balita. Jenis penelitian ini adalah studi observasional dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu dan balita usia 12-60 bulan yang bertempat tinggal di Kelurahan Lubuk Buaya. Sampel yang diambil sebanyak 145 orang dengan metode proportionate random sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner untuk mengetahui riwayat diare dalam sebulan terakhir dan penimbangan berat badan. Data diolah dengan uji statistik chi square menggunakan program SPSS 17.0. Hasil analisis univariat menunjukkan terdapat balita berstatus gizi baik (84,1%), status gizi kurang (13,8%), dan status gizi buruk (2,1%). Terdapat 25,5% balita yang pernah mengalami diare dengan rerata durasi diare 3,0 hari. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara diare dengan status gizi (BB/U) balita di Kelurahan Lubuk Buaya (p=0,742). Penelitian ini memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara diare dengan status gizi balita di Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah Kota Padang.Kata kunci: status gizi balita, diareAbstractMalnutrition in children is still a major health problem in the world. Data from WHO in 2010 showed 18% of children under five years old in developing countries are underweight. Malnutrition may increase the risk of infectious disease because the immune system is decreased. Otherwise, infectious disease can also affect the nutritional status because of decreased food intake, malabsorption, and increased body catabolism. This study aimed to determine association between diarrhea and nutritional status of children. The study was an observational study with cross sectional design. The population is mother and children aged 12- 60 months residing in Lubuk Buaya Village. There are 145 samples taken with proportionate random sampling method. Data were collected with questionnaire to determine the history of diarrhea in the last month and weighing. The data were processed with chi square test by using SPSS 17.0 program. Results of univariate analysis showed that there are children with good nutritional status (84,1%), underweight (13,8%), and poor nutritional status (2,1%). There are 25,5% children had diarrhea with average duration of illness 3,0 days. Results of bivariate analysis showed no significant association between diarrhea and nutritional status (weight/age) of children in Lubuk Buaya Village (p = 0,742). This study showed no association between diarrhea and nutritional status of children in Lubuk Buaya Village, Koto Tangah Subdistrict, Padang City.Keywords: nutritional status of children, diarrhea
Giant Parotid Pleomorphic Adenoma Involving Parapharyngeal Space Rahman, Sukri; Budiman, Bestari J; Yurni, Yurni
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang: Pleomorfik adenoma parotis merupakan tumor jinak kelenjar liur yang paling sering ditemukan, namun pleomorfik adenoma parotis yang sangat besar sehingga melibatkan ruang parafaring (RPF) sangat jarang. Diagnosis ini sulit ditegakkan karena gejala klinisnya tidak khas. Penatalaksanaanya harus hati-hati mengingat banyak struktur vital yang beresiko mengalami trauma. Tujuan: Bagaimana menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan pleomorfik adenoma parotis yang melibatkan RPF. Kasus: Seorang pasien perempuan 27 tahun ditegakkan diagnosis pleomorfik adenoma parotis kanan dengan melibatkan RPF. Terdapat pembengkakan pada leher yang bersifat asimtomatis dan gejala pendorongan faring dan laring yang menyebabkan disfonia, disfagia, dan defisit saraf kranial IX,X,XII. Penatalaksanaan: Pasien telah dilakukan operasi parotidektomi pendekatan transervikal–transparotid dengan preservasi arteri karotis eksterna dan saraf fasialis. Kesimpulan: Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH) dan radiologi merupakan pemeriksaan yang penting untuk menegakkan diagnosis. Penatalaksanaan pleomorfik adenoma parotis yang melibatkan RPF adalah bedah ekstirpasi komplit dengan beberapa pendekatan. .Kata kunci: tumor jinak kelenjar liur, pleomorfik adenoma, ruang parafaringAbstractBackground: Parotid pleomorphic adenoma is the most common benign salivary gland tumor, while giant parotid pleomorphic adenoma involving the parapharyngeal space (PPS) is rare. It was difficult to diagnose because the clinical presentation of this tumor can be subtle. The management must be performed carefully due to anatomy relation to complex vital structure lead to traumatic injury highrisk. Purposes: How to make diagnosis and management parotid pleomorphic adenoma involving PPS. Case: A female 27 years old with diagnosis was giant parotid pleomorphic adenoma involving PPS. There was asymptomatic swelling of the neck and presence of pushing the pharynx and larynx medially causes dysphonia, dysphagia, and IX,X,XII cranial nerves deficit. Management: The patient has been performed parotidectomy with transcervical-transparotid approaches by preservation of the external carotid artery and facial nerve. Conclusion: Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) and imaging are essential for diagnostic. The management of parotid pleomorphic adenoma involving PPS is surgical complete extirpation with various approaches.Keywords:benign salivary gland tumor, pleomorphic adenoma, parapharyngeal space
Gambaran Jumlah Eosinofil Darah Tepi Penderita Asma Bronkial di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang Manurung, Demas Nico M; Nasrul, Ellyza; Medison, Irvan
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAsma merupakan penyakit gangguan inflamasi kronis saluran pernapasan dengan banyak sel serta elemen seluler yang berperan. Asma dihubungkan dengan hiperresponsif bronkus, keterbatasan aliran udara dan gejala pernapasan yang bersifat reversibel. Salah satu sel yang diketahui berperan besar dalam patogenesis asma adalah eosinofil. Eosinofil melepaskan berbagai mediator seperti Major Basic Protein, Eosinophil Cationic Protein, peroksidase eosinofil, leukotrien C4, serta Platelet-Activating Faktor yang akan merusak epitel saluran napas serta menyebabkan peradangan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Desember 2012 di Bagian Rekam Medik RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan tujuan untuk melihat gambaran jumlah eosinofil darah tepi pada penderita asma bronkial yang dirawat inap. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dengan tinjauan retrospektif. Penelitian dilakukan dengan melihat data rekam medis penderita asma bronkial yang dirawat inap di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2010-Desember 2012. Dalam periode dua tahun tersebut, diperoleh 18 sampel yang digunakan pada penelitian ini. Hasil yang diperoleh ialah 4 penderita memiliki jumlah eosinofil darah tepi normal (40-400/mm3) (22,22%) dan 14 penderita memiliki jumlah eosinofil darah tepi dibawah normal (<40/mm3) (77,78%). Tidak ditemukan penderita asma dengan eosinofilia (>400/mm3). Jumlah eosinofil darah tepi pada penderita asma bronkial lebih banyak dibawah normal.Kata kunci: Asma Bronkial, EosinofilAbstractAsthma is a chronic inflammatory disorder of the airways in which many cells and cellular elements play a role. Asthma is associated with hyperresponsif bronchi, airflow limitation, and respiratory symptomps that are reversible. One of cells which is known to play a major role in asthma pathogenesis is eosinophil. Eosinophil release a variety of mediators such as Major Basic Protein, Eosinophil Cationic Protein, Eosinophil Peroxidase, Leukotriene C4, and Platelet Activating Factor that will damage airway epithelium and cause inflammation. The research was conducted in January 2012 through December 2012 at Medical Records Department of RSUP Dr. M. Djamil Padang aiming to see the overview of peripheral blood eosinophil number in patient with bronchial asthma who are hospitalized. The research conducted is using descriptive retrospective review. The study is done by looking medical record data of bronchial asthma patient hospitalized in pulmonary ward of RSUP Dr. M. Djamil Padang in the period of January 2010-December 2012. In the two year period, there are 18 patients which are used in the study. The results are 4 patients had normal peripheral blood eosinophil number (40-400/mm3)(22,22%), 14 patients had low peripheral blood eosinophil number (<40/mm3)(77,78%). There is no patient with eosinophilia (>400/mm3). Peripheral blood eosinophil number in bronchial asthma patient is mostly low.Keywords: Bronchial Asthma, Eosinophil
Perbedaan Asupan Natrium Dan Kalium Pada Penderita Hipertensi Dan Normotensi Masyarakat Etnik Minangkabau di Kota Padang Jannah, Mifthahul; Sulastri, Delmi; Lestari, Yuniar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakHipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Penyakit ini disebut juga the silent killer karena tidak menunjukkan gejala. Salah satu faktor penyebab hipertensi adalah tingginya asupan natrium dan rendahnya asupan kalium. Rasio Na:K yang dianjurkan adalah 1:1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan asupan natrium dan kalium pada penderita hipertensi dan normotensi masyararakat Etnik Minangkabau di Kota Padang. Desain penelitian study comparative dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah masyarakat etnik Minangkabau usia 35-65 tahun di 4 kecamatan terpilih di Kota Padang. Jumlah sampel sebanyak 254 orang yang diambil secara multi stage random sampling. Data responden dikumpulkan dengan kuisioner, tekanan darah dengan sphygmomanometer, asupan natrium dan kalium dengan food frequency questionnaire (FFQ). Data dianalisis dengan uji Chi-Square pada p-value< 0,05 dan uji beda rata-rata dengan metode Independent sample t-test. Hasil penelitian didapatkan rerata sistolik pada normotensi 118,87 mmHg dan diastolik pada normotensi 76,74 mmHg. Rerata sistolik pada hipertensi 154,50 mmHg dan diastolik pada hipertensi 90,59 mmHg. Tidak ditemukan adanya hubungan antara asupan natrium, asupan kalium dan rasio asupan Na:K dengan tekanan darah. Kesimpulan penelitian ini ialah tidak ada hubungan antara asupan natrium, asupan kalium dan rasio asupan Na:K dengan tekanan darah.Kata kunci: natrium, kalium, rasio Na:K, tekanan darah, normotensi, hipertensiAbstractHypertension is the blood pressure escalation of systolic ≥140 mmHg or diastolic ≥90 mmHg. This is also called the silent killer because it does not show any symptoms. One of the factors causes hypertension is high sodium and low potassium intakes. The ratio of Na:K that is suggested is 1:1. The objective of this study is to know the differences sodium and potassium intake in patients hypertension and normotension on Minangkabau Ethnic society in Padang. The design of this research was comparative study with the cross sectional approach. The population were taken from Minangkabau ethnic age 35-65 years old in four selected districts in Padang. The total sample of 254 people were taken by multi-stage random sampling. The data were collected by questionnaire of respondents, sphygmomanometer blood pressure, sodium and potassium intakes with a Food Frequency Questionnaire (FFQ). The data was analyzed by Chi-Square test at p-value <0.05 and an average of different test methods Independent sample t-test. The result showed that average systolic of normotensive was 118.87 mmHg and diastolic of normotensive was 76.74 mmHg. The average sistolic of hypertension was 154.50 mmHg and diastolic of hypertension was 90.59 mmHg. The conclusion of this study is that there is no significant correlation between the sodium intake, potassium intake and the ratio of Na: K with the blood pressure.Keywords: sodium, potassium, ratio of Na:K, blood pressure, normotension, hypertension
Hubungan Komunikasi Dokter–Pasien Terhadap Kepuasan Pasien Berobat Di Poliklinik RSUP DR. M. Djamil Padang Wahyuni, Tiara; Yanis, Amel; Erly, Erly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKomunikasi dokter – pasien adalah suatu hal yang sangat penting dalam proses terapeutik di rumah sakit. Kualitas komunikasi yang terjadi diantara kedua belah pihak akan menghasilkan kepuasan di dalam diri pasien karena pasien akan merasa puas dan kembali lagi ke dokter yang sama jika komunikasi mereka baik dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi dokter – pasien dengan kepuasan pasien berobat di poliklinik RSUP dr. M. Djamil Padang. Desain penelitian adalah Cross Sectional dengan teknik pengambilan subjek yaitu proportionate stratified random sampling dengan jumlah 107 orang. Data diolah dan dianalisis menggunakan program komputer SPSS 17 dengan uji statistik chi-square. Hasil analisis univariat menunjukkan komunikasi dokter – pasien cukup baik yaitu 46,7% dan tingkat kepuasan pasien yaitu 86,9%. Hasil analisis bivariat secara umum menunjukkan ada hubungan bermakna antara komunikasi dokter – pasien terhadap kepuasan pasien. Kesimpulan dari hasil penelitian ini ialah terdapat hubungan yang bermakna antara komunikasi dokter – pasien terhadap kepuasan pasien berobat di poliklinik RSUP dr. M. Djamil Padang.Kata kunci: komunikasi, kepuasanAbstractCommunications doctor - patient is a very important thing in the therapeutic process in a hospital. Quality of the communication between two parties will result in the patient satisfaction because patients will feel satisfied and come back to the same doctor if they are good and effective communication. This study aimed to determine the relationship of doctor communication - patient to patient satisfaction for treatment in the policlinic Dr M. Djamil Padang. The design of study was cross-sectional sampling technique that is proportionate stratified random sampling with a total sample of 107 people. Data were processed and analyzed using the computer program SPSS 17 with chi-square test. The results of univariate analysis showed doctor communication quite enough that patients and 46.7% patient satisfaction rate is 86.9%. The results of the bivariate analyzes in general showed significant relationship between doctor communication - patient to patient satisfaction in the RSUP dr. M Djamil Padang.Keywords: communication, satisfication
Gambaran Laboratorium Leukemia Kronik di Bagian Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang Rendra, Muthia; Yaswir, Rismawati; Hanif, Akmal M
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLeukemia merupakan penyakit keganasan sel darah yang berasal dari sumsum tulang ditandai oleh proliferasi sel-sel darah putih, dengan manifestasi adanya sel-sel abnormal dalam darah tepi. Pada tahun 2006, leukemia berada pada urutan ke-5 dari keseluruhan penderita kanker di Indonesia. Leukemia kronik merupakan leukemia yang paling sering terjadi pada dewasa dan lanjut usia. Secara umum leukemia kronik diklasifikasikan atas Leukemia Granulositik Kronik (LGK) dan Leukemia Limfositik Kronik (LLK). Leukemia kronik yang perjalanannya lambat dan diiringi oleh gejala yang tidak khas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran laboratorium leukemia kronik di bagian Peyakit Dalam RSUP DR. M. Djamil Padang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif retrospektif. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Instalasi Rekam Medik RSUP Dr. M. Djamil Padang berupa data pasien leukemia kronik yang dirawat di Bagian Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang sejak 1 Januari 2010 – 31 Desember 2012. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 16 kasus leukemia granulositik kronik terdapat 37,5% pasien mengalami anemia sedang, 100% leukositosis, jumlah trombosit dapat menurun, normal, dan meningkat dengan presentase masing-masing 25%, 25%, dan 50%. Gambaran eritrosit sebagian besar normositik anisositosis. Separuh pemeriksaan darah tepi menunjukkan peningkatan persentasi mielosit, 31,25% menunjukkan peningkatan persentasi metamielosit dan eosinofil, serta sebagian besar menunjukkan presentasi blast. Sedangkan gambaran sumsum tulang hiperseluler, penekanan eritropoetik, mielopoetik hiperaktif, dan trombopoetik dalam batas normal. Leukemia limfositik kronik yang terdiri dari 1 kasus menunjukkan gambaran laboratorium berupa anemia sedang, leukositosis, trombositopenia, gambaran eritrosit nomokrom anisositosis, peningkatan jumlah leukosit, peningkatan jumlah limfosit, presentasi smudge cell, dan ditemukan presentasi blast pada darah tepi, tetapi selularitas tidak dapat dinilai.Kata kunci: leukemia kronik, darah tepi, BMPAbstractLeukemia is a malignant disease of blood cells derived from the bone marrow characterized by the proliferation of white blood cells, with the manifestation of the abnormal cells in the peripheral blood. In 2006, leukemia was ranked 5th of all cancer patients in Indonesia. Chronic leukemia is the most common leukemia in adult and the elderly. In general, chronic leukemia classified on chronic myelocytic leukemia (CML) and chronic lymphocytic leukemia (CLL). The onset of chronic leukemia is insidious and accompanied by symptoms that are not typical, this research aims to describe the laboratory findings of chronic leukemia patients treated at Internal Medicine Department of Dr. M. Djamil Hospital Padang.This research is a retrospective descriptive research. The instruments used in this research are the secondary data derived from the Medical Record Departement Dr. M. Djamil Hospital Padang in the form of leukemia chronic patients’ data who were treated in Internal Medicine Department of Dr. M. Djamil Hospital Padang since January 1st 2010 – December 31st 2012. The results of this research showed that of 16 cases of chronic myelocytic leukemia contained 37.5% of the patients had moderate anemia, leukocytosis 100%, platelet count can be decreased, normal, and increased the percentage of each 25%, 25%, and 50%. The morphology of erythrocytes mostly normocytic anisocytosis. Half of peripheral blood examination showed an increase in the percentage of myelocyte, 31.25% showed an increase in the percentage metamyelocyte and eosinophils, as well as most of the shows presentation blast. The bone marrow are hypercellular, compressing erythropoietic, myelopoietic hyperactivity and thrombopoietic mostly normal in number. Chronic lymphocytic leukemia consisting of 1 case shows the laboratory findings are moderate anemia, leukocytosis, thrombocytopenia, the morphology of erythrocyte is normochromic anisocytosis, leukocytes increase in number, increase in the number of lymphocytes, presentations smudge cells, and blast presentation is found in the peripheral blood, but the cellularity not be assessed.Keywords: chronic leukemia, peripheral blood, BMP
Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Unmet Need KB Pasca-Salin IUD post-placenta di Kamar Rawat Pasca-bersalin RSUP DR. M. Djamil periode Januari-Maret 2013 Utami, Sari Handayani; Desmiwati2, Desmiwati; Endrinaldi, Endrinaldi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakWanita pada periode post-partum memiliki angka unmet need terhadap kontrasepsi, padahal ini waktu yang tepat untuk mulai memakai kontrasepsi. Salah satu kontrasepsi pasca-salin terkini yang mulai disosialisasikan adalah IUD post-placenta. Namun demikian, masih belum banyak wanita pasangan usia subur yang menggunakan alat kontrasepsi ini bahkan mengetahuinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan unmet need KB pasca-salin IUD post-placenta. Jenis penelitian survey dengan desain cross sectional study. Waktu pengambilan data dari 12 Januari sampai dengan 12 Maret 2013. Sampel adalah wanita pasangan usia subur yang melahirkan pervaginam dan dipilih secara accidental sampling. Penelitian dilakukan pada 88 orang responden dengan 50 orang bukan akseptor KB IUD post-placenta dan 38 orang akseptor KB IUD Post-placenta. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner melalui wawancara terpimpin. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan unmet need IUD post-placenta adalah faktor pengetahuan (p value = 0,001), sedangkan faktor lain yang tidak memiliki hubungan signifikan adalah faktor pendidikan (p value = 0,222), faktor status ekonomi (p value = 1,000), dan faktor konseling KB (p value = 0,583).Kata kunci: faktor yang berhubungan, unmet need, KB pasca-salin, IUD post-placentaAbstractThe women in post-partum period have unmet need rate to contraception, whereas it’s approriate time to start using contraception. One of recent post-partum contraception method is IUD post-placenta. But, only a few women of fertile age couple use this contraception even has known it. The purpose of this study was to determine the factors associated to unmet need of post-partum contraception IUD post-placenta. This survey study with cross sectional design study. The data was collected from January 12 until March 12 2013. The subject were women of fertile age couple who give birth per vaginam and selected by accidental sampling. This study had 88 respondents consists of 50 as not IUD Post-placenta acceptors and 38 respondents as IUD post-placenta acceptors. The data collected by using questionnaire through guided interview and analyzed through univariate and bivariate.The result of analysis showed that the factor had significant relation to unmet need of IUD post-placenta is knowledge (p value = 0,001), while another factors did not have significant relation are education level (p value = 0,222), economic level (p value=1,000), and family planning counselling (p value=0,583).Keywords:the relating factors, unmet need, post-partum contraception, IUDpost-placenta
Gambaran Tekanan Darah Tikus Wistar Jantan dan Betina Setelah Pemberian Diet Tinggi Garam Lailani, Mutia; Edward, Zulkarnain; Herman, Rahmatina B
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakHipertensi masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Penyebabnya diduga berkaitan dengan diet tinggi garam. Tujuan Penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran tekanan darah tikus Wistar setelah pemberian diet tinggigaram. Penelitian ini adalah eksperimental dengan post-test only control group design. Subjek penelitian terdiri dari 10 ekor tikus Wistar jantan dan 10 ekor betina yang dibagi menjadi kelompok kontrol (K) dan kelompok perlakuan (P). Diet tinggi garam (NaCl8%, 3ml/hari) diberikan pada kelompok P selama empat minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tekanan darah yang bermakna pada kelompok P bila dibandingkan dengan kelompok K, yaitu tekanan darah sistolik (TDS) 191±17mmHg (P) dan 168±16mmHg (K) (p<0,05), tekanan darah diastolik (TDD) 162±17mmHg (P) dan 139±13mmHg (K) (p<0,05), tekanan arteri rata-rata (TAR) 176±17mmHg (P) dan 156±15mmHg (K) (p<0,05). Peningkatan TDS dan TDD hanya terjadi pada tikus jantan, tidak pada tikus betina. Pada tikus jantan TDS 185±13mmHg (P) dan 159±9mmHg (K) (p<0,05), TDD 159±18mmHg (P) dan 131±10mmHg (K) (p<0,05), TAR 172±16mmHg (P) dan 150±15mmHg (K) (p>0,05). Pada tikus betina TDS 197±19mmHg (P) dan 178±16mmHg (K) (p>0,05), TDD 165±18mmHg (P) dan 148±11mmHg (K) (p>0,05), TAR 181±18mmHg (P) dan 162±14mmHg (K) (p>0,05). Kesimpulan studi ini adalah peningkatan tekanan darah setelah pemberian diet tinggi garam hanya terjadi pada tikus jantan.Kata kunci: diet tinggi garam, tekanan darah, hipertensiAbstractHypertension remains a health problem in the world. The cause is believed to be related to the high-salt diet. The purpose of this studi was to describe the blood pressure of Wistar rats after administration of high-salt diet. This research was experimental with post-test only control group design. Ten male and ten female Wistar rats were divided into two groups: control group(K) and treated group(P). High-salt diet (8%NaCl, 3ml/day) was given to the P group for four weeks. Blood pressure increased significantly in group P compared to group K, systolic blood pressure (SBP) 191±17mmHg (P) and 168±16mmHg (K) in (p<0.05), diastolic blood pressure (DBP) 162±17mmHg (P) and 139±13mmHg (K) in (p<0.05), mean arterial pressure (MAP) 176±17mmHg (P) and 156±15mmHg (K) in (p<0.05). The increase in SBP and DBP only occurred in male rats, not in female rats. In male rats, SBP were 185±13mmHg (P) and 159±9mmHg (K) in (p<0.05), DBP were 159±18mmHg (P) and 131±10mmHg (K) in (p<0.05), MAP were 172±16mmHg (P) and 150±15mmHg (K) in (p>0.05). In female rats, SBP were197±19mmHg (P) and 178±16mmHg (K) in (p>0.05), DBP were 165±18mmHg (P) and 148±11mmHg (K) in (p>0.05), MAP were 181±18mmHg (P) and 162±14mmHg (K) in (p>0.05). The conclusion of this study is an increase of blood pressure after the administration of high-salt diet only occured in male rats.Keywords: high-salt diet, blood pressure, hypertension
Hubungan Derajat Merokok Dengan Derajat Eksaserbasi Asma Pada Pasien Asma Perokok Aktif di Bangsal Paru RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2007 - 2010 Putra, Syandrez Prima; Khairsyaf, Oea; Julizar, Julizar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPrevalensi asma dan perokok aktif di Indonesia semakin meningkat. Penyakit asma dapat menurunkan kualitas hidup dan menimbulkan kematian terutama pada perokok aktif jika eksaserbasi asma berat terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan antara derajat merokok dengan derajat eksaserbasi asma pada pasien asma perokok aktif. Penelitian analitik telah dilakukan dengan menggunakan data deskriptif di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang pada bulan Desember 2011 sampai Januari 2013. Data yang dikumpulkan berasal dari catatan rekam medik pasien asma di Bangsal Paru sejumlah 228 orang. Sampel ditetapkan dengan menggunakan teknik total sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak lima puluh orang. Untuk melihat hubungan antara derajat merokok dengan derajat eksaserbasi asma digunakan uji korelasi Spearman. Hasil Penelitian menunjukkan 51 dari 228 dari pasien asma (22,4%) adalah perokok aktif. Secara umum pasien memiliki derajat merokok sedang (41,18%) dan derajat eksaserbasi asma sedang (78,43%). Berdasarkan analisis statistik didapatkan nilai p = 0,275 (p&lt;0,05) yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara derajat merokok dengan derajat eksaserbasi asma.Kata kunci: merokok, eksaserbasi, asmaAbstractPrevalence of asthma and active smokers in Indonesia has increased. Asthma can reduce quality of life and lead to death especially in active smokers if the severe asthma exacerbation occur. This study aims to look at how the correlation between the degree of smoking by the degree of asthma exacerbation in active smoker patients with asthma. Analytic studies have been conducted using the descriptive data in Pulmonary Ward of RSUP Dr. M. Djamil Padang in December 2011 to January 2013. Data collected from the medical records of patients with asthma history in Pulmonary Ward for 228 people. The samples were appointed by using total sampling technique, so obtained the samples about fifty people. Spearman correlation test was used to examine the relationship between the degree of smoking by the degree of asthma exacerbation. The results of this study showed 51 of 228 of the patients with asthma (22.4%) were active smokers. In general, patients had a moderate degree of smoking (41.18%) and moderate degree of asthma exacerbations (78.43%). The statistical analysis was obtained p-value = 0.275 (p&lt;0,05) which means there is no significant correlation between the degree of smoking by the degree of asthma exacerbation.Keywords: smoking, exacerbation, asthma
Memahami Patofisiologi dan Aspek Klinis Syok Hipovolemik: Update dan Penyegar Hardisman, Hardisman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSecara patofisiologis syok merupakan gangguan hemodinamik yang menyebabkan tidak adekuatnya hantaran oksigen dan perfusi jaringan. Gangguan hemodinamik tersebut dapat berupa penurunan tahanan vaskuler sitemik terutama di arteri, berkurangnya darah balik, penurunan pengisian ventrikel dan sangat kecilnya curah jantung. Gangguan faktor-faktor tersebut disbabkan oleh bermacam-macam proses baik primer pada sistim kardiovaskuler, neurologis ataupun imunologis. Diantara berbagai penyebab syok tersebut, penurunan hebat volume plasma intravaskuler merupakan faktor penyebab utama. Terjadinya penurunan hebat volume intravaskuler dapat terjadi akibat perdarahan atau dehidrasi berat, sehingga menyebabkan yang balik ke jantung berkurang dan curah jantungpun menurun. Penurunan hebat curah jantung menyebabkan hantaran oksigen dan perfusi jaringan tidak optimal dan akhirnya menyebabkan syok. Pada tahap awal dengan perdarahan kurang dari 10%, gejala klinis dapat belum terlihat karena adanya mekanisme kompensasi sisitim kardiovaskuler dan saraf otonom. Baru pada kehilangan darah mulai 15% gejala dan tanda klinis mulai terlihat berupa peningkatan frekuensi nafas, jantung atau nadi (takikardi), pengisian nadi yang lemah, penurunan tekanan nadi, kulit pucat dan dingin, pengisian kapiler yang lambat dan produksi urin berkurang. Perubahan tekanan darah sistolik lebih lambat terjadi akibat adanya mekanisme kompensasi tadi, sehingga pemeriksaan klinis yang seksama harus dilakukan.Kata kunci: syok, hipovolemik dan patofisiologiAbstractShock is hemodynamic disorders, which causes inadequate oxygen delivery and perfusion. The hemodynamic disorders can be decreasing of systemic vascular resistant, venous return, ventricular filling and inadequate of cardiac output. The disorders are caused by cardiovascular dysfunction, neurologic or immunologic factors. Intravascular volume loss is one of the main factors, which is caused by severe dehydration or bleeding. These conditions lead to decreasing of venous return and cardiac output that cause inadequate oxygen delivery and perfusion. The homeostatic defence mechanism can compensate the cardiovascular function with the blood loss up to 10%. The clinical symptoms appears when the blood loss 15%, such as tachypnoea, tachycardia, weak of pulse, decreasing of mean arterial pressure, skin pale and cold, decreasing refilling capillary and urine production. Due to the compensation mechanism, alteration of systolic blood pressure is relatively late; therefore, thorough and complete clinical assessment is necessary.Keywords: shock, hypovolemic and pathophysiology

Page 1 of 2 | Total Record : 17