cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Arjuna Subject : -
Articles 527 Documents
DAMPAK POLITIK ETIS TERHADAP PERGERAKAN KEBANGSAAN DI KALIMANTAN SELATAN Wajidi, Wajidi
Kebudayaan Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i2.28

Abstract

AbstractThe national movements in South Kalimantan is the impact of Europe?s political andcultural penetration of the East Indies Government. The powerful impact of penetrationwas education that bring in the modern educated elite. Therefore, the issues that is raisedin this paper, i.e.: (1) How Ethical policy of East Indies government?; (2) How aregovernment policies for education and the emersion of modern elite?; (3) How is the roleof modern elite to emergence of the nationalist movement in South Kalimantan, Indonesia?This study uses historical (Historical Research) by using heuristic step, criticism,interpretation and historiography. The method of this article is historical research thatuses heuristic, critic, interpretation, and historiography. The results show that the ethicalpolitics was motivated by the criticism that the Netherland-Indies government woulddo ?returning the favor? towards the Indonesian people with the slogan, ?Irrigation,Education and Emigration?. Through a policy in education, schools was built to createlow-level workers with western paradigm. Those who attended these school were theones, upon their returning home, became the pioneers and driving the movements orspreading the seeds of nationality in South Kalimantan. AbstractTumbuhnya pergerakan kebangsaan di Kalimantan Selatan merupakan dampakdari penetrasi politik dan kebudayaan Eropa pada masa Pemerintahan Hindia Belanda.Penetrasi yang sangat kuat pengaruhnya adalah bidang pendidikan yang melahirkanelit modern yang terpelajar. Oleh karena itu permasalahan yang diangkat dalam tulisanini adalah: (1) Bagaimana kebijakan Politik Etis di Hindia Belanda?; (2) Bagaimanakebijakan Pemerintah Hindia Belanda di bidang pendidikan dan munculnya elite modern?;(3) Bagaimana peranan elite modern terhadap munculnya pergerakan kebangsaanIndonesia di Kalimantan Selatan? Penelitian ini menggunakan metode sejarah (HistoricalResearch) dengan menggunakan langkah heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa politik etis didorong oleh kiritik bahwa pemerintahHindia Belanda harus melakukan ?balas budi? pada rakyat Indonesia dengan slogan?Irigasi, Edukasi dan Emigrasi?. Melalui kebijakan di bidang pendidikan, sekolahdimaksudkan untuk mencetak pegawai rendahan dengan pendidikan Barat. Merekayang telah mengenyam pendidikan adalah kalangan terpelajar atau kaum cendekiawanyang kembali ke kampung halaman dan turut menjadi pelopor atau penggerak organisasipergerakan kebangsaan dan menanamkan benih kebangsaan di Kalimantan Selatan. 
KESENIAN JANENGAN; IDENTITAS KEETNISAN MASYARAKAT JAWA DI PAJARESUK LAMPUNG Anto, Fitri
Kebudayaan Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i1.268

Abstract

Perpindahan penduduk dari Jawa ke Lampung yang berlangsung bertahun-tahun, tepatnya sejak 1905, memicu terjadinya perkembangan sosial dan budaya yang mencakup adaptasi dan pembentukan identitas. Pertanyaan identitas adalah bagian dari kehidupan setiap orang baik secara individu atau dalam kelompok yang mengalaminya sebagai pembeda atau penyama dengan individu atau kelompok lain. Salah satu materi yang dapat digunakan dalam proses identifikasi adalah kesenian. Seperti yang terjadi pada masyarakat Jawa di Pajaresuk, Pringsewu, Lampung yang menggunakan kesenian Janengan untuk menegaskan identitasnya sebagai orang Jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seperti apa bentuk penyajian dan skema permainan kesenian Janengan, juga bagaimana kesenian Janengan menjadi identitas masyarakat Jawa di Pajaresuk, Pringsewu, Lampung. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode deskriptif analisis dan perspektif Etnomusikologis. Berdasarkan prosedurini dapat dikatakan bahwa kesenian Janengan merepresentasikan identitas masyarakat Jawa di Pajaresuk, Pringsewu Lampung melalui unsur-unsur budaya Jawa yang terkandung di dalamnya.
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN WARISAN BUDAYA TAKBENDA (WBTB) INDONESIA Marjanto, Damardjati Kun
Kebudayaan Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i1.18

Abstract

AbstractThe objectives of the research for policy of intangible cultural heritage (ICH) are as follow.(1) To understand the processes and problems of implementation of ICH policy in Indonesia; (2)To identify stakeholders involved in ICH policies that have been registered and confirmed; and(3) To ascertain a plan of action programs that carried out by relevant agencies following thedetermination of ICH policy in Indonesia. This study uses qualitative research method, throughinterviews and focus group discussion (FGD) to a number of informants, i.e. government officials,cultural actors, and community members. The implementation of the Minister of Education andCulture regulation that related to ?the administrative procedures? of ICH policy has be done asgood as possible by Directorate of Values Internalization and Cultural Diplomacy. However, it isbelieved that the effort is still need to be improved. It seems that this is caused by poor technicalability for filling the form and misunderstanding about ICH, which often confused as havingthe same meaning and value with cultural heritage. Local stakeholders need to have the sameunderstanding about the importance of the regulation of president and of Ministry of Educationand Culture. Therefore, all the regions can carry out this policy together and contribute toeach other in protecting ICH through action programs. Bida?i, Songket, Sambas, and BetangTraditional House in West Kalimantan Province; and Makepung and Tektekan in Bali Provincehave been designated as ICH of Indonesia. However, conservation efforts should not stop at thisdetermination only.Keywords: Intangible Cultural Heritage (ICH), Bida?i. Songket Sambas, Betang traditional house,Makepung and Tektekan AbstrakTujuan penelitian kebijakan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) ini, adalah untuk: (1)mengetahui proses dan berbagai masalah dalam implementasi kebijakanWBTB Indonesia;(2) mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat dalam kebijakan WBTB yang telah didaftarkandan ditetapkan; dan (3) mengetahui rencana program aksi yang dilakukan oleh instansi terkaitterhadap penetapan WBTB Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatifdengan wawancara dan Focus Group Discussion (FGD) terhadap sejumlah informan, baik dariaparat pemerintahan, pelaku budaya, maupun warga masyarakat. Hasil penelitian menunjukanbahwa implementasi Permendikbud yang terkait ?prosedur administratif? KebijakanWBTB,telah dilakukan dengan maksimal oleh Direktorat INDB, beserta jajarannya. Meskipun demikian,dalam pelaksanaannya dirasakan kurang maksimal. Hal ini tampaknya, disebabkan kemampuanteknis pengisian formulir maupun pemahaman akan arti budaya takbenda seolah-olah samadengan cagar budaya. Perlu pemahaman dari stakeholders di daerah tentang pentingnya Perpresdan Permendikbud WBTB, sehingga kebijakan ini dapat bergerak bersama di daerah dan salingberkontribusi dalam melakukan perlindungan WBTB dalam bentuk program aksi. Bidai, SongketSambas, dan Rumah Betang di Provinsi Kalimantan Barat, serta Makepung dan Tektekan diProvinsi Bali sudah ditetapkan sebagai WBTB Indonesia. Upaya pelestarian seyogyanya tidakberhenti pada penetapan WBTB tersebut.Kata kunci: Warisan Budaya Takbenda (WBTB), Bidai (Bide?), Songket Sambas, Betang,Makepung dan Tektekan
KARAWITAN MURYORARAS: SEBAGAI REPRESENTASI KONSEP SPIRITUAL KEJAWEN. Fitrianto, Fitrianto
Kebudayaan Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v13i1.230

Abstract

AbstractThis research describes the presentation of Karawitan Muryoraras in the context of culture and the belief system of the society. Besides that, the research describes the system of the presentation concept Muryoraras as ritual art. The data analysis is based on two theories namely the mythical aesthetic by Jacob Soemardjo and the theory of conditioning by Ivan Petrovich Pavlov. Based on the mythical aesthetic the relationship between the object art with culture and the belief system of society will be explained systematically. At this moment the analysis of the working system of the Muryoraras presentation concept is based on the conditioning theory that includes the process of stimulation and behavioral response. The Author uses qualitative research methods with ethnomusicological approach to trace deeper relationship between Karawitan Muryoraras and culture as well as belief system of the society. The data collection is done by measurable steps like: observation, interviews, documentation, and audio-visual materials. Then analyzed by several stages such as organizing them the data being examined can be verified. The results show that conceptually the presentation of Karawitan Muryoraras is a representative media of various cultural values of Java and the teaching of Kejawen as belief system of the society. Furthermore, the conceptual framework of hepresentation is applied to the working system of conditioning which is devided into two stages namely the stages of formation and reinforcement through various presenting rules.Keywords: Muryoraras, Representation, Kejawen.AbstrakPenelitian ini menjelaskan mengenai penyajian karawitan Muryoraras dalam konteks budaya dan sistem kepercayaan masyarakatnya. Selain itu penelitian ini juga menjelaskan tentang sistem kerja konsep penyajian Muryoraras sebagai seni ritual. Analisis data didasarkan pada dua teori yaitu estetika mitis Jacob Soemardjo dan teori pengkondisian Ivan Petrovich Pavlov. Bedasarkan estetika mitis, hubungan antara objek seni dengan budaya dan sistem kepercayaan masyarakatnya dapat dijelaskan dengan sistematis. Sementara analisis sistem kerja konsep penyajian Muryoraras didasarkan pada teori pengkondisian yang mencakup proses pemberian stimulus dan respon perilaku. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnomusikologis guna menelusuri lebih dalam hubungan antara karawitan Muryoraras dengan budaya serta sistem kepercayaan masyarakatnya. Pengumpulan data dilakukan dengan langkah-langkah yang terukur di antaranya: observasi, wawancara, dokumentasi, dan bahan audio visual. Kemudian dianalisis dengan beberapa tahap seperti mengorganisasikan data, membuat memo, pembentukan kode, menafsirkan data, menyajikan, dan memvisualisasikan data, sehingga data yang diteliti dapat dibuktikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara konseptual penyajian karawitan Muryoraras merupakan media representasi berbagai nilai budaya Jawa dan ajaran Kejawen sebagai sistem kepercayaan masyaraktnya. Selanjutnya, kerangka konseptual penyajian tersebut diaplikasikan dengan sistem kerja pengkondisian yang terbagi dalam dua tahapan yaitu tahapan pembentukan dan penguatan melalui berbagai macam tatacara penyajiannya.
KULTUS NENEK MOYANG: KESINAMBUNGAN BUDAYA NUSANTARA Sutaba, I Made
Kebudayaan Vol 13, No 2 (2018)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v13i2.202

Abstract

AbstractArchaeological researches in Indonesia have successfully discovered a number of sites and archaeological artefacts that spread nearly all over Indonesian archipelago. Generally these cultural heritage bear information about the social life of the community. It is very remarkable that although these artefacts have diverse type, but actually they have the same function, especially for worshipping their ancestor?s spirit, i.e. rock-arts found in South Sulawesi; stone seats and ancestor statues that preserved in Bali. Regarding these evidents, there are remarkable problems that should be studied now; it is the origin, the development of ancestor cult and its sustainability as Nusantara culture. By learning the problems, this study aims to study the problems. To achieve this objectives, the method that used for collecting data including field observation with interview and literature study. Furthermore, analysis was carried out by method of typology analysis, contextual analysis, functional analysis, comparative study and ethnoarchaeological approach. The result show that the ancestor cult was originated from prehistoric period, especially from advanced hunting and food gathering and then sustainable until the present day among the Indonesian people. AbstrakPenelitian arkeologi di Indonesia sudah berhasil menemukan sejumlah situs dan artefak arkeologi yang tersebar hampir di seluruh Indonesia. Pada umumnya warisan budaya ini membawa pesan-pesan tentang kehidupan sosial masyarakat. Sangat menarik perhatian, walaupun artefak itu berbeda-beda bentuknya, tetapi sesungguhnya mempunyai fungsi yang sama, yaitu untuk pemujaan nenek moyang antara lain, adalah gambar-gambar cadas yang ditemukan di Sulawesi Selatan; tahta batu dan arca nenek moyang yang terdapat di Bali. Mencermati bukti-bukti ini, timbul permasalahan yang perlu dikaji sekarang, adalah asal-usul, perkembangan kultus nenek moyang sebagai kesinambungan budaya Nusantara. Dengan mempelajari permasalahan, maka penelitian ini bertujuan untuk meneliti asal-usul dan perkembangan kultus nenek moyang dan kesinambungannya sebagai budaya nusantara. Untuk mencapai tujuan ini, dilakukan melalui kajian pustaka, pengumpulan data, penelitian lapangan dan selanjutnya dilakukan analisis dengan metode analisis tipologi, analisis kontekstual, analisis fungsional, studi perbandingan dan pendekatan etnoarkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa kultus nenek moyang berasal dari jaman prasejarah, yaitu dari masa berburu dan mengumpul makanan tingkat lanjut dan kemudian berkembang berlanjut sampai sekarang di kalangan masyarakat Indonesia. 
APRESIASI MASYARAKAT TERHADAP MUSEUM: PERAN MEDIA MASSA TERHADAP PEMBERITAAN MUSEUM DI YOGYAKARTA Trilestari, Irna; Nurhajarini, Ratna
Kebudayaan Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v12i1.164

Abstract

AbstractReporting about muesum in mass media is still less. So, the existence of museum has not been able to give benefits as an institution that entrusted for preservation of nature and culture heritage. Whereas, museum as a place for fun education, research, and recreational. Another issue that is considered to be a reason of lack of museum involvement for visitors is low public appreciation for museum. The appreciation for museum can be formed through mass media. Therefore, it is important for us to make a research to know the role of mass media for museum reporting. The purpose of this study was to determine quality and quantity of museum reporting in mass media (newspapers, television, and internet). The study was conducted by analyzing mass media reporting about museum in Yogyakarta, in 2008 - 2009. Method that is used in this study, i.e.: content analysis method and focus group discussions (FGD). Content analysis method is a research that is in-depth discussion for contents of information in articles that were printed in a mass media. The results that are obtained in mass media about museum reporting in quantity and quality is still low. The number of museum reporting within a year that are published by mass media is fairly low. AbstrakPemberitaan museum di media massa masih kurang sehingga keberadaan museum belum mampu dirasakan manfaat kehadirannya sebagai lembaga yang melaksanakan tugas pelestarian warisan alam dan budaya yang merupakan sebagai tempat pendidikan, penelitian dan rekreasi yang menyenangkan. Permasalahan lain yang dianggap menjadi penyebab kurang berperannya museum bagi masyarakat adalah apresiasi masyarakat yang rendah terhadap museum. Apresiasi masyarakat antara lain dapat terbentuk melalui pemberitaan di media massa. Oleh karena itu, penelitian mengenai bagaimana peran media massa terhadap memberitaan museum penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas dan kuantitas pemberitaan di media massa (surat kabar, televisi, dan internet) tentang museum. Adapun penelitian ini dilakukan dengan menganalisa pemberitaan media massa tentang Museum di Yogyakarta pada tahun dasar 2008-2009. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis isi (content analysis) dan diskusi kelompok terpumpun ( focus group discussion). Metode analisis isi adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Hasil yang diperoleh pemberitaan di media massa mengenai museum secara kuantitas dan kualitas masih tergolong rendah, jumlah pemberitaan dalam  satu  tahun  mengenai  museum  yang  dimuat  oleh  media  massa  tergolong  sedikit. 
DAFTAR ISI, EDITORIAL DAN LEMBAR ABSTRAK VOL. 14, NO. 1 TAHUN 2019 Budaya, Jurnal
Kebudayaan Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i1.313

Abstract

DAFTAR ISI, EDITORIAL DAN LEMBAR ABSTRAK VOL. 14, NO. 1 TAHUN 2019
BATAVIAASCHE PLANTEN EN DIERENTUIN: KEMUNCULAN GAGASAN KONSERVASI SATWA MELALUI KEBUN BINATANG OLEH ELITE BATAVIA 1864 -1942 Irmalasari, Fitri R.
Kebudayaan Vol 11, No 2 (2016)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v11i2.24

Abstract

AbstractThis article talks about the emergence of Bataviaasche Planten en Dierentuin (BatavianBotanical and Zoological Garden) in 1864 as the first zoological park in Batavia aswell as in East Dutch Indies. It becomes the first Dutch East Indies ex-situ conservation(conservation of plants and/ or animals which was done outside their natural habitat),that was spearheaded by a handful of elite Batavia. The science development in the 19thcentury and political ideology of the Dutch Colonial were the backgrounds of the changingperspective of Batavian well-educated elites towards nature environment and its sourcesincluding animals. Data sources which are the annual reports of the zoo organisation,photographs, travel notes, will disclose the motive and aim as well to necessarily attestthe power of social construction, namely race and social class, as the main driver of theemerging conservation notions and the importance of knowledge on animals for Bataviancitizens from the 19th to early 20th century. The presence of an artificial habitat of plantsand animals in the capital of colonial land, after all, was a microcosm that representedthe change of people?s attitude, which is from traditional to modern, as comprehended byBatavian elites in managing animals. AbstrakArtikel ini membahas kemunculan Bataviaasche Planten en Dierentuin (Kebun Botanidan Binatang Batavia) pada 1864 sebagai kebun binatang pertama di Batavia maupundi Hindia Belanda. Kebun binatang tersebut menjadi konservasi ex-situ (konservasitumbuhan dan/ atau satwa yang dilakukan di luar habitat alaminya) pertama di HindiaBelanda dan dipelopori oleh segelintir elite Batavia. Perkembangan ilmu pengetahuanpada abad ke-19 serta ideologi politik pemerintah kolonial melatarbelakangi perubahancara pandang elite terpelajar Batavia terhadap lingkungan alam beserta isinya, termasuksatwa. Sumber data artikel ini berupa laporan-laporan tahunan pengelola kebun binatang,foto-foto, catatan-catatan perjalanan, yang akan memperlihatkan motivasi dan tujuan parapenggagasnya serta dengan sendirinya menunjukkan kekuatan konstruksi sosial beruparas dan kelas sosial sebagai penggerak utama atas lahirnya gagasan-gagasan mengenaikonservasi dan pentingnya pengetahuan mengenai satwa bagi masyarakat Batavia sejakabad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kehadiran sebuah habitat buatan bagi tumbuhandan satwa bernama kebun binatang di ibu kota koloni, bagaimanapun merupakan sebuahmikrokosmos yang merepresentasikan perubahan sikap, yang oleh elite Batavia dipahamisebagai transisi dari sikap masyarakat tradisional ke masyarakat modern dalam mengatursatwa.
KAMPER SEBAGAI CAGAR BUDAYA WARISAN DUNIA: SEBUAH PEMIKIRAN AWAL. Ajis., Ambo Asse
Kebudayaan Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v12i2.247

Abstract

AbstrakKajian ini hendak menempatkan kamper sebagai karya budaya yang memenuhi syarat sebagai benda cagar budaya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Kamper merupakan produk budaya dari Barus yang menjadi komoditas dunia pada masanya. Kehadirannya sebagai benda yang bernilai penting dibuktikan dengan terciptanya tatanan perdagangannya sendiri dan konsumennya yang spesifik. Meskipun jangkauan pengetahuan dunia tentang kamper melampaui wilayah Sumatera maupun wilayah lain di Indonesia, hingga saat ini, kamper belum mendapatkan pengakuan sebagai benda cagar budaya Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan masukan kepada para pemangku kebijakan pada Pemerintah RI agar dapat mempertimbangkan dan mendorong kamper menjadi salah satu benda cagar budaya di Indonesia, bahkan jika mungkin di dunia. Metode penulisan artikel ini berbentuk eksplanatif dengan merujuk sumber historis yang terpercaya. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa terdapat urgensitas peranan kamper dalam dinamika perdagangan rempah dengan dunia luar di masa lalu, yang terlihat pada dampaknya yang luas, tidak hanya menyentuh aspek ekonomi saat itu, tetapi juga merambah ke kehidupan sosial, kesehatan, dinamika hubungan kenegaraan, pelayaran, perdagangan, dan sebagainya. Adapun imbas untuk masyarakat Nusantara adalah adanya dugaan bahwa perdagangan kamper juga intensif mendorong munculnya berbagai materi rempah lainnya, lalu secara bersama-sama memperkaya jaringan perdagangan antar negeri di Nusantara saat itu.
ETNOPEDAGOGIK DALAM PASANGGIRI ASAH KAPARIGELAN BASA, SASTRA, JEUNG BUDAYA SUNDA Syahdiana, Susi Syahdiana.
Kebudayaan Vol 13, No 1 (2018)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v13i1.231

Abstract

AbstractPasanggiri Asah Kaparigelan Basa, Sastra, jeung Budaya Sunda It is a competition for elementary, Junior high school, Senior High School/Vocational School, which is held annually as a form of introduction etnopedagogic to the young generation to preserve the three pillars of culture in Cianjur. The outline of the research problem regarding values, such as moral values, the value of the Sundanese, the character and value of self-actualization Sundanese the components of the Pasanggiri Asah Kaparigelan Basa. Sastra, jeung Budaya Sunda. The purpose of this research is to find out and expose the moral value of Sundanese, the value of Sundanese characters, and the value of self-actualization Sundanese in the component Pasanggiri Asah Kaparigelan Basa, Sastra, jeung budaya Sunda. The methods used, that is descriptive qualitative approach method. Data collection with interview techniques and study the documentation. The results of study to find the value of etnopedagogic with the following conclusion; (1) There is the moral value of Sundanese in components Asah Kaparigelan.(2) There is value in the Sundanese characters in components Asah Kaparigelan. (3) There is the value of self-actualization Sundanese in components Asah Kaparigelan.AbstrakPasanggiri Asah Kaparigelan Basa, Sastra, jeung Budaya Sunda merupakan ajang lomba tingkat SD, SMP, SMA/SMK, yang digelar setiap tahun sebagai wujud pengenalan etnopedagogik kepada generasi muda untuk melestarikan tiga pilar budaya di Kabupaten Cianjur. Rumusan Masalah dalam penelitian ini mengenai bagaimana nilai moral orang Sunda, nilai karakter orang Sunda, dan nilai aktualisasi diri orang Sunda yang terdapat dalam komponen Pasanggiri Asah Kaparigelan Basa. Sastra, jeung budaya Sunda. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan memaparkan tiha hal yaitu; nilai moral orang Sunda, nilai karakter orang Sunda, dan nilai aktualisasi diri orang Sunda yang terdapat dalam setiap komponen lomba (pasanggiri). Metode yang digunakan deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dengan wawancara dan studi dokumentasi. Dari hasil penelitian ini didapat nilai etnopedagogik dengan kesimpulan berikut; (1) Terdapat nilai moral orang Sunda dalam komponen pasanggiri asah kaparigelan, (2) Terdapat nilai karakter orang Sunda dalam komponen pasanggiri asah kaparigelan (3) Terdapat nilai aktualisasi diri orang Sunda dalam komponen asah kaparigelan.

Page 1 of 53 | Total Record : 527