cover
Contact Name
Gede Arda
Contact Email
ardagede@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.beta.tep@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
beta (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023012     EISSN : 25023012     DOI : -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 158 Documents
Pengolahan Tanah Menggunakan Bajak Singkal Lebih Sedikit Memerlukan Air Irigasi dari pada Bajak Rotary Artawan, Gusti Bagus Alit Budi; Tika, I Wayan; Sucipta, I N.
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.599 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p01

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan kebutuhan air irigasi pada pengolahan tanah menggunakan bajak singkal dan bajak rotary. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi: volume solum, porositas tanah, kadar air awal tanah, kebutuhan air untuk penggenangan, volume genangan, dan lama waktu pengolahan tanah. Lokasi yang digunakan sebagai sampel lahan sawah sebanyak 15 titik sampel untuk masing-masing bajak yang di kelompokan menjadi tiga lokasi yaitu pada hulu, tengah, dan hilir. Pada setiap lokasi diambil lima sampel sawah untuk setiap perlakuan bajak. Volume solum pada sawah yang diolah menggunakan bajak singkal sebesar 2.122,00 m3/ha sedangkan volume solum menggunakan bajak rotary sebesar 2096,33 m3/ha. Kadar air awal tanah pada lahan sawah yang digunakan sebagai sampel untuk bajak singkal sebesar 52,98 % sedangkan pada bajak rotary sebesar 45,63 %. Kebutuhan air untuk penjenuhan lahan sawah yang diolah dengan bajak rotary lebih besar dari bajak singkal yaitu 505,97 m3/ha, sedangkan pada bajak singkal sebesar 377,11 m3/ha. Volume genangan pada bajak rotary lebih besar dari bajak singkal yaitu bajak rotary sebesar 401,33 m3/ha dan bajak singkal sebesar 141,00 m3/ha. Untuk lama waktu yang diperlukan untuk mengolah tanah, bajak singkal memerlukan waktu lebih lama yaitu 29,69 jam/ha, sedangkan bajak rotary memerlukan waktu 14,35 jam/ha. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pengolahan tanah menggunakan bajak singkal lebih sedikit memerlukan air dibandingkan dengan bajak rotary. Pada pengolahan tanah menggunakan bajak singkal air yang diperlukan yaitu 5,07 l/dt, sedangkan untuk bajak rotary memerlukan air sebanyak 17,69 l/dt. This research was conducted to know the difference of irrigation water requirement in the preparation of land using chisel plow and rotary plow. The variables observed in this study include: solum volume, soil porosity, initial moisture content of the soil, water requirements for inundation, puddle volume, and duration of soil tillage. Location used as sample of paddy field as much as 15 point sample for each plow which is grouped into three locations that is at upstream, middle, and downstream. At each location five rice samples were taken for each plow treatment. The volume of solum on the treated rice field using the chisel plow of 2122.00 m3 / ha while the volume of solum using rotary plow of 2096.33 m3 / ha. The initial soil moisture content in paddy field used as sample for chisel plow is 52,98% while rotary plow is 45,63%. The water requirement for the saturation of paddy field that is processed by rotary plow is bigger than the chisel plow is 505.97 m3 / ha, whereas in the chisel plow is 377,11 m3 / ha. The volume of inundation in the rotary plow is greater than the chisel plow rotary plow of 401.33 m3 / ha and chisel plow of 141.00 m3 / ha. For the length of time required to cultivate the soil, the chisel plow takes longer time of 29.69 hours / ha, while the rotary plow takes 14.35 hours / ha. The results of this study indicate that the processing of soil using plows of chisel requires less water than the rotary plow. In the processing of the soil using the plot of water chisel required is 5.07 l / dt , while for the rotary plow requires water as much as 17.69 l / dt .
Analisis Efisiensi Penggunaan Air Irigasi pada Subak Agung Yeh Sungi Sukertayasa, I Putu; tika, i wayan; S Wijaya, I Made Anom
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 5 No 1 (2017): maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.734 KB)

Abstract

Subak Agung Yeh Sungi merupakan kumpulan dari semua Subak Gede yang memanfaatkan aliran air Tukad Yeh Sungi untuk keperluan irigasi dari hulu sampai hilir. Titik hulu dari Tukad Yeh Sungi ini berada di Desa Apuan, Kecamatan Baturiti dan untuk daerah hilirnya berada di wilayah, Desa Beraban, Kecamatan Kediri. Luas Subak Agung Yeh Sungi ini yaitu 3.661 ha dan terdiri dari sembilan Subak Gede yaitu Subak Gede Bunyuh, Cangi, Tinjak Menjangan, Tungkub, Pama Palian, Mundeh, Baru Kedokan, Gadon I, dan Gadon II. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah: mengetahui efisiensi penggunaan air irigasi pada Subak Agung Yeh Sungi dan merancang pendistribusian air irigasi pada Subak Agung Yeh Sungi agar memenuhi konsep proporsional. Dari analisis efisiensi penggunaan yang dilakukan dapat diketahui efisiensi penggunaan air irigasi pada Subak Agung Yeh Sungi di hulu yaitu 73,80%, tengah 84,15% dan di hilir 94,21%. Rata-rata efisiensi penggunaan pada masing-masing daerah irigasi sebesar 84.05%. Subak Agung Yeh Sungi is an association of all the Subak Gede that use water flow of Tukad Yeh Sungi for irrigation purposes from upstream to downstream. The upstream point of Tukad Yeh Sungi was the village of Apuan, Baturiti District and for the downstream areas are in the region Beraban village, district of Kediri. The area of Subak Agung Yeh Sungi is 3,661 ha, consisting of nine Subak Gede, such as Subak Gede Bunyuh, Cangi, Tinjak Menjangan, Tungkub, Pama Palian, Mundeh, Baru Kedokan, Gadon I, and Gadon II. The purpose of this research was to determine the efficiency of water use irrigation in Subak Agung Yeh Sungi and to designe the distribution of water irrigation in Subak Yeh Agung Sungi to fulfill the concept of proportional. Based on analysis, the efficiency of water Subak Agung Yeh Sungi was 73.80% in the upstream, 84.15% in the middle and 94.21% in the downstream. The average of water use efficiency in each irrigated area was 84.05%.
Pengaruh Perlakuan Waktu dan Suhu Penyimpanan Dingin terhadap Mutu Kubis Bunga (Brassica Oleracea Var. Botrytis L.) Saputri, Chyntia Wulandari Eka; Pudja, I. A. Rina Pratiwi; Kencana, Pande Ketut Diah
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 8 No 1 (2020): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.466 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2020.v08.i01.p17

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan waktu perlakuan optimal dan suhu penyimpanan dingin untuk mutu kubis bunga. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, faktor pertama adalah suhu yang digunakan dan faktor kedua adalah waktu selama show case. Faktor pertama terdiri dari dua level, yaitu (P1): show case temperature 8oC, dan (P2): show case temperature 15oC dan tambah kontrol (P0). Faktor kedua terdiri dari empat level, yaitu (A0): penyimpanan selama 0 jam, (A1): penyimpanan selama 12 jam, (A2): penyimpanan selama 16 jam, (A3): penyimpanan selama 20 jam dan diulang untuk 3 kali ulangan. Kubis bunga sebagai kontrol disimpan pada suhu kamar (28 ± 1 ?). Parameter kualitas yang diamati dalam penelitian ini termasuk penurunan berat badan, tingkat konsumsi O2, warna (warna berbeda), uji organoleptik termasuk umur simpan dan tingkat kerusakan. Hasil penelitian menunjukkan parameter penurunan susut bobot, laju konsumsi O2, warna, umur simpan, tingkat kerusakan pada suhu perlakuan suhu terbaik adalah suhu 8 ? dan waktu penyimpanan 20 jam (P1A3).Kata kunci: kembang kol, waktu penyimpanan, suhu penyimpanan dingin The purpose of this study was to determine the optimal treatment time and cold storage temperature for the quality of cabbage flowers. This study uses a completely randomized design (CRD) consisting of two factors, the first factor is the temperature used and the second factor is the time during the showcase. The first factor consists of two levels, namely (P1): showcase temperature of 8oC, and (P2): showcase temperature of 15oC and added a control (P0). The second factor consists of four levels, namely (A0): storage for 0 hours, (A1): storage for 12 hours, (A2): storage for 16 hours, (A3): storage for 20 hours and repeated for 3 replications. Flower cabbage as control was stored at room temperature (28 ± 1 ?). The quality parameters observed in this study included weight loss, O2 consumption rate, color (color different), organoleptic tests including shelf life and damage level. The results showed the parameters of weight loss, O2 consumption rate, color, shelf life, damage rate at the best temperature of 8 ? and storage time of 20 hours (P1A3). Keywords: cauliflower, storage time, cold storage temperature
PENGARUH PEMBERIAN UAP ETANOL DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP MUTU DAN MASA SIMPAN BROKOLI (Brassica oleracea L.) Putra, Iriandi v; Utama, I Made Supartha; Pudja, I. A. Rina Pratiwi
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 2 No 2 (2014): Agustus
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.121 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh uap etanol dan suhu penyimpanan terhadap kualitas dan umur simpan brokoli. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah perlakuan uap etanol dengan 4 level konsentrasi; 0%, 10%, 20% dan 30%. Faktor kedua adalah suhu penyimpanan, terdiri dari 2 level; suhu kamar (26 ?) dan suhu rendah 2 ?. Kuntum brokoli sebagai kontrol disiapkan tanpa perlakuan uap etanol dan ditempatkan pada suhu kamar dan suhu rendah. Parameter yang diukur adalah: tingkat pernapasan, kekerasan, warna dan evaluasi sensorik termasuk rasa, warna, bau, kesegaran, dan kerenyahan. Data dianalisis dengan menggunakan analisis varian. Hasil signifikan dari analisis diikuti oleh uji Beda Nyata Terkecil (LSD 5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi uap etanol 10% adalah perlakuan terbaik karena secara efektif dapat mempertahankan tingkat kehijauan brokoli hingga hari ke 5 dengan nilai -6,23 dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan uap etanol dan suhu penyimpanan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kekerasan kuntum pada tangkai brokoli. Tingkat respirasi dipengaruhi oleh suhu penyimpanan. Pada suhu kamar, konsumsi O2 meningkat hingga hari ke 5 sekitar 102,2 hingga 193,17 ml O2 / kg. Jam, sedangkan pada suhu rendah, konsumsi O2 lebih rendah hingga hari ke 15 sekitar 65,4 hingga 60,4 ml O2 / kg .jam. Evaluasi sensorik menunjukkan bahwa brokoli mempertahankan kualitas hingga hari ke 4 pada suhu kamar, sedangkan di cold storage dapat memperpanjang usia simpan hingga 8 hari. This research aimed to determine the effect of ethanol vapor and storage temperature on quality and shelf life of broccolies. The research used completely randomized design (CRD) with two factors of treatments. The first factor was ethanol vapor treatment with 4 levels of consentrations; 0%, 10%, 20% and 30%. The second factor was the storage temperature, consisting of 2 levels; room temperature (26?) and low temperature 2?. The florets of broccoli as controls were prepared without treatment of ethanol vapor and placed at room temperature and low temperature. The measured parameters were: respiration rate, hardness, color and sensory evaluation includes flavor, color, smell, freshness, and crispness. The data were satistically analysed using analysis of variance. The significant result of the analysis was folowed by the test of Least Significant Difference (LSD 5%). The results showed that ethanol vapor concentration 10% was the best treatment since it could effectively maintain the level of greenness of broccoli by up to the day 5 with a value of -6,23 compared to controls. Ethanol vapor treatment and storage temperatur had no significant effect on the hardness level of the florets on stalk of broccoli. The rate of respiration was affected by storages temperature. At the room temperature, the comsumption of O2 increased until day 5 about 102,2 to 193,17 ml O2/kg.hr while at low temperature, the O2 consumption was lower until day 15 were approximately 65,4 to 60,4 ml O2/kg.hour. Sensory evaluation showed that the broccoli was maintain quality by up to day 4 at room temperature, while in cold storage can extended the shelf life by up to 8 day.
Penentuan Umur Simpan Loloh Piduh Dengan Metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) Menggunakan Pendekatan Model Arrhenius Nirmala Sari, Putu Wahyu; Gunadnya, IB. Putu; Arda, Gede
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 5 No 1 (2017): maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.723 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui umur simpan loloh piduh yang dikemas ke dalam dua kemasan berbeda yaitu kemasan botol plastik dan botol kaca. Loloh piduh disimpan pada empat suhu penyimpanan berbeda yaitu 15oC, 35oC, 45oC, dan 55oC. Parameter yang diamati adalah pH dan nilai sensoris meliputi rasa asam, rasa manis, aroma asam, aroma alkohol, kekeruhan, dan uji kesukaan terhadap loloh piduh. Penelitian ini dilakukan selama 12 jam atau sampai 50 persen panelis menolak sampel uji dengan pengambilan data parameter pengamatan setiap 2 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter mutu kritis dari loloh piduh kemasan botol plastik dan botol kaca adalah aroma asam yang mengikuti kinetika reaksi ordo ke-0. Umur simpan loloh piduh dalam kemasan botol plastik yang disimpan pada suhu ruang 28oC adalah 9,82 jam. Sedangkan umur simpan loloh piduh dalam kemasan botol kaca yang disimpan pada suhu ruang 28oC adalah 12,81 jam. The purpose of this study was to determine the shelf-life of lolohpiduh packed in two different packages that is packed in plastic bottle and glass bottle. Both packed lolohpiduh was stored in four temperatures, namely 15oC, 35oC 45oC 55oC. The observed parameters were pH and four sensory parameters using preference test. The sensory parameters consisted of sour taste, sweet taste, sour aroma, alcohol aroma, and turbidity. This research was conducted in12 hours or up to 50 percent of the panelists rejected the test sampleand observation was taken every two hour. The results showed that the critical quality parameters of lolohpiduh packed in plastic bottles and glass bottles was sour aroma which followed zero order of kinetics reaction. Predicted shelf-life of lolohpiduh packed in plastic bottles which stored at room temperature (28oC) was 9.82 hour, while the shelf life of lolohpiduh packed in glass bottles that stored at the same temperature was 12.81 hours.
Kajian Kualitas Beras Sosoh Dari Berbagai Macam Ukuran Daya Mesin Penggiling Putra, I B Werdi; Setiyo, Yohanes; Aviantara, I Gusti Ngurah Apriadi
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 8 No 1 (2020): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.428 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2020.v08.i01.p16

Abstract

Rice is a staple food for the people of Indonesia. Even though Indonesia is an agrarian country, Indonesia currently imports rice. In producing rice from rice there are obstacles. One of the main obstacles is post-harvest handling of rice with high yield loss during post-harvest. The amount of post-harvest loss occurs because most farmers still use traditional methods or the handling is not good and right. The purpose of this study was to determine the relationship between the capacity of the grinding machine and the quality of sosoh rice produced by the mill and to know the quality comparison of various types of grinding machine capacity. The research was carried out in the area of ??Wanasari Village, Tabanan-Bali to find out the quality of sosoh rice in the region. Head Rice is broken rice grains, both healthy and defective, which have a size greater than or equal to 6/10 part of the average length size of whole rice grains that can pass through the surface of the indented plate basin with a requirement of 4.2 mm hole size. Rice husk is a protective cover from rice grains which is separated from seeds during the grinding process. In the grinding process, there is rice which remains the husk which is caused by the power / rpm of the grinding machine which is too low because the friction force produced by the engine is not sufficient for the overall release of rice husk
Pengaruh Suhu dan Lama Penyangraian terhadap Karakteristik Fisik dan Mutu Sensori Kopi Arabika (Coffea Arabica L) Purnamayanti, Putu Ayu; Gunadnya, I. B. Putu; Arda, Gede
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 5 No 2 (2017): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.605 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh suhu dan lama penyangraian terhadap karakteristik fisik dan mutu sensori kopi arabika, 2) mengetahui derajat suhu dan lama penyangraian yang terbaik terhadap karakteristik fisik dan mutu sensori kopi arabika. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah suhu yang terdiri dari tiga taraf yaitu 220°C, 235°C dan 250°C. Faktor kedua adalah lama penyangraian, yang terdiri dari tiga taraf yaitu 14 menit, 17 menit dan 20 menit. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi rendemen, kadar air, nilai warna, kadar keasaman dan uji sensori kopi arabika. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan suhu dan lama penyangraian berpengaruh terhadap rendemen, kadar air, nilai warna, kadar keasaman, aroma, rasa dan warna kopi arabika. Suhu penyangraian 235°C dengan lama penyangraian 14 menit merupakan perlakuan terbaik untuk menghasilkan karakteristik fisik dan mutu sensori kopi arabika yang terbaik, yaitu dengan rendemen 82,5%, kadar air 1,08% (bb), beda warna L (Lightness) 6,51, keasaman 5,84, skoring aroma 3,6 (antara biasa dan suka), skoring rasa 3,2 (antara biasa dan suka), skoring warna 3,6 (antara biasa dan suka). This research was aimed to 1) determine the effects of temperature and duration of roasting coffee bean on physical characteristics and sensory quality of arabica coffee; 2) determine the temperature and roasting time which result the best of the physicals characteristics and sensory quality of arabica coffee. The experiments were carried out by using a factorial completely randomized design with two factors. The first factor was roasting temperature which consisted of three levels of 220, 235 and 250°C. The second factor was roasting duration, that consisted of three levels that was 14, 17 and 20 minutes. The variables observed in this study were yield, water content, color by CIELAB, acidity and organoleptic test. The results showed that the roasting temperature treatment and the duration of roasting affected the yield, water content, value of color, acidity levels, aroma, taste and color of arabica roasted coffee. The roasting temperature of 235°C with the duration of 14 minutes was the best treatment which produced the best roasted coffee in physical characteristics sensory quality of arabica coffee, namely 82.5% yield, 1.08% (w/w) moisture content, 6,51 color value (Lightness), 5,84 acidity, aroma 3,6 (between moderate and likes), taste score 3,2 (between moderate and likes), color scoring 3.6 (between moderate and likes).
Pertumbuhan Tanaman Krisan (Crhysantemum) dengan Berbagai Penambahan Warna Cahaya Lampu Led Selama 30 Hari pada Fase Vegetati Wiguna, I Kadek Wahyu; Wijaya, I Made Anom S.; Nada, I Made
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 3 No 2 (2015): Agustus
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.981 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati pengaruh penambahan lampu LED berwarna pada pertumbuhan tanaman krisan, dan untuk mengamati lampu warna yang sesuai yang menghasilkan pertumbuhan tanaman krisan terbaik. Desain eksperimental yang digunakan adalah Completely Randomized Design (CRD) dengan satu faktor. Faktor yang digunakan adalah lampu warna LED, terdiri dari warna lampu LED merah, kuning, hijau, biru, dan putih. Data dianalisis menggunakan ANOVA, diikuti oleh uji LSD (Least Significance Different) jika efek pengobatannya signifikan. Variabel mengamati bahwa variabel pertumbuhan meliputi: tinggi tanaman, jumlah daun dan luas kanopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan lampu LED berwarna berpengaruh positif terhadap pertumbuhan krisan. Penambahan lampu LED berwarna meningkatkan pertumbuhan tanaman. Warna lampu merah memberikan efek terbaik terhadap pertumbuhan tanaman. Hal ini ditunjukkan oleh tinggi tanaman tertinggi (71,50 cm), jumlah helai daun paling banyak (33,00) dan luas kanopi terbesar (478,34 cm2). The objectives of this research were to observe the effect of addition coloured LED light on plant growth of chrysanthemum, and to observe the appropriate color lights that resulted to the best plant growth of chrysanthemum. The experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with one factor. The factor used was LED color lights, consisted of red, yellow, green, blue, and white LED light colors. Data were analyzed using ANOVA, followed by LSD (Least Significance Different) test if the treatment effect was significant. The variables observed that growth variables include: plant height, number of leaf and canopy area. The result showed that addition coloured LED light of positive effect against the growth of chrysanthemum. The addition of coloured LED light increased the plant growth. The red light color gave the best effect against plant growth. It showed by the highest plant height (71.50 cm), the most number of leaf blade (33.00) and the biggest canopy area (478.34 cm2).
Dinamika Suhu Pengomposan Sampah Organik Rumah Tangga dengan Keranjang Bio Komposter Madrini, I. A. Bintang; Sulastri, Ni Nyoman
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.357 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p11

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan unsur hara makro dan mikro sampah rumah tangga yang divariasikan dengan sekam padi dalam bio komposter atau bioreaktor garden bag. Metode pengomposan dalam penelitian ini menggunakan metode windrow system. Material sampah organik rumah tangga berperan sebagai sumber nitrogen dan sekam padi sebagai sumber karbon atau sebagai bulking agent sehingga C/N ratio bahan baku memenuhi syarat pengomposan.Hasil analisis beberapa parameter material sampah organik rumah tangga dan sekam padi yaitu kadar air (%):76,29 dan 9,48, kadar organik (%): 98,17 dan 77,92, pH: 4,32 dan 6,56, Salinitas (mS/cm): 4,03 dan 0,21, C:N ratio :15,72 dan 112,57, total N (%): 0,87 dan 3,81, kadar lemak (%BB): 13,27 dan 9,48, vitamin C (mg/a00 g): 65,11 dan 92,99 untuk masing-masing bahan. Analisis parameter unsur hara makro dan mikro material sampah organik rumah tangga dan sekam padi menunjukkan bahwa masing-masing bahan baku memenuhi syarat pengomposan. Pada proses pengomposan, suhu diamati dari hari ke-2 sampai hari ke-14. Fase termofilik dicapai pada hari ke-2 yaitu suhu mencapai 43 OC setelah proses aklimasi campuran kedua material. Suhu optimal atau puncak suhu yang dicapai dalam pengomposan sebesar 55OC pada hari 9 ~10 lalu mengalami penurunan suhu dihari selanjutnya, pengamatan dilakukan selama 14 hari untuk melihat dinamika perubahan suhu dari fase termofilik ke fase mesofilik. The objective of this study was to find the content of macro nutrients and micro household waste which is varied with rice hulls in bio composter or bioreactor garden bag. The windrow system composting method was used in this study. Household organic waste material acted as a source of nitrogen and rice hulls as a carbon source or as a bulking agent so that C:N ratio of material meets the composting requirements. Analysis results of several parameters of household organic waste material and rice hulls i.e. moisture content (%): 76. 29 and 9.48, organic matter (%): 98.17 and 77.92, pH: 4.32 and 6.56, Salinity (mS / cm): 4.03 and 0.21, C: N ratio: 15.72 and 112.57, total N (%): 0.87 and 3.81, fat content (% BB): 13.27 and 9.48, vitamin C (mg / 100 g): 65.11 and 92.99 for each ingredient respectively. Analysis of macro and micro nutrient parameters of organic household waste and rice husk material showed that each material was suitable for composting. The temperature observed from day 2 to day 14. Thermophilic phase was achieved on the 2nd day of composting which the temperature reached 43 OC after the acclimation process. The 55 OC of optimum temperature achieveded on the day 9 ~10 of composting and then decreased the temperature over the next day, the observations made for 14 days to see the dynamics of temperature changes from the thermophilic stage to the mesophilic stage.
Pendugaan Intensitas Serangan Penyakit Blas pada Tanaman Padi Melalui Pendekatan Citra NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) Andika, I Made Prasetia Candra; Wijaya, I Made Anom Sutrisna; Gunadnya, Ida Bagus Putu
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 2 (2019): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.314 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i02.p09

Abstract

Penyakit blas merupakan salah satu penyakit yang berbahaya bagi tanaman padi. Penyakit ini bisa menyerang di setiap fase pertumbuhan. Perhitungan intensitas serangan penyakit blas saat ini masih dilakukan secara manual. Diperlukan pengembangan teknologi dalam pendugaan intensitas serangan penyakit blas melalui citra NDVI. Penelitian ini bertujuan untuk (1) untuk mendapatkan ketinggian foto udara NDVI terbaik, (2) untuk mendapatkan umur tanaman padi dengan intensitas serangan penyakit blas tertinggi, (3) untuk mendapatkan hubungan antara intensitas serangan penyakit blas dengan nilai NDVI tanaman padi. Penelitian ini menggunakan Drone DJI Phantom 4 dengan lensa NDVI. Pengolahan data menggunakan Web Drone Deploy dan software Arc Gis 10.3. Berdasarkan dari hasil analisis, detail terbaik dari pembesaran 200% mendapatkan akuisisi ketinggian dari citra NDVI adalah 20 meter dengan ukuran piksel 1,4732 cm/pixel. Pertumbuhan intensitas serangan penyakit blas tertinggi terjadi pada umur 98 hari setelah tanam. Hubungan antara intensitas serangan penyakit blas dengan nilai NDVI memiliki koefisien determinasi sebesar 0,986. Persamaan regresi didapatkan dalam penelitian ini adalah y = -23345x3 + 21191x2- 6416,8x + 665,07 dengan akurasi sebesar sebesar 91,74%. Blast is one of disease that is dangerous for rice plants. This disease can attack in every phase of growth. Calculation of the intensity of blast disease attacks is still done manually. Technology development is needed in estimating the intensity of blast disease attacks through NDVI imagery. This study purpose (1) to get the best NDVI aerial photo altitude, (2) to get the age of rice plants with the highest attack intensity of blast disease, (3) to get a relationship between the intensity of blast disease and the NDVI value of rice plants. This study use Drone DJI Phantom 4 with lens NDVI. Processing data using Web Drone Deploying and Arc Gis 10.3 software. Based on the analysis results, the best detail of 200% zooming results obtained altitude of the NDVI image acquisition that is 20 m with pixel density of 1,4732 cm/pixel. The highest intensity of blast disease attacks occurs at the age of 98 days after planting. The relationship between the intensity of blast disease and NDVI value has a determination coefficient of 0.986. The regression equation obtained in this study is y = -23345x3 + 21191x2- 6416,8x + 665,07 with an estimated accuracy of 91,74%.

Page 1 of 16 | Total Record : 158