cover
Contact Name
Arum Budiastuti
Contact Email
arumbudi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
up2dfibunair@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Mozaik Humaniora
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 24428469     EISSN : 2442935X     DOI : -
Mozaik Humaniora is a journal that focuses on the scope of humanities and accepts articles on cultural studies, linguistic and literary studies, as well as philology and historical studies.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 16, No 2 (2016)" : 10 Documents clear
Peran Semantis Subjek dalam Klausa Bahasa Muna Sri Satyawati, Made
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.816 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5861

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji beberapa peran semantis subjek dalam klausa bahasa Muna. Dalam berbagai bahasa, klausanya dimungkinkan memiliki sejumlah peran semantis. Begitu pula dengan bahasa Muna. Dalam tuturan sehari-hari, klausa merupakan unsur terpenting karena mengandung predikasi. Predikat sebagai penentu maksud pembicaraan. Di dalam klausa tersebut, subjeknya dapat saja berupa agen atau pasien. Dalam teori Role and Reference Grammar (RRG), agen dan pasien dikatakan sebagai peran umum, yaitu ACTOR dan UNDERGOER. Kedua peran semantis ini dapat saja hadir dalam satu klausa atau pun dapat hadir dalam satu klausa sekaligus. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan karena sumber data yang berupa data lisan berasal dari penutur atau informan. Penelitian ini menggunakan metode simak dan metode cakap dengan teknik sadap, teknik simak libat cakap, teknik rekam atau teknik catat, serta teknik pemancingan. Selanjutnya, data dianalisis dengan metode agih dan metode padan dengan teknik dasar bagi unsur langsung (BUL) sehingga analisis peran semantis subjek terlihat jelas. Analisis peran semantis subjek dalam klausa bahasa Muna mengacu pada teori Role and Reference Grammar (RRG). Hasil yang ditemukan, klausa bahasa Muna memiliki tiga peran semantis subjek, yaitu (1) klausa dengan SUBJEK memiliki peran semantis ACTOR, (2) klausa dengan SUBJEK memiliki peran semantis UNDERGOER, dan (3) klausa dengan SUBJEK memiliki peran semantis ACTOR sekaligus UNDERGOER. Klausa dengan peran semantis ACTOR sekaligus UNDERGOER dapat berupa klausa refleksif dan klausa resiprokal.Argumen UNDERGOER sebagai SUBJEK klausa dapat berupa entitas [-human] dan [+human]. Kata kunci: bahasa Muna, klausa, peran semantis subjek ABSTRACTThis study concerns particular semantical roles of a subject in the clauses of Munansese language. In the Munanese language, the clause may have  a number of semantical roles. In daily utterances,  the clause is a constitute primary element because it has a predicate. The predicate determines the speaker’s intended meaning in one conversation. In the clause, the subject can be an agent or patient. In Role and Reference Grammar theory, the agent and the patient can be called as an ACTOR  and UNDERGOER. These semantical roles can be present at the same time in the  clause. The study using a qualitative descriptive approach is a field research. The data were collected from the speakers’ and informants’ utterances. To collect the data,  the methods included a close observation and conversation using a hidden recorder, taking some notes, and giving an improptu statement that needed an immediate response. The data were analyzed by directly dividing the elements of the clause named BUL (Bagi Unsur Langsung), so that the semantical roles of the subject could be identified.  The results of the study show that the Munanese language clause has three semantical roles of the subject; (1) clauses with SUBJECT as ACTOR, (2) clauses with SUBJECT as UNDERGOER, and (3) clauses with SUBJECT as ACTOR  andUNDERGOER. The clause having ACTOR  and UNDERGOER as the semantic roles at the same time is reflexive and reciprocal clause. The argument, UNDERGOER,  as SUBJECT may have such features as [-human] and[+human].  Keywords: clauses, Munanese language, semantical role of subject
Modal Britania di Indonesia Masa Kolonial Pradadimara, Dias
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.896 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5842

Abstract

AbstrakPeranan Britania dalam ekonomi kolonial di Indonesia, utamanya pada abad kesembilan belas, masih jarang dikaji. Tulisan ini diawali dengan melihat peran penting yang dimainkan oleh para saudagar Britania dan rumah-rumah dagang Britania dalam periode ketika pemerintah kolonial meningkatkan cengkeramannya dalam ekonomi kolonial sejak tahun 1820-an. Kebijakan utama yang mencerminkan hal ini adalah cultuurstelsel atau kebijakan pengaturan pertanian sekaligus monopoli perdagangan melalui Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM). Penelitian ini melacak bagaimana para saudagar dan rumah-rumah dagang Britania mengarungi persaingan usaha di tengah meningkatnya tekanan kepada mereka bahkan hingga masa pascakolonial. Dengan melihat perkembangan modal Britania serta peranan pedagang dan pengusaha Britania di Hindia sejak awal abad kesembilan belas hingga masa kemerdekaan, dapat ditunjukkan pentingnya modal dan pemain ekonomi yang tidak secara langsung terkait dengan negara. Berdasarkan gambaran sepintas mengenai pengusaha dan modal Britania di Hindia bisa ditunjukkan adanya peranan “swasta” dalam transformasi ekonomi kolonial. Pengusaha dan modal Britania masuk ke dalam sektor-sektor di mana negara belum siap masuk. Kata kunci: ekonomi kolonial, Jawa, modal, saudagar Britania AbstractThe British role in the colonial economy in Indonesia, especially in the nineteenth century, is seldom highlighted. This study focuses on looking at the important role played by the British merchants and merchant houses in 1820s. In the beginning of this period, the Dutch colonial state increased its tight grip on the colonial economy through a series of policies—most notably the cultuurstelsel or the cultivation system as well as the trading monopoly through the Nederlands Handels Maatschappij (NHM). Furthermore, the present study traces the ways in which the British merchants and merchant houses navigated their ways; on the contrary, they did not increase their pressure in the post-colonial era. By examining the development of British capital and the role of British merchants in the colonial period of Indonesia since the beginning of the nineteenth century until post-colonial era, it is shown that capital and merchants had significant roles. Based on the findings on British capital and merchants in colonial era, private sector played a role in colonial ecomomy transformastion. Thus, British capital and merchants penetrated to sectors that was ovelooked by government. Keywords: British merchants, capital, colonial economy, Java
Ngaben di Krematorium pada Masyarakat Hindu di Bali: Perspektif McDonaldisasi dan Homo Complexus Bawa Atmadja, Nengah
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.696 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5862

Abstract

AbstrakArtikel ini adalah hasil penelitian kualitatif memanfaatkan paradigma kritis yang terfokus pada dua masalah, yakni latar belakang orang Bali memilih secara sukarela ngaben (kremasi) di krematorium dan bentuk pelaksanaannya. Informan ditunjuk secara purposif, yakni pengelola krematorium, pelaku ritual ngaben, tokoh agama, dan lain-lain. Teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Analisis data mengikuti langkah-langkah, yakni konseptualisasi, hasil konseptualisasi, pembuktian, dan objektivasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang orang Bali secara sukarela memilih ngaben di krematorium berkaitan dengan pemberlakuan asas McDonaldisasi, yakni efisiensi, daya hitung, prediksi, dan kontrol. Kondisi ini diperkuat oleh kemampuan pengelola krematorium untuk mempertahankan dimensi manusia sebagai homo complexus. Kombinasi antara McDonaldisasi dan esensi manusia sebagai homo complexus merupakan alasan maknawi bagi orang Bali untuk memilih alternatif ngaben secara sukarela pada krematorium. Ngaben di krematorium mengikuti tata aturan menurut agama Hindu. Dengan cara ini roh orang yang diaben mencapai status dewa pitara. Dewa pitara dipuja pada pura keluarga guna memberikan kesejahteraan bagi keluarga yang memujanya. Kata kunci:    homo complexus, masyarakat Hindu Bali, McDonaldisasi, krematorium, ritual kematian AbstractThis article is the result of qualitative research with critical paradigm. This research focused on two issues: the background of Balinese people voluntarily choosing a crematorium to do cremation or ngaben and the way of its implementation. The informants of this research were the manager of the crematorium, the actors of cremation ritual, the religious leaders, etc. The data collection techniques were interview, observation and document study. The data analysis followed the steps of conceptualization, the results of conceptualization, verification, and objectivation. The results showed that the background of the Balinese people voluntarily to choose cremation in a crematorium relates to the application of the principles of McDonaldization, such as efficiency, calculability, standardization, and control. This condition is strengthened by the ability of the crematorium manager to maintain the human dimension as homo complexus. The combination of McDonaldization and the human dimension as homo complexus is a meaningful reason for Balinese to choose crematorium in doing ngaben voluntarily. Ngaben at the crematorium follows the same rules according to Hindu religion. In this way the spirit of the dead people could achieve the status of Dewa Pitara. Dewa Pitara is worshiped in the family temple in order to give blessing to the whole family members. Keywords: Balinese Hindu society, crematorium, death ritual, homo complexus, McDonaldization 
Negotiating Celebrity Femininity in Three Auto/Biographies of Indonesian Female Celebrities Priyatna, Aquarini
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.872 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5844

Abstract

AbstrakMelalui auto/biografinya, selebritas perempuan Indonesia Krisdayanti, Yuni Shara, dan Tiara Lestari menampilkan femininitas yang global dan lokal, dan menunjukkan negosiasi yang kompleks antara berbagai keharusan berkenaan dengan kesopanan, peran sebagai ibu, dan normalitas, serta tuntutan global yang berkenaan dengan seksualitas, selebritas dan universalitas. Femininitas ditunjukkan baik sebagai suatu hal yang bersifat normatif maupun sebagai suatu hal yang disruptif, dengan memperluas dan mengubah ruang yang mendefinisi makna menjadi seorang perempuan, dalam konteks yang saling berkaitan antara kebudayaan lokal Indonesia, budaya selebritas dan globalisasi. Artikel ini berkontribusi terhadap berbagai pemahaman atas globalisasi serta proses, efek dan dampaknya sekaitan dengan konstruksi gender melalui fenomena khusus auto/biografi selebritas Indonesia. Lebih khusus lagi, artikel ini berargumentasi bahwa auto/biografi merupakan ruang yang penting untuk memahami bagaimana media dimanfaatkan dan merupakan bagian integral dari konstruksi citra dan representasi selebritas perempuan di dalam konteks lokal tertentu dan dalam konteks yang lebih global. Kata kunci: selebritas, femininitas, auto/biografi, lokalitas, globalitas AbstractThrough their auto/biographies, Indonesian female celebrities, i.e. Krisdayanti, Yuni Shara and Tiara Lestari, present femininities that are both global and local and reveal complex negotiations of local imperatives of modesty, maternity and normality and global imperatives towards sexuality, celebrity and universality. Femininity is performed both as normative and disruptive, extending and altering the space of what it means “to be a woman” within the intersecting contexts of local Indonesian culture, celebrity culture and globalization. This paper used the term auto/biography as a method to embrace a more inclusive term that include writings that fall between the category of autobiography and biography. While the standard normative idea of autobiography refers to writings about oneself as written by oneself, and the definition of biography to writings about oneself as written by others, the term auto/biography used here accommodates the complexities of authorship as well as depiction of the auto/biographical subjects. This paper contributes to understandings of globalization and its gendered processes, effects and impacts through the particular phenomenon of the auto/biographies of Indonesian female celebrities. Particularly, this paper argues that auto/biography has become an important space to understand how media is used and an integral part of the construction of female celebrity’s image and representation within a certain local and  the more global context at the same time. Keywords: auto/biographies, celebrity, femininity, globality, locality
Strategi Kesantunan Berbahasa Diaspora Orang Bali di Jawa Timur dalam Situasi Formal Sartini, Ni Wayan
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.536 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5863

Abstract

AbstrakKeberadaan diaspora Bali di Jawa Timur menyebar di seluruh kabupaten dan kota. Kota-kota yang ditempati diaspora Bali dengan jumlah yang cukup besar adalah Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan Gresik. Beberapa perkembangan yang terjadi pada saat etnis Bali membentuk diaspora Bali di Jawa Timur antara lain penerapan model-model perkumpulan dan penerapan adat yang hampir sama dengan di Bali. Hal itu memungkinkan terjadinya akulturasi kedua budaya tersebut termasuk bahasa dan penggunaannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesantunan berbahasa diaspora orang Bali dalam berkomunikasi dalam situasi formal yaitu rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan warga Bali yang melibatkan unsur-unsur pengampu kebijakan keagamaan Hindu dan pendidikan. Penelitian dilakukan di Surabaya dan Sidoarjo untuk mewakili kota-kota di Jawa Timur. Data dikumpulkan dengan cara observasi nonpartisipasi dibantu teknik rekam dan catat. Hasil analisis data menunjukkan bahwa strategi kesantunan berbahasa diaspora orang Bali di Jawa Timur mencakup  strategi bald on record,  on record positive politeness, on record negative politeness.   Strategi-strategi kesantunan tersebut antara lain menggunakan bentuk pertanyaan dengan partikel tertentu, menggunakan pemarkah tertentu untuk mengurangi ancaman terhadap muka mitra tutur, memberi penghormatan dengan sapaan-sapaan tertentu, menggunakan permohonan maaf (apologizing), menggunakan ujaran tidak langsung, menggunakan pagar (hedge) pada ujaran, dan menggunakan bentuk impersonal. Ciri khas strategi kesantunan yang selalu digunakan ketika dalam situasi formal adalah permintaan maaf (apologizing) baik penutur yang memiliki status tinggi (+P) maupun penutur anggota biasa (-P). Di samping itu, terjadi campur kode antara bahasa Bali Alus dan bahasa Indonesia dalam ujaran-ujaran yang disampikan. Penggunaan bahasa Bali Alus secara pragmatik juga merupakan penada kesantunan (politeness markers) dalam brebahasa. Kata kunci: diaspora orang Bali, Jawa Timur, strategi kesantunan, status sosial AbstractThe presence of Balinese diaspora in East Java spreads in all districts and cities. The cities where there are a huge number of Balinese diaspora are Surabaya, Sidoarjo, Malang, and Gresik. A Balinese ethnic may form the Balinese diaspora in East Java by applying some models of gathering and customs that are the same as what can be found in Bali. This indicates that there is an acculturation in the language and  between two cultures. The present study aims to describe the language politeness of Balinese diaspora in a formal communication like meetings among Balinese that involve some buffers of Hindus policies and education. The study was conducted in Surabaya and Sidoarjo representing some cities in East Java. The data were collected by a non participation observation with a recording and reporting technique. In the study, it is found that the politeness strategy the Balinese diaspora have in East Java includes bald on record, on record positive politeness, on record negative politeness. Those strategies are the use of interrogative with some particles, markers to reduce a threat from the interlocutor, respects shown by a particular greeting, apologies, indirect utterances, hedges, and impersonal forms. Some specific politeness strategies are apologizing uttered by the speaker who has a high status (P+) and the common speaker (-P). Besides, it is found that there is a code mixing between Balinese language, Alus (high variety) and Indonesian language; pragmatically, this can be categorized as politeness markers in the language use. Keywords: Balinese diaspora, East Java, politeness strategy, social status
Refleksi Kearifan Lokal dalam Sastra Indonesia Karya Sastrawan Jawa Timur Putera Manuaba, Ida Bagus
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.776 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5857

Abstract

AbstrakStudi ini bertujuan mengungkapkan dan memaknakan refleksi kearifan lokal dalam karya-karya sastra Indonesia sastrawan Jawa Timur beserta korelasinya dengan sosial-budayanya. Dalam studi ini digunakan metode penelitian kualitatif terpadu (library research dan field research) yang dikerjakan secara analitis-kritis dan reflektif. Objek materialnya karya-karya sastra dan sosial-budaya sastrawan Jawa Timur, dengan strategi pemerolehan data dokumentasi dan observasi, serta teknik baca, simak, dan catat. Dalam studi ini ada dua temuan: pertama, refleksi kearifan lokal dalam karya-karya sastra Indonesia sastrawan Jawa Timur menyangkut harmoni antarmanusia dengan alam, kedalaman cinta, kesederhanaan hidup manusia, kesetiaan dan keikhlasan, romantika perkawinan, dan kebahagiaan hidup. Kedua, makna reflektif kearifan lokal dalam karya sastra Indonesia beserta korelasi dengan sosial-budayanya adalah adanya sinergi antara manusia dan alam; tanggung jawab dan kewajiban dalam menjaga, merawat, melestarikan, dan mengeksplorasi alam. Kata kunci: karya sastra Indonesia, refleksi kearifan lokal, sastrawan Jawa Timur AbstractThis study aims to reveal a local wisdom reflection in the Indonesian literature written by East Java authors and to define the local wisdom reflection in relation to their social-culture. This study was analytically, critically, and reflectively conducted in one integrated qualitative method (library research and field research). The data, literature works, were collected through some techniques such as documenting, observing, reading, referring, and taking notes. The findings show that first, the local wisdom reflection in the Indonesian literature written by East Java authors is concerned with the harmony relation between human and nature, the depth of love, the simplicity of a human’s life, the faithfulness and sincerity, the romance of marriage, and the happiness of life. Second, the local wisdom reflection is defined as a synergy between human and nature in which there are some responsibilities like preserving, taking care of, conserving, and exploring the nature. Keywords: East Java authors, Indonesian literature, local wisdom reflection
What is Clean? Interpreting the Meaning of Healthy Urban Environment in Malang (1930-1960) Hudiyanto, Reza
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.624 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5864

Abstract

AbstrakSejak akhir abad ke-19, baik pemerintah kolonial Belanda maupun penguasaha swasta telah membuat kemajuan ekonomi yang pesat. Sumbangan penting usaha perkebunan pada perekonomian telah memicu perkembangan pemukiman penduduk. Ketika urbanisasi meningkat sementara ruang kota justru semakin besar, masalah baru bermunculan, seperti persoalan kebersihan lingkungan. Penurunan kualitas lingkungan berdampak pada penurunan kualitas kesehatan. Kualitas hidup penduduk, baik dari kalangan Eropa maupun pribumi, semakin terancam manakala sejumlah penyakit tropis berpotensi menjadi wabah yang menyerang seluruh penduduk kota. Dengan memanfaatkan metode sejarah, artikel ini bertujuan menjelaskan bagaimana sikap penduduk dan pemerintah berkaitan dengan pengaturan lingkungan bersih selama kurun waktu 1930-1960. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pemahaman masyarakat pada masa kolonial dan pada masa kemerdekaan. Apabila pada masa kolonial terdapat garis pemisah yang tajam antara penduduk Eropa dan pribumi sehingga memengaruhi persepsi masalah kebersihan lingkungan, pada masa kemerdekaan pemisahan tersebut tidak muncul. Perubahan yang dramatis terjadi ketika muncul program perbaikan jalan dan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Kata kunci: kebersihan, kesehatan, lingkungan perkotaan, persepsi, Malang AbstractSince the last decade of the nineteenth century, both the Dutch colonial government and private enterprises have made great economic progression. The crucial contribution of plantation industry to the colonial economy has triggered the improvement of particularly settlement.  Job opportunities invited peoples from nearby villages. This was the beginning of urban environment problem. The decline of the environmental quality had to do with the decrease of the health quality. The dwindling health quality among the native inhabitants brought about potential outbreak of tropical diseases that could spread and finally hit all city inhabitants. The epidemic would threaten the Europeans who shared the same space with the natives. Using historical method, the writer tried to discuss the response of Kampung dwellers to “urbanized process” in terms of environment. This article is based on archival document from Dutch Indies colonial Government and Dinas Kesehatan Kota Malang. The present study addressed the concept of “positioning” by looking at the influence of new Municipal-made environment from a historical point of view. From the research it can be concluded that since 1937, the Municipal government has begun to increase more technical personals and budgets to maintain many infrastructure projects. In comparison with the situation in the colonial periods in which the Municipal governments never included the Kampung inhabitants on their urban sphere, the era of the Indonesian Republic had showed the different situation. The dramatic change on the composition of local parliament paved the way for Kampung resident on the drafting of local regulation including health service. Keywords: clean, health, Malang, perception, urban environment
Bifurkasi and Turbulensi as Scientific Metaphors in Dee Lestari’s Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh Nany K., Irene
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.256 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5858

Abstract

 AbstrakSupernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh adalah novel karya Dewi (Dee) Lestari yang ditulis pada 2004 dan menghadirkan sejumlah isu terkait kehidupan manusia. Novel ini dapat dianggap sebagai fiksi ilmiah mengingat adanya sejumlah metafora ilmiah di dalamnya. Metafora ilmiah yang dimanfaatkan pada khususnya berasal dari fisika modern (Teori-teori Quantum), matematika, psikologi, biologi, dan ekonomi. Permasalah yang dianalisis dalam artikel ini adalah konsep dasar metafora ilmiah yang memiliki peran penting dalam memahami cerita novel ini. Telaah ini difokuskan pada istilah bifurkasi (bifurcation) dan turbulensi (turbulence) dalam kaitannya dengan teori Order dan Chaos, sebagai salah satu teori ilmiah yang dibicarakan di dalam novel. Telaah ini membahas bagaimana istilah ilmiah dimanfaatkan di dalam novel sekaligus memiliki kaitan dengan penceritaannya, serta memengaruhi interpretasi pembaca atas cerita secara umum. Pendekatan puitika kognitif Peter Stockwell dimanfaatkan untuk menelaah permasalahan tersebut. Melalui pemetaan konsep metafora ilmiah yang digunakan di dalam novel, ditemukan bahwa birfurkasi dan turbulensi menghadirkan sejumlah makna ketika keduanya dikaitkan dengan cerita.Kata-kata kunci: bifurkasi, metafora ilmiah, puitika kognitif, teori Order dan Chaos, turbulensiAbstractSupernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh is a novel penned by Dewi (Dee) Lestari in 2004 that brings many issues of human living in the vast universe. It appears to be science-fiction work since there are several uses of scientific metaphors emerged in the novel. The scientific metaphor uses are especially derived from modern physics (Quantum Theories), mathematic, psychology, biology and economy. The problem that is analyzed in this study is the underlying concept of some scientific metaphors that hold the crucial point in understanding the story. The study is focused on the use of term bifurkasi (bifurcation) and turbulensi (turbulence) for their connectedness to Order and Chaos theory, as one of the science theories discussed in the novel. The study discusses the way the scientific terms are used within the story and intertwined to its narrative, affecting the reader’s interpretation of the story in general. Cognitive poetic approach by Peter Stockwell is used to view the problem. By mapping the conceptual metaphor of the scientific terms used in the novel, the study finds that both terms represent their own meanings when they are connected to the story. Keywords: bifurcation, cognitive poetic, Order and Chaos theory, scientific metaphor, turbulence
Keterlibatan Indonesia dalam Perdagangan Tekstil dan Pakaian Dunia pada Abad ke-20 Azis, Harry Azhar
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.216 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.6631

Abstract

Perdagangan tekstil telah tunduk pada pengendalian unilateral, bilateral, dan multilateral melalui kebijakan perdagangan yang dilakukan oleh banyak pemerintah di seluruh dunia dalam beberapa dekade sejak awal abad ke-20. Masalah pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan merupakan alasan terpenting karena berkaitan dengan perlunya pengendalian perdagangan tekstil. Tindakan sejumlah negara yang terlibat memaparkan dinamikanya tersendiri. Apabila selama masa awal perkembangannya industri tekstil didukung oleh pertumbuhan ekonomi negara-negara, yang sekarang dikenal sebagai negara-negara maju, sejak pasca-Perang Dunia II negara-negara berkembang semakin bertambah untuk berperan pula. Pasar industri telah menjadi target ekspor tekstil dan pakaian negara berkembang selama abad ke-20. Namun, peristiwa tersebut seringkali dikaji di bidang perekonomian, sehingga tulisan yang secara khusus menyoroti sejarah hubungan perdagangan tekstil global dengan kesejahteraan penduduk Indonesia belum maksimal dilakukan. Artikel ini membahas bagaimana keterlibatan Indonesia dalam perdagangan tekstil dan pakaian global pasca-Perang Dunia II. Dengan menggunakan metode sejarah, artikel ini menyajikan fakta bahwa Indonesia telah berperan dalam perdagangan tekstil dan pakaian global pada masa pascakemerdekaan. Keterlibatan Indonesia dalam perdagangan tersebut melesat selama kurun waktu 1980-1993, meskipun negara ini tidak terlibat lebih jauh dalam negosiasi untuk menentukan aturan perdagangan secara global. Sektor ini cukup menopang perekonomian, namun tidak begitu berpengaruh secara lebih signifikan pada kesejahteraan masyarakat pada skala nasional.
Implikasi Sosialisasi Bahasa dan Perspektif Sosiokultural untuk Instruksi Literasi: Studi Kasus pada SD Negeri Jagir 2 Surabaya Hamida, Layli
MOZAIK HUMANIORA Vol 16, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.36 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5859

Abstract

AbstrakSiswa-siswa yang ada di sekolah umumnya berasal dari latar belakang budaya dan linguistik yang berbeda-beda. Banyak siswa yang datang ke sekolah dengan membawa tidak hanya bahasa yang baru tetapi juga budaya baru yang tidak sama dengan budaya sekolah pada umumnya. Perbedaan-perbedaan ini dapat membuat guru salah mengartikan atau meremehkan kemampuan siswa sehingga dapat menjadi penghambat dalam interaksi dan komunikasi antara guru dan siswa, serta  dapat pula membuat guru memberikan instruksi literasi yang tidak dipahami oleh siswa karena perbedaan cara penggunaan bahasa. Metode penelitian yang  digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara observasi partisipatoris dan wawancara. Pengamatan dilakukan selama dua minggu di SD Negeri Jagir 2 Surabaya. Dari hasil penelitian didapatkan simpulan bahwa guru seharusnya membangun interaksi komunikatif yang lebih relevan dengan budaya siswa dengan bentuk aktivitas literasi oral bersama guru dan teman sebaya pada kelas-kelas rendah seperti kelas satu dan kelas dua. Hal ini dapat dilaksanakan dengan banyak melibatkan siswa dalam kegiatan yang bersifat cooperative learning, yaitu kerja kelompok di mana siswa dapat menggunakan bahasa lokalnya, yaitu bahasa Jawa dengan sesama teman sebayanya untuk membantu mereka menguasai literasi dalam bahasa formal sekolah, yaitu bahasa Indonesia. Kata kunci: literasi, siswa, sosialisasi bahasa AbstractPupils in school generally come from different cultural and linguistic backgrounds. Many children going to school do not only bring a new language, but also a new culture which is not the same as their school culture in general. These differences can make teachers misunderstand or underestimate the children’s ability as a student. This can hinder any interaction and communication between teachers and students; later, this can lead the teachers to give a literacy instruction that may not be understood by the students due to the difference of how the language is used. The present study applied a qualitative method with an ethnographic approach. Some participatory observations and interviews were conducted. The observations were conducted in two weeks in a public elementary school SD Negeri Jagir 2 Surabaya. The findings of the study show that the teacher should build more relevant communicative interactions which fit with the culture of the students in the forms of oral literacy activities. These activities involved the teachers and peers at the lower grades such as the first grade one and the second grade. In addition, the students could work in group work where they can use their local language. Keywords: language socialization, literacy, pupils 

Page 1 of 1 | Total Record : 10