cover
Contact Name
Gede Arda
Contact Email
ardagede@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.beta.tep@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
beta (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25023012     EISSN : 25023012     DOI : -
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 1 (2019): Maret" : 12 Documents clear
Pengolahan Tanah Menggunakan Bajak Singkal Lebih Sedikit Memerlukan Air Irigasi dari pada Bajak Rotary Artawan, Gusti Bagus Alit Budi; Tika, I Wayan; Sucipta, I N.
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.599 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p01

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan kebutuhan air irigasi pada pengolahan tanah menggunakan bajak singkal dan bajak rotary. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi: volume solum, porositas tanah, kadar air awal tanah, kebutuhan air untuk penggenangan, volume genangan, dan lama waktu pengolahan tanah. Lokasi yang digunakan sebagai sampel lahan sawah sebanyak 15 titik sampel untuk masing-masing bajak yang di kelompokan menjadi tiga lokasi yaitu pada hulu, tengah, dan hilir. Pada setiap lokasi diambil lima sampel sawah untuk setiap perlakuan bajak. Volume solum pada sawah yang diolah menggunakan bajak singkal sebesar 2.122,00 m3/ha sedangkan volume solum menggunakan bajak rotary sebesar 2096,33 m3/ha. Kadar air awal tanah pada lahan sawah yang digunakan sebagai sampel untuk bajak singkal sebesar 52,98 % sedangkan pada bajak rotary sebesar 45,63 %. Kebutuhan air untuk penjenuhan lahan sawah yang diolah dengan bajak rotary lebih besar dari bajak singkal yaitu 505,97 m3/ha, sedangkan pada bajak singkal sebesar 377,11 m3/ha. Volume genangan pada bajak rotary lebih besar dari bajak singkal yaitu bajak rotary sebesar 401,33 m3/ha dan bajak singkal sebesar 141,00 m3/ha. Untuk lama waktu yang diperlukan untuk mengolah tanah, bajak singkal memerlukan waktu lebih lama yaitu 29,69 jam/ha, sedangkan bajak rotary memerlukan waktu 14,35 jam/ha. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pengolahan tanah menggunakan bajak singkal lebih sedikit memerlukan air dibandingkan dengan bajak rotary. Pada pengolahan tanah menggunakan bajak singkal air yang diperlukan yaitu 5,07 l/dt, sedangkan untuk bajak rotary memerlukan air sebanyak 17,69 l/dt. This research was conducted to know the difference of irrigation water requirement in the preparation of land using chisel plow and rotary plow. The variables observed in this study include: solum volume, soil porosity, initial moisture content of the soil, water requirements for inundation, puddle volume, and duration of soil tillage. Location used as sample of paddy field as much as 15 point sample for each plow which is grouped into three locations that is at upstream, middle, and downstream. At each location five rice samples were taken for each plow treatment. The volume of solum on the treated rice field using the chisel plow of 2122.00 m3 / ha while the volume of solum using rotary plow of 2096.33 m3 / ha. The initial soil moisture content in paddy field used as sample for chisel plow is 52,98% while rotary plow is 45,63%. The water requirement for the saturation of paddy field that is processed by rotary plow is bigger than the chisel plow is 505.97 m3 / ha, whereas in the chisel plow is 377,11 m3 / ha. The volume of inundation in the rotary plow is greater than the chisel plow rotary plow of 401.33 m3 / ha and chisel plow of 141.00 m3 / ha. For the length of time required to cultivate the soil, the chisel plow takes longer time of 29.69 hours / ha, while the rotary plow takes 14.35 hours / ha. The results of this study indicate that the processing of soil using plows of chisel requires less water than the rotary plow. In the processing of the soil using the plot of water chisel required is 5.07 l / dt , while for the rotary plow requires water as much as 17.69 l / dt .
Dinamika Suhu Pengomposan Sampah Organik Rumah Tangga dengan Keranjang Bio Komposter Madrini, I. A. Bintang; Sulastri, Ni Nyoman
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.357 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p11

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan unsur hara makro dan mikro sampah rumah tangga yang divariasikan dengan sekam padi dalam bio komposter atau bioreaktor garden bag. Metode pengomposan dalam penelitian ini menggunakan metode windrow system. Material sampah organik rumah tangga berperan sebagai sumber nitrogen dan sekam padi sebagai sumber karbon atau sebagai bulking agent sehingga C/N ratio bahan baku memenuhi syarat pengomposan.Hasil analisis beberapa parameter material sampah organik rumah tangga dan sekam padi yaitu kadar air (%):76,29 dan 9,48, kadar organik (%): 98,17 dan 77,92, pH: 4,32 dan 6,56, Salinitas (mS/cm): 4,03 dan 0,21, C:N ratio :15,72 dan 112,57, total N (%): 0,87 dan 3,81, kadar lemak (%BB): 13,27 dan 9,48, vitamin C (mg/a00 g): 65,11 dan 92,99 untuk masing-masing bahan. Analisis parameter unsur hara makro dan mikro material sampah organik rumah tangga dan sekam padi menunjukkan bahwa masing-masing bahan baku memenuhi syarat pengomposan. Pada proses pengomposan, suhu diamati dari hari ke-2 sampai hari ke-14. Fase termofilik dicapai pada hari ke-2 yaitu suhu mencapai 43 OC setelah proses aklimasi campuran kedua material. Suhu optimal atau puncak suhu yang dicapai dalam pengomposan sebesar 55OC pada hari 9 ~10 lalu mengalami penurunan suhu dihari selanjutnya, pengamatan dilakukan selama 14 hari untuk melihat dinamika perubahan suhu dari fase termofilik ke fase mesofilik. The objective of this study was to find the content of macro nutrients and micro household waste which is varied with rice hulls in bio composter or bioreactor garden bag. The windrow system composting method was used in this study. Household organic waste material acted as a source of nitrogen and rice hulls as a carbon source or as a bulking agent so that C:N ratio of material meets the composting requirements. Analysis results of several parameters of household organic waste material and rice hulls i.e. moisture content (%): 76. 29 and 9.48, organic matter (%): 98.17 and 77.92, pH: 4.32 and 6.56, Salinity (mS / cm): 4.03 and 0.21, C: N ratio: 15.72 and 112.57, total N (%): 0.87 and 3.81, fat content (% BB): 13.27 and 9.48, vitamin C (mg / 100 g): 65.11 and 92.99 for each ingredient respectively. Analysis of macro and micro nutrient parameters of organic household waste and rice husk material showed that each material was suitable for composting. The temperature observed from day 2 to day 14. Thermophilic phase was achieved on the 2nd day of composting which the temperature reached 43 OC after the acclimation process. The 55 OC of optimum temperature achieveded on the day 9 ~10 of composting and then decreased the temperature over the next day, the observations made for 14 days to see the dynamics of temperature changes from the thermophilic stage to the mesophilic stage.
Analisis Kebutuhan Air dan Finansial Tanaman Krisan (Chrysanthemum Sp.) dengan Metode Guludan dan Pot Widayana, I Gede Ngurah Salpatira; Tika, I Wayan; Wijaya, I Made Anom S.
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.913 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p10

Abstract

Bunga krisan (Chrysanthemum sp.) merupakan salah satu tanaman hias yang diproduksi sebagai bunga potong. Budidaya bunga krisan biasanya menggunakan metode di guludan, namun saat ini sudah berkembang budidaya krisan menggunakan metode pot. Berkembangnya dua metode budidaya mengakibatkan adanya perbedaan kebutuhan air tanaman dan finansial pada masing-masing metode. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis kebutuhan air tanaman dan kelayakan finansial dari masing-masing metode. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) menentukan perbedaan tingkat kebutuhan air pada budidaya bunga krisan menggunakan metode guludan dan metode pot, dan (2) menganalisis kelayakan finansial budidaya tanaman krisan dengan kedua metode tersebut. Perlakuan penelitian ini adalah : Budidaya bunga krisan dengan metode guludan dan budidaya bunga krisan dengan metode pot. Pada masing-masing metode dianalisis kebutuhan air tanaman (ETc) dan kelayakan finansialnya. Analisis kelayakan finansial yang digunakan dalam penelitian ini adalah NPV, IRR dan BCR. Total kebutuhan air tanaman krisan dengan metode guludan dan pot masing-masing adalah 1056,72 ml/tanaman dan 866,64 ml/ tanaman, sedangkan rata-rata kebutuhan air harian masing-masing 19,57 ml/hari, dan 16,05 ml/hari. Hasil kelayakan finansial dari penelitian ini adalah NPV pada metode guludan sebanyak Rp. 5.687.537,35 lebih kecil dari metode pot yang bernilai Rp. 12.627.709,99. IRR dari metode guludan dengan persentase 15% lebih kecil dari metode pot yang persentasenya 18%. Analisis BCR dari metode guludan memperoleh hasil sebesar 1,51 yang mana lebih kecil dari metode pot yang memperoleh hasil sebesar 1,63. Walaupun kedua metode budidaya bunga krisan dikatakan layak, namun metode pot lebih menguntungakan dari pada metode guludan dari segi finansial. Chrysanthemum flower (Chrysanthemum sp.) are one of the ornamental plants produced as cut flowers. Chrysanthemum cultivation usually uses the bund method, but nowadays chrysanthemum cultivation has develoved using the pot method. The development of two methods of cultivation resulted in differences in the plant water requirements and financial in each methods. Therefore it is necessary to conduct research to analyze the plant water requirement and the financial feasibility of each method. The purpose of this research are to : (1) determine the difference of water requirement level on the cultivation of chrysanthemum flower using the method of bund and pot, and (2) analyze the finance feasibility on cultivation of chrysanthemum flower with both methods. The treatment of this research are : cultivation of chrysanthemum flower with bund method and cultivation of chrysanthemum flower with pot method. In each method analyzed plant water requirements (ETc) and financial feasibility. The analysis of financial feasibility used in this research is NPV, IRR and BCR. Total requirement of chrysanthemum flower water with bund and pot method are 1056,72 ml/plant and 866,64 ml/plant, while the average daily water requirement is 19,57 ml/day, and 16,05 ml/day. The financial feasibility result of this are NPV on bund method as much as Rp. 5.687.537,35 is smaller than the pot method which is worth Rp. 12.627.709,99. IRR from the bund method with percentage 15% smaller than pot method with the percentage of 18%. The BCR analysis of the bund method yields 1.51 which is smaller than the pot method which yields 1.63. although both methods of chrysanthemum flower cultivation are said to be feasible, but the pot method is more advantageous than the method of bunds in financial terms.
Optimalisasi Proses Fermentasi Urin Sapi Pramana, Komang Suteja; Setiyo, Yohanes; Aviantara, I Gst. Ngr. Apriadi
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.277 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p05

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai fermentasi urin sapi menjadi biourin. Tujuan penelitian ini adalah mengoptimalkan proses fermentasi urin sapi menjadi biourin dengan pemberian starter biourin. Penelitian ini memakai Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah tanpa starter biourin, 10 persen starter biourin, 20 persen starter biourin, dan 30 persen starter biourin. Setiap perlakuan diberi 1 liter molase dan 1 buah aerator. Variable yang diamati adalah biochemical oxygen demand, derajat keasaman (pH), total dissolved solids, electrical conductivity, C-organik dan total-N. Hasil dari penelitian ini adalah penambahan starter tidak berpengaruh nyata terhadap proses fermentasi urin sapi. Namun proses fermentasi urin sapi dapat dipercepat dari 15 hari menjadi 6 hari, hal ini ditandai dengan nilai biochemical oxygen demand dan pH yang sudah menurun pada hari ke 6 fermentasi. Hasil fermentasi sudah sesuai dengan standar No.70/Permentan/SR.140/10/2011. Dari empat perlakuan pada proses fermentasi urin sapi, perlakuan tanpa starter biourin merupakan perlakuan yang terbaik. Perlakuan tersebut menghasilkan electrical conductivity 5670 mS, biochemical oxygen demand 2,8 mg/l, total dissolved solids 2835 ppm, derajat keasaman pH 6,24, C-organik 3,70 persen, N-total 0,13 persen dan rasio C/N 29,63. Namun, untuk kandungan N-total biourin belum cukup memenuhi standar Permenta yaitu 3 – 6 persen. This study discusses the fermentation of cow urine into bio urine. The purpose of this study was to optimize the fermentation process of bio urine from cow urine by giving starter bio urine. This study used a Completely Randomized Design with four treatments and three repeat. The treatment were without starter bio urine, 10 percent starter bio urine, 20 percent starter bio urine, and 30 percent starter bio urine. Each treatment was giving 1 liters molasses and 1 aerator. The observed variables were the degree of acidity (pH), biochemical oxygen demand, total dissolved solids, electrical conductivity, organic carbon, and nitrogen. The result of this study was the addition of starter no significant effect on the fermentation process of cow urine. But the process of cow urine fermentation can be accelerated from 15 days to 6 days. This is marked by the value of biochemical oxygen demand which has decreased on the 6 day of fermentation. Fermentation result was according on the standard No.70/Permentan/SR.140/10/2011. Of the four treatments in the process of cow urine fermentation, the treatment with no starter of bio urine was the best treatment, the treatment produce electrical conductivity 5622 mS, biochemical oxygen demand 3.3 mg/l, total dissolved solids 2811 ppm, acidity pH 5.77, organic carbon 3.77 percent, nitrogen 0.14 percent and C/N ratio 26,93. However, for the nitrogen content of bio urine not enough to meet the Permenta standard was 3-6 percent.
Analisis Profil Suhu dan Kadar Air Tanah Pada Budidaya Cabai Rawit (C. frutescens L) Menggunakan Beberapa Macam Mulsa Kanikayani, Ni Made Dea; ., Sumiyati; Madrini, Ida Ayu Bintang
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.811 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p02

Abstract

Tujuan dari penelitian ini yaitu memperoleh profil suhu dan kadar air tanah pada budidaya tanaman cabai rawit menggunakan beberapa macam mulsa. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok, masing-masing terdiri dari lima perlakuan dan tiga ulangan yaitu perlakuan tanpa mulsa, perlakuan mulsa plastik perak, plastik hitam, plastik bening dan perlakuan mulsa jerami padi. Untuk pengukuran suhu tanah menggunakan alat sensor suhu DS18B20 sedangkan untuk kadar air tanah menggunakan metode gravimetri. Pengukuran suhu dan kadar air tanah dilakukan 3 kali yaitu pada 3 hari, 30 hari dan 60 hari setelah tanam. Analisis data suhu dan kadar suhu dan kadar air tanah dalam mulsa menggunakan metode garis kontur. Hasil penelitian suhu tanah menunjukan kontur profil pada saat 3 hari profil sebaran tanpa mulsa 29-33?C, mulsa plastik perak 28-32?C, mulsa plastik hitam 29-34?C, mulsa plastik bening 31-37?C dan mulsa jerami 26-31?C. Pada saat 30 hari profil sebaran tanpa mulsa 26-33?C, mulsa plastik perak 26-31?C, mulsa plastik hitam 27-33?C, mulsa plastik bening 28-32?C dan mulsa jerami 25-30?C dan pada saat 60 hari profil sebaran tanpa mulsa 26-31?C, mulsa plastik perak 25-30?C, mulsa plastik hitam 27-32?C, mulsa plastik bening 31-37?C dan mulsa jerami 26-29?C, sedangkan dari hasil pengukuran suhu tanah yang didapatkan berhubungan dengan hasil kadar air tanahnya. The purpose of this research was to water content and soil temperature profile content on mulch for cultivation of cayenne pepper plants with different types of mulch. This research use random design group, every each concist of five treatment and three repetation. Which is a treatment without mulch treatment, silver plastic mulch treatment, black plastic mulch treatment, clear plastic mulch treatment , and rice straw mulch treatment. The variable observed of soil temperature using a temperature sensor DS18B20 while for soil water content using the gravimetric method. Measurement of temperature and soil water content was carried out 3 times, namely at the 3 days, 30 days , and 60 days after planting . The result of the temperature and soil water content is made a profile of the temperature and soil water content in the mulch using the contour line method. The results of the soil temperature research show the profile contour when the at 3 days, without mulch distribution profile is 29-330C, silver plastic mulch 28-320C, black plastic mulch 29-340C, clear plastic mulch 28-320C and rice straw mulch 25-300C. At 30 days, without mulch distribution profile is 26-330C, silver plastic mulch 26-310C, black plastic mulch 27-330C, clear plastic mulch 28-320C and rice straw mulch 25-300C. At 60 days, without mulch distribution profile is 26-310C, silver plastic mulch 25-300C, black plastic mulch 27-320C, clear plastic mulch 31-370C and rice straw mulch 26-290C. The results of measurements of the soil temperature obtained in relation to the results of the soil water content.
Rancang Bangun Program menggunakan Metode Fuzzy untuk Penilaian Aspek Palemahan pada Sistem Subak (Studi Kasus pada Sistem Subak di Kawasan Warisan Budaya Dunia Catur Angga Batukau) Nugraha, Kadek Dwi Ananda; ., Sumiyati; Budisanjaya, I Putu Gede
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.524 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p07

Abstract

Subak merupakan sebuah lembaga yang bertugas dalam mengatur air irigasi secara tradisional. Subak dalam aktivitasnya berlandaskan pada Tri Hita Karana (THK). Salah satu aspek dari Tri Hita Karana (THK) yang dinilai adalah aspek palemahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk merancang suatu program untuk menilai kondisi aspek palemahan dalam sistem subak menggunakan Matlab-GUI berbasis logika fuzzy yang diberi nama Sistem Informasi TAKSU (Tri Hita Karana Subak). Dalam membuat toolbox fuzzy tahapan yang paling penting untuk dilakukan adalah merancang rule. Perolehan data dilakukan dengan metode survei, pengamatan secara langsung dan pengukuran. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya akan diberi nilai dan dianalisis dengan logika fuzzy. Subak dinilai dengan menggunakan tiga rentang nilai yaitu Baik = 3, Sedang = 2, Kurang = 1. Program ini terdiri dari input, algoritma yang merupakan fungsi dari perancangan yang dilakukan pada toolbox fuzzy Matlab dan output sebagai hasil dari program tersebut. Berdasarkan hasil validasi yang dilakukan pada dua sampel subak diperoleh nilai pada Subak Jatiluwih adalah 2.23 dengan kriteria Agak Baik dan Subak Puring 2.73 dengan kriteria Baik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa program ini dapat beroperasi dengan baik Subak is an institution in charge of regulating the irrigation traditionally. System Subak activities are based on Tri Hita Karana (THK). One aspect of Tri Hita Karana (THK) is the palemahan aspect. The purpose of this research was to develop a program to assess the condition of palemahan aspect in subak system using Matlab-GUI based fuzzy logic that named TAKSU Information System (Tri Hita Karana Subak). In creating a fuzzy toolbox, the most important step to do is to design rules. Data were collected by survey method, direct observation and measurement. The data were categorized by value and then analyzed with fuzzy logic. Subak were assessed by using three value criteria that were Good = 3, Medium = 2, Less = 1. This program consists of input, an algorithm which is a function of the design carried out on the fuzzy Matlab toolbox and output as a result of the program. Based on the results of the validation carried out on two samples of subak, the value of Subat Jatiluwih was 2.23 with the criteria of Good and Subak Puring was 2.73 with the criteria of Good. These results indicate that this program can operate properly.
Dampak Penggunaan Naungan Plastik Terhadap Profil Iklim Mikro Pada Budidaya Kentang Bibit (Solanum Tuberosum L) Varietas Granola Kelompok G0 Ardika, I Putu Tantra; Setiyo, Yohanes; ., Sumiyati
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.6 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p03

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui profil iklim mikro pada naungan plastik dengan warna plastik berbeda dan (2) mengetahui warna plastik untuk naungan yang sesuai terhadap peningkatan kualitas kentang varietas granola G0. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap masing-masing terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu perlakuan tanpa naungan, perlakuan naungan plastik warna bening, perlakuan naungan plastik warna biru dan perlakuan naungan plastik warna merah. Untuk pengukuran iklim mikro digunakan alat temperature and humidity meter dan light meter. Pengukuran iklim mikro dilakukan seminggu sekali yaitu setiap pukul 12.00 WITA. Analisis data intensitas cahaya matahari dilakukan membuat gambar dalam naungan menggunakan metose garis kontur, sedangkan data hasil pengukuran suhu udara, suhu tanah, kelembaban dan variabel kualitas yang diperoleh diolah dengan menggunakan program komputer Microsoft Excel untuk memperoleh grafik, lalu dianalisis dengan metode deskiptif, dan dilanjutkan analisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil penelitian intensitas cahaya matahari menunjukkan kontur profil saat tanaman berusia 2 minggu profil sebaran naungan warna bening 975-1025 lux, naungan warna merah 675-725 lux, naungan warna biru 575-595 lux, sedangkan pada tanaman berusia 8 minggu naungan warna bening 100-800 lux, naungan warna merah 100-700 lux, dan naungan warna biru 100-400 lux. Rata-rata suhu udara tanpa naungan 26,20C, naungan bening 26,80C, naungan merah 26,60C, naungan biru 26,20C. Rata-rata kelembaban tanpa naungan 76%, naungan bening 77%, naungan merah 78%, naungan biru 79%. Perlakuan naungan bening menunjukkan kualitas terbaik yaitu rata-rata 4,4 umbi per pohon, rata-rata berat 257,6 gram per pohon dan rata-rata 1 umbi per pohon. The purpose of this study was to (1) determine the microclimate profile of plastic shade with different plastic colors and (2) find out the color of plastic for the appropriate shade to increase the quality of granola G0 potato varieties. This study used a completely randomized design, each consisting of four treatments and three replications, namely treatment without shade, transparent plastic shade treatment, blue plastic shade treatment and red plastic shade treatment. For microclimate measurement, the temperature and humidity meter and light meter are used. Microclimate measurement is done once a week, which is at 12.00 p.m. Analysis of sunlight intensity data was carried out to make profile image in the shade using metose contour lines, while the results of measurements of air temperature, soil temperature, humidity and quality variables obtained were processed using a Microsoft Excel computer program to obtain graphics, then analyzed using the deskiptive method and continued the analysis using variance analysis (ANOVA). The result of the intensity of sunlight is made profile countur, and the result of measurement of air temperature, soild temperature, moisture and variable quality is made graph. The results of the study of solar light intensity show the contour of the profile when the plant is two weeks old, the clear shade distribution profile is 975-1025 lux, the shade is read 675-725 lux, the shade is blue 575-595 lux, while in the eight week old plant, the clear shade is 100-800 lux, the shade is red 100-700 lux, and the shade is blue 100-400 lux. Average air temperature without shade 26,20C, clear shade 26,80C, red shade 26,60C, blue shade 26,20C, average moisture without shade 76%, clear shade 77%, red shade 78%, and blue shade 79%. The treatment of clear shade shows the best quality, that is an average of 4,4 tubers every single tree, average 257,6 grams every single tree and average of 1 tuber every single tree.
Pengaruh Perlakuan Uap Etanol Terhadap Mutu dan Masa Simpan Buah Manggis (Garcinia Mangostana L.) Pundari, I Gusti Ayu Prapti; Utama, I Made Supartha; Yulianti, Ni Luh
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.091 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p09

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan uap etanol terhadap mutu dan masa simpan buah manggis pada suhu ruang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ragam volume etanol ; 0 ml, 2 ml, dan 4 ml masing-masing diperangkap dalam 5 gram karagenan dan dimasukkan ke dalam sachet teh. Sachet kemudian ditempatkan pada alas styrofoam dimana terdapat 5 buah manggis, selanjutnya ditutup dengan plastik film regang LDPE. Buah manggis tanpa perlakuan atau kontrol disediakan sebagai pembanding. Buah selanjutnya disimpan pada suhu kamar (28±2?). Susut bobot, intensitas kerusakan, vitamin C, total padatan terlarut, warna, kekerasan dan uji organoleptik diamati selama penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan uap etanol secara umum berpengaruh nyata dalam menurunkan tingkat kerusakan, susut bobot, memperlambat laju perubahan kekerasan, warna kulit dan aril, serta total padatan terlarut dan vitamin C dibandingkan buah kontrol. Demikian pula uap etanol mampu memberikan nilai tingkat kesukaan panelis lebih tinggi terhadap warna dan rasa aril serta penampilan secara kesuluruhan dibandingkan dengan buah kontol. Dari ragam perlakuan volume etanol, 4 mL etanol per kemasan mengkreasi uap terbaik untuk memperlambat laju kerusakan, perubahan mutu, menurunkan susut dan meningkatkan kesukaan panelis. The aim of this research was to determine the effect of etanol vapor on the quality and the shelf life of mangosteen at the room temperature. Three different volumes of ethanol, namely 0 ml, 2 ml and 4 ml, were trapped in the 5 gram carrageenan placed in the tea sachets. The sachet was then put on the basal of styrofoam tray on which 5 fruits were placed and then wraped by streching film LDPE. Control fruits or un-treated fruits were also provided as comparison. The result showed that the ethanol vapor treatments, in general, significantly reduced the intensity of damage, weidght loss, slowing the change rate of texture, color of fruit surface and aril, total soluble solid and vitamin C of the aril, compared to the control fruits. The ethanol vapor was also able to give better preferences of panelists on the color and flavor of the aril, as well as the overall performances of the fruits compared to the controls. The 4 mL ethanol per package created ethanol vapor of which the best vapor to reduce the rate of damage and the change of quality and increase the panelists preferences.
Kajian Penerapan Sistem Manajemen Terintegrasi Terhadap Kinerja Karyawan Setiawan, Anggi; Widia, I Wayan; Gunadnya, I.B.P.
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.936 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p12

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah ini untuk mengukur tingkat pemahaman karyawan terhadap penerapan Integated Management System (IMS), menganalisis kinerja karyawan, dan menentukan pengaruh IMS terhadap kinerja karyawan di perusahaan nanas kaleng. Aspek penerapan IMS (X) yang diukur meliputi pelanggan (X1), keamanan pangan dan kehalalan (X2), keselamatan dan kesehatan kerja (X3), lingkungan (X4), dan undang – undang (X5). Sedangkan aspek kinerja karyawan (Y) yang diukur meliputi berfikir jernih (Y1), kolaborasi (Y2), kreatif dan berani (Y3), kompetensi (Y4), dan fokus eksternal (Y5). Penelitian ini menggunakan metode survei melibatkan 346 responden yang dipilih dengan metode stratified random sampling. Tiap – tiap variabel penelitian diukur dengan lima buah indikator dengan lima peringkat skala pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata – rata tingkat pemahaman karyawan terhadap penerapan IMS sebesar 4,33 yang diartikan paham dan rata – rata kinerja karyawan sebesar 4,18 yang diartikan baik. Penerapan IMS berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Pengaruh penerapan IMS terhadap berfikir jernih karyawan dinyatakan dengan persamaan regresi berganda Y1 = 0,364X1 + 0,264X2 + 0,146X3 + 0,205X5 (R2 = 0,992), terhadap kolaborasi karyawan dinyatakan dengan persamaan Y2 = 0,302X1 + 0,187X2 + 0,264X3 + 0,233X4 (R2 = 0,993), terhadap kreatif dan berani karyawan dinyatakan dengan persamaan Y3 = 0,268X1 + 0,299X2 + 0,209X3 + 0,215X4 (R2 = 0,992), terhadap kompetensi karyawan dinyatakan dengan persamaan Y4 = 0,315X1 + 0,418X2 + 0,191X3 (R2 = 0,990), dan terhadap fokus eksternal karyawan dinyatakan dengan persamaan Y5 = 0,379X1 + 0,375X2 + 0,194X3 (R2 = 0,989). The aims of this research were to measure the employees level of understanding on Integrated Management System (IMS) implementation, to analyze employees performances, and to determine the effect of IMS implementation on employees performances in canned pineapple company. Measured IMS implementation (X) aspect include customer (X1), food safety and halal (X2), safety and health (X3), environmental (X4), and law (X5). Meanwhile, measured employees performances (Y) include clear thinking (Y1), collaboration (Y2), creative and courage (Y3), expertise (Y4), and external focus (Y5). This research used survey methodology involving 346 respondents who selected by using stratified random sampling methodology. Each of variables was determined by five indicators with five level measurement scale. The result showed that the avarage level of employee understanding on IMS implementation was 4,33 which means understand and the average employees performances was 4,18 which means good. The IMS implementation has positive and signifiant effect on employees performances. The effect of IMS implementation on employees clear thinking was showed by multiple linear regression Y1 = 0,364X1 + 0,264X2 + 0,146X3 + 0,205X5 (R2 = 0,992), on employee collaboration is showed by equation Y2 = 0,302X1 + 0,187X2 + 0,264X3 + 0,233X4 (R2 = 0,993), on employee creative and courage is showed by equation Y3 = 0,268X1 + 0,299X2 + 0,209X3 + 0,215X4 (R2 = 0,992), on employee expertise is showed by equation Y4 = 0,315X1 + 0,418X2 + 0,191X3 (R2 = 0,990), and on employee external focus is showed by equation Y5 = 0,379X1 + 0,375X2 + 0,194X3 (R2 = 0,989).
Analisis Iklim Mikro di dalam Sungkup Plastik pada Budidaya Tanaman Selada Keriting (Lactuca sativa var. cripa L). Andika, I Kadek Ari; Setiyo, Yohanes; Budisanjaya, I Putu Gede
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.798 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p08

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) menganalisis iklim mikro di dalam sungkup plastik dengan tinggi yang berbeda pada budidaya tanaman selada keriting dan (2) menentukan tinggi sungkup plastik yang sesuai dengan produktivitas tanaman selada keriting. Penelitian ini menggunakan rancang acak lengkap, terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: SP0 perlakuan tanpa sungkup, SP1 perlakuan sungkup plastik tinggi 80 cm dengan tinggi ventilasi 45 cm, SP2 perlakuan sungkup plastik tinggi 100 cm dengan tinggi ventilasi 45 cm, dan SP3 perlakuan sungkup plastik tinggi 120 cm dengan tinggi ventilasi 45 cm. Hasil penelitian pada perlakuan sungkup plastik dengan tinggi 120 cm memperoleh intensitas cahaya tertinggi sebesar 651.1 lux dan mendapatkan suhu udara tertinggi sebesar 24.10C. Sungkup plastik dengan tinggi 80 cm memperoleh kelembaban relatif tertinggi sebesar 76.3%. Perlakuan sungkup plastik tinggi 80 cm memperoleh produktivitas tertinggi sebesar 5,6 g/tanaman. The purpose of this study were to (1) analyze the microclimate within the plastic hood different heights for the cultivation of curly lettuce plants and (2) know the height of the suitable plastic hood on the productivity of the curly lettuce plant. This research using completely randomized design, with four treatments and three replications: SP0 treatment without hood, SP1 treatment of plastic hood height 80 cm with a height of 45 cm ventilation, SP2 treatment of plastic hood height 100 cm with a height of 45 cm ventilation, and SP3 treatment of plastic hood height 120 cm with height ventilation 45 cm. The result of this research on treatment of plastic hood height 120 cm obtain highest light intensity at 651.1 lux, got the highest temperature at 24.10C and treatment of plastic lid height 80 cm obtain highest relative humidity at 76.3%. The Treatment hood height plastic of 80 cm obtained the highest productivity of 5.6 g/plant.

Page 1 of 2 | Total Record : 12