cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry)
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Jurnal ini merupakan jurnal elektronik di bidang kimia terapan yang dikelola oleh Magister Kimia Terapan, Program Pascasarjana, Universitas Udayana, Bali. Jurnal ini memuat artikel-artikel penelitian yang berhubungan dengan Kimia Terapan yang meliputi Kimia Analitik, Kimia Polimer, Biokimia, Kimia Bahan Alam, Kimia Fisik, Kimia Permukaan, Biomaterial,dan bidang-bidang terkait. Jurnal ini akan terbit 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Pebruari dan September. Jurnal ini terbuka untuk diakses oleh semua kalangann(Open Access Journal)
Arjuna Subject : -
Articles 128 Documents
PERBANDINGAN EFEKTIFITAS DISINFEKTAN KAPORIT, HIDROGEN PEROKSIDA, DAN PEREAKSI FENTON (H2O2/Fe2+) Setiawan, Didik; Sibarani, James; Suprihatin, Iryanti E
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Volume 1, No. 2, 2013
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.833 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi optimum dan efektifitas hidrogen peroksida dan pereaksi Fenton sebagai disinfektan dibandingkan dengan kaporit. Efektivitas disinfeksi ditentukan berdasarkan beberapa parameter yaitu: koefisien fenol disinfektan dan kualitas air yang dihasilkan yang diukur melalui pH, oksigen terlarut (DO, dissolved oxygen), dan suhunya serta harga disinfektan itu sendiri. Analisis statistik ANOVA dua arah tanpa interaksi  pada tingkat kesalahan 0.01 dilakukan guna menentukan disinfektan paling efektif dan konsentrasi optimumnya. Uji koefisien fenol dilakukan dengan mencampurkan disinfektan dengan konsentrasi tertentu dengan bakteri Salmonella typhosa dan Staphyllococcus aureuskemudian membandingkan hasilnya dengan fenol.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa koefisien fenol dari kaporit, hidrogen peroksida, dan reagen Fenton berturut-turut adalah 4, 6, dan 6. Air yang dihasilkan oleh kaporit mempunyai pH, DO dan suhu berturut-turut adalah 10.07 - 9.2, 6.63-8.07 mgL-1, dan 28.5-28.13oC. Air yang didisinfeksi dengan hidrogen peroksida mempunyai pH,DO, dan suhu berturut-turut adalah 9.03-7.33, 6.93-9.40 mgL-1  , dan 28.5-28.03oC. Sedangkan air hasil didisinfeksi dengan reagen Fenton mempunyai pH, DO, dan suhu berturut-turut adalah 5.97-4.57, 7.40-8.57 mgL-1 , dan 28.47-28.07oC.Meskipun kaporit paling murah, namun dari segi kesehatan hidrogen peroksida merupakan reagen yang paling aman dan paling efektif karena dengan daya disinfeksi enam kali dibandingkan fenol, tidak meninggalkan residu yang membahayakan. Fenton, dilain pihak, meskipun mempunyai daya disinfeksi setara dengan hidrogen peroksida, namun menghasilkan ion Besi (III) dalam air sehingga memerlukan pengolahan lebih jauh.Dengan demikian, secara keseluruhan hidrogen peroksida merupakan disinfektan paling efektif dari ketiganya. The purpose of this study is to determine the optimum concentration and the effectiveness of hydrogen peroxide and Fenton reagent as disinfectants compared to chlorine. The most effective disinfectant is that having the highest phenol coefficient, and resulting good water quality with pH of 6.5-8.5, high dissolved oxygen (DO), and temperature close to ambient, and cheap. The three materials were tested on Salmonella typhosa and Staphyllococcus aureus and their minimum concentrations that kill the bacteria were compared to that of phenol to determine the phenol coefficients. The results show the phenol coefficients of chlorine, hydrogen peroxide, and Fenton are 4, 6, and 6 respectively. The pH of the water treated by the three disinfectants 10.07-9.2, 9.03-7.33, and 5.97-4.57 respectively. The disinfected waters have DO of 6.63-8.07 mgL-1, 6.93-9.40 mgL-1, and 7.40-8.57 mgL-1 respectively. The temperatures of the water are 28.5-28.3, 28.5-28.03, and 28.47-8.07 oC respectively. Chlorine is the cheapest in price, however, its residue may lead to the formation of the carcinogenic halomethanes in the drinking water, and its phenol coefficient is lower than both hydrogen peroxide and Fenton reagents. The last two disinfectants have the highest phenol coefficient, however, hydrogen peroxide is saver because it does not produce harmful chemicals whereas Fenton reagent results in the formation of residual Iron(III) in the water that needs to be treated further.  
ADSORPSI Cr(III) PADA SILIKA GEL TERMODIFIKASI DIFENILKARBAZON SECARA SOL-GEL Astiti Asih, Ida Ayu Raka; Sudiarta, I Wayan
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 4 No 1 (2016)
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK : Telah dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan silika gel termodifikasi difenilkarbazon (Si-CPTMS-DPZon) secara sol-gel untuk mengadsorpsi ion logam kromium(III).  Studi adsorpsi  dilakukan  dengan metode Batch. Pengaruh waktu dan pH awal larutan kromium dipelajari untuk mendapatkan kondisi optimum adsorpsi dan variasi konsentrasi ion kromium digunakan untuk mendapatkan kapasitas adsorpsi. Model isotermal Langmuir dan Freundlich digunakan untuk menentukan isoterm adsorpsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorpsi Cr(III) pada adsorben Si-CPTMS-DPZon optimum terjadi pada pH 4 dan waktu interaksi 90 menit, dengan kapasitas adsorpsi sebesar 36,28 mg/g dan energi adsorpsi sebesar 29,16 kJ/mol. Adsorpsi yang terjadi lebih cenderung mengikuti isoterm Langmuir dengan nilai R2 sebesar 0,9971 dibanding dengan isoterm Freundlich dengan R2 0,5612.  Adsorpsi Cr(III) pada adsorben dominan melalui adsorpsi kimia.     ABSTRACT : Research about utilizing of diphenylcarbazone-modified silica gel prepared by sol-gel method (Si-CPTMS-DPZon) to adsorp chromium (III) ions has been carried out. This study was conducted using batch adsorption. The influence of time and initial pH of chromium solution were studied to obtain the optimum adsorption conditions, and the variation of the concentration of chromium ion was used to obtain the adsorption capacity. Langmuir and Freundlich isotherm models were used to determine the model of isotherm adsorption. The results showed that the optimum adsorption of Cr (III) on the adsorbent Si-CPTMS-DPZ occurred at pH 4 with 90 minutes of contact time. The adsorption capacity of Cr(III) on Si-CPTMS-DPZ was 36.28 mg/g with the adsorption energy of 29.16 kJ/mol. The adsorption profile tends to follow the Langmuir isotherm with R2 values of 0.9971 rather than the Freundlich isotherm with R2 of 0.5612. Adsorption of Cr (III) on the adsorbent dominantly occurred through chemical adsorption.  
OPTIMASI SUHU ANNEALING DAN AMPLIFIKASI 0,3 kb GEN rpoB DI HULU DARI RRDR PADA ISOLAT P16 Mycobacterium tuberculosis MULTIDRUG RESISTANT DI BALI DENGAN METODE POLYMERASE CHAIN REACTION Astriani, Putu Lita; Ratnayani, Ketut; Yowani, Sagung Chandra
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 2 No 2 (2014)
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.578 KB)

Abstract

ABSTRAK: Mutasi di hulu dari RRDR diindikasikan sebagai adanya low level resistence [1].   Untuk mendapatkan titik mutasi di hulu dari RRDR maka perlu dilakukan amplifikasi fragmen DNA target. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui suhu annealing optimum untuk mengamplifikasi daerah hulu dari RRDR menggunakan  isolat P16 Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) yang didapatkan dari RSUP Sanglah. Proses isolasi DNA dilakukan dengan metode Boom  termodifikasi. Deteksi  produk PCR dilakukan dengan elektroforesis gel agarosa 1,5% b/v dan divisualisasi pada alat UV Transiluminator. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa dengan proses PCR menggunakan sepasang primer FrL2 dan RevL2 dengan suhu annealing optimum 580C dapat mengamplifikasi daerah hulu dari RRDR berukuran 0,3 kb.  ABSTRACT: Mutations at the upstream of RRDR indicated as the presence of low level resistance [1].  To find a point mutation at the upstream of RRDR it is necessary to amplify of the target DNA fragment. The aim of this research was to determinate the optimum annealing temperature to amplify the upstream  region of the RRDR using isolate from Sanglah Hospital. Isolation DNA procesed by Boom  modification  method. Product PCR detected using agarosa gel 1,5% b/v and was visualisation by UV Transiluminator. The results of this research, by PCR method using the pairs primer FrL2 and RevL2 with optimum annealing temperature 580C, can amlplify 0,3 kb the upstream region of RRDR.
VALIDASI METODE ANALISIS BAHAN KIMIA OBAT PARASETAMOL DAN FENILBUTASON PADA PRODUK OBAT TRADISIONAL DENGAN HPTLC-SPEKTROFOTODENSITOMETRI Susilawan, I Putu Ngurah Apri; Siaka, I Made; Parwata, I Made Oka Adi
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 7 No 1 (2019): Volume 7, Nomor 1, 2019
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1014.758 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan validasi metode analisis secara simultan bahan kimia obat parasetamol dan fenilbutason yang terdapat pada produk obat tradisional dengan menggunakan high performance thin layer chromatography (HPTLC)-spektrofotodensitometri. Validasi ini dilakukan dengan menentukan spesifitas, linieritas, presisi dan akurasi pengukuran. Spesifitas ditentukan dengan membandingkan profil analit dalam larutan baku, sampel dan spike. Selanjutnya, noda yang telah terpisah secara kromatografi lapis tipis discan menggunakan spektrofotodensitometer. Linieritas, batas deteksi (limit of detection, LoD), batas kuantitasi (limit of quantitation, LoQ) ditentukan dengan konsentrasi 25 – 700 ng/spot untuk parasetamol sementara 75 – 2100 ng/spot untuk fenilbutason. Presisi dan akurasi dilakukan dengan menambahkan baku campuran ke dalam larutan uji menggunakan satu konsentrasi dengan 6 kali pengulangan. Hasil validasi metode analisis parasetamol dan fenilbutason pada produk obat tradisional dengan HPTLC-Spektrofotodensitometri menunjukkan metode ini valid dengan spesifisitas, linieritas, batas deteksi, batas kuantitasi, presisi dan akurasi yang memenuhi persyaratan. The aim of this study was to validate the simultaneous analysis method of paracetamol and phenylbutazone contained in traditional drugs using high performance thin layer chromatography(HPTLC)-Spectrophotodensitometry. The validation was carried out by determination of the specificity, linierity, limit of detection (LoD) and limit of quantitation (LoQ), precision and accuracy. The specificity was determined by comparing the profile of analytes in standart solution, sample solutions, and spike. Further, the seperated spots on thin layer chromatograms were scanned using spectrophotodensitometry. The liniarity, LoD and LoQ were determined using 25 – 700 ng/spot of paracetamol concentrations while 75 – 2100 ng/spot of phenylbutazone concentrations. The precision and accuracy were determined by adding a centain concentration of the chemicals into sample solutions with 6 time of repetitions. The results showed that the simultaneous analysis method of paracetamol and phenylbutazone contained in traditional drug products with HPTLC- Spectrodensitometry is valid since the specificity, linearity, LoD and LoQ, and precision and accuracy of the analysis meet the requirements.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI EKSTRAK ETANOL DAUN UNGU (Graptophyllum pictum L. Griff) Rustini, Ni Luh; Ariati, Ni Komang
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.275 KB)

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan total fenol, total flavonoid, dan aktivitas antioksidan berbagai fraksi dan ekstrak etanol daun ungu (Graptophyllum pictum L. Griff) secara in vitro. Penentuan total fenol menggunakan metode Manian dengan pereaksi Folin Ciocalteu dan total flavonoid dengan metode Aluminium Klorida. Penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode penangkapan radikal bebas 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH). Hasil ekstraksi 700 g serbuk kering daun ungu dengan 6000 mL etanol 96% menghasilkan 31 g ekstrak kental yang berwarna ungu kehijauan. Hasil partisi 15 g ekstrak kental etanol dengan pelarut kloroform, etik asetat dan n-butanol menghasilkan 12,5 g ekstrak pekat kloroform, 1,4 g ekstrak pekat etil asetat dan 1,0 g ekstrak pekat n-butanol yang semuanya berwarna ungu. Kandungan total fenol ekstrak etanol, kloroform, etil asetat dan n-butanol berturut-turut sebesar 3870,75 ; 2851,63 ; 7540,12 dan 18455,30 mg/100 g GAE. Kandungan total flavonoid ekstrak etanol, kloroform, etil asetat dan n-butanol berturut-turut sebesar 402,88 ; 98,14 ; 374,45 dan 345,95 mg/100 g QE. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak etanol, etil asetat dan n-butanol daun ungu mempunyai kemampuan menangkap radikal bebas DPPH dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 83,25 ppm ; 271,04 ppm dan 385,82 ppm. Ekstrak kloroform daun ungu tidak memiliki kemampuan menangkap radikal bebas DPPH karena memiliki nilai IC50 lebih dari 500 ppm, yaitu sebesar 1365,73 ppm. ABSTRACT: This research has been done to determine the content of total phenol, total flavonoids and antioxidant activity in vitro of various fractions and ethanol extract of ungu leaves (Graptophyllum pictum L. Griff). Determination of total phenols using Manian method with Folin Ciocalteau reagent and total flavonoids using Aluminium chloride methode. Determination of antioxidant activity using DPPH method. The extraction of 700 g of dry powder ungu leaves with 6000 mL ethanol of 96 % produces 31 g of concentrated extract greenish purple. The partition of 15 g concentrated ethanol extract with chloroform, ethyl acetate and n-butanol to yield of 12.5 g concentrated chloroform extract, 1.4 g concentrated extract of ethyl acetate and 1.0 g of n-butanol concentrated extracts of which were purple. The content of total phenol of ethanol, chloroform, ethyl acetate and n-butanol extract in a row amounted to 3870.75; 2851.63; 7540.12 and 18455.30 mg/100 g GAE. The content of total flavonoid of ethanol, chloroform, ethyl acetate and n-butanol extract in a row amounted to 402.88; 98.14; 374.45 and 345.95 mg / 100 g QE. The result of antioxidant activity of ethanol, ethyl acetate and n-butanol extract of ungu leaf have the potent scavenger of free radicals DPPH with IC50 values were 83.25 ppm; 271.04 ppm and 385.82 ppm. Ungu leaf chloroform extract does not have potent scavenger of free radicals DPPH because it has IC50 values was 1365,73 ppm ??, more than 500 ppm,
PEMANFAATAN KITOSAN DALAM PENINGKATAN MUTU NIRA GULA TEBU Hamzah, Moh.; Anggaravidya, Mahendra; Ulfa, Ika Maria; Mayasari, Rina Dewi; Habibie, Sudirman; Astuti, Dwi
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 8 No 1 (2020): Volume 8, Nomor 1, 2020
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK : Gula kristal putih (GKP) merupakan bahan pemanis alami dari bahan baku sebagai sumber kalori dan energi. Kebutuhan GKP nasional yang semakin tinggi akibat pertambahan populasi penduduk tidak diimbangi dengan tingkat produksi industri gula yang mencukupi. Permasalahan industri gula nasional saat ini disebabkan oleh rendahnya kualitas rendemen, kondisi mesin dan pabrik yang sudah tua, dan teknologi atau metodologi yang tidak berkembang. Untuk mendukung peningkatan produktivitas dan mutu gula nasional maka perlu dilakukan inovasi teknologi dengan memanfaatkan kitosan (chitosan) yang ramah lingkungan. Keunggulan teknis kitosan antara lain: pengikat ion logam, decolorization, dan flokulan yang dapat meningkatkan mutu gula. Penelitian ini telah berhasil melakukan pemurnian nira gula dengan menggunakan kitosan berpelarut 3 jenis asam organik, yaitu asam oksalat, asam sitrat, dan asam asetat. Berdasarkan hasil analisis kekeruhan nilai NTU nira tebu setelah dilakukan pemurnian dengan kitosan berpelarut 3 jenis asam organik turun hingga 88%-95% terhadap bahan baku nira gula (referensi). Kadar kalium (K) dan magnesium (Mg) pada nira hasil pemurnian juga turun hingga 46%-87% dan 24%-40%, secara berturut-turut. Dari ketiga jenis asam organik pelarut kitosan, asam oksalat memiliki potensi untuk dikembangkan hingga skala industri pada proses pemurnian nira gula karena memiliki nilai NTU terkecil sebesar 41,6; kadar K 1,67 mg/L; dan kadar Mg 7,03 mg/L. ABSTRACT: White crystal sugar is a natural sweetener which can be an alternativecalorie and energy source. The high need of national sugar due to the growthof population does not balanced by the adequate production of sugar industry. The problems of national sugar industries are caused by the low quality of sucrose content, the condition of old machines and factory, and undeveloped either technology or methodology. Technology innovation need to be developed for supporting the enhance of national productivity and sugar quality, such as using chitosan in the sugarcane purification. The chitosan advantages include metal ion binder, decolorization, and flocculants which can improve the quality of sugar. This research has been successfully refined sugarcane using chitosan dissolved in three organic acids, i.e. oxalic acid, citric acid, and acetic acid. Based on the analysis data of turbidity, the NTU value of purified sugarcane using chitosan decreased in 88%-95% due to the raw sugarcane (reference). The kalium (K) and magnesium (Mg) contents of chitosan-purified sugarcane also reduced to 46%-87% and 24%-40%, respectively. From the three organic acids, oxalic acid has a potential to be developed in industrial scale of sugarcane purification because it has the smallest turbidity value of 41.6 NTU, K content of 1,67 mg/L; and Mg content of 7,03 mg/L.
PEMANFAATAN MIKROORGANISME LOKAL BONGGOL PISANG DALAM PROSES FERMENTASI LIMBAH MAKANAN MENJADI PAKAN TERNAK Vikana Suari, Putu Primantari; Suyasa, I Wayan Budiarsa; Wahjuni, Sri
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 7 No 2 (2019): volume 7, Nomor 2, 2019
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.362 KB)

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mikroorganisme lokal (MOL) bonggol pisang terhadap proses dan hasil fermentasi limbah makanan menjadi pakan ternak, mengetahui dosis optimum MOL bonggol pisang dan lama waktu optimum MOL bonggol pisang pada fermentasi limbah makanan menjadi pakan ternak. Dalam penelitian ini digunakan MOL bonggol pisang sebagai starter dalam proses pengolahan limbah makanan menjadi pakan ternak. Pada tahap pertama, limbah makanan difermentasi dengan MOL pada dosis yang bervariasi, yaitu K5 (5mL), K10 (10 mL) dan K15 (15 mL). Fermentasi dilakukan selama 7 hari. Selama proses fermentasi dilakukan pengamatan pH, suhu, warna, bau dan uji proksimat. Tahap kedua dilakukan penentuan waktu optimum fermentasi dengan variasi waktu yaitu 3 hari, 7 hari, 10 hari dan 14 hari. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada kondisi optimum yaitu dosis MOL 10 ml dan waktu fermentasi 7 hari dan hasil pengamatan diolah dengan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MOL bonggol pisang berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap proses fermentasi dan kualitas pakan yang dihasilkan. Kata kunci: Limbah makanan, Mikroorganisme lokal bonggol pisang, fermentasi, pakan ternak ABSTRACT: The aims of the research are to determine the effect of local microorganism (LMO) from banana hump on the process of fermentation of food waste to be able to use as animal food and to find out the optimum dose of banana hump LMO and the optimum time for the fermentation process. In this research, MOL of banana weevil was used as a starter in the process of processing food into feed. At the first time, food was fermented with MOL at varying doses, namely K5 (5mL), K10 (10 mL) and K15 (15 mL). Fermentation was carried out for 7 days. During the fermentation process the pH, temperature, color, odor and proximate tests were tested. The second step was determining the optimal time of fermentation with time variations of 3 days, 7 days, 10 days and 14 days. Furthermore, fermentation was carried out under optimal conditions, namely a 10 ml MOL dose and a fermentation time of 7 days and the observations were processed by ANOVA test. The results showed that the MOL of banana weevil proved significantly (P <0.05) on the fermentation process and the quality of the feed produced.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF EKSTRAK ETANOL BUAH PARE (Momordica charantia) YANG DAPAT MENURUNKAN KADAR GLUKOSA DARAH. Kartini, Ketut Sepdyana; Swantara, I Made Dira; Suartha, I Nyoman
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 3 No 2 (2015)
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.985 KB)

Abstract

ABSTRAK : Telah dilakukan penelitian isolasi dan identifikasi senyawa aktif yang dapat menurunkan kadar glukosa darah dari ekstrak etanol buah pare terhadap tikus putih jantan (Rattus novergicus) yang diinduksi aloksan. Ekstrak etanol buah pare dipartisi dengan n-heksana, kloroform, dan n-butanol. Berdasarkan hasil uji, fraksi n-heksana paling cepat menurunkan kadar glukosa darah pada hari ke-14. Fraksi n-heksana selanjutnya dipisahkan dengan kromatografi kolom menggunakan eluen n-heksana : etil asetat (6 : 4,5) diperoleh 5 fraksi (FA - FE). Berdasarkan hasil uji, fraksi A merupakan fraksi yang paling aktif menurunkan kadar glukosa darah dibandingkan fraksi lainnya (fraksi B, C, D, E). Fraksi A dapat menurunkan kadar glukosa darah pada hari ke-7. Hasil identifikasi isolat aktif (FA) menggunakan GC-MS menunjukkan adanya 10 senyawa yaitu  n-tetradekana, metil dodekanoat, metil heksadekanoat, etil heksadekanoat, metil-9,12oktadekadienoat, metil-9-oktadekenoat, metil oktadekanoat, etil oktadekanoat, metil-9cis-11trans-13trans oktadekatrienoat, dan mono (2-etilheksil)-1,2-benzenadikarboksilat.ABSTRACT : The aim of this research was to isolate and identify the active compounds from ethanol extract of bitter melon fruit to reduce the blood glucose levels of male mice (Rattus novergicus) which was alloxan induced. Partition of the ethanol extract using n-hexane, chloroform, and n-butanol was conducted and we found that the n-hexane fractions was the fastest to reduce blood glucose levels on day 14. The n-hexane fractions were then separated by coloumn chromatography using n-hexane: ethyl acetate (6: 4,5) as eluent and five fractions (FA - FE) were obtained. Based on the test result, fraction A was the most active fraction to reduce the blood glucose levels than other fractions (fractions B, C, D, E). The fraction A could reduce blood glucose levels on day 7. Identification of the active isolates (FA) was conducted by using GC-MS showed 10 compounds which were n-tetradecane, methyl dodecanoate, methyl hexadecanoate, ethyl hexadecanoate, methyl-9,12octadecadienoate, methyl-9-octadecenoate, octadecanoic acid methyl ester, octadecanoic acid ethyl ester, methyl-9cis-11trans-13trans octadecatrienoate, and 1,2-benzenadikarboxylic acid mono (2-ethylhexyl) ester.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BIJI KAKAO (Theobroma cacao L.) DALAM MENURUNKAN KADAR 8-HIDROKSI-2’-DEOKSIGUANOSIN DALAM URIN TIKUS SETELAH TERPAPAR ETANOL Iflahah, Mahardika Aprilia; Puspawati, Ni Made; Suaniti, Ni Made
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.125 KB)

Abstract

ABSTAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan biji kakao pada fraksi yang memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi secara in vitro dalam menurunkan kadar 8-OHdG dalam urin tikus yang terpapar etanol. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH dan pengukuran kadar 8-OHdG dalam urin tikus dilakukan dengan metode ELISA. Biji kakao dimaserasi dengan pelarut etanol dan selanjutnya dipartisi dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan n-butanol. Uji aktivitas antioksidan secara in vitro dengan metode DPPH menunjukkan bahwa fraksi n-butanol memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi dengan nilai IC50 170 ppm. Berdasarkan analisis statistik, data kadar 8-OHdG pada kelompok pemberian fraksi n-butanol berbeda nyata (p<0,05). Sehingga, pemberian fraksi n-butanol berpengaruh terhadap penurunan kadar 8-OHdG dalam urin tikus yang terpapar etanol dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif dengan efektivitas penurunan kadar 8-OHdG untuk dosis 50 mg/kg BB; dosis 100 mg/kg BB; dan 200 mg/kg BB berturut-turut adalah 21,20%, 31,34%, dan 35,28%.     ABSTRACT: This study aimed to determine antioxidant activity of cocoa beans in fraction that has the highest antioxidant activity in lowering 8-OHdG level in urine after exposuring to ethanol. Antioxidant activity test was conducted using DPPH and measurement 8-OHdG level in urine was carried out by ELISA. Cocoa beans was macerated with ethanol and partitioned with n-hexane, ethyl acetate, and n-butanol. Antioxidant activity test by DPPH method showed that n-butanol fraction has the highest antioxidant activity with IC50 value of 170 ppm. Based on statistical analysis, n-butanol fraction was significantly reduced the urinary level of 8-OHdG (p<0,05) in rats after exposuring to ethanol compared to negative control group. The level effectiveness of n-butanol fraction in decreasing the level of urinary 8-OHdG was 21,20% at dose 50 mg/kg of  BW; 31,34% at dose 100 mg/kg of BW; and 35,28% at dose 200 mg/kg of BW.
REMOVAL KANDUNGAN TOKSIK LIMBAH PENCELUPAN MENGGUNAKAN NANO-SORBEN BERBASIS LIMBAH KERAJINAN TULANG SAPI Simpen, I Nengah; Suastuti, Ni Gusti Ayu Made Dwi Adhi
CAKRA KIMIA (Indonesian E-Journal of Applied Chemistry) Vol 6 No 1 (2018): Volume 6, Nomor 1, 2018
Publisher : Magister Program of Applied Chemistry, Udayana University, Bali-INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.3 KB)

Abstract

ABSTRAK: Penelitian tentang removal kandungan toksik limbah pencelupan (organik sintetik toksik dan logam berat) menggunakan nano-sorben dari limbah kerajinan tulang sapi telah dilakukan. Tulang sapi dari limbah kerajinan diekstraksi untuk mendapatkan hidroksiapatit (HA) dengan karakteristik berpori, inert, ramah lingkungan, dan renewable. Selanjutnya HA tersebut disalut (coated) dengan oksida Fe dan oksida Fe-Al untuk membentuk HA bersitus aktif Fe dan Al kemudian dikarakterisasi dengan difraksi sinar-X (XRD) dan scanning electron microscopy (SEM). Adsorben berpori nano (nanopori-sorben) tersebut diaplikasikan untuk minimalisasi kandungan toksik limbah pencelupan. Optimasi waktu interaksi nanopori-sorben dengan limbah diperoleh dari interaksi antara nano-sorben dengan model limbah campuran methylene blue (MB) dan Cr(VI). Keberhasilan removal kandungan toksik limbah pencelupan ditentukan dengan memvariasikan volume limbah sebesar 15, 25, 35, dan 50 mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa oksida Fe dan oksida Fe-Al telah masuk ke dalam struktur kristalin HA dan telah membentuk lipatan-lipatan baru oleh oksida tersebut. Waktu optimum interaksi nano-sorben dengan limbah model campuran MB dan Cr(VI) adalah 15 menit. pH menurun dari 10,29 menjadi 8,31. Intensitas warna menurun dari absorbansi 0,0186 a.u menjadi 0,0000 a.u oleh nano-sorben HA-oksida Fe-Al dan HA-oksida Fe pada semua volume limbah, sedangkan nano-sorben HA belum mampu menurunkan intensitas warna pada volume limbah 35 dan 50 mL. Urutan kemampuan adsorpsi logam Cr dan kemampuan menurunkan COD berturut-turut adalah HA-oksida Fe-Al ? HA-oksida Fe ? HA. Penelitian ini menunjukkan bahwa HA tersalut oksida Fe dan oksida Fe-Al dapat menurunkan kandungan toksik limbah pencelupan optimum pada volume 35 mL. Kata kunci: nano-sorben, tulang sapi tersalut oksida Fe-Al, hidroksiapatit, limbah pencelupan ABSTRACT: A research of removal toxic content of dyes wastewater (toxic syntetic organic and heavy metals) by using nano-sorbent from waste of bovine bone handicraft has been carried out. The porous, inert, environmentally benign, and renewable material of hydroxyapatite (HA) was extracted from the bones. Further, the HA was coated with Fe oxide and Fe-Al oxide to form active sites of Fe and Al. The characterizations of the nanoporous sorbent of were carried out by X ray diffraction (XRD) and scanning electron microscopy (SEM). The nanoporous adsorbent was applied to minimaze the toxic content of dyes wastewater. Optimation of nano-sorbent contact time with wastewater was obtained by contacting the nano-sorbent with wastewater model of methylene blue (MB) and Cr(VI) mixture. A successful removal of dye wastewater toxic content was confirmed by varying the waterwaste volume of 15, 25, 35, and 50 mL. The characterization showed that Fe oxide and Fe-Al oxide were inserted into the hydroxiapatite crystal structure and form new coated layers. Optimum contact time of nano-sorbent with wastewater simulation of methylene blue (MB) and Cr(VI) mixture was 15 menit. pH decreased from 10.29 to 8.31. The colour intensity decreased from absorbance of 0.0186 a.u to 0,0000 a.u using nano-sorben HA-Fe-Al oxide and HA-Fe oxide in all volume variations. Whereas, the HA has yet to decrease on 35 and 50 mL. The adsorption capability upon Cr(VI) as follows: HA-Fe-Al oxide ? HA-Fe oxide ? HA. The lowest final COD after adsorption was obtained by HA-Fe-Al oxide ? HA-Fe oxide ? HA. We conclude that the Fe and Al oxide-coated HA could reduce dyes wastewater toxic content with optimum volume of 35 mL.

Page 1 of 13 | Total Record : 128