cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 31 Documents
Search results for , issue " Vol 7 (2018): Supplement 2" : 31 Documents clear
CHRONIC MIELOMONOSITIC LEUKEMIA PADA USIA MUDA Lunesia, Rangga; Wahid, Irza
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chronic Mielomonositic Leukemia (CMML) adalah keganasan heterogen yang ditandai dengan monositosis di darah perifer (>1x109/L), terdapat kelainan mielodisplastik dan mieloproliferatif di sumsum tulang, dan memiliki kecendrungan untuk bertransformasi menjadi leukemia myeloid akut. Angka kejadian CMML sangat jarang, di Indonesia tercatat hanya 2,5 % kasus dari keseluruhan MDS. Pengobatan pada MP-CMML dengan jumlah blast sedikit adalah pemberian terapi sitoreduktif yaitu hydroxyurea yang bertujuan mengontrol proliferasi myelomonositic sel dan mengurangi organomegali. Telah dilaporkan suatu kasus laki-laki 28 tahun dengan keluhan pucat. Pada pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva anemis dan splenomegali. Pemeriksaan laboratorium didapatkan hemoglobin 6.5 gr/dl, leukosit: 93.540/mm3, hitung jenis: 1/0/6/42/8/27. Pemeriksaan BMP menunjukkan aktivitas Granulopoeitik: meningkat, ditemukan mieloblast 3%, Promielosit 3%, monoblast 2%, Promonosit 1%, dominasi monosit 33%, ditemukan juga dysplasia seperti pseudo pelgerhuet, dengan kesan sesuai gambaran Chronic Mielomonositic Leukemia. Pada pasien ini dengan jumlah leukosit > 13 x 109/L termasuk kedalam MP-CMML diberikan terapi hydroxyurea. Follow up setelah pemberian terapi Hb 8.8 gr/dl, Leukosit 38.200/mm3, pada hitung jenis: 0/1/5/45/7/23.
Gambaran Morfologi Eritrosit Packed Red Cell Berdasarkan Waktu Penyimpanan Di Bank Darah RSUP Dr. M. Djamil Padang Isti, Risma; Rofinda, Zelly Dia; Husni, Husni
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Packed red cell (PRC) merupakan komponen darah terbanyak yang digunakan dalam transfusi dan dapat disimpan sekitar tiga puluh lima hingga empat puluh dua hari di bank darah. Penyimpanan PRC mengakibatkan jejas penyimpanan, yaitu perubahan morfologi eritrosit, deformabilitas, fragilitas osmotik, kemampuan untuk agregasi, dan viskositas intraseluler. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran morfologi eritrosit PRC berdasarkan waktu penyimpanan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang pada tujuh sampel PRC. Tiap sampel diperiksa pada hari penyimpanan ke nol, tujuh, empat belas, dua puluh satu, dan dua puluh delapan. Penelitian dilaksanakan mulai September 2016 hingga Agustus 2017. Pemeriksaan morfologi eritrosit dilihat dari sediaan hapus darah tepi dengan menghitung bentuk eritrosit abnormal per 1.000 eritrosit. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Penelitian ini dilakukan pada tujuh sampel PRC yang berasal dari tujuh donor, terdiri dari enam donor laki-laki (85,7%) dan satu orang donor perempuan (14,3%). Rerata umur pendonor ialah 29 (5) tahun. Rerata kadar Hb pendonor ialah 14,5 (1,2) g/dL. Rerata kadar Hb sampel ialah 21,2 (2,5) gr/dL.Perubahan bentuk diskoid menjadi bentuk sfero-ekinosit didapatkan pada seluruh sampel penelitian. Perubahan bentuk eritrosit semakin meningkat seiring dengan waktu penyimpanan. Penyimpanan eritrosit mengakibatkan adanya perubahan morfologi eritrosit, yaitu perubahan bentuk eritrosit normal dari diskoid menjadi sfero-ekinosit. Penelitian lain diperlukan untuk mengetahui perubahan morfologi eritrosit dengan waktu penyimpanan berbeda lainnya dan adanya penelitian lanjutan untuk mengetahui korelasi antara parameter eritrosit dengan jejas penyimpanan.
Imunopatogenesis dan Implikasi Klinis Alergi Makanan pada Dewasa Kam, Alexander; Raveinal, Raveinal
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alergi makanan adalah gangguan kesehatan yang timbul akibat respon imun spesifik terhadap makanan. Prevalensi alergi makanan pada anak adalah 6%, sementara pada dewasa 3 – 4%. Strategi pencegahan alergi makanan yang belum optimal menjadi salah satu penyebab insiden yang terus meningkat. Imunopatogenesis pada alergi makanan melibatkan reaksi antara alergen dengan antibodi yang dimediasi oleh immunoglobulin E, non-immunoglobulin E, atau kedua-duanya. Implikasi klinis alergi makanan pada dewasa bisa mengenai sistem gastrointestinal, kutaneus, respirasi, dan sistemik. Standar baku emas diagnosis alergi makanan adalah oral food challenge. Tatalaksana yang paling tepat adalah menghindari faktor pencetus. Terapi spesifik dan nonspesifik terhadap alergen dapat diberikan walaupun masih dalam perdebatan.
Neurofibroma Telinga Tengah dengan Otitis Media Supuratif Kronis Pramita, Arsia Dilla; Munilson, Jacky; Edward, Yan
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Neurofibroma adalah tumor saraf yang cukup sering dijumpai, tetapi hanya beberapa kasus yang melibatkan telinga tengah yang pernah dilaporkan. Kasus: Dilaporkan seorang perempuan berusia 51 tahun dengan keluhan telinga kiri berair, hilang timbul sejak 30 tahun yang lalu. Pasien dilakukan tindakan timpanomastoidektomi dinding utuh telinga kiri, intraoperatif ditemukan jaringan granulasi beserta jaringan berpapil-papil di liang telinga. Hasil patologi anatomi adalah neurofibroma dengan kalsifikasi. Kesimpulan: Neurofibroma merupakan suatu tumor yang dapat muncul dimana saja di tubuh. Adanya neurofibroma bersamaan dengan OMSK diduga akibat peranan inflamasi yang mencetuskan timbulnya tumor. Tatalaksana dan follow up yang baik dapat memberikan hasil yang memuaskan.
Perbandingan Kadar Ureum dan Kreatinin Serum Masyarakat Terpapar dengan Tidak Terpapar Emisi Pabrik PT. Semen Padang Purwinanty, Mira; Yaswir, Rismawati; Efrida, Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Emisi pabrik semen tidak hanya berisiko pada pekerja di pabrik semen, tetapi berdampak pada penduduk yang tinggal di daerah sekitarnya. Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa konsentrasi PM (particulate matter) di udara memiliki korelasi dengan tingkat mortalitas dan morbiditas. Emisi pabrik semen terutama particulate matter bersifat nefrotoksik. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan kadar ureum dan kreatinin masyarakat yang terpapar dengan tidak terpapar emisi pabrik semen. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan potong lintang terhadap 152 subjek terpapar dan 169 subjek tidak terpapar dari bulan Juni 2015-September 2016. Parameter yang diperiksa adalah ureum menggunakan metode enzimatik (glutamat dehidrogenase) dan pemeriksaan kreatinin menggunakan metode kolorimetri (Jaffe). Hasil pemeriksaan dianalisis menggunakan uji t, bermakna bila p <0,05. Subjek penelitian daerah terpapar terdiri dari laki-laki 33 orang (21,7%) dan perempuan 119 orang (78,3%) dengan rentang umur 19-75 tahun sedangkan daerah tidak terpapar terdiri dari laki-laki 18 orang (10,7%) dan perempuan 151 orang (89,3%) dengan rentang umur 20-80 tahun. Kadar rerata ureum daerah terpapar 17,53(6,7) mg/dL dan kadar rerata ureum daerah tidak terpapar 17,22(5,1) mg/dL, hasil statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05). Kadar rerata kreatinin daerah terpapar 0,85(0,3) mg/dL dan kadar rerata kreatinin daerah tidak terpapar 0,79(0,2) mg/dL, hasil statistik menunjukkan perbedaan bermakna (p <0,05). Kadar kreatinin pada masyarakat terpapar emisi pabrik PT. Semen Padang lebih tinggi tetapi masih dalam batas normal sedangkan kadar ureum tidak menunjukkan perbedaan. Penelitian kohort prospektif diperlukan untuk mendapatkan gambaran perjalanan penyakit berdasarkan lama paparan.
Indikasi dan Persiapan Hemodialis Pada Penyakit Ginjal Kronis Zasra, Radias; Harun, Harnavi; Azmi, Syaiful
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah kelainan struktural atau fungsi yang terjadi lebih dari 3 bulan dan mempunyai implikasi terhadap kesehatan serta diklasifikasikan berdasarkan penyebab, laju flitrasi glomerulus (LFG) dan albuminuria. Komplikasi serius yang ditimbulkan PGK dapat berupa malnutrisi, kelebihan cairan, perdarahan, serositis, depresi, gangguan kognitif, neuropati perifer, infertilitas dan Infeksi. Untuk mencegah komplikasi tersebut, diperlukan indikasi dan waktu yang tepat untuk memulai terapi dialisis pada pasien PGK.
Biomarker Acute Kidney Injury (AKI) pada Sepsis Setiawan, Dional; Harun, Harnavi; Azmi, Syaiful; Priyono, Drajad
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepsis didefinisikan sebagai infeksi bersama dengan manifestasi sistemik dari infeksi. Sepsis berat adalah penyebab 50% kasus acute kidney injury (AKI) pada pasien kritis. Patofisiologi cedera ginjal akut (AKI) pada sepsis disebabkan oleh respon inflamasi, toksin dan perubahan hemodinamik glomerulus. Tingkat keparahan disfungsi ginjal tergantung pada tingkat keparahan sepsis. Perubahan laju filtrasi glomerulus (GFR) adalah fenomena AKI yang terlambat. Diagnosis AKI dengan mengukur kreatinin serum. Sayangnya, kreatinin adalah indikator yang kurang dapat diandalkan selama perubahan akut pada fungsi ginjal. Munculnya penanda biologis baru dalam lingkup AKI sangat membantu bagi dokter untuk dapat mendiagnosa awal AKI. Penanda biologis AKI bisa menjadi komponen serum atau urin. Penanda biologis urin menjanjikan untuk mendeteksi awal AKI, sehingga dapat berguna untuk diagnosis dini.
Diagnosis dan Penatalaksanaan Abses Retrofaring pada Dewasa Morina, Elniza; Novialdi, Novialdi; Asyari, Ade
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Abses retrofaring pada dewasa jarang ditemukan, biasanya sering pada anak-anak karena terdapat kelenjar limfe retrofaring. Penyebab abses retrofaring pada dewasa diantaranya trauma, penetrasi benda asing, tuberkulosis dan faktor predisposisi seperti diabetes dan imunodefisiensi. Komplikasi bisa terjadi ruptur, obstruksi jalan nafas atas, perluasan abses ke mediastinum dan perluasan ke ruang leher dalam lainnya. Penatalaksanaan dengan cara insisi dan ekplorasi abses dan pemberian antibiotik yang adekuat. Laporan Kasus: Telah dilaporkan satu kasus abses retrofaring pada dewasa. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, radiologi dan aspirasi abses. Penatalaksanaan pada pasien ini dilakukan insisi dan ekspolorasi abses dan pemberian antibiotik untuk kuman aerob dan anaerob. Kesimpulan : Abses retrofaring pada dewasa bisa disebabkan oleh trauma tanpa adanya penetrasi benda asing di tenggorok, sehingga pasien sering mengabaikannya.
Hubungan ICH Score dengan Outcome Fungsional (Setelah 3 Bulan) Putra, Fanel; Frida, Meiti; Ahmad, Basjiruddin
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: ICH score adalah skala penilaian klinis yang umum digunakan dalam menentukan outcome setelah perdarahan intraserebral akut (PIS) dan telah divalidasi untuk memprediksi kematian setelah 30 hari, tetapi tidak untuk outcome fungsional jangka panjang.Tujuan Penelitian: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai apakah ICH score bisa digunakan dalam menilai outcome fungsional selama 3 bulan dan untuk menggambarkan kecepatan pemulihan pasien setelah PIS pada 3 bulan pertama.Metode: Kami melakukan penelitian kohort prospektif observasional dari semua pasien PIS dengan PIS akut yang diterima IGD Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang dan sudah dilakukan Brain CT Scan tanpa kontras dari tanggal 1 Juni 2014 hingga 20 Juli 2014. Komponen ICH score (skor Glasgow Coma Scale pada saat masuk, volume hematoma awal, adanya perdarahan intra ventrikel, perdarahan infratentorial dan usia) dicatat bersama dengan karakteristik klinis lainnya. Pasien kemudian dinilai dengan modified Rankin Scale (mRS) saat pulang dari rumah sakit, 30 hari serta 2 dan 3 bulan setelah keluar dari rumah sakit.Hasil: Dari 26 pasien, 11 (42%) pasien meninggal selama perawatan di rumah sakit pada awal fase akut. ICH score bisa digunakan dalam menilai outcome fungsional (mRS) selama 3 bulan (p<0,05) dengan menggunakan uji korelasi Spearman (SPSS 15). Beberapa pasien menunjukkan perbaikan pada 3 bulan pertama, dengan sejumlah kecil pasien menjadi cacat atau mati karena komplikasi yang tidak berhubungan dengan PIS akut.Kesimpulan: ICH score adalah skala penilaian klinis yang bisa digunakan untuk menilai outcome fungsional jangka panjang setelah PIS. Beberapa pasien PIS membaik setelah keluar rumah sakit dan perbaikan ini berlanjut sampai 3 bulan setelah keluar dari rumah sakit.
Miokarditis Difteri Suchyar, Uvitha Yulistin; Hariyanto, Didik
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Miokarditis difteri terjadi pada 10-20% pasien yang awalnya dengan orofaringitis. Secara umum, miokarditis difteri mempunyai angka kematian ± 60%, dan penyumbang sebagian besar kematian yang berhubungan dengan difteri. Manifestasi utama dari miokarditis difteri adalah kardiomiopati dilatasi dan berbagai jenis disritmia serta gangguan konduksi. Penggunaan alat pacu jantung sementara dalam pengobatan miokarditis difteri dapat memberikan manfaat untuk pasien dengan blok jantung derajat dua. Setidaknya >25% dari anak-anak dan remaja selamat setelah pemasangan alat pacu jantung sementara untuk pengobatan gangguan konduksi yang berat dalam hubungan dengan miokarditis difteri.

Page 1 of 4 | Total Record : 31