cover
Contact Name
Mohammad Rizki
Contact Email
mohammadrizki.md@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.kedokteran.unram@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Jl. Pendidikan No. 37 Mataram, Nusa Tenggara Barat
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran
Published by Universitas Mataram
ISSN : 23015977     EISSN : 25277154     DOI : -
Core Subject : Health,
The Unram Medical Journal managed by the Medical Faculty of Mataram University is a scientific journal to publish the results of the latest research in the field of medical and health related. This journal promote medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community research to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also case reports.
Articles 259 Documents
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PEMILIHAN PENGOBATAN PENDERITA MALARIA DI KECAMATAN SAMBELIA, KABUPATEN LOMBOK TIMUR Annisa, Athiyatun; Triani, Eva; Primayanti, Ika
Jurnal Kedokteran Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v8i3.369

Abstract

Latar Belakang: Malaria merupakan penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia hingga saat ini. Kasus malaria hampir ditemukan di seluruh provinsi yang ada di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB). Lombok Timur merupakan salah satu kabupaten yang terletak di NTB dengan angka kejadian malaria yang masih cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang malaria dengan perilaku pemilihan pengobatan penderita malaria di Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Metode: Penelitian ini merupakan deskriptif analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional). Teknik yang digunakan adalah wawancara terpimpin menggunakan kuesioner pada 57 responden yang dipilih secara acak sederhana. Responden yang dipilih adalah masyarakat yang pernah terdiagnosismalaria atau sedang menderita malaria pada tahun 2016-2017. Analisis data menggunakan ujikorelasi non-parametrik Spearman. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang malaria termasuk kategori cukup sebesar 39 orang (68,42%), 10 orang (17,54%) kategori rendah dan 8 orang (14,04%) kategori baik. Perilaku pemilihan pengobatan penderita malaria termasuk kategori baik sebesar 49 orang (85,96%) dan sebanyak 8 orang (14,04%) memiliki perilaku pemilihan pengobatan kategori tidak baik. Hasil penelitian secara statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang malaria dengan perilaku pemilihan pengobatan dengan nilai p = 0,628 atau p > 0,05. Kesimpulan: Tingkat pengetahuan tentang malaria bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi perilaku pemilihan pengobatan penderita malaria
PROFIL PASIEN MORBUS HANSEN YANG BEROBAT RAWAT JALAN DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUD PROVINSINTB TAHUN 2016-2018 Hidajat, Dedianto; Wedayani, Anak Agung Ayu Niti
Jurnal Kedokteran Vol 8 No 4 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v8i4.386

Abstract

Latar Belakang: Morbus Hansen adalah penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae yang dapat menular melalui kontak langsung dan mukosa saluran pernapasan atas. Angka kejadian MH sudah menunjukkan penurunan namun masih tergolong tinggi. Jumlah kasus baru MH di dunia pada tahun 2015 adalah sekitar 210.758 kasus. Saat ini Indonesia berada di nomor tiga di dunia dengan penderita MH terbanyak. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik deskriptif dengan desain penelitian retrospektif. Populasi penelitian adalah pasien rawat jalan di Poliklinik Kulit dan Kelamin di RSUD Provinsi NTB pada periode tahun 2016 - 2018. Variabel yang digunakan antara lain, jenis kelamin, usia, alamat, jenis komplikasi, dan komplikasi. Analisis data menggunakan uji chi square. Apabila syarat uji chi square tidak terpenuhi, maka digunakan alternative, yaitu uji Fisher?s exact. Hasil: Didapatkan pasien sebanyak 72 orang. Dari Uji Chi Square dan Uji Fisher?s exact didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna, baik antara jenis kelamin dengan komplikasi (p=0,128), jenis kelamin dengan kelompok usia (p=0,146), dan kejadian komplikasi dengan kelompok usia (p=0,056) pada pasien MH yang rawat jalan di Poliklinik Kulit dan Kelamin di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB pada periode tahun 2016 ? 2018. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna, baik antara jenis kelamin dengan komplikasi, jenis kelamin dengan kelompok usia, dan kejadian komplikasi dengan kelompok usia pada pasien MH yang rawat jalan di Poliklinik Kulit dan Kelamin di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB pada periode tahun 2016 ? 2018.
REAKSI HIPERSENSITIVITAS PADA KULIT AKIBAT OBAT ANTI INFLAMASI NON STEROID Hidajat, Dedianto; Novi Lindriati, Ni Luh Putu; Purwaningsih, Ni Wy Desi
Jurnal Kedokteran Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v8i3.368

Abstract

Seiring dengan hasil pengobatan yang semakin maju, kelangsungan hidup pasien yang lebih lama dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama, frekuensi dan durasi paparan terhadap obat-obatan telah meningkat. Konsekuensi yang dapat terjadi akibat meningkatnya paparan terhadap obatobatan yakni meningkatnya kejadian reaksi hipersensitivitas terhadap obat. Kulit merupakan organ yang paling sering terlibat dalam reaksi hipersensitivitas terhadap obat. Dari semua organ yang terkena, kulit paling sering terlibat dalam reaksi hipersensitivitas terhadap obat. Sebagian besar reaksi hipersensitivitas obat pada kulit bersifat ringan, berupa erupsi makulopapular atau urtikaria. Adapun reaksi hipersensitivitas obat yang bersifat berat, yaitu pustulosis eksantematosa generalisata akut (PEGA), drug reaction with eosinophilia and systemic symptomps (DRESS), sindrom Stevens Johnson (SSJ), dan nekrolisis epidermal toksik (NET). Obat yang paling sering digunakan pada semua usia karena sifat antipiretik, analgesik, dan antiinflamasinya adalah OAINS. Obat AINS telah dilaporkan sebagai penyebab kedua dari reaksi hipersensitivitas obat setelah antibiotik beta-laktam. Di Indonesia, golongan OAINS yang diduga sebagai penyebab terbesar reaksi hipersensitivitas adalah parasetamol. Klasifikasi reaksi terhadap OAINS terdiri dari reaksi yang dimediasi secara imunologis (non reaksi silang) dan non imunologis (reaksi silang). Golongan OAINS bekerja pada metabolisme asam arakidonat, sehingga mempengaruhi keseimbangan antara leukotrien dan prostaglandin dengan menghambat produksi prostanoid. Mekanisme definitif hipersensitivitas OAINS belum jelas, tetapi kemungkinan bahwa blokade COX yang diinduksi OAINS menghasilkan produksi prostaglandin E2 yang berlebihan pada individu yang terpengaruh.
GANGGUAN KOGNITIF TERKAIT EPILEPSI LOBUS TEMPORAL: LAPORAN KASUS Syafii Harahap, Herpan
Jurnal Kedokteran Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v8i3.364

Abstract

Salah satu komplikasi penting dari penyakit epilepsi, terutama epilepsi lobus temporal, adalah gangguan kognitif. Kerentanan seorang pasien epilepsi untuk mengalami gangguan fungsi kognitif ditentukan oleh karakteristik demografik, karakteristik klinik, dan cognitive reserve pasien tersebut. Laporan kasus ini mendeskripsikan keluaran klinis fungsi kognitif dari dua kasus epilepsi lobus temporal dan karakteristik demografik, klinik, dan cognitive reserve yang mendasarinya. Pada kasus pertama, seorang perempuan berusia 41 tahun, lulusan sarjana S1, terdiagnosis epilepsi lobus temporal sejak 18 bulan yang lalu. Pasien memiliki riwayat cedera kepala 11 tahun yang lalu. Pasien saat ini mengkonsumsi karbamazepin 600mg/hari dan asam valproat 500mg/hari dan bebas bangkitan selama 3 bulan. Sejak 6 bulan yang lalu, pasien mulai mengeluhkan adanya gangguan kognitif dan mudah khawatir dan marah, namun aktivitas sehari-hari masih normal. Tes neuropsikologi menunjukkan bahwa fungsi kognitif pasien tersebut normal, namun didapatkan adanya gangguan mood ringan. Pada kasus kedua, seorang laki-laki berusia 47 tahun, lulusan SLTA, terdiagnosis epilepsi lobus temporal sejak 14 tahun yang lalu. Pasien memiliki riwayat cedera 20 tahun yang lalu. Pasien saat ini mengkonsumsi karbamazepin 800mg/hari dan asam valproat 1000mg/hari dan bebas bangkitan selama 8 bulan.Sejak 1 tahun yang lalu, pasien mulai mengeluhkan adanya penurunan daya ingat yang menyebabkan aktivitas sehari-harinya menjadi terganggu. Pada kedua kasus tersebut, penentu adanya berbedaan keluaran klinis status kognitif adalah awitan epilepsi, lokasi fokus epileptogenik, dosis obat antiepilepsi, dan tingkat pendidikan.
RELATIONSHIP BETWEEN SMARTPHONE USE WITH SLEEP QUALITY OF SMAN 1 MATARAM IN MATARAM CITY AND SMAN 1 GUNUNGSARI IN WEST LOMBOK REGENCY Raehanah, Yunda Riana Dini Hariani; Mahardika, Agustine; Niti Wedayani, AA Ayu
Jurnal Kedokteran Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v8i3.360

Abstract

Latar Belakang : Penggunaan Smartphone semakin meningkat selama dekade terakhir ini terutama pada kalangan remaja. Penggunaan yang berlebihan dapat menghadirkan kebiasaan tidak sehat dan tidak terkontrol yang disebut dengan kecanduan. Paparan cahaya biru smartphone dapat mengganggu irama sirkadian sehingga mempengaruhi kualitas tidur. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara penggunaan smartphone dengan kualitas tidur pada siswa SMAN 1 Mataram di Kota Mataram dan SMAN 1 Gunungsari di Kabupaten Lombok Barat. Metode : Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif analitik dengan metode cross sectional terhadap 150 siswa yang diambil menggunakan purposive sampling. Data kecanduan smartphone dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner Smartphone Addiction Scale-Short Version dan data kualitas tidur dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index. Data dianalisis menggunakan uji statistik Gamma. Hasil : Pada penelitian ini menunjukkan 77 siswa (51,3%) mengalami kecanduan smartphone dan 55 siswa (26,7%) memiliki risiko tinggi kecanduan smartphone, sedangkan ditinjau dari kualitas tidur didapatkan 90 siswa (60%) mengalami kualitas tidur buruk. Berdasarkan analisis uji statistik Gamma didapatkan nilai signifikansi p=0,017 dan nilai koefisien korelasi r=-0,339. Simpulan : Terdapat hubungan bermakna antara penggunaan smartphone dengan kualitas tidur siswa. Sehingga diharapkan agar siswa dapat mengontrol penggunaan smartphone untuk mengurangi risiko kualitas tidur yang buruk.
THE CORRELATION OF GADGET ADDICTION LEVEL WITH SLEEP QUALITY TO STUDENT IN 7 MATARAM OF PUBLIC PRIMARY SCHOOL IN MATARAM CITY AND 1 GUNUNGSARI OF PUBLIC PRIMARY SCHOOL IN WEST LOMBOK REGENCY Yofani Laurintia; Mahardika, Agustine; Niti Wedayani , Anak Agung Ayu
Jurnal Kedokteran Vol 8 No 4 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v8i4.359

Abstract

Latar belakang: Teknologi informasi dan komunikasi di dunia berkembang semakin pesat. Salah satu bentuk teknologi informasi dan komunikasi yang banyak beredar di masyarakat saat ini adalah gadget. Di Indonesia, penggunaan gadget sudah menjadi tren bagi kalangan pelajar yang berusia kurang dari 15 tahun sebesar 27,9%. Tren penggunaan gadget pada usia tersebut dikhawatirkan menyebabkan kecanduan gadget dan berdampak buruk bagi kesehatan, salah satunya menyebabkan kualitas tidur terganggu. Tujuan utama penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat kecanduan gadget dengan kualitas tidur pada siswa khususnya di SDN 7 Mataram dan SDN 1 Gunungsari. Sehingga dapat menambah pengetahuan mengenai hubungan tingkat kecanduan gadget terhadap kualitas tidur. Metode: Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional pada siswa kelas IV dan V dari SDN 7 Mataram dan SDN 1 Gunungsari yang pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan sampel diminta untuk mengisi kuesioner penilaian tingkat kecanduan gadget (SAS-SV) dan kualitas tidur (PSQI). Hasil: dari 104 responden, sebagian besar tingkat kecanduan gadget responden termasuk dalam kategori risiko rendah 78(75,0%) dan mengalami kualitas tidur baik 76(73,1%). Analisis data menggunakan uji korelasi gamma didapatkan (p) = 0,205 dan (r) = 0,293. Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kecanduan gadget dengan kualitas tidur.
DESKRIPSI JENIS TINDAKAN OPERASI PASIEN BENCANA GEMPA BUMI LOMBOK DI RSUD PROVINSI NTB TAHUN 2018 Hidayatullah, Audi; Namira, Hannah; fawwaz, muhfawwazkamal
Jurnal Kedokteran Vol 8 No 4 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v8i4.358

Abstract

Latar Belakang : Setelah gempa bumi terjadi, infrastruktur medis lokal sering mengalami kerusakan atau hancur.  Perencanaan, alokasi sumber daya yang efisien, dan pemahaman tentang jenis cedera yang mungkin terjadi ditemui. Ahli bedah ortopedi memiliki peran penting dalam menyediakan perawatan korban gempa. Fraktur tulang panjang, cedera jaringan lunak, cedera/fraktur ekstremitas biasanya dapat bertahan dengan perawatan yang tepat. Oleh karena itu setelah gempa bumi sangat penting untuk mengetahui jenis operasi atau tindakan yang sering dibutuhkan dalam menangani cedera setelah gempa bumi khususnya dalam bidang orthopedi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medis pasien korban terdampak bencana gempa bumi Lombok. Besar sampel ditentukan dengan metode consecutive sampling. Sampel adalah pasien korban terdampak bencana gempa bumi Lombok pada tahun 2018 yang memenuhi kriteria inklusi dalam data Rekam Medis di Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2018. Sampel penelitian ini sebanyak 199 sampel. Hasil : Pada penelitian ini, terdapat 199 pasien dengan rasio perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan sebanyak 49.2% dan 50.8%. Jenis tindakan operatif terbanyak adalah debridement 34.2%, ORIF 31.2%, craniotomy 13.1%, laparotomy 6,5%, debridemen dan ORIF 0.5%, WSD 2%, laminectomy 5%, skin graft dan OREF masing-masing 1%, amputasi, burrhole dan rekonstruksi maxilla 0,5%. Klasifikasi trauma tertinggi ialah trauma akibat fraktur 67.8, trauma kepala dan intracranial 14.7%, trauma thorax, abdomen dan pelvis 8.5%, crush injury dan skin loss 1%, trauma lainnya 7%. Kesimpulan : Variasi trauma cedera dan tindakan operatif akibat gempa Lombok membutuhkan tenaga medis khususnya ahli orthopedi untuk menangani kasus trauma yang tepat.
HUBUNGAN KEJADIAN KECACINGAN DENGAN ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA ANAK-ANAK PENGRAJIN GERABAH DI LOMBOK BARAT Wibowo, Ruth Christina; Kurniawan, Yudhi; Triani, Eva
Jurnal Kedokteran Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v8i3.350

Abstract

Latar Belakang: Kecacingan, khususnya infeksi Soil Transmitted Helminths (STH), menjadi masalah kesehatan yang mendunia. Tingginya angka kecacingan pada anak-anak disebabkan karena berbagai faktor, khususnya faktor demografis. Kecacingan dapat menyebabkan gangguan intake, pencernaan, absorpsi, dan metabolisme. Salah satu dampak kecacingan adalah Anemia Defisiensi Besi (ADB). ADB lebih lanjut dapat mengakibatkan  gangguan pada tumbuh kembang anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kejadian kecacingan dengan anemia defisiensi besi pada anak-anak pengrajin gerabah di Lombok Barat, khususnya di SMPN 2 Kediri. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik dengan pendekatan cross sectional. Data diperoleh dengan melakukan pengisian kuesioner oleh siswa. Subjek penelitian adalah 50 siswa kelas 7 dan 8 SMPN 2 Kediri, Lombok Barat. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Chi-Square menggunakan SPSS 23,0. Hasil: Siswa yang positif terinfeksi cacing sebanyak 17 orang (34%). Spesies cacing yang siswa SMPN 2 Kediri adalah Trichuris trichiura yaitu sebanyak 10 siswa (58,82%), diikuti Enterobius vermicularis, Ascaris lumbricoides, Ancylostoma duodenale, dan campuran antara Trichuris trichiura dan Ascaris lumbricoides. Faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan ialah kebiasaan memakai alas kaki dengan P value <0,05 serta menggigit kuku dengan P value <0,05 Siswa yang menderita ADB sebanyak 4 orang (8%), seluruhnya positif terinfeksi cacing. Kejadian kecacingan ini mempunyai hubungan yang bermakna dengan anemia defisiensi besi dengan P value <0,05. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara kejadian kecacingan dengan anemia defisiensi besi di SMPN 2 Kediri, Lombok Barat.
A RESPONSE INNATE IMMUNE RESPONSE 18β-GLYCYRRHETINIC ACID (GRA) AS AN IMMUNOMODULATOR IN LEISHMANIASIS sulistanti, Erly; Rohim, Amalia Ulya; Ma?rifah, Husnul; Oktaviana, Siti Muhsonah
Jurnal Kedokteran Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v8i3.352

Abstract

Leishmaniasis is a disease caused by a parasitic infection of the genus Leishmania through the bite of a female sandfly which results in a decrease in the body's immune system. Every year, there are 2,000,000 cases of Leishmaniasis. The review of this journal aims to illustrate the description of the mechanism of 18?-Glycyrrhetinic Acid (GRA) as antileishmaniasis. GRA from liquorice has activity as an immunomodulator in Leishmaniasis. The method used in this research is a review of scientific literature both in electronic databases from 1990 to 2009 (NCBI, Google Scholar, Google Search) as well as books with the keywords of Leishmaniasis, 18?-Glycyrrhetinic Acid, innate immunity, cytokines, and GRA mechanisms as antileishmaniasis. GRA from liquorice as an immunomodulator has the potential to be an antileishmaniasis agent. The mechanism of GRA action plays a role in the production of proinflammatory cytokines (IL-12, TNF-?, IFN-?) and NO to help stimulate macrophages. In cellular innate immunity, the NFkB and MAPK pathways are activated by GRA compounds so that they can produce proinflammatory cytokines. In cellular innate immunity, Lipophosphoglycan cause MFs infection resulting in inhibition of NO production. However, GRA produces oxidative metabolites in the form of NO which inhibits the action of Lipophosphoglycan so that antigens that are bound to B cell receptors will activate complement to help opsonization. GRA immunomodulatory activity in both arms of innate immunity is obtained by activation of the NFkB pathway which correlates with increased MAPK activation so that proinflammatory cytokines and NO can be produced in Leishmaniasis.
REVISI DAN IMPLEMENTASI PANDUAN ROTASI KLINIK (LOGBOOK)-STUDI KASUS DALAM PENDIDIKAN KLINIK DI FK UNIVERSITAS MATARAM Yoga Pamungkas; Sari, Dian Puspita
Jurnal Kedokteran Vol 8 No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v8i3.348

Abstract

Latar belakang: Panduan rotasi klinik (logbook) dalam pendidikan klinik sangat penting untuk memberikan struktur dan fokus kegiatan belajar mengajar baik bagi mahasiswa maupun dosen klinik. Implementasi pendidikan klinik sendiri banyak menghadapi tantangan, namun demikian permasalahan dan tantangan pada masing-masing fakultas kedokteran berbeda-beda. Fakultas Kedokteran UNRAM (FK UNRAM) yang baru berusia 13 tahun ini tentu memiliki tantangan tersendiri. Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan dan tantangan yang dihadapi selama proses revisi dan implementasi panduan. Metode: Studi kasus dilaksanakan dengan pencatatan selama proses revisi dan implementasi kurikulum. Analisis dilakukan dengan melakukan refleksi terhadap proses revisi yang berjalan. Hasil: Sebelum proses revisi, 10 dari 13 bagian klinik telah memiliki panduan. Namun permasalahan utama yang dihadapi adalah belum adanya keseragaman persepsi tentang panduan rotasi klinik dan isinya. Proses revisi diawali dengan sosialisasi untuk membangun komitmen bersama. Jajaran pimpinan FK UNRAM berkontribusi penting dalam menggalang komitmen serta memberikan dukungan terhadap proses revisi yang dipimpin oleh Medical Education Unit (MEU). Melalui konsolidasi internal MEU mengembangkan format panduan yang akan digunakan. MEU memberi pendampingan kepada bagian klinik hingga rancangan panduan baru disepakati kemudian disahkan. Sebelum implementasi, sosialisasi terhadap dosen klinik maupun mahasiswa dilakukan untuk memastikan kelancaran implementasi. Bagian juga difasilitasi oleh MEU untuk mendapatkan pelatihan bagi pembimbing klinik. Kesimpulan: Revisi panduan rotasi klinik pada dasarnya adalah mengubah sistem dan kurikulum pendidikan klinik.  Komitmen bersama bagian klinik, keterlibatan dan dukungan jajaran pimpinan, pelibatan aktif klinisi dalam pengambilan keputusan, serta sosialisasi panduan kepada seluruh pihak yang akan terlibat mendukung keberhasilan proses ini.

Page 1 of 26 | Total Record : 259