cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Dampak
Published by Universitas Andalas
ISSN : 25975129     EISSN : 18296084     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Dampak merupakan publikasi bidang lingkungan hidup yang bersifat ilmiah, dapat berupa hasil penelitian, aplikasi teknologi tepat guna atau ide penyelesaian terhadap permasalahan lingkungan hidup yang ada. Naskah belum pernah dipublikasikan dalam media lain, atau naskah sedang dalam proses review dan/atau menunggu untuk diterbitkan di media lain.
Arjuna Subject : -
Articles 104 Documents
Apakah Pendidikan Lingkungan Merupakan Faktor Utama Pembentuk Perilaku Lingkungan pada Masyarakat di Negara Berkembang? Ulhasanah, Nova -
Jurnal Dampak Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.16.1.31-41.2019

Abstract

Environmental education in developed countries is currently being intensively developed to increase the environmental awareness of the community in order to achieve sustainable development. But for developing countries like Indonesia, is environmental education the most urgent thing to do first to improve the successful implementation of environmental management system? This paper presents an analysis of social aspects related to the environmental behavior of a society, which is about the importance of the "environmental education" factor for people in developing countries in general, in Indonesia specifically. In addition, other factors that form the environmental behavior of the community and their relationships with one another are also discussed. The topic chosen to represent environmental behavior in this paper is the community's environmental awareness for the waste management system in Padang, West Sumatra, Indonesia. This study uses structural equation modeling (SEM) (which consists of exploratory factor analysis (EFA) and confirmatory factor analysis (CFA)) to investigate the environmental behavior of the community represented by 609 respondents living in the Padang city. The results of the study show that environmental education factor is ranked 3rd out of 8 determinants of the formation of environmental behavior in society, namely after the factors of "government role" and "law enforcement". This research is expected to be able to provide information to various stakeholders where providing environmental education to the community has not been able to effectively change the environmental behavior of the community if the government's role in making a good environmental management system and strong law enforcement have not been carried out.
STUDI PAPARAN KONSENTRASI GAS KARBONMONOKSIDA (CO) DI LINGKUNGAN KERJA PETUGAS PARKIR DAN POLISI LALU LINTAS DI KOTA PADANG Bachtiar, Vera Surtia
Jurnal Dampak Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.10.1.60-72.2013

Abstract

ABSTRAKStudi paparan konsentrasi gas karbonmonoksida (CO) terhadap petugas parkir dan polisi lalu lintas bertujuan untuk mengetahui tingkat paparan yang diterima di udara tempat kerjanya dan melihat beberapa variabel yang mempengaruhi konsentrasi gas CO. Penelitian ini dilakukan di areal parkir tertutup di pusat perbelanjaan terbesar Kota Padang (Plaza Andalas dan Rocky Plaza Hotel) dan di 5 pos jaga Polisi Lalu Lintas. Pengukuran gas CO dilakukan dengan menggunakan CO meter dengan electrochemical sensor dan dioperasikan selama 1 jam di setiap titik pengukuran. Pengukuran CO di areal parkir tertutup menunjukkan bahwa konsentrasi CO di udara kerja petugas parkir Plaza Andalas dan Rocky Plaza Hotel melebihi batas baku mutu, sementara jumlah kendaraan yang mengkontribusi gas selama pengukuran di areal parkir memiliki hubungan yang kurang kuat(R2=6,5%-51%) terhadap peningkatan konsentrasi CO. Sedangkan dari hasil pengukuran gas CO di 5 pos jaga polisi lalu lintas menggambarkan bahwa konsentrasi CO masih berada di bawah baku mutu, dan volume lalu lintas sebagai variabel bebas yang diduga berpengaruh memiliki hubungan yang kurang kuat (R2=45%) terhadap peningkatan gas CO di udara tempat kerja Polisi Lalu Lintas.Kata kunci: Gas karbonmonoksida (CO), petugas parkir, polisi lalu lintas, CO meter.ABSTRACTStudy of carbon monoxide concentration (CO) of the parking attendants and traffic police checkpoints aimed to determine acceptable levels of exposure in the workplace area and to see some of variables that affect the concentration of CO. The research was carried out in the parking lots of Padangs largest shopping center (Plaza Andalas and Rocky Plaza Hotel) and in 5 traffic police checkpoints. CO measurements were carried out using a CO meter with an electrochemical sensor and operated for 1 hour at each measurement point. Measurement of CO in the covered parking area indicated that the concentration of CO in the air Andalas Plaza parking attendant job and Rocky Plaza Hotel exceeded the quality standards, while the number of vehicles that contributed during the measurement in parking areas have a less strong impact (R2 = 6.5% - 51%) of the increase in CO concentration. While the results of measurements of CO gas in 5 traffic police checkpoint illustrated that CO concentrations were still below standards, and traffic volumes as independent variables was thought to have influence a less strong impact (R2 = 45%) to the increase in CO gas air at the Police workplace.Keywords: carbonmonoxide (CO), parking attendants, traffic police checkpoints, CO meter.
EFISIENSI METODE MULTI SOIL LAYERING (MSL) DALAM PENYISIHAN COD DARI LIMBAH CAIR HOTEL (Studi Kasus: Hotel X Padang) Elystia, Shinta; Indah, Shinta; Helard, Denny
Jurnal Dampak Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.9.2.98-105.2012

Abstract

ABSTRAKDalam penelitian dilakukan pengolahan limbah cair Hotel yang bersumber dari dapur dan laundri dengan metode Multi Soil Layering (MSL). Tujuan penelitian ini untuk menentukan efisiensi penyisihan COD dan mempelajari pengaruh faktor variasi material organik dalam campuran tanah pada lapisan anaerob dan variasi Hydraulic Loading Rate (HLR) terhadap efisiensi pengolahan limbah cair hotel dengan metode MSL. Dua buah reaktor MSL berdimensi 50 x 15 x 100 cm dengan lapisan batuan yang sama pada kedua reaktor berupa kerikil berukuran 35 mm serta lapisan anaerob berupa campuran tanah dengan arang (reaktor 1) dan campuran tanah dengan serbuk gergaji (reaktor 2) dengan rasio komposisi 2 : 1. Limbah dialirkan pada masing-masing reaktor dengan variasi HLR 500, 750, dan 1.000 l/m2hari. Konsentrasi COD sebelum diolah adalah 132,600201,240 mg/l, setelah diolah dengan MSL konsentrasi berubah menjadi 12,48088,920 mg/l. Secara umum, variasi material organik dalam campuran tanah tidak begitu berpengaruh pada penyisihan COD. Variasi HLR cukup berpengaruh, dimana HLR 500 l/m2hari memberikan efisiensi penyisihan COD yang lebih tinggi. Efisiensi penyisihan COD yang diperoleh pada penelitian ini berturut-turut pada reactor 1 berkisar antara 55 -90 % dan pada reactor 2 berkisar antara 56-89%. Hasil menunjukkan bahwa kedua reaktor mampu menyisihkan COD pada limbah cair hotel.Kata Kunci: COD, limbah cair hotel, multi soil layering (MSL)ABSTRACTResearch COD removal from hotel wastewater stemmed from laundry and kitchen with Multi Soil Layering method (MSL) was conducted. The aim were to observe COD removal efficiency and to study the effect of organic material variation in soil as the anaerob layer as well as the effect of various hydraulic loading rate (HLR). In this research, there were two MSL reactors with dimension of 50 x 15 x 100 cm. Aerob layers of both reactors in the form of gravel 3-5 mm sized while anaerob layers are composed from soil mixed with charcoal (reactor 1) and soil mixed with sawdust (reactor 2) with ratio 2:1. HLR of wastewater for each reactor are 500, 750, and 1.000 l/m2day. Concentration of COD was 132,600-201,240 mg/l. COD concentration successively reduced to 12,480-88,920 mg/l.This result indicated both reactors can cast aside COD and also neutralize hotel liquid waste pH. In general, organic material variation of in soil mixture, that is sawdust and charcoal did not show any significant influence. HLR of 500 l / m2/day allowed the best removal efficiency at each contaminant parameters. As a whole efficiency removal of COD at this research successively at reactor 1 ranged from 55-90%, and 56-89%.Key Words:COD, hotel wastewater, multi soil layering (MSL)
SATUAN TIMBULAN DAN KOMPOSISI SAMPAH INDUSTRI KOTA PADANG Ruslinda, Yenni
Jurnal Dampak Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.10.1.20-28.2013

Abstract

ABSTRAKDalam perencanaan dan pengembangan sistem pengelolaan sampah suatu kota, diperlukan data timbulan dan komposisi sampah dari berbagai sumber sampah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan timbulan dan komposisi sampah industri Kota Padang berdasarkan SNI 19-3964-1994. Dari penelitian diperoleh rata-rata sampah industri Kota Padang sebesar 5,057 kg/orang/hari (0,164 kg/m2/hari) dalam satuan berat atau 6,569 liter/orang/hari (0,441 liter/m2/hari) dalam satuan volume. Berdasarkan kategori industri (jumlah karyawan), timbulan sampah industri besar 9,606 liter/orang/hari, timbulan sampah industri sedang 5,644 liter/orang/hari, dan timbulan sampah industri kecil 4,457 liter/orang/hari. Produksi sampah mengalami pengurangan pada akhir minggu yaitu hari Jumat sampai hari Minggu karena waktu kerja lebih singkat dari hari biasanya. Komposisi sampah industri Kota Padang didominasi oleh sampah organik (79,31%) yang terdiri atas sampah makanan (9,90%), kertas (20,06%), plastik (18,86%), tekstil (8,69%), karet (1,62%), sampah halaman (0,54%), kayu (14,18%), dan kulit (5,47%), sedangkan sampah anorganik (20,69%) terdiri dari kaca (0,28%), kaleng (1,36%), logam (0,12%), dan lain-lain (serbuk gergaji, busa) sebesar 18,93%. Kajian awal pengolahan yang diusulkan untuk sampah industri berdasarkan data timbulan dan komposisi adalah daur ulang untuk sampah kertas dan plastik, dan reuse untuk sampah lain-lain (campuran tanah dan serbuk gergaji).Kata kunci: sampah industri, timbulan sampah, komposisi sampah ABSTRACTTo plan and develop a solid waste management system, some data are needed such as generation and composition of solid waste from several sources. The aim of this research was to determine the generated solid wastes and their composition from industrial wastes based on SNI 19-3964-1994. The researchs results shows that average waste generation for industrial solid waste in Padang city was 5,057 kg/person/day (0,164 kg/m2/day) in weight unit, or 6,569 liter/person/day (0,441 liter/m2/day) in volume unit. Based on industry category (number of employees), the generation of solid waste from large scale industries, medium scale industries, and small scale industries were 9,606 liter/person/day, 5,644 liter/person/day, and 4,457 liter/person/day consecutively. Waste productions were decreased at the end of the week (Friday to Sunday) due to shorter working time. The composition of the industrial solid waste was dominated by organic waste (79,31%) which consists of food waste 9,90%, paper waste 20,06%, plastics waste 18,86%, textiles waste 8,69%, rubber waste 1,62%, yard waste 0,54%, wood waste 14,18%, and leather waste 5,47%, while the 20,69% inorganic waste consists of glass waste 0,28%, tin 1,36%, metal 0,12%, and others (mixture of soil, sawdust) 18.93%. Preliminary assessment for the proposed processing industrial waste based on data of solid waste generation and composition were recycling for paper and plastic wastes, and reuse for other wastes (mixture of soil and sawdust).Keywords: industrial waste, waste generation, waste composition
STUDI PEMANFAATAN SAMPAH DI KAMPUS UNIVERSITAS ANDALAS Raharjo, Slamet; Ruslinda, Yenni; Aziz, Rizki
Jurnal Dampak Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.10.1.73-78.2013

Abstract

Konsep pengelolaan sampah telah lama berubah dari pemusnahan atau pembuangan menjadi pemanfaatan. Namun konsep ini belum diikuti dengan langkah nyata oleh pemerintah. Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan telah mendorong beberapa kelompok masyarakat, lembaga atau institusi untuk bergerak aktif dalam pemanfaatan sampah. Universitas Andalas sebagai lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Pulau Sumatera sudah saatnya mengambil peran aktif dalam melakukan pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan. Timbulan sampah yang cukup besar yaitu 28 m3/hari pada tahun 2012, yang diproyeksikan akan menjadi 34 m3/hari atau 9 ton/hari pada tahun 2017, menawarkan potensi cukup besar untuk dimanfaatkan. Pada tahun proyeksi 2017 dari total timbulan sampah, 26,6 % (2,4 ton/h) adalah sampah makanan, 9,8 % (0,9 ton/h) adalah sampah penyapuan taman/jalan, 30,0 % (2,7 ton/h) adalah sampah plastik, 25,3 % (2,3 ton/h) adalah sampah kertas, 1,5 % (0,1 ton/h) adalah sampah kaleng, logam dan besi dan 6,9 % (0,6 ton/h) adalah sampah lain-lain (tekstil, karet, kayu, kaca dll). Dari total sampah makanan dan penyapuan halaman/jalan, 33,7 % berpotensi untuk menghasilkan kompos sekitar 1,2 ton/hari, 2,1 % (0,2 ton/h) dapat dimanfaatkan untuk proses biogas dan sisanya 0,5 % (0,05 ton/h) ditimbun di TPA. Sampah plastik dan kertas sebesar 55,3 % dapat dimanfaatkan kembali atau dijual ke PT. Semen Padang sebagai tambahan bahan bakar unit kiln. Dari 1,5 % sampah kaleng, logam dan besi, 1,3 % dapat dimanfaatkan kembali atau dijual ke pihak ketiga sedangkan sisanya yang hanya sebesar 0,02 ton/h dibuang ke TPA Air Dingin. Selanjutnya, sisa timbulan sampah sebesar 6,9 % yang berupa sampah tekstil, karet, kayu, kaca dan lain-lain dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pada kiln PT. Semen Padang. Jika konsep ini dapat dilaksanakan, maka Universitas Andalas dianggap mampu melakukan pemanfaatan sampah hingga 99,3 %. Kata kunci: Pemanfaatan sampah, kelestarian lingkungan, pengelolaan sampah yang berwawasan lingkunganABSTRACTManagement of solid waste has been changed from dumping to utilization. However, this concept is not fully applied yet by the government. Environmental sustainability awareness has been stimulating some community groups and institutions to actively involve in waste utilization. Andalas University as a leading higher education institution in Sumatera Island must give active contributions in solid waste management for environmental sustainability. Solid waste generation of 28 m3/day, which is projected to be 34 m3/day or 9 ton/day in 2017, offers huge enough potency for utilization. From the total solid waste generation in 2017, 26.6 % (2.4 ton/day) is food waste, 9.8 % (0.9 ton/day) is garden/road waste, 30.0 % (2.7 ton/day) is plastic waste, 25.3 % (2.3 ton/day) is paper waste, 1.5 % (0.1 ton/day) can, metal and iron waste and 6.9 % (0.6 ton/day) is micellaneous waste (textile, rubber, wood, glass etc). 33.7 % of food waste and garden/road waste may be recycled to compost around 1.2 ton/day, 2.1 % (0.2 ton/day) may be utilized for biogas and the rest 0.5 % (0.05 ton/day) is sent to TPA Air Dingin. Plastic waste and paper wich is 55.5 %, may be used for additional fuel for kiln unit of PT. Semen Padang. From 1.5 % can, metal and iron waste, 1.3 % may be reused or sold to third party while the reset (only 0.02 ton/day) must be disposed to TPA Air Dingin. Furthermore, the rest of waste generation account for 6.9 % composed of textile, rubber, kayu, kaca dll may be used as alternative fuel for kiln PT.Semen Padang. If this concept is practiced, then the Andalas University is considered capable of utilizing their waste up to 99.3 %.Keyword: Utilization solid waste, environmental sustainability, management of solid waste
SATUAN TIMBULAN DAN KOMPOSISI SAMPAH INSTITUSI KOTA PADANG Ruslinda, Yenni
Jurnal Dampak Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.9.2.105-115.2012

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan satuan timbulan dan komposisi sampah dari sumber institusi di Kota Padang, meliputi sampah dari sarana pendidikan, sarana kesehatan dan perkantoran. Dari hasil penelitian diperoleh satuan timbulan sampah institusi Kota Padang sebesar 1,374 l/o/h (0,161 l/m2/h) dalam satuan volume atau 0,109 kg/o/h ( 0,009 kg/m2/h) dalam satuan berat. Pola timbulan sampah perhari didapatkan terjadi penurunan timbulan sampah pada hari Sabtu dan Minggu. Komposisi sampah institusi Kota Padang didominasi oleh sampah organik sebesar 94,42 % yang terdiri dari 34,39 % sampah makanan; 14,19 % kertas; 14,92 % plastik; 1,48 % tekstil; 0,08 % karet; 29,12 % sampah halaman; dan 0,25 % kayu dan sampah anorganik sebesar 5,58 % yang terdiri dari 0,82 % kaca; 1,32 % kaleng dan sisanya 3,44 % sampah lain-lain berupa baterai, seng, tembaga dan sampah medis. Berdasarkan data timbulan dan komposisi, pengolahan yang diusulkan untuk sampah institusi Kota Padang adalah daur ulang sampah kertas dan plastik, pengomposan sampah halaman dan sisa makanan dan pembakaran (insinerasi) sampah medis.Kata kunci : sampah institusi, timbulan sampah, komposisi sampah ABSTRACTThis research was aimed to determine the solid waste generation and composition from institution in Padang city, comprising solid waste from schools, health centre and office affairs. Solid waste generation of instutional solid waste in Padang city was 1.374 litre/person/day (0.161 litre/m2/day)in the volume unit, or 0.109 kg/person/day (0.009 kg/m2/day) in weight unit. There was the decline in the trend of solid waste generation per day on Saturday and Sunday. The composition of the institutional solid waste was dominated organic waste of 94.42% which consists of 34.39 % food waste, 14.19 % paper waste, 14.92 % plastic waste, 1.48 % textile fabric waste, 0.08 % rubber waste, 29.12 % yard waste and 0.25 % woods, while the inorganic waste was 5.58 % covering 0.82 % glass waste, 1.32 % cans and the remaining 3.44 % other waste like batteries, iron sheetings, copper materials, and medical waste. Based on the data of solid waste generation and composition, method for processing the institutional solid waste in Padang city was the recycle of paper and plastic waste, composting of yard and food waste and the incineration of medical waste as well.Keywords: institutional soild waste, solid waste generation, waste composition
ANALISIS KORELASI RADIATIVE FORCING METANA (CH4) DENGAN PERUBAHAN TEMPERATUR DI KOTOTABANG TAHUN 2004 2009 Pujiastuti, Dwi
Jurnal Dampak Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.10.1.29-37.2013

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan perhitungan radiative forcing gas Metana (CH4) menggunakan konsentrasi (CH4) dari tahun 2004 2009 di Kototabang dengan menggunakan metode Intergovernmental on Panel Climate Change (IPCC). Hasil perhitungan kemudian dikorelasikan dengan selisih temperatur yang merupakan data bulanan temperatur permukaan Kototabang dikurangi dengan temperatur rata-rata selama 6 tahun pengukuran. Temperatur permukaan diukur dengan menggunakan instrumen Automatic Weather station (AWS) yang ada di stasiun GAW Kototabang. Dari hasil analisi diperoleh nilai radiatve forcing mengalami peningkatan dari 0,24338 Wm-2pada tahun 2004 menjadi 0,246221 Wm-2 pada tahun 2009. Hal ini menunjukkan lebih banyak energi radiasi matahari yang diserap daripada yang diemisikan (Positive feedback). Tetapi hasil korelasi radiative forcing CH4 dengan selisih temperatur memiliki koefisien determinasi yang rendah yaitu 0,0047. Hal ini karena perubahan temperatur di Kototabang yang tercatat di AWS bukan hanya dipengaruhi oleh nilai konsentrasi metana saja tapi juga oleh aerosol, awan, dan gas rumah kaca lainnya. Hal juga ini menunjukkan bahwa konsentrasi gas metana tidak signifikan mempengaruhi perubahan temperatur di Kototabang. Kata kunci: Kototabang, metana, radiative forcing, temperaturABSTRACTRadiative forcing of methane (CH4) gas has been calculated based on its concentration in Kototabang from 2004 to 2009, by using Intergovernmental on Panel Climate Change (IPCC) method. The calculation results were further correlated to the temperature differences, i.e., monthly surface temperature subtracted by the average temperature data at Kototabang during the six year of measurement. The surface temperature was measured by using Automatic Weather Station (AWS) installed at the Global Atmospheric Watch (GAW) Kototabang. Based on the analysis, there was an increment of the radiative forcing from 0.24338Wm-2 in 2004 to 0.246221Wm-2 in 2009. This showed the solar energy was more absorbed than emitted (positive feedback). However, the result of correlation analysis between CH4 radiative forcing and the temperature difference shows a low determinant coefficient, i.e., 0.0047. This is due to the measured temperature change in Kototabang is not only affected by methane concentrations but also influenced by aerosol, clouds and other green house gases. This also shows that methane gas concentration did not significantly influence the temperature change in Kototabang.Keywords: Kototabang, methane, radiative forcing, temperature
ANALISIS PRODUKTIVITAS SISTEM TRANSPORTASI SAMPAH KOTA PADANG Komala, Puti Sri; Aziz, Rizki
Jurnal Dampak Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.9.2.73-86.2012

Abstract

ABSTRAKStudi analisis produktivitas sistem transportasi sampah Kota Padang ini dilakukan untuk melihat kemampuan sarana transportasi kota Padang untuk mengangkut sampah dari tempat pewadahan sampah atau dari Tempat Pemindahan Sampah (TPS) ke tempat pembuangan akhir. Sistem transportasi kota Padang terdiri dari sistem transportasi dengan wadah angkut dan wadah tetap. Analisis produktivitas yang dilakukan meliputi jumlah personil yang dibutuhkan, kapasitas sampah yang terangkut, dan jarak yang ditempuh oleh kendaraan angkut dalam satuan waktu pada masing-masing sistem. Hasil analisis memperlihatkan bahwa sistem wadah angkut lebih produktif dibandingkan sistem wadah tetap dilihat dari segi personil dan sampah yang diangkut per ritasi. Jumlah personil sistem wadah angkut per ritasi dua orang sedangkan sistem wadah tetap sebanyak tiga orang, kapasitas total sampah yang diangkut dengan sistem wadah angkut sebesar 372 m3/hari sedangkan sistem wadah tetap sebesar 213 m3/harinya, dan jarak tempuh total sistem sistem wadah angkut perjamnya adalah 27,78 km sedangkan sistem wadah tetap sejauh 8,6 km. Waktu angkut rata-rata yang dibutuhkan pada sistem wadah tetap adalah 4,53 jam per ritasi lebih besar dibandingkan dengan sistem wadah angkut yaitu 1,23 jam. Berdasarkan waktu tersebut diperoleh produktivitas personil sistem wadah tetap 0,66 orang/jam dan pada sistem wadah angkut 1,63 orang/jam. Meskipun produktivitas personil SCS lebih kecil, namun SCS diperlukan di daerah pemukiman dengan timbulan sampah kecil, sedangkan HCS untuk kuantitas sampah yang besar dan spesifik.Kata kunci: transportasi sampah Kota Padang, sistem wadah angkut, sistem wadah tetap, produktivitas. ABSTRACTThe analysis study of the waste transportation system productivity in Padang city was carried out to evaluate the transportation vehicle capacity in Padang city for transporting waste either from the waste container or from the transfer station to the disposal site. Padangs waste transportation system consists of hauled container system (HCS) and stationary container system (SCS). Productivity analysis included the personnal number required, the capacity of the waste transported and the vehicle haul distance of each system. Results showed that the HCS was more productive than SCS in terms of personnel required and waste transported per ritation. The number of collector in HCS per ritation was two persons while that of SCS was three persons, total capacity of waste transported by HCS was 372 m3/day while the SCS hauled 213 m3/day, and haul distance of HCS was 27.78 km/hour while the SCS was 8.6 km/hour. The average haul time required for SCS was 4.53 hours per ritation larger than that of the HCS i.e. 1.23 hours. Based on the time required the personnel productivity of the SCS was 0.66 person/hour and the HCS was 1.63 persons / hour . Although the personnel productivity of SCS is smaller, but SCS is required in a residential area with a small waste, whereas the HCS for a large quantity of waste and specific.Key words: solid waste transportation of Padang city, hauled container system (HCS), stationary container system (SCS), produktivityABSTRAKStudi analisis produktivitas sistem transportasi sampah Kota Padang ini dilakukan untuk melihat kemampuansarana transportasi kota Padang untuk mengangkut sampah dari tempat pewadahan sampah atau dari TempatPemindahan Sampah (TPS) ke tempat pembuangan akhir. Sistem transportasi kota Padang terdiri dari sistemtransportasi dengan wadah angkut dan wadah tetap. Analisis produktivitas yang dilakukan meliputi jumlahpersonil yang dibutuhkan, kapasitas sampah yang terangkut, dan jarak yang ditempuh oleh kendaraan angkutdalam satuan waktu pada masing-masing sistem. Hasil analisis memperlihatkan bahwa sistem wadah angkutlebih produktif dibandingkan sistem wadah tetap dilihat dari segi personil dan sampah yang diangkut per ritasi.Jumlah personil sistem wadah angkut per ritasi dua orang sedangkan sistem wadah tetap sebanyak tiga orang,kapasitas total sampah yang diangkut dengan sistem wadah angkut sebesar 372 m3/hari sedangkan sistemwadah tetap sebesar 213 m3/harinya, dan jarak tempuh total sistem sistem wadah angkut perjamnya adalah27,78 km sedangkan sistem wadah tetap sejauh 8,6 km. Waktu angkut rata-rata yang dibutuhkan pada sistemwadah tetap adalah 4,53 jam per ritasi lebih besar dibandingkan dengan sistem wadah angkut yaitu 1,23 jam.Berdasarkan waktu tersebut diperoleh produktivitas personil sistem wadah tetap 0,66 orang/jam dan padasistem wadah angkut 1,63 orang/jam. Meskipun produktivitas personil SCS lebih kecil, namun SCS diperlukan didaerah pemukiman dengan timbulan sampah kecil, sedangkan HCS untuk kuantitas sampah yang besar danspesifik.Kata kunci: transportasi sampah Kota Padang, sistem wadah angkut, sistem wadah tetap, produktivitas.ABSTRACTThe analysis study of the waste transportation system productivity in Padang city was carried out to evaluatethe transportation vehicle capacity in Padang city for transporting waste either from the waste container or fromthe transfer station to the disposal site. Padangs waste transportation system consists of hauled containersystem (HCS) and stationary container system (SCS). Productivity analysis included the personnal numberrequired, the capacity of the waste transported and the vehicle haul distance of each system. Results showedthat the HCS was more productive than SCS in terms of personnel required and waste transported per ritation.The number of collector in HCS per ritation was two persons while that of SCS was three persons, total capacityof waste transported by HCS was 372 m3/day while the SCS hauled 213 m3/day, and haul distance of HCS was27.78 km/hour while the SCS was 8.6 km/hour. The average haul time required for SCS was 4.53 hours perritation larger than that of the HCS i.e. 1.23 hours. Based on the time required the personnel productivity of theSCS was 0.66 person/hour and the HCS was 1.63 persons / hour . Although the personnel productivity of SCS issmaller, but SCS is required in a residential area with a small waste, whereas the HCS for a large quantity ofwaste and specific.Key words: solid waste transportation of Padang city, hauled container system (HCS), stationary containersystem (SCS), produktivity.
ANALISIS KANDUNGAN LOGAM Cd, Cu, Cr DAN Pb DALAM AIR LAUT DI SEKITAR PERAIRAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG Arifin, Bustanul
Jurnal Dampak Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.9.2.116-122.2012

Abstract

ABSTRAKPenelitian mengenai analisis kandungan logam Cd, Cu, Cr dan Pb dalam air laut telah dilakukan di sekitar perairan Bungus, Teluk Kabung, Kota Padang dengan menggunakan metode ekstraksi pelarut. Hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam, Cu, Cr dan Pb dan sebarannya di perairan Bungus. Sampel sebanyak 200 mL diekstraksi dengan larutan pengompleks ammonium pyrolidin ditiokarbamat (APDC) jenuh sebanyak 2 mL dalam 7 mL metil isobutyl keton (MIBK) dan diekstrak kembali dengan 5 mL larutan HNO3 4M, larutan diukur absorbannya dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Pengambilan sampel air laut dilakukan sebanyak 6 lokasi yaitu di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera, pantai Carolin, Depot Pertamina, Teluk Pandan, UPTD BBIP (Balai Benih Ikan Pantai) Teluk Buo dan di laut lepas, dimana tiap lokasi diambil 2 titik sampel dengan jarak antar titik sekitar 100 m dengan dua kali pengambilan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kandungan logam Cd berkisar antara 0,006 0,01 ppm, Cu antara 0,0058 0,0720 ppm, Cr antara 0,0170 - 0,0890 ppm dan kandungan logam Pb berkisar antara 0,06 0,09 ppm. Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 kandungan logam Cr dan Pb telah melampaui standar baku mutu air laut yaitu 0,001 ppm sedangkan kandungan logam Cd dan Cu belum melampaui standar baku mutu air laut. Kata Kunci : ekstraksi pelarut, APDC, MIBK dan SSAABSTRACTResearch on metal concentrations of Cd, Cu, Cr and Pb was analyzed in sea water around Bungus, Teluk Kabung, Padang City by utilizing solvent extraction method. The research was conducted to see metal contents and their distribution in Bungus. Sample of 200 ml was extracted with 2 ml solution of saturated ammonium pyrolidine dithiocarbamate (APCD) in 7 ml methyl isobutyl ketone (IBK) and being extracted again with 5 ml HNO3 4M. Solution was measured its absorbance by using Atomic Absorbtion Spectroscopy (AAS). Sea water samples was taken in six locations; around Samudera Fishery Port, Carolin Beach, gas station, Pandan Bay, UPTD BBIP Buo Bay and in the sea, 2 sampling points were set with 100 m distance between each point. Results show the range of Cd concentration was 0.006-0.01 ppm, Cu was 0.0058-0.0720 ppm, Cr was 0.0170-0.0890 ppm and Pb was 0.06-0.09 ppm. Compared with the regulation of Environment Ministry number 51 Year 2004, concentrations of Cr and Pb exceeded the quality standard of sea water of 0.001 ppm. On the other hand, Cd and Cu concentrations were found below the sea water quality standard.Keywords: AAS, APCD, MIBK, solvent exraction
EFISIENSI DAN KAPASITAS PENYERAPAN FLY ASH SEBAGAI PENYISIHAN MINYAK DAN LEMAK DARI LIMBAH CAIR HOTEL DENGAN METODE MULTI SOIL LAYERING (MSL) Edwin, Tivany; Indah, Shinta; Helard, Denny
Jurnal Dampak Vol 10, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/dampak.10.1.38-45.2013

Abstract

ABSTRAKMetode Multi Soil Layering (MSL) diujicobakan untuk menyisihkan minyak dan lemak pada limbah cair hotel yang berasal dari dapur dan laundry. Hasil analisis karakteristik limbah cair tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi minyak dan lemak melebihi baku mutu Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 26 Tahun 2001 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Hotel di Propinsi Sumatera Barat. Pada penelitian ini digunakan 2 buah reaktor berbahan akrilik dengan dimensi 50 x 15 x 100 cm, terdiri dari dua macam lapisan batuan kerikil berdiameter 3-5 mm serta lapisan yang terdiri dari campuran tanah dan material organik. Kedua reaktor dibedakan atas material organik, dimana reaktor 1 terdiri dari campuran tanah andisol dan arang, sedangkan reaktor 2 terdiri dari campuran tanah andisol dengan serbuk gergaji. Limbah cair dialirkan pada Hydraulic Loading Rate (HLR) dengan variasi 500, 750, dan 1.000 l/m2hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua reaktor mampu menyisihkan minyak lemak dengan efisiensi 27,8 -89,5 % pada reaktor 1, serta efisiensi 23,8-62,5% pada reaktor 2. Variasi material organik dalam campuran tanah berpengaruh pada efisiensi penyisihan konsentrasi minyak dan lemak, dimana secara keseluruhan reaktor 1 lebih baik dalam menyisihkan minyak dan lemak dibandingkan reaktor 2. Efisiensi penyisihan minyak lemak didapatkan lebih tinggi pada reaktor 1 dengan pengaliran limbah cair pada HLR 500 l/m2hari. Secara umum MSL dapat menyisihkan minyak dan lemak pada limbah cair hotel.Kata Kunci : MSL, limbah cair hotel, minyak dan lemakABSTRACTMulti soil layering (MSL) method was tested to remove oil and grease in a hotel laundry and kitchen waste water which was exceeded water quality standard on hotel wastewater quality standard issued by West Sumatera Governor Number 26 Year 2001. There were two acrylic reactors utilized in this research with dimension of 50 x 15 x 100 cm. Each reactor aws arranged with layers of 3-5mm diameters gravels and soil and organic materials mixtures, organic material used were different in each reactor. Reactor 1 used charcoal as organic material in soil mixture, while reactor 2 used sawdust. Waste water was set to flow at 500, 750, and 1.000 l/m2day Hydraulic Loading Rate (HLR). The results showed that both reactors were able to remove oil and grease with efficiency range of 22.8,-89.5% by usnig Reactor 1, and 23.8-62.5% by using Reactor 2. The difference in organic material on soil mixture affected the removal efficiency which was higher in Reactor 1. Removal efficiency of oil and grease the highest at HLR of 500 l/m2day compared to other rates. Generally, MSL is able to remove oil and grease from hotel waste water. Keywords: MSL, hotel waste water, oil and grease

Page 1 of 11 | Total Record : 104