cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 48 Documents
Search results for , issue " Vol 5, No 1 (2016)" : 48 Documents clear
Perbedaan Kadar Interferon Gamma dan Interleukin-10 pada Orang Dewasa Terinfeksi Ascaris Lumbricoides dengan Tidak Terinfeksi yang Diinduksi Vaksin Bacille Calmette-Guerin Mulyani, Weni; Irawati, Nuzulia; Suharti, Netti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKecacingan merupakan penyakit yang masih banyak di negara berkembang. Penyakit ini dapat menimbulkan gangguan gizi, pertumbuhan dan penurunan produktifitas kerja. Infeksi cacing dapat menimbulkan penurunan respon terhadap antigen sebagai akibat modified Th2 response. Vaksin BCG merupakan antigen yang dikenal sebagai penginduksi respon sel Th1. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan kadar IFN-γ dan IL-10 antara orang dewasa terinfeksi Ascaris lumbricoides dan tidak terinfeksi yang diinduksi vaksi BCG. Penelitian dilakukan di Kelurahan Muara Fajar Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbaru dengan menggunakan rancangan cross sectinal study. Populasi penelitian adalah orang dewasa kelurahan Muara Fajar Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbaru yang terinfeksi  dan tidak terinfeksi Ascaris lumbricoides. Status kecacingan didapatkan dari pemeriksaan feses dengan metode kato-katz. Kadar IFN-γ dan IL-10 didapatkan dengan pemeriksaan laboratorium dengan metode ELISA. Pengolahan dan analisa data menggunakan uji t. Hasil penelitian didapatkan rerata kadar IFN-γ adalah 16,55±14,13 pg/mg dan kadar IL-10 36,13±8,83 pg/ml. Pada orang dewasa yang tidak terinfeksi Ascaris lumbricoides didapatkan kadar rerata IFN-γ adalah 199,36±121,86 pg/ml dan kadar IL-10 10,57±9,20 pg/ml. Terdapat perbedaan bermakna kadar  IFN-γ dan IL-10 antara orang dewasa yang terinfeksi Ascaris lumbricoides dengan tidak terinfeksi (p<0,05). Kesimpulan ialah infeksi Ascaris lumbricoides dapat menekan produksi IFN-γ terhadap pemberian vaksin BCG.Kata Kunci: ascaris lumbricoides, vaksin BCG, interferon gamma (IFN-γ), interleukin 10 (IL-10) AbstractWorm infestation is a disease that often occur in the develop country. This disease can makes nutrient’s disturbance, growth’s and low work productivity. Worm infection can also make low respond on antigen because of modified Th2 response. BCG vaccine is antigen that can induce Th1 cell respond. The objective of this study was to determine the difference between IFN-γ and IL-10 on adult who infected Ascaris lumbricoides and uninfected who inducted by BCG vaccine. This cross sectinal study conducted in Muara Fajar District in Rumbai Pesisir Pekanbaru. The population were adults in Muara Fajar district Rumbai Pesisir Pekanbaru who infected and uninfected Ascaris lumbricoides. Worm infection was getting checked in fesses by kato-katz method. IFN-y and IL-10 were getting laboratory checked by ELISA method. The data was analyzed by t-test. The result of the adult who infected Ascaris lumbricoides showed the mean IFN-y is 16.55±14.13 pg/mg and IL-10 36.13±8.83 pg/ml. The result on adult who uninfected Ascaris lumbricoides showed the mean IFN-y is 199,36±121,86 pg/ml and IL-10 10.57±9.20 pg/ml. There was significant difference IFN-y and IL-10 between adult who infected Ascaris lumbricoides with uninfected (p<0,05). It can be concluded that infect Ascaris lumbricoides can pressure IFN-y production on given BCG vaccine.  Keywords: Ascaris lumbricoides, BCG vaccine, Interfereon gamma (IFN-γ), Interleukin 10 (IL-10)
Diagnosis dan Penatalaksanaan Tragus Asesorius dan Stenosis Liang Telinga pada Hemifasial Mikrosomia Hafiz, Al; Munilson, Jacky; Huriyati, Effy; Edward, Yan; Rachman, Sylvia; Yudhistira, Gunawan
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak           Hemifasial mikrosomia (HFM) adalah diagnosis paling sering pada lesi wajah asimmetris dan merupakan kelainan kongenital wajah terbanyak kedua. HFM merupakan malformasi kongenital dimana terdapat defisiensi jaringan lunak dan tulang pada satu sisi wajah dan gangguan perkembangan telinga, terutama telinga luar. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiologis. HFM memiliki manifestasi klinis yang beragam, dan dipertimbangkan mendapatkan penatalaksanaan komprehensif yang melibatkan rekontruksi medik luas.               .           Sebuah kasus hemifasial mikrosomia dengan tragus asesorius dan stenosis liang telinga kanan dilaporkan pada perempuan berusia 13 tahun dan telah dilakukan rekonstruksi tragus dan kanaloplasti. Kata kunci: hemifasial mikrosomia, lesi wajah asimmetris, rekontruksi tragus, kanaloplasti. AbstractHemifacial microsomia (HFM) is the most frequent diagnosis in asymmetry facial lesions and the top second facial congenital lesion. HFM is a congenital malformation in which there is a deficiency of soft tissue and bone on one side of the face and malformation of the ear, especially outer ear. The diagnosis is based on history, physical examination, and radiological finding. HFM had various clinical manifestation and considered to comprehensive management involving extensive medical reconstruction. A hemifacial microsomia case with right tragal assesoria and ear canal stenosis has been reported in girl aged 13 years old and have performed tragus reconstruction and canaloplasty. Keywords:  hemifacial microsomia, asymmetrical facial lession, tragus reconstruction, canaloplasty
Hubungan Inisiasi Menyusu Dini dengan Kadar Oksitosin dan Involusi Uteri 2 Jam Post Partum di Klinik Bersalin Swasta Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2014 Nirmala Sari, Fatmi; Darwin, Eryati; Nurjasmi, Emi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAngka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu masalah kesehatan dunia. Penyebab AKI terbanyak adalah perdarahan. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan titik awal yang penting untuk menyusui dan membantu merangsang produksi hormon oksitosin yang berperan dalam kontraksi uterus setelah melahirkan, sehingga akan membantu mengurangi pendarahan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan IMD dengan kadar oksitosin dan involusi uteri 2 jam post partum. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan kohort. Penelitian ini dilaksanakan ± 3 bulan dengan jumlah subjek  36 orang. Pengolahan data dilakukan dengan komputerisasi. Data disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan selanjutnya dilakukan independent t-test untuk mengetahui hubungan kedua variabel. Hasil penelitian didapatkan rerata kadar oksitosin ibu postpartum yang berhasil IMD adalah 58.47 ± 1.19pg/ml dan rerata tinggi fundus uteri ibu 2 jam postpartum yang berhasil IMD adalah 11.80 ± 0.73 cm. Hasil uji statistik didapatkan nilai (p<0,05). Kesimpulan penelitian yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara IMD dengan kadar oksitosin dan involusi uteri 2 jam postpartum. Keberhasilan Inisiasi menyusu dini akan sangat berdampak positif bagi ibu postpartum.Kata kunci: IMD, kadar oksitosin, involusi uteri 2 jam postpartum Abstract             Maternal Mortality Rate (MMR) is one of the worlds health problems. The main cause of MMR is bleeding. Early Breastfeeding (EBF) is an important starting point for breastfeeding and also stimulate the production of the hormone oxytocin which plays a role in the contraction of the uterus after childbirth, so itt will help to reduce bleeding. The  objective of this study was to determine the relationship of EBF with levels of oxytocin and uterine involution 2 hours post partum. This research was observational cohort study. This research was conducted ± 3 months to 36 subjects. Data processing was performed with computerized. Data presented in the form of frequency distribution and then performed an independent t-test to determine the relationship between two variables. The results showed mean levels of oxytocin postpartum who successfully EBF was 58.47 ± 1.19pg / ml and the mean of height fundus 2 hours postpartum who successfully EBF was 11.80 ± 0.73 cm. Statistical test results obtained value (p< 0.05). There is a significant correlation between the EBF levels of oxytocin and uterine involution 2 hours postpartum. The success of early breastfeeding initiation will have a positive impact for postpartum mothers.Keywords: EBF, levels of oxytocin, uterine involution 2 hours postpartum
Hubungan Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Keberadaan Larva Vektor DBD di Kelurahan Lubuk Buaya Azlina, Ayu; Adrial, Adrial; Anas, Eliza
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKelurahan Lubuk Buaya merupakan daerah endemik Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan korban meninggal terbanyak pada tahun 2012. Penyebaran DBD dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan tindakan pemberantasan sarang nyamuk dan keberadaan larva vektor DBD di Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Jenis penelitian adalah analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Lubuk Buaya dengan 110 sampel pada bulan Desember 2014. Sampel diambil dengan metode Multistage Random Sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan survei larva terhadap kontainer yang berada di dalam dan di luar rumah responden. Data disajikan dalam bentuk tabel ditribusi dan dianalisis statistik dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari separuh responden melakukan tindakan PSN yang baik. Keberadaan larva vektor DBD tergolong tinggi dengan HI 35,45%, CI 13,41%, BI 50% dan Density figure/Df= 5. Terdapat hubungan yang bermakna antara tindakan pemberantasan sarang nyamuk dengan keberadaan larva vektor DBD di kelurahan Lubuk Buaya (p=0,001). Pelaksanaan PSN di Kelurahan Lubuk Buaya secara umum belum terlaksana secara optimal.Kata kunci: PSN, larva, vektor DBD AbstractKelurahan Lubuk Buaya is a Dengue Hemorhagic Fever (DHF) endemic area with the highest death case in 2012. The spreading of DHF influenced by environmental factor and practice of mosquito breading place eradication. The objective of this study was to determine the relationship between mosquito breading place eradication practice and the presence of larvae DHF’s vector. The research was an analitic observational with cross-sectional study design. The research was held in Lubuk Buaya with 110 samples in December 2014. The samples were taken with the Multistage Random Sampling methods. Data’s were collected by using a questionnare and survey of the larvae. Data were presented in distribution table and analyzed statistically with Chi Square method. The result showed more than half of the respondents have a good mosquito breading place eradication practice and the presence of larvae DHF’s vector in lubuk buaya is high with HI 35.45%, CI 13.41%, BI 50%, and density figure 5. There is a relationship between breading place eradication practice and the presence of larvae DHF’s vector (p=0.001). The implementation of breading place eradication practice in Lubuk Buaya isn’t implemented optimally.Keywords: breading place eradication, larvae, dengue hemorhagic fever vektor
Hubungan Grading Histopatologi dan Infiltrasi Limfovaskular dengan Subtipe Molekuler pada Kanker Payudara Invasif di Bagian Bedah RSUP. Dr. M. Djamil Padang Resti Putri Firdaus, Vashti; Asri, Aswiyanti; Khambri, Daan; Arif Harahap, Wirsma
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakGejala kanker payudara sering tidak disadari atau dirasakan dengan jelas oleh penderita, sehingga banyak penderita yang datang dalam keadaan stadium lanjut. Banyak faktor yang mempengaruhi prognosis dari kanker payudara, antara lain grading histopatologi, reseptor estrogen dan progesteron, HER2, serta infiltrasi limfovaskular. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara grading histopatologi dan infiltrasi limfovaskular terhadap subtipe molekuler pada kanker payudara invasif. Distribusi frekuensi dari grading histopatologi, infiltrasi limfovaskular, dan subtipe molekuler pada kanker payudara invasif di bagian bedah RSUP.Dr. M. Djamil Padang selama periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2013. Metode penelitian ini adalah observational analitik, dengan pendekatan cross sectional. Dalam penelitian ini didapatkan 424 kasus kanker payudara invasif, dengan 66 kasus yang dapat dianalisis. Analisis data yang digunakan univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square dengan derajat kemaknaan p<0,05. Ada hubungan yang bermakna antara grading histopatologi dengan subtipe molekuler (p=0,032). Hubungan infiltrasi limfovaskular dengan subtipe molekuler pada kanker payudara invasif didapatkan bermakna (p=0,000).Kata kunci: grading histopatologi, infiltrasi limfovaskular, subtipe molekuler, kanker payudara invasif AbstractBreast cancer symptoms are often not recognized or clearly perceived by the patient, so it makes most of patients come to doctor in late stage. There are many prognosis factors in breast cancer, such as hystopathology grading, estrogen and progesteron receptors, HER2, and lymphovascular infiltration.The objective of this study was to determine the association between hystopathology grading and lymphovascular infiltration with molecular subtype in invasive breast cancer. Determine the distribution and frequency of hystopatology grading, lymphovascular infiltration, and molecular subtype in invasive breast cancer at surgery department Dr. M. Djamil Hospital Padang period January 1, 2010 – December 31, 2013. The method of this research is analitic observational with cross sectional study. In this research obtained 424 cases of invasive breast cancer, with only 66 cases that could be analyzed. The analysis system that used is univariat and bivariat with chi-square (p<0,05). There is significant correlation between hystopathology grading with molecular subtype (p=0,032). There is significant correlation between lymphovascular infiltration with molecular subtype (p=0,000).Keywords: histopathology grading, lymphovascular infiltration, molecularsubtypes, invasive breast cancer
Perbedaan Kadar Superokside Dismutase pada Remaja dengan Dismenore Primer dan Tanpa Dismenore Primer Yanti, Yanti; Ermawati, Ermawati; Anas, Eliza
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak             Dismenore didefinisikan sebagai rasa kram saat menstruasi yang menyakitkan tanpa patologi yang jelas. Kram berlangsung selama satu hari atau lebih dan disertai rasa mual, diare, sakit kepala. Masalah yang ditimbulkan oleh dismenore adalah  peningkatan ketidakhadiran di sekolah pada remaja sehingga menyebabkan rendahnya nilai akademik pada pelajar. Superokside dismutase (SOD) adalah bahan bioaktif yang diketahui bersifat antioksidan. SOD melindungi sel terhadap gangguan oksidan (radikal bebas). SOD mengubah anion superoksida menjadi hidrogen peroksida dan oksigen, sering disebut juga sebagai pertahanan primer terhadap stress oksidatif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui  perbedaan kadar superokside dismutase pada remaja dengan dismenore dan tanpa dismenore. Penelitian ini adalah observasional desain cross sectional comparative. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Withney  dengan nilai p<0.05 dianggap bermakna secara statistik. Rerata kadar SOD pada remaja yang mengalami dismenore yaitu 36,76 u/ml dan rerata kadar SOD pada remaja tanpa dismenore yaitu 32,24 u/ml. Dengan nilai p>0,005 (0,345). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna  kadar SOD pada remaja dengan dismenore dan tanpa dismenore. Kata kunci: remaja, dismenore, antioksidan, superokside dismutase AbstractPrimary dysmenorrhoe is  a painful menstrual cramps without obvious pathology. Cramps is lasting for one day or more, accaompanied by nausea, diarrhea and headache. Problems cause by dysmenorrhea are an increase in school attendance in adolescents resulting in low academic grades of students. Superokside Dismeutase (SOD) is a bioactive ingredient that is known as antioxidants, protecting cells against harmful SOD oxidants (free radicals) SOD convert superoxide anion into hydrogen perokxide and oxygen, often call  as primary defense agains oxidative stress. Primary dysmenorrhoe increased uterine activity or increased uterine contractions cause arteriolar vasospasm resulting in ischemia and lower abdominal  cramping and increased a lots of oxygen produced. The objective of this study was to determine the differences in the levels of superoxide dismutase between adolencents with and without dysmenorrhoe. This study is a comparative observasional cross-sectional design, the study conducted at Biomedical Laboratory Medical Faculty of Andalas University in May-Juli 2014. The samples consisted two groups with 34 samples each. The level of SOD using Elisa method. Data were analyzed by Mann-whitney with p<0,05 considered statistically significant. The result obtained by the average levels of SOD adolescents who experienced dysmenorrea is 36,76u/ml, with a value of p>0,05 (0,345). The conclusion of this study is no significant difference SOD levels between adolescents with and without dysmenorrea.Keywords: adolescent, dysmenorrea, antioxidant, superoxide dismutase
Survei Larva Nyamuk Aedes Vektor Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji Kotamadya Padang Provinsi Sumatera Barat Arifudin, Muhammad; Adrial, Adrial; Rusjdi, Selfi Renita
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDemam berdarah dengue merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih ditemukan di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Kelurahan Kuranji merupakan kelurahan dengan kasus demam berdarah dengue terbanyak di Kota Padang. Tujuan penelitian ini adalah menentukan density figure (kepadatan) larva nyamuk Aedes di Kelurahan Kuranji Padang. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kuranji pada bulan April 2014. Desain penelitian adalah survei deskriptif dengan jumlah sampel 50 buah rumah yang diambil dengan cara multistage sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aedes aegypti ditemukan lebih banyak dibandingkan aedes albopictus, yaitu  97,74%. house index yaitu 52,50%, container index yaitu 34,72%,  breteau index yaitu 66,50% dan density figure yaitu 7.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aedes aegypti lebih banyak ditemukan di dalam rumah dan aedes albopictus hanya ditemukan di luar rumah. Bak mandi dari semen merupakan kontainer yang paling banyak ditemukan larva Aedes dibandingkan jenis kontainer lain.Kata kunci: dengue, aedes, density figure AbstractDengue haemorraghic fever is one of  important public health problem in Indonesia. This disease is caused by the dengue virus which is transmitted by  Aedes bytes. Kuranji is the most prevalent dengue haemorraghic fever in Padang.The objective of this study was to determine density figure in Kuranji district. This research had been held in Kuranji district in April 2014. The design was descriptive survey research method. The number of sampel was 50 that was taken by multi stage sampling method. The result showed that aedes aegypti found more than aedes albopictus, about 97.74%. house index 52.50%, container index 34.72%,  breteau index 66.50% and density figure 7. The research showed that Aedes aegypti is mostly found at house and aedes albopictus only found outdoor. The bath tank which are made from cement is the most comfortable breeding place for Aedes Aegypti rather than other containers.Keywords: dengue, aedes, density figure
Hubungan Status Gizi dengan Derajat Pneumonia pada Balita di RS. Dr. M. Djamil Padang Nurnajiah, Mia; Rusdi, Rusdi; Desmawati, Desmawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak                Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang menjadi penyebab kematian utama pada balita di dunia, terutama di negara berkembang. Salah satu faktor risiko dari pneumonia adalah status gizi yang kurang. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan status gizi dan derajat pneumonia pada balita di RS. Dr. M. Djamil Padang. Desain penelitian adalah retrospektif analitik dengan pendekatan cross-sectional dan menggunakan uji statistik Chi-square.  Pengambilan data dilakukan dari Agustus hingga September 2014 di pusat rekam medis RS. Dr. M. Djamil Padang.  Subjek penelitian adalah 105 balita yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Indikator status gizi yang digunakan adalah indkator BB/U kurva CDC rujukan WHO-NCHS. Subjek penelitian diklasifikasikan menurut derajat ringan-berat pneumonia. Sebanyak 51 balita (91,1%) dengan status gizi baik menderita pneumonia (ringan-sedang) dan 18 balita (8,9%) status gizi kurang-buruk menderita pneumonia berat. Hasil penelitian p < 0,05 menunjukkan adanya hubungan bermakna antara status gizi dengan balita penderita pneumonia. Kesimpulan  penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara status gizi dan derajat pneumonia pada balita di RS. Dr. M. Djamil Padang. Sebagian besar balita dengan pneumonia derajat berat memiliki status gizi kurang dan buruk.Kata kunci: status gizi, derajat pneumonia, balita AbstractPneumonia is an acute respiratory infection which is the leading cause of children mortality in aged less than 5 years in the world, especially in developing countries.  One of pneumonia risk factors is undernutrition. The objective of this study  was to determine the relationship between nutritional status and pneumonia severity of children aged less than 5 years in RS. Dr. M. Djamil Padang. Type of this research is analytics retrospective with cross-sectional design and chi-square statistic test. The research was held from Agustus until September 2014 in medical record centre of. Dr.  M. Djamil Padang Hospital. Subjects of this research were 105 children aged less than 5 years which are selected by inclusion and exclusion criterias. The indicator used for nutritional status was based on weight per age with CDH chart referred by WHO-NCHS. Fifty one subjects (91,1%) with pneumonia (mil to moderate) had good nutritional status and 18 subjects (8,9%) with severe pneumonia were lack in their nutritional status. The result showed a significant relationship between nutritional status and pneumonia with p < 0,05. The conclusion is that a nutritional status has significant relationship to pneumonia severity of children aged less than 5 years in Dr. M. Djamil Padang Hospital. Most of those children suffered from severe pneumonia are in undernutrition.Key words: nutritional status, pneumonia severity, children aged less than 5 years
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Usia Menarche Siswi SMP Adabiah Mutasya, Fitrah Umi; Edison, Edison; Hasyim, Hasnar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMenarche (menars) adalah haid pertama dari uterus yang merupakan awal dari fungsi menstruasi dan tanda telah terjadinya pubertas pada remaja putri. Pada dekade terakhir menunjukkan kecenderungan pergeseran usia menars ke arah umur yang lebih muda. Tujuan penelitian ini adalah menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan usia menars. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dalam bentuk rancangan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi SMP Adabiah kelas VII dan VIII tahun ajaran 2012/2013. Jumlah sampel sebanyak 72 siswi yang diambil secara Simple Random Sampling. Data dikumpulkan dengan angket dan pengukuran tinggi dan berat badan responden. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dan analisis dengan uji chi-square pada α = 0,05. Hasil penelitian didapatkan bahwa usia menars rata-rata siswi SMP Adabiah adalah 12,29 ± 0,49 tahun. Uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendapatan per kapita dan status gizi dengan usia menars sedangkan tingkan pendidikan orang tua dan paparan media massa tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan usia menars.Kata kunci: usia menars, pendapatan per kapita, status gizi AbstractMenarche is the first menstruation or bleeding of the uterus that is the beginning of the menstrual function and mark the occurrence of puberty in young girls. In the past decade shows a shift in the age of menarche trend toward younger age. The objective of this study was to determine the associated factors to age of menarche. This type of research is observational analytic with cross sectional study design. The population in this study were all junior high school students of class VII and VIII academic year 2012/2013. The total sample of 72 student were taken by simple random sampling. Data were collected by questionnaire and measurement of height and weight. Data was analyzed  by chi-square test at α = 0,005. The result showed that the average age of menarche Adabiah junior high school student was 12.29 ± 0.49 years. There is a significant correlation between the level of per capita income and nutritional status with age of menarche, while the level of parental education and exposure to mass media have no significant correlation with age of menarche.Keywords:  menarche age, per capita income, nutritional status
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Preeklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang Andriani, Cintya; Lipoeto, Nur Indrawati; Indra Utama, Bobby
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPreeklampsia merupakan penyebab utama kematian maternal selain perdarahan dan infeksi. Penyebab pasti terjadinya preeklampsia belum diketahui, namun terdapat faktor risiko yang mempengaruhi kejadian preeklampsia. Di RSUP Dr. M Djamil Padang terjadi peningkatan kasus preeklampsia setiap tahunnya dari tahun 2008-2012. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kejadian preeklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian dilakukan di bagian Rekam Medis dengan menggunakan desain cross sectional study komparatif terhadap 46 pasien preeklampsia dan 46 ibu hamil yang tidak preeklampsia yang bersalin di RSUP Dr. M. Djamil Padang dalam kisaran tahun 2011-2013. Hasil analisis univariat menunjukkan nilai rerata IMT sebelum hamil pada pasien preeklampsia dengan nilai 24,15 kg/m2 berada pada kategori overweight, sedangkan ibu hamil yang tidak preeklampsia berada pada kategori normal, dengan nilai rerata IMT 22,3 kg/m2. Berdasarkan analisis bivariat menggunakan Mann Whitney tes diperoleh nilai P: 0,014 (P<0,05). Kesimpulan penelitianini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian preeklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang.Kata kunci: preeklampsia, faktor risiko, indeks massa tubuh AbstractPreeclampsia is the leading cause of maternal death in addition to bleeding and infection. The exact cause of preeclampsia still unknown, but there are risk factors that affect the preeclampsia’s incident. There was an increase of preeclampsia’s case in RSUP Dr. M. Djamil Padang each year from 2008-2012. The objective of this study was to determine the correlation between Body Mass Indeks (BMI) and preeclampsia’s incident in RSUP Dr. M. Djamil Padang. The research was done at medical records department using cross sectional study comparative’s design toward 46 preeclamptic patients and 46 pregnant women who did not preeclampsia, which gave birth in RSUP Dr. M. Djamil Padang on the range 2011-2013. Results of univariate analysis showed that BMI average value of patients with preeclampsia before pregnant were in overweight category (24,15 kg/m2), whereas pregnant women who did not preeclampsia are in normal category (22,3 kg/m2). Based on bivariate analysis using the Mann Whitney test, p value was obtained 0,014 (P<0,05). The conclusion is there’s significant correlation between BMI with preeclampsia’s incident in RSUP Dr. M. Djamil Padang.Keywords: preeclampsia, risk factors, body mass indeks