cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 42 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 2 (2014)" : 42 Documents clear
Hubungan Pemberian ASI dengan Tumbuh Kembang Bayi Umur 6 Bulan di Puskesmas Nanggalo Fitri, Dian Insana; Chundrayetti, Eva; Semiarty, Rima
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakBayi mengalami proses tumbuh kembang yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah gizi. Unsur gizi pada bayi dapat dipenuhi dengan pemberian ASI, bahkan sampai umur 6 bulan sesuai rekomendasi WHO tahun 2001 diberikan ASI eksklusif. Namun, angka pencapaian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah yaitu 61,5% dan puskesmas Nanggalo 65%. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pemberian ASI dengan tumbuh kembang bayi umur 6 bulan di Puskesmas Nanggalo. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross sectional. Pertumbuhan dinilai melalui status gizi dan perkembangan melalui Tes Denver II, dengan jumlah sampel 50 bayi. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi square dengan derajat kemaknaan 0,05.Hasil penelitian menunjukkan pemberian ASI eksklusif masih rendah (30%) dibandingkan ASI non eksklusif (70%). Bayi ASI eksklusif berpeluang mengalami pertumbuhan normal 1,62 kali lebih besar dibandingkan bayi ASI non eksklusif (nilai OR = 1,62) dan perkembangan sesuai umur 5,474 kali lebih besar dibandingkan bayi ASI non eksklusif. Namun, pada pertumbuhan diperoleh nilai p = 0,696 dan nilai p perkembangan= 0,062 sehingga hubungan pemberian ASI terhadap tumbuh kembangan tidak signifikan. Penelitian ini memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pemberian ASI dengan tumbuh kembang bayi umur 6 bulan di Puskesmas Nanggalo Kota Padang.Kata kunci: Bayi umur 6 bulan, Pemberian ASI, Tumbuh KembangAbstractThe infant has a process of growth and development that is affected by several factors, one of them is nutrition. The element of nutrition for infant can be fulfilled by breast feeding, WHO (2011) recommends the infant should be given the exclusive breast feeding until it reaches 6 months old. However, the achievement number of exclusive breast feeding in Indonesia is still low (61.5%) and in the Nanggalo Community Health Center (65%). The aim of this research is to know the relationship between the breast feeding with the growth and development of 6 months old infants in the Nanggalo Community Health Center.This research was analytical study using cross sectional design, by assessing the nutritional status of infants through growth and development that assessed with tests of the Denver II, sample size 50 infants which were given the breast feeding. The statistical analysis test that used was chi square with the degree of significancy 0.05.The results shows that the exclusive breast feeding is still low (30%) compared to the non-exclusive breast feeding (70%). The infants who get the exclusive breast feeding have chance to experience the normal growth 1,62 times more than the non-exclusive breast feeding infants (OR value = 1,62) and the development which is appropriated to ages 5,474 times more than the non-exclusive breast feeding infants. But, p value of growth 0,696 and p value of development 0,062, so there is no significant relationship between the breast feeding with growth and development.This research shows that there is no relationship between the breast feeding with the growth and development of 6 months old infants in the Nanggalo Community Health Center.Keywords:6 months old infants, Breast feeding, Growth and development
Hubungan Pemberian Makanan Pendamping Asi (MP-ASI) dengan Status Gizi Anak Usia 1-3 Tahun di Kota Padang Tahun 2012 Lestari, Mahaputri Ulva; Lubis, Gustina; Pertiwi, Dian
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMakanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan padat yang mengandung nutrien lengkap yang diberikan kepada bayi mulai usia 6 bulan disamping ASI eksklusif untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara usia pemberian MP-ASI dan jenis MP-ASI dengan status gizi. Penelitian ini merupakan studi cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Mei-November 2012 pada anak usia 1-3 tahun yang berdomisili di Kota Padang. Pengumpulan data karakteristik responden, usia pemberian MP-ASI, dan jenis MP-ASI dilakukan dengan wawancara terpimpin. Pengukuran status gizi dilakukan berdasarkan BB/TB Z-score. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi square. Hasil penelitian menunjukan dari 200 anak, 51% anak diberi diberi MP-ASI sesuai jadwal dengan jenis MP-ASI buatan pabrik. Status gizi kurang, lebih banyak didapatkan pada anak yang diberi MP-ASI dini (33%). Tidak ditemukan anak dengan status gizi buruk.Terdapat hubungan antara usia pemberian MP-ASI dengan status gizi p= 0,001 (P < 0,05) dan tidak ada hubungan antara jenis MP-ASI dengan status gizi p= 0,456 (p > 0,05).Kata kunci: MP-ASI, Status gizi, Anak usia 1-3 tahunAbstractComplementary feeding is a solid and nutrient dense foods that contain complete given to infants from 6 months of age are exclusively breastfed in addition to achieve optimal growth and development. The research objective was to determine the relationship between the age of complementary feeding and provision of complementary feeding types with nutritional status. This study is a cross-sectional study that was conducted in May-November 2012 on children aged 1-3 years who live in Padang. The characteristics of the respondents, aged giving complementary feeding, and the type of complementary feeding by the guided interview. Measurement of nutritional status is based on weight / height Z-score.The statistical analysis used was chi square test. The results showed that of 200 children, 51% children were given complementary feeding schedule. The type was given is complementary feeding of factory. Nutritional status is much less than was found in children who were given complementary feeding early (33%). There are no children with poor nutritional status. There is a significant association between age of Complementary feeding with nutritional status p = 0.001 (P < 0.05) and there was no significant association between the type of Complementary feeding with nutritional status p = 0.456 (p >0.05).Keywords:Complementary feeding, nutritional status, children aged 1-3 years
Gambaran Profil Lipid pada Pasien Sindrom Koroner Akut di Rumah Sakit Khusus Jantung Sumatera Barat Tahun 2011-2012 Zahara, Fitri; Syafri, Masrul; Yerizel, Eti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian nomor satu secara global. Salah satu penyakit kardiovaskuler itu adalah Sindrom Koroner Akut (SKA) yang merupakan keadaan gawat darurat dari Penyakit Jantung Koroner (PJK). Salah satu faktor risiko SKA adalah perubahan dari kadar fraksi lipid yaitu kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan trigliserida yang dikaitkan dengan pembentukan plak aterosklerosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran profil lipid pada pasien SKA di rumah sakit khusus jantung Sumatera Barat tahun 2011-2012. Telah dilakukan penelitian deskriptif dengan bentuk cross sectional study dan pendekatan retrospective menggunakan data rekam medik mengenai hasil pemeriksaan profil lipid (kolesterol total, HDL, LDL, dan trigliserida) di rumah sakit khusus jantung Sumatera Barat untuk mengetahui gambaran profil lipid pada pasien SKA tahun 2011-2012. Hasil penelitian ini menemukan 98 kasus SKA. hasil ini menunjukkan bahwa pasien SKA dengan kadar kolesterol total tinggi adalah 44 orang (44,9%) dan normal sebanyak 54 orang (55,1%), pasien SKA dengan kadar kolesterol HDL rendah adalah 63 orang (64,3%) dan normal sebanyak 35 orang (35,6%), pasien SKA dengan kadar kolesterol LDL tinggi adalah 44 orang (44,9%) dan normal sebanyak 54 orang (55,1%), dan pasien SKA dengan kadar trigliserida tinggi adalah 21 orang (21,4%) dan normal sebanyak 77 orang (78,6%). Kejadian SKA terbanyak adalah STEMI sebanyak 51 kasus (52%), kemudian NSTEMI sebanyak 24 kasus (24,5%) dan yang paling sedikit adalah angina pektoris tak stabil sebanyak 23 kasus (23,5%) frekuensi umur terbanyak dari pasien SKA adalah 40-59 tahun, jenis kelamin terbanyak dari pasien SKA adalah laki-laki sekitar 74,5%. Penelitian menunjukkan jumlah bahwa pasien SKA yang memiliki kadar kolesterol total yang tinggi lebih sedikit daripada yang normal, kadar kolesterol HDL yang rendah lebih banyak daripada yang normal, kadar kolesterol LDL yang tinggi lebih sedikit daripada yang normal, kadar trigliserida yang tinggi lebih sedikit daripada yang normal, kasus SKA terbanyaKata kunci: Sindrom Koroner Akut, kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, trigliseridaAbstractCardiovascular diseases are the number one cause of death globally. One of the cardiovascular disease is Acute Coronary Syndrome (ACS) which is a state of emergency from Coronary Heart Disease (CHD). One of the risk factors for ACS is a change in the levels of lipid fractions such as total cholesterol, LDL Cholesterol, HDL Cholesterol and triglycerides which are associated with the formation of atherosclerotic plaque. This study aims to determine description of lipid profile in patients with acute coronary syndrome at the heart hospital of west sumatera 2011-2012. Descriptive research has been conducted with a a cross-sectional study and a retrospective approach using medical record about the result of lipid profile test (total cholesterol, HDL, LDL, and triglycerides) at the heart hospital of West Sumatera to describe the lipid profile in patients with ACS in 2011-2012. The results of this study found 98 cases of ACS. It showed that ACS patients with high total cholesterol levels are 44 people (44,9%) and normal are 54 people (55,1%), acute coronary syndrome patients with low levels of HDL cholesterol are 63 people (64,3%) and normal are 35 people (35,6%), acute coronary syndrome patients with high levels of LDL cholesterol are 44 people (44,9%) and normal are 54 people (55,1%), acute coronary syndrome patients with high levels of triglyceride are 21 people (21,4%) and normal are 77 people (78,6%), the highest incidence of SKA is STEMI with 51 cases (52%), then NSTEMI with 24 cases (24,5%) and the lowest incidence is unstable angina pectoris with 23 cases (23,5%), most age of the patients of ACS are 40-59 years old, the most gender of ACS are male about 74,5%. Research shows that the number of ACS patients who have a high level of total cholesterol are less than normal, low levels of HDL cholesterol are more than normal, high level of LDL cholesterol are less than normal, high level of triglyceride are less than normal, most incidens of ACS is STEMI then NSTEMI and the lowest is unstable angina pectoris, most age of ACS patients are 40-59 years, and most of gender are men.Keywords:acute myocardial infarction, total cholesterol, LDL cholesterol, HDL cholesterol, triglyceride
Kanaloplasti pada Atresia Liang Telinga Pasca Trauma Munilson, Jacky; Edward, Yan; Azani, Surya
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPendahuluan: Atresia liang telinga didapat adalah suatu kelainan yang jarang terjadi dengan karakteristik pembentukan jaringan fibrosis pada liang telinga. Trauma pada liang telinga pada cedera kepala dapat menyebabkan atresia liang telinga pasca trauma dan menyebabkan tuli konduktif serta terbentuknya kolesteatom di daerah cul de sac sehingga diperlukan tatalaksana dengan pembedahan. Ada beberapa pendekatan teknik pembedahan kanoplasti yaitu dengan pendekatan transkanal, endaural dan postaurikula. Metode: Satu kasus atresia liang telinga didapat pasca trauma yang ditatalaksana dengan kanaloplasti transkanal dan bagian tulang yang terpapar ditutupi dengan flap kulit liang telinga. Hasil : Penyembuhan pasca operasi sangat memuaskan, liang telinga lapang dengan perbaikan fungsi pendengaran. Diskusi : Atresia liang telinga didapat salah satunya dapat disebakan oleh trauma dan dapat menimbulkan penurunan pendengaran. Pembedahan pada atresia liang telinga membutuhkan teknik yang khusus karena rekurensi dapat terjadi. Pembedahan dengan pendekatan transkanal sudah dapat memberikan akses yang adekuat. Bagian tulang liang telinga yang terpapar dapat ditutupi dengan flap ataupun graft kulit dengan vaskularisasi yang adekuat serta diperlukannya pembersihan liang telinga pasca operasi secara cermat dan teratur untuk mencegah rekurensi.Kata kunci: Atresia liang telinga, trauma telinga, kanaloplasti transkanal.AbstractIntroduction : Acquired ear canal atresia is a rare condition that characteristic by fibrotic tissue formation in ear canal. Trauma to the ear canal in head injury can cause post traumatic ear canal atresia with conductive hearing loss and cholesteatom in cul de sac area, so this condition necessary surgery procedure. There are several approaches of canaloplasty that are transcanal, endaural and postauricula approach canaloplasty. Methode : One case of post traumatic ear canal atresia that treated with transcanal approach canaloplasty and ear canal skin flap for closing the exposed bone. Result : satisfactory postoperative ear canal healing, with improvement of hearing function. Discussion: Acquired ear canal can be caused by trauma and can cause hearing loss. Surgery on the ear canal atresia requires special techniques because recurrence may occur. Transkanal surgical approach has been able to provide adequate access. The expose bone of ear canal after fibrotic tissue was removed, can be covered by skin flap or skin graft with adequate vascularity as well as the need for postoperative cleaning of the ear canal thoroughly and regularly to prevent recurrence.Keywords: Ear canal atresia, ear trauma, transcanal canaloplasty.
Profil Sindrom Stevens Johnson pada Pasien Rawat Inap di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Januari 2010 sampai Desember 2011 Rahayu, Amelia; Gustia, Rina; Rahmatini, Rahmatini
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSindrom Stevens Johnson (SSJ) merupakan reaksi mukokutaneus akut yang mengancam jiwa berupa nekrosis yang ekstensif dan lepasnya epidermis. Sindrom ini mengenai kulit, selaput lendir orifisium, dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat. Meskipun kasusnya jarang terjadi, SSJ memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat karena angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa aspek kasus SSJ pasien rawat inap di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2010 sampai Desember 2011. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan menganalisis data rekam medik seluruh pasien SSJ yang dirawat inap. Variabel yang diteliti meliputi jenis kelamin, umur, penyebab SSJ, gejala SSJ, lama rawatan, tingkat keparahan, angka kesembuhan, dan angka mortalitas. Data diolah, dihitung persentasenya, dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 22 kasus SSJ (0,05%) dengan perbandingan insiden pada pria dan wanita adalah 3:1. SSJ banyak terjadi pada umur >19 tahun sampai ≤59 tahun (31,81%) dengan penyebab terbanyak adalah obat (81,82%) terutama obat golongan antikonvulsan (33,33%). Semua pasien mengalami gejala prodromal dan trias kelainan SSJ. Lama rawatan pasien SSJ ≤10 hari. Sebagian besar pasien memiliki tingkat keparahan SSJ yang ringan berdasarkan nilai SCORTEN, yaitu 3,2% dan hampir semua pasien sembuh (95,46%).Kata kunci: Sindrom Stevens Johnson, SCORTENAbstractStevens-JohnsonSyndrome (SJS) is acute life-threatening mucocutaneous reactions characterized by extensive necrosis and detachment of the epidermis. SSJ comes to the skin, mucous membrane, and the eyes with varies of general state from mild to severe. Although this case is rare, it has a significant public health impact because of high mortality and morbidity. The aim of this study is to know some aspects of SJS cases toward hospitalized patients in Dr. M. Djamil Padang Hospital during January 2010 until December 2011.This study is conducted a retrospective study by analyze the medical record of hospitalized patients with SJS. Variables that were evaluated covered gender, age, causes of SJS, clinical manifestation of SJS, treatment time, the severity, cure rate, and mortality rate. The data were processed, counted the percentage, and presented in tabular form.The result showed there were 22 SJS cases (0,05%) with incidence ratio between male and female was 3:1. SJS most happened in >19 and ≤59 years age group (31,81%) with the most causes was drugs (81,82%) especially anticonvulsant group of drugs (33,33%). All of the patients showed prodromal symptoms and triage abnormalities of SJS. Treatment time for the patients was ≤10 days. A total of 81,82% patients had mild severity based on SCORTEN values, i.e. 3,2% and almost all the patients recovered from SJS (95,46%).Keywords:Stevens-Johnson Syndrome, SCORTEN
Hubungan Daerah Tempat Tinggal dengan Gambaran Histopatologi Karsinoma Tiroid pada Masyarakat Sumatera Barat Putri, Eka; Khambri, Daan; Rusdji, Selfi Renita
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKarsinoma tiroid merupakan keganasan kelenjar endokrin yang paling sering ditemukan dan insidennya meningkat setiap tahun. Berdasarkan gambaran histopatologinya, karsinoma tiroid dibagi menjadi tipe papiler, folikuler, meduler, dan anaplastik. Salah satu faktor yang mempengaruhi gambaran histopatologi karsinoma tiroid adalah keadaan geografis, dimana karsinoma tipe folikuler dan anaplastik akan lebih sering ditemukan pada daerah beresiko defisiensi yodium dibandingkan daerah tidak beresiko defisiensi yodium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan daerah tempat tinggal dengan gambaran histopatologi karsinoma tiroid. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan mengumpulkan data sekunder di Laboratorium Patologi Anatomi FK Unand dan rekam medik RSUP M. Djamil periode Januari 2010 – Desember 2011 Dari penelitian ini ditemukan 102 kasus karsinoma tiroid, dimana 32 kasus bertempat tinggal di daerah beresiko defisiensi yodium dan 70 kasus bertempat tinggal di daerah tidak beresiko defisiensi yodium. Pada daerah beresiko defisiensi yodium, 34,4% merupakan karsinoma folikuler dan anaplastik, dan 65,5% merupakan karsinoma selain folikuler dan anaplastik. Pada daerah tidak beresiko defisiensi yodium, 22,9% merupakan karsinoma folikuler dan anaplastik, dan 77,1% merupakan karsinoma selain folikuler dan anaplastik. Dari analisis statistik hubungan daerah beresiko defisiensi yodium dengan kejadian karsinoma folikuler dan anaplastik berdasarkan uji chi-square didapatkan nilai p =0,33. Tidak terdapat hubungan bermakna antara daerah tempat tinggal dengan gambaran histopatologi karsinoma tiroid pada masyarakat Sumatera Barat pada periode Januari 2010 – Desember 2011. Kata kunci: Gambaran histopatologi karsinoma tiroid, daerah tempat tinggalKata kunci: Gambaran histopatologi karsinoma tiroid, daerah tempat tinggalAbstractThyroid carcinoma is the most common endocrine tumor and is increasing in incidence every year. Based on histopathological types, thyroid carcinomas are divided into papillary carcinoma, follicular carcinoma, medullary carcinoma, and anaplastic carcinomas. Factors that can influence the histopathological type of thyroid carcinomas is geographical factor, which follicular and anaplastic type of thyroid carcinomas more frequently found in areas at risk of iodine deficiency than the area not at risk of iodine deficiency.The purpose of this study was to determine the relationship of residential areas with histopathologic types of thyroid carcinoma. This analytic research with observational design obtaining secondary data from Pathology Anatomy Laboratory of Medical Faculty of Andalas University and medical record of M. Djamil Hospital in a period of January 2010 – December 2011. From this reseach, found 102 cases of thyroid carcinoma, of which 32 cases residing in areas at risk of iodine deficiency and 70 cases residing in the area are not at risk of iodine deficiency. In areas at risk of iodine deficiency, 34.4% are follicular and anaplastic carcinomas, and 65.5% are papillary carcinomas. In areas not at risk of iodine deficiency, 22.9% are follicular and anaplastic carcinomas, and 77.1% are papillary carcinomas. Statistical analysis of the relationship of the area at risk of iodine deficiency with follicular and anaplastic carcinoma incidence by chi-square test p value = 0.32.There is no significant correlation between residential areas and histopathological types of thyroid carcinoma of West Sumatera society.Keywords:Histopathological types of thyroid carcinoma, residential areas
Hubungan Riwayat Pola Pemberian ASI dengan Tingkat Kecerdasan Anak SD di SDN 01 Sawahan Kecamatan Padang Timur Kota Padang Ambelina, Syntia; Chundrayetti, Eva; Lipoeto, Nur Indrawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPola pemberian ASI dinyatakan para ahli berhubungan dengan tingkat kecerdasan anak. Akan tetapi, persentase pemberian ASI di Indonesia sampai saat ini masih tergolong rendah. Data Depkes RI tahun 2006 dan 2007 menunjukkan bahwa anak di Indonesia yang mendapat asupan ASI eksklusif dan ASI hingga usia 2 tahun tidak mencapai 50%. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah terdapat hubungan antara riwayat pola pemberian ASI dengan tingkat kecerdasan anak SD. Desain penelitian ini adalah penelitian dengan jenis cross sectional study. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas III – V di SD Negeri 01 Sawahan. Sampel diambil sebanyak 104 orang dengan metode proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner untuk mengetahui riwayat pola pemberian ASI yang diterima responden saat bayi. Data diolah dengan uji statistik chi square menggunakan program SPSS 16.0. Hasil analisis univariat menunjukkan anak dengan tingkat kecerdasan tinggi (68,3%) dan anak dengan tingkat kecerdasan sedang (31,7%). Terdapat 16,3% anak yang memiliki riwayat pola pemberian ASI baik dan 83,7% anak memiliki riwayat pola pemberian ASI kurang. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara riwayat pola pemberian ASI dengan tingkat kecerdasan anak (p = 0,173). Penelitian ini memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara riwayat pola pemberian ASI dengan tingkat kecerdasan anak SD di SDN 01 Sawahan Kecamatan Padang Timur Kota Padang.Kata kunci: Pola pemberian ASI, Tingkat kecerdasanAbstractBreastfeeding patterns declared by the experts are associated with the level of children intelligence. However, the percentage of breastfeeding in Indonesia is still relatively low. Department of Health Republic of Indonesia data for 2006 and 2007 showed that children in Indonesia who received exclusive breastfeeding intake and breastfeeding until 2 years old didn’t reach 50%. The aim of this study is to know whether there is a relationship between breastfeeding patterns history with the level of intelligence of elementary school student. The design of this study was a cross sectional study. The study population was all elementary school students in the 3rd until 5th grade in SDN 01 Sawahan. Samples were taken as many as 104 people with a proportional stratified random sampling method. Data were collected with a questionnaire to determine the history of the breastfeeding pattern of the respondents when they were baby. Data processed by the chi-square statistical test using SPSS 16.0. The results of univariate analysis showed children with high intelligence level (68.3%) and children with moderate intelligence level (31.7%). There are 16.3% of children had a both breastfeeding pattern history and 83.7% of children had a lack breastfeeding patterns history. Results of the bivariate analysis showed no significant relationship between breastfeeding patterns history with the level of children intelligence (p = 0.173). This study shows that there is no relationship between breastfeeding patterns history with the level of children intelligence of elementary school students in SDN 01 Sawahan, Eastern District of Padang.Keywords:breastfeeding patterns, level of intelligence
Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Endofit dari Tanaman Binahong dan Katepeng China Desriani, Desriani; Safira, Ukhradia Maharaniq; Bintang, Maria; Rivai, Akhmad; Lisdiyanti, Puspita
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakBakteri endofit merupakan mikroorganisme menguntungkan yang berinteraksi dengan tanaman inang tanpa menyebabkan gangguan atau kerusakan pada tanaman.Beberapa studi menunjukkan bahwa bakteri endofit tertentu dapat memproduksi senyawa kimia yang memiliki efek bagi kesehatan, terutama bakteri endofit yang diisolasi dari tanaman obat.Binahong (Anredera cordifolia) dan Ketepeng Cina (Cassia alata) merupakan tanaman obat yang telah diketahui memiliki beberapa khasiat.Tujuan dari penelitian ini ialah mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri endofit dari kedua tanaman tersebut melalui uji antibakteriterhadap tiga jenis bakteri patogen manusia (Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus). Metode: Jumlah bakteri endofit yang berhasil diisolasi dari dua tanaman tersebut berjumlah 73 isolat (37 isolat dari Binahong dan 36 isolat dari Ketepeng Cina). Hasil: Berdasarkan uji antibakteri terhadap tiga bakteri patogen diperoleh 16 isolat bakteri endofit yang memiliki aktivitas potensial (ditandai dengan terbentuknya zona hambat), yaitu 1 isolat dari Ketepeng Cina (terhadap Pseudomonas aeruginosa) dan 15 isolat dari Binahong. Pembahasan: Terbentuknya zona hambat mengindikasikan kemungkinan adanya senyawa kimia yang memiliki efek antibakteri.Kata kunci: bakteri endofit, Anredera cordifolia, Cassia alata, antibakteri.AbstractEndophytic bacteria is a beneficial microorganism that interacts with plant without causing any harm to the host. Most studies showed that certain endophytic bacteria can produce chemical compound which have medical effect, especially endophytic bacteria isolated from medicinal plant. Binahong (Anrederacordifolia) and KetepengCina (Cassia alata) are several of medicinal plants potential to be used for medical purpose. Methods: The objective of this study was to isolate and to characterize endophytic bacteria from both plants through antibacterial activity test against to three kinds of human pathogenic bacteria (Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, and Bacillus cereus). Results: total isolated endophytic bacteria from both plants are 73 isolates (37 isolates from Binahong and 36 isolates from KetepengCina). There were 16 isolates have potential activity (indicated by clear zone), one isolate from KetepengCina and 15 isolates from Binahong. Discussion: The formed clear zone indicates antibacterial compounds produced by endophyticbacteriatested. Further research is needed to identify the type of antibacterial compounds produced.Keywords:endophytic bacteria, Anrederacordifolia, Cassia alata, antibacterial.
Hubungan Aktivitas Fisik terhadap Kadar Hemoglobin pada Mahasiswa Anggota UKM Pandekar Universitas Andalas Kosasi, Laura; Oenzil, Fadil; Yanis, Amel
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakHemoglobin memiliki peran penting pada tubuh manusia yaitu membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh bersama sel darah merah. Aktivitas fisik yang dilakukan manusia akan memengaruhi tingkat kesehatannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik terhadap kadar hemoglobin pada mahasiswa anggota UKM Pandekar Universitas Andalas. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan rancangan potong lintang atau cross-sectional. Penelitian tentang hubungan aktivitas fisik terhadap kadar hemoglobin telah dilaksanakan pada bulan April 2013 di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Andalas Padang pada mahasiswa anggota UKM Pandekar Universitas Andalas yang memiliki indeks massa tubuh normal dan tidak merokok. Penelitian dilakukan dengan mengukur kadar hemoglobin serta pengisian kuesioner aktivitas fisik berdasarkan tiga skor, yaitu skor indeks kerja, skor indeks olahraga, dan skor indeks waktu luang. Hasil penelitan didapatkan (1) kadar hemoglobin rata-rata laki-laki 15,98 g/dL dengan tertinggi 17,5 g/dL dan terendah 13,1 g/dL serta yang perempuan rata-rata 13,38 g/dL dengan tertinggi 15,8 g/dL dan terendah 12,1 g/dL, (2) tingkat aktivitas fisik anggota Pandekar dari 28 responden terdiri atas 25 responden aktif dan 3 responden kurang aktif. Kesimpulan penelitian ini tidak terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kadar hemoglobin pada mahasiswa anggota UKM Pandekar Universitas Andalas.Kata kunci: Aktivitas Fisik, Kadar Hemoglobin, Mahasiswa Anggota UKM PandekarAbstractHaemoglobin in red blood cells in human body is very important to transport the oxygen to all of the bodycells. Physical activity is also the importance thing to conduct the human health. The purpose of this study is to determine the correlation between physical activity and hemoglobin level at students of UKM Pandekar’s members; University of Andalas. The study is an observational analytic cross-sectional study. Study of correlation between physical activity and hemoglobin level at students of UKM Pandekar’s members; University of Andalas has been conducted at April 2013 in PKM University of Andalas Padang at students of UKM Pandekar’s members University of Andalas with normal Body Mass Index and not smoking. The study did by measuring the hemoglobin levels and filling the questionnaires of physical activity levels based on three scores, that works index score, sports index score, and free time index score. The results showed (1) mean hemoglobin levels at men is 15,98 g/dL with maximum 17,5 g/dL and minimum 13,1 g/dL, mean hemoglobin levels at women is 13,38 g/dL with maximum 15,8 g/dL and minimum 12,1 g/dL, (2) physical activity levels of Pandekar’s members from 28 respondents there are 25 active respondents and 3 underactive respondents. The conclusion of this study that there is no significant correlation between physical activity and hemoglobin level at students of UKM Pandekar members University of Andalas.Keywords:Physical Activity Levels, Hemoglobin Levels, Students Of UKM Pandekar’s Members
Hepatitis C pada Anak Jurnalis, Yusri Dianne; Sayoeti, Yorva; Russelly, Adria
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakInfeksi virus hepatitis C saat ini masih merupakan persoalan yang serius. Penularan infeksi HCV pada anak yang utama adalah melalui transfusi darah atau produk darah yang saat ini bertanggung jawab menyebabkan kasus hepatitis C kronis. Selain itu infeksi HCV pada anak dapat disebabkan oleh transmisi perinatal (vertikal). Infeksi HCV akut dapat berakhir dengan sirosis dan karsinoma hepatoselular setelah dekade ketiga (sekitar 20%), karena progresivitas infeksi HCV lebih lambat dari infeksi hepatitis B virus. Pada umumnya infeksi HCV bersifat asimptomatik termasuk pada anak. Karena tidak ada gejala yang jelas pada infeksi HCV tersebut maka diagnosis infeksi HCV hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan awal laboratorium dan uji serologi, dan bila perlu dengan uji molekuler pada pasien dengan risiko tinggi. Kebijakan kuratif khusus terhadap HCV adalah terapi antivirus berupa interferon dan ribavirin yang diberikan bila diagnosis HCV sudah ditegakkanKata kunci: Hepatitis C, diagnosis and management problem, childrenAbstractHepatitis C virus infection is still a serious problem. Transmission of HCV infection in children is a major blood transfusion or blood products that are currently responsible for causing chronic hepatitis C cases. Additionally HCV infection in children can be caused by perinatal transmission (vertical). Acute HCV infection may end up with cirrhosis and hepatocellular carcinoma after the third decade (around 20%), due to a slower progression of HCV infection of hepatitis B virus infection. In most cases of HCV infection are asymptomatic, including in children. Since there are no obvious symptoms in the diagnosis of HCV infection HCV infection can only be confirmed by laboratory examinations and serologic testing early, and if necessary with molecular testing in patients at high risk. Curative policy is specific to HCV antiviral therapy such as interferon and ribavirin are given when the diagnosis of HCV has been establishedKeywords:Hepatitis C, diagnosis and management problem, children