cover
Contact Name
I Wayan Suarna
Contact Email
suarnawyn@yahoo.com
Phone
+628179718825
Journal Mail Official
jpasturahitpi@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Peternakan Universitas Udayana Jl. PB. Sudirman Denpasar
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
Pastura; Journal Of Tropical Forage Science
Published by Universitas Udayana
ISSN : 2088818X     EISSN : 25498444     DOI : https://doi.org/10.24843/Pastura
Pastura; Journal of Tropical Forage Science adalah jurnal ilmu tumbuhan pakan tropik yang diterbitkan dua kali setahun (Februari dan Agustus). Memuat berbagai artikel dari aspek tumbuhan pakan tropik berupa: hasil penelitian, naskah konseptual/opini, resensi buku, dan informasi tumbuhan pakan tropik lainnya.
Articles 201 Documents
MEMPERBAIKI PRODUKTIVITAS HIJAUAN PAKAN TERNAK UNTUK MENUNJANG KAPASITAS PADANG PENGGEMBALAAN KERBAU DI KABUPATEN KAMPAR, RIAU (SUATU SARAN PEMIKIRAN) Jarmani, Sri Nastiti; Haryanto, Budi
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 4 No 2
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2015.v04.i02.p10

Abstract

Kondisi padang penggembalaan dengan lapisan topsoil tipis menyebabkan produktivitas hijauan pakan ternak rendah, sehingga kapasitas tampung ternak di kawasan tersebut juga rendah. Untuk menunjang produktivitas padang penggembalaan perlu dilakukan introduksi tumbuhan tanaman pakan ternak yang sesuai dengan kondisi lahan. Perbaikan produktivitas padang penggembalaan harus dilakukan secara holistic dengan memperhatikan siklus hara yang dapat meningkatkan kesuburan lahan. Percobaan introduksi tanaman pakan ternak telah dilakukan di Kabupaten Kampar, Riau. Glirisidia sebagai tanaman pagar, rumput raja, rumput gajah, rumput benggala, rumput setaria dan rumput brachiaria, serta leguminosa centrosema dan stylosanthes ditanam pada lahan peternak. Kabupaten Kampar dikenal merupakan daerah sumber ternak kerbau dengan cara pemeliharaan digembalakan pada kawasan padang penggembalaan di sepanjang bantaran sungai Kampar. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa produksi tanaman pakan ternak introduksi pada pemotongan pertama cukup baik, yaitu, 70,4 ton/har untuk rumput raja, 44,6 ton/ha untuk rumput gajah, 15,6 ton/ha untuk rumput Panicum, 46,8 ton/ha untuk rumput setaria dan 44,7 ton/ha untuk rumput brachiaria. Perkembangan tanaman leguminosa agak terhambat karena adanya masalah adaptasi terhadap kondisi lahan yang kurang baik. Produktivitas tanaman pakan ternak introduksi masih dapat ditingkatkan dengan memberikan pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran kandang sebagai tambahan unsur hara pada lahan dan padang penggembalan. Selain itu ?penyadaran? untuk meningkatkan minat peternak untuk menyediakan hijauan pakan ternak berkualitas masih perlu pendampingan lebih intensif agar kebutuhan pakan hijauan tercukupi, produktivitas kerbau meningkat dan terjaga di Indonesia. Pemanfaatan tumbuhan hijauan pakan ternak seyogyanya dikaitkan dengan upaya pembuatan pupuk organik yang dapat digunakan sebagai tambahan unsur hara pada lahan padang penggembalaan. Dengan demikian akan diperoleh peningkatan kesuburan lahan padang penggembalaan dalam jangka panjang dan meningkatkan produktivitas tanaman pakan ternak yang akan berdampak pada peningkatan populasi ternak kerbau. Disimpulkan bahwa perbaikan tanaman pakan ternak di padang penggembalaan Kabupaten Kampar perlu ditindaklanjuti dengan upaya peningkatan minat masyarakat serta perluasan areal penanaman.
APLIKASI PEMUPUKAN SUMBER P YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN NODUL PUERARIA JAVANICA YANG DIINOKULASI DENGAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR DI ULTISOL Sowmen, Simel; Ifradi, Ifradi; Rachmat, Arif; Silfani, Tri; Karyadinata, Karyadinata
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 8 No 1 (2018): Pastura Vol. 8 No. 1 Tahun 2018
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2018.v08.i01.p01

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan sumber fospor yang berbeda terhadap pertumbuhan dan perakaran Pueraria javanica yang diinokulasi dengan FMA. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 3 perlakuan pemupukan fospor yang terdiri P0=Tanpa pupuk fospor (0 g/pot), P1= Pupuk SP36 200 kg/ha (1 g/pot), dan P2= rock phospat 200 kg/ha (1 g/pot), dengan 4 ulangan. Seluruh pot perlakuan mendapatkan inokulasi dengan mikoriza. Peubah yang diukur adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, panjang akar, jumlah nodul akar, jumlah nodul aktif, dan persentase nodul aktif. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap semua parameter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya inokulasi dengan FMA, unsur hara makro dan mikro Pueraria javanica sudah terpenuhi tanpa pemupukan fospor di ultisol. Kata kunci: FMA, fospor, nodul akar, rock phospat, Pueraria javanica
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI AKIBAT INOKULASI BAKTERI RHIZOBIUM DAN PENAMBAHAN HARA AIR LAUT Fuskhah, Eny; Darmawati, Adriani
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 6 No 1 (2016): Pastura Vol. 6 No. 1 Tahun 2016
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2016.v06.i01.p03

Abstract

Penelitian bertujuan memanfaatkan air laut yang melimpah sebagai sumber hara bagi tanaman khususnya kedelai sehingga menghemat penggunaan pupuk buatan serta dikombinasikan dengan pemanfaatan gulma air eceng gondok sebagai mulsa, dan aplikasi bakteri Rhizobium. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Ekologi dan Produksi Tanaman Fakultas Peternakan danPertanian Universitas Diponegoro Semarang. Sampel air laut diambil dari Pantai Marina Semarang. Benih kedelai yang digunakan adalah benih lokal Grobogan. Rancangan percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial 4 x 2 dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah kombinasi air laut dan mulsa eceng gondok meliputi : L0 = tanpa air laut (air tawar) dan tanpa mulsa eceng gondok (kontrol), L1 = Kombinasi level air laut 1 mmhos/cm dan 8 ton/ha mulsa eceng gondok, L2 = Kombinasi level air laut 2 mmhos/cm dan 8 ton/ha mulsa eceng gondok, L3 = Kombinasi level air laut 3 mmhos/cm dan 8 ton/ha mulsa eceng gondok. Faktor kedua adalah perlakuan inokulasi bakteri Rhizobium meliputi : R1 = tanpa inokulasi bakteri Rhizobium, R2 = dengan inokulasi bakteri Rhizobium. Parameter yang diamati meliputi panjang tanaman, jumlah daun, produksi berat segar tajuk, dan produksi bahan kering tajuk. Data yang diperoleh dianalisis ragam dan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan Uji Wilayah Berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1995). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh interaksi antara level salinitas air laut dengan inokulasi bakteri rhizobium terhadap panjang tanaman, jumlah daun, berat segar tajuk, dan produksi bahan kering tajuk. Pemberian hara air laut dan inokulasi bakteri rhizobium cenderung meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai.Kata kunci : kedelai, hara air laut, rhizobium, pertumbuhan, produksi
PENGARUH PEMUPUKAN FOSPOR DAN INOKULASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR (FMA) TERHADAP PERTUMBUHAN SORGUM MUTAN BMR PADA ULTISOL Sowmen, S.; Sriagtula, R.; Martaguri, I.; Mardhiyetti, Mardhiyetti; Aini, Q.
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 9 No 1 (2019): Pastura Vol. 9 No. 1 Tahun 2019
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2019.v09.i01.p08

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan fospor dan inokulasi mikoriza terhadap pertumbuhan Sorgum Mutan BMR pada tanah ultisol. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor mikoriza yang terdiri dari M0: tanpa inokulasi mikoriza, dan M1: inokulasi dengan mikoriza, dan faktor pemupukan fosfor yang terdiri dari P0: tanpa pupuk fospat, P1: Rock Phospat (45 kg P2O/ha), dan P2: TSP (45 kg P2O5/ha), dengan 5 ulangan. Peubah yang diukur adalah tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun, serta diameter batang. Analisis ragam menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh interaksi dan pengaruh faktor tunggal terhadap pertumbuhan sorgum BMR pada tanah ultisol. Hasil penelitian mendapatkan tinggi tanaman sorgum mutan BMR berkisar antara 130,15-157,4cm, jumlah daun berkisar antara 7,6-8,6 lembar, panjang daun berkisar antara 54,18-65,03cm, lebar daun berkisar antara 2,683,75cm, dan diameter batang berkisar antara 0,63 0,83cm. Sorgum mutan BMR berpotensi untuk dikembangkan sebagai tanaman pakan pada tanah ultisol. Kata kunci: mikoriza, rock phospat, sorgum BMR, TSP, ultisol
PRODUKSI BIOMASSA DAN NILAI NUTRISI RUMPUT PAKAN PADA TANAH DENGAN TINGKAT SALINITAS BERBEDA F, Kusmiyati; Karno, Sumarsono; Pangestu, E.
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 2 No 2
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2013.v02.i02.p07

Abstract

Salt from sea water can ingress through groundwater, rivers and estuaries that cause large areas of salt-affected soils. The presence of excess salts on the soil surface and in the root zone inhibits crop growth and production. An electrical conductivity of the saturation soil extract at saline soil is more than 4 dS/m. A experiment was conducted to identify potentially suitable forage grasses for growing at saline soil Five forage grasses were tested in greenhouse. They were Panicum maximum, Setaria sphacelata, Euchlaena mexicana, Brachiaria brizantha, and Cynodon plectostachyus. Grasses were planted at non-saline soil (EC = 0.5 dS/m) and saline soil (EC = 11 dS/m). Biomass yield and nutritional value of grasses were evaluated. Biomass yield (fresh and dry matter of shoot and root) was significantly reduced at saline soil compared with non-saline soil. Ranking of forages according to the percent reduction in biomass yield due to the higher level of salinity was Brachiaria brizantha > Euchlaena mexicana > Panicum maximum > Cynodon plectostachyus > Setaria sphacelata. Crude protein percentage of Brachiaria brizantha was significantly lower at saline soil compared with non saline soil. While there were no significantly different of crude protein between non-saline soil and saline soil of Panicum maximum, Setaria sphacelata, Euchlaena mexicana and Cynodon plectostachyus. Acid detergent fiber and neutral detergent fiber of Brachiaria brizantha were significantly higher at saline soil. So, Brachiaria brizantha was judged as the worst species in terms of biomass yield and nutritional value. Although, the percentage reduction biomass yield of Cynodon plectostachyus at saline soil was low, Cynodon plectostachyus was judged to be unacceptable because of its poor nutritional value and low production. Euchlaena mexicana had lower biomass at saline soil, also it had lower nutritional value compared with Panicum maximum. In conclusion, based on biomass yield and nutritional value, Panicum maximum and Setaria sphacelata were judged to be the best species at saline soil.
INTRODUKSI HIJAUAN PAKAN TERNAK SAPI DI KECAMATAN SANGKUB Elly, F.H.; Salendu, A.H.S.; Kaunang, CH. L.; Indriana, Indriana; Syarifuddin, Syarifuddin; Pohuntu, Z.; Pontoh, S.
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 7 No 1 (2017): Pastura Vol. 7 No. 1 Tahun 2017
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2017.v07.i01.p09

Abstract

Ternak sapi adalah salah satu ternak yang diandalkan petani di Kecamatan Sangkub untuk peningkatan pendapatan mereka. Pengembangan ternak sapi menjadi perhatian pemerintah sehingga berbagai kegiatan yang menunjang dilakukan di daerah tersebut. Permasalahannya adalah pakan ternak sapi belum tersedia secara kontinyu. Berdasarkan permasalahan ini maka telah dilakukan penelitian untuk mengkaji sejauhmana ketersediaan pakan untuk ternak sapi. Penelitian ini telah dilakukan dengan menggunakan metode survei. Sampel penelitian adalah petani peternak yang berada di Kecamatan Sangkub. Selanjutnya dilakukan pemberdayaan petani sebanyak 10 orang melalui introduksi hijauan berkualitas. Pemberdayaan dilakukan dengan dua metode yaitu penyuluhan dan pelatihan. Hijauan pakan merupakan bahan makanan utama bagi kehidupan ternak sapi serta sebagai dasar dalam usaha pengembangannya. Peningkatan produktivitas adalah faktor penting yang harus diperhatikan, dan hal ini berkaitan dengan kontinuitas ketersediaan pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani memanfaatkan limbah jagung untuk pakan ternak sapi, yang kualitasnya belum diketahui mereka. Petani juga belum mengetahui tentang rumput yang diintroduksi. Pada saat tidak musim panen jagung, petani mencari rumput di lahan-lahan pertanian yang menyita waktu mereka. Introduksi hijauan pakan direspon baik oleh petani dan mereka masing-masing juga menanam di lahan sendiri. Kesimpulannya, petani belum mengetahui tentang kualitas rumput. Introduksi rumput berkualitas telah berhasil dilakukan dan sangat bermanfaat bagi petani. Saran yang disampaikan, perlu bantuan pemerintah untuk sosialisasi teknologi pengawetan hijauan. Kata kunci: introduksi, hijauan, ternak sapi
UJI PENGAWETAN TERHADAP DAYA SIMPAN BAHAN TANAM STEK RUMPUT GAJAH (PENNISETUM PURPUREUM SCHUMMACH) Setiana, M. Agus
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 3 No 2
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2014.v03.i02.p03

Abstract

Pendistribusian bahan tanam stek masih menjadi kendala karena sifatnya yang mudah rusak akibat faktor luar seperti mikroba dan fungi. Metode penyimpanan stek yang baik diperlukan agar stek memilikidaya simpan yang lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bahan dan alat yang dapat memperpanjang umur stek dan menentukan lama masa simpan yang terbaik untuk bahan tanam stek rumputgajah (Pennisetum purpureum Schummach). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan ulangan 5 kali. Faktor A adalah perlakuan pengawetan berupa 4 jenisbahan atau alat pengawet yaitu cairan gula 2%, cairan lilin, silica gel dan refrigerator (4°C) dan faktor B adalah 5 tingkat lama penyimpanan 3, 6, 9, 12 dan 15 hari. Bahan yang digunakan adalah stek rumputgajah (Pennisetum purpureum Schummach) sebanyak 625 batang. Peubah yang diukur adalah keadaan umum stek, penyusutan bobot, awal pertumbuhan setelah tanam, daya tumbuh, dan tinggi vertikal. Hasilpenelitian menunjukkan adanya interaksi nyata (P<0,05) terhadap penyusutan bobot stek yang berpengaruh nyata antara penggunaan bahan pengawet dengan lama penyimpanan, interaksi terjadi pada bahan pengawet gula, silica gel, dan kontrol. Interaksi menunjukkan bahwa optimal lama penyimpanan kurang lebih 13 hari. Lama penyimpanan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya tumbuh, dimana lama penyimpanan 15 harimenunjukkan penurunan daya tumbuh yang signifikan. Lama penyimpanan dan bahan pengawet berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap tinggi vertikal, dimana penyimpanan 15 hari secara signifikan berpengaruh padatinggi vertikal dan rataan tinggi vertikal tertinggi pada penggunaan lilin dan gula. Daya simpan stek rumput gajah (Pennisetum purpureum Schummach) dapat ditingkatkan dengan menggunakan bahan pengawet gula,silica gel, lilin, dan refrigerator pada suhu 4°C selama 15 hari.
SISTEM PENGGEMBALAAN SEBAGAI ALTERNATIF PETERNAKAN SAPI POTONG YANG EFEKTIF DAN EFISIEN Marta, Yoselanda
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 5 No 1 (2015): Pastura Vol. 5 No. 1 Tahun 2015
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2015.v05.i01.p11

Abstract

Pemeliharaan ternak khususnya sapi sampai saat ini masih berhadapan dengan permasalahan penyediaan pakan hijauan yang berkesinambungan. Hampir 70% biaya produksi dan pemeliharaan sapi pengeluarannya bersumber dari pakan. Efisensi tenaga kerja menjadi salah satu permasalahan yang belum terselesaikan dengan baik. Berbagai metoda dikembangkan untuk mencari solusi yang diharapkan mampu untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang muncul. Terobosan ? terobasan yang dilakukan untuk menghadirkan solusi terus dikembangkan. Salah satunya adalah dengan dilakukannya sistem penggembalaan dengan metoda pastura. Dengan sistem ini di harapkan mampu untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan. Metoda ini dinilai tepat untuk diterapkan karena mampu meminimalisir biaya pakan dan mengefisienkan tenaga kerja.Kata kunci : pakan, tenaga kerja, biaya
TINGKAT ADAPTASI TANAMAN ALFALFA (MEDICAGO SATIVA L.) HASIL MUTASI DENGAN SINAR GAMMA PADA SKALA LAPANG I., Prihantoro,; A., Anandia,; A. T., Aryanto,; M. A., Setiana,; P. D. M. H., Karti,
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 9 No 1 (2019): Pastura Vol. 9 No. 1 Tahun 2019
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2019.v09.i01.p01

Abstract

Alfalfa (Medicago sativa L.) merupakan salah satu leguminosa dengan kandungan nutrisi tinggi dengan tingkat palatabilitas yang baik pada ternak ruminansia. Kendala ketersediaan alfalfa di Indonesia adalah terbatasnya kemampuan adaptasi tanaman alfalfa di lingkungan tropis. Tujuan penelitian adalah mengukur tingkat adaptasi tanaman alfalfa (Medicago sativa L.) hasil mutasi dengan sinar gamma pada skala lapang. Penelitian terdiri dari 4 macam sumber tanaman, yakni tanaman hasil mutasi dengan level sinar gamma yang berbeda (0 Gy, 200Gy, 300Gy dan 400 Gy). Jumlah anakan tanaman diuji dengan rancangan acak lengkap dengan 3 ulangan dan masing-masing ulangan terdiri dari 20 tanaman. Daya tumbuh, warna daun, waktu berbunga dan tingkat serangan hama tanaman dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman alfalfa hasil mutasi 300 Gy nyata (p<0.05) menghasilkan jumlah anakan terbanyak. Tanaman hasil iradiasi 300 Gy memberikan perilaku yang lebih baik terhadap daya tumbuh, daya berbunga dan jumlah tanaman tidak terserang hama. Semakin tinggi level iradiasi sinar gamma terhadap warna daun, menunjukkan perubahan tingkat warna dari hijau tua menuju hijau muda. Kata kunci: alfalfa (Medicago sativa L.), mutasi, iradiasi sinar gamma, skala lapang
PEMBERDAYAAN KELOMPOK TANI TERNAK SAPI MELALUI PENGEMBANGAN HIJAUAN DI SULAWESI UTARA Elly, F.H.; Manese, M.A.V.; Polakitan, D.
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 2 No 2
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2013.v02.i02.p02

Abstract

The cattle have the role of importance for welfare of this group in North Sulawesi. Its problems is availability feed often fall short the requirement of cattle own group. Based on these problems has made   the study of the empowerment group to develop forage for cattle feed. The rationale that food availability is a major constraint to increased production of beef. The quality and quantity of forage consumed feed cattle owned by farmers is very low. Knowledge of the group to supply a continuous feed is still very low. Extension and application of science and technology is easier to do for the group. Planting forage that has been done in an effort to meet the needs of feed by cattle as well as to optimize the utilization of idle land. Introductions superior forage has been done by empowering groups of cattle. In conclusion, the development has been done for some groups through education about the benefits of the development and practice of planting quality grass forage. Introductions grass dwarft conducted with the aim to increase the supply of feed for the cattle. Advice for the government to facilitate the development of forage in North Sulawesi.

Page 1 of 21 | Total Record : 201