cover
Contact Name
Gede Arda
Contact Email
ardagede@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.beta.tep@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
beta (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023012     EISSN : 25023012     DOI : -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 1 (2018): Maret" : 7 Documents clear
Analisis Pengembangan Bisnis Usaha Minuman Kopi (Studi Kasus Greenhouse Coffee and Meal, Denpasar) Sulatri, Ida Ayu Inten Dwi; Merta, I Made; Setiyo, Yohanes
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.691 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung kelayakan bisnis atau kelayakan finansial dan untuk mengetahu Strengths, Weakness, Opportunities, Threaths (SWOT) pada suatu usaha minuman kopi. Analisis kelayakan usaha atau kelayakan finansial menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan perhitungan NPV, IRR, dan BEP dan untuk analisis Strengths, Weakness, Opportunities, Threaths (SWOT) menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Bisnis minuman kopi secara keseluruhan sangat menguntungkan dengan keuntungan bersih Rp. 28.600.950/tahun dan layak dikembangkan. Hal ini didasarkan pada analisis kelayakan usaha atau kelayakan finansial yaitu NPV Rp. 22.280.872. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kenaikkan biaya operasional sebesar 15% dan penurunan pendapatan 10% tidak mempengaruhi kelayakan proyek atau sebuah usaha. Berdasarkan hasil penelitian terhadap bisnis minuman kopi sangat layak untuk dikembangkan. This study aimed to calculate the feasibility of financial feasibility and to find out the Strengths, Weakness, Opportunities, Threaths (SWOT) on a coffee beverage business. Financial feasibility analyzed by quantitative descriptive analysis method using Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Break Event Point (BEP) calculations and for analysis of Strengths, Weakness, Opportunities, Threaths (SWOT) was analyzed by qualitative descriptive method. The overall coffee beverage business is very profitable with a net profit of Rp. 28.600.950/year and is worth developing. This is based on the feasibility analysis of business or financial feasibility of Net Present Value (NPV) Rp. 22.280.872. Sensitivity analysis indicates that an increase in operating costs by 15% and a 10% revenue decrease do not affect the feasibility of a project or a business. Based on the results of this study on coffee beverage business is very feasible to develop.
Penerapan Koefisien Pemias untuk Redesain Bangunan Tembuku Pengalapan pada Jaringan Irigasi Subak Supriawan, I Made Marta; Tika, I Wayan; Wijaya, I Made Anom Sutrisna
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.075 KB)

Abstract

Bangunan bagi tembuku pengalapan merupakan salah satu bangunan bagi sadap yang digunakan pada subak. Adanya infiltrasi, evaporasi, dan bocoran pada saluran irigasi di subak menyebabkan berkurangnya debit air yang seharusnya diterima oleh petani. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui koefisien pemias pada saluran kuarter atau telabah penyahcah di subak, dan (2) untuk mendapatkan dimensi bangunan bagi sadap individual (tembuku pengalapan) yang memberi keadilan secara proporsional dengan luas lahan yang dialiri ditinjau dari aspek pemias dalam rangka untuk mendesain ulang bangunan bagi. Analisis debit riil dilakukan dengan mengukur lebar ambang dan tinggi air pada bangunan bagi dan debit seharusnya dihitung dengan menggunakan perbandingan luas lahan yang dialiri. Debit riil dan debit seharusnya digunakan untuk menentukan koefisien pemias dan koefisien pemias digunakan untuk menentukan desain lebar ambang seharusnya pada bangunan bagi. Berdasarkan hasil analisis rata-rata koefisien pemias adalah sebesar 0.024. Nilai RMSE pada tembuku pengalapan adalah 13,2 %. Disain ulang pada bangunan bagi tembuku pengalapan dengan menerapkan koefisien pemias secara teoritis menghasilkan nilai RMSE dibawah 10%. Tembuku Pengalapan is one of the dividing and tappping structure which used in subak irrigation. The infiltration, evaporation, and leakage in the subak irrigation channel can cause the decreasing discharge which should be propertly accepted by farmer. The purpose of this reasearce are: (1) to know the pemias coefisien in the quarter channel or telabah penyahcah in the subak irrigation. (2) to get the dimension of the individual dividing and tapping structure which can give proporsionally justice correspond to the area of land being flow in term of pemias aspect for redesign the dividing and tapping structure. The analysis of real discharge conducted by measured the width and high of water in the dividing and tapping structure, while the propertly discharge measure by use the area of land being flow. The real discharge were use to determine the pemias coefisien and those was used to determine the pemias width in the dividing and tapping structure. Based on the analysis result, the average of pemias coefisien was 0,024. The RMSE value in tembuku pengalapan was 13,2 %. By redisgn the tembuku pengalapan based on pemias coefisien, teoritically result the RMSE value under 10 %.
Modifikasi Mesin Perajang Daun Pandan Berbasis Antropometri untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja Wedantara, Pasek Made Sada; Budisanjaya, Putu Gede; Sucipta, I N.
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.5 KB)

Abstract

Mesin perajang daun pandan yang digunakan di oleh masyarakat saat ini kurang efisien, sehingga pengguna banyak mengalami keluhan. Pengguna (operator) menggeluhkan terjadinya sakit dibagian punggung, pinggang, dan lengan. Modifiksi pada hopper dan tinggi mesin berbasis data antropometri dapat menjadi solusi. Data antropometri yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini diambil dari 14 orang dewasa. Hasil dari modifikasi mesin didapatkan dimensi rumah pisau 69,5 cm x 40 cm x 6,19 cm, dimensi pillow block 10 cm x 6,3 cm x 3,9 cm, dimensi AS poros, plent dan pisau pemotong 38 cm x 35 cm x 38 cm, dimensi pully, V belt dan mesin penggerak listrik 50 cm x 21 cm x 20 cm, dimensi kerangka mesin 63,5 cm x 50,4 cm x 77,5 cm, dimensi Kaki Kerangka Ketinggian Mesin dan Karet Peredam 10 cm x 5 cm x 35cm, dimensi penutup bodi mesin 40 cm x 40 cm x 62,8 cm. Hasil skor poin keluhan penggunaan mesin yang didapat dari setiap poin Nordic Bodi Map masuk dalam kategori tidak sakit dengan skor poin 1,22. Sedangkan untuk hasil dari produktivitas mesin sebanyak 0,0014 kg denyut nadi/menit diambil dari rata-rata data secara keseluruhan. Pandan cutting machine used by the community is currently less efficient, so that users experience many complaints. User (operator) complained of back pain, waist, and arms. Modifications to the hopper and high engine of the anthropometry-based machine can be used as a solution. The anthropometric data used as the sample in this research was taken from 14 adultsThe result of machine modification obtained that dimension of house knife 69,5 cm x 40 cm x 6,19 cm, of pillow block 10 cm x 6,3 cm x 3,9 cm, of AS shaft, plent and cutting knife 38 cm x 35 cm x 38 cm, pully, V belt and electric drive machine 50 cm x 21 cm x 20 cm, machine frame 63,5 cm x 50,4 cm x 77,5 cm, of machine height frame height and rubber of silencer 10 cm x 5 cm x 35cm, bodi cover 40 cm x 40 cm x 62.8 cm. The result of score of machine use complaint poin got from every poin of Nordic Bodi Map included in category not sick with score poin 1,22. As for the productivity of the machine was 0,0014 kg pulse/minute taken from the average data of chopping, working time and work pulse.
Analisis Dinamika Suhu pada Proses Pengomposan Jerami dicampur Kotoran Ayam dengan Perlakuan Kadar Air Krisnawan, Kadek Ardhi; Tika, I Wayan; Madrini, I A. Bintang
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.862 KB)

Abstract

Kadar air merupakan salah satu faktor penting dalam proses pengomposan jerami yang dicampur dengan kotoran ayam. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui dinamika suhu pada proses pengomposan bahan baku kompos dengan perlakuan kadar air 2) dan mengetahui kadar air campuran bahan baku kompos yang menghasilkan kualitas kompos terbaik. Penelitian ini menggunakan perlakuan kadar air dengan persentase: 30±2% (P1), 40±2% (P2), 50±2% (P3), 60±2% (P4), dan 70±2% (P5). Perbandingan komposisi jerami dan kotoran ayam yaitu 3:4. Parameter yang diukur selama proses pengomposan adalah suhu, pH, dan rendemen. Sedangkan parameter untuk kualitas kompos yaitu pH, kadar air akhir, kadar bahan organik, karbon, nitrogen, dan C/N rasio. Secara umum, suhu selama proses pengomposan untuk setiap perlakuan cenderung seragam dengan suhu maksimal berkisar antara 49,4 - 49,6oC, kecuali pada perlakuan P1 yang memiliki suhu maksimal 34,8oC. P4 dengan kadar air campuran bahan kompos 60±2% adalah perlakuan terbaik dengan C/N rasio 15,68 dan kualitas kompos yang dihasilkan sesuai kriteria SNI 19-7030-2004, yaitu memiliki warna cokelat kehitaman, tekstur remah, mempunyai bau seperti tanah, dengan kadar air akhir 35,55%, pH 7,2, serta kandungan bahan organik 56,50%. The moisture content is an important factor in composting process of rice straw with chicken manure. This research aimed to 1) determine the temperature dynamics in the composting process of compost raw materials with moisture content treatment 2) and to determine moisture content of raw compost material that produced the best compost quality. This research used moisture content treatment with percentage: 30±2% (P1), 40±2% (P2), 50±2% (P3), 60±2% (P4), dan 70±2% (P5). The composition of straw and chicken manure was 3:4. The parameters measured during the composting process were temperature, pH, and decreasing ratio. While the parameters for compost quality were pH, final moisture content, volatile solid, carbon, nitrogen, and C/N ratio. In general, the temperature dynamics for each treatment were uniform with a maximum temperature range from 49.4 – 49.6oC, except for treatment P1 which has a maximum temperature 34.8oC. P4 which has moisture content of compost materials 60 ± 2% was the best treatment with C/N ratio 15,68 and compost produced met to the compost quality based on SNI 19-7030-2004, which has a blackish brown color, crumb texture, has a smell like soil with final moisture content 35.55%, pH 7.2, and volatile solid 56.50%.
Karakteristik Biji Kakao Hasil Fermentasi Kapasitas Kecil dengan Jenis Wadah dan Lama Fermentasi yang Berbeda Aryani, Novi Adi; Yulianti, Ni Luh; Arda, Gede
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.096 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui pengaruh variasi wadah dan lama fermentasi terhadap karakteristik biji kakao hasil fermentasi pada kapasitas kecil. 2) dan untuk mengetahui perlakuan yang menghasilkan karakteristik biji kakao terbaik setelah fermentasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah wadah yang terdiri dari tiga taraf yaitu kotak kayu, keranjang bambu dan karung plastik. Faktor kedua adalah lama fermentasi, yang terdiri dari tiga taraf yaitu 4 hari, 5 hari dan 6 hari. Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi suhu fermentasi, pH luar biji kakao, pH dalam keping biji kakao, jumlah biji per 100 gram, kadar kulit, kadar air, uji belah meliputi biji tidak terfermentasi, biji setengah terfermentasi, biji terfermentasi sempurna, biji berkecambah, biji berjamur, biji berserangga. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan wadah dan lama fermentasi berpengaruh terhadap suhu fermentasi, pH luar biji kakao, pH dalam keping biji kakao, jumlah biji per 100 gram, kadar kulit, kadar air, hasil uji belah yaitu biji tidak terfermentasi dan biji terfermentasi sempurna. Perlakuan biji kakao yang difermentasikan dalam kotak kayu berukuran 25,5 cm x 25,5 cm x 30,5 cm dengan kapasitas 7,5 kg yang difermentasikan selama 6 hari merupakan kombinasi perlakuan yang menghasilkan karakteristik biji kakao terbaik yaitu dengan suhu maksimal fermentasi yang dapat dicapai sebesar 45,45oC, pH luar biji kakao segar sebesar 6,40, pH dalam keping biji kakao segar sebesar 4,10, jumlah biji per 100 gram sebesar 87,5, kadar kulit sebesar 10,95%, kadar air sebesar 7,3% bb, hasil uji belah yaitu biji tidak terfermentasi 0%, biji setengah terfermentasi 8%, biji terfermentasi sempurna 92%, berjamur 0%, berkecambah 0% dan berserangga 0%. This study is aimed at 1) knowing the effect of container variation and fermentation time to the characteristics of fermented cocoa beans in small capacity. 2) and knowing the treatment that produces the best cocoa beans characteristics after fermentation. The factorial randomized block design with two factors is used in this study. The first factor is a container type consisting of three levels, namely wooden box, bamboo basket, and plastic sack. The second factor is the fermentation length which consists of three levels; they are 4 days, 5 days, and 6 days. The parameters observed in this study are fermentation temperature, external cocoa bean pH, internal cocoa bean pH, number of beans per 100 grams, skin content, water content, split test including unfermented beans, underfermented beans, fermented beans, germinating beans, moldy beans, and beans that contain insect. The results showed that container treatment and fermentation time had an effect on the fermentation temperature, external cocoa bean pH, internal cocoa bean pH, number of beans per 100 grams, skin content, and water content, split test result that is unfermented beans and fermented beans. Furthermore, the treatment of fermented cocoa beans in a wooden box measuring 25.5 cm x 25.5 cm x 30.5 cm with 7.5 kg capacity fermented during 6 days is a combination of treatments that produce the best characteristics of cocoa beans with maximum temperature fermentation that can be achieved at 45.45oC, external cocoa bean pH at 6.40, internal cocoa bean pH 4.10, number of beans per 100 grams content of 87,5, skin content of 10.95%, water content of 7,3% bb, split test including unfermented beans 0%, underfermented beans 8%, fermented beans 92%, germinating beans 0%, moldy beans 0%, and beans that contain insect 0%.
Pengaruh Kadar Air Terhadap Proses Pengomposan Jerami Dicampur Kotoran Sapi Putra, Made Pila; Sumiyati, .; Setiyo, Yohanes
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.722 KB)

Abstract

Varietas padi unggul yang dihasilkan dapat menghasilkan jerami padi dalam satu kali panen mencapai 25 ton / ha dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk kompos. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kadar air pada proses pengomposan jerami dan kotoran sapi, dan mengetahui kadar air yang sesuai agar proses pengomposan jerami dan kotoran sapi lebih cepat. Penelitian ini menggunakan 5 perlakuan yaitu: P1 (perlakuan kadar air 40%), P2 (perlakuan kadar air 45%), P3 (perlakuan kadar air 50%), P4 (perlakuan kadar air 55%), dan P5 (perlakuan kadar air 60%). Berat bahan untuk masing-masing perlakuan adalah 35 kg menggunakan perbandingan jerami dan kotoran sapi 3:4. Parameter yang diamati adalah suhu, kadar air, rendemen, pH, nitrogen, karbon dan rasio C/N. Suhu puncak maksimal dari 5 perlakuan adalah pada perlakuan kadar air 60% dengan suhu 49,8oC dan suhu puncak terendah adalah perlakuan kadar air 40% dengan suhu tertinggi 48,4 oC. Pengomposan awal, nilai pH berkisar 6,4-6,6 pada akhir proses pengomposan, nilai pH berkisar 6,9-7,2. Rasio C/N dari semua perlakuan memenuhi standar SNI yaitu rasio C/N berkisar 18,60-19,01. Kualitas kompos yang dihasilkan dari bahan baku jerami dan kotoran sapi pada kelima perlakuan sudah sesuai dengan standar SNI No. 19-70302004 digunakan sebagai acuan kualitas kompos. High yielding rice varieties can be produced the rice straw in one harvest reached 25 tons/ha can be used as raw material for compost fertilizer. The purpose of this study was to determine the influence of water content in the composting process of rice straw and cow dung, and to know the appropriate water content for the process of composting the form rice waste and cow dung more quickly. This study used 5 treatments: P1 (with water content of 40%), P2 (with water content of 45%), P3 (with water content of 50%), P4 (with water content of 55%), and P5 (with water content of 60%). The material weight for each treatment was 35 kg using comparison of rice straw and cow dung 3:4. The parameters observed were temperature, water content, yield, pH, nitrogen, carbon and C/N ratio. The maximum peak temperature of the 5 treatments is at 60% water content with temperature of 49.8oC and the lowest peak temperature is a 40% water content with a highest temperature of 48.4oC. Early composting, pH values ranged from 6,4-6,6 and at the end of the composting process, pH values ranged from 6,9-7,2. The C/N ratio of all treatments meets the SNI standard ie the C/N ratio ranged from 18,60-19,01. The quality of compost that been produced from the raw materials of straw and cow dung on the five treatments was in accordance with the SNI standard no. 19-70302004 is used as a reference of compost quality.
Sistem Manajemen Rantai Pasokan terhadap Nilai Tambah dan Kelembagaan Biji Kakao (Theobroma Cacao L.) di Kecamatan Selemadeg Timur Kabupaten Tabanan Negara, I Putu Agung Surya; Aviantara, I G. N. Apriadi; Yulianti, Ni Luh
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.971 KB)

Abstract

Kakao (Theobroma cacao L.) adalah salah satu komoditi unggulan Provinsi Bali. Sistem agribisnis biji kakao saat ini belum memberikan kemakmuran kepada petani skala kecil. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui struktur manajeman rantai pasokan, dan kelembagaan rantai pasokan biji kakao di Kecamatan Selemadeg Timur Kabupaten Tabanan; dan mengetahui nilai tambah setiap titik pasokan dan sebaran keuntungan pada petani hingga pengepul kakao di Provinsi Bali. Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu tahap pertama mengetahui struktur manajemen rantai pasokan, dan kelembagaan rantai pasokan menggunakan analisis deskriptif kualitatif, dan tahap kedua mengetahui nilai tambah setiap titik pasokan dan sebaran keuntungan pada petani hingga pengepul kakao di Provinsi Bali menggunakan metode Hayami sebagai alat analisisnya. Pengambilan sampel tingkat petani menggunakan teknik simple random sampling dan pengambilan sampel di tingkat Middleman menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat dua pola rantai pasok biji kakao yaitu, pola I : petani menjual ke tengkulak, tengkulak selanjutnya menjual ke pengepul kecamatan, pengepul kecamatan selanjutnya menjual ke pengepul kabupaten, pengepul kabupaten selanjutnya menjual ke pengepul provinsi, pengepul provinsi selanjutnya menjual ke pabrik coklat, dan pola II yaitu : Petani menjual ke pengepul kecamatan, pengepul kecamatan selanjutnya menjual ke pengepul kabupaten, pengepul kabupaten selanjutnya menjual ke pengepul provinsi, pengepul provinsi selanjutnya mengirim ke pabrik coklat. Kelembagaan rantai pasokan biji kakao dalam sistem ini termasuk pola perdagangan umum. Nilai tambah terbesar di lakukan oleh petani yaitu sebesar Rp. 12.645,31 sampai dengan Rp. 13.430,79 per kilogram dengan keuntungan sebesar 356,47 sampai dengan Rp.1.306,96 per kilogram. Nilai tambah terkecil di lakukan oleh pengepul tingkat kecamatan sebesar Rp. 999,93 per kilogram, dengan keuntungan yang di peroleh sebesar Rp. 732,61 per kilogram. Cocoa (Theobroma cacao L.) is one of premier commodities in Bali. The agribusiness system of cocoa bean has not provided prosperity to minority farmers. The aims of this study were to find out the supply chain management and institutional systems of cocoa bean in Selemadeg Timur, Tabanan Regency; and to determine the superiority of each supply point and profits distribution of farmers to cocoa collectors in Bali. The study consists of two stages, the first stage was to find out the supply chain management and institutional systems and used qualitative descriptive method, and second stage was to determine the superiority value of each supply point and profits distribution of farmers to cocoa collectors and used Hayami method. Simple Random Sampling technique was used to collect sample from farmer level and Total Sampling technique was used to collect sample from Middleman level. The result of this study showed that there were two distribution patterns of cocoa bean, the first pattern were the farmer sells to the middleman, the middleman then sells to the sub-district collectors, the sub-district collectors then sells to the regency collectors, the regency collectors then sells to the provincial collectors, the provincial merchants then sells to the cocoa factory, and the second pattern were the farmers sell to sub-district collectors, sub-district collectors then sell to regency collectors, regency collectors then sell to provincial collectors, provincial merchants then send to chocolate factory. The supply chain institutional system is classified into general trading pattern. The calculation of the largest superiority value done by the farmers amount Rp. 12,645.31 up to Rp. 13,430.79 per kilogram with profit amount 356.47 up to Rp.1,306.96 per kilogram. The fewest superiority value done by the collectors at the district level amount Rp. 999.93 per kilogram with the profit amount Rp. 732.61 per kilogram.

Page 1 of 1 | Total Record : 7