cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 7 (2018): Supplement 1" : 10 Documents clear
Irvine-Gass Syndrome Helvinda, Weni; Puteri, Elfi Risalma
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

CME merupakan penebalan retina lokal dimana cairan terakumulasi dalam ruang kistik pada lapisan luar retina di makula. Irvine Gass Syndrome merupakan CME yang terjadi setelah operasi katarak yang ditandai dengan cystoid multipel pada makula. Tujuan: Untuk melaporkan kasus Irvine Gass Syndrome. Hasil: Laki-laki 60 tahun dengan visus mata kanan 5/60, IOL pada posterior chamber dengan PCO. Pada funduskopi terdapat edema makula. OCT ditemukan CME. Pada pasien dilakukan ECCE 4 bulan sebelumnya. Pseudofakic CME dapat muncul paling cepat 3 minggu dan paling lambat 6 bulan setelah operasi. CME didefinisikan jika visus 20/40 atau lebih buruk disertai ruang cystoid. OCT menunjukkan hyporeflektif di dalam retina, dengan penebalan makula. Perubahan ketebalan makula ≥40μm merupakan indeks OCT significant macular edema. Pasien diberikan NSAIDs topikal yang menghambat cyclooxygenase yang berperan dalam biosintesa prostaglandin karena patogenesa Irvine Gass syndrome disebabkan oleh inflamasi. Setelah itu visus membaik dan pada OCT terdapat pengurangan ketebalan makula. Pasien juga diberikan Carbonic anhidrase inhibitor oral yang menstimulasi pompa RPE untuk mengurangi cairan di macula. Kesimpulan: Pada Kasus ini Pseudofakic CME terjadi 12 minggu setelah operasi katarak. Terdapat respon terapi yang baik dengan NSAIDs topikal, kortikosteroid oral dan Carbonic Anhidrase Inhibitor.
Profil Retinopathy Hipertensi di Rumah Sakit Dr. M Djamil Padang Rahman, Khalilul; Yusticia, Rahmi Yolla
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan:Retinopati hipertensi adalah kondisi yang ditandai perubahan dengan vascular pada pasien dengan peningkatan tekanan darah. Perubahan vaskular retina pada hipertensi secara umum dapat diklasifikasikan menjadi perubahan arteriolar dan lesi retinopati yang lebih lanjut. Tujuan:Untuk mengetahui profil retinopati hipertensi di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode:Semua pasien hipertensi dari Bagian Ilmu Penyakit Dalam yang berobat kepoli mata sejak Juli – September 2012. Hasil: Dari 86 pasien, 38 orang (44,19%) didiagnosa sebagai Retinopati Hipertensi Keith Wagenergrade II, 23,6% grade I, 18,61% tidak ada tanda Retinopati Hipertensi, dan tidak ada yang didiagnosis dengan grade IV. Berdasarkan kelompok umur,didapat 40 pasien laki-laki dan 46 perempuan dengan frekwensi terbanyak pada 51-60 tahun 34 orang, terutama pada Grade II sebanyak 19 orang. Berdasarkan riwayat hipertensi terbanyak pada kelompok umur 5-10 tahun adalah 20 orang. Hanya 49 kaus (56,98%) yang terkontrol dengan obat. Jika berdasarkan penyakit sistemik lainnya, terbanyak dengan diabetes melitus 33,72%. Berdasarkan faktor resiko yang didapat dislipidemia merupakan faktor resiko terbanyak yaitu 50 orang (44,64%). Diikuti 33 orang (29,46%) perokok. Distribusi BMI didapatkan normal pada38 orang (44,19%). Pasien yang tidak melakukan olahraga sebanyak 60 orang (69,76%). Kesimpulan:Retinopati hipertensi KW II adalah kasus yang paling banyak ditemukan dengan riwayat hipertensi selama 5-10 tahun. Faktor risiko utamaadalahdislipidemiadanumur rata-rata yaitu 51-60 tahun.
Pemeriksaan Tajam Penglihatan pada Anak dan Refraksi Siklopegik: Apa, Kenapa, Siapa? Julita, Julita
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tajam penglihatan merupakan indikator primer kesehatan mata dan sistem visual. Tajam penglihatan didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk melihat suatu objek. Pemeriksaan tajam penglihatan pada anak-anak memerlukan teknik, metode tertentu, dan tergantung kondisi pasien. Pemeriksaan refraksi yang dilakukan pada anak-anak dengan menggunakan siklopegik. Metode: Studi tinjauan pustaka dari berbagai literatur. Hasil: Pemeriksaan tajam penglihatan anak pada usia preverbal (kurang dari 2,5 tahun) yaitu dapat dilakukan dengan observasi, fiksasi, oftalmoskopi, refleks pupil, optokinetic nystagmus test (OKN), the prefential looking test, dan visual evoked potential (VEP). Sedangkan pemeriksaan tajam penglihatan pada anak usia verbal (lebih dari 2,5 tahun) yaitu dengan menggunakan optotype seperti Allen card, HOTV card, LEA symbol, E chart, dan Snellen chart. Refraksi siklopegik merupakan gold standard pemeriksaan refraksi pada anak karena dapat mencegah akomodasi sehingga dapat menghindari terjadinya kesalahan hasil pemeriksaan refraksi pada anak. Kesimpulan: Pemeriksaan tajam penglihatan pada anak dapat dibedakan berdasarkan usia yaitu preverbal dan verbal. Refraksi siklopegik merupakan gold standard pemeriksaan refraksi pada anak.
Tampilan Klinis pada Glaukoma Primer Sudut Terbuka di RSUP DR M Djamil Padang Ilahi, Fitratul; Vera, Vera
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lebih dari 3 juta orang buta bilateral karena POAG di seluruh dunia, dan lebih dari 2 juta orang mengalami POAG setiap tahunnya. POAG yang tidak terdiagnosis merupakan reservoir terbesar dari kebutaan yang dapat dicegah dimana 30% kasus belum terdiagnosis. Banyak pasien tidak terdeteksi dini dan datang dengan tampilan klinis yang lanjut, mengindikasikan perlunya program intervensi untuk deteksi dini dan perujukan kasus-kasus POAG untuk mencegah kehilangan fungsi penglihatan yang signifikan. Tujuan: Menjabarkan tampilan klinis POAG di RS DR. M. Djamil. Metode: Sejumlah 32 pasien POAG dari 229 pasien glaukoma didapat, dimana jumlah pasien laki-laki (81,3%) lebih banyak dari pasien wanita (18,7%). Umur pasien yang paling banyak ditemukan adalah di antara 51-70 tahun (62,6 %). TIO dari 17,2, 3% pasien adalah di atas 21 mmHg, dan 79,7 % di bawah 21 mmHg. Sebagian besar rasio cup/disc pasien adalah 0,9-1,0. Tampilan perimetri pasien menunjukkan defek altitudinal, defek arkuata, nasal step, temporal island, generalized depression, tunnel vision, dan skotoma perifer. Kesimpulan: Sebagian besar pasien POAG berumur 51-70 tahun, laki-laki, dan datang dengan tampilan klinis yang lanjut
Clinical Profile of Bilateral Optic Neuritis Hidayat, M.
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Neuritis optik adalah istilah yang digunakan untuk merujuk suatu peradangan pada saraf optik. Neuritis optik bilateral pada orang dewasa jarang terjadi, terutama pada individu tanpa adanya kelainan sistemik inflamasi atau autoimun. Tujuan: Untuk menggambarkan profil klinis neuritis optik bilateral akut pada orang dewasa, efek terapi kortikosteroid intravena serta waktu pemulihan visus. Metode: Kami melakukan tinjauan retrospektif terhadap rekam medis pasien yang merujuk ke klinik neuro-ophthalmologi di Rumah Sakit M. Djamil dengan neuritis optik bilateral akut dari Januari 2016 sampai April 2017. Kriteria eksklusi mencakup multiple sclerosis atau myelopathy sebelumnya, kelainan sistemik yang dikenal atau pengobatan yang terkait dengan neuropati optik, uveitis, atau neoplasma. Pasien mendapatkan metilprednisolon intravena yang diikuti oleh tappering off metilprednisolon oral. Ketajaman visual, lapang pandang, penemuan oftalmoskopi, dan evaluasi neurologis dicatat pada awal dan pada 1 bulan atau 3 bulan. Hasil: Sembilan pasien dari 4 pria dan 5 wanita, dengan rentang usia 22-41 tahun, memiliki penglihatan bilateral yang menurun, 6 dengan rasa sakit pada menggerakan mata. Semua pasien memiliki evaluasi neurologis normal, dengan ketajaman penglihatan mulai dari penghitungan jari sampai gerakan tangan dan berbagai pola lapang pandang. Kedua saraf optik menunjukkan temuan ophthalmoscopy yang tidak normal. Setelah terapi kortikosteroid rata-rata 2 minggu, semua pasien menunjukkan perbaikan pada ketajaman penglihatan, bidang visual, dan temuan oftalmoskopi. Tidak ada pasien yang mengalami masalah neurologis selama follow-up dengan rata-rata 3 bulan. Kesimpulan: Neuritis optik bilateral idiopatik jarang terjadi pada orang dewasa. Terapi kortikosteroid menunjukkan hasil visual yang baik.
Metastasis Tumor ke Orbita Rahman, Ardizal; Oneta, Rozy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMetastasis ke orbita adalah entitas klinis yang langka, terjadi 2%-3% pasien dengan keganasan. Pada orang dewasa, tumor payudara dan paru-paru menyebabkan sebagian besar metastasis orbita, sedangkan pada anak-anak disebabkan oleh neuroblastoma dan leukemia. Tujuan: Untuk menggambarkan profil kasus karsinoma metastatise ke orbita di Sub Bagian Onkologi, Bagian Ophthalmologi, Rumah Sakit Dr. M. Djamil di Padang. Metode: Tinjauan retrospektif rekam medis pasien dengan karsinoma metastatise ke orbita mulai Januari 2003 - Desember 2015. Meliputi data umum, data tumor, temuan klinis, metode diagnostik dan perawatan dianalisis. Hasil: Dari 16 pasien, 10 orang dewasa dan 6 anak. Tumor primer pada anak-anak adalah leukemia 4 (66,7%), dan limfoma ganas 2 (33,3%) pasien, sedangkan pada dewasa adalah payudara 4 (40%), tiroid 4 (40%), dan leukemia 2 (20%) pasien. Usia rata-rata saat diagnosis adalah 6,8 tahun (4 bulan sampai 10 tahun) untuk anak-anak, dan 42,7 tahun (34 sampai 56 tahun) untuk orang dewasa. Orbita kiri 6 (37,5%), orbit kanan 6 (37,5%), dan kedua orbita 4 (25%) kasus. Temuan klinis yang paling sering adalah proptosis 13 (81,25%) kasus. Pengobatan diberikan kepada 14 pasien, karena 2 pasien menolak pengobatan, meliputi kemoterapi 8 (50%), radiasi 2 (12,5%), kombinasi kemoterapi + bedah 2 (12,5%), dan simtomatik 2 (12,5%) pasien. Kesimpulan: Kanker primer yang paling umum bermetastasis ke orbita adalah kanker payudara dan kanker tiroid pada orang dewasa, dan leukemia pada anak-anak.
Profile of Glaucoma at The Dr.M.Djamil Hospital Padang, West Sumatera Ariesti, Andrini; Herriadi, Diska
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Glaukoma adalah kelompok penyakit yang memiliki kesamaan karakteristik terkait optik neuropati dengan kehilangan fungsi penglihatan. Objektif: Untuk menggambarkan distribusi glaukoma di RSUP DR. M. Djamil Padang pada tahun 2011-2012. Metode: Merupakan penelitian deskriptif. Data diperoleh dari riwayat kesehatan pasien yang didiagnosa glaukoma selama 2011-2012, termasuk jenis kelamin dan jenis glaukoma. Hasil: Jumlah pasien sebesar 203 orang dengan perbandingan laki-laki dan perempuan sebesar 54,86% : 45,14%. Glaukoma primer sudut terbuka merupakan jenis glaukoma terbanyak (50,25%), diikuti oleh glaukoma sekunder (19,70%), glaukoma primer sudut penutupan (11,50%), glaukoma juvenile (10,84%), glaukoma kongenital (4,4%), dan normotension glaukoma. Inflamasi adalah penyebab paling umum glaukoma sekunder (30%). Glaukoma sering ditemukan pada kelompok usia di atas 40 tahun. Pengobatan untuk glaukoma primer sudut terbuka adalah medikamentosa (63,72%) dan trabekulektomi (36,28%). Terapi yang paling sering dilakukan pada glaukoma primer sudut tertutup adalah trabekulektomi (54,16%). Kesimpulan: Glaukoma lebih banyak ditemukan pada laki-laki dan lebih sering ditemukan pada usia lebih dari 40 tahun. Glaukoma primer sudut terbuka adalah glaukoma yang paling sering ditemui dan inflamasi adalah penyebab paling umum glaukoma sekunder di RSUP DR. M. Djamil Padang. Pengobatan yang paling sering dilakukan pada glaukoma primer sudut terbuka adalah medikamentosa dan glaukoma primer sudut tertutup adalah trabekulektomi.
Hasil Operasi Entropion Involusional di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang Hendriati, Hendriati; Muchlis, Sherly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Entropion involusional adalah malposisi kelopak mata pada lansia. Beberapa faktor penyebab seperti kelemahan palpebra horizontal, kelemahan palpebra vertikal dengan pengurangan atau disinsersi retraktor kelopak mata bawah dan overriding otot orbicularist preseptal. Tanpa penatalaksanaan, kondisi ini bisa menyebabkan ketidaknyamanan okular, epifora dan kornea. Prosedur utamanya adalah prosedur wies dan horizontal tightening yang terdiri dari lateral tarsal strip dan horizontal shortening. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi hasil rekonstruksi entropion involusional di subbagian okuloplastik bagian mata Rumah Sakit M Djamil Padang. Studi retrospektif terhadap 13 kelopak mata dari 13 pasien dengan entropion involusional antara April 2012 sampai Desember 2015. Pasien dievaluasi bulan ke 6 dan bulan 12 setelah operasi. Kami menganalisis persentase keberhasilan teknik rekonstruksi, rekurensi entropion, dan prolonged ectropionsetelah operasi. Dari 13 kelopak mata yang dioperasi, prosedur wies dilakukan pada 9 kelopak mata (69%). Horizontal tightening yang terdiri dari prosedur wies dikombinasikan dengan teknik lateral tarsal stripdan prosedur wies + horizontal shortening dilakukan pada 3 kelopak mata (23%) dan 1 kelopak mata (8%). Tidak ada prosedur yang gagal. Kekambuhan entropion terjadi pada 2 pasien (15%) yang dioperasi dengan prosedur weiss pada follow up 12 bulan. Dari 13 kelopak mata menjalani operasi entropion, tidak ada prolonged ectropion. Operasi rekonstruksi entropion involusional di Rumah Sakit M Djamil Padang memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dan tingkat kekambuhan yang rendah.
Profil dari Cortical Visual Impairment di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang Sayuti, Kemala; Sari, Suci Permata
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7.i0.p38-42.2018

Abstract

AbstrakAnak-anak dengan cortical visual impairment (CVI) pada umumnya mempunyai hasil pemeriksaan okular yang normal disamping penurunan ketajaman penglihatan dan respon pupil yang normal. Penyebab dari CVI bisa kongenital atau didapat. Penyebab prenatal dan perinatal termasuk hipoksia atau iskemia (periventricular leukomalacia (PVL) adalah bentuk yang paling umum dari kerusakan hipoksia pada bayi prematur dan PVL bisa mengakibatkan cerebral palsy), infeksi intrauteri, perdarahan intrakranial, kelainan struktur sistem saraf pusat, kejang dan hidrosefalus. Penyebab yang didapat termasuk trauma yang tidak disengaja, trauma kepala akibat penganiayaan, infeksi seperti meningitis, ensefalitis dan sepsis. Penelitian ini untuk mendiskripsikan profil kasus CVI di RSUP Dr. M. Djamil Padang dari tahun 2012-2015. Data diperoleh dari rekam medis 26 pasien yang didiagnosa dengan CVI selama 2012-2015. Rasio laki-laki dan perempuan adalah 57,69% : 42,31%. Ditemukan kelainan kongenital pada 17 pasien (65,38%) dan kelainan yang didapat pada 9 pasien (34,61%). Kelainan kongenital yang ditemukan : hipoksia pada 5 kasus ( 1 kasus dengan leucomalacia periventrikular dan 4 kasus dengan cerebral palsy) (29,41%), kelainan dari struktur sistem saraf pusat pada 4 kasus (23,52%), kejang pada 4 kasus (23,52%), perdarahan intrakranial pada 2 kasus (11,76%), dan infeksi intrauterin, hidrosefalus 1 kasus untuk masing-masing etiologi (5,88%). Kelainan yang didapat adalah meningitis pada 8 kasus (88,89% dan ensefalitis dalam 1 kasus (11,11%). Di RSUP dr. M. Djamil Padang, etiologi kongenital yang paling umum adalah hipoksia dan etiologi yang didapat adalah meningitis.
Akomodasi dalam Refraksi Wati, Rinda
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7.i0.p13-18.2018

Abstract

Akomodasi merupakan mekanisme perubahan kekuatan refraksi mata dengan merubah bentuk dari kristalin lensa. Titik fokus posterior berpindah kedepan mata selama akomodasi. Dengan adanya proses tersebut, titik jauh lebih dekat ke mata. Kemampuan akomodasi ketika otot siliaris berkontraksi sebagai respon bagi stimulasi parasimpatetik dan relaksasi serabut zonular. Pergerakan dari respon akomodasi merupakan hasil dari peningkatan konveksitas lensa ( terutama pada permukaan anterior). Amplitudo akomodasi (dalam D) atau sebagai jarak dari akomodasi. Jarak antara titik jauh mata dan titik terdekat dimana mata dapat menjaga fokus (titik dekat). Lensa kehilangan elastisitasnya diakibatkan proses penuaan dan respon akomodasi berkurang dinamakan presbyopia.

Page 1 of 1 | Total Record : 10