cover
Contact Name
Arum Budiastuti
Contact Email
arumbudi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
up2dfibunair@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Mozaik Humaniora
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 24428469     EISSN : 2442935X     DOI : -
Mozaik Humaniora is a journal that focuses on the scope of humanities and accepts articles on cultural studies, linguistic and literary studies, as well as philology and historical studies.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 13, No 2 (2013)" : 7 Documents clear
Corporate Strategies in the Spread of Hallyu (Korean Wave) in Indonesia Henninda, Citra Henninda Citra
MOZAIK HUMANIORA Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.76 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v13i2.3833

Abstract

Artikel ini membahas strategi korporasi untuk meraih lebih banyak keuntungan dengan memanfaatkan perubahan-perubahan yang dibawa oleh globalisasi. Globalisasi telah membawa budaya hibrida yang merupakan kombinasi antara budaya lokal dan luar dan membentuk budaya baru. Budaya hibrida tersebut tidak hanya diinterpretasi sebagai hasil proses produksi korporasi tetapi juga simbol gaya hidup yang bertransformasi melalui penggunaan jaringan media global, yang didukung terutama oleh keberadaan masyarakat konsumen yang besar di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus Hallyu di Indonesia dengan metode deskripsi analisis pada data-data sekunder yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dengan produk-produk televisi dan perusahaan- perusahaan di dunia hiburan maupun nonhiburan. Dengan menggunakan pendekatan globalisasi budaya, artikel ini berargumen bahwa penerimaan dan penyebaran hallyu di Indonesia yang cukup mudah dipengaruhi oleh keberhasilan strategi perusahaan dalam mengeksploitasi pergeseran budaya dan masyarakat. Ada beberapa strategi yang digunakan oleh perusahaan: komoditisasi produk budaya, harga dan diferensiasi produk, penggunaan media sosial, dan dukungan dari peraturan pemerintah. Dapat disimpulkan bahwa Hallyu mudah berterima karena merupakan produk budaya hybrid yang memuat simbol-simbol modernitas Asia perkotaan dan budaya lokal.Kata kunci: budaya hibrida, globalisasi, hallyu, konsumen, strategi perusahaan
Celebrity Status in RCTI’s Idola Cilik: The Consumption of the Popular Media by Indonesian Children Muktiono, Dadung Ibnu
MOZAIK HUMANIORA Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.76 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v13i2.3839

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas keaktifan anak-anak dalam mengonsumsi media dan mengejar status selebriti melalui media di Indonesia. Anak-anak sering dianggap murni, polos, dan pasif. Beberapa orang berpendapat bahwa nilai-nilai ini harus dipertahankan untuk mendefinisikan anak secara jelas. Namun sekarang sulit untuk mempertahankan identitas tersebut karena media yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Mereka aktif mengkonsumsi media dengan memaknai program-program televisi yang mereka konsumsi. Di Indonesia, konsumsi aktif anak- anak pada media dapat dilihat melalui partisipasi dalam Idola Cilik, yang terkenal sebagai kontes menyanyi anak dan memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menjadi selebriti. Penelitian ini menggunakan metode analisis tekstual terhadap program Idola Cilik yang ditayangkan oleh RCTI pada tahun 2010. Argumen yang dikemukakan adalah bahwa Idola Cilik menyajikan selebriti seperti yang diinginkan oleh anak-anak. Sebagai bagian dari komersialisasi, para kontestan harus siap untuk dijual sebagai komoditas, bersama dengan kisah hidup dan foto mereka. Ini menunjukkan bahwa media mengkomersialkan status selebriti anak-anak. Makalah ini juga menunjukkan bahwa anak-anak adalah konsumen aktif. Mereka bukanlah produk yang ditentukan oleh teks (dalam hal ini Idola Cilik), akan tetapi mereka mampu membaca pesan yang disampaikan oleh media dan merekonstruksinya.Kata kunci: anak-anak, Idola Cilik, komoditas, media, selebriti
Simbol Kejayaan Ibukota Sriwijaya dalam Tiga Prasasti Sriwijaya di Palembang Dedi Irwanto, Dedi Irwanto Muhammad Santun
MOZAIK HUMANIORA Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.821 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v13i2.3840

Abstract

AbstrakSriwijaya adalah salah satu kerajaan “tertua” di Nusantara serta salah satu kerajaan terbesar yang pernah hadir secara politis di tanah air. Namun, sebetulnya Kerajaan Sriwijaya justru kerajaan“termuda” di Nusantara secara penemuannya, karena nama Kerajaan Sriwijaya baru “tergali” dan muncul ke permukaan di sekitar awal abad ke-20 setelah ditemukannya beberapa prasasti. Tulisan ini mencoba memaknai secara semiotis prasasti-prasasti tinggalan Sriwijaya yang ada di Kota Fo-shih, Musi, Wijaya, Palembang. Penelitian sebelumnya mengenai prasasti Kedukan Bukit, Telaga Batu, dan Talang Tuwo belum banyak membahas tentang makna di balik bentuk fisik prasasti-prasasti tersebut. Dengan menggunakan metode semiotika, penelitian ini berusaha mengungkapkan makna berbagai bentuk prasasti yang selama ini sangat bernilai dalam menguak kota Palembang di masa Kerajaan Sriwijaya. Hasil analisis semiotis pada bentuk prasasti Kedukan Bukit mengungkapkan ibukota Sriwijaya sebagai Kota Dagang, Kota Agama dan Kota Pelajar yang dikunjungi banyak orang. Bentuk prasasti Telaga Batu menandakan simbol Kota Pemerintahan yang bersih, serta bentuk prasasti Talang Tuwo menandakan simbol Kota Wisata yang makmur dan beruntung. Dengan segala pujian seperti ini, dapat dikatakan bahwa Kota Fo-shih sebagai ibukota Sriwijaya adalah kota metropolis pada masanya.Kata kunci: ibukota, prasasti, semiotika, Sriwijaya
Pemanfaatan Tradisi Lisan di Era Industri Kreatif di Indonesia Dhanang Respati, Dhanang Respati Puguh
MOZAIK HUMANIORA Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mozaik.v13i2.3841

Abstract

AbstrakTradisi lisan tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Di era globalisasi sekarang ini, eksistensi tradisi lisan semakin terpinggirkan, bahkan di ambang kepunahan, sehingga memerlukan upaya-upaya untuk mempertahankan eksistensinya. Tulisan ini membahas tentang pemanfaatan tradisi lisan di era industri kreatif pasca reformasi. Metode penelitian yang dilakukan adalah kritik sejarah, yaitu mengumpulkan sumber-sumber pustaka untuk kemudian dikritik dan dianalisis. Sumber primer didapatkan dari data oral tradisi dengan didukung dari sumber sekunder baik berupa dokumen tertulis maupun dalam bentuk visual. Para seniman telah memanfaatkan tradisi lisan dengan pendekatan, cara, dan teknik yang berbeda-beda dalam karya-karyanya menurut interpretasi mereka masing-masing dan telah berhasil memikat hati masyarakat pendukungnya. Daya kreatif atau kreativitas untuk memanfaatkan tradisi lisan yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan kekinian juga dimiliki oleh para seniman tersebut dan menuangkannya dalam produk-produk seni terbaru dalam bentuk musik, tari, teater, opera, film, dan sinema elektronik. Perkembangan industri pariwisata dan pertelevisian dewasa ini merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemanfaatan tradisi lisan dalam industri kreatif. Dengan kerangka berpikir semacam itu, tradisi lisan akan mendapatkan tempat dan dapat memberikan nilai tambah pada masyarakat.
Apakah Pisuhan Selalu Bermakna Negatif?: Fungsi Pisuhan dalam Masyarakat Arek dan Masyarakat Mataraman Endang, Endang Sholihatin
MOZAIK HUMANIORA Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.165 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v13i2.3843

Abstract

Ada banyak ekspresi manusia dalam mengungkapkan perasaannya melalui bahasa, salah satunya melalui pisuhan. Pisuhan merupakan bahasa tabu namun kenyataannya justru sering diucapkan. Tujuan penelitian ini menghasilkan deskripsi perbandingan fungsi pisuhan yang digunakan masyarakat arek (MA) dan masyarakat mataraman (MM). Secara praktis, penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan pemahaman yang tepat mengenai penggunaan pisuhan dalam komunikasi bermasyarakat sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan pisuhan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan teknik partisipasi berperan-serta. Penelitian ini dilakukan pada MA di Surabaya dan MM di Yogyakarta dengan latar belakang alamiah. Analisis menunjukkan bahwa ada persamaan dan perbedaan pisuhan di dua masyarakat tersebut. Ada sebelas fungsi pisuhan yaitu untuk mengekspresikan kegembiraan/ harga diri, keberanian, salam, pembelaan diri, memberi saran, bahasa slang, memecah kekakuan suasana, menekankan sesuatu, memuji, merepresentasikan identitas, dan sebagai pemersatu. Pada masyarakat Matraman pisuhan diplesetkan dengan bentuk lain sehingga tidak langsung menunjuk pada kata yang dimaksud. Sedangkan pisuhan dalam MA untuk menunjukkan kemandiriannya tidak secara langsung menggunakan pisuhan yang ada dalam MM, tetapi menggantikan atau menambahkannya dengan kata lain sehingga tidak sama persis dengan pisuhan pada MM.Kata kunci: arek, mataraman, pisuhan, pragmatik, sosiolinguistik
Corporate Strategies in the Spread of Hallyu (Korean Wave) in Indonesia Henninda, Citra Henninda Citra; Henninda, Citra Henninda Citra
MOZAIK HUMANIORA Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.928 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v13i2.3830

Abstract

Artikel ini membahas strategi korporasi untuk meraih lebih banyak keuntungan dengan memanfaatkan perubahan-perubahan yang dibawa oleh globalisasi. Globalisasi telah membawa budaya hibrida yang merupakan kombinasi antara budaya lokal dan luar dan membentuk budaya baru. Budaya hibrida tersebut tidak hanya diinterpretasi sebagai hasil proses produksi korporasi tetapi juga simbol gaya hidup yang bertransformasi melalui penggunaan jaringan media global, yang didukung terutama oleh keberadaan masyarakat konsumen yang besar di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus Hallyu di Indonesia dengan metode deskripsi analisis pada data-data sekunder yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dengan produk-produk televisi dan perusahaan- perusahaan di dunia hiburan maupun nonhiburan. Dengan menggunakan pendekatan globalisasi budaya, artikel ini berargumen bahwa penerimaan dan penyebaran hallyu di Indonesia yang cukup mudah dipengaruhi oleh keberhasilan strategi perusahaan dalam mengeksploitasi pergeseran budaya dan masyarakat. Ada beberapa strategi yang digunakan oleh perusahaan: komoditisasi produk budaya, harga dan diferensiasi produk, penggunaan media sosial, dan dukungan dari peraturan pemerintah. Dapat disimpulkan bahwa Hallyu mudah berterima karena merupakan produk budaya hybrid yang memuat simbol-simbol modernitas Asia perkotaan dan budaya lokal.Kata kunci: budaya hibrida, globalisasi, hallyu, konsumen, strategi perusahaan
Pembatalan Sewa Tanah di Vorstenlanden Tahun 1823: Kasus Kontra Lex Rei Sitae Harto Juwono, Harto Juwono
MOZAIK HUMANIORA Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mozaik.v13i2.3844

Abstract

AbstrakPersewaan tanah menjadi bagian penting dari perkembangan sejarah di Vorstenlanden. Fenomena ini telah berlangsung sejak dekade kedua abad XIX. Sepanjang sejarahnya, proses persewaan tanah pernah dihentikan, yaitu ketika Gubernur Jenderal G.A.G.P. Baron van der Capellen mengeluarkanStaatsblad tahun 1823 no. 6 yang melarang orang-orang Eropa menyewa tanah di wilayah kekuasaan raja-raja Jawa. Peristiwa yang dianggap berperan bagi terjadinya Perang Diponegoro ini merupakan akibat dari penerapan dua sistem hukum yang berbeda pada objek dan dalam konteks yang sama, yaitu hukum positif dan hukum adat. Namun, dalam historiografi Indonesia, kondisi tersebut selalu dikaji melalui pendekatan sejarah politik dan ekonomi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mencermati konteks yang berbeda dari pendekatan politik melalui pendekatan hukum. Dengan melalui metode sejarah, penelitian ini mengungkapkan bahwa ketika hukum positif dan hukum adat diterapkan bersamaan di lokasi dan pada objek yang sama, subjek maupun objek hukum akan kehilangan pedoman dalam pengambilan tindakan yang dianggap sah. Akibatnya, benturan tidak dapat dihindari dan mengakibatkan pengingkaran terhadap keabsahan keputusan yang diambil oleh pihak yang berwenang. Ketika keputusan pembatalan ini dikeluarkan, banyak orang menganggap pemerintah kolonial Hindia Belanda melakukan pelanggaran bukan hanya kewenangan raja Jawa melainkan juga terhadap aturan hukum yang berlaku. Pandangan itu memberikan dasar legal bagi keterlibatan banyak pemilik tanah pribumi dalam perlawanan Diponegoro.Kata kunci: hukum kolonial, sewa tanah, Vorstenlanden

Page 1 of 1 | Total Record : 7