cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
Community Health
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Community Health terbit empat kali setahun, yaitu bulan Januari, April, Juli, dan Oktober. Jurnal CH menerbitkan hasil penelitian mahasiswa yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat seperti kebijakan kesehatan, kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan, gizi kesehatan masayarakat, kesehatan kerja, promosi kesehatan, ekonomi kesehatan, manajemen kesehatan serta ilmu ilmu dasar yang berkaitan seperti bioteknologi kesehatan, biologi molekuler, bioinformatik dan genetik, tanaman, hewan, serta sel yang terkait dengan kesehatan masyarakat.
Arjuna Subject : -
Articles 43 Documents
PENGARUH BAURAN PEMASARAN TERHADAP JUMLAH KUNJUNGAN PASIEN DI POLIKLINIK RAWAT JALAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SANJIWANI GIANYAR Priyanka, I Wayan Arie
Community Health Vol 1 No 2
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.542 KB)

Abstract

Pada tahun 2012, dari 18 Poliklinik yang ada di RSUD Sanjiwani Gianyar 4 diantaranya mengalami penurunan jumlah kunjungan yaitu pada Poliklinik Gigi, THT, Tumbuh Kembang, dan Anak. Penurunan jumlah kunjungan di 4 Poliklinik tersebut kemungkinan disebabkan oleh banyak hal, dan salah satunya kemungkinan disebabkan oleh bauran pemasaran yang diterapkan oleh RSUD Sanjiwani Gianyar. Penelitian ini bertujuan untuk mencari apakah ada pengaruh bauran pemasaran terhadap jumlah kunjungan pasien di Poliklinik Gigi, THT, Tumbuh Kembang, dan Anak. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dengan metode pengumpulan data melalui wawancara menggunakan kuisioner dan studi dokumen terkait jumlah kunjungan pasien. Metode analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan bantuan komputer (Software Analisis) Hasil penelitian menunjukan bahwa dari hasil uji F, bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi, tempat, orang, proses, dan layanan kosumen memiliki pengaruh secara bersama-sama terhadap jumlah kunjungan  baik di Poliklinik Gigi, Poliklinik THT, Poliklinik Tumbuh Kembang, maupun Poliklinik Anak. Sedangkan dari hasil uji t, pada Poliklinik Gigi produk, harga, tempat,orang, proses dan layanan konsumen memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap jumlah kunjungan. Pada Poliklinik THT hanya harga,orang, dan proses yang memiliki pengaruh secara signifikan terhadap jumlah kunjungan. Pada Poliklinik Tumbuh kembang, hanya harga, promosi, orang, dan proses yang memiliki pengaruh secara signifikan terhadap jumlah kunjungan. Pada Poliklinik Anak, hanya harga yang memiliki pengaruh secara signifikan terhadap jumlah kunjungan. Kesimpulan dari penelitian ini, dari hasil uji F bauran pemasaran memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jumlah kunjungan baik di Poliklinik Gigi, THT, Tumbuh Kembang, dan Anak. Sedangkan dari hasil uji t, bauran pemasaran ada yang memiliki pengaruh signifikan, memiliki pengaruh tetapi tidak signifikan, dan ada juga yang tidak memiliki pengaruh terhadap jumlah kunjungan di Poliklinik Gigi, THT, Tumbuh Kembang, dan Anak. Bauran pemasaran perlu mendapat perhatian khusus serta perlu dilakukan upaya-upaya tertentu seperti menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanan, menetapkan tarif yang terjangkau, menjaga dan meningkatkan kualitas SDM, serta memperhatikan ketepatan jadwal pemeriksaan pasien, Sehingga bauran pemasaran dapat memiliki pengaruh yang positif terhadap jumlah kunjungan yaitu meningkatkan jumlah kunjungan.
KINERJA PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) PENDERITA TB PARU BTA+ DI PUSKESMAS I DENPASAR SELATAN TAHUN 2012 Lupitayanti, Luh Endang
Community Health Vol 2 No 1
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.359 KB)

Abstract

Penyakit TB Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Puskesmas I Denpasar Selatan merupakan Puskesmas dengan kejadian TB Paru BTA+ paling tinggi. Hampir semua pasien tuberkulosis mempunyai pengawas menelan obat (PMO). Seharusnya yang menjadi pengawas menelan obat (PMO) adalah tenaga kesehatan, tetapi karena kekurangan tenaga kesehatan, maka sebagian besar dari PMO tersebut adalah keluarga pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kinerja Pengawas Menelan Obat (PMO). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 26 PMO penderita TB Paru BTA+ dan penderita TB Paru BTA+ di Puskesmas I Denpasar Selatan tahun 2012, yang dipilih secara total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan kuesioner kemudian dianalisis secara deskriptif. PMO masing-masing 50% perempuan dan laki-laki. Sebagian besar PMO berpendidikan menengah (76,9%) dan sebagian besar PMO adalah anggota keluarga dari penderita TB Paru BTA+ (88,5%). PMO sebagian besar bekerja sebagai wiraswasta (80,8%) dan rata-rata umur PMO adalah 39 tahun. Tingkat pengetahuan PMO baik. 100% PMO mempunyai pengetahuan yang baik tentang TB Paru. Sebesar 100% PMO mempunyai sikap setuju terhadap perannya dalam keberhasilan pengobatan TB Paru BTA+. Sebesar 19,2% PMO mempunyai kinerja yang baik dan 80,8% mempunyai kinerja yang kurang. PMO yang mengetahui lamanya pengobatan TB Paru 19,00% mempunyai kinerja baik dan PMO yang tidak mengetahui lamanya pengobatan TB Paru 20,00% mempunyai kinerja baik, jadi tidak bermakna karena tidak ada perbedaan proporsi dan secara statistik tidak bermakna ( p =0,937 CI =0,891-0,000 ). Sedangkan PMO yang mengetahui tentang bahaya TB Paru 25,00% mempunyai kinerja baik dan PMO yang tidak mengetahui tentang bahaya TB Paru 10,00% yang mempunyai kinerja baik, jadi bermakna karena ada perbedaan proporsi yaitu 15,00%. Tetapi secara statistik tidak bermakna ( p=0,345 CI =0,347-0,730 ).
HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR MOTIVASI DENGAN MOTIVASI KERJA KARYAWAN DI RUMAH SAKIT UMUM PURI RAHARJA KOTA DENPASAR TAHUN 2013 Pratama, Noviyanti
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.89 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh masih banyaknya karyawan di RSU Puri Raharja yang melakukan tindakan yang melanggar kedisiplinan seperti tingginya tingkat absensi karyawan yang tidak memenuhi standar yaitu kurang dari 160 jam setiap bulan. Hal ini dapat mengakibatkan motivasi kerja dan kinerja karyawan tersebut menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor motivasi kerja yaitu faktor kepuasan kerja, faktor kepemimpinan, faktor kompensasi, dan faktor lingkungan kerja serta mencari hubungan antara variabel tersebut terhadap motivasi kerja karyawan. Penelitian ini dilakukan secara Cross Sectional dengan metode analisis menggunakan Analisis Deskriptif Kuantitatif yaitu Analisis Univariat dan Analisis Bivariat. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 71 orang karyawan, yang terdiri dari tenaga medis, paramedis keperawatan, paramedis non keperawatan dan non medis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebesar 60,6% responden merasa tidak puas terhadap pekerjaannya, sebesar 50,7% responden menyatakan kepemimpinan dalam kategori baik, sebesar 56,3% responden berpendapat bahwa kompensasi dalam kategori tidak baik, sebesar 52,1% responden berpendapat bahwa lingkungan kerja dalam kategori baik, dan sebesar 52,1% responden memiliki motivasi kerja yang rendah. Penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kepuasan kerja dengan motivasi kerja karyawan (OR = 3.941, p = 0.007), kepemimpinan dengan motivasi kerja karyawan (OR = 3.875, p = 0.019), kompensasi dengan motivasi kerja karyawan (OR = 3.377, p = 0.014), dan lingkungan kerja dengan motivasi kerja karyawan (OR = 3.435, p = 0.012). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu kepemimpinan dan lingkungan kerja dalam kategori baik, sedangkan kepuasan kerja dan kompensasi dalam kategori tidak baik dan seluruh variabel memiliki hubungan yang bermakna dengan motivasi kerja karyawan. Saran untuk penelitian ini agar pihak RSU Puri Raharja lebih memperhatikan kepuasan kerja karyawan serta pemberian kompensasi khususnya penghargaan non financial.
THE ANALYSIS OF ABILITY AND WILLINGNESS TO PAY OF INPATIENTS IN KAPAL BADUNG HOSPITAL Waty, Putu Linda Astrini
Community Health Vol 1 No 1
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.086 KB)

Abstract

The Kapal Badung district hospital has become a class C hospital with a status as district public service body since late 2010.  The hospital revenue had increased during year 2009 to 2011, yet the hospital is still subsidized by the government. Therefore, in its development, the hospital is expected to be able to do tariffs improvement, which is influenced by ability and willingness to pay for health care. The aim of this research is to measure the ability and willingness to pay of inpatient services in the Kapal Badung Hospital. This research was descriptive which describes ability and willingness to pay of inpatients in the Kapal Badung Hospital. The design employed in this research was cross-sectional in which the measurement was conducted at a point in time. The number of sample in this research was 261 persons. The average of third class patients? willingness to pay was Rp. 279.985; second class was Rp. 297.995; first class was Rp. 443.557, and VIP class was Rp. 950.796. Meanwhile, the ability to pay of the third class patients was Rp. 22.777; second class was Rp. 42.500; first class was Rp. 42.500, and VIP class was Rp. 241.667. Generally, the ability to pay of the first, second, third and VIP classes were higher than the prevailing tariffs. Community?s willingness to pay for in-patient services in the Kapal Badung Hospital for the second, third and VIP classes were lower than tariffs, nevertheless the willingness to pay of the first class patients was higher than the prevailing tariff.
KELUHAN KESEHATAN DAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PADA PEKERJA TUKANG SUUN DI PASAR BADUNG TAHUN 2013 Yanti, Ni Ketut Dewi
Community Health Vol 2 No 1
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.188 KB)

Abstract

Peranan sektor informal saat ini menjadi sangat penting dalam penyerapan tenaga kerja, mengingat sektor informal mampu menyerap banyak tenaga kerja tanpa menuntut adanya tingkat keterampilan yang tinggi. Khususnya di Kota Denpasar, penyerapan tenaga kerja di sektor informal dapat ditemukan di Pasar Badung, terlihat dengan banyaknya keberadaan penyedia jasa buruh angkut barang atau sering disebut sebagai tukang suun. Pekerjaan di sektor informal khususnya sebagai buruh angkut biasanya kurang memberikan jaminan perlindungan secara hukum dan jaminan kesejahteraan yang memadai di samping kondisi kerja yang memprihatinkan serta pendapatan yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran status sosial ekonomi dan kesehatan pekerja tukang suun di Pasar Badung. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan pendekatan crossectional, dimana jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 52 orang tukang suun di Pasar Badung. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik sampling stratified proporsional random sampling. Status sosial ekonomi pekerja tukang suun dilihat dari kategori pendidikan dan penghasilan, masih tergolong rendah. Alasan sebagian besar responden bekerja sebagai tukang suun adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan berusaha ingin mencari uang sendiri. Dilihat dari beban kerja responden, sebanyak 45 (86,5%) responden baik pada anak-anak maupun dewasa mengangkut beban >25 Kg. Keluhan kesehatan yang banyak dirasakan responden adalah pusing (62,3%) yang selanjutnya diikuti dengan keluhan sakit pada bagian leher dan pinggang (88,5%). Pihak PD. Pasar Kota Denpasar Unit Pasar Badung diharapkan untuk melarang atau mengurangi keberadaan pekerja anak di Pasar Badung. Selain itu ke depannya dapat membantu menyediakan sarana dan prasarana guna memberikan kesempatan kepada tukang suun khususnya anak-anak dalam hal bermain dan belajar melalui kerjasama dengan Yayasan Lentera Anak Bali (LAB). Untuk menjamin kesehatan pekerja secara umum, pihak PD. Pasar Kota Denpasar Unit Pasar Badung dapat melakukan pengaturan serta pengawasan terhadap ukuran keranjang dan berat beban angkut pekerja tukang suun agar tidak melampui batas pengangkutan serta dapat bekerjasama dengan Puskesmas beserta Yayasan Rama Sesana (YRS) dalam hal pemberian program edukasi serta pelayanan kesehatan.
STUDI PERENCANAAN FASILITAS PENGELOLAAN SAMPAH (MATERIAL RECOVERY FACILITY) SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI KUALITAS PENGELOLAAN SAMPAH DI KAMPUS SUDIRMAN UNIVERSITAS UDAYANA Mulyanto, Adi
Community Health Vol 1 No 2
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.763 KB)

Abstract

Permasalahan sampah yang banyak melanda kota-kota di Indonesia sering disebabkan oleh sistem pengolahan secara konvensional yaitu kumpul - angkut - buang, tanpa ada proses pengurangan dan pemanfaatan kembali sampah yang dibawa ke TPA. Salah satu upaya mengurangi volume sampah yang dibawa ke TPA adalah dengan mengubah fungsi dari TPS menjadi Fasilitas Pengelolaan Sampah (FPS). Untuk membuat perencanaan FPS di Kampus Sudirman Universitas Udayana, maka perlu menganalisis volume sampah, berat sampah dan potensi nilai ekonomi sampah tersebut. Dari hasil analisis tersebut diperoleh hasil rata-rata volume sampah sebesar 4,91 m3/hari, berat sampah sebesar 270,82 kg/hari dan potensi nilai ekonomi sampah yang dapat didaur ulang sebesar Rp. 15.785.820,00/tahun. Hasil analisis tersebut merupakan acuan untuk membuat desain FPS yang nantinya dapat dikelola dengan baik sesuai prosedur yang berlaku dan memperhatikan setiap komponen yang dibutuhkan, perhitungan besar lahan sortir dan gudang serta jumlah pekerja dan peralatan yang digunakan dalam opersional FPS. Analisis keuangan FPS yang dilakukan menghasilkan nilai Net Present Value (NPV) sebesar -Rp. 110.561.453 juta rupiah dengan nilai Oppurtunity Cost of Capital (OCC) 12%, Internal Rate of Return (IRR) sebesar -366,58 %, dan Benefit/Cost Ratio sebesar 0,36. Proyek FPS ini tetap dapat dilaksanakan karena bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan lingkungan.
HUBUNGAN ANTARA FAKTOR-FAKTOR KEINGINAN BERPINDAH KARYAWAN DI RUMAH SAKIT BALIMéD TAHUN 2013 Satrigraha, Ni Nyoman Tarita Wijayanti
Community Health Vol 2 No 1
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.911 KB)

Abstract

Peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit sangat ditentukan oleh SDM (Sumber Daya Manusia) di dalamnya. Untuk itulah rumah sakit harus mempertahankan SDM agar tidak berdampak pada keluarnya karyawan. Keluarnya karyawan dapat menyebabkan kerugian biaya, waktu dan tenaga bagi pihak rumah sakit. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah  proportionate stratified random sampling dan simple random sampling. Jumlah populasi dalam penelitian ini yaitu 425 karyawan. Dari teknik sampling yang digunakan didapatkan sampel sebanyak 81 karyawan yang terdiri dari karyawan medis dan nonmedis. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat. Analisis univariat berguna untuk melihat gambaran kepuasan kerja, kepuasan gaji, komitmen organisasional dan keinginan berpindah. Sedangkan analisis bivariat berguna untuk melihat ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar karyawan di Rumah Sakit BaliMéd memiliki kepuasan kerja yang rendah yaitu sebesar 51,9%, kepuasan kerja tinggi yaitu sebesar 48,1%, kepuasan gaji rendah yaitu sebesar 60,5%, kepuasan gaji tinggi yaitu sebesar 39,5%, komitmen organisasional rendah yaitu sebesar 75,3%, komitmen organisasional tinggi yaitu sebesar 24,7%, memiliki keinginan berpindah yaitu sebesar 53,1% dan tidak memiliki keinginan berpindah yaitu 46,9%. Penelitian ini juga menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara kepuasan kerja dengan keinginan berpindah (nilai p = 0,020 dan nilai OR = 3,200 (95% CI: 1,288-7,948)). Dan untuk variabel kepuasan gaji didapat bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepuasan gaji dengan turnover intention karyawan di Rumah Sakit Baliméd (nilai p = 0,041 dan nilai OR = 2,870 (95% CI: 1,142-7,215)). Serta untuk variabel komitmen organisasional didapatkan hasil bahwa ada hubungan yang signifikan antara komitmen organisasional dengan turnover intention karyawan di Rumah Sakit Baliméd (nilai p = 0,005 dan nilai OR = 2,674 (95% CI: 0,935-7,650)). Simpulan dari penelitian ini yaitu variabel komitmen organisasional mempunyai hubungan yang paling kuat dengan variabel keinginan berpindah jika dibandingkan dengan variabel kepuasan kerja dan kepuasan gaji. Dan saran bagi Rumah Sakit BaliMéd yaitu lebih menjaga agar suasana dalam lingkungan kerja tetap nyaman dan tentram serta memperhatikan hak karyawan yaitu gaji dan tunjangan.
LAMA RAWAT INAP PENDERITA DIARE AKUT PADA ANAK USIA DI BAWAH LIMA TAHUN DAN FAKTOR YANG BERPENGARUH DI BADAN RUMAH SAKIT UMUM TABANAN TAHUN 2011 Widiantari, Gusti Ayu Dewi
Community Health Vol 1 No 1
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.172 KB)

Abstract

The purpose of this study was to determine the average length of stay (ALOS) of acute diarrhea among children under five years old as well as identify factors that influence it. This study uses a retrospective cohort design, where 147 acute diarrhea patients under five years old in BRSU Tabanan during January-June 2011 was defined as the cohort members and 101 out of them was selected randomly as the study samples. Secondary data was collected by reviewing medical records of a sample file. Then analyzed using  survival analysis with the Life Table method, Kaplan-Meier and Cox regression. The study results indicate that the ALOS of acute diarrhea among children under five years old was 103 (CI 95%: 94.5-112.1) hours. The ALOS among infant and patients with severe dehydration were108.2(CI 95%: 95.5-120.1) and 157.2(CI(95%:132.4-181.9) hours respectively. Infant and severe dehidration significant effect on the length of stay of acute diarrhea in children under five years old with HR = 2.02(95%CI:1.5-3.9) and 12.2(95% CI: 5.1-29.2) respectively. The ALOS of acute diarrhea  in children under five years old at Tabanan BRSU was 103 hours, it was exceed WOH standards are set for four days. Severe dehidration and age under 12 years old effect on the length of stay. It is advisable for management to improve the quality of hospital inpatient services to conform to standards established by WHO
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU BERSALIN PENGGUNA JAMPERSAL DENGAN SIKAP TENTANG PROGRAM JAMPERSAL DI UNIT PELAKSANA TEKNIS KESEHATAN MASYARAKAT UBUD I Puspadewi, Ni Nyoman
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.34 KB)

Abstract

Dalam upaya mendukung penurunan AKI dan AKB dan untuk mempercepat pencapaian sasaran Millennium Development Goals (MDGs). Kementerian Kesehatan Indonesia telah meluncurkan kebijakan Jaminan Persalinan (Jampersal) pada tahun 2011. Dalam pelaksanaannya masih banyak masyarakat khususnya ibu yang ingin bersalin belum mengerti tentang program Jampersal. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah khususnya yang dilakukan di wilayah Unit Pelaksana Teknis Kesehatan Masyarakat Ubud I melalui bidan desa dan tenaga kesehatan yang lain dan salah satu faktor yang menyebabkan adalah tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat itu sendiri mengenai program Jampersal. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional yang dilakukan di Unit Pelaksana Teknis Kesehatan Masyarakat Ubud I pada bulan April ? Mei 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu bersalin pengguna Jampersal di Unit Pelaksana Teknis Kesehatan Masyarakat Ubud I, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah ibu bersalin dengan kriteria inklusif dan eksekusi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah consecutive sampling, sehingga jumlah sampel menjadi 64 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebar kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan pada kelompok umur 20 sampai 35 tahun memiliki persentase tertinggi pada tingkat pengetahuan baik yaitu sebesar 21,43 %. Berdasarkan distribusi tingkat pengetahuan responden menurut tingkat pendidikan terakhir, persentase tingkat pengetahuan baik terdapat pada ibu bersalin yang berpendidikan diploma/sarjana sebesar 85,71 %. Persentase pengetahuan dengan kategori baik cenderung dimiliki oleh responden yang bekerja sebesar 28,57%. Ditinjau dari tingkat penghasilan responden diperoleh data persentase tertinggi dengan kategori pengetahuan baik adalah responden yang memiliki penghasilan Rp. 1.500.000,- sampai dengan Rp. 2.500.000,- yaitu sebesar 34,38 %. Ibu bersalin yang mempunyai sikap cukup sebesar 78,13 %, sikap kurang sebesar 21,88 % serta tidak ada yang memenuhi kriteria sikap baik. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu bersalin pengguna Jampersal dengan sikap tentang program Jampersal. Dari hasil penelitian diharapkan ada sosialisasi lebih lanjut dan peningkatan persuasif tentang pelaksanaan program Jampersal dari Unit Pelaksana Teknis Kesehatan Masyarakat Ubud I kepada masyarakat khususnya ibu bersalin, sehingga peserta merasa nyaman dan puas jika memanfaatkan Jampersal.
ANALISIS KEMAMPUAN DAN KEMAUAN MEMBAYAR PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGASEM TAHUN 2013 Juliasih, I Gusti Ayu
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.671 KB)

Abstract

Penetapan  tarif  di  RSUD  Karangasem  terdapat  pada  Peraturan  Bupati Karangasem  berdasarkan studi penghitungan biaya satuan,  survey  kemampuan    dan kemauan  membayar  pada  instalasi  rawat  inap  tahun  2008.  Adanya  inflasi  setiap tahun  serta  perubahan  selera  masyarakat   maka  studi  ini  perlu  diperbaharui  lagi dengan  menganalisis  kemampuan  dan  kemauan  membayar  pasien  rawat  inap  di RSUD Karangasem. Studi   ini  juga  bermanfaat untuk melihat  masyarakat pengguna jaminan  kesehatan  dalam  hal  kepesertaannya  Penelitian  ini  bertujuan  mengetahui kemampuan dan kemauan membayar pasien rawat inap di RSUD Karangasem. Metode  pengambilan  sampel  dalam  penelitian  ini  menggunakan  teknik proportionate stratified random  sampling  dan consecutive  sampling  dengan sampel 106  orang.  Penelitian  ini  merupakan  penelitian  deskriptif  kuantitatif  dengan rancangan penelitian cross sectional. Hasil  penelitian menunjukkan  kemampuan membayar pasien rawat inap kelas VIP  A  untuk  tiga  hari  rawat  inap  hampir  separuhnya  pada  kisaran  di  atas  Rp.700.000 ? Rp. 1.200.000 dan  lebih dari Rp. 1.200.000 ? Rp. 2.000.000 yaitu masingmasing  5  orang  (33,3%),  kemampuan  membayar  pasien  kelas  VIP  B  adalah  Rp.854.800,  kemampuan  membayar  pasien  di  kelas  II  adalah  Rp.  1.809.000, kemampuan  membayar  pasien  kelas  III  hampir  separuhnya  pada  kisaran  Rp.300.000-Rp 700.000 yaitu 41 orang (46,1%). Kemauan membayar pasien  rawat inap kelas  VIP  A  hampir  separuhnya   memilih  pilihan  B  (Rp.  178.000)  yaitu  7  orang (46,7%),  pasien  kelas  VIP  B  memilih  pilihan  B  (Rp.  126.000),  pasien  kelas  II memilih  pilihan  B  (Rp.  45.000)  dan  kemauan  membayar  pasien  kelas  III  hampir seluruhnya memilih pilihan C (Rp. 23.000) yaitu 75 orang (84,3%). Simpulan  penelitian  ini  adalah  sebagian  besar  pasien  rawat  inap  memiliki kemampuan membayar lebih tinggi dari kemauan membayar serta tarif yang berlaku saat ini. Saran yang dapat diberikan adalah p ihak  rumah sakit sebaiknya  melakukan survey kemampuan dan kemauan membayar secara berkala sebagai masukan dalam penetapan  tarif  selanjutnya  sesuai  dengan  fluktuasi  inflasi  biaya  kesehatan.  Bagi pihak  penyelenggara  jaminan  kesehatan  dapat  mempertimbangkan  sistem  premi sebagai upaya untuk mengikutsertakan masyarakat berpartisipasi dalam pembiayaan kesehatan.