cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Contemporary Indonesian Art
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
PENDEKATAN TEORI KOMIK PADA ADEGAN RELIEF KRESNAYANA CANDI WISNU sambodo, yohannes
JOURNAL OF CONTEMPORARY INDONESIAN ART Vol 5, No 2 (2019): Journal of Contemporary Indonesia Art
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v5i2.3501

Abstract

Reliefs and comic have a connection in context of research just because of the presence of panel. The Kresnayana Relief of Visnu Temple in Prambanan Yogyakarta is considerably an interesting object of reserach. The relief itself is a story of The God Visnu who reincarnates to be a human named Kresna. Because such relief has a story, the research is set forth about the identification of comic elements that contained in the reliefs using comic theories.Various comic elements could be learned as theories wrote by Scott McCloud. It is not likely all the elements could be found in it though, mainly caused by two different medium. Only couple can become essential such as panels, characters and panel transition. The other elements of comic are also useful for examining the object, except any part of words.As the results, Kresnayana reliefs and comic are indicates some similarities as well as dissimilarities in their elements. A panel is completely joint up from square stone pieces. Also, the gutter is unique, it is shown with two columns that enclose both of the panel sides. The panel transition on the Kresnayana relief is following the standard as the way of pradaksina.
DAMPAK PULUNG GANTUNG (PENCIPTAAN DENGAN METODE SENI GRAFIS) Hernandi, Kukuh
JOURNAL OF CONTEMPORARY INDONESIAN ART Vol 5, No 2 (2019): Journal of Contemporary Indonesia Art
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v5i2.3502

Abstract

Pulung Gantung is one of the mythology in Kabupaten Gunungkidul which the community at there still believing as it is supported by some logic reasons until now. In the myth, Pulung Gantung always illustrated as a fire ball which dropped from the sky as a symbol of the happening of self-hanging. This story related with the reality where the statistic of self-hanging in Kabupaten Gunungkidul happened to be around 28 to 32 cases per year. This case became interesting where myth could be connected to the reality directly and it is still believed by many (in where this case also experienced different development of variety definition), which indirectly created variety layers of impact. The complexity of this theme and different perspectives to define attracted the artist to carry out research and apply the outcome with the method of printmaking as a way to process the impact of Pulung Gantung. With the method of printmaking, it progressively attracted to the definition of printmaking slowly returned to the early essence of printmaking itself as a media without limitation of conventional rules. This strongly supported the artist to apply this media on this topic to have an open discussion about the impact of Pulung Gantung with the presentation of different medium like sound, words or product. The artist creates the work in different medium, hopefully could become a vague stimulant for a better understanding about the myth and the reality of this topic. Nevertheless, other than understanding, there is potential for audience to have new idea or other?s perspective about this topic as the work presented in an indirectly way. In this case, the outcome of the work about the impact of Pulung Gantung creates the possibilities of different conclusion and new perspectives. With this idea, the possibility from the impact of mythology intersects with the reality which unconsciously continue to be happened.
CHIMERICAL (THE ART OF ASSEMBLAGE) Ferdinan, Yusuf
JOURNAL OF CONTEMPORARY INDONESIAN ART Vol 5, No 2 (2019): Journal of Contemporary Indonesia Art
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v5i2.3753

Abstract

Kemampuan ?menghubung-kaitkan? sesuatu dengan sesuatu yang lain merupakan sebuah kreativitas yang tidak datang begitu saja. Kemampuan tersebut merupakan ?anugerah yang dilatih?, yang kemudian ditekuni penulis hingga terciptalah karya-karya assemblage-art, Assemblage merupakan sebuah teknik mengumpulkan berbagai macam media, kemudian mengkonstruksi dan merakitnya menjadi sebuah karya seni. Anugerah tersebut sudah dilatih sejak usia anak-anak di mana saat itu penulis menyadari ketidak mampuannya untuk memiliki berbagai macam mainan yang diinginkan anak-anak pada umumnya,  sehingga ?terdesak? untuk menciptakan mainan sendiri dengan merakit benda-benda yang ditemukan. Kegemaran merakit benda temuan tersebut berlangsung hingga usia dewasa, yang kemudian dikembangkan dengan menambahkan sebuah muatan konsep atau pesan-pesan tertentu.Istilah Chimera dipilih penulis untuk mewakili ciri khas kekaryaannya baik dalam proses penciptaan hingga hasil akhir. Menggabung-gabungkan berbagai jenis makhluk hidup sebagai tema dari wujud karya dan menggabung-gabungkan berbagai jenis benda temuan sebagai metode dalam proses penciptaan karya seni. Chimera merupakan istilah populer yang digunakan untuk menyebutkan sesuatu yang ?dikawin-silangkan?, kemudian dipilihlah istilah lanjutan yaitu Chimerical yang berarti sesuatu yang memiiki sifat-sifat menggabung-gabungkan.Kata kunci: Assemblage, Chimerical dan benda temuan
DEKONSTRUKSI SENI RAJUTKEJUT DI ERA DISRUPSI Wulandari, Sari
JOURNAL OF CONTEMPORARY INDONESIAN ART Vol 5, No 2 (2019): Journal of Contemporary Indonesia Art
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v5i2.3444

Abstract

Memasuki revolusi industri 4.0 di era postmodern, kini teknologi elektronik dan komputerisasi dan industri hiburan semakin berkembang ke arah otomasi proses produksinya dan mendorong tumbuhnya budaya massa, budaya populer sehingga banyak mengubah cara hidup manusia serta menimbulkan konsumerisme, mendorong munculnya kebutuhan semu dan menjadikan masyarakat hidup di dalam dunia simulasi, cenderung individualistik, teralienasi dan terfragmentasi. Komunitas RajutKejut sejak tahun 2014 melakukan aksi yarn bombing di ruang publik dengan rajutan karena kegelisahan atas kondisi kota Jakarta. Aktivitas ini merupakan bagian dari cara mereka menyalurkan kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat. Komunitas yang merupakan kumpulan perajut membuat jejaring dengan memanfaatkan media sosial dalam proses berkarya, mempublikasikan dan mendokumentasikan berbagai kegiatan. Banyak terjadi kontradiksi pada kemunculan karya seni ini di era postmodern di mana penggunaan seni rajut yang populer di masa lampau dikreasikan kembali dalam konteks masa kini disertai pemanfaatan teknologi digital. Penelitian ini mengkaji fenomena munculnya karya seni RajutKejut melalui metode penelitian Kualitatif dengan paradigma Postmodernisme yang dianalisis melalui Dekonstruksi seni RajutKejut di ruang publik pada era postmodern, untuk memunculkan dimensi-dimensi lain yang selama ini tertutup oleh paradigma modernisme. Kata kunci: dekonstruksi, seni, rajut, postmodern  
DEGRADASI ETIKA DALAM ANIMASI SINTESIS CITRA MANUSIA DENGAN KECEDASAN BUATAN Darmawan, James
JOURNAL OF CONTEMPORARY INDONESIAN ART Vol 5, No 2 (2019): Journal of Contemporary Indonesia Art
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v5i2.3445

Abstract

Dalam era yang serba otomatisasi digital; termasuk diranah kecerdasan buatan yang merambah ke dunia animasi, peranan kecerdasan buatan ini berperan besar bagi perkembangan pesat dunia animasi yang mensintesi citra manusia. Pada awalnya merupakan terobosan yang fenomenal; apalagi dalam era skeudomorphism, dimana keterkaitan antara dunia digital dan dengan dunia riil harus bermargin tipis. Tentu pada sudut pandang pengguna, hal ini menjadi kesempatan baru dalam mengembangkan eksplorasi imajinasi yang lebih realistik, namun hal ini juga termasuk menggunakan konten yang negatif. Untuk itu terjadinya degradasi etika pun berkembang menjadi perusakan citra manusia itu sendiri. Untuk itu tim penulis melakukan studi literatur mengenai perkembangan teknologi kecerdasan buatan dalam dunia animasi, mengkaitkannya dengan penyimpangan yang terjadi dengan adanya teknologi animasi ini, serta menutupnya dengan prediksi perkembangan kecerdasan visual pada animasi sistesis citra manusia dimasa akan datang. Kata kunci: Teknologi Animasi, Kecerdasan Buatan, Sintesis Gambar Manusia, Degradasi Etika. 
CATATAN HARIAN DALAM LUKISAN Setyawan, Lilik
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 4, No 1 (2018): Journal of Contemporary Indonesian Art
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v4i1.2053

Abstract

Catatan harian dan lukisan, keduanya memiliki bentuk yang berbeda tapi sama secara esensi, hal tersebut dapat menjadi sebuah indikasi bagi sebagian orang dengan keadaan psikologi. menuis catatan harian merupakan sebuah aktifitas untuk mencurahkan perasaan, sebuah keharusan hati untuk mengungkapkan perasaan dalam sebuah tulisan. bahasa yang normal dan terstruktur tidak dapat menjadi cara untuk mengungkapkan keresahan. Pada akhirnya menciptakan sebuah pemahaman dalam mencari persamaaan antara menulis dan melukis. Catatan harian seperti sebuah museum, galeri, atau laboratorium kecil untuk penulis, sebuah ruangan untuk menjaga kenangan dan berbagai pendapat. Catatan harian juga sebuah tempat rekreasi tertutup/pribadi, untuk mengingat kenangan, untuk mempelajari kembali apa yang telah ditulis, dan pada akhirnya menjadi sangat penting untuk melukis sebuah harya seni.Kata kunci: catatan harian, lukisan, kenangan
Proses Kreatif Seniman pada Proyek Residensi ”Landing Soon” Tahun 2006-2009 di Rumah Seni Cemeti Yogyakarta Verdiana, Elfa Olivia
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 1, No 2 (2015): OCTOBER
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v1i2.1754

Abstract

                Penelitian ini bertujuan memahami proses kreatif seniman Indonesia dan seniman Belanda pada proyek residensi “Landing Soon” I hingga XI serta mengetahui persamaan dan perbedaan di antara keduanya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini memerlukan data berupa arsip proses kreatif sebagai data primer serta data berupa arsip karya seni sebagai data sekunder. Proses kreatif dibatasi dari segi waktu yaitu pada proyek residensi “Landing Soon” yang berlangsung pada tahun 2006-2009, dan juga dari segi lokasi yakni Rumah Seni Cemeti. Seniman yang terlibat pada proyek residensi ini sejumlah 26. Langkah penelitian yang dilakukan adalah mengumpulkan data kemudian menganalisis data. Sesuai dengan teori Alma M. Hawkins, pada proyek residensi “Landing Soon” seniman Indonesia dan seniman Belanda berproses kreatif dengan melalui tiga tahapan, yaitu: eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Persamaan proses kreatif antara seniman Indonesia dengan seniman Belanda antara lain dalam hal interaksi budaya, lokalitas, dan bidang disiplin. Persamaan-persamaan ini terbentuk karena adanya pengkondisian berdasarkan tujuan residensi “Landing Soon” itu sendiri. Perbedaannya antara lain dalam hal basic research, ide, serta media dan teknik berkarya. Beberapa perbedaan ini berakar pada aspek-aspek bawaan seniman dan kecenderungannya yang berbeda-beda.Kata kunci: proses kreatif, residensi “Landing Soon”, seniman
"BATIK KROYA” DALAM PERSPEKTIF ORIENTASI PEMBELAJARAN PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI SD N PEKUNCEN 01 KECAMATAN KROYA CILACAP Setyaningrum, Fery
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 4, No 1 (2018): Journal of Contemporary Indonesian Art
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v4i1.1774

Abstract

The purpose of this research are (1) Describe the characteristics of "Kroya batik" in the element of kesenirupaan, (2) Describe the application of "Kroya batik" in elementary school children in Pekuncen 01 Kroya Primary School, Cilacap District in the context of kesenirupaan. (3) Describe the review "batik Kroya" in the understanding of the five orientations of educational attainment through the concept of Gage and Berliner. The research method using qualitative descriptive research approach, the subject of this research is the students of grade V Pekuncen 01 Kroya Primary School. Techniques of data collection using observation / controlled observation, interviews, and document studies. Data were analyzed through data reduction steps, data presentation and conclusion drawing or verification. The result of this research are (1) Kroya batik characteristic in the form of physical nature symbol in environment in Kroya Regency of Cilacap and the combination of point line, color, field, texture on the visual elements and typical design principles, (2) The process of application first batik motive in beginning by making batik design (mal technique), canting, menyolet (giving color), giving hard water, washing, color, washing, boiling, dried, (3) result of batik learning process at student of Pekuncen 01 Kroya Primary School is education can leads to an increase in the value of the personality (Development Regulatory), Education can develop regulatory affective, Education can increase creativity and cognition (Creativity & cognition), Education can increase curiosity, Education can create sensitivity. Keywords : Batik, Learning Orientation, Elementary School Age Children
EKSPLORASI BENTUK PATUNG ABSTRAK DENGAN TEKNIK PAHAT (CARVING) DAN BAKAR (FLAMED) Wantoro, Yoga Budhi
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 4, No 1 (2018): Journal of Contemporary Indonesian Art
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v4i1.2050

Abstract

Seni patung merupakan salah satu cabang seni rupa yang menghasilkan karya seni berujud tiga dimensional. Dalam proses perwujudannya memerlukan beberapa tahap yang sangat penting agar karya patung tersebut bisa hadir dengan wujud serta performa yang indah dan menarik. Proses tersebut diawali dengan munculnya gagasan/ide hingga sentuhan akhir untuk kepentingan kualitas karya.Patung abstrak merupakan salah satu gaya dalam perkembangan seni patung di dunia. Gaya abstrak dalam seni patung dibagi menjadi dua yaitu abstrak representasional dan abstrak non representasional. Dalam abstrak representasioanal bentuk yang dihadirkan masih bisa dilacak (mengacu kepada bentuk alam) sedangkan dalam abstrak non representasional embrio bentuk sudah tidak bisa dilacak lagi.Tekstur atau barik adalah bagian dari perwujudan seni patung baik dengan bahan organik maupun non organik. Tekstur sering dimaknai keberadaannya sebagai penguat atau aksentuasi di dalam bentuk, agar permukaan menjadi jelas karena dengan teksur maka cahaya akan membantu menguatkan bentuk. Cekung akan terlihat lebih kuat apabila ada tektur di dalamnya.keberadaan tekstur di dalam patung abstrak bagi penulis sangat penting karena persoalan krusial di dalam bentuk patung abstrak adalah muncul dari kebentukan itu sendiri. Terkadang konsep atau gagasan hanya sebagai batu loncatan di dalam proses terbentuknya patung abstrak tersebut. Penciptaan tekstur dengan teknik bakar (flamed) di dalam seni patung abstrak dengan material batu andesit merupakan teknik baru, biasanya tekstur yang diciptakan dengan menggunakan bush hammer yaitu dengan cara memukulkan palu yang bergerigi di atas permukaan batu/patung abstrak. Melalui teknik bakar (flamed) ini penulis juga bisa mencampurkan warna dalam proses pembakaran tersebut guna mendapatkan permukaan yang estetis untuk mendukung performa dalam seni patung abstrak.Kata kunci: Patung abstrak, teknik bakar (flamed), Tekstur.
Narasi Kehidupan di balik Topeng Tunanetra Ajisaka, Adek Dimas
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 1, No 1 (2015): APRIL
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v1i1.1748

Abstract

The Narration of Life behind the Blind Mask. Persons who are blind is the subject that inspires, and motivates the circumstance. The existence of the visually impaired persons indirectly also be social criticism against the life of the community. The limitation has led private owned blind on the value of life and humanity that we appreciate it much more. Introductions and proximity to the persons who are blind raises the creative impulse to embody the values of life and humanity of the blind in the form of works of art. The blind presents in the form of works of art is not merely a display of artistic value but also as an effort to build a positive mentality and thinking through the concepts presented. Blind was involved directly in the process of creation of the work. Facilitating the blind became a print model in the mask. The face mask was chosen because the face is the first individual identity markers and personal representation of the subject. The face became a symbol of insurer liability for what the whole body. The mask being representative of the individual where it has the power to convey the story, experience the value of life and humanity over individual timesKeywords: narration, mask, blind.

Page 1 of 4 | Total Record : 36