cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Mutiara Medika
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 426 Documents
Perbedaan Tingkat Ketajaman Visus antara Penambang Pasir di Sungai Serayu dan Perenang di Umbang Tirto Yogyakarta Paryono, -; Mahanggoro, Tri Pitara
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The decrease of eyes function like blindness can disturb the daily activities, so in the long term it would be decrease work productivity which is appears economic burden whether for personally, society and country. The disease cause by dust who enters to eyes will appear a big disturb. If this problem still happened will appears dangerous disease even blindness. The purpose of this research is to knowing the difference of the acuteness of vision between sand miner and swimmer.. Subject in this research are 60 people which age 15-35 years old, subject are sand miner in Serayu river and swimmer in umbang tirto yogyakarta, the instrument in this research is optotip Snellen . Data was collected and than analysis by chi-Square and t test. Finally, as this research examines shower the influence time of diving for sand miner, the result is p=0.105, this number is bigger than standard number of p, which is p<0.05. And influence timing of swimming the result is p=0.322, this number is bigger than the standard number of p which is p<0.05. the data using t test for knowing the different of acuteness of vision sand miner and swimmer, t test shower p value is smaller than standard value which is p=0.023. Conclusion is there is influence long activity whether diving or swimmer to acuteness of vision but the influence not really meaning full but there is significant different between acuteness of vision for sand miner and swimmer.Turunnya fungsi mata sebagai indra penglihatan sampai pada kebutaan akan mengganggu aktivitas kerja sehari - hari, sehingga akan menurunkan produktivitas kerja yang mengakibatkan bertambahnya beban ekonomi baik bagi individu, masyarakat dan Negara. Trauma yang diakibatkan oleh debu yang masuk ke dalam mata sudah cukup menimbulkan gangguan hebat. Apabila keadaan ini dibiarkan dapat menimbulkan penyakit yang cukup gawat, bahkan kebutaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat ketajaman visus antara penambang pasir dengan perenang. Subyek dalam penelitian ini adalah 60 orang dengan usia 15-35 tahun, subyek penelitian adalah penambang pasir di sungai Serayu dan perenang di umbang tirto Yogyakarta. Instrumen yang dipakai adalah ototip Snellen. Data di yang diperoleh kemudian dilakukan uji analisis dengan menggunakan Chie-Schuare dan uji t. Hasil penelitian menunjukan pengaruh lama aktivitas menyelam pada penambang pasir didapat nilap p=0.105 nilai ini lebih besar dari nilai p standar yaitu p<0.05 dan pengaruh lama berenang didapat nilai p=0.322 nilai ini lebih besar dari nilap p standar yaitu 0.05. Data tersebut kemudian dilakukan uji t untuk mengetahui perbedaan visus penambang pasir dengan perenang, uji t menunjukan nilai p lebih kecil dari standar yaitu p=. Kesimpulannya adalah ada pengaruh lama aktivitas baik menyelam maupun berenang terhadap tingkat ketajaman visus tetapi pengaruh tersebut tidak bermakna tetapi terdapat perbedaan yang signifikan antara visus penambang pasir dan visus perenang.
Efek Profilaksis Perasan Daun Paederia foetida L. terhadap Ulkus Lambung Tikus Putih Terinduksi Etanol Fitra, Bayu Kurniawan; Makiyah, Sri Nabawiyati Nurul
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gastric ulcer is an ulcer which is caused by acid and pepsin which is happened because imbalance between aggressive and defensive factors. There is some causes of gastric ulcer, for the examples non steroid anti-inflammatory drugs (NSAID), irritant factors, alcohol, foods and beverages and also helicobacter pylori. The purpose of this research is to prove prophylaxis effect of P. foetida L. leaves squeeze to gastric ulcer in the white rats which has been induced by ethanol. Research method which is used is laboratory experimental with post only control group research design. Thirty female Spraque Dawley white rats with 3 months in age and 145-250 grams in weight is divided into 6 groups (normal control, negative control, group with 2% squeeze, 4% squeeze, 8% squeeze and positive control). Sample grouping is done randomly. Ulcer induction with 1 ml of 80% ethanol is done after the rats given P foetida L. leaves squeeze for 3 days and fasted for 24 hours. Scoring the depth of the ulcer and distribution of inflammatory cells is done by microscopic observation according of Hadi, S (2002). Result of the depth of the ulcer is analyzed which kruskall-wallis and continued with mann whitney. Result of the distribution of inflammatory cells is analyzed which one way anova and continued with paired T-test. Statistic result shows depth in group of ulcer squeeze in leaves P. foetida L. 8% is less than from a group of negative control (p<0,05). In the other groups of squeeze that 2% and 4%, shows that the depth of ulcer is less than a group of negative control too, although in statistic it was not significant (p>0,05). In observation the spreading of inflammatory cell shows that group of leaves P. foetida L. squeeze 2%, 4% and 8% are less than group of negative control in the other hand in statistic was not significant (p>0,05). The conclution is squeeze of leaves P. foetida L. 8 % has prophylaxis effect with gastric ulcer of white rats induced by ethanol.Ulkus lambung adalah ulkus yang disebabkan oleh asam dan pepsin, yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara faktor agresif dan faktor defensif. Ada banyak penyebab tukak lambung, seperti obat anti inflamasi non steroid (OAINS), beberapa faktor iritan seperti, alkohol makanan dan minuman serta kuman Helycobacter pylori. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan rancangan penelitian post only control group. Sebanyak 30 ekor tikus putih betina Spraque Dawley 3 bulan, dibagi menjadi 6 kelompok (kontrol tanpa perlakuan, kontrol negatif, perlakuan perasan 2%, 4%, 8% dan kontrol positif). Pengelompokkan sampel dilakukan secara acak. Tikus diberi perasan daun PfoetidaL. selama 3 hari dan dipuasakan selama 24 jam kemudian induksi ulkus menggunakan 1 ml etanol 80%. Penilaian kedalaman ulkus dan penyebaran sel radang dilakukan melalui pengamatan mikroskopis menurut Hadi, S. (2002). Hasil pengamatan kedalaman ulkus dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil pengamatan penyebaran sel radang dianalisis secara statistik menggunakan One Way Anova dilanjutkan dengan Paired T- Test. Hasil statistik menunjukkan kedalaman ulkus kelompok perasan daun P foetida L. 8% lebih rendah daripada kelompok kontrol negatif (p<0,05). Pada kelompok perasan 2% dan 4%, juga menunjukkan kedalaman ulkus lebih rendah daripada kelompok kontrol negatif meskipun secara statistik tidak signifikan (p>0,05). Pada pengamatan penyebaran sel radang menunjukkan kelompok perasan daun P. foetida L. 2%, 4% dan 8% lebih rendah daripada kelompok kontrol negatif meskipun secara statistik tidak signifikan (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa perasan daun P. foetida L. 8% memiliki efek profilaksis terhadap ulkus lambung tikus putih terinduksi etanol.
Pengetahuan dan Penggunaan Asam Folat Wanita Umur Reproduktif Gugun, Adang Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Neural Tube defects (NTDs), termasuk spina bifida dan anencephali merupakan malformasi serius yang terjadi pada saat perkembangan janin selama hari ke 17-30 sesudah konsepsi. Konsumsi suplemen yang berisi asam folat dapat mengurangi kejadian NTDs 50-70 %.Dari laporan “The 1998 behavioral risk factor Surveillance System (BRFSS)” mengenai pengetahuan asam folat dan penggunaan multivitamin pada wanita usia reproduktif di Michigan:Telah dilakukan survey pada 739 wanita usia reproduktif (18-44 tahun) mengenai pengetahuan dan penggunaan asam folat. Usia, ras, pendidikan, status pernikahan, status berat badan, perokok, dan konsumsi sayur/buah diidentifikasi menjadi variabel perhatian dan termasuk dalam analisis multivariabelPengetahuan tentang asam folat dibatasi pada jawaban mengenai alasan rekomendasi para ahli pada penggunaan asam folat, yaitu pencegahan cacat kelahiran.Dari seluruh wanita 30% memiliki pengetahuan tentang penggunaan asam folat. Prevalensi tertinggi pada wanita lulusan sarjana (42,2%), umur 25-29 (39,8%), perokok (37,0%), menikah (35,8%), konsumsi sayur/buah (34,9%) non obesitas (31,9%), Kulit putih (31,5%). Analisa multi variabel menunjukkan bahwa wanita yang berpendidikan tinggi, perokok dan yang tidak menikah secara statistik kurang bermakna dibandingkan masing-masing kelompok pembanding terhadap pengetahuan yang benar mengenai asam folat. Wanita usia 18-29 tahun secara statistik lebih bermakna.Penggunaan multivitamin dibatasi untuk sedikitnya sekali sehari mengkonsumsi multivitamin atau suplemen asam folat. Dari survey menunjukkan bahwa 42,4% wanita mengkonsumsi suplemen asam folat tiap harinya. Penggunaan multivitamin meningkat sesuai umur, dari umur 18-24 tahun 33,1% hingga 41,8% untuk wanita umur 40-44 tahun. Prevalensi wanita yang menggunakan multivitamin paling tinggi berturut turut:Konsumsi sayur/buah (54,9%), lulusan sarjana (49,9%), umur 35-39 tahun (49,6%), perokok (47,4%) menikah (46%) non overweigth (44.5%) dan kulit putih (44,2%).Analisa multivariabel menunjukkan bahwa kelompok berikut secara statistik kurang bermakna dibanding masing-masing kelompok pembanding terhadap penggunaan multivitamin: wanita umur 18-24 tahun, berpendidikan rendah, sedikit konsumsi sayur/buah dan wanita dengan obesitas.Disarankan upaya multi strategis dalam meningkatkan intake dan penggunaan asam folat, baik melalui program pendidikan maupun fortifikasi makanan.
Perbedaan Kadar Endotelin-1 pada Penderita Hipertensi Stadium 1, 2 dan Bukan Penderita Hipertensi Widyatmoko, Agus
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hypertension is a risk factor of cardiovascular disease. Endothelin-1 is a strong vasoconstrictor andrelatedwith angiotensin IIin the arteriapressure regulation. This regulation influence in pathologic condition such as hypertension, congestive heart failure and cronic renal failure. The aim of this study is to compare the levels of endothelin-1 between the patient of hypertension stage 1; stage 2 and no hypertension person. The design of this study is cross sectional. Subjects were resident in the territory of District Health Center 2 Mlati, Sleman, DIY, men and women, aged 18-75 years. Hypertension Stage 1, Stage 2 and no hypertension groups were determined according to Joint National Committee (JNC) 7 criteria. Research subjects used randomly with stratification, fasting at least 8 hours before blood samples were taken for examination to measure the level of endothelin-1. There are 43 patients with hypertension stage 1, 54 patients with hypertension stage 2 and 54 non hypertension person. The difference of endothelin-1 level among groups were analyzed by Anova. This research shows that the increasing levels of endothelin-1 is in a row with increasing of blood pressure in hypertension stage 1 and 2; and the increasing more clear and meaningful in the 50-75 year age of group.Hipertensi merupakan faktor risiko penyakit jantung. Endotelin-1 adalah vasokonstriktor kuat dan berkaitan dengan angiotensin II dalam pengaturan tekanan arteria. Pengaturan ini berpengaruh terhadap kondisi patologis seperti hipertensi, gagal jantung kongesti dan gagal ginjal kronis. Tujuan penelitian ini adalah ingin membandingkan kadar endotelin-1 antara penderita hipertensi stadium 1; stadium 2, dan bukan penderita hipertensi. Rancangan penelitian ini adalah cross sectional. Subjek adalah penduduk di wilayah Kabupaten Puskesmas 2 Mlati, Sleman, DIY, pria dan wanita, usia 18-75 tahun. Hipertensi stadium 1, stadium 2 dan bukan penderita hipertensi ditentukan menurut kriteria JNC 7. Subyek penelitian diambil secara acak dengan stratifikasi, puasa minimal 8 jam sebelum sampel darah diambil untuk pemeriksaan kadar endotelin-1. Ada 43 pasien dengan hipertensi stadium 1, 54 pasien dengan hipertensi stadium 2 dan 54 orang non hipertensi. Perbedaan kadar endotelin-1 antar kelompok dianalisis dengan Anova. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar endotelin-1 maka semakin meningkat tekanan darah pada hipertensi tahap 1 dan 2; dan peningkatan usia lebih jelas dan berarti pada kelompok usia 50-75 tahun.
Kajian Stress Oksidatif Pada Bayi Prematur Setiawan, Bambang; Suhartono, Eko; Mashuri, Mashuri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preterm babies can be considered as a disease with an oxidative stress compo-nent. Beside that, in preterm babies found any disease which have causal link with the action of reactive oxygen species. Damaged which mediated by reactive oxygen species caused bay decreased of endogenous antioxidant defense. In the hospital preterm babies can expose by some source o oxidative stress, such blood transfusion, high concentration oxygen therapy, and parenteral nutrition feeding.Bayi prematur dapat dipertimbangkan sebagai penyakit akibat komponen stress oksidatif. Kerusakan yang ditimbulkan oleh Senyawa Oksigen Reaktif tersebut diperantarai oleh rendahnya sistem antioksidan endogen. Di samping itu, dalam perawatan di rumah sakit, bayi prematur sering terpajan berbagai kondisi yang merupakan sumber stress oksidatif. Kondisi tersebut dapat berupa transfusi darah, terapi oksigen konsentrasi tinggi, dan pemberian makan dengan nutrisi parenteral.
Gambaran Leukosit Pro Inflamasi pada Status Asmaticus di RSUD Kebumen Rahayu, Ester Tri; Arjana, Adika Zhulhi; Juwariyah, Juwariyah; Yuantari, Rahma; Irfan, Rozan Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18 No 1: January 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180108

Abstract

Asma merupakan kondisi penyempitan jalan nafas yang selama ini hanya dianggap sebagai reaksi hipersensitifitas tipe 1 karena pada kondisi lain juga dapat disebabkan oleh inflamasi dan koagulasi. Pada hipersensitifitas tipe 1 terdapat peran neutrofil dan eosinofil dan dalam penelitin ini akan dipetakan fenotip asma berdasarkan aktifitas eosinof dan neutrofil yaitu eosinofilik dan neutrofilik pada serangan akut asma. Penelitian dilakukan dengan desain observasional retrospektif terhadap data sekunder pasien asma dewasa, dalam waktu 1 tahun kebelakang dengan sampel sebanyak 91 orang di RSUD Kebumen. Pengambilan data menggunakan data rekam medis. Analisis data menggunakan uji ANOVA untuk data terdistribusi normal, dan uji rerata Kuskal-Wallis untuk data tidak normal. Karakteristik subyek sejumlah 91 orang, dengan 31 subyek pria dan rerata umur 38 tahun. Delapan puluh empat persen subjek adalah asma derajat ringan, 4 % berat dan sisanya sedang. Pada uji rerata eosinofil dan neutrofil, terdapat berbedaan rerata antar derajat serangan namun tidak signifikan secara statistik. Subyek asma neutrofilik lebih mendomasi dibandingkan eosinofilik. Walaupun begitu, belum dapat diambil kesimpulan hubungan kadar eosinofil dan neutrofil terhadap derajat asma karena belum ada hasil statistik yang signifikan.
Terapi Kognitif dan Perilaku pada Gangguan Obsesif Kompulsif Puspitosari, Warih Andan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The prevalence of Obsessive Compulsive Disorder about 2-3%, mostly happened on male teenagers. The causes are multifactors including biological, behavior and psychosocial factor, so the treatment needs farmacotherapy and psychotherapy. The combination of SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) and Cognitive Behavioral Therapy is the first choice to manage Obsessive Compulsive disorder. The aim of this case report is to reporting the treatment of Obsessive Compulsive disorder by using the combination of SRI and Cognitive Behavioral Therapy. A patient, male, 18th years old was brought by his mother to the Psychiatry outpatient department for doing something repeatedly. It was annoyed him and other person. The mental status examination showed that he always thought repeatedly and did something, so that he will felt released. His neurological and psysical status were within normal limite. After he was treated with the combination of SRI and Cognitive Behavioral Therapy for 5 sessions, he is getting better.Prevalensi Gangguan ObsesifKompulsif berkisar antara 2-3% populasi, pada remaja lebih banyak terjadi pada laki-laki. Penyebabnya multifaktorial meliputi faktor biologi, perilaku dan psikososial, sehingga penatalaksanaannya memerlukan farmakoterapi dan psikoterapi. Kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku merupakan pilihan pertama. Terapi kognitif perilaku memerlukan sedikitnya 12 sesi pertemuan, berdasarkan pengalaman praktek yang terjadi di Indonesia, sulit dilakukan karena terlalu lama, rumit, dan faktor biaya. Dicoba modifikasi untuk menyingkat menjadi 5 sesi terapi. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah melaporkan hasil penatalaksanaan penderita Gangguan Obsesif Kompulsif dengan menggunakan kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku modifikasi 5 sesi. Seorang pasien, laki-laki, berusia 18 tahun diantar oleh ibunya ke poliklinik jiwa karena sering mengulang-ulang suatu perbuatan, yang sudah mengganggu pasien dan orang lain. Pemeriksaan status mental didapatkan adanya pikiran berulang yang mengganggu dan harus dikerjakan agar merasa lega. Pada status internus dan status neurologikus belum ditemukan adanya kelainan. Setelah dilakukan penatalaksanaan dengan menggunakan kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku modifikasi 5 sesi, pasien mengalami perbaikan gejala klinis.
Peningkatan Visualisasi Appendix dengan Kombinasi Adjuvant Teknik Pemeriksaan Ultrasonografi pada Kasus Appendicitis Majdawati, Ana
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (s) (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

To diagnose the appendicitis not easy, because in the fact we find many false positive appendicitis post surgery. Ultrasonography is modality that often choose because it has severe superiority, i.e : non invasif, safety, no radiation effect (safety for pregnant woman and children), cheap, easy, simple and need short time. The weakness Ultrasonography is depend on the operator, various appendix location each somebody. The aim of this literature reviews is to resume of various operator-dependent techniques to graded compression ultrasonography that is useful for allowing improved visualization of appendixes. The addition of various operator-dependent techniques to graded compression sonography i.e a posterior manual compression technique, upward graded compression technique, left oblique lateral decubitus position of body, low-frequency convex transducer (especially for obese poeple and gravid woman), the combination of gray scale and color doppler ultrasound can increase diagnostic accuracy of appendicitis (sensitivity, specitivity and accuracy more 99%). The addition of adjuvant technique of dependent operator that have most highly accuracy is a posterior manual compression technique and the lowest is Left oblique lateral decubitus position of body. The result of the research find appendicitis appearances in ultrasound that have most highly accuracy are blind ending tubular structure at the transversal or longitudinal section of ultrasound, diameter of wallthichness more 6 mm, non compressible, non peristaltic, vascularity increased around appendixes in color doppler ultrasound examination.Penegakan diagnosis appendicitis merupakan hal yang tidak mudah, karena kenyataannya di lapangan masih banyak angka positif palsu appendicitis post operasi. Ultrasonografi (USG) merupakan pemeriksaan yang paling sering dipilih sebagai modalitas diagnostik appendicitis karena mempunyai beberapa keunggulan, yaitu: non invasif, aman, efek radiasi tidak ada (aman bagi wanita hamil dan anak-anak), relatif murah dan mudah dilakukan, waktu yang diperlukan singkat. Kekurangannya pemeriksaan USG sangat tergantung ketrampilan pemeriksa, lokasi appendix yang bervariasi untuk tiap orang sehingga teknik pemeriksaan U SG sangat penting diperhatikan. Tujuan literature review ini adalah untuk merangkum berbagai teknik pemeriksaan USG untuk memvisualisasikan appendix sehingga dapat meningkatkan nilai diagnostik appendicitis. Berdasar literatur review ini dapat disimpulkan bahwa teknik graded kompresi dengan Adjuvant teknik pemeriksaan USG dependent operator yaitu: teknik manual posterior, teknik kompresi bertahap ke arah atas, teknik perubahan posisi Left Oblique Lateral Decubitus, penggunaan transducer konveks frekuensi rendah (terutama untuk orang yang obese dan wanita hamil), kombinasi USG gray scale dengan CDU dapat meningkatkan nilai akurasi diagnostik appendicitis (sensitifitas, spesifisitas dan akurasi hampir 99%). Beberapa teknik Adjuvant tersebut yang mempunyai nilai diagnostik tertinggi adalah teknik kompresi manual posterior, sedang yang terendah adalah teknik perubahan posisi tubuh (Left Oblique Lateral Decubitus). Gambaran USG pada appendix yang mengarah appendicitis yang mempunyai akurasi tinggi berdasar beberapa penelitian, adalah: tampak struktur tubular buntu (blind ending) pada potongan longitudinal dan transversal, diameter dinding lebih 6 mm, non compressible, aperistaltik, peningkatan aliran darah pada pemeriksaan CDU di daerah appendix.
Hubungan Pengetahuan Ibu dan Tingkat Ekonomi Keluarga terhadap Perkembangan Motorik Balita Pratama, Prandy Novi Prima; Listiowati, Ekorini
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan motorik pada balita terdiri atas perkembangan motorik kasar dan motorik halus. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik balita. Pengetahuan ibu terhadap perkembangan motorik balita dan tingkat ekonomi keluarga diduga dapat mempengaruhi perkembangan motorik balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dan tingkat ekonomi keluarga terhadap perkembangan motorik balita. Penelitian ini menggunakan metode observational dengan disain cross sectional. Populasi yang digunakan adalah balita yang ada di Puskesmas Kraton, Yogyakarta pada periode waktu Mei – Juni 2012. Sampel yang diambil berjumlah 54 orang dengan perhitungan rumus untuk Uji Korelasi Spearman. Penelitian menunjukkan pengetahuan ibu tentang perkembangan motorik balita baik (53,7%) dan tingkat ekonomi sedang 44,4%, tinggi 9,3%. Hasil analisis hubungan tingkat pengetahuan ibu terhadap perkembangan motorik balita bermakna dengan p=0,03. Hubungan tingkat ekonomi keluarga dengan perkembangan motorik balita bermakna dengan p=0,038. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dan tingkat ekonomi keluarga terhadap perkembangan motorik balita. Motor development in infants consists of the development of gross motor and fine motor skills. Many factors influence infant motor development. Knowledge of mother to infant motor development might and level of economic family impact on infant motor development. This study aimed to determine the relationship between mother’s knowledge and level of economic family  on motor development toddlers. This study uses cross-sectional observational method design. The population is under five years old in the clinic Kraton, Yogyakarta on May – June 2012. Sampels taken around 54 people with the calculation formula for the Spearman correlation test. This reaseach show a relationship between mother’s knowledge and toddler motor development is significan with p=0,03. And the relationship between level of economic family income to the toddler motor fdevelopment is significan with p=0,038. The conclusion is there is relationship between mother’s knowledge and level of economic family income to the toddler motor fdevelopment
Vitamin C dapat Menurunkan Terjadinya Katarak Lebih Awal Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nutrisi yang tepat dapat melindungi tubuh terhadap perkembangan katarak, terjadi pada 45% orangtua yang berusia >75 tahun. Operasi katarak adalah tindakan bedah yang paling sering dilakukan pada orangtua. Taylor dkk dalam publikasinya di Ameri¬can Journal Clinical Nutrition melaporkan penelitian tentang konsumsi vitamin C tiap hari dari diet selama 13-15 tahun, ternyata mempunyai peran bermakna dalam mencegah salahsatu tipe katarak pada wanita yang berusia kurang dari 60 tahun. Ada sejumlah 492 subyek non diabetik diambil dari Nurse ’s Health Study, yaitu sekelompok perawat di Boston yang memberikan informasi tentang diet dan kesehatannya dan diikuti sejak tahun 1976. Subyek tersebut diperiksa matanya secara detail untuk mendeteksi beberapa bentuk katarak dan informasi intake vitamin dalam jangka waktu lama diambil melalui kuesioner tentang frekuensi makan dari 1980 terus sampai 1993/1995. Kemudian mata diperiksa, ternyata 34% didapatkan bentuk “kortikal opacities” suatu bentuk umum katarak di kortek. Tigapuluh sembilan persen mata mempunyai bentuk katarak lain dengan 1/3 nya terdapat kekaburan lensa di lebih dari 1 tempat. Sebagian besar wanita mengalami opasitas lebih awal sekali dan belum mengalami gejala visual. Hubungan bermakna diamati antara umur, intake vitamin C dan prevalensi katarak. Untuk wanita kurang dari 60 tahun dengan konsumsi vitamin C sebanyak 362 mg per hari ternyata berhubungan dengan 57% risiko rendah perkembangan “kortokal opasities” dan penggunaan suplement vitamin sekurang-kurangnya 10 tahun berhubungan dengan 60% katarak subkapsul posterior menurun pada wanita yang tidak merokok dan diet tinggi folat dan karotenoid. Hasil ini membuktikan bahwa nutrien tertentu dapat menurunkan gangguan yang dialami pada masa tua. (Disarikan dari Elizabeth Horowith dalam American Journal of Clinical Nutri¬tion, tanggal 22 Februari 2002)

Page 1 of 43 | Total Record : 426