cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam
ISSN : 2541352X)     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Ilmiah JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam adalah jurnal yang mempublikasikan hasil-hasil kajian dan penelitian orisinal terbaru dalam ilmu murni Filsafat Islam dan Aqidah (Teologi Islam), serta cakupannya meliputi kajian filsafat kontemporer, pendidikan, sosial, dan keagamaan dari perspektif filsafat maupun aqidah. Tujuan Jurnal berkala ini adalah untuk upaya meningkatkan intensitas kajian Filsafat Islam dan Aqidah, mengupayakan teori baru serta kontekstualisasinya bagi perkembangan intelektualitas.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 2 (2016)" : 8 Documents clear
Agama dan Filsafat Dalam Pemikiran Ibnu Sina Gozali, Mukhtar
Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibnu Sina merupakan filosof Muslim penting yang membangun teori Kenabian dengan risalahnya Itsbatal-Nubuwat.Dia menandai puncak falsafah Islam dengan pemikirannya tentang falsafah paripatetik, yang dikenal sebagai Masya’i, yaitu filsafat sinkretis (sintetis dari ajaran-ajaran Wahyu, Islam, Aristotelianisme dan Neoplatonisme). Sebagaimana filososf lainnya, Ibnu Sina merupakan filosof Muslim yang oleh sebagian orang dikritisi hanya sebagai duplikasi dari Hellenisme (filsafat Yunani), yang tidak mencerminkan pemikiran Islam. Padahalmereka yang melahirkan filsafat Islam dan berupaya serta berhasil memadukan wahyu dengan akal, akidah dengan hikmah, agama dengan filsafat.Yang menjelaskan kepada manusia bahwa wahyu tidak bertentangan dengan akal. Ibn Sina membuat sintetis final tentang Islam dengan filsafat Aristotelianisme dan Neoplatonisme menjadi sebuah dimensi intelektual yang permanen dalam dunia Islam dan bertahan sebagai ajaran filsafat yang hidup sampai hari ini. Ibn Sina adalah penggali yang amat sempurna dan penerjemah abadi filsafast paripatetik yang menunjukkan sampai ke pintu gerbang filsafat teosofiiluminasi yang menandakan penyatuan  filsafat dan spiritual secara integral.Satu setengah abad setelah Filsafat  masya’i  ia menghantarkan Shihabuddin Suhrawardi ke filsafat iluminasi (al-ishraq).
Hati, Diri dan Jiwa (Ruh) Husnaini, Rovi
Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam prespektif sufisme, kita memiliki tujuh jiwa atau tujuh aspek dari jiwa yang kompleks yang masing-masing mewakili tingkat evolusi yang berbeda-beda. Perlu diingat bahwa sufisme sangat menekankan pada keseimbangan (balance). Pengembangan satu jiwa tidak untuk melemahkan yang lain. Setiap jiwa memiliki keistimewaan yang berharga dan dalam tasawuf pertumbuhan spiritual yang sejati adalah pertumbuhan seimbang dari keseluruhan individu, termasuk tubuh, pikiran, dan spirit (jiwa).Dalam psikolog Sufi, hati memuat kecerdasan dan kearifan yang lebih dalam. Hati adalah tempat ma’rifat, dan merupakan kecerdasan yang lebih dalam dan lebih dasar dari pada kecerdasan abstrak kepada (otak). Misi seorang Sufi adalah mengembangkan hati yang lembut, berperasaan dan memiliki kasih-sayang dan untuk mengembangkan kecerdasan hati.Heart, Self, and Soul merupakan salah satu karya fenomenal Robert Frager, yang sering dibicarakan dalam dunia taswuf akhir-akhir ini.Fokus kajian  tentang yaitu: (1)Takhalli (Pembersihan diri),yaitu membersihkan jiwa dari hawa nafsu duniawi seperti nafsu serakah, ujub, riya, hasud; (2) Tahalli (menghias jiwa), yaitu mengisi kekosongan jiwa dengan sifat dan amal yang saleh seperti zuhud, qana’ah, sabar, syukur, ridha; (3) Tajalli (nampak kebenaran), yaitu berharap hasilnya jiwa memperoleh pencerahan, cahaya terang yang menyingkap hijab tabir kegelapan.  Salahsatu bahasannya dalam pandangan ulama sufi tanah air, KH Ahmad Rifa’i tentang konsep Takahlli, Tahalli, dan Tajalli. Selain itu diperkaya dengan sudut pandang psikologi Barat dan Muslim, seperti Rober Frager dengan perbandingan Ruzbihan Baqli dalam Masyrab al-ArwadanRasyid al-Din Maybudi.
Hubungan Agama dan Negara dalam perspektif Aksi Bela Islam Supriadi, Yogi
Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Negara kita, karena agama seolah dipisahkan dari Negara. Agama dipakai Negara sebagai simbol. Tidak heran, jika nilai kesalehan para pemimpin (pejabat) tidak tampak mengatur tata kelola pemerintahan. Sehingga timbul ketimpangan politik dan kesenjangan ekonomi, keadilan sosial menjadi sesuatu yang sulit ditemukan. Negara kita tidak memilih berasaskan Agama, tetapi cenderung sekuler (memisahkan Agama dengan Negara), pertimbangannya jika berasaskan salah satu Agama, maka kemudian mana kerukunan dan persatuan (kebhinekaan) tidak akan pernah tercipta.Dan ketentraman negara pun mungkin akan terganggu, dan yang terjadi jika Negara terlalu mencampuri urusan Agama begitupun sebaliknya maka tidak heran satu sama lain akan saling intervensi dan saling bersebrangan. Isu agama selalu kalah dengan issue–isue lainnya di negeri kita. Tetapi pasca terjadinya Aksi Bela Islam, isu agama dalam sebuah pergerakan kembali diperhitungkan seolah menenggelamkan stigma yang berpandangan agama sumber Teroris.Dan Negara dibuat repot. Presiden sebagai kepala tertinggi negara/pemerintahan langsung melakukan safari ke setiap Ormas Islam dan para Tokoh Islam yang ada di Indonesia. Namun Negara belum bisa disebut terbuka mendengarkan aspirasi umat Islam. Bahkan seolah dibuat konflikantara satu pemahaman dan pemahaman yang lainnya, dari satu Ormas dengan Ormas yang lainnya sebagai sebuah konflik yang di pelihara oleh Negara. Pasca Aksi Bela Islam, tidak sedikit tokoh Islam dianggap sebagai dalang makar dengan dalih agama. Maka yang terjadi adalah peng-Kriminalisasian para tokoh Ormas tersebut. Aksi Bela Islam memberi pelajaran kepada kita, perlunya rumusan relasi Agama dan Negara serta Pancasila sebagai pemersatu diperjelas dalam perilaku pemimpin bangsa ini. Juga memberikan makna bahwa Aksi Bela Islam menunjukan sikap modernis Umat Islam mengkritisi sikap yang membahayakan persatuan dan kesatuan terkait isu keagamaan, yang kebetulan berimpitan dengan persoalan politik.
Pendekatan Wasatiyah (sederhana) dalam Hubungan Sosial Masyarakat Majemuk di Malaysia Ramli, Mohd Anuar; Ismail, Paizah Hj.; Abdullah, Ahmad Badri
Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini memfokuskan terhadap pendekatan wasatiyyah (sederhana) dalam berinteraksi dengan orang bukan Islam dalam konteks masyarakat majemuk di Malaysia. Pendekatan ini penting dalam mengimbangi antara dua kumpulan ekstrem dalam masyarakat Islam, yaitu antara pendekatan golongan literalis yang sempit dengan pendekatan golongan liberalis yang longgar. Pendekatan literalis cenderung membentuk hubungan konflik dengan orang bukan Islam, manakala pendekatan golongan liberalis cenderung kepada pluralisme agama yang dilarang. Untuk menggarap pendekatan wasatiyyah, pengkaji menganalisis data-data kualitatif yang bersumberkan petunjuk Alquran dan pedoman Sunah Nabi Saw. Hasil kajian mendapati wujudnya asas hubungan sosial yang sederhana sesuai dengan konteks masyarakat majemuk di Malaysia, yaitu saling kenal mengenali antara satu sama lain bagi mengelak pencabulan sensitiviti agama, saling berdialog untuk meningkatkan persepahaman antara agama, saling bertoleransi untuk mencetuskan suasana kehidupan yang harmoni, berlaku adil bagi menghindari kezaliman terhadap agama lain, tiada paksaan dan pemaksaan untuk mengikut ajaran Islam atau kebebasan beragama serta membina identiti yang eksklusif sebagai benteng untuk menghindari penyerupaan yang dilarang oleh Syarak. Melalui pendekatan yang bersifat sederhana ini, hubungan sosial dapat berlangsung selari dengan tuntutan syariat.
Rahasia Kebahagiaan RS, Andri Shaeful
Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini memfokuskan pada pembahasan tentang konsep dan rahasia kebahagiaan. Suatu pembahasan yang sudah sejak lama menjadi bahan kajian. Sebagaimana kebahagiaan itu sendiri sudah sejak lama menjadi harapan semua orang. Dalam kajian ini membahas bahwa Kearifan adalah sumber kebahagiaan. Ajaran semacam itu sebenarnya sudah ada dan dipraktikan sejak ribuan tahun yang lalu, mulai dari kebebasan stoic, kimia kebahagiaan al-Ghazali, dan bahkan pencerahan ala Budha. Namun dalam kajian ini kebahagiaan dibahas dalam perspektif para ulama Islam dan sumber ajaran Islam yaitu Alquran. Diantaranya kebahagiaan yang dibahas oleh Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali. Selain itu juga bahasan kebahagiaan dalam tulisan ini disajikan juga pandangan ulama filosof, dengan pendekatan filsafat sosial Profetikseperti pandangan al-Farabi dan Suhrawardi. Juga disajikan pandangan filosof Muslim dan dokter, Ibnu Sina, yang membahas jiwa terbagi dalam tiga (3) yaitu jiwa Nabati, jiwa Hewani dan jiwa manusia (Ilahiah).
"Neraka adalah (Account) Orang Lain” dan Kebenaran Eksistensial : Membaca Ulang Pemikiran Jean-Paul Sartre di Era Media Sosial serta Menelusuri Kontribusinya Bagi Estetika Adlin, Alfathri
Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan pemikiran dan bahkan juga sikap politik merupakan suatu hal yang biasa terjadi pada banyak pemikir. Søren Aabye Kierkegaard, misalnya, sering menulis dengan menggunakan nama pena yang berbeda dalam berbagai karyanya, dan kemudian dalam buku terbarunya, dia malah mengkritik pemikirannya sendiri di buku sebelumnya. Kita juga bisa melihat bagaimana para pemikir dari jalur strukturalisme beralih ke jalur post-strukturalisme di era berikutnya. Begitu juga dengan Sartre. Pernah pada satu masa dia mendukung sepenuhnya rezim Stalin, dan bahkan memujinya, namun di akhir masa hidupnya dia pun menarik kembali dukungannya. Begitu pula soal sikapnya terhadap Hitler dan NAZI, Sartre menganggapnya tidak berbahaya, padahal saat itu dia sendiri sedang menempuh studi di Jerman dan seharusnya bisa menyaksikan langsung dari dekat brutalnya ideologi NAZI; dan benar saja, ternyata pandangannya itu memang terbukti salah di kemudian hari. Bahkan, dalam pemikiran filosofisnya sendiri, Sartre pun mengalami perubahan mulai dari masa pemikiran filosofis awal yang menekankan kebebasan individu serta relasi antar individu yang saling berubah di masa akhir hayatnyayang mendekati Marxisme dan kesetiakawanan kelompok.
Novel Jalan Terbuka Ali Audah; Sebuah Pendekatan Filsafat Islam Widarda, Dodo
Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pandangan Filsafat Islam terkait dengan novel Jalan Terbuka karya Ali Audah, mendalami kandungannya  melalui nilai-nilai instrinsik serta  untuk mengetahui konteks sosial melalui nilai-nilai ekstrinsik dari cerita yang ada di dalamnya. Kemudian mengangkat refleksi filosofis Islami untuk membedakan  nilai-nilai materalisme dengan pandangan dunia tauhid sebagaimana  apa yang secara eksplisit  ada dalam novel ini. Metodologi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Metodologi Penelitian Filsafat serta agar bertitik tolak dari pengalaman manusia yang konkret, dibantu dengan Teori Struktural Genetik dari Lucien Goldmann. Dengan pendekatan kedua pisau analisis ini, kesatupaduan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam lingkungannya, bisa terbaca dengan baik. Tulisan ini diawali dengan perbedaan mendasar antara visi tauhid dengan materialisme filosofis, mengalisis kandungan intrinsik serta ektrinsik serta mencari falsafah dasar dari adanya nilai-nilai religius sebagai pandangan dunia yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Dengan bertitik tolak dari pandangan dunia religius, pertama, bisa dipahami kedalaman kandungan novel ini baik dari sisi nilai-nilai intrinsiknya serta dari nilai ektrinsiknya,  karena novel berada dalam sebuah setting sosial pencarian nilai-nilai demokratis terkait dengan pemilu pertama dalam sejarah Indonesia yang dilaksanakan pada tahun 1955. Kedua, novel Jalan Terbuka juga merupakan gambaran pencarian jati diri dari kaum intelektual Indonesia di tengah benturan ideologi yang terjadi pada kurun tersebut. Di dalam pencarian tersebut, manusia tidak bisa melepaskan diri dari keterkaitan dengan nilai-nilai religius serta “ketuhanan”, dan juga dalam keterikatan hubungan manusia dengan sesamanya
Politik Sebagai Kenikmatan: Pemikiran Slavoj Žizek Tentang Politik Kontemporer Wahyu, Bambang
Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemikiran Žižek bertujuan untuk memberikan dan membuka perspektif baru tentang ideologi dan politik. Konsep orisinalnya memberikan kita wawasan dengan cara menafsirkan ulang pikiran ideologinya Karl Marx dengan menggunakan metode yang dikembangkan Jacques Lacan. Beberapa istilah dalam psikoanalisis banyak dipergunakan untuk memberikan argumentasi dan penjelasannya yang menyeluruh tentang gagasan ideologi dan politik kontemporer.

Page 1 of 1 | Total Record : 8