cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 17 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 1 (2014)" : 17 Documents clear
Pengaruh Lamanya Pemberian Citicoline dalam Memperbaiki Retinal Nerve Fiber Layer (Rnfl) dan Lapang Pandangan pada Primary Open Angle Glaucoma (Poag) Sayuti, Kemala; Harmen, Harmen; Hondrizal, Hondrizal
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk menilai pengaruh lamanya pemberian citicoline dalam memperbaiki kualitas RNFL dan lapang pandangan pada POAG. Penelitian ini dilakukan pada pasien POAG yang datang dari bulan September 2010 – Januari 2011 dengan tehnik consecutive sampling. Semua subjek penelitian yang sudah diskrining dilakukan pemeriksaan OCT dan perimetri segera sebelum pemberian citicoline, pemeriksaan ulangan dilakukan setelah 10 hari pertama, 10 hari kedua, dan 10 hari ketiga pemberian citicoline. Dari penelitian ini didapatkan perbaikan ketebalan RNFL dengan pemeriksaan OCT lebih banyak terjadi pada pemberian citicoline selama 10 hari III (45.7%) dibandingkan dengan pemberian 10 hari I (25,7%) dan 10 hari II (42,9%). Perbaikan mean sensitivity lapang pandangan dengan pemeriksaan perimetri lebih banyak terjadi pada pemberian citicoline selama 10 hari III (51,4%) dibandingkan dengan pemberian 10 hari I (32.4%) dan 10 hari II (37.2%). Lama pemberian citicoline sangat berpengaruh meningkatkan ketebalan RNFL dengan pemeriksaan OCT dan mean sensitivity lapang pandangan dengan pemeriksaan perimetri pada pasien POAG dan bermakna secara statistik dengan p=0.000 dan p=0.001Kata kunci: Primary Open Angle Glaucoma, Retinal Nerve Fiber Layer, CiticolineAbstractThe objective of this study was to assessing the influence of duration of citicoline administration in improve the quality of RNFL and visual field in POAG. The study was conducted in patients with POAG who take place in September 2010 - January 2011 with consecutive sampling technique. After screening examination, subjects underwent OCT examination and early perimetry after the administration of citicoline, re-examination were in first 10 days, second 10 days, and third 10 days. RNFL thickness by OCT examination were much more going in citicoline administered for the third 10 days (45.7%) compared with the provision of first 10 days (25.7%) and second 10 day (42.9%). Mean sensitivity improvements with visual field perimetry examination occurs more frequently in the administration of citicoline for the third 10 days (51.4%), compared with 10 days of first administration (32.4%) and second 10 days (37.2%). Length of citicoline administration is influencing of RNFL thickness in OCT examination and improvement of the mean sensitivity of perimetry examination in patients with POAG and statistically significant, each with p = 0.000 and p = 0.001.Keywords: Primary Open Angle Glaucoma, Retinal Nerve Fiber Layer, Citicoline
Hubungan Kadar FT4 dan TSH Serum dengan Profil Lipid Darah pada Pasien Hipertiroid yang Dirawat Inap di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2009 - 2013 Pratama, Aga; Yerizel, Eti; Afriant, Rudy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakHipertiroid merupakan sindroma klinis yang terjadi bila jaringan terpajan dengan jumlah hormon tiroid yang berlebihan karena hiperaktivitas kelenjar tiroid. Hal tersebut akan memberikan efek spesifik terhadap metabolisme sel, termasuk metabolisme lipid. Perubahan metabolisme lipid pada hipertiroid akan menimbulkan manifestasi klinis seperti gangguan mood, peningkatan perilaku depresi, dan peningkatan perilaku agresif. Dalam diagnosis pasien hipertiroid, pemeriksaan kadar FT4 dan TSH serum menjadi tes fungsi tiroid yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan antara kadar FT4 dan TSH serum dengan profil lipid darah pada pasien hipertiroid. Penelitian ini menggunakan data deskriptif di Instalasi Rekam Medis RSUP dr. M. Djamil Padang pada bulan Februari 2013 sampai Juli 2013. Data yang dikumpulkan berasal dari catatan rekam medik pasien hipertiroid yang dirawat inap berjumlah 21 orang dengan teknik total sampling. Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara kadar FT4 dan TSH serum dengan profil lipid darah. Dari sampel yang ada diperoleh data rerata profil lipid, yakni: 143,33 mg/dl (kolesterol darah total); 42,06 mg/dl (HDL); 85,45 mg/dl (LDL); dan 77,19 mg/dl (trigliserida). Berdasarkan uji korelasi regresi, terdapat korelasi negatif antara kadar FT4 dengan kadar kolesterol darah total, HDL, dan LDL, tetapi tidak terdapat korelasi antara kadar FT4 dengan trigliserida. Hubungan antara kadar TSH serum dengan kolesterol darah total dan LDL mempunyai korelasi positif, tetapi tidak terdapat korelasi antara kadar TSH serum dengan HDL dan trigliserida. Penelitian ini memperlihatkan bahwa sebagian besar profil lipid darah mempunyai korelasi dengan kadar FT4 dan TSH serum, kecuali trigliserida.Kata kunci: kadar FT4 dan TSH serum, profil lipid darah, hipertiroidAbstractHyperthyroidism is a clinical syndrome that occurs when tissues are exposed by excessive amount of thyroid hormones due to thyroid gland hiperactivity. It has spesific effects on cell metabolism, including lipid metabolism.L ipid metabolism disorder in hyperthyroid will inflict clinical manifestation; such as mood disorders, depression, and increased aggressive behavior. In diagnose patient with hyperthyrodism, FT4 and TSH serum level test are the appropriate thyroid function test. The objective of this study was to determine relationship between FT4 and TSH serum level with blood lipid profile in patient with hyperthyrodism. This studies got the descriptive data in Medical Records Departement of RSUP dr. M. Djamil Padang from February 2013 to July 2013. Data of 21 hyperthyrodism patient were got with total sampling technique. Bivariat analysis is used to examine the relationship between FT4 and TSH serum level with blood lipid profile. From the sampel was obtained data of profile lipid average, that is 143,33 mg/dl (total cholesterol); 42,06 mg/dl (HDL); 85,45 mg/dl (LDL); dan 77,19 mg/dl (triglycerides). Based on the regression test, there was negative correlation between FT4 level with total cholesterol, HDL, and LDL, but, there wasn’t correlation between FT4 level with triglycerides. The relationship between TSH serum level with total cholesterol and LDL had positive correlation. But, there isn’t evidence of correlation between TSH serum level with HDL and triglycerides. This study shows that the most of blood lipid profile has correlation with FT4 and TSH serum level, except triglycerides.Keywords: FT4 and TSH serum level, blood lipid profile, hyperthyrodism
Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi Esensial di Poliklinik Ginjal Hipertensi RSUP DR. M. Djamil Tahun 2011 Fitrianto, Heri; Azmi, Syaiful; Kadri, Husnil
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenyakit hipertensi tidak dapat disembuhkan dan berkaitan erat dengan penurunan usia harapan hidup. Penderita hipertensi juga sering kali disertai oleh penyakit penyerta. Umumnya, golongan obat antihipertensi yang dikenal yaitu, diuretik, ACE Inhibitor, Angiotensin Reseptor Bloker, Canal Calcium Blocker, and Beta Blocker. Terapi yang diberikan pada penderita hipertensi tanpa penyakit penyerta dan dengan penyakit penyerta tentunya berbeda. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui penggunaan obat antihipertensi antara pasien hipertensi esensial dengan penyakit penyerta dan yang tidak disertai dengan penyakit penyerta di poliklinik RSUD Dr. M. Djamil, Padang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan mengambil data dari rekam medik. Data dari 380 pasien yang dikumpulkan selama periode Januari 2011 sampai dengan Desember 2011. Jumlah subjek ditentukan dengan teknik total sampling. Dari data penelitian didapatkan bahwa 277 pasien hipertensi tanpa penyakit penyerta dan sebanyak 103 pasien hipertensi dengan penyakit penyerta. Komposisi dari 103 pasien hipertensi dengan penyakit penyerta yaitu 63 pasien dengan diabetes melitus, 13 pasien dengan PJK, 13 pasien dengan stroke, 7 pasien dengan gagal jantung, 4 pasien dengan pasca infark miokard, 3 pasien dengan gagal ginjal kronik. Berdasarkan data penelitian didapatkan penggunaan obat antihipertensi yang sering digunakan yaitu Hidroklortiazid (35,5%), Captopril (26,2%), Valsartan (20,6%), Amlodipin (15,2%), dan obat antihipertensi lain (2,5%). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa hipertensi dengan penyakit penyerta terbanyak adalah diabetes melitus dan penggunaan obat terbanyak berasal dari golongan diuretik yaitu penggunaan Hidroklortiazid.Kata kunci: obat antihipertensi, hipertensi, diuretikAbstractHypertension can not be cured and is closely related to a decrease in life expectancy. Patients with hypertension are also often accompanied by complience indication. Generally, antihypertensive drug classes are known, namely, diuretic, ACE Inhibitor, Angiotensin Reseptor Bloker, Canal Calcium Blocker, and Beta Blocker. Therapy which given to patients with or without complience indications is certainly different. The objective of this study was to determine the usage of anti-hypertension medicine in essential hypertension patients with or without complience indications in policlinic of General Hospital Dr. M. Djamil Padang. This was a descriptive study which the data were taken from medical record. The 380 patient’s data in period January 2011 – December 2011. The number of subjects was determined by the total sampling. The data showed 277 hypertension patients without complience indications and 103 hypertension patients with complience indications. Compositions of 103 hypertension patients with complience indications are 63 patients with diabetes mellitus, 13 patients with PJK, 13 patients with stroke, 7 patients with heart failure, 4 patients with post-infarct myocardium, and 3 patients with chronic kidney failure. Concerning the usage of anti-hypertension medicines which were frequently i.e. Hidroclortiazid (35,5%), Captopril (26,2%), Valsartan (20,6%), Amilodipin (15,2%), and other anti-hypertension drugs (2,5%). Based on the results of this study are concluded that complience indications suffered by most hypertension patients is diabetes mellitus and the usage of medicine by most patients is from diuretic which is Hidroclortiazid.Keywords: antihypertension drugs, hypertension, diuretics
Perbandingan Levofloxacin dengan Ciprofloxacin Peroral dalam Menurunkan Leukosituria Sebagai Profilaksis Isk pada Kateterisasi di RSUP. Dr. M. Djamil Padang Sofyan, Marwazi; Alvarino, Alvarino; Erkadius, Erkadius
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakInfeksi saluran kemih (ISK) adalah keadaan ketika kuman tumbuh dan berkembang biak di dalam saluran kemih dalam jumlah yang bermakna. Diagnosis ISK ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis bakteriuria dan leukosituria. ISK pasca kateterisasi merupakan penyebab terbesar infeksi nosokomial, dengan sumber kuman bisa dari penyebaran ascending (seperti penggunaan kateter), hematogen maupun limfogen. Antibiotik profilaksis perlu diberikan untuk mencegah infeksi, mengingat tingginya kemungkinan ISK pasca kateterisasi. Flouroquinolon saat ini masih direkomendasikan untuk profilaksis ISK, namun akhir-akhir ini banyak laporan tentang resistensi terhadap golongan ini, terutama ciprofloxacin. Ciprofloxacin adalah golongan fluoroquinolon generasi kedua sedangkan Levofloxacin merupakan generasi ketiga. Di RSUP DR M Djamil, khususnya di SMF Urologi belum ada data mengenai perbandingan keefektifan levofloxacin dan ciprofloxacin ini terhadap profilaksis ISK. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian keefektifan levofloxacin dibandingkan dengan ciprofloxacin dalam menurunkan insiden leukosituria sebagai profilaksis ISK pada pasien yang dipasang kateter Foley. Metode: Subjek diambil dari 30 pasien yang akan dipasang kateter Foley, yang dibagi atas dua kelompok atas 15 pasien. Setelah pemasangan dilakukan urinalisis untuk menentukan kadar leukosit <10/LPB, lalu diberi Levofoloxacin 750 mg dan Ciprofloxacin 750 mg secara oral pada masing-masing kelompok. Tiga hari kemudian dilakukan urinalisis ulang. Hasil Penelitian: Tidak didapatkan perbedaan bermakna dalam kadar lekosit urin antara kedua kelompok baik pada hari pemasangan kateter (p Fisher = 0,159) atau pun tiga hari kemudian (p fisher = 0,097). Penurunan kadar lekosit urin juga tidak bermakna antara kelompok Levofloxacin dan Ciprofloxacin (Chi-square = 1,222; P>5%). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan keefektifan antara Levofloxacin oral 750 mg dengan Ciprofloxacin oral 750 mg dalam menurunkan insiden leukosituria sebagai terapi profilaksis terhadap ISK pada pasien yang dipasang Foley catheter.Kata kunci: Levofloxacin, Ciprofloxacin, Leukosituria.AbstractUrinary tract infection (UTI) occurred when bacteria grow and multiply in the urinary tract in significant quamtities. The diagnosis of UTI is confirmed by clinical manifestations with bacteriuria and leukocyturia. Post-catheterization UTI is the biggest cause of nosocomial infection, with the bacteria spread in ascending (such as the use of catheter), haematogenous or lymphogenous fashions. Prophylactic antibiotic is needed to prevent infection because the probability of post-catheterization UTI is high. Fluoroquinolone is currently recommended for UTI prophylaxis, however, reports about resistance to it is accumulating, especially ciprofloxacin. Ciprofloxacin is the second generation fluoroquinolone, and the later addition is Levofloxacin as the third generation fluoroquinolone. At RSUP Dr. M. Djamil, notably at the Urology section, no data is available regarding the comparison of the effectiveness between the two generations. It is therefore a research on this efficacy between those antibiotics in lowering the incidence of leukocyturia as the measure to prevent UTI in patients with Foley catheter. Method: Subjects are 30 patients with Foley catheter, divided into two groups of 15 patients each. After insertion of catheter, urinalysis was performed to determine that the lecocyte count was less than 10 per high power field of the microscope, and each group then received either Ciprofloxacin or Levofloxacin, 750 mg orally. Urinalysis was repeated three days after the catheter wa inserted. Results: No significant differnce was found in urinary leucocyte count between the two groups, either on the day cathete was inserted (p Fisher = 0.159) or three days after (p Fisher 0.097). There was no significant difference on the reduction of lucocyte count among the two groups (chi-square = 1.222; P>5%). Conclusion: There was no difference in effectiveness between oraly administered 750 mg Levofloxacin and 750 mg Ciprofloxacin in lowering the incidence of leukocyturia as prophilactic measures against UTI on patients using Foley catheter.Keywords: Levofloxacin, Ciprofloxacin, Leukosituria.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Pre Eklampsi pada Kehamilan di RSUD Embung Fatimah Kota Batam Tahun 2012 Hasmawati, Dessy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPre eklampsi merupakan komplikasi kehamilan dan persalinan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, protein urin, dan oedema, kadang disertai komplikasi sampai koma. Keadaan ini akan membawa dampak buruk bagi ibu dan janin bahkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktoryang berhubungan antara ibu hamil dengan kejadian pre eklampsi di RSUD Embung Fatimah Kota Batam Tahun 2012 yang meliputi usia ibu, usia kehamilan, paritas, dan penyakit penyerta. Jenis penelitian menggunakan penelitian kuantitatif yang bersifat analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan april 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang berkunjung di RSUD Embung Patimah Kota Batam, pengambilan sampel dengan total sampling yaitu semua ibu hamil yang pre eklampsi sebanyak 173 orang dan ibu hamil yang tidak mengalami pre eklampsi sebanyak 173 orang. Data yang digunakan adalah sekunder dari register dan rekam medic dengan menggunakan cheklis kemudian dilakukan tabulasi dan dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian didapatkan dari 50% ibu hamil dengan pre eklampsi. Ada hubungan usia ibu, paritas, dan penyakit penyerta dengan kejadian pre eklampsi. Tidak ada hubungan usia kehamilan dengan kejadian pre eklampsi. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian pre eklampsi oleh karena itu perlukan adanya upaya preventif menegakan kemungkinan pre eklampsi secara dini dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas Ante Natal Care serta menghindari terjadinya eklampsi melalui pengorbanan pre eklampsi dengan intensif.Kata kunci: Pre eklampsi, kehamilan, faktor-faktorAbstractPre eclampsia is a complication of pregnancy and childbirth which is characterized by increased blood pressure, urine protein, and edema, sometimes accompanied by complications to coma. This situation will bring adverse effects to the mother and fetus and even death. This study aims to determine the factors that relate among pregnant women with pre-eclampsia incidence in Batam City Hospital Fatimah Embung 2012 that include maternal age, gestational age, parity, and comorbidities.This type of research uses quantitative analytic research with cross sectional approach. The research was conducted in April 2013. The population is pregnant women who visit the hospital Embung Patimah Batam, sampling a total sampling that all pregnant women with pre-eclampsia as many as 173 people and pregnant women who did not have pre eclampsia as many as 173 people. The data used is from the register and record the secondary medic cheklis then performed using tabulation and analyzed using univariate and bivariate.The results obtained from 50% of pregnant women with pre-eclampsia. There are corelatation maternal age, parity, and the incidence of comorbidities with pre eclampsia. No association of gestation the incidence of pre eclampsia. From this study it can be concluded that there are several factors associated with the incidence of pre-eclampsia is therefore necessary preventive measures to uphold the possibility of early pre-eclampsia by increasing the quality and quantity of Antenatal care and avoiding pre eclampsia eclampsia through the sacrifice of the intensive.Keywords: Pre eclampsia, pregnancy, factors
Perbandingan Reaksi Zat Besi Terhadap Teh Hitam dan Teh Hijau Secara In Vitro dengan Menggunakan Spektrofotometer Uv-Vis Wardiyah, Husnil; Alioes, Yustini; Pertiwi, Dian
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSalah satu permasalahan gizi yang dihadapi Indonesia adalah anemia defisiensi besi. Defesiensi besi ini dapat disebabkan oleh asupan dan serapan yang tidak adekuat, seperti kebiasaan mengonsumsi zat yang dapat menghambat penyerapan zat besi seperti minum teh pada saat makan. Hambatan penyerapan ini disebabkan oleh polifenol yang terkandung di dalam teh, terutama tanin. Penelitian ini dilakukan pada teh hitam dan teh hijau yang banyak dikonsumsi masyarakat. Larutan teh hitam dan teh hijau dijadikan sebagai kontrol, kemudian diberikan perlakuan dengan meneteskan FeCl3 1% sebanyak lima tetes. Larutan tersebut dibaca besar absorbannya dengan spektrofotometer UV-Vis. Prosedur ini dilakukan dengan pengulangan sebanyak lima kali. Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan independent sample t test untuk melihat perbedaan rata-rata pada dua kelompok sampel tersebut. Dari hasil penelitian didapatkan rata-rata besar absorban teh hitam kontrol 0,539 dan setelah diteteskan zat besi 0,30640. Absorban teh hijau kontrol 0,961 dan setelah diteteskan zat besi 0,65020. Hal ini berarti bahwa terjadi penurunan konsentrasi larutan tersebut. Penurunan absorban pada kontrol teh hitam dengan perlakuan adalah 43,15%, sedangkan pada teh hijau adalah 32,34%. Berdasarkan uji statistik, disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara absorbansi teh hitam dan teh hijau.Kata kunci: Teh hitam, teh hijau, zat besi, absorban.AbstractOne of the nutritional problems faced by Indonesia is iron deficiency anemia. It is caused by inadequate intake and absorption. One of the causes of this inadequate absorption is eating habit to consume substances that can inhibit iron absorption like drinking tea while eating. This is caused by tea polyphenol compounds, especially tannins. Black tea and green tea were observed in this research since these are widely consumed by public. Solution of black tea and green tea were used as control and they were treated by giving five drops of 1% FeCl3. Absorbance of those solutions was read by using spectrophotometer UV-Vis. This procedure was done with five times repetition. The result of this research was processed by using independent sample t test to discern mean of two groups samples. The result showed that the absorbance mean of black tea control is 0.539 and the absorbance mean of black tea that has dripped by iron is 0.30640. As for the green tea control absorbance is 0.961 and absorbance mean after iron sheds is 0.65020. It means that there is a dilution and reduction of solution concentration. Based on these figures, it was concluded that the concentration of black tea with iron sheds is smaller than the concentration of green tea with iron sheds. Nevertheless, there is a greater reduction in black tea compare with green tea in the absorbance reduction. Absorbance reduction from black tea control group to treatment group is 43.15%, while absorbance reduction from green tea control group to treatment group is 32.34%. Based on statistical tests, it was concluded that there is a significant difference between the absorbance of black tea and green tea.Keywords: Black tea, green tea, iron, absorbance.
Gangguan Fungsi Penghidu dan Pemeriksaannya Huriyati, Effy; Nelvia, Tuti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang: Fungsi penghidu pada manusia memegang peranan penting. Gangguan penghidu dapat mempengaruhi keselamatan dan kualitas hidup seseorang. Tujuan: Untuk mengetahui jenis gangguan penghidu, penyebab gangguan penghidu, dan pemeriksaannya. Tinjauan Pustaka: Gangguan penghidu dapat berupa anosmia yaitu hilangnya kemampuan penghidu, atau hiposmia yaitu berkurangnya kemampuan penghidu. Gangguan penghidu disebabkan gangguan konduksi, gangguan sensoria dan gangguan neural. Penyakit tersering penyebab gangguan penghidu yaitu rinosinusitis kronis, rinitis alergi, infeksi saluran nafas atas dan trauma kepala. Ada beberapa modalitas pemeriksaan kemosensoris fungsi penghidu diantaranya Tes “Sniffin sticks”. Dengan tes „Sniffin sticks” dapat diketahui ambang penghidu, diskriminasi penghidu dan identifikasi penghidu seseorang. Kesimpulan: Gangguan penghidu memerlukan perhatian khusus. Diantara beberapa modalitas pemeriksaan kemosensoris penghidu, tes “Sniffin sticks” mempunyai beberapa kelebihan.Kata kunci: Gangguan penghidu, anosmia, hiposmia, tes “Sniffin sticks”.AbstractBackground: Olfactory function in humans plays an important role. Olfactory disorders can affect the safety and quality of life. Objective: To determine the type of olfactory disorder, the causes of olfactory disorders, and the examination. Literature Review: Olfactory disorder can be not smell anything or anosmia, and reduced of smell or hyposmia. Olfactory disorders caused by conduction disturbances, neural disturbances and sensoris disturbances. Disease that often causes disturbances of olfactory function is, chronic rhinosinusitis, allergic rhinitis, upper respiratory tract infections and head trauma. There are several modalities to examine chemosensoris smelling function, one of them is “Sniffin sticks” test. This test can examine threshold, discrimination, and identification of smelling. Conclusions: Impaired smelling require special attention. Between some modalities to examine chemosensors smelling function, “Sniffin sticks” test has several advantages.Keywords: Olfactory disorders, anosmia, hyposmia, “Sniffin sticks” test.
Pengaruh Papain Getah Pepaya Terhadap Pembentukan Jaringan Granulasi pada Penyembuhan Luka Bakar Tikus Percobaan Fitria, Meishinta; Saputra, Deddy; Revilla, Gusti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLuka bakar merupakan masalah yang serius dalam kesehatan dunia, khususnya di negara berkembang. Di Indonesia belum ada laporan tertulis mengenai jumlah penderita luka bakar dan jumlah angka kematian yang diakibatkannya. Di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2010 ditemukan 84 kasus luka bakar dengan penyebab sengatan listrik, siraman air panas, kompor, dan minyak panas. Sejumlah studi menunjukkan bahwa tanaman tradisional potensial sebagai agen penyembuhan luka, salah satunya papain getah pepaya (Carica papaya). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembentukan jaringan granulasi pada penyembuhan luka bakar tikus percobaan. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan posttest only control group design. Subjek penelitian adalah 10 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol (K) dan kelompok perlakuan (P). Masing-masing kelompok terdiri dari lima (5) ekor tikus. Plat logam (1,5 cm x 1,5 cm) yang dipanaskan digunakan untuk menghasilkan luka bakar full thickness pada bagian dorsal tikus. Papain getah pepaya diberikan pada kelompok P selama 7 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian papain getah pepaya tidak memberikan pengaruh yang signifikan (p > 0,05) terhadap pembentukan jaringan granulasi pada penyembuhan luka bakar tikus percobaan. Pada kelompok P didapatkan hasil pembuluh darah 29,26 ± 12,34, fibroblas 26,40 ± 21,94, neutrofil 1,4 ± 0,44, limfosit 1,06 ± 0,13, dan makrofag 1,00 ± 0,00. Kesimpulan penelitian ini adalah papain getah pepaya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan jaringan granulasi pada penyembuhan luka bakar tikus percobaanKata kunci: papain, jaringan granulasi, luka bakar, penyembuhan lukaAbstractBurn wounds is the serious problem in world health specifically for developing contries. In Indonesia, there is no written report about burn wounds patient and mortality account yet. In 2010, M. Djamil Padang Government Public Hospital found 84 cases of burn wounds with some causes as burn effect from sting of electric, hot water, stove flame and hot oil. Some researches indicate that traditional plant able to be wound healing agent as papaya sap. The purposed of this studi was to find out the effect of papain from papaya sap to granulation tissue formation on burn wounds healing in rat models. This was experimental research with posttest only control group design. The subjects were ten male Wistar rats divided in to two group (control group K and experimental group P). Every group consist of five rats. Heated metal plat (1,5 cm x 1,5 cm) used to get full thickness burn wound on dorsal rat part. Then, papain of papaya sap was given to group P for seven days. The results showed that papain of papaya sap didn’t have significant effect (p > 0,05) to granulation tissue formation in burn wound healing of rat models. In group P, the research found the vascular 29,26 ± 12,24, fibroblast 26,40 ± 21,94, neutrophil 1,4 ± 0,44, lymphocyte 1,06 ± 0,13, and macrophag 1,00 ± 0,00. The conclusion of this research is that papain of papaya sap didn’t have the significant effect to granulation tissue formation in burn wound healing of rat models.Keywords:papain, granulation tissue, burn, wound healing
Perbandingan Fungsi Extremitas Atas pada Fraktur Metafise Distal Radius Intraartikuler Usia Muda Antara Tindakan Operatif Dan Non Operatif dengan Penilaian Klinis Quickdash Score Burhan, Edi; Manjas, Menker; Riza, Ardian; Erkadius, Erkadius
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakFraktur metafise distal radius merupakan fraktur dengan insiden tertinggi kedua pada usia tua di luar fraktur daerah panggul. Di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang terdapat 122 dari 612 kasus fraktur radius, antara Januari 2011 – Juni 2012. Tujuan utama terapi ini adalah pengembalian permukaan sendi ke posisi anatomis dengan fiksasi yang stabil dan pengembalian fungsi extremitas atas semaksimal mungkin. Metode: Penelitian ini berupa penelitian retrospektif yang dilakukan di poliklinik orthopaedi RSUP Dr M Djamil Padang pada bulan November-Desember 2012 pada pasien fraktur metafise distal radius intraartikuler usia muda yang mendapat tindakan operatif dibandingkan dengan kelompok non-operatif dengan penilaian klinis Quick DASH Score. Sampel yang digunakan sebanyak 30 orang dari 55 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Ada hubungan yang bermakna antara fungsi extremitas atas dengan penilaian Quick DASH Score antara tindakan operatif pada fraktur distal radius intraartikuler usia muda dengan tindakan non-operatif (p Fisher = 0,010). Tidak terdapat hubungan bermakna antara Quick DASH Score dengan jenis kelamin dan diagnosa kanan atau kiri. Pembahasan: Terdapat perbedaan yang bermakna antara pasien fraktur metafise distal radius intraartikuler pada usia muda yang mendapat tindakan operatif berupa ORIF dengan yang mendapatkan tindakan non-operatif berupa pemasangan Gips.Kata kunci: Fraktur Metafise Distal Radius, Tindakan Operatif dan Non Operatif, Quick Dash ScoreAbstractFracture metafise distal radius is fracture with second highest incident on old age besides a fracture in the pelvic area. In the Dr. M. Djamil Hospital found 122 from 612 cases fracture of radius from january 2011 to june 2012. The main purpose therapy is restore the joint in the surface position anatomically by fixation a stable and restore the function upper extremitas over their best. Method: This study is a retrospective conducted at the Orthopaedi clinic of Dr M Djamil Hospital in November-December 2012 on young age patinet with the distal radius metafise intrartikular fracture who got the operative treatment in compare with non-operative groups with clinical assessment Quick Dash Score. The sample used is 30 people from 55 people who meet criteria for inclusion. Result: There is meaningful relationship the function upper extremitas with Quick Dash Score a distal radius fracture actions on intraartikuler at a young age that got an operative treatment and non-operative (p Fisher = 0,010 S). There is not meaningful relationships between Quick Dash Score with gender and diagnosis right or left. Discussion: There is significant difference between patients of intraarticuler radius distal metafise fractur who get operatif treatment, such as ORIF and the pasients who get non-operatif treatment, such as Gips.Keywords: Metafise Distal Radius Fracture, Operatif and Non Operatif Treatment, Quick Dash Score
Profil Tumor Ganas Ovarium di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Periode Januari 2011 Sampai Desember 2012 Rambe, Iwani Rahmah; Asri, Aswiyanti; ., Adrial
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTumor ganas ovarium menempati urutan ketiga setelah tumor ganas serviks dan tumor ganas payudara yang menyebabkan kematian di Indonesia. Penelitian ini didapatkan 143 kasus tumor ganas ovarium. Distribusi profil tumor ganas ovarium berdasarkan umur terbanyak pada kelompok umur 31-40 tahun sebanyak 45 kasus (31,46%), berdasarkan jumlah paritas yang terbanyak adalah pada kelompok paritas 1-3 sebanyak 77 kasus (66,37%), berdasarkan status perkawinan yang terbanyak ditemukan pada perempuan yang sudah menikah sebanyak 116 kasus (81,11%), berdasarkan sel asal tumor terbanyak ditemukan dari sel epitel sebanyak 137 kasus (95,80%), dan berdasarkan subtipe histopatologi yang terbanyak adalah kistadenokarsinoma ovarii serosum sebanyak 72 kasus (50,35%).Kata kunci: tumor ganas ovarium, paritas, sel asal tumorAbstractMalignant ovarian tumour is third rank after malignant cervic tumour and malignant breast tumour that cause death in Indonesia. The research found 143 cases of malignant ovarian tumours. Distribution profile of malignant ovarian tumours by the age of majority in the age group 31-40 years were 45 cases (31,46%), based on the highest number of parity is the parity group 1-3 were 77 cases (66,37%), based on marital status which is mostly found in women who are married as many as 116 cases (81,11%), based on the origin of the tumour cells were observed on the epithelial cells by 137 cases (95,80%), and based on the histopathological subtype is most serosum ovarian cystadenocarcinoma were 72 cases (50,35%).Keywords: malignant ovarian tumours, parity, origin of the tumor

Page 1 of 2 | Total Record : 17