cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
E-Jurnal Medika Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23031395     EISSN : 25978012     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana menerima naskah dari mahasiswa PSPD FK UNUD, baik berupa karangan asli atau laporan penelitian, ikhtisar pustaka, laporan kasus, maupun surat-surat untuk redaksi. Naskah yang dikirimkan untuk majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana adalah naskah belum pernah atau tidak akan dikirim ke majalah lain. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 929 Documents
PENGARUH TERAPI BEKAM TERHADAP TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI ESENSIAL DI RUMAH BEKAM DENPASAR MEI-JUNI TAHUN 2014 Sangkur G, Bahar; Nurmuharomah, Dini; Nandya, Inge; Diah, Ni Putu; Utami, Nurtyana; Sutarsa, I Nyoman
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5 No 9 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bekam adalah terapi yang bertujuan membersihkan tubuh dari darah yang mengandung toksin dengan penyayatan tipis atau tusukan-tusukan kecil pada permukaan kulit. Sejauh ini berkembang kepercayaan masyarakat khususnya umat Islam bahwa bekam dapat digunakan sebagai terapi hipertensi, hal ini dikarenakan bekam merupakan terapi yang dianjurkan Nabi Muhammad saw yang dapat mengatasi berbagai macam penyakit. Namun, hingga saat ini data obyektif tentang hal ini belum banyak diteliti lebih jauh. Oleh karena hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan dampak terapi bekam terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi esensial yang menjalani bekam di Rumah Bekam Denpasar dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Penelitian ini melibatkan 27 sampel penelitian yang berlangsung pada bulan Mei sampai Juni 2014. Dilakukan pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah bekam dengan menggunakan dua jenis tensimeter yang berbeda untuk meminimalisir bias. Hasil yang didapatkan pada penggunaan tensimeter digital menunjukkan rata-rata penurunanan tekanan darah sistole sebesar 8,54 mmHg dan diastole sebesar 5,53 mmHg. Sedangkan pada penggunaan tensimeter air raksa, penurunan rata-rata tekanan darah sistole 7,44 mmHg dan diastole 4,59 mmHg. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan bahwa bekam dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.
POTENSI APLIKASI GRANULOCYTE-COLONY STIMULATING FACTOR VIA MICROCHIP SUBKUTAN SEBAGAI TERAPI PREVENTIF PADA TRAVELER PASCA INFARK MIOKARDIUM Sasmita, I Gede Yuhana Dharma
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5 No 4 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

POTENTIAL APPLICATIONS GRANULOCYTE-COLONY STIMULATING FACTOR VIA SUBCUTANEOUS MICROCHIP ON PREVENTIVE THERAPY AFTER TRAVELER MYOCARDIAL INFARCTION Death incidence among travelers with myocardial infarct (MI) highly reported among travelers experiencing previous reperfusion therapy. Pathological remodeling progresivity post MI have a strong corelation with mortality related with cardiac arythmia and heart failure. Cellular cardiomyoplasty considered as one regenerative therapy which capable in preventing post infarct pathological remodeling by applying the multipotency effect of stem cell. Several studies suggest the use of Mesenchymal Stem Cell (MSC) in the term of celluar cardiomyoplasty which focused on endogenous modulation of stem cells. Regarding to those concern, the emerging effectivity of Granulocyte-Colony Stimulating Factor (G-CSF) in modulates MSC endogenously proved to be relevant. From the travel medicine perspective, G-CSF therapy need several considerations including pre travel condition of a patient after reperfusion therapy, risk factors exposure during travel and medical compliance. Therefore, one strategy named microchip drugs delivery system was suggested as a response for the need of increasing drugs efficacy, stable and continuous transfer, high compliance and self-controlled therapy. This review aimed to explore the G-CSF mechanism as MSC modulator, introducing the construction and the mechanism of subcutaneus microchip to facilitate G-CSF therapy, and provide prospective view of G-CSF therapy via subcutaneus microchip among post MI traveler. G-CSF modulates MSC by performing stimulation for MSC mobilization from bone marrow, homing to the infarct zone and regeneration activity. Inside the construction, microchip as a drugs container passed microfabrication process and package into implant capsule. G-CSF release externally controled by radiofrequency signal that induce the microchip membrane degradation followed by drugs release. Furthermore, regarding to the revealed potentiality, G-CSF therapy expected to perform an evidence based preventive therapy for post MI traveler and increase heart functional capacity to adapt with risk exposure during travel. Overall, deep research strongly required.
PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO TERJADINYA HIPERTENSI PADA MASYARAKAT DI DESA SIDEMEN, KECAMATAN SIDEMEN, KARANGASEM PERIODE JUNI-JULI 2014 Adnyani, Pande Putu; Sudhana, I Wayan
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 3 (2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah arteri persisten sebesar 140/90 mmHg atau lebih baik sistol maupun diastol pada umur 18 tahun atau lebih. Hipertensi merupakan penyebab dari 4,5% beban penyakit dunia baik di negara berkembang, maupun di negara maju. Berbagai faktor risiko telah dihubungkan dengan terjadinya hipertensi. Penelitian ini menggunakan rancangan studi prevalensi potong lintang untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko kejadian hipertensi pada masyarakat Desa Sidemen, Kecamatan Sidemen, Karangasem periode Juni-Juli 2014. Prevalensi hipertensi di Desa Sidemen yaitu sebanyak 40 orang (27,4%) dengan 26 responden (65,0%) hipertensi derajat 1 dan 14 responden (35,0%) hipertensi derajat 2. Berdasarkan hasil tabulasi silang antara faktor risiko hipertensi dengan kejadian hipertensi, didapatkan prevalensi hipertensi paling banyak pada rentang umur 50 sampai dengan 79 tahun yaitu 21,3%, pada responden yang tidak bersekolah dan tamat SD yaitu 19,2%, pada 30 responden (20,5%) yang tidak memiliki riwayat keluarga hipertensi, 10 responden (6,8%) yang memiliki riwayat keluarga hipertensi, 22 responden (15,1%) yang memiliki riwayat merokok, 18 responden (12,3%) yang tidak memiliki riwayat merokok, 9 responden (6,2%) yang memiliki riwayat mengkonsumsi alkohol, 31 responden (21,2%) yang tidak memiliki riwayat mengkonsumsi alkohol, 4 responden (2,7%) dengan BMI underweight, 7 responden (4,8%) dengan BMI normal, 29 responden (19,9%) dengan BMI overweight dan obese, 4 responden (2,7%) dengan lingkar pinggang <90 cm pada laki-laki dan <80 cm pada perempuan dan 36 responden (24,7%) dengan lingkar pinggang ?90 cm pada laki-laki dan ?80 cm pada perempuan. Dari semua faktor risiko, yang menunjukkan korelasi signifikan yaitu tingkat pendidikan, riwayat merokok, BMI dan waist circumference.  
OCCUPATION COMMONLY ASSOCIATED WITH CONTACT DERMATITIS Wijaya, Elice; Mas Rusyati, Luh Made; Darmada, IGK
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no 12 (2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Occupational skin diseases are a widespread problem. Despite numerous protective mechanisms, the skin remains vulnerable to new irritants found in the workplace. As a result, many workers in different occupations suffer from occupational skin diseases. From the data at Sanglah Hospital in Dermatology Department, it should be noted that there is increasing number of new cases of contact dermatitis in period of January 2000 until December 2005, from 10,16% until 13,36% in the next year and relatively stable in the next four years. Occupations commonly associated with contact dermatitis are agriculture workers, construction workers, dental workers, electronic workers, florists, food workers, hairdressers, haousekeeping personnel, machinist, mechanics, medical workers, office workers, photographers, printers, textile workers.
KANDIDIASIS VAGINA YANG MENDAPAT TERAPI SISTEMIK DAN TOPIKAL: SEBUAH LAPORAN KASUS Rendy Sanjaya, Dewa Made; Darmada, IGK; Mas Rusyati, Luh Made
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 6 (2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandidiasis vulvovaginitis ialah penyakit infeksi jamur candida yang mengenai mukosa vagina danvulva.Penyebabnya yang tersering biasanya adalah candida albicans.Gejala klinis KandidiasisVulvovaginitis ialah gatal didaerah vulva, dan pada yang berat terdapat rasa panas,dispaneuria.lesi eritema, hiperemis dilabia mayora, dan vagina 1/3 bawah. Dilaporkan satu  kasusseorang wanita. berumur 26 tahun dengan keluhan keputihan pada daerah vagina sertamengalami kegatalan dan rasa nyeri terjadi sejak 2 minggu yang lalu. Pada gambaran klinis tampak dinding vagina eritema, erosi dengan secret putih kental. Pada pengecatan gram darisecret mukosa vagina didapatkan leukosit blastopsora dan pseudohifa. Pemerikaan KOH 10%dari sekret vagina didapatkan blastopore dan pesudohifa.Penanganan yang diberikan adalah obatsistemik dengan flukonazol 1x150 mg dosis tunggal dan topical diberikan ketokenazol cream.Prognosis kasus tersebut adalah baik..
HEMODIALYSIS THERAPY SUSTAINED LOW EFFICIENCY DAILY DIALISIS FOR CHRONIC KIDNEY DESEASE PATIENT IN INTENSIVE CARE UNIT Andry Nicolas, Gede
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no5(2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kidney failure is a clinical condition characterized by an irreversible decline in kidney function, to a degree that requires the permanent renal replacement therapy, in the form of dialysis or kidney transplantation. Dialysis consists of two major categories such as dialysis / hemodialysis intermittent and continuous dialysis / continuous renal replacement therapy (CRRT). SLEDD is the latest technique of renal replacement therapy that uses conventional hemodialysis equipment, but the therapeutic results like continuous dialysis therapy / CRRT were appropriate used in patien with critical ill.
GAMBARAN FAKTOR RISIKO INDIVIDUAL TERHADAP KEJADIAN COMPUTER VISION SYNDROME PADA MAHASISWA JURUSAN TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS UDAYANA TAHUN 2015 Darmaliputra, Kenny; Dharmadi, Made
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan komputer dapat mengakibatkan terjadinya computer vision syndrome (CVS). Faktor individual termasuk salah satu faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya CVS. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran keluhan dan faktor individual yang berhubungan dengan kejadian CVS. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 123 mahasiswa di Fakultas Teknik Jurusan Teknologi Informasi Universitas Udayana. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Data penelitian meliputi keluhan yang dialami, jenis kelamin, jarak pandang, sudut pandang, durasi bekerja di depan komputer, durasi istirahat setelah menggunakan komputer, dan penggunaan kacamata diperoleh dengan wawancara. Hasil analisis ditampilkan dalam bentuk narasi dan tabel. Dari 123 sampel, 74,0% mengalami CVS. Adapun keluhan CVS yang paling banyak dialami adalah mata lelah (91,1%). Selanjutnya didapatkan proporsi kejadian CVS lebih tinggi pada : perempuan (83,3%), jarak pandang kurang dari 50 cm (79,6%), sudut pandang lebih rendah (77%), durasi bekerja di depan komputer lebih dari 4 jam (78,2%), durasi istirahat kurang dari 15 menit (78,3%), dan yang menggunakan kacamata (82,9%). Dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki faktor risiko individual seperti : perempuan, jarak pandang kurang dari 50 cm, sudut pandang lebih rendah, durasi bekerja di depan komputer lebih dari 4 jam, durasi istirahat kurang dari 15 menit, dan yang menggunakan kacamata, memiliki kecenderungan lebih besar untuk mengalami CVS.   Kata kunci: computer vision syndrome, faktor individual, keluhan mata
KARAKTERISTIK PENDERITA SINDROMA KORONER AKUT DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2016 Radisti Diputra, Made Diska; Wita, I Wayan
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sindroma koroner akut (SKA) merupakan dekompensasi jantung akut akibat suplai darah yang mengandung oksigen ke jantung tidak adekuat. Sindroma koroner akut merupakan penyakit penyebab utama kematian di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien sindroma koroner akut di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskritif cross sectional yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar. Data yang diperoleh berupa data sekunder rekam medis pasien periode April 2016 ? Desember 2016. Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki sebanyak 92 pasien (84,4%) dengan rerata usia sebesar 56,42 ± 12,059 tahun. Proporsi jenis SKA yaitu ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI) sebanyak 66 pasien (60,6%), Non-ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) sebanyak 5 pasien (4,6%) dan Unstable Angina Pectoris (UAP) sebanyak 38 pasien (34,9%). Proporsi riwayat penyakit terdahulu yaitu memiliki riwayat hipertensi sebanyak 67 pasien (61,5%), memiliki riwayat Diabetes Mellitus (DM) sebanyak 25 pasien (22,9%), yang memiliki riwayat gangguan fungsi ginjal sebanyak 32 pasien (29,4%). Pasien yang memiliki ketiga riwayat penyakit tersebut sebanyak 8 pasien, sedangkan yang tidak memiliki riwayat penyakit terdahulu sebanyak 27 pasien. Riwayat sosial terbanyak adalah memiliki riwayat merokok sebesar 57 pasien (52,3%) dan tidak memiliki riwayat keluarga sebanyak 95 orang (87,2%). Proporsi terbesar adalah gula darah sewaktu normal (83,5%) dan kadar kolesterol High-Density Lipoprotein (HDL) rendah (52,3%). Keadaan sewaktu pulang terbanyak adalah pulang berobat jalan (88,1%) dengan lama rawatan rerata 5,91 ± 2,459 hari. Kata-kata kunci : Karakteristik Penderita, Sindroma Koroner Akut
PREVALENSI EFEK SAMPING FARMAKOTERAPI TERHADAP PENDERITA SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA BANGLI, PROPINSI BALI Subramaniam, Sharmadave; Sasmita, Ni Putu Suweni; Jaya Lesmana, Cokorda Bagus
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 1 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Schizophrenia is persisting mental illness and need a long-life medication, with psychotic symptoms and loss of specific cognitive functions. This study aims to identify the prevalence of side effects of pharmachotherapy on schizophrenia patients in RSJ Bangli. Forty-two sample was taken from medical record in Asylum of Bali based on the report when patient is admitted to emergency department. The data then extracted into extraction form that is previously made and analyzed with software SPSS 20. The youngest patient is 21 years old. Gender comparison of man 92.9% and woman 7.1%. Patients with unmarried status 59.5%, married patients 35.7% and divorced 4.8%. No widowed and unknown patient found from the data. The side effect of pharmachotherapy includes extrapyramidal syndrome with 14 patients (33.3%), tardive dyskinesia and other tardive syndromes with 18 patients (42.9%), dyslipidemia with 2 patients (4.8%) and insulin resistance and hyperglycemia with 8 patients (19%). In this study, it is found that among 42 patients that is taken randomly, more than 40% has tardive dyskinesia and other tardive syndromes. Other side effects of pharmachotherapy are also varied. Risk factor of older age, greater adiposity, ethnicity could further contribute to the worsen effects of pharmachotherapy in schizophrenia.Keywords: schizophrenia, side effects, pharmachotherapy
GAMBARAN STATUS GIZI SISWA SEKOLAH DASAR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEMBUKU I KABUPATEN BANGLI TAHUN 2015 Suri Jayanti, Ida Ayu Mustika; Weta, Wayan
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malnutrisi masih menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Pada tahun 2014 terdapat 2-3 juta orang mengalami malnutrisi disetiap negara, walaupun malnutrisi tidak secara langsung menyebabkan kematian pada anak, namun malnutrisi dihubungkan dengan penyebab dari 54% kematian pada anak-anak di Negara berkembang pada tahun 2010. Penelitian ini merupakan studi deskriptif cross sectional dengan melibatkan 50 subjek penelitian yang merupakan anak SD 1 Tembuku. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Cara pengumpulan data pada penelitian ini dengan melakukan pengukuran langsung dan juga dilakukan wawancara untuk mengetahui asupan nutrisi serta kebiasaan sarapan siswa. Dari 50 sampel yang terdiri dari 23 siswa laki-laki dan 27 siswa perempuan berusia 7-9 tahun didapatkan 60% siswa memiliki status gizi yang baik, 28% gizi kurang, 4% gizi lebih, dan 8% dengan obesitas. Untuk asupan nutrisi sesuai kebutuhan sebagian besar sampel sudah memenuhi ?70% AKG dengan status gizi terbanyak yaitu status gizi baik sebesar 69%. Untuk  sampel dengan AKG <70% terbanyak pada kelompok status gizi kurang sebesar 52,4%. Tidak terdapat perbedaan proporsi antara siswa dengan gizi baik, gizi kurang maupun gizi lebih antara siswa yang biasa dan tidak biasa melakukan sarapan. 

Page 1 of 93 | Total Record : 929


Filter by Year

2012 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 1 (2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 9 (2019): Vol 8 No 9 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 7 (2019): Vol 8 No 7 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 6 (2019): Vol 8 No 6 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 3 (2019): Vol 8 No 3 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 10 (2019): Vol 8 No 10 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 9 (2018): Vol 7 No 9 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 8 (2018): Vol 7 No 8 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 7 (2018): Vol 7 No 7 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 6 (2018): Vol 7 No 6 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 5 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 3 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 2 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 12 (2018): Vol 7 No 12 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 11 (2018): vol 7 no11 2018 E-jurnal medika udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 1 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 9 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 8 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 7 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 6 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 4 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 2 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 12 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 11 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 10 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 1 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 12 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 11 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 9 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 8 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 6 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 5 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 4 (2016): E-jurnal medika udayana vol 5 no 3(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 2(2016):e-jurnal medika udayana Vol 5 No 10 (2016): E-jurnal medika udayana vol 5 no 1(2016):e-jurnal medika udayana vol 4 no 9(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 8(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 6(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 5(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 3 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 2 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 12(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 11(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 10(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 1 (2015):e-jurnal medika udayana vol 3 no 9 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 8 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 6 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 5 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 4 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 3 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 2 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 11(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 10(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 1 (2014):e-jurnal medika udayana vol 2 no6(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no5(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no4 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no3 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no2 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no1 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 9 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 8 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 7 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 12 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 11 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 10 (2013):e-jurnal medika udayana Vol 1 No 1 (2012): e-jurnal Medika Udayana More Issue