cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 19 Documents
Search results for , issue " Vol 8 (2019): Supplement 1" : 19 Documents clear
Pengaruh Pemberian Air Rendaman Rumput Fatimah (Anastatica Hierochuntica) Terhadap Kadar Hormon Oksitosin dan Hormon Prolaktin Pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Menyusui Perbandingan Safitri, Yunni; Afriwardi, Afriwardi; Yantri, Eny
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8 (2019): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumput fatimah (Anastatica Hierochuntica) mengandung senyawa fitokimia seperti alkaloid, tanin, dan flavonoid yang merupakan bagian fitoestrogen. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pemberian air rendaman rumput fatimah (Anastatica Hierochuntica) terhadap hormon oksitosin dan hormon prolaktin pada tikus putih (Rattus Norvegicus) menyusui. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan desain Post-Tes Only Control Group. Jumlah sampel 32 tikus menyusui yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakukan P1, P2 dan P3 yang masing–masing diberi 10gr, 20gr dan 40gr rendaman Anastatica Hierochuntica. Penelitian dilakukan di Labor Farmasi dan Biomedik Universitas Andalas. Hormon oksitosin dan hormon prolaktin diukur dengan mengunakan metode ELISA. Uji statistik menggunakan uji Shapiro Wilk untuk mengetahui normalitas data, dilanjutkan One Way ANOVA dan untuk mengetahui perbedaan pada kelompok digunakan uji Multiple Comparisons (post hoc test) jenis Bonferroni. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan signifikan (p<0,05) kadar hormon oksitosin antara kelompok kontrol (56,604±10,907) dengan kelompok P2 (44,095±6,117). Pada hormon prolaktin juga berbeda secara bermakna (p<0,05) antara kelompok kontrol (11,794±1,633) dengan kelompok P3 (16,991±3,735). Terdapat perbedaan yang bermakna terhadap pemberian air rendaman rumput fatimah (Anastatica Hierochuntica) terhadap hormon oksitosin dan hormon prolaktin pada tikus putih (Rattus Norvegicus) menyusui.
Invasive Carcinoma Mammae dengan Metastasis Orbita, Tulang, dan Paru Avryna, Putri; Wahid, Irza; Fauzar, Fauzar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8 (2019): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Carcinoma mammae (kanker payudara) merupakan penyakit keganasan yang paling banyak terjadi pada wanita di negara berkembang dan merupakan penyebab kematian wanita kedua di Amerika Serikat.Pada tahun 2014, terdapat 232.000 kasus baru pada wanita di Amerika Serikat dan dengan angka kematian 40.000 jiwa. Invasive breast carcinoma paling banyak berasal dari epitel duktus dan lebih dari 75% merupakan invasive ductal carcinoma not otherwise specified (IDC-NOS). Angka kejadian metastasis orbita 2-9% dari semua kasus keganasan pada dewasa dan 8-10% berasal dari kanker payudara. Pada kasus ini, wanita 36 tahun datang dengan keluhan sesak napas dan terdapat benjolan pada mata kiri sejak 2 bulan yang lalu. Pasien telah dikenal menderita Ca Mammae dengan hasil biopsy jaringan ditemukan invasive carcinoma mammae of no special type (NST) Grade II sejak 1,5 tahun sebelumnya, namun menolak pengobatan dan kemoterapi. Saat ini telah terjadi metastasis di orbita, metastasis tulang dan paru. Pasien diberikan kemoterapi dengan regimen Carboplatin (AUC 6) dan Paclitaxel 170 mg/m2 dan mengalami perbaikan secara signifikan.
Hiper IgE dengan Nekrolisis Epidermal Toksik Ramdhany, Adrian; Raveinal, Raveinal
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8 (2019): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hiper IgE (HIES) disebut juga sindroma Ayub adalah gangguan komplek imun primer yang ditandai dengan dermatitis atopik seperti dikulit yang berhubungan dengan peningkatan IgE serum yang sangat tinggi, dan kerentanan terhadap infeksi bakteri dan jamur. Kelainan non imun yang terjadi termasuk tampilan wajah yang khas, fraktur setelah truma ringan, skoliosis, hiperextensive sendi, dan retensi gigi sulung. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mutasi dominan terjadi pada sinyal tranduser dan aktivator transkripsi 3 (STAT 3), sedangkan defisiensi gen tirosin kinase 2 (TYK2) menyebabkan HIES autosomal resesif terkait dengan virus dan infeksi mikrobakteri. Dalam kedua kondisi tersebut, sinyal transduksi untuk beberapa toksin, termasuk IL-6 dan IL-23 adalah cacat, sehingga fungsi TH17 terganggu. Temuan ini menunjukkan bahwa cacat dalam sinyal sitokin merupakan dasar molekuler untuk kelainan imunologi dan nonimunologi yang diamati pada HIES. Nekrolisis epidermal toksik ditemukan pertama kali pada tahun 1956, sebanyak 4 kasus oleh Alana Lyell, penyakit ini biasanya juga disebut sindrom Lyell. Lyell menggunakan istilah ‘nekrolisis’ dengan menggabungkan gejala klinis epidermolisis dengan gambaran histopatologi ‘nekrosis’. Penyebab NET belum jelas, tetapi obat-obatan (sulfonamid dan butazones) dan spesies Staphylococcus merupakan penyebab utama. Akibatnya, istilah-istilah seperti ‘staphylococcal-induced toxic epidermal necrolysis’ dan ‘drug-induced scalded skin syndrome’ menang selama beberapa dekade, tetapi sekarang dipisahkan karena terapi dan prognosisnya berbeda. Oleh karena itu nekrolisis epidermal toksik atau NET merupakan penyakit erupsi kulit yang umumnya timbul akibat obat-obatan dengan lesi berupa bulla, dengan penampakan kulit seperti terbakar yang menyeluruh.
Tren Kasus Tuberkulosis Anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2014-2016 Noviarisa, Nurul; Yani, Finny Fitry; Basir, Darfious
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8 (2019): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian. Insiden TB anak sekitar 6% dari semua kasus TB namun spektrum penyakit TB anak masih belum jelas. Tujuan penelitian ini menggambarkan profil demografi, spektrum penyakit, dan respon pengobatan seluruh anak dengan TB pada 3 tahun terakhir di Rumah Sakit dr M Djamil Padang. Metode: Studi ini merupakan penelitian retrospektif terhadap semua anak menderita TB di Rumah Sakit Dr. M. Djamil pada tahun 2014-2016. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien. Hasil: Terdapat 198 anak dengan diagnosis TB, 114 pasien rawat jalan dan 84 pasien rawat inap. Sebagian besar berusia 5-9 tahun (40,9%), laki-laki 66,7% dan 78,8% berstatus sosial ekonomi rendah. TB paru lebih banyak ditemukan pada pasien rawat jalan daripada rawat inap (69,3% vs 15,5%), TB ekstraparu lebih banyak ditemukan pada pasien rawat inap (84,5% vs 30,7%). Penyakit penyerta tersering adalah HIV (6,6%). Gejala terbanyak pada pasien rawat inap adalah penurunan kesadaran (67,9%) sedangkan pasien rawat jalan adalah penurunan berat badan (43,9%). Temuan tes tuberkulin positif hampir sama pada pasien rawat jalan dan rawat inap (48,2% vs 45,2%). Riwayat kontak TB ditemukan pada 43,9% kasus. Rontgen toraks dengan gambaran TB ditemukan pada 92,4% kasus. 78,3% kasus pulih paska 6 bulan pengobatan, 21% pulih dengan pengobatan tambahan, yang lainnya pindah ke pelayanan kesehatan primer dan putus obat. Efek samping obat terjadi pada 6,6% kasus, 6,6% kasus meninggal. Kesimpulan: Terdapat variasi spektrum klinis yang luas pada TB anak, data surveilans yang komprehensif sangat berguna untuk menentukan kebijakan berikutnya untuk menurunkan insiden TB.
AN ELDERLY PATIENT WITH BILATERAL INTRACRANIAL CALCIFICATION AND SEIZURE Sari, Marina Anggun; Frida, Meiti; Ahmad, Basjiruddin
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8 (2019): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan neurologis terkait usia seperti gangguan serebrovaskular dan neurodegeneratif merupakan faktor etiologi yang paling umum untuk kejang pada orang tua. Sindrom Fahr merupakan gangguan neurodegeneratif yang jarang terjadi, ditandai dengan deposit kalsium simetris pada kedua hemisfer otak, kebanyakan kasus muncul dengan gejala ekstrapiramidal. Seorang pasien wanita usia 64 tahun dirawat dengan kejang umum tonik klonik 12 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien memiliki riwayat kejang 1 bulan sebelumnya, tetapi tidak mengkonsumsi obat-obatan. Karena kekakuan pada semua ekstremitas, gerakan yang menjadi lambat, dan perubahan perilaku, pasien lebih sering berbaring di tempat tidur dengan ketergantungan penuh pada aktivitas sehari-hari sejak 1 tahun yang lalu. Pasien memiliki riwayat operasi gondok 30 tahun yang lalu. Pada Brain CT Scan didapatkan kalsifikasi intrakranial bilateral di ganglia basal, periventrikel, subkortikal, serebelum tanpa perifokal edema, dengan kadar kalsium darah yang rendah (3,6 mg/dl) dan kadar PTH yang sangat rendah (1,55 pg/ml) yang menunjukkan sindrom Fahr. Pasien mendapatkan terapi antikonvulsan, suplemen kalsium dan calcitriol. Sindrom Fahr harus dipertimbangkan pada pasien dengan manifestasi kejang yang berhubungan dengan kalsifikasi intrakranial, meskipun kasus ini jarang terjadi.
Pleuropericardial Effusion Tuberculosis Fatmasari, Afni; Fauzar, Fauzar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8 (2019): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pleuropercardial Effusion Tubercullosis adalah suatu keadaan dimana meningkatnya jumlah cairan di kavum pleura dan rongga perikardium yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tubercullosis. Keadaan ini disebut dengan tuberkulosis ekstraparu dan merupakan kasus yang jarang terjadi. Telah dilaporkan laki-laki 57 tahun dengan keluhan utama sesak nafas sejak 1 bulan yang meningkat 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Batuk dan berkeringat malam sejak 9 bulan yang lalu, sudah dilakukan pemeriksaan BTA sputum dengan hasil negatif yang tidak sembuh dengan pemberian anti biotik. Pada pemeriksaan fisik dan rontgent dada terdapat efusi pleura dan kardiomegali, dari ekokardiografi terdapat efusi perikardium. Cek ADA pada cairan efusi perikardium didapatkan hasil 168,2 U/L, analisis cairan pleura yaitu eksudat, LDH 275, jumlah sel 600, MN 60 %, dan BTA cairan pleura negatif. Pasien diterapi dengan obat anti tuberkulosis kategori 1 selama 9 bulan dan kortikosteroid.
Eklampsia Antepartum pada G5P4A0H3 Gravid Preterm 33-34 Minggu + Sindrom HELLP + AKI + IUFD Triana, Esfi; Syahredi, Syahredi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8 (2019): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan komplikasi medis yang paling sering ditemukan selama kehamilan. Sebagai penyumbang yang bermakna terhadap morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal, hipertensi diperkirakan telah menjadi komplikasi pada sekitar 7% sampai 10% dari seluruh kehamilan. Preeklamsia dan eklamsia merupakan penyebab dari 30-40 % kematian perinatal dan merupakan salah satu komplikasi obstetri yang banyak menimbulkan morbiditas dan mortalitas selain perdarahan dan infeksi.Preeklamsia adalah suatu sindroma penyakit yang bersifat polimorfik sehingga semua organ dapat terlibat, sedangkan eklamsia di sertai kejang pada preeklamsia tanpa adanya penyebab lain. Berikut akan dibahas kasus seorang wanita usia 29 tahun dengan diagnosis penurunan kesadaran ec eklampsia antepartum pada G5P4A0H3 gravid preterm 33-34 minggu + HELLP sindrom + AKI + IUFD
Tuberculous Addison’s Disease Efendi, Yanne Pradwi; Decroli, Eva
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8 (2019): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberculous addison’s disease merupakan insufisiensi adrenal primer akibat infeksi tuberkulosis pada kelenjar adrenal. Manifestasi klinisnya meliputi kelemahan, kelelahan, anoreksia, penurunan berat badan, hipotensi ortostatik, dan hiperpigmentasi kulit. Tuberkulosis adalah penyebab yang paling utama di negara berkembang. Dilaporkan seorang wanita dua puluh delapan tahun dengan keluhan kulit seluruh tubuh semakin menghitam disertai bercak-bercak kehitaman pada lidah, dan seringkali merasa lemah, letih, lesu. Riwayat penyakit dahulu: TB paru satu setengah tahun yang lalu. Pemeriksaan fisik: nadi enam puluh tujuh kali per menit, tekanan darah 100/60 mmmHg, hiperpigmentasi pada kulit, bibir, kuku, dan lidah. Laboratorium disimpulkan hiperadrenokortitropin dan hipokortisolisme. CT Scan adrenal: pembesaran kelenjar adrenal bilateral disertai kalsifikasi multipel, sugestif tuberkulosis. Pasien didiagnosis insufisiensi adrenal primer akibat tuberkulosis. Terapi yang diberikan metilprednisolon 1x6 mg. Pada pasien terjadi perbaikan klinis dan parameter laboratoris. Hiperpigmentasi, lemah, letih, lesu, dan anoreksia ditemukan pada sebagian besar pasien addison’s disease. Untuk penelusuran penyebab insufisiensi adrenal primer, dilakukan CT Scan adrenal. Gambaran khas TB adrenal pada CT Scan adalah berupa pembesaran kelenjar adrenal, kalsifikasi dengan central low attenuation, dan peripheral enhancement. Terapi adalah terapi substitusi yang merupakan lifelong hormone therapy.
Penggunaan Workflows Dalam Aplikasi Bioinformatika Geneious Untuk Menganalisis Data Genomik Maisa, Benny Alexander
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8 (2019): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan penelitian biomolekuler yang meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir memberikan dampak peningkatan kebutuhan teknologi komputasi untuk menganalisis data genomik. Hasil penelitian berupa data digital yang berukuran sangat besar membutuhkan bantuan teknologi komputer untuk menyediakan berbagai solusi penyelesaian. Cabang ilmu bioinformatika, yang merupakan kombinasi cabang ilmu biologi, ilmu komputer, sistem informasi, matematika, kedokteran, farmakologi, fisika, kimia, dan statistik; memberikan solusi dengan beragam aplikasi untuk berbagai kebutuhan analisis genomik. Tinjauan pustaka ini bertujuan menunjukkan penggunaan workflows dalam aplikasi bioinformatika Geneious untuk menganalisis data genomik. Geneious adalah sebuah aplikasi bioinformatika user-friendly yang mengintegrasikan berbagai aplikasi analisis data genomik. Geneious menyediakan workflows standar siap pakai dan memberikan fitur pembuatan workflows sesuai dengan kebutuhan metode penelitian bioinformatika. Penggunaan workflows memberikan efisiensi bagi peneliti terutama dalam menganalisis data genomik dalam ukuran besar dan memerlukan integrasi beberapa aplikasi bioinformatika untuk proses analisis dan interpretasi.
Gambaran Polifarmasi Pasien Geriatri Dibeberapa Poliklinik RSUP Dr. M. Djamil Padang Zulkarnaini, Aryaldi; Martini, Rose Dinda
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8 (2019): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Polifarmasi adalah penggunaan lebih atau sama 5 macam obat secara bersamaan setiap hari. Paling sering disalahgunakan sebagai terapi untuk masalah kesehatan pada pasien geriatri. Penyakit kronik pada pasien geriatri menyebabkan meningkatnya jumlah peresepan obat yang diberikan kepada pasien. Reaksi efek samping obat, termasuk interaksi obat pada pasien geriatri yang merupakan masalah umum terjadi di rumah sakit dan merupakan penyebab penting pada tingkat morbiditas dan mortalitas. Tujuan dari peneliti adalah mengetahui gambaran penyakit kronis yang multipatologis dengan prevalensi polifarmasi pada pasien geriatri di poliklinik rawat jalan RSUP M. Djamil Padang. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat observasional. Populasi sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien geriatri (usia ≥ 60 tahun) yang datang ke Instalasi rawat jalan. Terdapat sebanyak 360 (58.25%) laki-laki dan 258 (41.75%) perempuan dari 618 pasien. Kami menemukan polifarmasi pada 400 pasien (64.72%). Kesimpulan penelitian ini polifarmasi sangat berhubungan erat dengan tingginya morbiditas penyakit. Penyakit jantung memiliki tingkat yang tinggi untuk polifarmasi.

Page 1 of 2 | Total Record : 19