cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Nature: National Academic Journal of Architecture
ISSN : 23026073     EISSN : 25794809     DOI : -
NATURE: National Academic Journal of Architecture (P-ISSN: 2302-6073, E-ISSN:2579-4809) adalah publikasi ilmiah untuk topik penelitian dan kritik yang tersebar luas dalam studi Desain Arsitektur.
Arjuna Subject : -
Articles 110 Documents
PREFERENSI PEMANFAATAN RUANG PUBLIK DI RUMAH SUSUN SEWA MARISO DI MAKASSAR Bunawardi, Ratriana Said; Amin, Burhanuddin
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 6, No 2 (2019): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic Univ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v6i2a2

Abstract

Abstrak_ Rumah susun sewa merupakan rumah vertikal yang dirancang untuk orang berpenghasilan rendah, dan merupakan respon atas tingginya permintaan tempat tinggal yang layak. Rumah susun ini juga diharapkan dapat lebih efisien dalam penggunaan lahan dan mampu mengurangi jumlah permukiman kumuh di daerah perkotaan. Fenomena yang terlihat pada rumah susun sewa Mariso, dimana preferensi penghuni dalam memanfaatkan ruang-ruang publik yang tidak sesuai dengan rencana fungsi awal ruang. Adanya konflik spasial berasal dari aktivitas dan mobilitas penghuni mengakibatkan terjadi invasi pada sebagian ruang publik. Beberapa ruang melebihi fungsi dan tujuan dasarnya, sementara ruang lain dimanfaatkan secara tidak sesuai dengan fungsi desain awalnya. Studi komprehensif dilakukan untuk mengenali karakter penghuni beserta latar belakang pekerjaan, pendapatan dan pendidikan mereka sehubungan dengan perilaku mereka terhadap ruang publik dan pemanfaatannya. Metode tracing (person centered map) digunakan pada penelitian ini. Sampel berupa penghuni rumah susun Mariso dipilih berdasarkan karakteristik penghuni seperti usia, gender dan pekerjaan untuk mengungkapkan aktivitas dan interaksi sehari-hari. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa penghuni berpenghasilan rendah lebih memilih untuk terlibat dalam interaksi sosial secara informal. Kegiatan pribadi tertentu dilakukan di ruang publik dan bukan di unit huniannya dan dalam banyak kesempatan, aktivitas pribadi dilakukan secara berkelompok penghuni sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari mereka. Koridor yang didesain sebagai jalur penghubung antar unit hunian mendapat beban yang berlebih karena intervensi aktivitas pribadi. Sebaliknya, beberapa ruang komunal tampaknya ditinggalkan oleh karena berbagai alasan. Fenomena adanya kegiatan pribadi di ruang komunal telah menurunkan kualitas hunian, dan menjadi kawasan kumuh vertikal lainnya di dalam wilayah perkotaan. Hasil studi harus dipertimbangkan, dievaluasi dan dirujuk untuk desain ruang publik lebih lanjut dan lebih baik pada tipe perumahan seperti ituKata kunci: Preferensi penghuni, Rumah Susun, Ruang Publik. Abstract_Rental flat is a vertical house designed for low-income people and in response to the high demand for housing. Its also expected to be more efficient in land use and will reduce the number of slums in urban areas. The phenomenon is seen in the Mariso flats, where the preferences of residents in utilizing public spaces are not in accordance with the initial function of space. Spatial conflict arises from the activities and mobility of residents resulting in an invasion of some public spaces. Some spaces exceed their basic functions and objectives, while other spaces are not used according to their original design functions. A comprehensive study conducted to identify the occupant background, job, income and education in connection with their behavior towards public space and its utilization. The research method is accomplished by mapping the behaviors such as place center map. Samples of Residents selected based on characteristics such as age, gender and work to expose the activities and daily interactions.  The results of this study found that low-income residents prefer informal social interactions. Certain private activities are carried out in public spaces and not in their residential units. On several occasions, private activity conducted in groups of residents as part of their daily routine. Corridors that are designed as a connecting line between residential units are overloaded due to personal activity interventions. Conversely, some communal spaces seem abandoned for various reasons. The phenomenon of private activities in communal spaces has reduced the quality of residents, and become another vertical slum in the urban area. Study results must be considered, evaluated and referred for further and better design of public space. in such types of housing. Keywords: Residence Preference; Flats; Public Space.
THE LINKAGE OF KAMPAR’S RUMAH LONTIOK WITH LIMAPULUH KOTO’S RUMAH GADANG Khamdevi, Muhammar
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 6, No 2 (2019): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic Univ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v6i2a1

Abstract

Abstrak_Dalam catatan sejarah, wilayah Kampar pernah menjadi wilayah Rantau (Hilir) dari wilayah Luhak Limapuluh Koto yang merupakan wilayah Darek (Hulu), di mana kedua wilayah ini dihubungkan oleh Sungai Kampar. Wilayah Kampar juga pernah menjadi bagian wilayah Sumatera Tengah, dan pernah dua kali berpisah; pertama oleh pemekaran yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan kedua oleh Presiden Soekarno setelah pemberontakan PRRI-Permesta dikalahkan. Bahkan kedua wilayah ini berbagi sejarah di masa klasik, terutama sejarah Kerajaan Melayu Tua, Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Dharmasraya, dan Kerajaan Malayupura, hingga masa Kesultanan Pagaruyung. Secara arsitektur, Rumah Lontiok di Kampar dan Rumah Gadang di Limapuluh Koto secara sekilas memiliki hubungan dan banyak kesamaan. Bagaimana keterkaitan karakteristik arsitektur antara keduanya?. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan keterkaitan antara kedua rumah tradisional tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mendapatkan hasil yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan keterkaitan secara umum di antara kedua rumah tersebut, bahkan perkembangan transformasi (lineage).Kata kunci: Rumah Gadang; Rumah Lontiok; Arsitektur Vernakular; Rumah Austronesia. Abstract_ In history, Kampar Region was the Rantau (Hilir or Downstream) region of Limapuluh Koto's Darek (Hulu or Upstream), where the two regions are connected by the Kampar River. The Kampar region also once was part of the region of Central Sumatra, and was separated twice; first by the expansion carried out by the Dutch and second by Soekarno after the PRRI-Permesta rebellion was defeated. Whereas in fact, these two regions have shared history in the classical era, especially the history of the old Malay kingdoms, the Sriwijaya kingdom, the kingdom of Dhamarsraya and Malayupura, until the time of Pagaruyung. Architecturally, the Rumah Lontiok in Kampar and the Rumah Gadang in Limapuluh Koto at a glance have relationships and similarities. How is the linkage of architectural characteristics between them?  The purpose of this study was to find the link between the two traditional houses. This research used a qualitative method to have a comprehensive conclusion. The results showed that both houses have a general linkage, even developmental transformation (lineage).Keywords: Rumah Gadang; Rumah Lontiok; Vernacular Architecture; Austronesian House.
PEMBANGUNAN PERMUKIMAN KOLONIAL BELANDA DI JAWA : SEBUAH TINJAUAN TEORI Wihardyanto, Dimas; Ikaputra, Ikaputra
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 6, No 2 (2019): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic Univ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v6i2a5

Abstract

Abstrak_Kota-kota di Indonesia yang tumbuh dan berkembang pada masa pendudukan Belanda memiliki pola permukiman yang khas yaitu memiliki pembagian wilayah permukiman berdasar penggolongan etnis. Warga Belanda dan kaum kulit putih sebagai warga kelas satu mendapatkan prioritas untuk menikmati kawasan permukiman yang tertata dan memiliki infrastruktur yang relatif lengkap untuk jamannya. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan Pemerintah Kolonial Belanda merupakan pemilik kewenangandari Kerajaan Belanda dalam melakukan pendudukan terhadap Indonesia yang memiliki perbedaan zaman, karakter dan cara pandang. Pada tulisan kali ini akan dibahas perbedaan karakteristik pembangunan permukiman kolonial Belanda pada masa VOC dan Pemerintah Kolonial Belanda melalui metode konten analisis. Dari kajian yang dilakukan diketahui bahwasanya terdapat perbedaan pendekatan pembangunan permukiman kolonial Belanda berdasarkan visi dan misi penjajahan dari VOC atau Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia.Pada masa VOC, permukiman dibangun secara mandiri untuk memenuhi aspek keamanan dalam perdagangan, berbeda pada masa Pemerintah Kolonial Belanda yang mulai bekerjasama dengan swasta dan lebih memperhatikan aspek kesehatan dan kenyamanan selain keamanan guna melanggengkan usaha kolonialisasi disemua bidang dalam kehidupan. Selain itu didapatkan pula karakteristik umum yaitu terpisah dari permukiman etnis lain, memiliki teritori atau batas yang jelas, memiliki infrastruktur yang relatif lebih lengkap dan tertata jika dibandingkan dengan permukiman untuk etnis lain, serta berbentuk atau cenderung menggunakan pola grid untuk menata permukiman tersebut.Kata kunci: Pembangunan Permukiman; Karakteristik Permukiman Kolonial; Kajian Literatur; VOC; Pemerintah Kolonial Belanda. Abstract_ Cities in Indonesia that grew and developed during the Dutch occupation had a distinctive pattern of settlements that is the division of settlements based on ethnic classification. Dutch citizens and white people as first-class citizens get priority to enjoy the settlement area that is arranged and has a relatively complete infrastructure for its era. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) and the Dutch Colonial Government are the owners of the authority of the Kingdom of the Netherlands in occupying Indonesia which has different times, characters and perspectives. This article discusses the different characteristics of the construction of Dutch colonial settlements during the VOC and the Dutch Colonial Government through content analysis methods. From the study conducted it is known that there are differences in the approach of the construction of Dutch colonial settlements based on the vision and mission of the occupation of the VOC or the Dutch Colonial Government in Indonesia. During the VOC, settlements were built independently to meet security aspects in trade, in contrast to the Dutch Colonial Government who began working with the private sector and paid more attention to health and comfort aspects other than security in order to perpetuate colonial efforts in all areas of life. In addition, there are also general characteristics that are separate from other ethnic settlements, have clear territories or borders, have the relatively more complete infrastructure and are organized when compared to settlements for other ethnic groups, and are shaped or tend to use grid patterns to organize these settlements.Keywords : Settlement Development; Characteristics of Colonial Settlements; Literature Review; VOC; Dutch Colonial Government
ANALISIS FORMAL FASAD ARSITEKTUR RUMAH TINGGAL ORANG TORAJA DI KOTA PALOPO Sutrisno, Moh; Sarwadi, Ahmad
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 6, No 2 (2019): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic Univ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v6i2a9

Abstract

Abstrak_Penelitian ini mengkaji fasad arsitektur rumah tinggal masyarakat Toraja yang ada di Kota Palopo. Arsitektur yang bersifat tradisi cenderung dinamis. Dari waktu ke waktu cenderung mengalami perubahan, serta dari tempat satu ke tempat lain cenderung mengalami adaptasi. Metode penelitian kualitatif dengan paradigma rasionalistik. Hasil menunjukkan kondisi dan keadaan lingkungan yang berbeda antara Palopo dan Toraja berpengaruh pada perwujudan dan transfromasi bentuk sehingga terjadi perubahan aspek fisik. Berdasarkan analisis dengan parameter teori proporsional garis simetri dan golden section menyimpulkan bahwa ukuran bangunan rumah tinggal berbentuk tongkonan mendekati proporsional golden section. Hirarki fungsi pada pembagian ruang atas, ruang tengah dan ruang bawah tidak diterapkan secara jelas oleh masyarakat suku toraja yang ada di Palopo. Kebutuhan fungsional pada tata ruang rumah menjadikan penggunaan hirarki ruang vertikal berubah fungsinya. Semua elemen atapnya tidak ditopang oleh tulak somba. Kesimpulan secara keseluruhan objek penelitian bahwa bentuk arsitektur tradisional di Palopo bersifat proporsi, metaforis dan monumental.Kata kunci: Rumah Tinggal; Proporsi; Golden Section; Fasad.  Abstract_This study examined the architectural of residential facades of the Toraja community in Palopo City. Traditional architecture tends to be dynamic. From time to time it tends to change. And from one place to another tends to adapt. This study applied a qualitative research method with rationalistic paradigms. The results showed that different environmental conditions between Palopo and Toraja affect the manifestation and transformation of forms so that there are changes in physical aspects. Based on the analysis with the theory parameter of symmetry line proportional and the golden section concludes the size of the house building in the form of a tongkonan approaching the proportional golden section. The hierarchy of functions in the division of upper space, the middle room, and lower space is not applied by the Toraja tribe community in Palopo. Functional requirements in the spatial layout of the house make use of the vertical space hierarchy change its function. All elements of the roof are not supported by tulak somba. The overall conclusion of the research object on traditional architectural forms in Palopo is proportional, metaphorical and monumental.Keywords:  Dwelling house; Proportion; Golden section; Facade. 
SENSE OF PLACE KAWASAN WISATA PASAR UBUD Rahadiyanti, Melania; Kusumowidagdo, Astrid; Wardhani, Dyah Kusuma; Kaihatu, Thomas Stefanus; Swari, Ida Ayu Indira
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 6, No 2 (2019): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic Univ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v6i2a3

Abstract

Abstrak_ Kawasan Pasar Ubud telah menjadi daya tarik tersendiri sebagai tujuan wisata di Bali. Penelitian ini ingin menelaah lebih jauh persepsi pengunjung terhadap service-scape di kawasan wisata Pasar Ubud. Adapun penelitian eksploratif ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Metode pengumpulan data menggunakan interview mendalam, observasi dan dokumentasi. Objek penelitian yaitu Pasar Ubud dan koridor Jalan Karna yang berada di kawasan yang berdekatan. Pada kawasan Pasar Ubud, hasil penelitian menunjukkan faktor fisik yang berpengaruh pada sense of place-nya yaitu arsitektur, kawasan, barang dagangan, vocal point, dan area berdagang dengan mobil bak terbuka. Sedangkan faktor sosialnya berupa histori, simbol pohon beringin, karakter pedagang dan pengunjung, serta aktivitas perdagangan dan transisi. Pada kawasan Jalan Karna, faktor fisik pembentuk sense of place-nya yaitu arsitektur, kawasan, urban interior, barang dagangan, dan vocal point. Sedangkan faktor sosialnya yaitu memori dan karakter pedagang serta pengunjung.Kata kunci : Faktor Fisik; Faktor Sosial; Jalan Karna; Pasar Ubud; Sense of Place. Abstract_ The Ubud Market area has become the main attraction as a tourist destination in Bali. This study wants to examine further the perception of visitors to service-scape in the tourist area of Ubud Market. The exploratory research is a qualitative study with a case study method. Methods of collecting data using in-depth interviews, observation, and documentation. The research objects are the Ubud Market and the Jalan Karna corridor in the adjacent area. In the Ubud Market area, the results of the study show that physical factors that influence the sense of place, namely architecture, area, merchandise, focal points, and areas of trading with pickup trucks. While the social factors are history, the symbol of the banyan tree, the character of traders and visitors, and trade and transition activities.Keywords:  Physical Factors; Social Factors; Karna Street; Ubud Market; Sense of Place.
PLACE ATTACHMENT ABDI DAN MASYARAKAT TERHADAP PURI UBUD DI KABUPATEN GIANYAR, BALI Widodo, Eko; Pramitasari, Diananta; Marcillia, Syam Rachma
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 6, No 2 (2019): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic Univ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v6i2a6

Abstract

Abstrak_Place attachment sebagai bentuk keterikatan individu terhadap suatu tempat pada umumnya bisa diwujudkan ke dalam ikatan batin, makna, kepuasan, serta ikatan sosial yang dapat dilihat dari perlakuan seseorang terhadap objek yang berada di sekitarnya. Puri Saren Agung Ubud sebagai salah satu destinasi pariwisata berskala internasional memiliki kecenderungan untuk berkembang dan berubah mengikuti kebutuhannya, termasuk ancaman invasi terhadap karakter dan identitas budaya lokal di kawasan Ubud. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji sejauh mana place attachment terhadap Puri Saren Agung Ubud masih dimiliki oleh abdi (pegawai puri) dan masyarakat di sekitarnya, beserta jenis keterikatannya. Penentuan responden dilakukan dengan pendekatan purposive sampling pada dua kategori yang berbeda, yaitu internal user (abdi) dan surrounding community (masyarakat) yang memiliki keragaman jenis kelamin, usia, tugas dan tanggung jawab/ pekerjaan, serta lama bekerja/ tinggal di sekitar Puri Saren Agung Ubud berdasarkan variabel Place Attachment, meliputi: Place Identity, Place Dependence, Social Bond, dan Architecture. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterikatan terhadap Puri Saren Agung Ubud lebih banyak dipengaruhi oleh makna dan keterikatannya; keindahan, kenyamanan, dan kepuasan; serta kenangan dan ikatan khusus yang dihadirkan oleh Puri Saren Agung Ubud. Selain itu ikatan yang terbentuk pada masing-masing penggunanya memiliki tingkatan yang berbeda. Jenis keterikatan abdi terhadap Puri Saren Agung Ubud lebih bersifat ikatan batin dan emosional, sementara keterikatan yang dimiliki oleh masyarakat lebih bersifat kepentingan ekonomi dari keberadaan Puri Saren Agung Ubud sebagai salah satu destinasi pariwisata. Sekalipun demikian, tanggung jawab secara adat untuk menjaga kelestarian dan eksistensi Puri Saren Agung Ubud masih dimiliki oleh abdi dan masyarakat di sekitarnya.Kata kunci: Puri Saren Agung Ubud; Place Attachment; Abdi; Masyarakat; Variabel Arsitektur. Abstract_ Place attachment as a form of individual or group attachment toward a place, in general, can be manifested into an inner bonding, meaning, satisfaction, and social bonding that can be seen from one's treatment to the objects around them. Puri Saren Agung in Ubud as an international tourism destination has a tendency to develop and change to meet its needs, including the threat of invasion of local cultural character and identity in the Ubud area. This research was conducted for assessing to what extent place attachment to Puri Saren Agung in Ubud is still owned by Abdi (internal user) and the surrounding community, along with the type of attachment. Respondent determination was done by using purposive sampling approach in two different categories, namely internal user (Abdi) and surrounding communities that have a diversity in sex, age, duties and responsibilities/jobs, the length of working/staying around Puri Saren Agung in  Ubud based on Place Attachment variables, including Place Identity, Place Dependence, Social Bond, and Architecture. The results showed that the attachment to Puri Saren Agung in Ubud is more influenced by its meaning and attachment; beauty, comfort, and satisfaction; as well as memories and special bond presented by Puri Saren Agung Ubud. Besides, the bonds that are formed in each user have a different level. The type of Abdi's attachment to Puri Saren Agung in Ubud is more of an inner and emotional bond, while the attachment held by the community is more of economic interest from the existence of Puri Saren Agung in Ubud as a tourism destination. Even so, customary responsibility for maintaining the preservation and existence of Puri Saren Agung in Ubud still belongs to Abdi (internal user) and the surrounding community.Keywords: Puri Saren Agung in Ubud; Place Attachment; Abdi (Internal User); Surrounding Community; Architectural Variable.
KARAKTER VISUAL ARSITEKTUR BANDARA DI JAWA TENGAH Hilmy, Muhammad Fariz; Sardjono, Agung Budi; Pandelaki, Edward Endrianto
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 6, No 2 (2019): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic Univ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v6i2a4

Abstract

Abstrak_Bandara merupakan pintu gerbang masuk ke dalam sebuah provinsi atau daerah, sehingga sudah seharusnya bangunan bandara mengandung nilai-nilai kelokalan atau identitas daerahnya. Namun kini bandara di Jawa Tengah telah mengalami perubahan desain, dari yang lama yang masih kental dengan unsur kelokalan, menjadi yang baru yang penuh dengan unsur modern. Karakteristik visual dari kedua bandara ini tentunya berbeda. Meskipun bandaranya terletak di Jawa Tengah namun akan dilihat apakah masih terdapat karakter Jawa pada bangunannya atau muncul karakteristik visual yang lain. Metode deskriptif dan pendekatan rasionalistik kualitatif akan digunakan pada penelitian ini untuk mengidentifikasi kedua bandara untuk diketahui karakteristik visualnya melalui elemen-elemen yang ada pada kedua bandara tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah persamaan elemen kedua bandara, namun menghasilkan karakteristik visual yang berbeda-beda, tergantung dari aspek visual (bentuk, permukaan, dimensi, dan identitas) dari elemen masing-masing bandara.Kata kunci: Karakter Visual; Identitas; Arsitektur Bandara, Jawa Tengah. Abstract_ The airport is the gateway to enter into a province or region, so that airport buildings should contain locality or regional identity values. But now the airports in Central Java have undergone a design change, from the old ones that are still thick with the locality, to a new one full of modern elements. The visual character of the two types of airports is certainly different. Although the airport is located in Central Java, it will be seen whether there are still Javanese characters in the building or other visual characters. Descriptive methods and qualitative rationalistic approaches will be used in this study to identify the two airports to find out their visual characters through the elements at the two airports. The results of this study are differences in the visual character of the architecture of the two airports in Central Java at this time and the similarity of characters that show identity from the province of Central Java itself.Keywords: Visual Character; Identity; Airport Architecture; Central Java. 
WUJUD ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL DI DELTA LAKKANG KOTA MAKASSAR Marwati, Marwati; Oktawati, A. Eka
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 6, No 2 (2019): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic Univ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v6i2a7

Abstract

Abstrak_Delta Lakkang adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Lakkang merupakan delta yang berada di antara Sungai Tallo dan Sungai Pampang, terbentuk akibat sedimentasi sungai selama ratusan tahun. Rumah merupakan bagian kebudayaan fisik, dalam konteks tradisional merupakan bentuk ungkapan yang berkaitan dengan kepribadian masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengetahui ragam wujud rumah panggung yang ada di Lakkang dengan menggunakan studi tipologi arsitektur berdasarkan aspek bentuk, ruang, tampak, struktur, material dan ornamen atau ragam hias dan faktor yang mempengaruhi keragaman wujud arsitektural rumah tradisional di Kelurahan Lakkang. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode deskriptif dengan metode pengumpulan data terhadap enam rumah tradisional berupa rumah panggung. Data berupa dokumentasi diperoleh melalui pengamatan, pengukuran dan wawancara. Analisis deskriptif terhadap hasil data tentang tipologi bentuk, tata ruang, struktur dan material dan agam hias atau ornamen rumah dengan bentuk tabulasi silang. Metode wawancara langsung kepada penghuni rumah digunakan untuk mengetahui faktor pengaruh ragam wujud rumah di Delta Lakkang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wujud bentuk dan fasad pada rumah tradisional Lakkang mengikuti bentuk rumah tradisional Makassar dengan tiga zona; zona kaki (fungsi : gudang dan tempat usaha), badan (fungsi:ruang tamu, tidur, dapur)dan kepala rumah (ruang kosong). Wujud tata ruang pada rumah tradisional Lakkang terdiri dari tiga zona depan (teras), tengah (ruang tamu) dan belakang (ruang tidur dan dapur). Area sirkulasi utama berada disisi kiri rumah ( fungsi : penghubung teras dan dapur), bentuk denah segiempat dengan grid yang ukurannya tidak sama. Wujud struktur dan material yaitu pondasi umpak batu, kontrusksi sambungan kayu dan material atap adalah seng. Wujud ornamen atau ragam hias yang ada pada anjong atau ujung bubungan atap berbentuk tanduk kerbau dan railing teras berbentuk buah nanas. Faktor yang mempengaruhi keragaman wujud arsitektural rumah tradisional di Delta Lakkang adalah biaya pembuatan rumah, kemampuan tukang dalam pembuatan rumah, dan kebiasaan meniru bentuk rumah dari daerah asal.Kata kunci: Wujud Arsitektur; Rumah Tradisional; Delta Lakkang.. Abstract_ Delta Lakkang  is one of the villages in Tallo District, Makassar City, South Sulawesi. Lakkang is a delta that lies between the Tallo River and the Pampang River, formed as a result of river sedimentation for hundreds of years. The house is a part of physical culture, traditionally; it is a form of expression related to the personality of the community. This study aimed to determine the various form of stilt houses in Lakkang by using architectural typology studies based on aspects of shape, space, appearance, structure, material, and ornament / ornamental variety and factors affect the diversity of architectural forms of traditional houses in the LakkangVillage. This qualitative research used a descriptive method with data collection methods on six traditional houses in stilt hoses form. The data was in the form of documentation obtain through observation, measurement, and interviews. Descriptive analysis of the data?s results on the typology of the shape, spatial structure, structure and material and ornament of the house formed in crosstabs. The method of direct interviews with residents of the house used to determine the factors influencing the variety of houses in Lakkangdelta. The results showed that the shape and facade of the traditional Lakkang house are followed the shape of the Makassar house with three zones; foot zone (function: warehouse and place of business), body (function: living room, bedroom, kitchen) and head of the house (empty space). The layout in the traditional Lakkang house consisted of three front zones (terrace), center (living room) and back (bedroom and kitchen. The main circulation area was on the left side of the house (function: connecting the terrace and the kitchen). Rectangular floor plan with a grid that was not the same size. The shape of the structure and the material was the foundation of a stone base, the connection of wood and roof material is zinc. The form of ornament that is on the roof is the buffalo horn-shaped and pineapple-shaped patio railing. Factors influencing the diversity of architectural forms of traditional houses in the Lakkang Village are the cost of making a house, the ability of builders to build a house, and the habit of mimicking the shape of a house from the origin area. Keywords: Architectural forms; Traditional House;Delta Lakkang.
EVALUASI EFEKTIFITAS PEMANFAATAN TAMAN MACCINI SOMBALA SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK MENURUT KEBUTUHAN MASYARAKAT Detuage, Iin Rosalyn; Radja, Abd. Mufti; Wikantari R, Ria
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 6, No 2 (2019): Nature
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic Univ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v6i2a8

Abstract

Abstrak_Perkembangan kota yang bergulir cepat terkadang mengabaikan kebutuhan ruang terbuka yang sangat didambakan bagi kehidupan perkotaan, dimana faktor keamanan dan kenyamanan perlu diutamakan untuk pemenuhan ruang terbuka tersebut,  sebagai fasiltas interaksi sosial ruang publik diharapkan dapat mempertautkan  seluruh kepentingan pengguna tanpa membedakan latar belakang ekonomi, sosial, budaya dalam dinamika kehidupan kota. Taman Maccini Sombala merupakan taman yang berada di pusat kota, akan tetapi lokasi tersebut sangat terpencil. Akses untuk menuju taman tersebut sangat sulit, karena tidak dilalui oleh kendaraan umum. Taman Maccini Sombala juga memiliki beberapa fasilitas penunjang tapi tidak berfungsi dengan baik, bahkan beberapa fasilitas sudah rusak.Metode penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif, yaitu merupakan penilaian yang mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa-peristiwa, kejadian yang terjadi di masa sekarang. Studi ini bertujuan Menganalisis pola pemanfaatan ruang pada Taman Maccini Sombala Makassar, Mengidentifikasi faktor ? faktor yang mempengaruhi efektifitas pemanfaatan fasilitas Taman Maccini Sombala Makassar dan Menganalisis efektifitas pemanfaatan fasilitas penunjang Taman Maccini Sombala Makassar sebagai ruang terbuka publik. Hasil penelitian menunjukan bahwa Taman Macini Sombala Makassar tidak efektif, dikarenakan infrastruktur untuk penunjang kegiatan perempuan tidak terdapat dilokasi tersebut. Sarana kegiatan bagi lansia tidak ada.Tidak terdapat fasilitas penunjang bagi pengunjung siswa, karyawan dan tidak bekerja.Kata kunci: Evektifitas; Pemanfaatan; Ruang Terbuka Publik; Taman Maccini Sombala. Abstract_ The development of a fast-rolling city sometimes ignores the need for opened space that is highly coveted for urban life, where security and comfort need to be prioritized for the fulfillment of opened space, as a facility of social interaction public spaces are expected to link the interests of users without distinguishing economic, social, culture in the dynamics of city life. The location of the Maccini Sombala Park is an interesting research location to study. Maccini Sombala Park is a park in the city center, but the location is very remote. Access to the park is very difficult because it is not passed by public transport. Maccini Sombala Park also has a number of supporting facilities but is not functioning properly; even some facilities have been damaged. This research method was qualitative descriptive, which is an assessment in describing a phenomenon, events, incidents that occurred in the present. This study is aimed to analyze the effectiveness of the use of supporting facilities of Maccini Sombala Park, identify the factors that influence the effectiveness of the user facilities of Maccini Sombala Park as a public open space. The results of the Makassar Maccini Sombala Park research were not effective, because the supporting infrastructure for female was unavailable. There were not supporting facilities for the student, employee, and unemployment.Keywords: Effectiveness; Utilization, Opened Public Space; Maccini Sombala Park.
PUSAT INFORMASI PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN SULAWESI SELATAN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR MODERN Fadillah, Andi Nur; Arfan, Taufik; Rahayu, Irma
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 1, No 2 (2014): Nature
Publisher : Jurusan Arsitektur uin alauddin makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v1i2a3

Abstract

Planning and designing aim to design a culture and tourism information center with Modern Architecture Approach, the design limited on several issues there are the architectural issues, particularly spatial, space requirements and appearance of the building, while the method used is the study of literature / literary studies, surveys (form of field observation and data collection of building where has a similar function to the culture and tourism information center) and analyzing the data obtained. The result of the design is the creation of culture and tourism information center in Makassar, South Sulawesi with Modern Architecture approach  with the ability of the building to accommodate the times when the building is nuance and modern look, with a modern form so that this building is more Interesting to prospective visitors.

Page 1 of 11 | Total Record : 110