cover
Contact Name
Ahmad Syauqi
Contact Email
syauqi.fmipa@unisma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
syauqi.fmipa@unisma.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC)
ISSN : 23382805     EISSN : 24609455     DOI : -
Science: Biochemistry, Genetics and Molecular Biology -Other- includes the sub areas: Biochemistry -Biological chemistry-, Biological structure, Physiology, Molecular Biology, Cell Biology, Genetics, Biological development, Environmental Biology -Ecology-, Environmental Health, Microbiology -General and Environment-, Biotechnology
Arjuna Subject : -
Articles 99 Documents
Etnobotani Aspek Pemanfaatan dan Konservasi Katuk (Sauropus androgynus L. Merr.) pada Masyarakat Pandalungan Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan Zakiah, Elmi; Hayati, Ari; Zayadi, Hasan
BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : FMIPA - ISLAMIC UNIVERSITY OF MALANG (UNISMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1026.01 KB)

Abstract

Katuk is one of the many floras that grow on Indonesian soil, one of which is in the Pasuruan area. Katuk plants have many benefits for humans, including can be used as food ingredients in the form of vegetables and traditional medicines. Traditional uses of plants that emphasize the cultural relationship of the community with plant resources in their environment, directly or indirectly, are called ethno botany studies. This study aims to determine the public perception about aspects of knowledge, utilization and conservation strategies of katuk plants in Prigen District, Pasuruan Regency. This research uses descriptive qualitative method by conducting observations, questionnaires, interviews, and documentation. The results showed that as many as 42% of respondents used katuk in the field of food, 27% in the health sector, 19% as hedgerows, 12% in the economic field. The part of the katuk plant that is widely used is the leaf part. The distribution of katuk in Klataan sub-village consists of 11 points with a total of 63 individuals, and there are 10 points in Tonggowa sub-village with 49 individuals. Keywords: Ethnobotany, Sauropus androgynus L. Merr, Prigen district ABSTRAK Katuk merupakan salah satu flora yang banyak tumbuh di tanah Indonesia, salah satunya di daerah Pasuruan. Tanaman katuk memiliki banyak manfaat bagi manusia, diantaranya dapat dijadikan sebagai bahan dasar makanan berupa sayur serta obat-obatan tradisional. Pemanfaatan tumbuhan secara tradisional yang menekankan pada hubungan budaya masyarakat dengan sumberdaya tumbuhan di lingkungannya baik secara langsung maupun tidak langsung di sebut dengan kajian ilmu etnobotani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang aspek pengetahuan, pemanfaatan dan strategi konservasi tanaman katuk di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan cara melakukan observasi, kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 42 % responden memanfaatkan katuk dibidang pangan, 27 % bidang kesehatan, 19 % sebagai tanaman pagar, 12 % dibidang ekonomi. Bagian tanaman katuk yang banyak digunakan adalah bagian daun. Distribusi katuk di dusun Klataan terdapat 11 titik dengan jumlah 63 individu, dan di dusun Tonggowa terdapat 10 titik dengan jumlah 49 individu.  Kata kunci: Etnobotani, Sauropus androgynus L. Merr, Kecamatan Prigen  
Persepsi Masyarakat Terhadap Ruang Terbuka Hijau di Alun – alun Kota Malang dan Kota Batu Subianto, Ramly Abdullah; Laili, Saimul; Syauqi, Ahmad
BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : FMIPA - ISLAMIC UNIVERSITY OF MALANG (UNISMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.803 KB)

Abstract

Ruang terbuka hijau merupakan komponen yang selalu diperhitungkan dalam proses perencanaan perkotaan apabila ruang terbuka hijau berkurang akan menimbulkan suatu permasalahan lingkungan. Menurut undang – undang no. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang perkotaan, bahwa minimal untuk memenuhi ketentuan 20 % RTH publik dan 10 % RTH privat, diketahui area ruang terbuka hijau di wilayah Kota Malang dan Kota Batu maksimal dari ketentuan tersebut. Maka dibutuhkan peran dan tanggapan dari masyarakat tentang ruang terbuka hijau. Berdasarkan analisa data yang dilakukan, diperoleh kesimpulan jumlah vegetasi di area ruang terbuka hijau di Alun – alun Kota Malang ada 49 jenis tanaman dan rata rata suhu 29,9 ̊C, kelembaban udara 60,6 % dan kecepatan angin 1,26 m/s. Sedangkan jumlah vegetasi di area ruang terbuka hijau Alun – alun Kota Malang ada 40 jenis tanaman rata – rata suhu 28,1 ̊C, kelembaban udara 60,7 dan kecepatan angin 1,9 m/s. Persepsi pengunjung terhadap ruang terbuka hijau di Alun – alun Kota Malang tentang area ruang terbuka hijau memberikan kesan yang baik dan menarik mempunyai kategori tinggi dengan nilai sebesar 70,33 %, sedangkan untuk vegetasi di area ruang terbuka hijau sudah tertata rapi dan indah mempunyai kategori rendah dengan nilai sebesar 45,67 %. Persepsi pengunjung terhadap ruang terbuka hijau di Alun – alun Kota Batu tentang Kondisi ruang terbuka hijau sudah bebas dari banjir mempunyai kategori tinggi dengan nilai sebesar 69,00 %, sedangkan untuk Kondisi ruang terbuka hijau sudah bebas dari pencemaran udara mempunyai kategori tinggi dengan nilai sebesar 56,00 %. 
Studi Etnobotani dan Distribusi Tanaman Siwalan (Borassus flabillifer) di Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep Suku Madura Thibab, Niqrisatut; Hayati, Ari; Zayadi, Hasan
BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : FMIPA - ISLAMIC UNIVERSITY OF MALANG (UNISMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.245 KB)

Abstract

Siwalan(Borassus flabillifer) merupakan produk unggulan daerah Desa Gapura Timur  yang dapat diangkat menjadi produk unggulan nasional, karena seluruh bagian tanamannya dapat digunakan oleh masyarakat desa Gapura Timur. Tanaman  Siwalan banyak tumbuh di Desa Gapura Timur yang terletak di Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep yang luas wilayahnya 582 Ha dengan jumlah penduduk 2.656 jiwa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang aspek pemanfaatan, konservasi tanaman siwalan, dan distribusi tanaman Siwalan di Desa Gapura Timur kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep. Metode  deskriptif eksploratif dengan analisis data menggunakan Uji validitas dan Reabilitas. Hasil penelitian untuk responden didata dari jenis kelamin, pekerjaan , pendidikan, usia sedangkan hasil uji validitasnya  96,37 dibulatkan menjadi 100, persepsi masyarakat dalan aspek konservasi dan pemanfaatanyya yaitu di ambil 50% untuk dusun Battangan dan  dan 50% distribusi pada tanaman siwalan terdapat di dusun Pangabasen karena mayoritas masyarakatnya mengelolah tanaman siwalan. Penyebarannya terdapat di 3 lokasi yaitu di perkebunan masyarakat, pinggir jalan dan pekarangan rumah. Kata kunci: etnobotani, distribusi, tanaman Siwalan
Kajian Faktor Lingkungan Abiotik pada Kolam Ikan Bandeng (Chanos chanos Forsskal) dengan Suspected Parasites di Desa Balongpanggang Rohman, Fatur rohman; Athiroh, Nour; Laili, Saimul
BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : FMIPA - ISLAMIC UNIVERSITY OF MALANG (UNISMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.137 KB)

Abstract

Kematian ikan Bandeng (Chanos chanos Forsskal) banyak dijumpai di tambak budidaya Kecamatan Balongpanggang. Hal tersebut diduga karena serangan endoparasit ikan Bandeng dan pengaruh dari kualitas lingkungan abiotik tambak yang buruk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase infeksi cacing endoparasit pada ikan Bandeng, mengetahui faktor lingkungan abiotik yang mempengaruhi kolam ikan Bandeng dan untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan abiotik dengan endoparasit pada ikan Bandeng. Penelitian dilakukan dengan mengamati ikan secara morfologi dan anatomi. Pengamatan lingkungan abiotik juga di amati seperti BOD, DO, pH, kadar garam, karbondioksida terlarut (CO2), suhu, Total Suspended Solid (TSS) dan Total Dissolve Solid (TDS). Data yang di ambil yaitu 5 sampel ikan dari masing-masing kolam ikan dan pengukuran air dilakukan selama 3 minggu sebanyak 3 kali ulangan. Hasil pengamatan endoparasit menggunakan analisis ANOVA dengan aplikasi SPSS. Hasil yang diperoleh menunjukkan kolam 3 banyak ditemukan larva endoparasit (4.2 ekor/ikan). Kondisi kualitas lingkungan dari setiap kolam tidak sesuai dengan standar kualitas air PP No.2 Tahun 2011. Banyaknya persentase endoparasit pada kolam 3 di pengaruhi dengan faktor lingkungan abiotik yang kurang baik. Nilai TDS, TSS, CO2 terlarut dan BOD pada kolam 3 paling rendah di banding kolam 1 dan 2.   Kata Kunci : Bandeng, Endoparasit, Lingkungan, Abiotik
Studi Etnobotani Jahe (Zingiber officinale) pada Masyarakat Desa Banyior Kecamatan Sepulu Kabupaten Bangkalan Hotimah, Husnul; Hayati, Ari; Zayadi, Hasan
BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : FMIPA - ISLAMIC UNIVERSITY OF MALANG (UNISMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1102.424 KB)

Abstract

Jahe  (Zingiber officinale) merupakan tanaman yang termasuk dalam kelompok Rhizoma, tanaman jahe relatif mudah ditemukan dan penggunaannya sudah meluas bukan hanya untuk keperluan memasak, tetapi juga untuk kesehatan, Jahe atau biasa disebut “Jheih” dalam bahasa Madura adalah tanaman yang sudah sering di manfaatkan oleh masyarakat Banyior sebagai bahan pangan maupun obat tradisional atau yang lebih sering disebut  jamu atau dalam bahasa Madura “jhemoh”. Secara umum minum jamu yang diracik dari tumbuh-tumbuhan telah menjadi kebisaan keluarga dan masyarakat Madura. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang manfaat tanaman Jahe di Desa Banyior Kecamatan Sepulu Kabupaten Bangkalan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eskploratif yang meliputi: studi pustaka, pengamatan di lapangan, wawancara, analisis data, dan dokumentasi persebaran tanaman Jahe. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya potensi tanaman Jahe di Desa Banyior sebagai bahan pangan 54%, dan sebagai obat tradisional 46 %. Bagian organ tanaman Jahe yang di manfaatkan daun 38 %, rimpang 50%, batang 12%. Jumlah Jahe yang ditemukan sebanyak 7 rumpun di Dusun Sabungan dan 6 rumpun di Dusun Lenden.   
Persepsi Masyarakat terhadap Sanitasi Pasar Tradisional (Pasar Blimbing dan Pasar Mergan) di Kota Malang Yaqin, Ainul; Laili, Saimul; Syauqi, Ahmad
BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC) Vol 4 (2019): Edisi Khusus: Pertalian Manusia - Makhluk Hidup
Publisher : FMIPA - ISLAMIC UNIVERSITY OF MALANG (UNISMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.762 KB)

Abstract

Kondisi pasar tradisional yang saat ini masih mempunyai kesan kurang bersih, terutama di daerah Malang memerlukan perhatian khusus untuk segera diperbaiki sebab apabila kondisi ini tidak segera diperbaiki, pasar tradisional lambat laun akan mulai ditinggalkan konsumen seiring dengan menjamurnya pasar modern. Penelitian ini dilakukan di pasar tradisional Blimbing dan pasar Mergan Kota Malang. Tujuan penelitian ini yang pertama yaitu untuk mengetahui kondisi sanitasi pasar yang ada di pasar Blimbing dan pasar Mergan, yang kedua untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap kondisi sanitasi di pasar Blimbing dan pasar Mergan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan melalui observasi langsung di lapangan. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab. Dalam penelitian ini, sumber data kuesioner yaitu pengunjung/pembeli di pasar tradisional Blimbing dan pasar tradisional Mergan Kota Malang. Penentuan sampel responden ditetapkan secara purposive sampling. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa sanitasi di pasar Blimbing dan pasar Mergan masih kurang baik, hal tersebut dinyatakan dengan tingginya presentase jawaban kurang setuju pada kuesioner.
DISTRIBUSI SERANGGA HAMA PADA LAHAN PERTANAMAN KEDELAI (GLICYNE MAX) FASE GENERATIF DI UNIT PELAKSANA TEKNIS PENGEMBANGAN BENIH PALAWIJA SINGOSARI, MALANG Zahro', Siti Marirotuz; Hayati, Ari; Zayadi, Hasan
BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC) Vol 5 No 2 (2020): Fase Pembentukan Tubuh dan Sebaran Makhluk
Publisher : FMIPA - ISLAMIC UNIVERSITY OF MALANG (UNISMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/e-jbst.v5i2.162

Abstract

Pest insects are a term used to refer to insects that potentially as pests, which have the potential activity to cause harm in an agro-ecosystem, either because its activity is damaging directly or indirectly. The purpose of this research is to know the type, distribution, and abiotic factors that affect the distribution of pest insects found in soybean plants of generative phase at technical implementation of Palawija (crops) Seeds Development unit, Singosari, Malang. This research uses descriptive method. Observation of pest insects on soybean plants is conducted directly (visual), based on the presence of pest insects that are considered to represent the soybean plant. The sample taking technique of pest insects uses direct technique per habitat. The results showed that pest insect species are found in generative phase of soybean plants were Spodoptera litura, Chrysodeixis chalcites, Lamprosema indicata, and Phaedonia inclusa. The pest insects were uniform distributing pattern which the average values ??of all species per week of S. litura, L. indicate, C. chalcites, and P. inclusa, in soybean plants are 0.15, 0.2, 0.17, and 0.19. Based on the results of correlation data analysis, abiotic factors measured temperature and humidity did not affect to the pattern of individual pest insect distribution on soybean plants. Keywords: Distribution pattern, Pest insect, and Soybean. ABSTRAK Serangga hama merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan serangga-serangga yang berpotensi sebagai hama yang memiliki aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerugian secara ekonomis dalam suatu agroekosistem, baik karena aktivitasnya merusak secara langsung ataupun tidak langsung. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis, distribusi, dan faktor abiotik yang mempengaruhi distribusi serangga hama yang ditemukan pada tanaman kedelai di Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Benih Palawija Singosari, Malang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan melakukan pengamatan serangga hama pada tanaman kedelai secara langsung (visual). Teknik pengambilan sampel serangga hama yang digunakan adalah teknik langsung perhabitat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangga hama yang ditemukan pada tanaman kedelai fase generatif ada 4 spesies yaitu Spodoptera litura, Chrysodeixis chalcites, Lamprosema indicata, dan Phaedonia inclusa. Keempat spesies tersebut pada pertanaman kedelai berdistribusi dengan pola seragam (uniform) berdasarkan nilai hasil perhitungan Indeks Morishita pada tiap spesies menunjukkan angka di bawah 1 yaitu dengan nilai rata-rata tiap spesies mulai dari yang tertinggi ke yang terendah adalah 0,2 (L. indicata); 0,19 (P. inclusa); 0,17 (C. chalcites); dan 0,15 (S. litura). Berdasarkan hasil analisis data korelasi, faktor abiotik yang diukur (suhu dan kelembaban) tidak berpengaruh terhadap pola sebaran individu serangga hama pada tanaman kedelai. Kata kunci: Pola sebaran, Serangga hama, dan Kedelai.
ANALISIS KARAKTER FENOTIP BEBERAPA SPESIES DENDROBIUM Ainiah, Nur; Rahayu, Tintrim; Hayati, Ari
BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC) Vol 5 No 2 (2020): Fase Pembentukan Tubuh dan Sebaran Makhluk
Publisher : FMIPA - ISLAMIC UNIVERSITY OF MALANG (UNISMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/e-jbst.v5i2.166

Abstract

Phenotype character of orchid Dendrobium is known necessarily for the effective conservation to enhance the utilization of genetic resources. The phenotype kinship relationship is able benefit using in the crosses and orchid breeding program of Dendrobium. This research aims to know the phenotype character and kinship relationship some of Dendrobium orchid based on the phenotype character and stomata leaves in the orchid plantations, Batu, Malang East Java. The method of this research is descriptive by direct observation towards 10 species of Dendrobium orchid and refers to the guidebook of ornamental plants characterization of orchid then processed to be binary data and computed into program of PAST.3.5.1. The result of phenotype characteristic analysis obtained the big group, each of group or sub-group that can be elders as crosses sample those are D. strepsiceras, D. laxiflorum, D. liniale, D. secundum, D. sylvnum. The stomata are round and oval while epidermal cells are pentagon and hexagon shaped. Keywords: Dendrobium, stomata, phenotype character, kinship analysis ABSTRAK Karakter Fenotip anggrek Dendrobium perlu diketahui untuk melakukan konservasi yang efektif guna meningkatkan pemanfaatan sumber daya genetik. Hubungan kekerabatan fenotip bisa digunakan sebagai dasar keberhasilan dalam persilangan dan sebagai program pemuliaan spesies anggrek Dendrobium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kekerabatan karakter fenotip beberapa spesies anggrek Dendrobium berdasarkan karakter fenotip dan sel epidermis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pengamatan secara langsung terhadap 10 spesies anggrek Dendrobium dengan mengacu pada buku panduan karakterisasi tanaman hias anggrek kemudian diolah menjadi data biner dan dikomputasikan dalam program PAST. 3.15. Hasil analisis karakter fenotip mendapatkan kelompok besar, masing-masing dalam satu kelompok maupun sub kelompok yang dapat di jadikan tetua sebagai bahan persilangan yaitu pada spesies D. Strepsiceras, D.laxiflorum, D. Liniale, D, secundum, D. Sylvanum. Sedangkan cirri khas dari masing-masing spesies dapat diamati dari waran bunga, aroma bunga, bentuk petala, bentuk labellum,  bentuk bunga, bentuk stomata dan sel epidermis. Stomata   berbentuk bulat dan oval sedangkan sel epidermis berbentuk segi lima dan segi enam. Kata kunci: Dendrobium, stomata, karakter fenotip , analisis kekerabatan  
PROFIL SEBARAN BURUNG DI POHON PENEDUH SEPANJANG JALAN MT. HARYONO DAN TLOGOMAS KECAMATAN LOWOKWARU KOTA MALANG Bachri, Muhammad; Zayadi, Hasan; Hayati, Ari
BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC) Vol 5 No 2 (2020): Fase Pembentukan Tubuh dan Sebaran Makhluk
Publisher : FMIPA - ISLAMIC UNIVERSITY OF MALANG (UNISMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/e-jbst.v5i2.201

Abstract

The bird is a wildlife that is easily found in almost area vegetation. In this case the bird is one of the bioindikator an area to know a change an environment and reflect the stability of the habitat. This research aims was to know the type and spread of the distribution of birds on a shade tree in the M.T. Haryono road and Tlogomas Malang. Research used the method of cruising or descriptive-explorative directly in the field with the recorded data coordinates the types of birds that are found in shade trees along the road by using GPS. The study found four types of bird i.e. emprit/Javan Munia (Lunchura leucogastroides) as much as 102 points of distribution, sparrows (Passer domesticus) as many as 18 point spread, bird cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) a total of 11 points distribution and species of birds spotted Dove (Streptopelia chinensis) 8 point spread. With the number of whole namely 139 point distribution of all trees shade. Based on studies generated frequency in the morning is 66, 2% and in the afternoon is 25, 9%. The shade tree most frequently was found by the bird are the trees of Trembesi and Mahoni.  Keywords: spatial distribution of birds, shade trees, road ABSTRAK Burung merupakan satwa liar yang mudah ditemukan hampir di daerah yang memiliki vegetasi. Dalam hal ini burung merupakan salah satu bioindikator suatu daerah untuk mengetahui suatu perubahan suatu lingkungan dan mencerminkan stabilitas habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan persebaran distribusi burung pada pohon peneduh di jalan M.T. Haryono dan Tlogomas Kota Malang. Penelitian menggunakan metode jelajah atau deskriptif-ekploratif secara langsung di lapangan dengan mencatat data koordinat jenis-jenis burung yang ditemukan di pohon peneduh  sepanjang jalan raya dengan menggunakan GPS. Ditemukan empat jenis burung yaitu emprit/ bondol jawa (Lunchura leucogastroides) sebanyak 102 titik persebaran, burung gereja (Passer domesticus) sebanyak 18 titik persebaran, burung cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) sebanyak 11 titik persebaran dan spesies burung tekukur biasa (Streptopelia chinensis) 8 titik persebaran. Dengan jumlah keseluruhan yaitu 139 titik persebaran dari semua pohon peneduh yang ada. Berdasarkan penelitian dihasilkan frekuensi pada pagi hari yaitu 66, 2 % dan pada sore hari diketahui 25, 9%. Pohon peneduh yang paling sering ditemukan oleh burung adalah pohon Trembesi dan Mahoni.    Kata kunci: Distribusi spasial burung, pohon peneduh, jalan raya
IDENTIFIKASI SERANGGA PADA LAHAN TANAMAN JAGUNG (ZEA MAYS L.) DI UNIT PELAKSANA TEKNIS PENGEMBANGAN BENIH PALAWIJA SINGOSARI KABUPATEN MALANG Maula, Yuliana Musrifatul; Hayati, Ari; Zayadi, Hasan
BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCE-TROPIC) Vol 5 No 2 (2020): Fase Pembentukan Tubuh dan Sebaran Makhluk
Publisher : FMIPA - ISLAMIC UNIVERSITY OF MALANG (UNISMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/e-jbst.v5i2.208

Abstract

Corn is a seasonal plant. Corn is one of the crop commodities that has an important role in agriculture and the economy in Indonesia. Problems that often occur in the cultivation of corn (Zea mays) are such as water availability, land area, weather, disease and pest attacks. Insects are animals which include an important role in the agricultural ecosystem, but not all insects are beneficial for these plants. Insects also consist of several types of Orders, namely the Order of Coleoptera, Order of Diptera, Order of Lepidoptera, Order of Homoptera, Order of Hemiptera, and Order of Thysanoptera. Insects also have their respective statuses as predators, pests, pollinators, and suckers. This study aims to identify the types of insects on cornfields and determine the effect of abiotic factor correlations on the number of insects on cornfields. This research uses quantitative descriptive method, the retrieval of insects with the absolute method and this study makes direct observations (visual) and the determination of plots using purposive sampling. The results showed 5 orders (Odonata, Lepidoptera, Orthoptera, Coleoptera, and Hemiptera), 6 families (Libellulidae, Nymphalidae, Pieridae, Acrididae, Coccinellidae, and Pentatomidae) and 9 kinds of insects. The most common insects are found in the Odonata Order, as many as 51 birds and the least insects found were found in the order of 2 Lepidoptera Familia Acrididae. Abiotic factors measured are temperature, humidity, wind speed and light intensity. Wind speed is related to the arrival of insects that come on cornfields. Keywords:corn plant (Zea mays),Insects, abiotic factor. ABSTRAK Jagung merupakan tanaman musiman. Jagung termasuk salah satu komoditas tanaman yang mempunyai peranan penting dalam pertanian dan juga perekonomian di Indonesia. Masalah yang sering terjadi dalam budidaya tanaman jagung (Zea mays) yaitu seperti ketersediaan air, luas lahan, cuaca, serangan penyakit dan hama. Serangga merupakan hewan yang termasuk memegang peranan penting dalam ekosistem pertanian, tetapi tidak semua serangga menguntungkan untuk tanaman tersebut. Serangga juga terdiri dari beberapa jenis Ordo yaitu Ordo Coleoptera, Ordo Diptera, Ordo Lepidoptera, Ordo Homoptera, Ordo Hemiptera, dan Ordo Thysanoptera. Serangga juga memiliki status masing-masing yaitu sebagai predator, hama, penyerbuk, dan penghisap. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi macam-macam serangga pada lahan tanaman jagung dan mengetahui pengaruh korelasi faktor abiotik terhadap jumlah serangga pada lahan tanaman jagung. penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, pengambilan serangga dengan metode mutlak dan penelitian ini melakukan pengamatan secara langsung (visual) dan penentuan plot menggunakan Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukkan 5 ordo (Odonata, Lepidoptera, Orthoptera, Coleoptera, dan Hemiptera), 6 familia (Libellulidae, Nymphalidae, Pieridae, Acrididae, Coccinellidae, dan Pentatomidae) dan 9 macam serangga. Serangga yang paling banyak ditemukan yaitu terdapat pada Ordo Odonata yaitu sebanyak 51 ekor dan serangga yang paling sedikit ditemukan yaitu terdapat pada Ordo Lepidoptera Familia Acrididae sebanyak 2 ekor. Faktor abiotik yang diukur yaitu suhu, kelembaban, kecepatan angin dan intensitas cahaya. Kecepatan angin berhubungan terhadap kedatangan serangga yang datang pada lahan tanaman jagung. Kata kunci: tanaman jagung (Zea mays), Serangga, faktor abiotik

Page 1 of 10 | Total Record : 99