cover
Contact Name
Arum Budiastuti
Contact Email
arumbudi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
up2dfibunair@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Mozaik Humaniora
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 24428469     EISSN : 2442935X     DOI : -
Mozaik Humaniora is a journal that focuses on the scope of humanities and accepts articles on cultural studies, linguistic and literary studies, as well as philology and historical studies.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 18, No 1 (2018): Mozaik Vol. 18 No.1" : 12 Documents clear
How is Meaning Constructed in Indonesian Expressions? Nirmala, Deni
MOZAIK HUMANIORA Vol 18, No 1 (2018): Mozaik Vol. 18 No.1
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.446 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v18i1.9886

Abstract

Makna diperoleh tidak hanya dari melabeli tetapi juga mengonstruksi. Dengan melabeli, makna diperoleh dari komponen semantis yang secara konvensional telah disepakati oleh penuturnya. Namun, dengan mengonstruksi, makna diperoleh dengan konseptualisasi yang terefleksikan dalam kata atau ungkapan lainnya. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan suatu bukti kreativitas manusia dalam mengonstruksi makna dalam bahasa Indonesia. Konseptualisasi terwujud dalam bentuk dasar kata, reduplikasi, afiksasi, dan bentuk pasif. Selain itu, konseptualisasi terbukti juga dalam pengalaman yang merasuk dalam tubuh serta proses tergabungnya berapa konsep untuk membentuk konsep baru. Hasil analisis menunjukkan bahwa konseptualisasi terjadi ketika pengguna menjelaskan konsep abstrak dengan konsep konkret dan dengan konseptualisasi terjadi adanya perubahan makna karena adanya penambahan dan perluasan makna kata atau ungkapan.
Kekerasan Simbolik dalam Nyali Karya Putu Wijaya: Karya Sastra, Politik, dan Refleksi Setijowati, Adi
Mozaik Humaniora Vol 18, No 1 (2018): Mozaik Vol. 18 No.1
Publisher : Faculty of Humanities - Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mh.v18i1.9881

Abstract

Artikel ini bertujuan mengungkap kekerasan simbolik dalam novel Nyali karya Putu Wijaya dengan memanfaatkan model aktansial A.J. Greimas. Model aktansial mengungkap peran-peran yang biasanya dilakukan dalam cerita, seperti subjek, objek, pengirim, penerima, penolong, dan penentang. Hubungan aktansial berguna untuk melihat relasi struktur narasi. Dalam artikel ini juga dimanfaatkan perspektif Pierre Bourdieu terkait kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik yang ditemukan berasal dari dominasi tentara berpangkat tinggi ke tentara berpangkat lebih rendah, antara lain adalah kepatuhan, indoktrinasi, komando, pembohongan, strategi penguasaan, dan instruksi. Kekerasan simbolik dalam Nyali ditunjukkan dalam strategi kejahatan struktural dari atas ke bawah (Jendral mengelabui Kolonel, Kolonel meminta Kopral untuk melaksanakan rencana penguasaan Jendral). Nyali adalah wacana karya Putu Wijaya yang berbicara tentang hal-hal menyangkut ketentaraan atau kemiliteran Indonesia. Dalam mekanisme kekerasan simbolik, dapat disimpulkan bahwa keluarga tentara yang menjadi korban adalah keluarga kopral. Dapat ditunjukkan pula bahwa semakin seseorang berada di lingkungan kepangkatan terendah, mereka semakin berani mempertanyakan nasibnya, karena mereka tidak merasa kehilangan apa-apa. Hal ini berbeda dengan keluarga yang berpangkat Kolonel yang semakin mendukung karier ketentaraannya, meskipun harus dilalukan dengan cara berbohong. Pola-pola militerisasi yang ditunjukkan Nyali merefleksikan pengaruh kehidupan sehari-hari masyarakat di perkotaan. Pembacaan atas karya sastra yang bernuansa politik penting untuk dilakukan agar pembaca tidak kehilangan pengetahuan tentang keadaan politik yang pernah atau sedang berlaku di masyarakat.
Arsitektur Rumah Tradisional Suku Kajang di Provinsi Sulawesi Selatan Lewa, Erni Erawati
MOZAIK HUMANIORA Vol 18, No 1 (2018): Mozaik Vol. 18 No.1
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.426 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v18i1.9887

Abstract

Suku Bugis-Makassar menganggap rumah tidak hanya sebagai tempat tinggal untuk melakukan aktivitas. Dalam pandangan kosmologis masyarakat Bugis-Makassar, rumah adalah mikrokosmos dan merupakan replika makrokosmos, yang terdiri atas tiga tingkatan, yakni dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Berdasarkan status sosialnya, rumah masyarakat Bugis-Makassar dibedakan atas Saoraja (Bugis)/Ballak Lompoa (Makassar) yang diartikan sebagai istana, dan Bola (Bugis)/Ballak (Makassar) yang diartikan sebagai rumah bagi masyarakat biasa. Dari segi makna, rumah merupakan lambang keberhasilan seseorang, dan identitas lapisan sosial yang diwujudkan dalam bentuk fisik dan gaya serta hiasan beraneka ragam, rumah juga dianggap sebagai simbol dari nilai budaya masyarakat. Rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung, tetapi juga mempunyai fungsi sosial, ekonomi, religi dan lain sebagainya. Metode yang dipakai dalam penulisan ini adalah metode induktif, dan pengolahan data secara kualitatif. Metode induktif berusaha untuk melihat gejala-gejala khusus yang terdapat pada arsitektur rumah tradisional Kajang untuk menarik simpulan secara umum. Pengolahan data kualitatif dilakukan berdasarkan kualitas dari data yang ditemukan di setiap rumah. Arsitektur dan orientasi rumah tradisional Kajang secara keseluruhan memiliki bentuk dan orientasi yang sama, baik dari segi bahan, ukuran, denah ruangan, bentuk rumah dan fungsi ruangannya, sehingga tidak tampak tanda-tanda pelapisan sosial.
Portraying Literacy in Dolly Lane, a Red Light District (RDL): Qualitative Content Analysis on the Narratives Produced by Dolly Teenagers Nuswantara, Eka Dian Savitri, Kartika
MOZAIK HUMANIORA Vol 18, No 1 (2018): Mozaik Vol. 18 No.1
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1786.89 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v18i1.9888

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menemukan bukti bagaimana habitus dari Gang Dolly dapat memengaruhi seseorang yang telah tumbuh dan hidup di lingkungan sekitar. Narasi digunakan sebagai media untuk memperoleh data. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana habitus telah mampu memengaruhi disposisi dan skema kognitif seseorang ke dalam cerita yang mereka ceritakan. Analisis konten digunakan untuk mendekati data yang berasal dari narasi. Ada 14 narasi yang dihasilkan oleh 14 remaja dari lingkungan Gang Dolly. Di antara narasi-narasi itu, hanya dua yang mampu menunjukkan bagaimana habitus yang kuat dari para perawi berpengaruh pada cerita yang mereka tulis dalam narasi. Makalah ini mengungkapkan bahwa habitus, yang sangat kuat, akan dapat terus-menerus diungkapkan melalui tema dan kata-kata yang terpilih ketika kemudian mereka diminta untuk menulis kisah mereka. Temuan ini mengklaim bahwa ideologi literasi adalah perlakuan yang tepat bagi para remaja untuk hidup bebas dari prostitusi. Oleh karena itu, membina Kampung Literasi Dolly dapat diharapkan untuk menyelamatkan remaja di Kampung Dolly dari praktik prostitusi.
Pandangan Penutur Bahasa Jawa terhadap Cacar: Kajian Etnolinguistik Wulandari, Ari; Marsono, Marsono; Suhandono, Suhandono
MOZAIK HUMANIORA Vol 18, No 1 (2018): Mozaik Vol. 18 No.1
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.453 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v18i1.9883

Abstract

Cacar merupakan salah satu penyakit dalam kehidupan orang Jawa. Cacar dianggap sebagaipenyakit alamiah. Penderita diisolasi selama pengobatan dan diberikan obat-obatan sesuai denganramuan untuk obat cacar. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan klasifikasi penyakit cacar danpengobatan tradisionalnya. Berdasarkan klasifikasi dan pengobatan tradisional terhadap cacar akandiketahui cara pandang orang Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnolinguistik denganrancangan penelitian kualitatif. Istilah cacar yang dibahas sangat tergantung konteks cacar dalambahasa Jawa. Pengumpulan data dengan cara partisipasi observasi dan wawancara. Bahasa Jawamemiliki setidaknya 13 leksikon cacar. Klasifikasi cacar dalam bahasa Jawa terdiri dari level 0 UniqueBeginner, level 1 Life Form, level 2 Generic, level 3 Specific, dan level 4 Varietal. Klasifikasi danpengobatan tradisional cacar oleh orang Jawa berasal dari pemikiran dan pandangannya. Orang Jawamemandang cacar berhubungan dengan kehidupan dan kematian seseorang, menganggap cacarsebagai masalah semua kalangan, nama cacar sesuai dengan cirinya agar mudah diingat, sakit bukanhal yang perlu dikeluhkan, dan setiap penyakit selalu ada obatnya. Hal itu disebabkan oleh karakterorang Jawa yang prêmati „teliti‟, tanggon „teguh‟, wêgig „mampu mengatasi masalah‟, mugên„berkonsentrasi‟, mumpuni „menguasai berbagai hal‟, dan adaptif atau terbuka terhadap hal-hal baru.
Cultural Event Management in Promoting Siak as the “Truly Malay” for Strengthening Local Economy and Revitalizing Malay Culture Efni Salam, Noor
MOZAIK HUMANIORA Vol 18, No 1 (2018): Mozaik Vol. 18 No.1
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.854 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v18i1.9889

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan acara budaya yang diadakan oleh masyarakat lokal Siak Sri Indrapura. Ini juga menyelidiki keterlibatan lebih lanjut dan kepedulian pariwisata dalam mempromosikan Siak sebagai “Truly Malay.” Penelitian ini juga mengeksplorasi upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk memperluas jaringan dan mempromosikan acara budaya sebagai daya tarik lokal, baik dalam lingkup lokal dan internasional, sambil memperkuat ekonomi lokal dan merevitalisasi budaya Melayu. Menggunakan pendekatan komunikasi dan budaya, penelitian kualitatif ini menemukan beberapa acara budaya di Siak: Festival Siak Bermadah, Ghatib Benghanyut, dan wisata olahraga seperti Tour de Siak. Semua acara ini memberdayakan masyarakat lokal dan menarik perhatian dunia. Studi ini juga menemukan bahwa peran pemerintah dalam mempromosikan acara-acara ini tercermin dalam bentuk publikasi di media komunikasi dan / atau peningkatan sumber daya manusia dan instrumen pendukung lainnya. Sementara untuk masyarakat lokal, ada peningkatan ekonomi kreatif dan upaya yang mengarah pada revitalisasi budaya Melayu
Pola Antenatal Care dan Health Seeking Behavior Ibu Hamil Suku Mbojo, Bima, Nusa Tenggara Barat Triratnawati, Atik
MOZAIK HUMANIORA Vol 18, No 1 (2018): Mozaik Vol. 18 No.1
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.851 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v18i1.9884

Abstract

Angka kematian ibu yang tinggi di Indonesia berdampak pada kegagalan tujuan MDG’s butir 5, yaitu penurunan angka kematian ibu sampai 50%. Penurunan angka kematian ibu adalah salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan menyangkut ANC. Tulisan ini mengkaji bagaimana pola Ante Natal Care (ANC) dan Health Seeking Behavior (HSB) ibu hamil di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Pengumpulan data dengan focus group discussion, observasi, dan wawancara ibu usia reproduksi di Desa Jati Baru, Kota Bima. Pendekatan gender digunakan guna memahami relasi dan akses perempuan terkait pola ANC dan perilaku pencarian penyembuhan ibu hamil. Ibu hamil rutin memeriksakan kehamilan di posyandu, poskesdes, puskesmas, tetapi tidak semua ibu hamil bersalin dengan bidan melainkan sando. Sando dipilih karena berbagai alasan: turun-temurun atau sudah tradisi, privasi terjaga, kehamilan normal, murah, mudah ditemui, dan dekat. Sebaliknya, apabila kehamilan tidak normal, penolong persalinan yang dipilih adalah bidan/dokter. Jika mengalami gangguan kesehatan, mereka menemui sando untuk mendapatkan pijat, sedangkan ke Puskesmas/bidan/dokter guna mendapat pertolongan dari ahlinya.
Penyusunan Sejarah Kota Berbasis Kawasan Cagar Budaya di Kota Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta basundoro, Purnawan
MOZAIK HUMANIORA Vol 18, No 1 (2018): Mozaik Vol. 18 No.1
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.336 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v18i1.9890

Abstract

Penelitian ini merupakan perpaduan penelitian lapangan dan arsip kawasan cagar budaya dan bangunan yang bertujuan untuk merekonstruksi latar belakang sejarah kota-kota di Indonesia. Penelitian dilakukan di tiga kota, yaitu Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta dengan pertimbangan bahwa kota-kota tersebut memiliki karakteristik sejarah yang berbeda. Penelitian arsip dilakukan di antaranya di Perpustakaan dan Badan Dokumentasi Kota Surabaya, Badan Perpustakaan dan Dokumentasi Provinsi Jawa Timur, Perpustakaan Nasional Jakarta, Arsip Nasional Indonesia di Jakarta, Perpustakaan Umum Daerah Istimewa Yogyakarta, Pers Museum Surakarta, Kantor Arsip Makassar, Museum La Galigo Makassar, Museum Benteng Rotterdam Makassar, dan Museum Kota Makassar. Hasilnya menunjukkan bahwa kawasan cagar budaya, bangunan, dan benda umumnya mengacu pada sejarah tematik latar belakang historis kota-kota tersebut di masa lalu. Kota Surabaya memiliki karakter yang kuat sebagai kota perdagangan dan industri. Selain itu, ia juga memiliki sektor pemerintahan dan pendidikan sebagai karakter utama. Kota Makassar memiliki karakter yang kuat sebagai pusat pemerintahan lama dengan konflik internal mereka, dan sebagai kota pelabuhan. Kota Yogyakarta didirikan dari sisa-sisa konflik internal Kerajaan Mataram. Kota Yogyakarta telah berkembang menjadi pusat otoritatif tradisional dengan pengaruh budaya Jawa yang sangat kuat. Selama era kolonialisme, kota ini menjadi arena pertempuran simbolis antara Belanda dan pihak Kerajaan.
Perempuan dalam Film-film Horor Hollywood Periode Tahun 2000-2017 Sagita, Deandra Rizky
MOZAIK HUMANIORA Vol 18, No 1 (2018): Mozaik Vol. 18 No.1
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.468 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v18i1.9885

Abstract

Film-film horor Hollywood yang hadir pada periode tahun 2000-2017 memuat unsur-unsur yang senantiasa berulang. Hal-hal terkait dengan perempuan hadir secara konsisten dan memiliki porsi yang berbeda dalam setiap film. Konsistensi hadirnya hal-hal terkait perempuan dalam kesepuluh film horor Hollywood yang dijadikan objek penelitian ini menimbulkan asumsi adanya makna tekstual yang perlu dibahas lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami keberulangan hal-hal terkait perempuan yang hadir melalui penceritaan dalam film serta mengupas makna di balik fenomena tersebut. Penelitian ini memanfaatkan teori struktur naratif Vladimir Propp, yang terdiri atas dua metode. Pertama, identifikasi struktur cerita, yakni berkaitan dengan fungsi atau unsur tetap yang hadir dalam kesepuluh film horor. Kedua, setelah ditemukan bagaimana keberulangannya kemudian dilakukan pemaknaan. Melalui kedua metode tersebut dapat diperoleh makna kehadiran perempuan dalam kesepuluh film horor Hollywood. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa tujuh unsur yang senantiasa berulang dalam setiap film: perempuan sebagai tokoh sentral, keluarga sebagai ruang problematis, penjelasan tentang masa lalu di tengah penceritaan, hantu perempuan semasa hidup merupakan sosok marjinal dan terdominasi, ketidakhadiran tokoh Ayah, kehadiran sosok pastor, dan akhir cerita menghadirkan problematika baru. Dari ketujuh unsur tersebut, dua hal hadir secara dominan dan selalu ada dalam setiap film, yaitu perempuan sebagai tokoh sentral dan penjelasan tentang masa lalu di tengah penceritaan. Hal ini dapat dimaknai sebagai sebuah pembalikan atas pemahaman patriarki. Tokoh-tokoh perempuan di dalam film digambarkan sebagai sosok yang independen dan mampu berdiri sendiri dengan atau tanpa bantuan laki-laki. Hal-hal berkaitan dengan kehadiran perempuan dalam film-film horor Hollywood merupakan gambaran atas kekuatan-kekuatan perempuan yang seringkali dianggap remeh dibanding dengan kekuatan laki-laki.
Kekerasan Simbolik dalam Nyali Karya Putu Wijaya: Karya Sastra, Politik, dan Refleksi Setijowati, Adi
MOZAIK HUMANIORA Vol 18, No 1 (2018): Mozaik Vol. 18 No.1
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (647.315 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v18i1.9880

Abstract

Artikel ini bertujuan mengungkap kekerasan simbolik dalam novel Nyali karya Putu Wijaya dengan memanfaatkan model aktansial A.J. Greimas. Model aktansial mengungkap peran-peran yang biasanya dilakukan dalam cerita, seperti subjek, objek, pengirim, penerima, penolong, dan penentang. Hubungan aktansial berguna untuk melihat relasi struktur narasi. Dalam artikel ini juga dimanfaatkan perspektif Pierre Bourdieu terkait kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik yang ditemukan berasal dari dominasi tentara berpangkat tinggi ke tentara berpangkat lebih rendah, antara lain adalah kepatuhan, indoktrinasi, komando, pembohongan, strategi penguasaan, dan instruksi. Kekerasan simbolik dalam Nyali ditunjukkan dalam strategi kejahatan struktural dari atas ke bawah (Jendral mengelabui Kolonel, Kolonel meminta Kopral untuk melaksanakan rencana penguasaan Jendral). Nyali adalah wacana karya Putu Wijaya yang berbicara tentang hal-hal menyangkut ketentaraan atau kemiliteran Indonesia. Dalam mekanisme kekerasan simbolik, dapat disimpulkan bahwa keluarga tentara yang menjadi korban adalah keluarga kopral. Dapat ditunjukkan pula bahwa semakin seseorang berada di lingkungan kepangkatan terendah, mereka semakin berani mempertanyakan nasibnya, karena mereka tidak merasa kehilangan apa-apa. Hal ini berbeda dengan keluarga yang berpangkat Kolonel yang semakin mendukung karier ketentaraannya, meskipun harus dilalukan dengan cara berbohong. Pola-pola militerisasi yang ditunjukkan Nyali merefleksikan pengaruh kehidupan sehari-hari masyarakat di perkotaan. Pembacaan atas karya sastra yang bernuansa politik penting untuk dilakukan agar pembaca tidak kehilangan pengetahuan tentang keadaan politik yang pernah atau sedang berlaku di masyarakat.

Page 1 of 2 | Total Record : 12