cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT (Jurnal Ilmu & Manajemen Perairan)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Aquatic Science & Management (ASM) adalah Jurnal Ilmu dan Manajemen Perairan yang menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian yang telah dikaji oleh Mitra Bestari (blind peer reviewers) berdasarkan kajian ilmiah yang mendalam dalam bidang ilmu dan manajemen perairan, meliputi aspek limnologi, oseanografi, ekotoksikologi, geomorfologi, perikanan, dan manajemen pesisir, serta interaksi antara bidang ilmu tersebut. Jurnal ASM (JASM) diterbitkan dalam bentuk edisi reguler (April dan Oktober) melalui media cetak (ISSN 2337-4403) dan media online (e-ISSN 2337-5000) menggunakan sistem penerbitan terbuka, dan edisi khusus berdasarkan topik yang dipilih sesuai keperluan. Jurnal ini menerima naskah dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Arjuna Subject : -
Articles 100 Documents
THE YIELD, NITROGEN CONTENT, AND DYE’S BINDING CAPACITY OF CHITIN AND CHITOSAN OF ROTIFER BRACHIONUS ROTUNDIFORMIS Modaso, Riny; Suryanto, Edi; Tallei, Trina; Rumengan, Inneke F.M
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2286

Abstract

Chitin and chitosan from rotifer have not been previously explored due to the problem of high biomass required for extraction. This study aimed to obtain the chitin yield from rotifer biomass produced in mass culture, and to characterize the basic properties of chitin and chitosan, especially, nitrogen content and dye binding capacity. Methods of extraction and deacetylation of chitin were adopted from Chandumpai et al. (2004) with modification. The nitrogen content was analyzed using the semi-micro Kjeldahl method (AOAC, 1984), and dye binding capacity using the method developed by Cho et al. (1998). Results show that the yield of chitin obtained from the rotifer sample was relatively small (4.64%), and the yield of chitosan was even smaller, only 2,62%. The proportion of chitosan over chitin was 52,4%. The nitrogen content of chitin and chitosan of rotifer were 4.23 to 4.36% and 7.12-7.23%, respectively. The capacity of chitin to maintain the bonded dye was relatively stronger than that of chitosan, but the chitosan had higher capacity to absorb the dye. The characterization of other important properties of chitin and chitosan to be developed as biopolymer for industry is further aspects to be assessed© Eksplorasi kitin dan kitosan dari rotifer belum pernah dilakukan sebelumnya karena dihadapkan pada permasalahan kebutuhkan biomassa yang banyak. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh rendemen kitin dari biomassa rotifer hasil kultur massal, dan menjajaki karakterisasi awal sifat fisika kimia kitin yang mendasar yaitu daya ikat zat warna dan kadar nitrogen. Ekstraksi kitin dan kitosan dilakukan berdasarkan metode Chandupai et al. (2004), kadar nitrogen menggunakan metode semi-micro Kjeldahl (AOAC, 1984), dan daya ikat zar warna ditentukan menurut metode Cho et al. (1998). Dari penelitian ini, rendemen kitin yang diperoleh dari hasil ekstraksi relatif kecil berkisar 4,64 %, dan rendemen kitosan bahkan lebih kecil lagi hanya 2,62%. Proporsi kitosan dari kitin yaitu 52.4 %. Kadar nitrogen pada kitin rotifer berkisar 4,23-4,36 % dan kitosan berkisar dari 7,12-7,23%. Kitin memiliki sifat yang lebih baik dalam ketahanan untuk mengikat zat warna sebaliknya kitosan memperlihatkan sifatnya yang dapat mengikat zat warna dalam tingkat adsorpsi yang tinggi dibanding kitin. Karakterisasi  sifat fisika kimia kitin dan kitosan yang penting lainnya untuk pengembangannya sebagai biopolimer dalam skala industri, merupakan aspek-aspek yang perlu dikaji lebih lanjut©
THE EFFECTS OF STIMULANT GROWTH HORMONES ON TISSUE CULTURE OF SEAWEED KAPPAPHYCUS ALVAREZII IN VITRO Fadel, Ariyati H; Gerung, Grevo S; Suryati, Emma; Rumengan, Inneke F.M
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2282

Abstract

In order to anticipate the qualified and sustainable seed requirement for seaweed culture, it is necessary to conduct tissue culture for vegetative cultivation of isolated leaves, bud, and stemin an artificial medium enriched with nutrient and growth regulator. The purpose of this study is to obtain newly grown plant in a big quantity in relatively short period of time, with physiological and morphological properties similar to the stocks. Culture media used were Grund Medium and PES with an addition of a growth regulator, IAA (Indol acetic acid) and BAP (Benzil amino purin). The buds produced were buds with similar properties as the parent. The longest bud (1,851 mm) was obtained in Grund Medium with IAA treatment, while the length of bud in PES medium was only 0.612 mm. The number of buds was highest (10,6)  in Grund media with IAA+BAP (1:1) treatment, and 6,82 with IAA treatment in PES media. The survival rate of explants was highest in media enriched with 0.5 mg/L IAA (indol acetic acid). The best media for growing seaweed Kappaphycus alvarezii was Grund Medium© Untuk mengantisipasi kebutuhan bibit yang berkualitas dan tersedia  secara kontinyu, diperlukan suatu upaya kultur jaringan untuk perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta batang dalam media buatan secara aseptik yang diperkaya dengan nutrien dan zat perangsang tumbuh. Tujuannya untuk mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, yang mempunyai sifat fisiologi dan morfologis sama dengan tanaman induknya. Media kultur yang digunakan adalah media Grund Medium dan PES dengan penambahan zat perangsang tumbuh yaitu IAA (Indol acetic acid) dan BAP (Benzil amino purin). Tunas yang dihasilkan merupakan anakan yang mempunyai sifat yang sama dengan induknya.  Panjang tunas tertinggi dicapai pada media Grund Medium dengan perlakuan IAA (1,851 mm) dan media PES sebesar 0,612 mm. Sedangkan jumlah tunas tertinggi dicapai perlakuan IAA+BAP (1:1) sebesar 10,6 pada media Grund dan perlakuan IAA sebesar 6,82 pada media PES. Untuk tingkat kelangsungan hidup (sintasan) eksplan yang paling baik pada media yang diberikan pupuk IAA (indol acetic acit) dengan kosentrasi 0,5 mg/L. sedangkan media yang baik untuk pertumbuhan rumput laut Kappaphycus alvarezii adalah media Grund Medium©
STRATEGIC PLAN FOR THE WORKING AREA DEVELOPMENT OF FISHING PORT FOR OPTIMUM SERVICES Watung, Franky Y.; Masengi, K.W.A.; Dien, Heffry V.
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 4, No 2 (2016): Oktober
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.4.2.2016.14446

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Rencana strategis pengembangan wilayah kerja pelabuhan perikanan untuk mendukung operasional pelabuhan secara optimal This study examines the working area development of fishing port to support optimal operations and services. The purpose of this study is to examine the working area coverage in  ??the sea and land operations based on the ratio conditions of spatial utilization and sea operation in 2025, and to examine the implementation of IIU Fishing control in the fishing port and the carrying capacity of the port, based on the provisions of Ocean Fishery Port class. This study included primary and secondary data. The former was collected through interviews using questionnaires. The analysis applied SWOT, starting with identification of internal and external factors. Results found several development strategies including fishing port working area development of Bitung Fishing Port, fishermen?s residential area development, inter-sectoral coordination synergy, raw material availability for strengthening fisheries industries, sustainable and responsible fish resources management, human resources capacity building, law enforcement, information technology applications, standard dock development, and regulation consolidation. Penelitian ini mengkaji pengembangan wilayah kerja pelabuhan perikanan untuk mendukung operasional dan pelayanan pelabuhan secara optimal. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji luas wilayah kerja operasional laut dan daratan berdasarkan kondisi rasio pemanfaatan ruang wilayah kerja dan operasional laut pada tahun 2025, mengkaji kondisi pelaksanaan pengendalian IIU Fishing di pelabuhan perikanan dan kondisi daya dukung dermaga, yang disesuaikan dengan ketentuan kelas Pelabuhan Perikanan Samudera. Data diperoleh dengan metode wawancara menggunakan kuisioner. Data sekunder juga digunakan dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan analisis SWOT, dengan langkah awal mengidentifikasi faktor internal dan eksternal. Hasil yang diperoleh berupa strategi pengembangan, antara lain, memperluas WKOPP PPS Bitung, menetapkan kawasan pemukiman nelayan, sinergitas koordinasi antar sektor, penguatan ketersediaan bahan baku industri perikanan, pengelolaan sumber daya ikan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, penguatan kompetensi sumber daya manusia, penegakan hukum, aplikasi teknologi informatika, pengembangan dermaga sesuai standar, dan konsolidasi regulasi.
ANTIBACTERIAL SUBSTANCES OF SPONGES, AGELAS TUBULATA AND PHYLLOSPONGIA SP., FROM MANADO BAY, AGAINST THE GROWTH OF SEVERAL BACTERIAL STRAINS Undap, Nani I.J; Sumilat, Deiske A; Bara, Robert
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 5, No 1 (2017): APRIL
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.5.1.2017.24253

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Senyawa antibakteri spons, Agelas tubulata dan Phyllospongia sp., dari Perairan Teluk Manado, terhadap pertumbuhan beberapa strain bakteri Agelas tubulataand Phyllospongiasp. are marine spongethat contain active compoundsthat have potential to beantibacterial, anticancer and antifungal which have not been used. This study was aimed to examine the sponge extracts which inhibitbacterial growth, i.e. Pseudomonas aeruginosa, Proteus mirabilis, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, S. saprophyticus andtoanalyze the active fraction of the antibacterial component using bio-autographic method. Agelas tubulataand Phyllospongiasp. were collected from Manado Bayand method used in the study was Agar Diffusion Method. Results showed that A. tubulataand Phyllospongiasp. extract had antibacterial activity against all 5 bacteria tested. A. tubulataextract had inhibition zone withbroader spectrum than that of Phyllospongiasp. extract, while Phyllospongiasp. has specifity forP. mirabilis.Agelas tubulata danPhyllospongia sp. merupakan spesies spons laut yang mengandung senyawa aktif yang berpotensi antibakteri, antikanker dan antijamur yang belum banyak dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ekstrak spons laut yang menghambat pertumbuhan 5 bakteri yaitu Pseudomonas aeruginosa, Proteus mirabilis, Staphylococcus aureus, Eschericia colidan Staphylococcus saprophyticus dan menganalisis fraksi aktif antibakteri melalui teknik bioautografi. Spesies spons laut A. tubulata dan Phyllospongiasp. diambil dari Perairan Pantai Malalayang Manado. Metode yang digunakan yaitu metode difusi agar. Hasil dari penelitian ini, yaitu ekstrak A. tubulatadan Phyllospongiasp. mempunyai aktivitas terhadap 5 bakteri uji. EkstrakA. tubulatamemiliki daya hambat dengan spektrum yang lebih luas dibandingkan ekstrak Phyllospongiasp.sedangkanekstrak Phyllospongia sp.memiliki spesifitas terhadap bakteri P. mirabilis.
VIABILITY OF TUMPAAN-STRAINED ROTIFERS, BRACHIONUS ROTUNDIFORMIS, AT DIFFERENT SALINITIES Asy'ari, Asy'ari; Kaligis, Erly; Wullur, Stenly; Rimper, Joice
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 2, No 1 (2014): April
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.2.1.2014.12390

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Viabilitas rotifer Brachionus rotundiformis strain tumpaan pada salinitas berbeda The purpose of the research was to analyze the viability of eggs of Tumpaan-strained rotifer, Brachionus rotundiformis, at different salinities (10 and 20 ppt). Rotifer collection was done in the area of reclamation plan and household wastewater disposal located in the coastal village of Tumpaan 1, South Minahasa Regency. At the time of sample collection, water quality parameters of the sampling site were also measured. After multiplication through clone culture in the salinity of 10 ppt and 20 ppt, the viability of the rotifer was then tested by daily observing the number of live rotifers, the number of eggs carried and the number of youngsters produced. The data were then calculated using the life table method. Results showed that water quality of the rotifer collection site is suitable for the rotifer to live. The rotifers held in 10 ppt salinity had higher survivorship and population growth (fertility rate and Ro) than those in 20 ppt salinity. This reflects that beside the quality of feed, rotifer growth is affected by salinity as well. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis viabilitas tetasan telur dari rotifer Brachionus rotundi-formis strain Tumpaan pada salinitas berbeda (10 dan 20 ppt). Pengambilan rotifer dilakukan di suatu areal rencana reklamasi dan tempat pembuangan penelitian air limbah rumah tangga bertempat di pesisir Desa Tumpaan Satu Kabupaten Minahasa Selatan. Pada saat pengambilan hewan uji, parameter kualitas air di lokasi sampling juga diukur. Setelah diperbanyak dengan kultur klon pada salinitas 10 dan 20 ppt, rotifer kemudian diuji viabilitas dengan melakukan pengamatan setiap hari data jumlah rotifer yang hidup, jumlah telur yang dibawah dan jumlah anak yang dihasludgean. Data kemudian dihitung menggunakan metode life table.Hasil pengukuran kualitas air dari perairan tempat pengambilan rotifer termasuk layak untuk kehidupan rotifer. Rotifer yang diuji pada salinitas 10 ppt memiliki kemampuan hidup serta pertumbuhan populasi (nilai Ro dan laju fertilitas) lebih tinggi dibandingkan pada salinitas 20 ppt. Hal ini menunjukkan bahwa selain kualitas pakan, pertumbuhan rotifer juga dipengaruhi oleh salinitas.
EFFECT OF EXTRACTED SEAWEED WITH ICE, CAULERPA RACEMOSA, IN DIFFERENT CONCENTRATIONS OF THE QUALITY OF SCAD FISH (DECAPTERUS SP.) Serpara, Saul A; Suwetja, I K; Berhimpon, S; Montolalu, Roike I
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 1, No 2 (2013): Oktober
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.1.2.2013.7277

Abstract

This research aims to determine the effect of Caulerpa racemosa seaweed extract-ice to the quality of scad fish  (Decapterus spp.). The quality was measured by Total Volatile Bases (TVB-N), pH, and Total Plate Count (TPC), using 2 (two) treatments: seaweed extract concentration ( 75%, 50%, 25%, and 0%) and storage time (0, 5, 10, 15, and 20 days). The results showed that the TVB-N values ranged from 28.98 mg N/100 g (extract conc. 75%) to 34.34 mg N/100 g (extract conc. 0%) for the 20 days. The highest pH values for 20 days were obtained by concentration  0% i.e. 6.39, followed by 50% (6.34), 25% (6.31) and 75% (6.25). The highest TPC value at the 20th day was 8.1 x 106 cfu/g for 0% and the lowest was 3.1 x 103 cfu/g for 75%. Analysis of variance showed that the interaction of Caulerpa racemosa seaweed extract ice concentration and storage time has a significant effect on TVB-N, pH, and TPC value of scad fish. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan es ekstrak rumput laut Caulerpa racemosa terhadap mutu ikan layang (Decapterus sp.), melalui uji Total Volatile Base (TVB-N), pH, dan Total Plate Count (TPC) dengan menggunakan dua perlakuan yaitu persentase ekstrak rumput laut (A): 75%, 50%, 25%, 0% dan lama penyimpanan (B): 0 hari, 5 hari, 10 hari, 15 hari, dan 20 hari. Nilai TVB-N berkisar antara 28,98 mg N/100 g (75%) sampai 34,34 mg N/100 g (0%) pada hari ke-20. Nilai pH tertinggi pada hari ke-20 diperoleh dengan perlakuan es ekstrak rumput laut 0% yaitu 6,39, diikuti dengan perlakuan 50% (6,34), 25% (6,31), dan 75% (6,25). Nilai TPC ikan layang tertinggi pada hari ke-20 adalah 8,1 x 106 cfu/g dengan perlakuan 0% es ekstrak rumput laut dan terendah yaitu 3,1 x 103 cfu/g pada perlakuan es ekstrak rumput laut 75%. Analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa nilai TVB-N, pH, dan TPC menggunakan persentase es ekstrak rumput laut dan lama penyimpanan serta interaksi antara keduanya memberikan pengaruh yang sangat nyata.
A STUDY ON BIOECOLOGY OF MACROALGAE, GENUS CAULERPA IN NORTHERN MINAHASA WATERS, NORTH SULAWESI PROVINCE Pulukadan, Irma; Keppel, Rene Ch; Gerung, Grevo S
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 1, No 1 (2013): April
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.1.1.2013.1965

Abstract

Alga is a marine resource of potential to fisheries and marine sector. It has an important economic value to promote the economy in Indonesia. Nowdays, algae have been used as a relatively high value fisheries commodity since it has been used for food, industrial, pharmaceutical and cosmetic raw materials. This important potential needs to be supported with understanding of its biology and ecology, so that its utilization could increase the livelihood of the coastal villagers. This study was aimed at inventorying and identifying the members of genus Caulerpa found in North Minahasa Regency waters and studying some biological and ecological aspects of the algae in the area. Resuls showed that there were 7 species recorded, Caulerpa racemosa, C. racemosa var. macrophysa, C. sertularioides, C. taxifolia, C. serrulata,C. lentillifera and C. peltata. Ecologically, the environmental parameters, such as water temperature, salinity, pH, dissolved oxygen, turbidity, were in tolerable ranges for algal growth. Bottom substrate supported the growth of genus Caulerpa as well© Saat ini alga dijadikan sebagai komoditas hasil perikanan dengan nilai ekonomis yang relatif tinggi karena manfaatnya sebagai bahan makanan serta bahan baku industri, farmasi, dan kosmetik. Potensi yang cukup penting ini harus ditunjang dengan ilmu pengetahuan tentang biologi dan ekologi dari alga laut, sehingga pemanfaatannya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir. Penelitian tentang kajian bioekologi alga makro genus Caulerpa di perairan Minahasa Utara ini dilaksanakan dan diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang bioekologi alga makro genus Caulerpa, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pemanfaatan bagi kepentingan masyarakat pesisir khususnya dan industri alga makro umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi alga makro genus Caulerpa di perairan Kabupaten Minahasa Utara, dan mengkaji aspek bioekologinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 7 spesies, yaitu Caulerpa racemosa, C. racemosa var. macrophysa, C. sertularioides, C. taxifolia, C. serrulata, C. lentillifera dan C. peltata. Parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, tingkat kecerahan air berada pada kisaran yang dapat ditolerir untuk pertumbuhan alga makro, sedangkan substrat juga mendukung pertumbuhan alga makro ini©
ANALYSIS OF GROWTH AND QUALITY OF SEAWEED CARRAGEENAN KAPPAPHYCUS ALVAREZII IN DIFFERENT LOCATIONS ON THE BANGGAI’S WATERS, CENTRAL SULAWESI Sangkia, Frederik Dony; Gerung, Grevo S; Montolalu, Roike I
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 6, No 1 (2018): April
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.6.1.2018.24812

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Analisis pertumbuhan dan kualitas karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii pada lokasi berbeda di Wilayah Perairan Banggai ProvinsiSulawesi Tengah Seaweed is a potential of coastal resources. Carrageenan is a polysaccharide extracted from seaweed or some species of red algae (Rhodophyceae). Seaweed growth is strongly influenced by two factors: internal and external factors. But twthat determine the success of the seaweed growth is the management carried out by people working on it. Banggai Regency is one of the largest seaweed production centers in Central Sulawesi. The main objective of this studyis toexamine the potential of seaweed cultivation (Kappaphycus avarezii) by looking at the growth and the carrageenan, inBanggai waters, Central SulawesiProvince. The temperature range obtained during this study r25to 31ºC. The results of carrageenananaliysis wasvery different due to differences inlocation, showed by content.  The highest and lowest ashcontentwere obtained from two locations, 1,8% (Jayabakti) and 2.8% (Liang), respectively.Rumput laut merupakan sumberdaya pesisir yang sangat potensial. Karagenan merupakan polisakarida yang diekstraksi dari beberapa spesies rumput laut atau alga merah (rhodophyceae). Pertumbuhan rumput laut sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Namun yang sangat menentukan keberhasilan pertumbuhan rumput laut yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh manusia. Kabupaten Banggai merupakan salah satu sentral produksi rumput laut terbesar di Sulawesi Tengah. Tujuan utama penelitian ini mengkaji tentang potensi budidaya rumput laut (Kappaphycus alvarezii) yang dikembangkan dengan melihat pertumbuhan dan analisis karaginannya di perairan Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah. Kisaran suhu yang didapat selama penelitian ini adalah berkisar 25?31ºC. Hasil analisa rendemen karagenan ini sangat berbeda yang disebabkan oleh perbedaan lokasi memberikan pengaruh nyata terhadap kandungannya. Nilai kadar abu tertinggi dan terendah berturut-turut yang di peroleh dari kedua lokasi ini adalah 1,8% (Jaya Bakti) dan 2,8% (Liang).
STUDY ON BOAT RESISTANCE OF SEVERAL FIBERGLASS REINFORCED PLASTIC (FRP) BOAT SHAPES MODELLED IN PT. CIPTA BAHARI NUSANTARA, TANAWANGKO, NORTH SULAWESI Tompunu, Regina E.; Masengi, Kawilarang W.A.; Dien, Heffry
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 3, No 1 (2015): April
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.3.1.2015.12432

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Studi tentang tahanan kapal model pada beberapa bentuk kapal ikan FRP [Fibreglass Reinforced Plastic] dari galangan kapal di PT. Cipta Bahari Nusantara Tanawangko Ocean conditions, such as waves or strong currents, could influence the boat motion, speed and stability, and thus, boat construction needs some requirements in relation to boat design, velocity, stability, resistance, main measurements, space and position of engine. The purpose of this study was to measure the effect of total boat resistance of three fishing boat models and to compare the total resistance values. Based on the measurements and the analyses of boat velocity, trim and total resistance values, this study found that total resistance of the boat was affected by boat velocity and trim, and boat?s hull shape. Kondisi lautan, seperti gelombang maupun arus yang deras, mempengaruhi olah gerak kapal, kecepatan kapal dan stabilitas kapal, dan oleh sebab itu, konstruksi kapal memerlukan persyaratan tertentu yang menyangkut rancang bangun, kecepatan kapal, stabilitas kapal, daya tahan, ukuran utama kapal, penentuan letak ruang dan letak mesin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tahanan total kapal pada  beberapa jenis kapal ikan serta membandingkan nilai tahanan totalnya. Berdasarkan hasil pengukuran dan analisis hubungan antara kecepatan kapal, perlakuan trim/kemiringan, serta nilai tahanan kapal, penelitian ini menemukan bahwa besarnya nilai tahanan kapal dipengaruhi oleh kecepatan arus, trim kapal, dan bentuk lambung kapal.
TRANSPLANTATION OF CORAL FRAGMENT, ACROPORA FORMOSA (SCLERACTINIA) Tioho, Hanny; Karauwan, Maykel A.J
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 2 (2014): Oktober
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2014.7295

Abstract

The minimum size of coral transplants, Acropora formosa, was assessed to support their survival and growth. For this, 150 coral fragments of different sizes (5, 10, 15 cm) were transplanted close to the donor colony. Their survivorship and growth were observed for 12 months. At the end of the observation time, 90% of 15 cm-transplanted coral fragments survived, while the others (10cm and 5 cm) did 86% and 82% respectively. The average growth rate of 5 cm-coral fragments was 0.860 cm/month, while 10 and 15 cm-fragments were 0.984 cm/month and 1.108 cm/month respectively. One-way ANOVA showed that there was significant difference (p<0.05) among the three (5, 10, 15 cm) transplant initial sizes in which the longest fragment size tended to survive longer than the smaller one.  However, the smaller transplants grew better than the bigger one, 10.318 cm/year (206%) for 5 cm-transplant, 11.803 cm/year (118%) for 10 cm-transplant, and 13.299 cm/year (89%) for 15 cm-transplant, respectively. Ukuran minimal fragmen karang Acropora formosa yang ditransplantasi diduga untuk mendukung ketahanan hidup dan pertumbuhannya. Untuk itu, 150 fragmen karang ditransplantasi ke lokasi yang berdekatan dengan koloni induknya.  Ketahanan hidup dan pertumbuhan semua fragmen karang yang ditransplantasi diamati selama 12 bulan.  Pada akhir pengamatan, 90% dari fragmen karang berukuran 15 cm yang ditransplantasi dapat bertahan hidup, sedangkan yang lainnya (ukuran 10 cm dan 5 cm) masing-masing sebesar 86% dan 82%.  Rata-rata laju pertumbuhan fragmen karang dengan ukuran awal 5 cm adalah 0,860 cm/bulan, sedangkan ukuran fragmen 10 dan 15 cm masing-masing adalah 0,984 cm/bulan and 1,108 cm/bulan. ANOVA satu arah menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (p<0.05) antara ketiga ukuran fragmen yang berbeda, di mana ukuran fragmen karang yang lebih panjang cenderung mempunyai ketahanan hidup yang lebih baik. Namun demikian, ukuran transplant yang lebih kecil memiliki pertumbuhan lebih baik dibandingkan dengan ukuran yang lebih besar, yakni10,318 cm/tahun (206%) untuk transplant berukuran 5 cm, 11,803 cm/tahun (118%) untuk 10 cm, dan 13,299 cm/tahun (89%) untuk ukuran 15 cm.

Page 1 of 10 | Total Record : 100