Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

DRUMBLEK, KESENIAN BARANG BEKAS DARI SALATIGA UNTUK DUNIA Rohman, Fandy Aprianto
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.761 KB) | DOI: 10.36869/wjsb.v10i1.35

Abstract

Kesenian drumblek merupakan marching band tradisional yang berasal dari Kota Salatiga. Kesenian ini dipelopori oleh seorang seniman bernama Didik Subiantoro Masruri akibat keterbatasan biaya untuk membeli alat musik marching band dalam rangka memeriahkan acara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1986. Saat ini, drumblek diterima dengan baik oleh masyarakat Salatiga, bahkan semakin populer dan rutin ditampilkan dalam berbagai acara festival kesenian di Kota Salatiga. Dalam artikel ini dipaparkan mengenai perkembangan kesenian drumblek di Kota Salatiga hingga bentuk penyajiannya. Selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan kajian mengenai kesenian tradisional bagi masyarakat, khususnya di Salatiga.
K.H. SANGIDU, PENGHULU PENEMU NAMA MUHAMMADIYAH Rohman, Fandy Aprianto
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 20, No 2 (2019)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.129 KB)

Abstract

Muhammadiyah mulai berkembang dengan pesat ketika salah seorang pendukungnya, yaitu K.H. Sangidu diangkat menjadi penghulu ke-13 di Kasultanan Yogyakarta dan mendapatkan gelar K.R.P.H. Muhammad Kamaluddiningrat. Hal ini tidak terlepas dari kesamaan paham antara K.R.P.H. Muhammad Kamaluddiningrat dengan K.H. Ahmad Dahlan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengembangan Muhammadiyah yang dilakukan oleh K.H. Sangidu atau K.R.P.H. Muhammad Kamaluddiningrat, hingga pengaruh yang ditimbulkan dari gagasan pembaruannya terhadap kehidupan masyarakat di Yogyakarta. Berdasarkan kajian yang dilakukan, pandangan Islam berkemajuan yang diperkenalkan oleh K.H. Sangidu telah melahirkan ideologi kemajuan yang dikenal luas sebagai reformisme Islam. Gagasan pembaruannya juga merupakan suatu upaya dalam meluruskan, sekaligus menampik penilaian-penilaian kurang tepat terhadap Muhammadiyah.
TAYUBAN DALAM TRADISI SAPARAN DI KELURAHAN TEGALREJO, KECAMATAN ARGOMULYO, KOTA SALATIGA Rohman, Fandy Aprianto
Jantra Vol 14 No 2 (2019): Seni Pertunjukan
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.693 KB)

Abstract

Kelurahan Tegalrejo merupakan satu-satunya daerah di Kota Salatiga yang masih menjaga seni pertunjukan tayuban. Kesenian tersebut diselenggarakan ketika berlangsungnya tradisi saparan dan digelar sebagai puncak kegiatan dalam rangkaian merti desa atau bersih desa setiap tahunnya. Pertunjukan tayuban memang sudah turun-temurun dilaksakan dan akan terus dijaga oleh masyarakat Kelurahan Tegalrejo. Selain memegang peranan penting sebagai bagian dari upacara bersih desa, tayuban juga digunakan sebagai hiburan masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan tentang pelaksanaan dan unsur kesenian pertunjukan tayuban dalam masyarakat Kelurahan Tegalrejo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa unsur kesenian dalam pertunjukan tayuban meliputi ledhek (penari wanita), pengrawit (penabuh gamelan), penjanggrung (laki-laki yang menari bersama dengan ledhek), dan sesajen.
ADMINISTRASI PEMERINTAHAN GEMEENTE DI SALATIGA TAHUN 1917-1942 Rohman, Fandy Aprianto
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/wjsb.v11i1.64

Abstract

Salatiga memang penuh dinamika karena pemerintah Hindia-Belanda seakan-akan tak mau berhenti menatanya. Salatiga lantas ditetapkan sebagai stadsgemeente oleh Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum melalui Staatsblad No. 266 tanggal 25 Juni 1917, yang kemudian meningkat menjadi gemeente pada tahun 1926. Adapun permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah administrasi pemerintah gemeente di Salatiga, hingga pembangunan infrastuktur yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk mengubah citra Salatiga menjadi kota kolonial dalam kurun waktu sejak tahun 1917 sampai dengan 1942. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah kritis yang terdiri dari empat tahap, yaitu heuristik, kritik sumber (verifikasi), interprestasi, dan historiografi. Berdasarkan kajian yang dilakukan, de Gemeente Salatiga dipimpin oleh seorang burgermeester (wali kota) yang dibantu oleh gemeenteraad (dewan kota), sedangkan sumber daya ekonomi pemerintah Hindia-Belanda diperoleh melalui pendapatan dari berbagai pajak. Fasilitas dan infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda meliputi fasilitas perkantoran, gedung-gedung pemerintahan, sekolah-sekolah, dan kawasan permukiman penduduk.