cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Pembangunan dan alam Lestari (J-PAL) merupakan jurnal interdisiplin yang melingkupi aspek-aspek tentang dampak lingkungan (biofisik dan sosial ekonomi) akibat dari pembangunan. jurnal ini juga mengkaji fenomena interaksi yang rumit antara pembangunan dan lingkungan hidup, dengan tujuan untuk mencari alternative solusi dalam mewujudkan kelestarian semua aspek kegiatan manusia yang terkait dengan pembangunan.
Arjuna Subject : -
Articles 173 Documents
STRUKTUR KOMUNITAS TUMBUHAN PENUTUP TANAH DI TAMAN HUTAN RAYA R. SOERJO CANGAR, MALANG Maisyaroh, Wiwin -
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.414 KB)

Abstract

ABSTRAK   Taman Hutan Raya (TAHURA) R. Soerjo Cangar merupakan salah satu kawasan konservasi yang perlu mendapatkan perhatian khusus berkaitan dengan semakin rusaknya ekosistem di kawasan tersebut. Kelestarian TAHURA R. Soerjo Cangar mulai terancam dengan adanya perluasan lahan pertanian dan pembukaan pabrik, hal ini dapat merusak keadaan pada komunitas tumbuhan bawah yang berperanan dalam mencegah erosi dan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan panutup tanah serta dominasinya, tingkat keanekaragaman jenis dan pola penyebaran tumbuhan panutup tanah yang terdapat di Hutan Cangar. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif yang dilakukan pada bulan Juni – Agustus 2004. Sampel dari penelitian ini adalah komunitas tumbuhan panutup tanah yang terdapat di kawasan Hutan Cangar pada ketinggian ± 1600 m dpl. yang merupakan daerah wisata dengan luas sekitar 25 ha dan merupakan bagian dari Cagar Alam Arjuno Lalijiwo. Lokasi pengambilan sampel dibagi menjadi dua lokasi pengamatan yaitu daerah tegakan terbuka dan tegakan tertutup, dengan membuat petak berukuran 2x2 m2 sebanyak 20 dengan jarak antar petak 5 m. Data yang diperoleh berupa frekuensi, kerapatan, dominansi, Indeks Nilai Penting (INP) , Indeks Penyebaran, dan Indeks Keanekaragaman Jenis Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 25 spesies tumbuhan penutup tanah yang terdiri dari 9 suku. Pada tegakan terbuka ditemukan 19 spesies dan pada tegakan tertutup ditemukan 11 spesies. Tumbuhan herba yang memiliki INP tertinggi pada tegakan terbuka adalah Centella asiatica L. dengan nilai sebesar 63,08 % dan pada tegakan tertutup INP terbesar adalah Eupathorium riparium L. dengan nilai sebesar 125,86 %, spesies dengan INP terbesar menunjukkan bahwa spesies tersebut mendominansi pada komunitas tersebut. Dari Indeks of Dispersion diketahui pada tegakan terbuka pola penyebaran tumbuhan panutup tanah rata-rata teratur atau merata sedangkan pada tegakan tertutup pola penyebarannya merata dan mengelompok. Indeks Keanekaragaman jenis menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi dengan nilai sebesar 0,84 % pada tegakan terbuka dan sebesar 0,82 % pada tegakan tertutup.
Metode Budidaya Organik Tanaman Jagung Manis di Tlogomas, Malang Martajaya, Muhammad -; Agustina, Lily -; -, Syekhfani -
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.363 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan membandingkan pertumbuhan dan hasil jagung manis yang dipupuk berbagai macam pupuk organik pada waktu yang berbeda, mengetahui hasil yang terbaik pada macam dan saat pemberian pupuk organik dan mengetahui residu pupuk organik dan anorganik terhadap ameliorasi kesuburan tanah. Penelitian dilakukan di Kelurahan Tlogomas, Lowokwaru, Malang. Percobaaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tujuh perlakuan yang diulang empat kali, yaitu GO=Glyricidia sepium 7 tonha-1 diberikan seminggu (GO1) dan dua minggu (GO2) sebelum tanam, TO=Tithonia diversifolia 6 tonha-1 diberikan seminggu (TO1) dan dua minggu (TO2) sebelum tanam,  KO=Kotoran sapi 25 tonha-1 diberikan seminggu (KO1) dan dua minggu (KO2) sebelum tanam dan A=pupuk anorganikdengan dosis masing-masing 300 kgha-1 Urea, 150 kg ha-1 SP-36, dan 50 kg ha-1 KCl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan hasil jagung manis yang diberi pupuk anorganik tidak berbeda nyata dengan pupuk organik (G. sepium, T. diversifolia, dan kotoran  sapi).  Hasil bobot segar tongkol masing-masing perlakuan adalah TO1 8,5 tonha-1, KO1 8,2 tonha-1, A 8,1 tonha-1, TO2 7,0  tonha-1, KO2 6,8 tonha-1, GO2 6,0 tonha-1 dan GO1 5,5 tonha-1. Pupuk Organik memberikan simpanan terhadap ameliorasi kesuburan tanah yang lebih tinggi dibandingkan pupuk anorganik, sedangkan diantara pupuk organik, G. sepium meskipun hasilnya rendah, tetapi memberikan sumbangan residu pada tanah yang tertinggi.  Selain hasil tongkol segar, nilai ekonomis budidaya jagung manis juga diperoleh dari brangkasan segar sebagai pakan ternak,  hasil tertinggi berturut-turut diperoleh pada perlakuan Tithonia diverisifolia, pupuk kotoran sapi  yang diberikan seminggu sebelum tanam, serta pupuk anorganik masing-masing sebesar 11,4; 11,2; dan 10,0 tonha-1.   Kata Kunci: Glyricidia sepium, jagung manis, kotoran sapi, Tithonia diversifolia     Abstract The aims of this research are to compare  growth and yield of sweet corn  that is planted at kinds of organic fertilizers wich applied in different times; to obtain the best result at kind of organic fertilizer wich applied in different time, and to know residual to the soil after harvesting from organic and anorganic fertilizer. The research have done at Tlogomas village, Malang, on September until December 2002. The experimental method of Completely Randomized Block Design (CRBD) comprising of seven treatments and four replication each, those are: Glyricidia sepium 7 tons ha-1 applied in  a week (GO1) and two weeks (GO2) before planting, Tithonia diversifolia 6 tons ha-1 applied in a week (TO1) and two weeks (TO2) before planting, cow manure 25 tons ha-1 applied a week (KO1) and two weeks (KO2) before planting, and inorganic fertilizer (A) as according to recommendation (300 kg ha-1 Urea, 150 kg ha-1 SP-36, and 50 kg ha-1 KCl). The results of the study indicate that there was no difference in growth and  yield of sweet corn between inorganic and organic fertilizer (G. sepium, T. diversifolia, and  cow manure). While each of seven treatments  yielding fresh weight of cobs  as follows, from the highest are TO1 8.5 Mgha-1,  KO1 8.2 Mgha-1, inorganic fertilizer 8.1 Mgha-1, TO2 7.0 Mgha-1, KO2 6.8 Mgha-1, GO2 6.0 Mgha-1, and GO1 5.5 Mgha-1.  G. sepium though the corn yield is lower, but have highest value in contribution of residual soil amelioration. Besides yielding fresh cobs, economic value in sweet corn cultivation is obtained from total fresh weight production that can be used as livestock feed. The highest yield as follows T. diversifolia and cow manure which applied week before planting, and from the inorganic fertilizer as  11.4 Mgha-1, 11.2 Mgha-1 and 10.0 Mgha-1 respectively.   Key words: cow manure, Glyricidia sepium, sweet corn, Tithonia diversifolia
Konservasi Apel (Malus sylvestris) di Pekarangan Rumah Desa Gubuk Klakah, Poncokusumo Malang Fauziah, Hanin Niswatul; Hakim, Luchman -; Azrianingsih, Rodliyati -
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1119.71 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi masyarakat terkait tanaman apel di pekarangan rumah penduduk Desa Gubug Klakah, Malang. Persepsi masyarakat diketahui melalui kegiatan wawancara semi terstruktur dan pembagian kuisioner kepada responden yang terdiri dari key person dan perwakilan masyarakat yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai persepsi yang baik terhadap pekarangan rumah dan tanaman apel di pekarangan rumah. Masyarakat menyatakan bahwa keberadaan apel terkait dengan manfaat dan fungsi ekonomi, ekologik, sosial dan peningkatan kualitas lingkungan tempat tinggal. Persepsi masyarakat yang tinggi berdampak positif terhadap usaha pengelolaan tanaman apel di pekarangan rumah.   Kata kunci: apel, etnobotani, pekarangan, persepsi Abstract The objective of this paper is to determine the local people’s perception on apple (Malus sylvestris) population in home garden at Gubug Klakah village. In order to understand local people’s perception, semi-structured interviewed and questionnaires techniques were implemented. Results of the study showed that local people principally has good perception about apple plants in home garden. Apple in home garden provide economical, ecological and social benefits. The existence of apple in home garden contribute to visual quality of house environments. These perpective provide opportunities for apple conservation in home garden. Key words: apple, ethnobotany, home garden, perception
Model Polikultur Udang Windu (Penaeus monodon Fab), Ikan Bandeng (Chanos-chanos Forskal) dan Rumput Laut (Gracillaria Sp.) Secara Tradisional -, Murachman -; Hanani, Nuhfil -; -, Soemarno -; Muhammad, Sahri -
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1036.813 KB)

Abstract

Abstrak Polikultur merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan air yang mengakibatkan penurunan produksi ikan di kolam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui menyusun pola manajemen polikultur udang windu (Penaeus monodon Fab.), ikan bandeng (Chanos-chanos Forskal) dan rumput laut (Gracillaria sp.). Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus di Dusun Tanjung Sari, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Sampel penelitian diambil pada 18 lokasi polikultur dari tiga komoditas tersebut (udang windu, ikan bandeng dan rumput laut) dan 20 lokasi polikultur dari dua komunitas (udang windu dan ikan bandeng). Variabel yang dipergunakan pada penelitian ini adalah Variabel penelitian meliputi lingkungan makro tambak, karakteristik pembudidaya, cara pengelolaan tambak dan perlakuan–perlakuan yang diberikan, padat tebar, kualitas air, kesuburan air, produksi tambak, keuntungan pembudidaya polikultur dan model budidaya polikultur tiga komoditas. Model budidaya polikultur terdiri dari enam komponen yaitu penentuan lokasi tambak, persiapan tambak, pemeliharaan, panen, kelembagaan sosial dan kelembagaan ekonomi. Masing-masing komponne tersebut saling berhubungan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat tiga faktor yang mendukung penentuan lokasi kolam, yaitu jenis tanah di atas kolam, sumber air tawar, sumber air laut, dan keberadaan hutan mangrove. Kualitas dan kesuburan air cukup baik dan berada pada kisaran standard kualitas air untuk tambak. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara padat tebar untuk udang windu dan ikan bandeng pada tipe polikultur tiga komoditas dan polikultur dua komoditas. Padat tebar rumput laut pada polikultur tiga komoditas adalah 975 kgha-1. Keberadaan rumput laut pada polikultur tiga komoditas dapat meningkatkan kualitas air menjadi lebih baik dibandingkan pada polikultur dua komoditas. Kandungan oksigen terlarut pada tambak adalah 165 mgl-1, tingkat kejernihan air 50.875 cm, NH3 0,157 mgl-1, H2S 0,025 mgl-1, NO2 0,109 mgl-1, PO4-3 0,461 mgl-1, pH 8,05, TOM 38.635 mgl-1, TSS 176,418 mgl-1, alkalinitas 4,665 mgl-1, suhu 32.96 °C, kadar garam 32,5, BOD 2,88 mgl-1 dan kandungan Pb 0,245 mgl-1. Secara kualitatif dan kuantitatif tingkat produksi udang windu adalah (201.11 kgha-1m-1) dan ikan bandeng (1180,56 kgha-1m-1) pada sistem polikultur tiga komoditas lebih tinggi daripada tingkat produksi di sistem polikultur dua komoditas. Secara kuantitatif diketahui bahwa untuk budidaya udang windu kelimpahan plankton adalah 11,466 ekor tiap liter, pertumbuhan absolut 23,93 g, lemak 0,604, tingkat kelangsungan hidup 53% dan rata-rata ukuran tubuh adalah  34 ekor tiap kg. Parameter untuk budidaya ikan bandeng adalah  kelimpahan plankton adalah 69,845 ekor tiap liter, pertumbuhan absolut 354,99 g, lemak 0,604, tingkat kelangsungan hidup 95% dan rata-rata ukuran tubuh adalah 4,25 ekor tiap kg. Keuntungan finansial pada polikultur tiga komoditas adalah Rp. 20.717.628 dan Rp. 11.924.115 pada polikultur dua komoditas untuk tiap hektar tambak pada satu musim tanam.   Katakunci: polikultur, ikan bandeng, komoditas, udang windu     Abstract Polyculture is an alternative to solving water quality problems leading to decrease of fish production in the ponds. The present research is aimed at establishing the management of polyculture of black tiger prawn, milkfish, and seaweed. This study employs method of case study in Dusun Tanjung Sari, Desa Kupang, sub-district of Jabon, Regency of Sidoarjo. Samples were collected from 18 polyculturers of three commodities (black tiger prawn, milkfish, and seaweed) and 20 polyculturers of two commodities (black tiger prawn and milkfish) by means of proportional sampling. Variables to be investigated were type of commodity, treatment in the polyculture processes, stocking density, water quality, mangrove forest, social and economic institutions, investment and operational funds, production, quality and fertility of water, and financial gain. Results of the present study show that the three-commodity model of polyculture consists of capability to determine pond sites, pond preparation, maintenance, harvesting, and social and economic institutions. There are three supporting factors in determining pond sites, namely pond bottom soils, sources of freshwater and seawater and the presence of mangrove forest. Water quality is in agreement with standards of water quality for ponds with relatively high fertility. Stocking densities for black tiger prawns and milkfish are not significantly different between two- and three-commodity polyculture. The stocking density for seaweed is 975 kgha-1 for three-commodity ponds. The presence of seaweed in the three-commodity polyculture ponds results in better water quality compared to the two-commodity polyculture ponds. Dissolved oxygen content is of 165 mgl-1, water clarity of 50,875 cm, NH3 of 0.157 mgl-1, H2S of 0.025 mgl-1, NO2 of 0.109 mgl-1, PO4-3 of 0.461 mgl-1, pH of 8.05, TOM of 38,635 mg-1l, TSS of 176,418 mgl-1, alkalinity of 4.665 mgl-1, temperature of 32.965°C, salinity of 32.5, BOD of 2.88 mgl-1 and Pb of 0.245 mgl-1. Production of black tiger prawns of 201.11 kgha-1m-1 and milkfish of 1180,56 kgha-1m-1 are higher than production of two-commodity polyculture ponds, both quantitatively and qualitatively. Quantitatively, it is shown that, for black tiger prawns, abundance of plankton within intestines are of 11,466 individuals for each liter, absolute growth is 23.93 g, fatness is 0.604114, survival of 53%, and average size of 34 animals for each kilogram. meanwhile, for milkfish, it is shown that abundance of plankton within intestines are of 69,845 individuals for each liter, absolute growth is 354.99 g, fatness is 0.814, survival rate of 95%, and average size of 4.25 animals for each kilogram. Financial profit of three-commodity polyculture amounts to Rp 20,717,628 per ha per culture season and two-commodity polyculture amounts to Rp 11,924,115 ha for each culture season. Keywords: Black Tiger Prawn, commodities, Milk Fish, polyculture
Strategi Pemberantasan Nyamuk Aman Lingkungan: Potensi Bacillus thuringiensis Isolat Madura Sebagai Musuh Alami Nyamuk Aedes aegypti Gama, Zulfaidah Penata; Yanuwiadi, Bagyo -; Kurniati, Tri Handayani
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1095.051 KB)

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui toksisitas Bacillus thuringiensis isolat Madura terhadap berbagai instar larva nyamuk Aedes aegypti dan pengaruh toksin yang dihasilkan oleh                         B. thuringiensis isolat Madura terhadap struktur epitel dan jaringan usus larva nyamuk A. aegypti. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan percobaan faktorial, dengan kombinasi perlakuan ditempatkan menurut RAK dan diulang 3 kali. Setelah rearing larva nyamuk, dilanjutkan dengan pembuatan suspensi bakteri dengan seri pengenceran 100–10-5. Jumlah bakteri dihitung, diikuti perhitungan jumlah spora bakteri dengan metode TVSC, kemudian dilanjutkan uji toksisitas bakteri terhadap berbagai instar larva nyamuk. Setelah 24 jam kemudian dihitung jumlah larva yang mati. Tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh bakteri dilihat dengan cara dibuat irisan melintang larva nyamuk dengan metode parafin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toksisitas bakteri B. thuringiensis isolat Madura dalam membunuh larva nyamuk instar I sampai 88,89%. Toksisitas yang tinggi tersebut terdapat pada kepadatan bakteri sebanyak 1,51x108 selml-1, tetapi untuk kepadatan bakteri di bawahnya kurang efektif dalam membunuh larva nyamuk Aedes aegypti. Pada kepadatan bakteri tertinggi, semakin tua umur stadium larva nyamuk maka semakin resisten terhadap terhadap serangan toksin yang dihasilkan oleh bakteri B. thuringiensis isolat Madura. Nilai LC50-24 jam untuk instar I sebesar 8,08x107 selml-1, instar II sebesar 9,09x107 selml-1, instar III sebesar 3,94x108 selml-1 dan instar IV sebesar 2,66x108 selml-1. Pengaruh kristal toksin B. thuringiensis isolat Madura terhadap struktur epitel dan jaringan usus tampak pada jaringan usus yang tidak utuh dan inti sel epitel hancur serta bagian dalam usus berlubang-lubang, sedangkan bagian luarnya berwarna hitam. Kata kunci: Aedes aegypti, Bacillus thuringiensis, musuh alami, pemberantasan     Abstract The aim of this study is to investigate toxicity of Bacillus thuringiensis which is isolated from Madura Island as natural enemy of Aedes aegypti larvae. The larvae of Aedes aegypti were reared to provide F2 generation in the laboratory. Larvae selection was carried out by exposing the first, second, third and fourth instar larvae of Aedes aegypti  (15 larvae in each dilution) for 24 hour to each concentration of Bacillus thuringiensis was isolated from Madura island which had been determined LC50-24 h to cause about 50% larvae mortality. Number of bacteria spora is known with TVSC method. Cross section of larvae is made with paraffin method to know level of destruction due to bacteria. The result of the study indicated that Bacillus thuringiensis  isolated from Madura Island able to  kill first instar of Aedes aegypti larvae until 88,89%. High toxicity of bacteria in the density of bacteria cell is 1,51x108 cellml-1. The bacteria cell density less than 1,51x108 cellml-1 not effective. In the highest density, the older stadium of larvae more resistance than the younger stadium larvae. Average of LC50-24 h for first instar larvae is 8,08x107 cellml-1, second instar is 9,09x107 cellml-1, third instar is 3,94x108 cellml-1 and fourth instar is 2,66x108 cellml-1. The toxin’s of Bacillus thuringiensis effects affect structure of epitel and intestine tissue of Aedes aegypti larvae are not complete. This phenomena indicates that Bacillus thuringiensis from Madura Island have its potential to become biocontrol of Aedes aegypti. Keywords: Aedes aegypti, Bacillus thuringiensis, biocontrol, natural enemy
Perilaku Perusakan Lingkungan Masyarakat Pesisir Dalam Perspektif Islam (Studi Kasus Pada Nelayan dan Pedagang Ikan Di Kawasan Pantai Tambak, Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar Jawa Timur) Primyastanto, Mimit -; Dewi, Ratih Prita; Susilo, Edi -
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.774 KB)

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mengetahui alasan nelayan dan pedagang dalam merusak lingkungan, pemahaman nelayan atau pedagang terhadap perundangan wilayah pesisir dan lingkungan dalam Al-Qur’an dan konsistensi isu-isu lingkungan yang terdapat peraturan perundangan dengan yang ada dalam Al-Qur’an. Metode penelitian memakai tiga analisis yaitu survey, studi kasus (case study) dan content analisis (analisis isi). Hasil penelitian didapatkan bahwa kurangnya pengetahuan masyarakat dalam menjaga lingkungan serta diikuti rendahnya tingkat pendidikan yang dapat menyebabkan kurang fahamnya nelayan dan pedagang setempat dalam menjaga lingkungan. Pemahaman nelayan atau pedagang yang kurang diperhatikan oleh penyuluh sehingga dapat mengakibatkan nelayan atau pedagang melakukan perusakan lingkungan. Didalam peraturan yang dibuat oleh pemerintah pusat didalam menjaga lingkungan khususnya wilayah pesisir sudah konsisten terhadap hukum yang terdapat didalam Al-Qur’an.   Kata kunci : Al-Qur’an, perusakan lingkungan, pesisir     Abstract The objectives of this research are to identify the fisherman and fish trader reacous in destructing the environment, understanding of fisherman or fish trader on local environmental laws and laws in Al-Qur’an and the consistency between environmental issues in local law and environmental issues in Al-Qur’an. This research was used three methods analysis are surveys, case studies, and content analysis. The results of this research show that there was lack of knowledge of coastal people in education preserving environment and low understanding of coastal people about preserving environment. This lack of understanding was neglected by some counselors, so the fisherman and fish trader still destructing the coasted environment. The of coastal environment preservation has made by central government and already consist Al-Qur’an. Keywords: Al-Qur’an, coastal, environment destruction
“Beyond Biotechnology: Human Enhancement Technology and Pursuit for Happiness” (An Islamic perspective of bioethics case study) Djati, Muhammad Sasmito
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.663 KB)

Abstract

Abstrak Teknologi yang paling sukses berkembang dengan cepat pada awal tahun 2000 adalah teknologi kloning terapi dan reproduksi, teknologi ini sudah dapat dimanfaatkan pada manusia, dengan harapan akan dapat mensejahterakan kehidupan manusia, tetapi disisi lain memberikan dampak pada nilai-nilai kemanusiaan. Dampak positif dan negatif tersebut menyebabkan banyak ilmuwan untuk mengaktualisasikan kembali akan keberadaan Tuhan sebagai Sang pencipta dan konsep etika pada tataran aplikasinya. Perkembangan bioteknologi terutama teknologi human enhancement yaitu teknologi yang memanfaatkan bagian tubuh manusia, yaitu berupa bagian tubuh saja, sel-sel untuk dibiakkan dalam tabung atau membuat klon kembaran manusia utuh sudah merupakan teknologi yang sangat aplikatif diterapkan pada manusia. Teknologi ini dapat bermanfaat pada manusia, tetapi juga mengancam eksistensi nilai-nilai kemanusiaan. Islam sebagai ajaran yang diyakini punya makna universal, ternyata tidak memberikan inspirasi para ilmuwan muslim ataupun ulama untuk secara bersama-sama membahas masalah ini. Ilmuwan muslim dan ulama berjalan sendiri-sendiri dan menikmati status masing-masing tanpa memperhatikan perkembangan teknologi yang menyebabkan dunia lain, menghadapi diskursus pemahaman di era biologi seperti sekarang ini, tetapi kita tetap tertinggal dan tidak punya peran pada perkembangannya. Sehingga terkesan Islam bukanlah ajaran alternatif untuk menjawab tantangan perkembangan teknologi. Bioetika pada akhir-akhir ini sedang mengalami perkembangan yang cukup pesat dan batasan domain keilmuannya semakin luas. Apakah domain hanya untuk mengevaluasi pada masalah etika percobaan-percobaan di bidang biologi dan kedokteran manusia atau meluas menyangkut semua percobaan ataupun riset yang membahayakan eksistensi kehidupan? Moralitas ini termasuk untuk mengurangi rasa sakit, rasa takut, baik pada binatang dan manusia, biohazard, dan pengakuan adanya sang pencipta dan ciptaannya. Islam sebagai agama yang mengajarkan tentang universalitas sebenarnya mempunyai pandangan yang cukup sempurna yang dapat digunakan sebagai pandangan dasar untuk mengembangkan bioetika, ada 4 dasar yang dapat dikembangkan menjadi landasan Ilmuwan muslim untuk mengembangkan bioetika yaitu tauhid sebagai landasan dan acuan kebebasan berfikir yang bersifat sunatullah, semua kehidupan pada hakekatnya selalu beribadah pada Allah S.W.T., pada hakekat setiap kehidupan mempunyai hak untuk hidup dan dihargai, sekecil apapun kehidupan itu, dan semua kehidupan pada hakekatnya dapat dimanfaatkan oleh manusia, tetapi harus dimanfaatkan dengan orientasi jangka panjang (dunia dan akherat).   Kata kunci: bioteknologi, human enhancement technology, Islam   Abstract The most successful technology in early of 2000’s were reproductive and therapeutic cloning, this technology were already implemented in human, it was giving prospective impact for human happiness and prosperities on one sides, but on the other side giving fundamental question for human dignity.  It was giving positive and negative impact; it was rooted in either theological or ethical consideration. Ironically, almost all Muslim aware that Islam is teaching universalities, but not so many Islamic scholar both scientist and clerics were gathering to solving such problem. Scientists were doing by their selves and clerics enjoying their social status without doing anything, if such condition still working on Muslim countries without any conclusion, science and technology will be left Muslim behind on the age of biology. Today, the field of bioethics struggles with its proper scope. Should it concern itself with the ethical evaluation of all questions involving biology and medicine? Some bioethicists would narrow ethical evaluation only to the morality of medical treatments or technological innovations, and the timing of medical treatment of humans. Others would broaden the scope of ethical evaluation to include the morality of all actions that might help or harm organisms capable of feeling fear and pain, biohazard, and include within bioethics all such actions if they bear a relation to medicine and biology, the existence of creator as well. In Islam as universal religion, it was concluded that to solve its problem, Islamic bioethics were base on 4 principal for arrange bioethics as follow, the first Tauhid as spiritual freedom, Every living things have a duty to worship Allah, every living things have a right to exists, and Utilizing of living things should be used utilitarian approach. From the case of ethical problem, Islamic construction was arranged with base on ontological judgment, First step to analysis philosophies issues by assuming and framing logically with ontological approach that means tawhid is starting point to arrange the construction Islamic knowledge, with this construction of knowledge human happiness will be come in reality, it is the essence of life, Al Qur’an and sunnah as supreme of knowledge not only of religious law, but of very nature of existence and beyond of existence  of the very source of existence. Key word: Islamic bioethics, human enhancement technology
Penentuan Daerah Konsentrasi Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) dengan Menggunakan Model Kinesis di Perairan Pantai Barat Sulawesi Selatan Jamil, Sabrun -; -, Marsoedi -; -, Soemarno -; -, Sukoso -
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1124.235 KB)

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model simulasi kinesis untuk melihat daerah konsentrasi ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) di wilayah Perairan Barat Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan adalah menggunakan model kinesis dengan formula numerik  dari Humston et al., (2000) dan Zainuddin (2006). Suhu permukaan laut (SPL) dari satelit Aqua/MODIS digunakan untuk memetakan distribusi SPL dalam area dengan resolusi 4 km. Dalam penelitian ini suhu optimum dan standar deviasi dijadikan input pada model kinesis. Hasil penelitian  didapatkan bahwa ikan kembung lelaki (R. kanagurta) umumnya terkonsentrasi  pada kisaran suhu optimumnya dan tersebar merata di perairan Pantai Barat Sulawesi Selatan. Daerah konsentrasi ikan kembung lelaki (R. kanagurta) hasil model kinesis memiliki hasil yang sama dengan pola konsentrasi aktualnya di lapangan.  Hasil  tersebut ditunjukkan oleh peta konsentrasi ikan dan histogram. Hasil analisis menggunakan simulasi model kinesis maupun kondisi aktual dilapangan menunjukkan bahwa (R. kanagurta) memiliki pusat konsentrasi pada kisaran suhu yang sama, yaitu 28,5 oC – 29,5 oC.   Kata kunci : daerah konsentrasi, ikan kembung lelaki (R. kanagurta), Model Kinesis     Abstract The purpose of this study was to develop a simulation of kinesis model  to see the concentration area of indian mackerel (Rastrelliger kanagurta) in the west coast waters of south Sulawesi. Kinesis model with a numerical formula of Humston et al. (2000) and Zainuddin (2006) was use in this research. Sea surface temperature (SST) from satellite Aqua/MODIS were used to map the distribution of SST in the area with a resolution of 4 km.  In this study the optimum temperature and the standard deviation was used as input to the model kinesis.  The results showed that R. kanagurta were generally concentrated at the optimum temperature range and spread evenly in the the West Coast waters of South Sulawesi. Kinesis model and actual field conditions (April 2008) has the same result. These results are shown by maps and histograms of fish concentrations, indicating that mackerel, either by using the simulation model and the actual condition of kinesis has a central field concentration at the same temperature range, 28.5 oC - 29.5 oC. Keywords : concentration area, Indian Mackerel (R. kanagurta), Kinesis Model
Usaha Peningkatan Konservasi Mamalia di Taman Nasional Alas Purwo melalui Wisata Safari pada Generasi Muda Aulia, Dina -; Haryono, Tri
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1037.502 KB)

Abstract

Abstrak Wisata Safari melalui mammal watching berpotensi mendukung konservasi alam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kualitas apresiasi generasi muda tentang pentingnya diversitas dan konservasi mamalia melalui wisata safari di taman Nasional Alas Purwo. Penelitian eksperimental semu (quasi-experimental research design) ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua perlakuan, yaitu kelompok wisatawan dan kelompok kontrol. Penelitian ini melibatkan enam wisatawan sebagai ulangan. Mammal watching berlangsung selama dua hari pada pagi hingga sore hari di tiga lokasi pengamatan yaitu Padang Rumput Sadengan, Pantai Triangulasi, dan Jalur Triangulasi-Pancur. Saat mammal watching wisatawan melihat aktifitas mamalia mencari makan, atraksi brakhiasi, serta menikmati parade senja. Penilaian persepsi awal, peningkatan kualitas apresiasi generasi muda terhadap diversitas dan konservasi serta evaluasi kegiatan secara keseluruhan diperoleh melalui kuesioner. Data berupa jawaban deskriptif dikonversi melalui penilaian kualitas jawaban 0-100. Data numerik dianalisis menggunakan uji T pada α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi awal wisatawan lebih baik daripada kontrol. Salah satu poin penting sebelum melakukan kegiatan pengamatan satwa mamalia (mammal watching) adalah pembekalan. Mammal watching menambah pemahaman mengenai diversitas dan konservasi mammalia di ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik wisatawan. Keseluruhan rangakaian kegiatan wisata safari meliputi pembekalan, pembagian field guide, mammal watching dan evaluasi dapat meningkatkan apresiasi wisatawan. Wisata safari dapat digunakan sebagai sarana penelitian, hiburan untuk wisatawan dan pemasukan bagi taman nasional. Kata kunci: generasi muda, konservasi, mammals watching, Taman Nasional Alas Purwo   Abstract Wildlife Tourism, especially mammals watching, have play an important role to conserve natural resources and increase local communities welfare. This research is intend to increase young generation appreciation quality about the important of diversity and mammal conservation by wildlife tourism ini Alas Purwo National Park. The quasi-experimental research design with complete random design and two kind of treatment, that are tourist group and control group was used in this study. This research involve six tourist as reherseal. Mammal watching activities was implemented two days in the morning until the afternoon at three observation points, namely Sadengan grassland, Triangulasi Beach, and track Triangulasi-Pancur. During Mammal watching activities tourist can see mammals daily behavior activity. The prior assessment improvement of young generation appreciation quality about he important of diversity and mammal conservation and evaluation of all activities derived by some questionare. Descriptive data was converted by quantifiying answer by rating 0-100. Numeric data was anlized with T test on α=0.05. The research result show that the tourist has better prior perception than control group. It seems that explanation before starting activities in the field can play an important role in mammals wathcing. Furthermore, mammals watching recognized has beneficial impact to improve comprehension about diversity and mammal conservation in cognitive, affective and motoric sectors of the tourist. Wildlife tourism can also used in research facillity, education, tourist amusement and income for national park. Keywords: Alas Purwo National Park, conservation, mammal watching, young generation
Pengaruh Gelombang Ultrasonik Jangkrik (Acheta domesticus) terhadap Pola Perilaku Makan Pasif dan Gerak Pasif Tikus Sawah (Rattus argentiventer) Tito, Sama’ Iradat; Yanuwiadi, Bagyo; Sulistya, Chomsin
Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1222.326 KB)

Abstract

Abstrak Tikus sawah merupakan hama utama dan penyebab kerugian terbesar pada tanaman padi di Indonesia. Cara pengendalian hama yang ada sampai saat ini belum sepenuhnya dapat mengatasi masalah hama tikus. Oleh karena itu diperlukan penelitian untuk mendapatkan teknologi pengendalian yang efektif dan mudah dilaksanakan dengan menggunakan gelombang ultrasonik jangkrik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh gelombang ultrasonik jangkrik terhadap pola perilaku makan pasif dan gerak pasif tikus. Gelombang ultrasonik jangkrik dipaparkan langsung terhadap tikus sawah dan diamati melalui pola perilaku makan pasif dan gerak pasif yang ditunjukkan oleh tikus sawah. Data  hasil  pengamatan  pola  perilaku  makan  pasif  dan  gerak pasif tikus dianalisis dengan analisis  variansi rancangan faktorial. Faktor yang diamati meliputi frekuensi, jarak sumber, dan lama pemaparan gelombang ultrasonik jangkrik serta  kombinasinya. Frekuensi gelombang ultrasonik jangkrik pada jarak 100 cm dan lama pemaparan 45-60 menit dapat menimbulkan  perubahan  pola perilaku makan pasif dan gerak pasif  tikus. Perubahan tersebut terjadi akibat efek termal, efek kavitasi dan efek  mekanik  yang  terjadi  pada  struktur  jaringan sel  tikus. Kata kunci : gelombang ultrasonik, jangkrik, tikus sawah Abstract Over the last decade, paddy field rat cases in Indonesia still become problem cultivation rice plant. The control method be present now is not yet get exceed  rat wet rice pest. Because that, need straight away research for get technology control that effective and easy to applicate. The control rat wet rice pest with cricket ultrasonic waves we hope that can become alternative that problem solving. The aim from this research is for knowing the influence of cricket ultrasonic waves toward the passive feeding and passive motion rat wet rice field. Cricket ultrasonic waves direct flat to rat rice pest. The data on the observation of response and change of behavior patterns that covered the patterns of passive movement and of passive feeding of  rat wet rice field brought  about  by  ultrasonic  wave  disturbances were analyzed and employed to determine which parameter  were the most dominant among variations exposure distance  and  exposure time of the ultrasonic waves. The result of research gave significant differences (P<0.05) of the effect of ultrasonic wave frequency, source distance and exposure time. At cricket frequency, it  already  gave  effective impact  toward  behavior  patterns that covered  the  patterns  of  passive  feeding  and  passive  movement  of  the migratory locusts. At this cricket frequency, with exposure time of 45 to 60 minute at 100 cm  distance  it  has  already effective impact  toward the  behavior patterns  of rat wet rice field compared  to the change of  source distance longer  than 100 cm at other time too towards passive feeding and passive motion pattern of rat wet rice field. Key Words: Ultrasonic waves, cricket, rat wet rice field

Page 1 of 18 | Total Record : 173